Mengenal Diri & Memahami Orang Lain

Foto Edited In Canva

Salah satu manfaat dari TM (Talent Mapping) yang saya rasakan secara pribadi adalah ; saya bisa lebih mengenali diri sendiri, sekaligus lebih bisa belajar bijak dalam memahami orang lain. Sebelumnya saya masih sedikit sukar ketika memahami diri sendiri, dan juga memahami orang lain

Kenapa ya saya begini, kenapa ya saya begitu…

Kenapa saya begitu menikmati melakukan sebuah hal, namun tersiksa untuk melakukan hal lainnya …

Kenapa di sebuah hal saya begitu mudah dan mengalir, di lain hal saya begitu berat untuk menjalankannya …

Kenapa dia begini, kenapa dia begitu …

Saya aja bisa, kenapa dia ga bisa seperti saya …

Harusnya dia bisa seperti saya …

Awalnya saya kira ini tentang kemampuan atau ketidakmampuan semata. Kemauan atau ketidakmauan semata. Namun ketika saya belajar ilmunya, saya kini lebih mengerti bahwa memang manusia itu berbeda beda. Berbeda beda dalam hal potensi keunggulannya.

Itu sebabnya ada orang yang sangat unggul dalam suatu bidang, dan lemah dibidang lainnya. Itu sebabnya ada yang bisa kita lakukan, dan orang lain tidak bisa, begitu juga sebaliknya. Jadi ini bukan perkara bisa – tidak bisa, mampu – tidak mampu, mau – tidak mau. Pandangan dan pemahaman kita harus lebih bisa diluaskan dari sekedar menilai hal yang permukaan saja

Kadang kita “menuntut” diri kita agar serba bisa. Agar kita mampu bisa melakukan banyak hal. Atau kita pun menuntut orang lain agar bisa sama dengan kita, dengan pembawaan kita, dengan karakter kita, dengan kemampuan kita. Bila kita mampu dalam suatu bidang, maka kita pun menuntut orang untuk sama dengan kita. Pun sebaliknya, ketika orang lain mampu, kita pun menuntut kita bisa sama

Padahal bukankah tersurat dalam Al Quran pun bahwa pembawaan manusia berbeda beda, fitrah potensi setiap orang berbeda pula :

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا

Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya ” (QS Al-Isra 84)

SYAKILAH di ayat diatas di beberapa pembahasan tafsir, dimaknai sebagai pembawaan, potensi, keunggulan. Dan pada setiap manusia, Allah berikan pembawaan nya masing masing, berbeda satu antar satu yang lainnya. Unik, Spesifik.

Saya lalu berifikir … kenapa ya Allah menciptakan manusia berbeda beda ?

Lalu saya teringat, sebuah ayat Al Quran tentang manusia yang diciptakan berbeda beda :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13)

Perbedaan ini juga barangkali bukan tentang perbedaan fisik, perbedaan tempat, suku, warna kulit, dsb. Namun tentang perbedaan sifat, karakter, pembawaan, potensi dan keunggulan. Perbedaan ini pun tentang perbedaaan peran yang nantinya akan diambil oleh setiap orang.

Balik lagi ke pertanyaan saya tadi, kenapa ya Allah menciptkan manusia berbeda beda ? Barangkali salah satu alasan nya adalah agar manusia bisa saling melengkapi, saling bersinergi, saling menggenapkan, satu dengan lainnya. Agar manusia bisa hidup dalam hidup bersosial, berjamaah.

Tidak ada manusia yang bisa melakukan segala hal, pintar dalam segala hal. Seseorang yang mahir dalam suatu bidang ia lemah dalam hal lainnya. Karena bila manusia menjadi serba bisa, menjadi “SUPERMAN” mungkin kita tidak bisa berjamaah dalam kehidupan ini, karena setiap orang merasa mampu melakukan segalanya sendirian.

____

Nah ketika saya mulai belajar untuk memahami tentang ini lebih dalam, saya  memahami bahwa ada hal yang saya mampu lakukan dan mana yang tidak mampu saya lakukan. Balajar untuk tahu apa sifat keunggulan saya, dan apa sisi kelemahan saya, untuk kemudian  menggali dan memaksimalkan keunggulan saya, dan mensiasati kelemahan saya.

Pun dengan ketika bergaul dalam orang lain, baik dalam lingkaran keluarga, organisasi, dsb. Saya semakin mengerti bahwa, kita tidak bisa dengan mudah menilai, men-judge, seseorang karena kita membuat penilaian kepada orang lain sesuai dengan standar diri kita. Padahal tidak segampang itu. Dunia tidak bisa kita nilai sesuai dengan persepsi atau standar kita semata.

Kita harus lebih bijak. Bijak untuk mau belajar, bijak untuk mau memahami diri kita. Apa yang jadi keunggulan kita, apa yang menjadi kelemahan kita. Kemudian bijak mengakui keunggulan orang lain, dan menerima apa kelemahannya.

Memilih untuk justru fokus kepada keunggulan diri kita, bukan berlelah lelah berusaha menghebatkan kelemahan kita. Seperti elang, yang fokus pada belajar terbang, ketimbang belajar berenang.

Memaksimakan Zona Keunggulan Kita, Mensiasati Zona Kelemahan Kita

Dalam konteks hidup berjamaah, kelemahan kita akan diisi oleh keunggulan orang lain. begitu pun sebaliknya, keunggulan kita adalah pelengkap untuk pengisi kelemahan orang lain. Saling menguatkan, saling menggenapkan, saling bersinergi untuk kebaikan, untuk produktifitas, untuk kebermanfaatan yang lebih besar dan luas.

Dan kemudian, PR selanjutnya adalah bagaimana cara kita menganali diri dan memahami orang lain …

Bersambung …

Advertisements

Cara Sukses Vs Jalan Sukses

kemana

 

Selama ini kita banyak sekali mendapat masukan, arahan, motivasi tentang bagaimana caranya meraih sukses. Banyak sekali buku, seminar, nasihat baik dari orangtua kita, kawan kita, para motivator, dan para orang orang yang sudah dinilai sukses.

Saya termasuk orang yang senang belajar, senang mendengarkan, senang membaca. Apalagi tentang orang orang yang sudah sukses di bidang nya masing masing. Mendengarkan tentang bagaiamana perjalanan hidup mereka, bagaimana cara mereka meraih sukses, dsb.

Bagaimana cara meraih sukses !

Ini adalah mungkin adalah salah satu kalimat yang sangat banyak di cari, banyak ditanyakan, banyak didiskusikan, banyak dirumuskan, banyak diformulakan …

Berlomba orang mencari jawaban atas pertanyaan ini. Bagaimanakah CARA nya, menjadi sukses …

Namun benarkah untuk menjadi SUKSES, yang perlu kita cari tahu adalah hanya tentang CARA nya ?Hingga kita terlupa tentang unsur penting lainnya tentang kesuksesan, yaitu tentang :

Bagaimana Memilih Jalan Sukses

Ah ini dia !!

Saya sangat tertohok dengan sebuah pertanyaan seorang teman : ” Kenapa kita selalu fokus dengan cara cara meraih sukses. Pertanyaan yang sebenarnya perlu kita cari jawabannya adalah : apakah benar ini jalan sukses kita ? “

Atau pertanyaan lainnya adalah :

” Sudah benarkah jalan ini yang akan ku tempuh untuk meraih kesuksesan ….”

” Di jalan yang manakah aku akan memperoleh kesuksesan …. “

” Bagaimanakah aku yakin, bahwa ini adalah jalan aku memperoleh kesuksesan …”

Barangkali pertanyaan pertanyaan ini yang masih jarang kita dialogkan dengan diri kita sendiri. Kita begitu terlarut dengan cara cara yang kadang terlalu “tekhnis” dalam mencapai kesuksesan. Kita terlarut dalam CARA.

Kemudian melupakan hal lain yang lebih utama, yaitu mengetahui DIMANAKAH JALAN KESUKESAN kita …

Bersambung ….

kemana

 

Memastikan Jati Diri

 

TM2

FotoBy : Dandi Birdy

Pekan lalu, dua hari berturut turut, saya mengikuti sebuah training  bertema “Talent Mapping”, sebuah training tentang bagaimana kita mencari tahu, apa sebenarnya yang menjadi bakat kita, berdasarkan sifat alami kita, berdasarkan fitrah kita. Kalau teman teman yang bergerak di bidang pengembangan diri, human resource, pastinya sudah banyak tahu mengenai metode talent mapping ini,  dengan founder  bernama Abah Rama.

Bagi saya training ini sangat banyak membantu saya, dalam “mendefinisikan” diri saya, tentang karakter, sifat, pembawaan yang selama ini memang sudah ada dalam diri saya, namun masih belum mengerti, belum saya sadari bahwa itu adalah potensi diri, dan bahwa sebenarnya sifat sifat khas yang sudah ada itu adalah modal utama dalam kehidupan saya.

Training ini juga makin menyadarkan saya, tentang bagaimana menentukan bidang apa yang memang sesuai dengan sifat khas yang sudah ada dalam diri saya. Karena kadang kita salah jalan dalam kehidupan ini, salah dalam memilih bidang yang sebenarnya “bertentangan” dengan pembawaan kita.

Karena sejatinya, manusia sudah mempunyai “benih” yang sudah Allah sertakan dalam kelahiran kita. Namun sayangnya, masih banyak dari kita -mungkin termasuk saya didalamnya- salah atau kurang tepat dalam memilih tanah untuk menanam benih itu.

Sehingga benih yang seharusnya menjadi pohon besar yang mempunyai akar yang kuat, batang yang kokoh, ranting yang baik, buah yang lebat, dedaunan yang meneduhkan sesiapa yang ada di bawahnya, namun  ia  tumbuh dengan seadanya, tidak maksimal, tidak sesuai dengan planning Penciptanya. Akarnya tidak kuat, batangnya lemah, ranting nya rapuh, jarang berbuah, dan tidak meneduhkan.

Karena kita sebagai “tukang kebun” tidak pandai atau salah memilih dimana benih yang sudah kita punya seharusnya ditanam, kita telah salah memperlakukan benih kita. Maka mencari tahu apa jenis “benih” atau dalam bahasa lain “potensi bakat sifat” yang kita miliki sangat penting, hingga kita tidak salah memilih di mana kita akan memilih jalan kehidupan, bidang apa yang kita pilih, peran apa yang kita akan jalankan dalam hidup ini.

Ada sebuah Quote yang sangat mengena bagi saya, yaitu :

Kita  sangat sering diajarkan tentang bagaimana CARA meraih kesuksesan, tapi kita jarang membahas bagaimana memilih JALAN yang tepat untuk memilih kesuksesan

Ah sebenarnya masih banyak yang ingin dibahas, semoga ditulisan selanjutnya yaa…. ^^