Ordinary Woman [ Tanaka’s Stories ]

Aku ingat ketika suatu hari aku bertanya padamu tentang lelaki seperti apa yang sebaiknya aku cari.

Lalu kau menjawab dengan mata mu memandang ombak di depan sana  :

Temukanlah seorang lelaki yang melihat mu sebagai wanita biasa – ordinary woman- bukan karena kemampuanmu, pekerjaaanmu, karirmu, dan kebisaanmu.

Temukanlah seorang lelaki yang mengerti bahwa dalam fitrahnya, kau adalah seorang wanita biasa. need to be loved, to be protect, to guard you. A man who cherished you, take care of you, tend u. Terlepas kamu adalah seorang wanita yang kuat, mandiri, dan bisa malakukan banyak hal sendiri.

Karena kau tau jauh dalam hati mu, kamu butuh seseorang yang seperti itu. Seseorang yang bisa membuatmu merasa aman dan nyaman disampingnya. Sesederhana itu

Temukanlah seorang yang melihatmu sebagai wanita, dan nantinya, melihat mu sebagai seorang istri, seorang ibu dari anak anak nya. Dan selebihnya, karirmu, pekerjaan mu, kemampuan mu adalah bonus saja.

Dan dia tak mesti sosok yang sempurna. Sekali lagi dia yang bisa membuatmu aman dan nyaman disampingnya, dia yang memahami bahwa kamu adalah seorang wanita. Seseorang yang butuh disayangi dan dilindungi. Menjagamu. Karena  its your basic need my dear .

Happy Finding … Ujarmu sambil tersenyum menatapku

Dan aku pun malamati kalimat demi kalimat yang ia ucapkan, dan kemudian aku pun melamati kalimat kalimat nya yang hati ku benarkan ….

Advertisements

Jatuh Cinta Itu Sederhana [ Tanaka’s Stories ]

Hai Ka…, aku tau sore ini kau tak bisa hadir di taman kita. Padahal kota ini sedang cantik cantiknya, sesiangan tadi disini hujan semenjak siang hingga menyentuh sore, dan kemudian wangi tanah tersentuh hujan dimana mana, petrichor katanya wangi tanah seperti ini.

Orang orang melalu lalang, hendak berpulang kepada rumah tercintanya, sedangkan aku terlalu jatuh cinta pada pertichor ini, aku menjadi tak hendak berburu buru pulang, rasannya tak ingin melewatkan aroma hujan dan tanah ini begitu saja.

Bus yang biasa aku naiki untuk pulang, ku abaikan begitu saja. Biar saja. Tak hendak ku menukar udara sesegar ini dengan udara yang melingkar lingkar di ruangan itu. Dan karena aku tau, senja seperti ini senja yang kau suka.

Hari ini aku ingin bercerita padamu tentang dia, yang ada jauh disana

Naka… aku jatuh cinta … 

Itu yang ingin ku ceritakan kepadamu, tentang dia yang sederhana saja menyentuh sebuah titik hatiku. Sebelumnya aku kira jatuh cinta itu akan selalu pada hal hal yang istimewa. Tapi ternyata, kali ini aku jatuh cinta pada hal yang sederhana, sesederhana ketika ia bisa membuatku tertawa.

Naka..aku jatuh cinta …

Apa ini hanya euforia rasa ? ini yang ingin kutanyakan padamu, karena di titik saat bersama dengannya, rasa semacam hal yang mudah saja. Padanya aku tak terlalu banyak bersyarat, semuanya serasa mengalir dan mencair.

Naka… apakah aku jatuh cinta …

Ketika bersamanya semacam ada kedamaian, harapan dan kebahagian . Walau entah apa nanti, apakah akan berupa rasa yang sama. Kekhawatiran akan cerita yang lalu seringkali bisa ku subsitusi dengan harapan dan doa. Apakah berarti aku tidak berlogika

Naka.. bilakah ini  cinta …

Katamu cinta bukanlah euforia rasa, yang kau rasa hanya karena sejenak susana atau cuaca, dan ketika rasa itu memudar atau menyamar, kau pergi begitu saja. Cinta haruslah menyetia, ia kuat, ia tegap, ia kokoh pada pijakan yang benar. Katamu cinta adalah persahabatan, persahabatan yang hendak kau jalin dalam puluhan juta detak jarum jam.

Naka.. bila ini cinta …

Aku selalu ingat kata katamu, bahwa cinta bukanlah tujuan akhir dalam kehidupan kita, bahwa cinta adalah gelombang perantara menuju tujuan besar dalam hidup kita, bahwa cinta adalah energi untuk mencapai tujuan besar itu. Karena sebenarnya cinta bukan lah segalanya, ada yang jauh lebih dari itu. Cinta bukan hanya tentang kau dan dia, cinta adalah pengabdian. Pengabdian kepada Ia Sang Maha Cinta.

Naka.. aku jatuh cinta kepada dia, dengan cara yang sederhana …


 

 

Ah … Cyg sore ini aku hanya bisa berdiskusi dengan diri ku sendiri saja, tanpa kamu. Hanya kata katamu saja yang dulu kau titipkan pada ingatanku. Aku kembali mengulang pesanmu dalam ingatanku, bahwa …

Cinta bukan hanya tentang kau dan dia, cinta adalah pengabdian. Pengabdian kepada Ia Sang Maha Cinta

 

 

Mencintaimu Hingga Ke Syurga

Aku ingin mencintaimu hingga ke syurga,

Tidak berjangka hingga dunia

Tak berbatas usia dalam hitungan angka

Aku ingin mencintaimu hingga ke syurga

Yang kelak tak akan ada jeda di antara kita

Saat kita bertemu dengan Nya

Aku ingin mencintaimu hingga ke syurga

Maka kini, ku sujudkan saja apa yang aku rasa

Ia yang lebih mengerti segalanya

Aku ingin mencintaimu hingga ke syurga

Padanya kita meminta semacam pertanda

Untuk kita, karena

Aku ingin mencintaimu hingga ke syurga

 

 

 

Konversi Cinta Dalam Doa

Pernah kah kau mengkonversikan cinta dalam doa ? saat kau teringatnya kau mendoakannya, saat kau tetiba merindunya kau sampaikan dalam simpul simpul doa, tak usah memberitahunya, cukup berdoa saja

Dan dalam semalam ini lah aku bisa berbicara pada Mu, kepada sesatunya yang mengerti sungguh dalam rasa hatiku. Kau yang menggengamnya dan Kau yang melepaskannya.

Ku tau KAU tau, kali ini aku ingin mencintanya dengan cara yang berbeda, dalam gelombang yang tak sama.

Bila ini cinta, aku ingin menghargainya. Bila ini cinta, aku akan memaknainya. Bila ini rasa aku akan meragainya. Bila ini rasa yang tak mampu lagi terucap, aku akan mengkonversinya dalam doa. Bila ini rindu aku akan mengakuinya kemudian melepaskannya. Bila ini ketentuan aku akan menerimanya.

Ku tau KAU tau, kali ini aku ingin mencintanya dengan cara yang KAU suka. Itu saja

Taken From My Older Blog : https://angkasa13.wordpress.com

Ketika Waktu Tidak Membersamainya [ Tanaka’s Stories ]

1236963_10151829334118260_1489734312_n

Kemudian, tiba saja dia sudah ada di sampingku, duduk di pepasir pantai yang tak pernah kita bosan kunjungi. Tak ada yang berubah dengan nya sejak terakhir kali kita bertemu, masih dengan kemeja flanel kotak kotak nya, juga rambut sebahu yang ia biarkan terurai. Naka, Tanaka ku.

Lama kita terdiam sambil melihat mereka yang sedang bergembira bermain di laut yang sedang sangat tenang.

****

Sudah mengambil keputusan ?” katamu tanpa basa basi

Sudah ….” ujarku tersenyum

Yakin ?”

“Aku harus meyakinkan diriku, harus.”

Apa perasaan mu saat ini ….” lurus kau menatap wajahku

Lama aku tertunduk, diam. Mencari cari jawaban akan pertanyaanmu. Jawaban yang juga menjadi pertanyaanku. Jawaban yang mungkin bisa menjelaskan ada yang sebenarnya aku rasakan. Tanaka mungkin coba membantu aku menemukannya.Kutarik nafas panjang, menatap laut biru muda di depan sana.

“Kamu pernah merasakan perasaan sebanyak ini dalam satu waktu ….”

Tanaka memberiku waktu jeda untuk berbicara, ia setia menunggu

“Ka… semuanya ada kali ini. sedih, kesal, kecewa, marah, juga rasa sayang, saat ini semuanya ada, memenuhi dada ini, bercampur..”

Tanaka ku masih diam, masih menungguku bercerita lebih banyak, ujung kakinya mengais ngais pasir, rambut sebahunya tertiup angin, wajahnya damai, rasanya aku ingin memeluknya, menangis saja.

***

“Lima tahun, lima tahun aku tak pernah berani untuk benar benar pergi dari hidupnya Ka, kamu tau. Selalu ada maaf untuknya, selalu ada ruang untuknya untuk kembali, selalu ada kesempatan, selalu ada alasan…

Kututup mataku, lamat lamat kudengar debur suara ombak, dan pepasir yang tertiup angin.

Dan kemarin, aku putuskan untuk mengakhiri semua. Setelah lama ku fikirkan keputusan ini, keputusan untuk berhenti. Untuk memakai titik di episode ini, bukan koma. Episode yang aku dan dia mungkin berpura pura semua ny akan baik baik saja. Episode yang kami biarkan mengalir layaknya air. Episode kami saling mensamarkan tentang perasaan masing masing. Episode kami sama sama mengganggap kami telah berbuat baik dan benar. Episode yang kami seolah olah telah dewasa dan bijaksana …”

“Lalu apa yang membuatmu sedih dan kecewa ..”

Pertanyaan ny membuat dadaku memberat, ku ambil waktu untuk siap manjawabnya

“Ka… kau pernah merasakan, ketika seseorang yang paling dekat dengan mu, yang menjadi sahabat hatimu, tiba tiba ia menjadi asing, tiba tiba kau rasa itu bukan dirinya, kau kehilangan, bukan  raganya tapi kau kehilangan sosoknya …”

“Mungkin kau terlalu berlebih menilainya..” Tukasmu pelan

“Mungkin, entah…”

“Kamu masih menyayangi nya …?”

Seperti ada yang jatuh di dasar ulu hatiku. Punggungku menegang, kepala ku menggeleng perlahan menatap Tanaka, namun sebentar saja, aku tak bisa tak jujur dihadapannya. Kudongkakan kepala ke atas langit, menarik napas dan melepaskannya.

Diam ….

Ombak laut masih bersahutan, angin sore di pantai ini masih merdu memainkan iramanya, burung burung pantai pun masih bercengkrama. Kau menepuk bahaku, memintaku melihat matamu.

” Rasa sayang itu banyak bentuknya, tidak melulu tentang puja memuja tidak pula harus selalu bersama. Terkadang kamu harus melakukan sebaliknya, melapaskannya, meninggalkannya, tidak membersamai langkah nya …”

Kau pun tersenyum, menganggukan kepala seperti sebuah persetujuan, berpamit, kemudian menghilang.

Aku pun sendiri, Tanaka menghilang seperti biasa, meninggalkan ku dengan sebuah jawaban.

Terimaksih Naka, semoga kita segera bertemu kembali, esok ….

 

 

 

 

Batik Pertamamu [ FIKSI ]

batik-pria-lengan-panjang-hijau-cream-cb142-va-330x01

 

Sesore itu kulihat kau dari kejauhan, tersenyum, rona ceria tersirat di wajahmu. Mungkin kau sedang bahagia saat itu, senyum yang sudah lama tak  kujumpai lagi. Mataku tertuju pada baju batik yang kau pakai. Ingatanku melayang ke beberapa masa yang lalu, saat ada masa kita sering bersama.

Sore itu kau bercerita dengan antusisme yang coba kau redam, namun aku tau kau saat itu berbahagia “Besok hari pertama ku bekerja, aku belum mempunyai pakaian yang pantas, besok antar aku cari baju, batik kurasa, aku ingin hari pertama ku aku terlihat pantas”.

Esok hari nya, kita berbegas menuju pasar, mencari baju batikmu. ah aku tak menyangka kau ternyata tipikal pria yang kurang simple memilih. Kukira biasanya pria akan lebih memilih pakaian, yang penting batik. Tapi tidak dengan mu. Kau tau kakiku hampir lelah mengikuti langkahmu yang sangat bersemangat hari itu.

Aku pun hampir lelah memberikan pendapat mana baju yang bagus menurutku. “Pilihlah sendiri, aku menunggu disini” kataku. Tapi kau bersikeras agar aku ikut memilihkan baju batik pertamamu, hingga akhirnya kita mendapatkannya satu. Kulihat wajah mu berseri seri saat itu, lucu rasanya, seperti anak kecil yang mendapatkan baju lebarannya. Saat  perjalanan pulang kau berkata “aku akan tampan besok dengan baju ini” dan aku pun tergelak.

Batik pertamamu beberapa tahun yang lalu, dan kau masih memakainya hari ini, saat aku dari tak sengaja melihatmu dari kejauhan. Tidak, aku tidak sedang mengingat masa lalu atau semacam nya, aku hanya tetiba saja ingat suatu fragmen yang pernah kita lalui bersama.

Aku tau, kita berbahagia dalam posisi masing masing kita saat ini, kau dengan hidupmu, aku dengan hidupku. Tidak ada yang lebih melegakan ketika kita mengingat masa lalu, dan kita tertawa lepas mengingatnya, seperti saat ini seperti saat aku mengingatmu, mencari batik pertamamu.

 

Kau Nyata

Saat sekelebatmu terkadang melewati ingatan

Bila saat itu tiba

Kutiupkan sekelebatmu bersama udara sore

Tak biarkan ia berlama lama, diam, mengisi, menetap

Karena bagiku kau bukanlah angan, impian atau semacam kenangan

Bukan.

Kau nyata

Karena itu, sekelebatmu tak akan ku hiraukan, atau

Wujudmu, menjadi kuterjemahkan pada kalimat kalimat yang salah

Tidak

Karena, kau nyata.

Karena aku ingin kau tak seperti yang lainnya, dan karena ku tau

Kau tak seperti yang lainnya

Kau nyata

Ya

Bagitu

Kau Nyata