Setelah Ramadhan

Rasanya inilah sebenar benarnya pertempuran, waktu setelah Ramadhan

Apakah kita akan tetap dalam kekuatan ketaqwaan

Atau kesungguhan dalam Ramadhan kita tinggalkan

“Ah sebentar saja bermalas malasan tidak apa ….”

“Ah istirahat sebentar sehabis Ramadhan…”

Yang nyatanya kadang tidak sebentar, malah keasyikan dalam kelalaian

Astaqfirullahal’adziim, Fagfirlii Yaa Rabb

Seharusnya setelah Ramadhan kita membawa energi pembaharuan

Lebih baik dalam segala sisi kehidupan

Bukan malah lalai, melayang layang, menunda, mengurangi waktu waktu ibadah

Astaqfirullahal’adziim, Fagfirlii Yaa Rabb

Yaa Rabb…

Izinkan hamba kembali dalam kekokohan kebaikan Ramadhan

Dimana hati dan fikiran ini selalu ingin tertaut kepada-Mu

Ketika jiwa ini begitu khusyu ingin meraih Ridha-Mu

Yaa Rabb Izinkan hamba ….

Mencari Diri Yang Hilang …

Ocean Adventure Instagram Post (1)

Ramadhan yang sunyi
Ya, barangkali seharusnya Ramadhan seperti ini, sunyi
.
Agar kita bisa lebih dalam menyelami diri
Menemukan kembali kepingan kepingan diri kita barangkali tangah tenggelam
Tenggelam karena melangitnya obsesi
.
Agar kita bisa mengasingkan diri
Dari bisingnya suara dunia
Yang tak pernah berhenti
Menawarkan kita dengan berupa impian & angan indahnya
.
Agar kita bisa lebih mencermin diri
Adakah bagian diri kita yang memudar & samar
Tergerus oleh nafsu yang selalu menggerogoti
.
Bisa jadi kita merasa sedang terbang,
Padahal kita sedang tenggelam .
Bisa jadi kira merasa sedang di awan,
Padahal jiwa kita sedang menghilang
.
Jangan, jangan sampai..

R-A-Y-A

34096470_2144744118873711_7030285169135190016_n(1)

 

Selamat Meraya Kemenangan
Selamat Memulai Perubahan
Selamat Memupuk Keyakinan
Selamat Menggamit Harapan
Selamat Menempuh Perjuangan
.
Taqabalallahu Minna Wa Minkum, Siyamanaa Wa Siyamakum
.
Semoga jiwa jiwa kita kembali menemukan fitrah-nya
.
Mohon dimaafkan segala laku, sangka, ucap dan tingkah

 

#LatePost

Pit Stop ” Ramadhan “

Marhaban yaa Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, bulan saat ampunan di janjikan, bulan yang istimewa bagi mereka yang ada menyala takwa di hatinya, bulan di mana kitab terbaik petunjuk sepanjang masa diturunkan, bulan di mana sang pencipta berlipat lipat memberikan kasih sayangnya kepada umat manusia.

Bagi saya pribadi bulan ini adalah bulan “perhentian”, bulan dimana saya ingin “berhenti” sesaat untuk melihat langkah yang telah terjejak di belakang, untuk melihat posisi saat ini, dan untuk memantapkan arah perjalanan kedepan.

Bulan Ramadhan ini saya ingin untuk lebih banyak menyempatkan waktu “bersendiri” untuk  merenungkan apa yang telah terjalani selama ini, “bersendiri” untuk lebih mendengarkan, bukan hanya kata hati, tapi juga mendengarkan nasihat diri.

Bersendiri bukan berarti  mengasing dan tak mau berjumpa dengan orang lain. Namun bersendiri berarti meminimalisir diri dari kebisingan hari hari, beristirahat dari ambisi diri yang kadang tidak terkendali, mengukur diri dari kaki yang mungkin terlalu kencang berlari atau mungkin dari kaki yang teralalu lambat mengarungi hari.

Mengistirahatkan diri dari nafsu kita untuk terlalu mengetahui dan mengikuti apa yang ada di luar sana, hingga abai dengan kata hati. Karena katanya, apabila telinga kita terlalu banyak mendengar apa yang ada di dunia, kita jadi lalai mendengarkan kata hati diri sendiri, mendengarkan panggilan diri yang murni.

Ya, menurut saya bulan ini adalah bulan yang tepat untuk melihat rekam dan jejak diri, merenungkan apa yang sedang dan apa yang telah dilakukan, membayangkan apa yang akan ditinggalka. Kemudian berdialog dengan diri sendiri, dan “berdiskusi” dengan Nya, Sang pemilik alam semesta

Bila diibaratkan hidup adalah sebuah sirkuit arena, maka bulan ini bagi saya adalah sebuah “Pit Stop” sebuah tempat untuk kita beristirahat, mengisi daya, mengumpulkan energi, memperbaiki atau melepas yang telah usang, dan mengganti hal hal yang perlu diganti dengan “spare part” yang baru.

Karena apabila kita tak berhenti di “Pit Stop” kita tak akan pernah tau apa hal yang telah usang, apa yang telah rusak, apa yang sudah tidak bisa dipakai. Karena apabila tidak ada “Pit Stop” dalam diri kita, kita tak tau seberapa besar energi yang tersisa, kita tak akan tau seberapa daya yang kita butuhkan untuk perjalan selanjutnya.

Dan apabila kita terus kencang berlari tanpa berhenti, kita mungkin hanya peduli pada berlari dan mengemudi, tanpa kita mengingat lagi apakah telah benar jalur dan arah yang kita tempuh, atau jangan jangan kita hanya berlari dan lupa akan tujuan hakiki.

Karena perjalan panjang butuh peristirahatan, butuh perbaikan, butuh pengevaluasian, butuh energi yang selalu baru, agar perjalanan  panjang kita kemudian bisa lebih benar, lebih kencang, lebih terarah, lebih tertara, hingga kelak di depan kita bertemu dengan titik finish, ya titik finish kehidupan.

Dan Ramadhan ini adalah sebuah “Pit Stop” untuk mencari lagi tujuan diri, Bismillah ….

 

Pit-stop

Ramadhan Impian

Marhaban yaa Ramadhan… Bulan yang spesial buat seluruh muslimin di dunia, menyambut bulan yang penuh berkah ini. Suka cita kita menyambutnya. Ada  semacam perasaan dan suasana hati yang berbeda yang dirasakan, padahal secara fisik kita diperintahkan untuk tidak makan dan minum selama siang hari, tapi justru perintah itu menjadi kebahagian bagi ummat yang mengimaninya, karena dalam perintah ada kebahagian.

Tiga puluh hari yang istimewa. Seiring bertambahnya usia, saya merasakan pemaknaan yang makin berubah setiap Ramadhan, semoga pemaknaan yang semakin benar, Aamiin. Lalu bagaimana dengan Ramadhan tahun ini, apa yang ingin saya maknai ?

Ada beberapa hal yang ingin saya dapat, apa yang ingin saya raih, diantaranya tentang beberapa kebiasan sehari hari yang masih terasa masih belum bagus, seperti beraktifitas lebih pagi, tidur lebih awal, dsb.

Kemudian tentang kedisiplinan, konsistensi dan persistensi, atau bahasa soleh nya “Istiqomah” hhe….Belajar menjadi pribadi yang benar benar melakukan sesuatu dengan terus menerus dan makin membaik. Kadang saya ada di kondisi yang panas di awal, namun kadang lama kelamaan, mulaii timbul rasa malas dan menunda. Dalam banyak hal, dari hal seperti olahraga, disipilin makan makanan yang baik, pencatatan, meraih cita cita , impian, dsb.

Satu hal lagi, di Ramadhan ini, saya ingin menjadi orang yang lebih yakin sekaligus menerima. Akan semua yang sudah terjadi, yang sedang dijalani, juga yakin sekaligus menerima tentang masa depan yang sungguh masih misteri.

Apabila ditanya kembali, apa impian Ramadhan tahun ini ? Memberikan yang terbaik, Meyakini yang terbaik, Mengusahakan yang terbaik, Menjalani yang terbaik, Mengerjakan yang terbaik, Memimpikan yang terbaik, Mendoa yang terbaik kemudian Memasrahkan yang terbaik. Itu saja.

 

~ Ramadhan Hari Kesatu