Sebuah Sore, Di Kedai Kopi …

Sore itu aku hanya ingin menghabiskan waktu sendirian, menikmati hari, play listnya Kunto Aji dan secangkir kopi. Meninggalkan sementara kerjaan dan target yang belum usai tercapai sebenarnya. But some how, i need a little break and fresh air, coffe shop sore itu masih jadi pilihan untuk menyegarkan fikiran.

Lalu tetiba teringat seorang teman yang sudah lama menyusun rencana jumpa, namun belum kunjung terlaksana. Akhirnya ku hubungi dia, mengundang berjumpa. Ia pun tiba, kita pun banyak bercerita tentang rupa rupa.

Rupanya ada banyak rasa kulihat di matanya, rasa yang mungkin ia pun bingung mendefinisikannya, atau bagaimana cara mengungkapkannya, tentang kisah pedih dalam hidupnya.

Lalu ku coba untuk menerka dan meraba, tentang apa yang coba ia ungkapkan waktu itu, ku coba untuk membuat ia berhasil meluapkan apa yang ia rasa, walau tak mesti semua, biar aku tahu saja apa yang ia rasa.

Kemudian matanya mulai berkaca kaca, ahh… begitu berat rupanya apa yang ia simpan dalam dadanya, mungkin pula telah penuh jiwanya, karena nafas nya mulai terdengar berat. Ah aku biarkan dia bercerita lebih banyak, sedikit demi sedikit, semampu ia, serela ia, aku hanya ingin ia sedikit berkurang beban jiwanya, dengan sedikit berbagi apa yang ia rasa, semoga

Akhirnya ia mampu bercerita, walau tidak semua, memang tidak perlu semua. Karena yang ia butuh hanya seseorang yang mau mendengarkan ia. Lalu ku tujukan semua perhatian kepadanya, menyimak setiap kata, kalimat, deru nafas, rona wajah, arah tubuh, mencoba membaca apa yang ia rasa, mendegarkan apa yang tak terungkapkan …

Tak banyak yang ku ucapkan barisan nasihat, motivasi atau semacamnya. Karena yang ia butuhkan bukan penasihat, yang ia butuhkan adalah sahabat. Seseorang yang bisa berbagi rasa, seseorang yang hadir untuk dia, dan mensiratkan sebuah kalimat … kamu tidak sendiri…

Dan percakapan sore itu adalah tentang mendengarkan, tentang saling mengerti, tentang saling memahami dan tentang saling menguatkan. Bahwa perjalanan hidup adalah bukan tentang apa masalahnya, namun tentang bagaimana kita menghadapinya.

Kamu. Aku. Kita masing masing mempunyai kisahnya sendiri. Kita sedang menjalankan rel hidup masing masing, yang seringkali tidak mudah, namun seringkali juga berakhir indah. Hadiah yang mewah bukan ?

Kamu. Iya kamu sahabatku. Semoga dikuatkan raganya, disabarkan jiwanya, ditegakkan punggungnya, di luaskan hatinya, di ringankan langkahnya. Tertaut jiwa raga pada – Nya Pemilik sekaligus Penyelesai segala masalah hidup.

Terimakasih, sore itu aku merasa lebih berarti karena ka sudah mau berbagi …

Bandung, 08 Nov

Di hari Rabu yang rinai ramai oleh hujan

 

 

Punk Hijrah #Pertemuan Pertama

Allah mempertemukan seseorang dengan seseorang bukan tanpa rencana, pun tidak ada sebuah pertemuan yang kebetulan. Ada rencana Allah dibalik itu, ada skenarionya, ada maksud dan tujuan akan sebuah pertemuan, apakah kita mampu menangkap maksud Allah itu, apa kita mampu membaca apa yang menjadi kehendaknya.

Seperti malam itu, di sebuah pertemuan tentang diskusi kerelawanan, kami komunitas KEBUKIT dan AYO GERAK BARENG, mengadakan diskusi tentang kerelawanan, bincang bincang mengenai kebaikan dan kemanusian.

Kemudian ada beberapa orang pemuda dengan pakaian hitam hitam, dengan usia beragam antara 15 -25 tahunan, gaya mereka memang sedikit “berbeda”, ternyata benar mereka adalah anak anak PUNK. Waww.. saya sedikit kaget dengan kehadiran mereka.

Akhirnya  kami memulai obrolan santai nya, anak anak PUNK ini kemudian bercerita tentang kegiatan mereka, apa yang menjadi keinginan mereka, apa yang membuat mereka tertarik mengikuti bincang bincang ini.

Pembicaraan kami berlanjut tentang kebaikan apa yang akan kita lakukan bersama sama, akhirnya kami memutuskan untuk membuat sebuah perpustakaan, dimana perpustakaan itu selanjutnya akan dibuat untuk kegiatan kegiatan positif.

 

 

 

Ahh… petemuan petama ini begitu berkesan, tak hanya berkesan, tapi saya rasa pertemuan ini adalah pertemuan yang akan mendatangkan kebaikan kebaikan lainnya. Kedatangan mereka sebenarnya semacam memberikan semacam energi lain kepada saya, mungkin kepada teman teman lainnya.

Bahawa akan ada peluang untuk bertemu dengan orang orang baik, atau orang orang yang sedang mencari jalan kebaikan. Allah akan mendekatkan kita dengan orang orang yang berniat sama dengan kita. Ada energi yang saling menarik, saling memanggil, saling mencari.

Semoga pertemuan ini adalah kehendak Allah untuk kita bersama sama melakukan banyak kebaikan dan melakukan hal hal yang benar sesuai dengan ketentuannya. Karena benar, kita tidak dipertemukan dan dipersatukan bukan tanpa rencana, semoga kita selalu dalam lingkaran Ridhanya. ahh malam saat itu adalah malam yang membuat hati ini kembali penuh terisi.

Kemudian do’a ini berisi : ” Ya Allah berikan kami ke istiqomahan ” . Aamiin

Dia Yang Selalu Setia

[ People In My Life ]

Orang datang dan pergi dalam kehidupan kita, sebagian besar berlalu begitu saja, sebagian singgah sebentar, sebagian kecil meninggalkan kesan, dan cerita yang mendalam

People in my life adalah beberapa orang yang menjejakan jejak yang dalam di hati saya, dalam kehidupan saya, yang meninggalkan tidak hanya kesan, namun cerita yang mendalam.

****

Namanya teh Isma, usianga lumayan jauh di atas saya. Sebenarnya awal pertama kenal sudah lama sekali, namun saat itu hanya sepintas saja, dan kini -kurang lebih- tiga atau empat tahun terakhir kami intens bertemu dan berinteaksi, karena sama sama berkegiatan dalam gerakan Nusantara Membaca dan Bakti Guru Nusantara.

Beliau adalah salah satu orang unik yang pernah saya temui, saya rasa di zaman kekinian seperti ini sudah jarang orang seperti beliau. Beberapa hal unik misalnya, beliau adalah orang yang senang berjalan kaki, apabila masih wajar bisa di tempuh dengan berjalan kaki, mengapa repot repot untuk pesan ojeg menurutnya, biar sehat ujarnya.. di zaman yang orang orang ingin serba cepat dan instan seperti ini, ia masih setia dengan hobi nya berjalan.

Lainya adalah beliau adalah orang yang sangat memperhatikan kesehatan, pola makan, pola minum, pola istahat, dan sering mengingatkan kami juga terutama mengenai makanan, beliau sangat perhatian sekali, sampai tak jarang membawa makanan dan cemilan di kantongnya untuk kami, tentunya makanan sehat.

Beliau adalah orang yang pintar dalam membuat hand craft, dari merajut, membuat kerajinan tangan dari manik manik, dan sebagianya, sangat teliti, tekun dan penyebar menurutku. Di tengah tengah zaman yang berprinsip kalo bisa beli – ya beli aja. Namun dia berbeda, dan itu yang saya suka. Kadang saat ia membuat sesuatu, saya hanya melihatnya dan kagum betapa sabar dan tekun ia membuatnya.

Hal yang sangat mendalam dari nya adalah, beliau adalah orang yang “SETIA” kira kira begitulah mungkin saya mendefinisikannya, setia terhadap kami sahabat sahabatnya, salah satu nya adalah setia dalam hal memenuhi janji nya, ketika ia menyanggupi untuk melakukan sesuatu, atau datang ke sebuah tempat, ia akan berusaha sekuat tenaga memenuhi janjinya, selama itu bisa ditempuh, ia akan datang. Padahal saya sendiri kadang masih kalah hanya dengan hujan gerimis sederhana, hingga membatalkan pergi atau memenuhi janji.

Satu hal lagi adalah, dia adalah orang yang sangat setia ketika temannya membutuhkan bantuan dan butuh seorang teman, beberapa kali ketika saya membutuhkan seorang teman, saat yang lain memang tidak bisa, beliau selalu ada. Ia menemani dengan sederhana, tapi ada.

Tidak hanya kepada saya saja rupanya, saya menyaksikan bagaimana ia begitu setia mengurusi keperluan sahabatnya saat sakit hingga meninggal, ia yang kesana kemari mengurus segala macam hal nya tanpa imbalan apa apa, hanya wujud kesetian seorang sahabat untuk sahabatnya …..

Ia Sangat Setia …..

Ahh… saya banyak belajar dari beliau, belajar menjadi pribadi sederhana, belajar untuk  tidak terlalu pusing mengikuti arus perubahan dunia, belajar untuk bagaimana berkarya tanpa ingin di pandang dunia, belajar menjadi diri sendiri, balajar sederhana, belajar setia…

Terimaksih teh Is, sudah mengajarkan ku banyak hal, bahkan mungkin kau tidak mennyadarinya bahwa kau mengajarkan ku banyak hal. Terimakasih untuk telah setia dan selalu ada, maafkan adik mu ini yang kadang kurang mengerti, kurang memahami, dan kekurangan kekurangan lainnya… semoga persahabatan ini akan berlangsung tak hanya di dunia, tapi kelak di Surga-Nya… Aamiin

[ Sebuah Kisah ] Batik Pertamamu

batik-pria-lengan-panjang-hijau-cream-cb142-va-330x01

 

Sore itu kulihat kau dari kejauhan, tersenyum, rona ceria tersirat di wajahmu. Mungkin kau sedang bahagia saat itu, senyum yang sudah lama tak  kujumpai lagi. Mataku tertuju pada baju batik yang kau pakai. Ingatanku melayang ke beberapa masa yang lalu, saat ada masa kita pernah menghabiskan hari hari bersama.

Sore itu kau bercerita dengan antusisme yang coba kau redam, namun aku tau kau saat itu berbahagia

“Besok hari pertama ku bekerja, aku belum mempunyai pakaian yang pantas, besok antar aku cari baju, batik kurasa, aku ingin hari pertama ku aku terlihat pantas”.

Esok hari nya, kau mengajak ku berbegas menuju pasar, mencari baju batikmu. ah aku tak menyangka kau ternyata tipikal pria yang kurang simple memilih. Kukira biasanya pria akan lebih memilih pakaian, yang penting batik. Tapi tidak dengan mu. Kau tau kakiku hampir lelah mengikuti langkahmu yang sangat bersemangat hari itu.

Aku pun hampir lelah memberikan pendapat mana baju yang bagus menurutku. “Pilihlah sendiri, aku menunggu disini” kataku. Tapi kau bersikeras agar aku ikut memilihkan baju batik pertamamu, hingga akhirnya kita mendapatkannya satu.

Kulihat wajah mu berseri seri saat itu, lucu rasanya, seperti anak kecil yang mendapatkan baju lebarannya. Saat  perjalanan pulang kau berkata “Aku akan tampan besok dengan baju ini” dan aku pun tergelak.

Batik pertamamu beberapa tahun yang lalu, dan kau masih memakainya hari ini, saat aku dari tak sengaja melihatmu dari kejauhan.

Tidak, aku tidak sedang mengingat masa lalu atau semacamnya, aku hanya tetiba saja ingat suatu fragmen yang pernah kita lalui bersama.

Aku tau, kita berbahagia dalam posisi masing masing kita saat ini, kau dengan hidupmu, aku dengan hidupku.

Tidak ada yang lebih melegakan ketika kita mengingat masa lalu, dan kita tertawa lepas mengingatnya, seperti saat ini seperti saat aku mengingatmu, mencari batik pertamamu.

 

 

What A Life [ Tanaka’s Stories ]

Hai Ka …

Lama aku tak menulis kepadamu, ya.. bercerita kepadamu. It’s been so long, kita tak bercakap cakap seperti dulu. I miss ya, really …

Tidak, aku tidak pernah benar benar melupakanmu, tidak pernah. Namun kadang aku ada di sebuah espisode hidup yang menjadikan aku mengabaikan bahawa aku memilikimu.

Seperti malam ini, tetiba aku ingin betemu dan banyak bercerita dengan mu, tentang banyak hal. Bukan, bukan tentang cinta atau semacamnya, sudah lama aku tak begitu mempedulikan tentang hal itu.

Aku ingin menceritakan tentang hidup yang kadang mulai terasa lebih berat, lebih menanjak, lebih complicated. Tidak, aku tidak ingin mengeluh, atau apapun, aku hanya ingin bercerita kepadamu seperti sore yang biasa, seperti waktu waktu sebelumnya, hanya bercerita, itu saja.

Ka ….

Hidup kadang menyajikan kita masalah yang berbeda dalam satu waktu yang sama, kadang satu masalah yang membuat kita ingin berhenti melangkah, atau lama terhenti  melangkah. Membuat kita kacau, membuat kita resah, membuat fikiran kita melayang layang mereka reka apa yang akan terjadi selanjutnya.Disisi lain, ada peran lain yang mesti kita jalankan,  menuntut kita “berpura pura” baik baik saja, berjalan setegar mungkin, bernafas seringan mungkin. Life Goes On itu yang mereka bilang’

Aku tau – kamu tau, aku berusaha, untuk terus berjalan, menghadap kedepan, meyakini yang aku yakini, yang kamu yakini, bahwa seperti apa pun ujian, kesulitan bahkan kesalahan yang kita lakukan adalah pembelajaran, bawa ujian, kesulitan bahkan kesalahan itu adalah kehidupan itu sendiri.  What a Life …

Ka ….

Hidup itu indah ya …seperti kata mu. Apapun, apapun yang datang pada kita, jalani. Bahagia atau luka. Bahkan luka pun bisa jadi bahagia bila kemudian kau bersabar untuk melihat kenapa dibalik itu semua, dan bagaimana kita menyapa luka itu.Berbijaklah katamu, itu kuncinya. Dan bila kau takut,maka beranilah, karena itu obatnya. Bila kau mampu dan mau, maka di akhir cerita yang kau tau hanyalah bahagia

Ka ….

Aku rindu berjalan di padang rumput di senja hari, di kala cahaya matahari jatuh menguning menimpa rerumputan. Angin sore yang mengantarkan kita untuk pulang ke rumah, rumah taman tempat kita sering bertukar cerita, cerita tentang cahaya, tentang suara, tentang angkasa.

Ka ….

Aku rindu kau, aku rindu rumah, rumah hutan kita …

 

 

 

 

Silaturahmi Yang Sulit

Masih nyambung sama tulisan saya sebelumnya, tentang silaturahmi, Sebuah Pesan Saat Lebaran Mungkin akan lebih mudah dan tidak ada hambatan ketika kita bersilaturahmi dengan mereka yang tidak pernah ada masalah dengan kita, kalau pun ada masalah masalah kecil saja, tidak  meninggalkan bekas yang dalam pada hati kita.

Namun yang sulit adalah ketika bersilaturahmi dengan orang yang pernah menyakiti kita, deeply. Padahal awalnya hubungan nya sangat dekat dan baik. Saat membaca hadist tentang keutamaan menyambung silaturahmi, saya langsung teringat kepada seorang yang pernah menyakiti saya, mungkin Allah secara tersirat meminta saya untuk menjalin silaturahmi dengan orang tersebut.

Namun, entah mengapa begitu sangat berat yaa.. untuk memulai lagi silaturahmi dengan orang yang pernah bermaslah dalam dengan kita, apalagi kita di posisi orang yang merasa ter dzolimi oleh nya. Masih teringat kenangan kenangan buruk yang terjadi, berkelabatan, walau sudah termaafkan tapi tidak terlupakan, rasa sakit yang tertingal, dsb.

Ah mungkin karena sulit atau tidak mudah itu, maka Allah memberi ganjaran, barang siapa yang menyambung silaturahmi (memulai, mengawali, silaturahmi) maka baginya kasih sayang Allah yang tak terbatas.

Semoga, suatu hari nanti,ada kekuatan ada kelapangan hati, untuk memulai silaturahmi, membuka komunikasi, walau apa yang pernah terjadi di masa lalu. Butuh usaha yang lebih memang, butuh hati yang luas, jiwa yang bebas…

Semoga, suatu hari nanti …

 

 

Sebuah Pesan Saat Lebaran

Lebaran ini saya pulang kampung, lebih tepatnya pulang kampung dan road show mengunjungi saudara saudara. Sebenarnya rumah saya sudah lama di Bandung, tapi keluarga besar Bapak Almarhum ada di Garut, sedangkan keluarga besar Mamah ada di Pangandaran.

Lebaran kemarin memang sudah di niatkan untuk pulang bertemu saudara saudara besar yang jarang bertemu, akhirnya mudiklah kami bertiga (saya, ibu dan adik) ke Garut dan Pangandaran, juga mengunjungi saudara saudara di Tasik, Ciamis,  Banjar hingga Yogjakarata.

Mamah saya termasuk orang yang senang bersilaturahmi, dan selalu mengajak anak anak nya untuk mau bersilaturahmi berkeliling ke saudara saudara, walau kadang kita sebagai anak males malesan, “ya kalau bukan saudara deket deket amat ya ga usah pikir kami, hhee… ”

Tapi mamah tidak pernah bosan buat ngajak kami ketemu saudara disinilah, saudara disanalah, selain saudara kadang kadang mengajak untuk silaturahmi dengan kawan kawan lama nya juga.

Lebaran tahun ini saya mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga. Waktu itu saya sudah ada di kampung halaman, ada saudara sepupu yang sampai satu hari belum bertemu, karena rumah nya agak berjauhan. Mamah berinisiatif untuk mengunjungi rumah kakak sepupu saya itu, tapi saudara yang lain seakan melarang “ga usah, biar dia yang kesini, kita kan lebih tua, dia yang muda harusnya yang mengunjungi kesini” ujarnya.

Dalam hati saya bilang iya juga ya, harusnya yang muda dong yang mengunjungi yang tua, harus menghormati dan menghargai orang yang lebih tua. Tapi Mamah menjawab kurang lebih seperti ini “Silaturahmi itu ga ada aturannya harus yang muda dulu ke yang tua, atau sebaliknya, yang paling utama adalah orang yang menyambung silaturahmi, yang mau inisatif duluan untuk memulai silaturahmi”

Saya mencoba mencerna jawaban mamah, kemudian saya mencari dalam hadist tentang silaturahmi :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [Muttafaqun ‘alaihi].

“Keutamaan Silaturahmi, Silaturahmi itu Menambah Umur, Barangsiapa yang Menyambung Silaturahmi Allah akan Mencintainya, dan Seterusnya” – Hadits 52-62 – Kitab Adabul Mufrad

 

Ah benar rupanya, silaturahmi bukan tentang yang muda atau yang tua, memang akan lebih baik apabila yang muda mengunjungi yang tua. Namun jangan jadikan alasan untuk kita menyambung silaturahmi. Dan apabila kita ingin menjadi orang yang utama di sisi Allah dan Rasul-Nya maka jadilah orang yang pertama menyambung silaturahmi, jadilah orang yang pertama mengunjungi, menyapa, saudara saudara kita, sahabat sahabat kita.

Apabila ingin menjadi hamba yang dicintai Allah, maka sambungkanlah silaturahmi, jadilah orang yang mencintai silaturahmi, jadilah orang yang menyambungkan, mengikatkan dan mengokohkan tali silaturahmi. Semoga kita menjadi orang orang yang dimaksud itu, Aamiin…

Ps : Terimakasih mamah untuk sekali lagi pesan kehidupannya

 

13731578_10154220314203260_2707993067521175321_n

Dia pasti kembali

Hai … selamat malam alam raya. Sudah lama saya ingin menulis ini, menulis tentang sebuah hubungan, yaks.. dalam bahasa inggris nya about a relationship. Hubungan dengan siapa ? dengan siapa aja sih sebenernya, namun saat ini saya ingin membahas hubungan sebuah persahabatan.

Pernah ngalamin berantem ama sahabat? atau sahabat kamu tiba tiba marah marah ama kamu? atau salah faham yang bikin salah satu dari kalian jadi marah yang berkepanjangan? mostly pernah yaa….saya pernah mengalaminya. Sebuah peristiwa yang bisa disebut membuat hubungan saya dengan sahabat bisa dikatakan sangat tidak baik, dan membuat saya bener bener sangat sedih.

Satu peristiwa yang cukup membekas dalam ingatan saya, atau bisa jadi dalam hidup saya kedepan,adalah sebuah peristiwa antara saya dan salah seorang saya. Kami begitu dekat, walaupun jarak usia lumayan jauh, beliau lebih tua dari saya, sepertinya beliau sudah sangat percaya dengan saya, dia sangat terbuka dengan saya dan segalanya dia ceritakan pada saya, saya pun demikian, dan berusaha untuk bisa menjaga kepercayaannya.

Hingga suatu saat ada sebuah peristiwa, dimana ada kesalah fahaman atau bisa dibilang saya di “fitnah” oleh salah satu anggota keluarga dekatnya, yang mengatakan saya inilah saya itulah. Hingga sahabat saya ini marah besar kepada saya, marah yang sangattttt besar, hingga keluar kata kata sangat kasar dari dia, dan menyebut saya pengkhianat dan tidak tau berterimakasih dsb.

Sakit hati ? Pasti. Sangat sakit, pertama karena saya merasa tidak melakukannya, dan bukan seperti itu kisah yang sebenarnya. Kedua, karena saya sudah banyak berkorban buat sahabat saya itu, sisi emosi saya bercampur antara sakit hati,marah, kesal juga sedih.

Saya sudah mencoba menjelaskan kepada sahabat saya itu tentang cerita dari versi saya, namun  dia tidak mau mendengar, entah mungkin karena suara dari sana lebih keras terdengar, ditambah lagi mungkin karena suara dari sana adalah dari keluarga dekatnya sendiri, hingga sahabat saya lebih percaya kepada saudaranya ketimbang kepada saya.

Berkali kali saya minta waktu untuk menjelaskan, saya minta bertemu langsung, tapi dia menolak, malah terus mengeluarkan kata kata kasar via sms, berkali kali, dan saya coba membalas untuk menjelaskan, tapi sia sia, ia terus mengaggap saya salah.Sungguh awalnya saya tidak terima, dan saya bersikeras untuk menjelaskan bahwa tidak seperti itu ceritanya, namun ketika saya bersikeras juga, semua menjadi tambah buruk.

Hingga akhirnya  saya tiba di suatu titik, titik dimana saya “ngotot” untuk membuktikan saya tidak bersalah, membuktikan bahwa apa yang di katakan saudaranya tentang saya adalah tidak benar. Dan saya pun mengirim sms terakhir yang kurang lebih isinya seperti ini “Pada akhirnya waktu yang akan membuktikan apa yang benar, apa yang salah. Karena Allah Maha Mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan suatu saat Ia akan menampakannya” dan dari saat itu hubungan kami terputus, tidak ada komunikasi lagi, dalam waktu yang cukup lama. Dan saya pasrahkan kepada Allah, apa yangs sudah, sedang dan akan terjadi, Ia yang mengetahui kebenaran, Ia yang mengetahui isi hati, dan Ia yang akan mengatur segalanya, saya pasrah, itu saja.

Dalam doa saya saya meminta begini pada Allah, saat saya merasa sedih atau sakit hati mengingat peristiwa itu “Ya Allah,sungguh Engkau mengetahui apa yang terjadi. bila hubungan persahabatan saya dengan dia mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat maka dekatkanlah, apabila tidak maka engkau lah yang Maha memisahkan”

Hingga suatu hati, setelah waktu yang cukup lama, tiba tiba dia menghubungi saya, memang tidak untuk meminta maaf atau untuk mengungkit kembali persoalan yang telah lalu, tapi dia datang untuk menyapa, entah, tiba tiba Allah mengatur lagi, pertemuan saya dengan dia, dan kemudian hubungan kami mengalir begitu saja, mulai dekat lagi, dan saat ini hubungan kami jauh lebih dekat malah, kami banyak melakukan kegiatan sosial bersama, saling sharing kehidupan masing masing, dsb, tanpa pernah lagi membahas masa lalu, mengungkit apa yang salah, apa yang benar, seperti mengalir begitu saja.

Peristiwa ini mengantarkan saya  pada semacam kesimpulan, pertama bahwa ada saat kita tidak mengerti tentang peristiwa yang datang kepada kita, entah baik entah buruk, ketika kita tidak mengerti, kita hanya perlu menerimanya, ada rencana-Nya yang hebat, yang kadang tidak bisa kita cerna sekarang, yang akan kita fahami setelah jauh dari peristiwa itu.

Kedua bahwa ketika kita tau kita tidak bersalah, kewajiban kita tetap menjelaskan semampu kita, kalau dalam bahasa anak anak mesjid Tabayyun hhee.. setelah kita berusaha maksimal untuk menjelaskan, kemudian pasrahkan. Karena hati kita, hati dia, absolutly dalam genggaman-Nya. Biar Allah yang mengatur kemana bergeraknya.

Ketiga, ketika Allah berkehendak ada kebaikan dalam sebuah persahabatan, maka percayalah maka Ia yang akan menyatukan hati hati kita, yang perlu kita lakukan adalah berdoa agar persahabatan yang kita jalani ada dalam keridaan-Nya dan janga lupa untuk didekatkan dengan sahabat sahabat yang bisa membawa kebaikan dan kebermanfaatan tak hanya di dunia, tapi juga untuk kelak di akhirat.

Percayalah, ketika kau tau kebenarannya #DiaPastiKembali

rare-animal-friendship-gray-wolf-brown-bear-lassi-rautiainen-finland-thumb

Sumber Gambar : Disini

Persahabatan yang sesungguhnya adalah, persahabatan yang bisa membuatmu lebih Taqwa kepada-Nya

 

 

 

Sombong Sebelum “Waktunya”

Sombong sebelum waktunya … Emang sombong ada waktunya yaa..? hhee… entahlah tiba tiba judul ini yang terlintas dalam benak saya malam ini, setelah menghadiri sebuah event.Dalam sebuah temu kangen, reuni atau semacamnya, yang sudah lama ga ketemuan, pasti banyak kawan kawan lama yang datang dengan kisah baru.

Seperti waktu kemarin dalam sebuah pertemuan, saya melihat beberapa teman dengan berbagai macam pencapaian pencapaian yang sudah ia dapatkan, baik dalam bisnis atau karir. Dan biasanya nihh… ada aja dari mereka yang jadi berubah ….

Ada satu orang teman, yang bisa dibilang relatif sukses dengan bisnis nya, dengan pencapaian inilah, pencapaian itu lah, saya termasuk senang dengan lompatan bisnisnya, karena tau bagaimana dia dulu berjuang. Namun yang mengusik benak saya adalah tentang “sikap” nya saat itu saat bersama teman teman. Entahlah ada semacam “perubahan” ketika sedang bersama sama. Sikapnya tidak begitu ramah, tidak cair, tidak berbaur, seperti menjaga jarak dengan teman teman seperjuangannya dulu.

Perbandingan

Dia begitu sibuk dengan gadget nya, ketika teman teman nya bahagia bercengkrama mengenang masa bersama sama, tertawa, berkelakar, dia semacam menjaga image, seakaan ada bahasa tubuh yang menyiratkan “hei.. aku beda loh ama kalian, i’m better, i’m succes person, ga leve;” entahlah itu hal yang saya tangkap dari geasture, air muka, dsb. Semoga ini hanya su’udzan nya saya aja, semacam lintasan perasaan.

Dilain cerita, ada seorang lagi yang kalau dari pencapaian kesuksesan materi, bisnis dan karier bisa dikatakan jauh melampaui orang yang pertama saya ceritakan. Bahkan setiap orang mengakuinya. Namun justru sebaliknya, sikap nya sangat blended dengan siapapun yang ia temui, sikapnya sama seperti dulu. Candaan, kelakar, sikap ia tunjukan hangat kepada  kawan kawannya, sama seperti dulu ketika dia masih belum menjadi siapa siapa.

Ia melepaskan “atribut” kesuksesan nya ketika bersama kawan kawannya, karir, materi, dsb, sehingga ia terlihat sangat menikmati acara itu. Sedangkan yang satu lagi seakan membawa “atribut” kesuksesan nya, atau seperti ingin diakui dan menujukan bahwa dia telah menjadi orang yang sukses. Padahal bila diukur dari kualitas, orang kedua memiliki pencapaian yang jauh lebih baik.

Bercermin

Terlepas mungkin ini hanya perasaan saja, semoga bisa menjadi cermin saya pribadi, bahwa apapun pencapaian kita, jangan sampai membuat kita tinggi hati, jangan sampai membuat kita merasa lebih baik dari orang lain, jangan sampai kita “sombong sebelum waktunya” hhee…maksudanya sombong emang ada waktunya gitu ?

Maksudnya, jangan sampai kita belum menjadi apa apa, masih setengah mateng, masih menanjak, namun hati kita mendahuli prestasi kita, terlalu meninggi hati kita, hingga yang pada akhirnya, tidak baik untuk diri kita sendiri, dan juga silaturahmi kita dengan orang lain.

Karena katanya sukses yang sebenarnya, adalah sesuatu hal yang bisa membuat kepala kita lebih tertunduk bukan mendongkak, membuat tangan kita lebih banyak terulur, membuat telinga kita lebih banyak mendengar dan membuat hati kita lebih terbuka luas dan tulus.

angkuh

 

Semoga Bermanfaat,

 

Selamat Menikmati Ramadhan