Terimakasih Ramadhan

So, this is it … Berpisah kita disini rupanya. Banyak yang aku rasakan selama sebulan kebersamaan. Rasanya sangat banyak yang ingin kuungkapkan

Terimakasih untuk suasana syahdu yang kau persembahkan

Terimakasih telah membersamai dalam riuh dan diam

Terimakasih untuk membuatku mau tegak terjaga dalam malam malam, rela terlarut hanyut dalam ayat ayat suci Nya

Terimakasih telah membantuku lebih memaknai sabar dan kesyukuran

Terimaksih telah membantuku, berpikir dan menjiwa dalam dalam

Terimakasih telah membantuku lebih mengerti tentang penerimaan

Terimakasih telah membantuku yakin atas doa doa dan harapan

Terimaksih telah membantuku, meyakini kemana arah jalan kehidupan

Terimakasih telah membantuku, lebih dekat , mengenal, dan menginternalisasi akan Ke Maha Besaran-Nya. Bahwa pada-Nya lah kehidupan ini semua akan bermuara. Ini yang utama

Ya, DIA. Pencipta kau juga aku

Ramadhan,
Walau aku sadar, kau masih banyak ku sia siakan. Masih terperangkap dalam kemalasan dan kelalaian, melakukan banyak pembenaraan

Ramadhan,
Terimakasih yaa, sebulan ini adalah saat yang sangat berharga. Klise barangkali. Tapi kuharap, bisa berjumpa dengan mu di kemudian hari

Dan di hari perjumpaan itu, aku ingin kau melihatku menjadi manusia yang jauh lebih Taqwa di hadapan Pencipta Kita, ALLAH Azza Wa Zalla, dan siap kembali menerima “tempaan” mu di waktu selanjutnya

Ramadhan, sekali lagi terimakasih yaa… See you, when I see you

~Setelah Ramadhan

.e4f537ba-3a62-4346-b755-443851b932e8

Hei, sudah lebih dari sepekan Ramadhan berlalu… Apakah kau benar benar merasakan getar rindu ? Atau sebatas ucap semu
.
Sudah lebih dari sepekan ia berjauhan dengan mu. Adakah jejak yang ia tinggalkan pada jiwamu ? Atau ia bagimu, hanya waktu waktu yang begitu saja berlalu
.
Sudah lebih dari sepekan ia berpisah dengan mu. Adakah ia membekali mu sesuatu?
.
Adakah ia membekali mu nalar benderang, jiwa yang penuh, ketakwaan dan keikhlasan yang utuh
.
Masih kah ada shalat di malam malam mu? Masih adakah lantunan ayat suci terdengar di rumah mu ? Masihkah tangan mu terulur untuk mereka yang tak berdaya? Seperti saat ia masih membersamaimu
.
Semoga rasamu bukan hanya tentang rindu. Karena rindu saja tak cukup. Karena rindu berarti jarak, atau suasana yang berjauhan
.
Bawalah Ramadhan dalam jiwamu, fikirmu, lakumu. Karena ia sebenarnya tak kemana mana, ia ada dalam jiwa, selama kau mengsungguhinya dan menyimpan jejaknya agar menjadi Takwa
.
~SebuahMonolog