Berusaha Bermanfaat Saat Keadaan Tidak Bersahabat

Entah kapan Covid-19 ini berlalu dari negri ini, bahkan dari bumi ini. Bercampur rasa ketika wabah ini ternyata “mampir” juga di negara kita tercinta. Ya, wajar saja ketika ada kecemasan dan kekhawatran dalam benak kita. Karena ternyata wabah ini bukan hanya tentang mengancam kesehatan, namun berdampak kepada banyak sisi kehidupan kita, terutama ekonomi.

Mungkin beda beda level kecemasan dan kekhawatiran yang dirasakan setiap orang. Ada yang cemas tentang kesehatan dan keselamatannya saja, namun  untuk kebutuhan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan keluarganya tidak terlalu menjadi masalah bagi golongan masyarakat ini, karena mereka mempunyai tabungan yang cukup, masih mendapat kepastian income di kondisi seperti ini.

Lain cerita mereka yang tidak seperti golongan masyarakat di atas.  Mereka yang menyambung hidup nya dari hari ke hari, yang mesti berjuang untuk memenuhi pangan nanti malam, yang harus memastikan berapa rupiah yang ia bawa pulang ke rumah, agar anak dan istri bisa sarapan pagi esok pagi.

Wabah Corona ini sangat banyak berpengaruh kepada mereka secara ekonomi. Para pengemudi angkutan umum, ojeg online, pengemudi becak, pedagang di sekolah sekolah, pedagang asongan, pedagang pinggir jalan, tukang parkir, buruh harian,  dll.

Apakah mereka sanggup bertahan dengan kondisii seperti ini ….

Ahh … kita tidak bisa diam saja, ada yang mesti kita lakukan, dengan apa yang kita bisa, dengan apa yang kita mampu

Akhirnya saya dan relawan kawan peduli tergerak untuk ikut serta membuat gerakan kecil dengan niat membantu saudara saudara kita diluar sana yang masih mesti berjuang untuk kehidupannya

Kami pun bersepakat untuk membuat gerakan URUNAN 50 RIBU UNTUK PEJUANG JALANAN. Alhamdulillah dalam berapa hari saja, banyak kawan kawanyang tergerak untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan kecil ini.

Bismillah….

Kami langsung bergerak, uang yang terkumpul kami belanjakan kebutuhan kebutuhan pokok yang dibutuhkan. Dalam tiga hari, Alhamdulillah lebih dari 170 paket terkumpul dan akan kami bagikan kepada yang membutuhkan

Gerakan URUNAN 50 RIBU UNTUK PEJUANG JALANAN Kami bagi di beberapa di beberapa titik di Kota Bandung dan sekitarnya, agar pembagian bisa lebih merata.

 

Relawan kawan peduli pun bergerak, menyusuri jalan dan gang gang, membagikan titipan kawan kawan, untuk mereka para pejuang jalanan para pejuang keluarga.

Masya Allah …

Kami menyaksikan, diluar sana ada banyak saudara saudara, yang tidak mendapatkan “Privilege” seperti kita, yang bisa #DirumahAja tanpa terlalu mengkhawatirkan apakah kita bisa makan atau tidak

Mereka bukan tidak peduli wabah, namun mereka lebih khawatir bagaimana bila anak dan istri mereka tidak bisa tidur malam ini, karena perut meraka yang kosong tak terisi. Mereka lebih khawatir bagaimana bila anak dan istri mereka tidak bisa sarapan pagi.

Ya Allah ….jadikan kami manusia manusia yang peka, peduli, dan mau selalu berbagi

e6d42a27-c390-40b1-9755-2c84e2264d7af8dfca1e-9dfe-42e5-89d2-3e8568648bb1fc04bdd3-3398-4f08-9ee3-9e7bd159ce53fe64e476-22c9-4534-b607-e367af3e5e78f5e91ee0-1e2b-4282-bc79-52a2c3be24fe

Bagi kami, sebuah kebahagian dan kesyukuran bisa menjadi jalan dan perantara orang  orang yang selalu peduli dengan orang lain dengan mereka para pejuang kehidupan.

Yuks kawan kawan yang ingin menyampaikan kepedulian kepada mereka, bisa bergabung dengan gerakan kecil kami :

Urunan 50 Ribu Untuk Para Pejuang Jalanan

Kita berdo’a juga sama sama, agar wabah ini segara berlalu, dan agar wabah ini menjadi jalan kita lebih dekat kepada Sang Pencipta. Itu yang paling penting.

Aamiin Yaa Rabball Alamiin …

Salam Sayang Dari Kota Bandung

#KawanPeduli #PejuangJalanan #PejuangKeluarga

Agar Tetap Produktif Saat #DirumahAja

1

Out Break Happend …!

Peritiwa yang barangkali tidak pernah kita sangaja terjad di negara kita tercinta, dan kita tak pernah menyangka pula bahwa peristiwa ini begitu meluluhlantakan berbagai tatanan kehidupan yang sudah ada, padahal belum genap satu bulan lamanya.

Diantara hal yang berpengaruh adalah ritme aktifitas bekerja. Dengan berbagai kebijakan “Belajar Dari Rumah”  dan “Bekerja Dari Rumah”, tentunya akan banyak perbedaan yang di rasakan.

Nah, ini berbagi berbagai tips yang saya ingin bagikan agar #DirumahAja nya tetap produktif dan menyenangkan.

Semoga Bermanfaat Ya …. ^^

2

 

3

4

5

6

 

8

Ada Apa Dengan Corona

sedekh

Hari ke enam peraturan pemerintah karena  wabah CORONA (COVID-19) yang juga melanda negara kita. Hari hari awal penetapan Belajar Dari Rumah & Working From Home mungkin ada banyak orang yang merasakan seperti perpanjangan liburan akhir pekan.

Bagi yang punya semboyan “I HATE MONDAY” mungkin ada sedikit kegembiraan yang tersembunyi, karena tidak mesti berangkat pagi pergi ke kantor dan mengerjakan pekerjaan yang terkadang serasa  beban kewajiban. Tidak mesti berada di kantor yang rasanya menjemukan, atau bertemu dengan rekan kerja yang menyebalkan, hhe…

Walaupun pada kenyataannya, kewajiban meyelesaikan pekerajaan tetap ada , tapi setidaknya tidak mesti menemui hal hal yang kurang menyenangkan di kantor & bisa merasakan sedikit persaan nyaman, karena  kita lakukan semua itu dari rumah. Bukan Begitu ?

Bagi saya sendiri -yang memang bukan orang kantoran-, konsep “Work From Home” bukanah sesuatu yang baru, karena dari dulu sudah saya jalankan. Tempat bekerja bagi saya bisa dimana saja. Tempat kerja saya kadang di kantor, di rumah, di tempat klient, perpustakaan umum atau perpustakaan pemerintah, coffe shop (kalau keuangan sedang aman), masjid, rumah teman, atau terkadang taman kota

Tapi memang suasana “Working From Home” kali ini berbeda. Wabah Corona yang sedang melanda Indonesia ini, sangat banyak mengambil perhatian & pikiran kita. Berita berita yang tidak kita henti pantau perkembangannya, yang tidak hanya mengenai tentang Corona nya itu sendiri, tapi tentang dampak yang menyertainya ; terbatasnya alat alat kesehatan, harga hargabeberapa komoditas yang merangkak naik, makin tingginya harga dolar, prediksi ekonomi yang terus memburuk, panic buying, isu penjrahan, dll

Kita sepertinya tidak henti dihujani berita berita seperti ini -dari beragai macam media- Televisi sudah pasti, belum lagi berita berita dari media elekrtonik yang seperti nya sangat bertubi tubi, twitter, facebook, share dari grup wa yang tidak hanya satu, yang hampir setiap grup memberitakan hal yang sama

Belum lagi berita berita yang belum tentu sesuai fakta, dibumbui hoax, atau berita yang hanya berdasarkan asumsi dan pendapat pribadi atau golongan tertentu saja, atau berita berita yang akhirnya menjadi konflik karena perbedaan pendapat  atas penyikapan terhadap Corona ini. Lalu ….

Saya pernah merasa lelah, karena terlalu mengkonsumsi banyak berita, apakah teman teman pernah merasakan hal yang sama …?

Mungkin niat awalnya ingin tahu perkembangan saja, tapi akhirnya kita terlalu berlebihan dalam mengkonsumsi informasi, yang kadang kala juga tidak apa apa kalau kita tidak mengetahui hal tersebut. Namun fokus kita menjadi salah, alih alih melakukan sikap antisipasi untuk menghadapai virus ini, kita malah tenggelam dalam berita berita yang tidak ada hentinya ini.

Tidak salah memang memantau perkembangan berita, tapi ketika kita sudah tahu mengenai esensi beritanya, itu sudah lebih dari cukup. Langkah selanjutnya adalah bagaimana mengantisipasi, dan bagaimana mengantisipasi juga menyikapi apabila hal tersebut terjadi di sekitar kita. Ikuti saja apa yang menjadi arahan pemerintah dan para tenaga medis yang memang pakar dibidangnya. Karena …

Bukan seberapa banyak berita yang kita dapatkan, namun apa yang kita lakukan dengan berita tersebut

Karena sepertinya, bila kita tenggelam pada berita semata, hal ini bisa menjadi kontraproduktif. Diataranya kita menjadi cemas berlebihan, atau berbagai tugas “WORKING FROM HOME” yang semestinya kita kerjakan menjadi terabaikan, dan kewajiban kewajiban lain yang mesti ditunaikan pun menjadi terabaikan.

Pada akhirnya dibutuhkan kebijakan dalam manghadapi wabah ini, pun dalam mengelola berita yang kita konsumsi. Memang ada yang perlu kita ketahui secara mendalam, ada yang perlu kita ketahui pertengahan, ada hal yang perlu kita ketahui cukup permukaannya saja.

Jadikan  diri kita tetap produktif berkegiatan dari rumah, dengan apa yang terjadi. Produktif secara fisik, intelektual, emosional dan spritual.

Kita lakukan bagian kita, untuk menghadapi wabah ini. Melakukan apa yang telah disarankan, menbatasi kontak fisik, menjaga daya tahan tubuh, menjaga kebersihan diri, dll.

Yang juga sangat penting adalah menjaga keterhubungan kita dengan Tuhan, Sang Pencipta kita, yang menguasai hidup kita, yang memutuskan hidup dan mati kita, karena Ia lah yang berkuasa atas setiap nafas hidup kita

Kita kuatkan do’a agar wabah ini segera berlalu dari negri ini, dari dunia ini. Kita terus kuatkan do’a agar keluarga kita, orang orang yang kita cinta, dan bahkan siapapun orang yang tidak kita kenal terhindar dari wabah ini.

Ikhiar Maksimal – Berdoa Maksimal

Fn : Sebuah catatan dan nasihat kepada diri sendiri, dalam masa yang tidak biasa ini. Oh ya temen temen, biar #DirumahAja nya tetap berkah, saya ingin infokan program program sosial bisa berpatisipasi.

https://kitabisa.com/campaign/bangunsekolahntt

https://kitabisa.com/campaign/alquranuntukflores

 

Apakah Kita Sudah Benar Benar Merdeka … ?

Merdeka adalah ketika setiap anak Bangsa ini mendapatkan pendidikan layak yang mereka butuhkan ….

Kemarin saya dikirim foto anak anak di Pulau Pangabatang NTT yang ikut merayakan ulang tahun kemerdekaan RI. Oh ya di Pulau yang cukup terpencil ini, saya dan teman teman Kebukit Indonesia sedang membangun sekolah tingkat dasar, informasi tentang sekolah nya ada DISINI

Perayaan sederhana di Pulau yang jauh dari keramaian, jauh dari hingar bingar parade, pawai, umbul umbul dan panggung hiburan khas perayaan Agustusan. Dengan apa yang mereka punya, mereka tetap ingin ikut meyakan kemerdekaan Tanah Air nya.

S

aya jadi bertanya tanya, – karena Indonesia adalah negara dengan ribuan kepulauan di dalamnya- apakah setiap Pulau terpencil yang ada di Negara ini ikut pula merayakan upacara kemerdekaan Indonesia, atau jangan jangan diluar sana masih banyak warga Negara Indonesia yang tidak ikut merayakan, atau bahkan tidak tahu tentang ulang tahun kemerdekaan Negara nya.

Lebih jauh dari itu, pertanyaan ini yang ada di benak saya adalah :

Apakah setiap jiwa di negri ini sudah benar benar merasakan kenikmatan kemerdekaan … ?

Tujuh puluh empat tahun kemerdekaan Indonesia. Rasanya waktu yang sangat cukup untuk setiap anak Bangsa di Negri ini mendapatkan dan menikmati pendidikan yang layak. Namun kenyataannya pendidikan yang layak masih jauh dari kata layak dan merata.

Masih banyak anak Negri ini yang tidak punya kesempatan untuk bersekolah, entah karena biaya, akses pendidikan, atau bahkan mereka masih asing dengan apa itu pendidikan. Sekolah, buku, belajar adalah hal yang asing bagi mereka. Pendidikan adalah hal yang mewah sehingga menjadi hal yang “untouchable”.

Dari pengalaman saya beberapa tahun yang lalu, berkeliling ke Pulau terpencil dan Pedalaman di Indonesia, masalah pendidikan di Indonesia yang terutama adalah masalah akses. Akeses lembaga pendidikan, akses ilmu pengetahuan dan akses terhadap kesempatan bersekolah itu sendiri

Belum lagi bicara tentang pemerataan dan kualitas. Misalnya saja di salah satu daerah di NTT, saya menemukan buku pengayaan pendidikan terbitan tahun 1974 di sebuah perpustakaan sekolah, itu pun hanya beberapa eksemplar saja, sudah koyak disana sini, isi ny pun sudah sangat tidak relevan dengan keadaan saat ini, lagipula sepertinya buku buku itu hanya formalitas pembagian semata, entah dibaca atau tidak.

Ini hanya sebuah contoh saja. Buku yang seharusnya manjadi jantung pendidikan, tidak disediakan dengan kuantitas dan kualitas seharusnya. Belum lagi kualitas guru yang masih jauh dari kata ideal, atau bahkan standar guru yang seharusnya.

Ah entahlah, bicara tentang pendidikan Negri ini adalah sesuatu hal yang sangat kompleks. Akhirnya -dalam kondisi ini- kita lah sebagai anak Bangsa yang ikut berkewajiban ikut membangun Bangsa ini, dengan apa yang kita mampu, dengan apa yang kita bisa.

Walau cakupan nya masih bersifat mikro, tidak masalah, apapun yang sesuai dengan kapasitas kita. Karena bila hanya mengandalkan, menuntut dan menyalahkan pemerintah, rasanya hal yang akan cukup menguras energi , dan sesuatu yang tidak akan ada habisnya

Apa yang kita bisa lakukan saat ini, maka lakukan saja. Langkah langkah kecil untuk membantu anak anak Bangsa ini lebih terdidik, lebih terpelajar dan lebih berdaya maka kita lakukan saja.

Karena sebenarnya bila diamati lebih lanjut, Bangsa ini besar dan bertumbuh adalah karena kepedulian saudara sebangsanya. Kepedulian kita bersama.

So, setelah tujuh puluh empat tahun ini, apakah Bangsa ini sudah benar benar merdeka dan merasakan kenimatan kemerdekaan ?

Yuks bantu anak anak NTT mempunyai sekolah layak :

https://sharinghappiness.org/sekolahrafi

Bandung, 22 Agustus 2019

Resah

Akhir akhir ini saya banyak merasa resah, resah dengan kondisi negara ini. Dari mulai penistaan ayat suci Al-Quran, penghinaan pada Ulama, banyak nya orang orang yang menistakan kebenaran, mengolok olokan kebenaran.

Jadi teringat perkataan Ustadzah saya jumat yang lalu, bahwa fitnah adalah segala sesuatu hal yang membuat ketidaktenangan, ketidaknyamanan, ketidaktentraman sehingga menimbulkan ketidakbahagian.

Entahlah sedikit banyak saya menjadi resah dengan keadaan ini, entah resah ini baik atau buruk. Resah, khawatir, sedih, prihatin dsb. Ingin berbuat yang lebih, namun hanya ini mungkin yang saya bisa, agar Allah memberikan perlindungannya, pertolongan nya kepada hambanya yang masih berusaha teguh menjalankan agamanya dengan lurus.  Semoga Allah melindungi negri ini dari mereka yang dzalim kepada rakyat, semoga Allah melindungi rakyar Indonesia dari pemimpin pemimpin yang dzalim yang tiran. Aamiin….