Jangan Takut Menuliskan Cita Mu

Kita pasti punya banyak keinginan bukan? ingin ini, ingin itu, ingin melakukan banyak hal. Ingin pergi melanglang dunia, ingin mempunyai ini, ingin berkarya itu. Begitu banyak list keinginan dan cita dalam kehidupan kita.

Namun, keinginan dan cita itu kadang kita batasi dengan waktu, tenaga bahkan fikiran prip. Begitu banyak peran yang kita pegang dalam hidup ini, hingga terkadang kita menjadi bingung menjalani nya. Membuat prioritas atas keingian bahkan cita cita besar kita.

Itulah barangkali yang pernah saya rasakan. Begitu banyak keinginan dan cita cita untuk membuat banyak hal. Terkadang timbul dalam benak saya, apakah tenaga dan usia saya akan sanggup mewujudkan semua cita tersebut, terkadang hal tersebut menciutkan saya.

Hingga suatu saat, ada seseorang yang membisiki saya :

Jangan khawatir untuk berani menuliskan cita cita besar mu. Bila bukan kamu yang mewujudkan nya, akan ada generasi setelahmu yang akan mewujudkannya. Karena bisa saja cita cita mu saat ini adalah “titipan” dari para pendahulu kita. Allah akan menyimpan cita cita baik kita. Bila usia kita tak sampai kepadanya, akan ada mereka yang mewujudkannya

Saya coba melamati kalimat demi kalimatnya, dia bilang bahwa cita besar, tak datang begitu saja, itu diturunkan, jauh jauh sebelum kita, oleh para pendahulu kita, para Nabi, Rosul, Sahabat, Para Amiril Mukminin, hingga para pahlawan bangsa ini, hingaga kita para pemuda saat ini.

 

 

581580_10151143763968260_260295414_n

 

Advertisements

Sejahtera Dulu Aja, Baru Mikirin Orang Lain

 

laut

 

Beberapa saat lalu saya terlibat obrolan dengan seorang kawan kerja. Kami membahas tentang impian kami untuk kebermanfaatan banyak orang. Dia bilang “Ka, saya pengen punya panti asuhan nanti” ujarnya “Tapi mungkin ga sekarang, sekarang nyari duit dulu yang banyak, sejahtrakan dulu, baru bisa nabung, biar nanti  bikin panti asuhan yang besar sekalian. Aku ga mau nanggung nanggung bikinnya, kagok kalo dari sekarang nyicil, ga berasa puas. Jadi nanti aku mau bikin panti asuhan pas uang sudah banyak” tegasnya panjang lebar.

Lain waktu saya terlibat pembicaraan yang lebih mendalam lagi dengan seorang yang lain, dengan teman yang sama sama bergerak di bidang sosial. Saya membuka pembicaraan “Kamu suka ngerasa ga sih, kalo kerjaan kita kaya gini kadang suka di pandang sebelah mata oleh sebagian orang”.

Gini contohnya : waktu itu saya keliling pulau selama kurang lebih satu bulan sebagai relawan. Kemudian ada seorang yang sudah Ibu yang bertanya tanya mengenai kegiatan saya. Ditengah pembicaraan dia bertanya “Terus sehari hari kamu ngapain” tanya nya. Mungkin maksudnya, saya kerja apa. Sebuah pertanyaan yang wajar saya, karena mungkin orang orang diluar sana banyak bertanya tanya, orang orang kaya saya ini, kerja nya apa, hidup dari mana, apa ngandelin dari bantuan orang lain juga jangan jangan, hidupnya dari uluran tangan orang lain.

******

Menjalani dua bagian hidup seperti ini – berbisnis & berabdi- seperti yang saya jalanin selama ini memang tidak mudah. Bagi saya keduanya bukan pilihan, tapi impian juga tanggung jawab. Bekerja atau berbisnis apa pun itu segala yang menghasilkan uang  selain kebutuhan bagi saya adalah tanggung jawab. Tanggung jawab kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, juga kepada Tuhan. Karena bagaimanapun kita harus mandiri diatas kaki sendiri, tidak menambah beban orang lain.  Lebih dari itu menjadi leluasa dalam keuangan  akan sangat banyak membantu dalam bergerak dan berbuat banyak manfaat.

Pengabdian kepada orang banyak, adalah passion saya. Impian saya. Nafas saya. Kegembiraan saya. Kebahagian Saya. Sesuatu hal yang ada dalam degub jantung saya. Ya cita cita saya adalah mewujudkan cita cita banyak orang. Kegiatan saya bersama teman teman di NUSANTARA MEMBACA dan BAKTI GURU NUSANTARA adalah sebuah “Bintang Terang” bagi kami, sebuah cita cita terbesara yang kelak akan kami bawa untuk di persembahkan pada hari “esok” kelak, di hadapan Allah Swt.

Sungguh, tidak mudah menjalani keduanya bersamaan. Dalam waktu singkat, kadang harus bergantri peran dengan cepat, menjalani bisnis  kemudian menjalani pengabdian.  Saya sungguh masih sangat banyak belajar, membagi waktu, fikiran, tenaga di antara dua dunia yang saya jalani berbarengan ini, sungguh, sungguh tidak mudah.

***********

Jadi,  apakah sejahtra dulu baru membantu orang lain ? atau menjalani kedua duanya berbarengan? ahh menurut saya ini bukan mengenai benar atau salah. Ini mengenai pilihan, prioritas dan yang paling penting ini mengenai panggilan hidup.