Kisah Si Rok Mini

Sore itu  saya berada di sebuah gedung perkantoran, dan sudah tiba waktunya untuk shalat Ashar. Saya pun mencari tempat Wudhu dan Mushola.

Saat akan berwudhu, saya berpapasan dengan seorang wanita pertengahan usia,yang memakai baju yang menurut saya cukup tidak pantas untuk usianya, dia memakai setelan warna merah, dengan rok diatas lutut. Kemudian hati saya spontan berkata ” Ih … ga tau malu, sudah tua masih memakai baju yang mini ”  dan saya pun sedikit membuang muka kepadanya.

Kemudian saya  melaksanakan shalat Ashar 4 Rakaat. Disamping saya sudah  ada seorang wanita yang telah duluan melaksanakan shalat.

Setelah shalat, perempuan itu tidak langsung pergi, ia kemudian membuka tas nya, dan mengambil sebuah buku kecil, sepintas saya lihat itu seperti buku doa, karena ada huruf arab dan terjemahannya. Dia begitu khusuk membaca doa doa yang di buku itu dengan pelan dan khusuk.

Setelah beberapa lama, ia kemudian membuka mukenanya, dan ternyata perempuan yang bersebelahan shalat dengan saya adalah perempuan tadi yang berpapasan ketika saya akan wudhu, si rok mini. Lalu saya bertanya padanya “ lagi baca apa bu ? ” dia menjawab ” ini mba, lg baca al mansturat, dzikir sore … saya sedang belajar rutin membacanya, biar hati tenang

Masya Allah … seketika hati saya langsung terasa jatuh, malu. Malu pada si rok mini, malu pada diri sendiri, malu kepada Nya. Begitu mudah hati ini menilai apa yang nampak pada mata, dan merasa kita lebih baik dari orang lain yang belum sama seperti kita.

Padahal kita tidak tau, dibalik kekurangan seseorang, kita tidak tau kebaikan apa yang ia sembunyikan, dan justru kebaikan itu yang Allah suka darinya.

Ini bukan tentang rok mini yang ia pakai, ini tentang hati yang suka merasa JUMAWA atas apa apa yang kita kenakan, apa yang telah kita kerjakan, apa yang kita tampakan.

 

 

 

 

 

Advertisements

[ Keping 2 ] Namlea, Dimana Semua Berlabuh

 

img_1639Namlea, ada kesan tersendiri ketika mendengar nama dari pelabuhan pulau Buru ini. Namlea adalah pelabuhan yang menajadi pusat transportasi para warga yang akan masuk dan keluar pulau Buru, menuju Ambon atau Maluku.

Saat tiba di pelabuhan ini, kebetulan ada kapal yang baru saja merapat untuk kemudian menunggu penumpang yang hendak naik untuk keberangkatan selanjutnya, hingga Namlea saat itu riuh ramai.

Kami begitu menikmati suasana saat itu : pelabuhan, orang orang, dan semilir angin laut, suasana yang tidak bisa kami nikmati di kota kami, Bandung. Mengamati orang orang yang hilir mudik dengan berbagai urusannya barangkali, ada yang pergi dan pulang untuk pekerjaan, sekolah, urusan keluarga dan berdagang.

Sesekali kami mencoba tersenyum dengan mereka ketika berpapasan, dan membuka beberapa obrolan. Seperti dengan salah satu Ibu yang sedang berjualan minuman dan makanan ringan di pinggir jalanan pelabuhan, yang ternyata Beliau berasal dari pulau Jawa, dan telah lama merantau di pulau Buru ini.

Bercerita tentang kisah nya hidup di perantauan, dan bagaimana ia selalu saja merindukan kampung halamannya. Ahh… saya selalu kagum dengan mereka yang mempunyai jiwa jiwa perantau, yang mau melangkah jauh dengan keluarga, meninggalkan kenyamanan, menjelajah dunia baru, budaya baru yang berbeda dengan rumah mereka, yang berani melangkahkan kaki untuk esok hari, untuk masa depan.

Menikmati Namlea di sore hari, dengan harum semilir angin laut yang teduh, perjalanan yang menambah lapis lapis kesyukuran. Kebaikan-Nya mengantarkan ku jauh ke daratan ini, daratan yang beribu ribu mil jauhnya dari rumah. Karena Kehendak-Nya bertemu dengan mereka yang memilki keberanian ditengah keterbatasan.

Bersambung …..

Keping 1 DISINI