Explore Perpustakaan Freedom di Jakarta!

Setiap kali bepergian ke sebuah Kota, saya selalu tertarik untuk mencari tahu apakah ada perpustakaan di sekitar lokasi yang bisa saya kunjungi. Saat berada di Jakarta beberapa waktu lalu, tidak sengaja saya menemukan perpustakaan dengan konsep yang unik —Perpustakaan Freedom, yang lokasinya terletak di kawasan Kuningan, tepatnya di Wisma Bakrie, Jl. Rasuna Said, Jakarta.

Begitu memasuki ruangannya, atmosfernya langsung membuat jatuh hati. Perpustakaan ini punya desain bergaya industrial. Ruangannya luas dan tertata rapi, membuat suasana nyaman untuk belajar, mengerjakan tugas, atau sekadar menikmati waktu untuk baca buku.

Rekomendasi untuk kamu yang sedang cari tempat di sekitaran Jakarta Selatan untuk WFL (Work From Library) atau sedang fokus menyelesaikan skripsi, tesis, dll, tempat ini bisa jadi pilihan.

Yang juga membuat Perpustakaan Freedom ini unik adalah koleksi bukunya. Di sini, kamu bisa menemukan berbagai judul yang bisa dikatakan cukup “berat”, mulai dari filsafat, ekonomi, sejarah, politik, hingga seni dan budaya. Sekitar 80% koleksinya berbahasa Inggris, bisa jadi sumber referensi yang lengkap dan berkualitas untuk mahasiswa, peneliti, maupun pecinta literatur.

Kalau kamu lagi cari bacaan yang spesifik, mendalam dan kaya referensi, Perpustakaan Freedom bisa jadi pilihan yang bisa dikunjungi.

Oh ya di perpustakaan ini juga ada fasilitas untuk fotocopy, memudahkan untuk paa Mahasiswa yang ingin membawa artikel ke rumah. Tersedia juga Mushalla, dan ada cafe disebelahnya.

Tambahan info, karena ruangannya lumayan dingin, jangan lupa bawa jaket, agar rasa dinginnya tidak terlalu terasa, dan kamu bisa fokus ngerjain tugas !

📍 Alamat: Wisma Bakrie, Jl. H. R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta
📖 Jenis Koleksi: Buku-buku bertema filsafat, ekonomi, politik, sejarah, seni, dan budaya (didominasi oleh bahasa Inggris)

We’re Born For The Reasons

We’re born for the reasons, deep and wide,
Not always clear, not easy to find.

But through the roads of joy and tears,
We do our deed & seek the meaning for life here.

With giving hands and hearts to care,
Our reason of existence rest right there.

Picture : With the children from Pangabatang Island, NTT (one of the remote islands in Flores, NTT), Kebukit Indonesia Foundation built a school for them to study in 2019.

Temukan Peran Kebermanfaatanmu

Bertumbuh, Berdampak, Bermanfaat…


Alhamdulillah, sebuah rasa syukur bisa berdiskusi dengan para mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sedang menyelesaikan program magister di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sebagian besar dari mereka berasal dari Kabupaten Sikka, NTT.

Kami saling berbagi inspirasi mengenai keresahan dan permasalahan yang mereka temukan di daerah asal masing-masing. Selain itu, mereka juga menyampaikan potensi yang ada serta impian mereka untuk kemajuan daerah dan masyarakatnya.

Setelah itu, kami berdiskusi tentang solusi dan peran spesifik yang bisa mereka ambil saat kembali ke daerah masing-masing, serta bagaimana mereka dapat berkontribusi melalui ilmu yang telah dipelajari.

Ternyata, dalam diskusi yang terbuka, banyak cita-cita mulia yang ingin mereka wujudkan dan berbagai potensi baik yang bisa dioptimalkan. Niat baik ini tentu akan lebih kuat jika dijalin, dikoneksikan, dan dikolaborasikan. Sebab, kebaikan besar hanya akan terwujud jika dilakukan bersama-sama.

Dengan berkumpul seperti ini, kita saling menumbuhkan, saling menguatkan, dan saling bersinergi demi terwujudnya cita-cita kebaikan bersama.

Beratnya Mengambil Keputusan

Salah satu beban terberat seorang pemimpin adalah ketika harus mengambil keputusan. Apalagi saat keputusan tidak hanya melibatkan nalar dan logika, namun saat terlibat rasa sebagai seorang manusia didalamnya.

Keputusan yang melahirkan konsekuensi setelahnya
keputusan yang belum pasti bagaimana langkah sesudahnya
Keputusan yang akan menuntut lebih banyak dari diri kita

Namun pada akhirnya, diam dan tidak melangkah bukanlah pilihan. Siap atau berat hati, berani atau setengah hati, mati kita putuskan. Keputusan dengan segala konsukensi yang mengirinya, dengan segala rasa yang bercampur di dalamnya, dengan segala tanda tanya yang menyertainya.

Mari kita lakukan, mari kita rayakan.

Kita tidak tahu barangkali keputusan yang awalnya penuh ketidaknyamanan itu kemudian menjadi jalan kebaikan dan keberkahan yang lebih luas. Dan mungkin inilah cara Allah dalam menempa, mendidik dan menguatkan kita, untuk menjadi manusia yang lebih paripurna.

“Maka bertawakkallah kepada Allah; sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)

Dengan niat yang lurus dan hati yang berserah, kita mulai langkah ini: Bismillahi tawakkaltu ‘alallah…

Membaca Membawaku Berkeliling Indonesia

Ini adalah tulisan saya di sebuah buku “The Magic OF Reading”, sebuah antalogi yang diprakarasi oleh Mas Ahmad Rifa’i Rifan dengan beberapa penulis lainnya. Nah, di blog pribadi ini, saya ingin berbagi tentang apa yang saya tulis di buku tersebut. Berbagai pengalaman perjalanan, cerita dan makna dalam setiap langkahnya. Selamat Membaca !

Membaca Membawaku Berkeliling Indonesia
Oleh: Nuriska Fahmiany

Bionarasi: Seorang visioner, penuh semangat dalam bidang sosial, pengembangan manusia dan komunitas. Pendiri Kebukit Indonesia, praktisi Talents Mapping.

Sebenarnya, saya sudah lupa apa bacaan pertama saya. Yang jelas, bacaan pertama saya adalah buku-buku dan majalah-majalah milik almarhum ayah saya. Beliau adalah seorang guru dan penulis, yang tulisannya sering dimuat di majalah-majalah keguruan sekitar tahun 1980-an.

Saat itu, saya masih usia sekolah dasar. Bacaan-bacaan tersebut sebenarnya ditujukan untuk orang dewasa, membahas dunia pendidikan, kebijakan pemerintah, dan sebagainya. Tapi entah mengapa, saya menikmatinya.

Bacaan lain yang saya ingat adalah buku Sejarah Gereja — bukunya masih ada sampai sekarang. Entah kenapa ayah saya memiliki buku itu. Waktu itu saya tidak memahami isinya, tapi tetap saya baca saja… hehe.

Ketersediaan buku-buku milik almarhum ayah membuat saya terbiasa membaca, tumbuh bersama buku-buku di rak ayah, menikmati suara mesin tik saat beliau menulis di malam hari, membaca naskah dan puisi-puisinya — semuanya masih terekam jelas dalam ingatan. Tulisan-tulisan beliau hingga kini masih saya simpan dengan baik.

Kebiasaan membaca terus memengaruhi saya saat remaja. Di masa SMA, saya gemar membaca cerita-cerita fiksi seperti Animorphs, Goosebumps, Chicken Soup, dan sejenisnya. Di sekolah, saya bahkan menjadi sumber referensi buku pelajaran. Saya dengan senang hati menjadi koordinator pembelian buku pelajaran. Saya mencatat siapa saja yang ingin membeli buku, lalu mencarinya di Toko Buku Palasari Bandung, pusat buku saat itu.

Saat beranjak dewasa, kecintaan saya pada membaca semakin kuat. Ketika kuliah, saya mulai mengoleksi buku dari berbagai genre: fiksi, sejarah, novel, pengembangan diri, dan lain-lain. Saya pernah bermimpi memiliki perpustakaan dengan kedai kopi — yang hingga kini belum terwujud… hehe. Namun, cita-cita lain justru tercapai, bahkan lebih besar: saya bisa berkeliling Indonesia.

Membaca membuat saya memiliki mimpi besar, menjadi seorang pemimpi — yang belakangan saya tahu memiliki istilah lain: visioner. Saat kuliah, saya menginisiasi komunitas literasi bersama teman-teman yang juga mencintai buku. Komunitas ini bernama Kebukit (Kelola Buku Kita). Misinya sederhana: membuat lebih banyak orang gemar membaca.

Awalnya hanya di Bandung, kemudian kami mulai merambah daerah lain seperti Garut, Sumedang, Subang, dan lainnya. Kami mengumpulkan buku dari para donatur lalu membagikannya ke daerah-daerah terpencil secara mandiri, bersama para relawan. Selain itu, kami juga menyelenggarakan pelatihan untuk “menularkan virus membaca”.

Setelah lulus kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan, saya tetap aktif mengembangkan komunitas ini. Berkat jalan yang dibukakan oleh Allah, Kebukit mendapatkan kesempatan berkeliling Indonesia selama lima tahun berturut-turut bersama Kementerian Kesra saat itu, membawa misi literasi.

Dari situ, wawasan saya tentang Indonesia semakin terbuka. Di satu sisi saya melihat betapa kayanya negeri ini, tetapi di sisi lain saya menyaksikan betapa miskinnya Indonesia dalam hal buku, kesempatan membaca, dan akses pendidikan yang layak.

Pengalaman berkeliling Indonesia menyadarkan saya akan ketimpangan pendidikan yang dialami anak-anak bangsa. Jomplangnya pendidikan di Pulau Jawa dibandingkan dengan di NTT dan Papua sangat mencolok.

Saya mendengar langsung kisah-kisah perjuangan mendapatkan pendidikan di NTT: sulitnya mendapatkan buku, bangunan sekolah yang tak layak, serta para guru yang tetap semangat di tengah keterbatasan. Semua itu menyadarkan saya bahwa sekecil apa pun, saya harus ambil bagian dalam solusi atas kondisi ini.

Akhirnya, saya memutuskan untuk membesarkan komunitas Kebukit yang telah saya dan teman-teman bangun. Saya resign dari pekerjaan, dan pada tahun 2019, kami resmi mendirikan Kebukit Indonesia sebagai sebuah yayasan berbadan hukum.

Alhamdulillah, meskipun masih tertatih-tatih, Kebukit Indonesia yang lahir dari kecintaan pada buku dan ilmu, kini telah memperluas kiprah melalui program-program pendidikan seperti pendirian sekolah di pulau-pulau terpencil, pelatihan peningkatan kualitas guru, beasiswa untuk mahasiswa asal Indonesia Timur, dan masih banyak lagi. Allahu Akbar.

Ternyata, membaca tidak hanya membawaku keliling Indonesia. Lebih dari itu, membaca memberiku pandangan akan potensi dan permasalahan negeri ini. Membaca menyadarkan bahwa aku harus turut menjadi bagian dari solusinya. Membaca memberiku ruang untuk berkarya bagi Indonesia, serta peluang untuk beribadah melalui aksi nyata di bumi Allah. Allahu Akbar.

Terima kasih ya Allah, Engkau jadikan hamba ini cinta membaca !

Antara Bisa dan Suka – Kamu yang Mana ?

Dua kalimat yang sekilas sama, namun sebenarnya sangat berbeda dalam makna.

BISA adalah hasil dari pembiasaan, pengulangan, atau bahkan keterpaksaan.
SUKA adalah sesuatu yang berasal dari hati—natural, genuine, dan datang dari dorongan & kecenderungan dalam diri.

Dua kalimat yang membuat arti menjadi berbeda, seperti pernyataan di atas; Bisa jadi setiap orang bisa mengajar, tapi tidak semua orang suka—bahkan mencintai mengajar.

Hal inilah yang mulai saya pelajari dan pahami lebih dalam melalui konsep Talents Mapping. Perbedaan antara “bisa” dan “suka” ternyata memengaruhi banyak aspek: kualitas, daya tahan, kepuasan, prestasi dan pencapaian.

1. BISA adalah tentang KEMAMPUAN

“Bisa” berarti terampil, terlatih, atau memiliki keahlian dalam melakukan suatu aktifitas. Kemampuan ini pada umumnya didapatkan melalui latihan, kebiasaan, atau karena tuntutan.

Namun, bisa tidak selalu berarti suka.

Contoh:

“Saya bisa berbicara di depan umum dengan baik, tetapi saya tidak terlalu menikmati saat melakukannya.”

2. SUKA adalah tentang KECENDERUNGAN HATI

“Suka” berarti menikmati, tertarik, dan memiliki gairah terhadap sesuatu. Biasanya muncul secara alami—karena ada ketertarikan, rasa ingin tahu, atau dorongan dari dalam diri.

Contoh:

“Saya suka memimpin, meski mungkin belum terlalu baik. Tapi saya merasa senang saat melakukannya.”

Bagaimana Kalau Hanya Bisa?

Untuk aktivitas jangka pendek atau yang dilakukan sesekali, “bisa” tanpa “suka” mungkin tidak menimbulkan masalah besar. Namun, saat kita harus melakukan sesuatu secara terus-menerus hanya karena kita bisa, tanpa menyukainya, maka hal itu bisa menjadi sesuatu yang serius. Kita lebih rentan terhadap burnout, stres, bahkan bisa mengarah pada depresi.

Selain itu, melakukan sesuatu yang tidak kita sukai membuat kita sulit mencapai performa dan prestasi terbaik. Sebab, untuk mencapai peak performance, dibutuhkan bukan hanya kemampuan, tapi juga rasa suka—bahkan cinta—terhadap apa yang kita lakukan.

Bagaimana Saat Kita Suka?

Memiliki rasa suka terhadap suatu aktivitas adalah modal yang sangat berharga. Kondisi “suka” ini bisa menjadi bahan bakar untuk melakukan akitifitas yang produktif dan prestasi terbaik.

Namun, jika hanya berhenti pada “suka” tanpa upaya untuk mengasah dan menumbuh-kembangkannya agar menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat, maka modal “suka” itu tidak akan menghasilkan banyak hal.

Talents Mapping Membantu Mengenal Tentang BISA dan SUKA

Melalui test Talents Mapping, selain memberikan deskripsi tentang Urutan Bakat , Kluster Kekuatan (Thinking, Striving, Influencing, Relating), disajikan juga tentang apa saja aktifitas yang kita sukai, kita kuasai (bisa), bahkan aktifitas irisan keduanya

Manfaat Mengetahui Apa yang Kita Bisa & Suka

Dengan memahami apa yang kita bisa dan suka, kita dapat:

  • Merancang masa depan dengan lebih tepat,
  • Memilih profesi, karier, atau bidang bisnis/akademis yang sesuai,
  • Menjalani hidup dengan lebih nikmat dan penuh makna.

Saat kita menikmati apa yang kita jalani, maka pencapaian, performa & prestasi terbaik pun menjadi lebih mudah diraih. Dan yang juga penting, dengan faham mengenai “bisa” dan “suka”, bahkan bisa memadukan keduanya, maka jalan untuk menjadi manusia yang memberikan kebermanfaatanpun akan lebih terbuka lebar.

Yuk, cari tahu apa yang kamu BISA dan apa yang kamu SUKA—dan temukan titik temu di antara keduanya!

Test Talents Mapping : https://bit.ly/TestTMNuriska
Konsulatsi Talents Mapping (Termasuk Test) : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

Belajar Untuk Apa ?

Saya adalah tipe orang yang menyukai proses belajar. Saya selalu antusias dan ingin tahu terhadap hal-hal baru. Dalam konsep #TalentsMapping, ini disebut sebagai “Learner” – si Pembelajar. Dan memang, bakat Learner termasuk dalam 14 bakat teratas saya berdasarkan hasil tes Talents Mapping.

Dulu, saya sempat keranjingan belajar. Setiap ada workshop atau pelatihan, saya ingin ikut. Jika dananya tersedia, saya langsung mendaftar. Tak hanya itu, bila ada buku menarik dan saya punya anggaran, saya langsung membelinya.

Namun, seiring waktu, seiring bertambahnya pemahaman dan kedewasaan – tsahhh – saya mulai belajar untuk belajar dengan penuh kesadaran. Bahwa belajar tidak sekadar tentang prosesnya, tapi tentang tujuannya.

Kini saya mulai bertanya pada diri sendiri:

“Apa tujuan dari proses belajarmu?”

“Apakah yang kamu pelajari sesuai dengan misi hidupmu?”

“Apakah ilmu baru yang akan kamu pelajari berkaitan, mendukung, dan sejalan dengan tujuan-tujuan hidupmu?”

Belajar dengan kesadaran. Belajar dengan arah dan tujuan yang jelas. Bukan semata-mata untuk memenuhi rasa ingin tahu, apalagi sekadar rasa penasaran.

Saya teringat pesan dari Ustadz Harry Santosa dalam bukunya Fitrah Based Life:

“Learning for mission, not learning for learning.”

Belajar bukan semata-mata demi belajar itu sendiri, melainkan demi misi & peran kehidupan yang kita emban. Ini bukan berarti kita tidak boleh menikmati proses belajar, atau membatasi diri dari ilmu. Namun ini adalah ajakan untuk meneguhkan niat dan memperjelas arah: Untuk Apa Kita Belajar.

Semoga setiap ilmu yang kita pelajarii, membawa kita lebih dekat pada misi hidup, pada kebermanfaatan, dan tentu saja—pada Allah SWT.

Selamat belajar dengan penuh kesadaran.
Selamat belajar dengan misi & tujuan
Happy Learning 😊

Yuks Cari Tahu Bakat, Keunggulan & Keunikan Dirimu :

Test Talents Mapping : https://bit.ly/TestTMNuriska
Konsulatsi Talents Mapping (Termasuk Test) : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

#journaling#learner#talentsmapping

Series Rekomendasi Untuk Para Orangtua : ADOLESCENCE

Ketika Mendidik Remaja Tidaklah Mudah…

Mendidik anak usia remaja bukanlah perkara mudah. Hal ini digambarkan dengan baik & penuh haru dalam serial Netflix berjudul Adolescence (Masa Remaja). Serial ini mengangkat kisah sebuah keluarga yang harus menghadapi kenyataan pahit: salah satu anak mereka ditangkap polisi karena menjadi tersangka pembunuhan salah satu teman sekolahnya.

Serial ini menyuguhkan berbagai sudut pandang— baik dari individu, keluarga, dunia pendidikan, juga tentang bagaimana hukum ditegakan kepada anak dibawah umur.

Episode pertama menyoroti bagaimana proses penangkapan tersangka anak di bawah umur. Adanya dinamika perasaan yang dialami oleh para penegak hukum saat harus menjalani prosedur hukum kepada anak di bawah umur.

Beranjak ke episode dua, menggambarkan betapa kacaunya sekolah sebagai lembaga pendidikan dengan terjadinya berbagai perundungan yang bahkan terjadi di depan para guru, anak anak yang tidak terkendali. Dibahas juga tentang bagaimana perundungan pun terjadi di dunia maya, yang seringkali tidak diketahui oleh para guru dan orangtua.

Episode ketiga adalah epiosde yang tidak terduga. Saat sesi terapi antara tokoh utama— anak tersangka pembunuhan—dan psikolognya. Tergambar naik turunnya sang anak, mulai dari emosi yang awalnya datar hingga terjadi ledakan emosi yang tidak terduga. Berbagai konflik batin, tekanan sosial, dan luka psikologis sang anak, muncul satu per satu dalam sesi ini.

Episode terakhir sangat menguras air mata, tentang bagaimana sebuah kasus perundungan bukan hanya berakibat kepada korban saja, namun kasus perundungan bisa berimbas hingga kepada semua anggota keluarga.

Refleksi Bagi Kita Semua – Tentang Tidak Mudahnya Mendidik Usia Remaja…

Masa remaja adalah fase penuh tantangan, baik bagi si remaja sendiri maupun orang tua dan para pendidik. Disinal masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, dengan perubahan fisik, psikologis, dan cara berpikir. Di usia ini pula mereka mulai mencari identitas diri dan eksistensi.

Faktor Keluarga

Dalam film ini, anak yang terlibat kasus berasal dari keluarga yang tampak “baik-baik saja”. Orang tuanya menganggap Sang anak cendrung penurut dan tidak bermasalah. Namun, karena merasa semuanya baik baik saja, mereka justru “kecolongan”. Tanpa mereka tahu, Sang Anak mengalami perundungan berat, emosi yang dipendam, hingga akhirnya meledak dan berujung pada tindakan kriminal.

Faktor Sekolah

Sekolah memiliki peran yang tak kalah penting. Fokus yang terlalu besar pada prestasi akademik tanpa memperhatikan dinamika interpersonal & sosial antar siswa bisa sangat fatal. Ketidakpekaan terhadap terjadinya perundungan di lingkungan sekolah dapat menyebabkan tragedi yang sangat mengerikan.

Serial Ini Penuh Perenungan

Akhir epiode ini penuh keharuan. Tentang seorang Ayah yang mencoba tegar di depan keluarga meski hatinya hancur & pikirannya berantakan. Ibu yang berusaha menenangkan suaminya yang sedang kalut & bingung tentang apa yang harus dilakukan. Anak pertama yang berusaha menjadi dewasa, menerima kondisi bahwa ia ikut terimbas akibat dari perbuatan adiknya, dan dan tetap meyakinkan orangtanya bahwa mereka bisa melalui ini Bersama sebagai keluarga.

Beberapa adegan terakhir sungguh menyayat hari, saat Sang Ayah & Ibu merasa tersentuh dengan ketegaran sang Kakak yang berusaha untuk mengambil peran untuk meringakan kondisi orangtuanya

“Bagaimana kita mendidik dia…”

“Sama dengan kita mendidik adiknya…..”

Percakapan ini menggambarkan, bahwa dengan didikan yang sama, hasilnya bisa berbeda.

Adegan terakhir ketika sang ayah duduk dikamar Sang Anak, memandangi tempat tidurnya yang kosong, kemudian menangis sekencang kencangnya ditutupi bantal sambil berucap

“Maafkan aku nak, aku berharap bisa menjadi ayah yang lebih baik lagi…”

Adegan yang membuat tangisan pecah…

Penutup tulisan ini, benar adanya, bahwa  : It take a village to rise a child. Kita semua bertanggung jawab dalam mendidik generasi. Mendidik generasi adalah tugas individu pada dasarnya, namun mendidik generasi pun adalah tugas kolektif yang harus kita lakukan bersama sama. Dengan ilmu, dengan iman, dengan penuh kesadaran

Film Untuk Para Orangtua & Pendidik

Film ini bagus untuk ditonton untuk para orangtua, calon orangtua dan siapapun yang ingin turut serta dalam mendidik generasi. Menyadarkan kita betapa pentingnya untuk terus berkomunikasi dengan anak, mencari tahu apa yang terjadi dengan mereka, hatinya, fikirannya, juga lingkungannya

Menjadi orangtua yang terus sadar, peka dengan perubahan dari waktu ke waktu. Menjadi orangtua yang terus mau belajar agar bisa mendidik anak dengan baik juga dengan benar

Yuks kita terus belajar…

Jangan Terlalu Fokus Pada Kelemahan, Sampai Lupa Mensyukuri Kekuatan

Lelahnya Saat Berusaha Mati Matian Tapi Hasilnya Biasa Saja

“Dulu waktu sekolah, saya sudah belajar mati-matian, tapi nilai Matematika dan Kimia saya nggak pernah tembus angka tujuh atau delapan. Paling mentok cuma dapat enam.”

“Nilai Bahasa saya justru selalu bagus. Padahal saya belajar biasa saja, mungkin karena saya memang menikmati pelajaran itu.”

“Saya sebenarnya suka banget ngerjain angka, data, dan kerja di balik layar. Tapi sekarang pekerjaan saya mengharuskan saya tampil di depan kamera setiap hari…”

Apakah kamu pernah merasakan hal yang sama? Baik dulu zaman sekolah ataupun saat ini saat sudah mulai masuk dunia kerja. Saat kamu terpaksa melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kamu sukai. Dimana rasanya waktu berjalan sangat lambat dan diri menjadi mudah stress dan tidak menikmati apa yang dikerjakan.

Atau mungkin kamu pernah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya tetap biasa saja. Sementara orang lain tampak santai, tapi hasilnya justru luar biasa.

Ironisnya, kadang terjadi sebaliknya: kamu memberikan usaha yang biasa, tapi hasilnya justru memuaskan, bahkan melebihi ekspektasi.

Sebenarnya apa yang terjadi ?

Kekuatan vs Kelemahan: Mana yang Harus Diprioritaskan?

Katanya, setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tapi bagaimana kalau selama ini kamu justru terjebak—terlalu sibuk menambal kelemahan, sampai lupa mengembangkan kekuatan?

Jangan jangan yang kamu lakukan selama ini adalah fokus dalam menambal kelemahanmu dan tidak tahu bagaimana mengasah kekuatanmu. Sehingga apa yang kamu kerjakan sangat sulit mencapai hasil terbaiknya.

Jadi, mana yang seharusnya jadi fokus utama? Terus memperbaiki kelemahan, atau memaksimalkan kekuatan?

Namun, sebelum menjawab itu, ada ertanyaan yang sangat mendasar perlu Kamu jawab : “Apakah kamu benar-benar tahu apa kekuatan dan kelemahanmu?

Fitrah Manusia: Unik, Tak Ada yang Sama

Secara fitrah, Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda. Wajah, bentuk tubuh, warna kulit, dan tipe rambut—semuanya unik. Begitu juga dengan potensi, karakter, kekuatan, dan kelemahan setiap individu. Tak ada dua manusia yang benar-benar sama.

Sayangnya persepsi dan budaya kita masih menganggap kelemahan seseorang adalah kesalahan. Bahwa kelamahan adalah sesuatu yang harus  ditiadakan, sehingga lupa untuk menghidupkan sisi cemeralangnya. Bahkan seringkali sisi cemerlang itu tidak dihiraukan, dianggap tidak penting atau tidak signifikan untuk hidupnya.

Kita dituntut untuk serba bisa di semua bidang, sempurna di setiap aktivitas. Menjadi manusia serba bisa seolah olah jadi kewajiban

Anologikan dengan benda beda yang ada di dapur: ada pisau, penggorengan, panci, sutil, blender, dll. Bukankah setiap alat punya fungsinya sendiri? Kalau blender digunakan untuk menggoreng, apa jadinya? Apa jadinya bila sutil digunakan untuk mengiris? Barang barang yang digunakan tidak sesuai fungsinya, akan berakibat tujuan memasak sulit untuk cepat selesai, atau bahkan berantakan !

Ibarat tanaman ; beras, buah, sayur, masing masing punya manfaatnya masing masing. Apalagi manusia, makhluk yang paling sempurna, ia mempunyai peran dan kebermanfaatannya masing masing bukan?

Apalagi manusia! makhluk yang paling sempurna. Ia sudah dibekali dengan fungsi dan peran kebermanfaatannya masing masing.

Manusia dengan berbagai sifat, karakter, potensi dan pembawaan masing masing, sudah terinstal di dalam dirinya tentang apa yang menjadi fungsi & peran masing masing. Manusia punya peran spesifik di dunia ini, dimana dia akan berkarya dan menebarkan kebermafaatannya.

Fokus pada Kekuatan: Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri

Ibarat mata pisau yang memiliki sisi tajam & tumpul, maka tugas kamu adalah mengasah sisi tajam agar menjadi kekuatan. Ketika kamu fokus pada kekuatan, peran & fugsi kamu akan lebih terasa keberadaannya & lebih maksimal kebermanfaatannya.

Fokus pada kekuatan juga bisa memberi rasa puas dan bahagia, karena kamu melakukan sesuatu yang memang “kamu banget”.

Kembali ke Dasar: Sudahkah Kamu Mengenali Dirimu?

Sebelum terlalu jauh melangkah, mari kembali ke pertanyaan dasar diatas. Sudahkah kamu tahu apa saja kekuatanmu? Apa kelemahanmu? Apa keunikan yang membuat dirimu berbada ? Apa aktifitas terbaikmu?

Kesadaran tentang kekuatan dan kelemahan adalah langkah awal untuk menjadi pribadi yang autentik. Dari sinilah kamu bisa memaksimalkan potensi dan menjalani hidup yang lebih bermakna.

Kalau kamu masih bingung, yuk ngobrol bareng dan cari tahu bersama: apa sebenarnya kekuatan dan kelemahan dirimu disini.

Test Talents Mapping : https://bit.ly/TMNURISKA

Test Talents Mapping + Konsultasi : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

Apa yang Sebenarnya Kita Jalani? Misi atau Obsesi?

Lelah, Burn Out, Overthinking. Ada yang Relate?

Capek banget! Bukan cuma badan, tapi juga pikiran…”
“Istirahat pun tak tenang, pikiran terus berputar-putar, seperti tak berhenti mencari. Hati gelisah tanpa sebab yang jelas…”
“Setiap waktu terasa terburu-buru. Harus menyelesaikan ini dan itu. Harus segera, tidak bisa ditunda!”
“Sibuk dan produktif, tapi rasanya kosong, hampa…”
“Selalu merasa ragu dan tidak pernah puas.”

Pernahkah kamu merasakan hal ini?
Saya pernah! Beberapa tahun lalu, masa-masa di mana hari-hari terasa penuh tekanan. Banyak hal harus dikejar dan diselesaikan, apapun keadaannya. Hari-hari terasa tergesa. Seolah setiap saat harus berprestasi, selalu harus naik level, selalu membuktikan sebuah pencapaian.

Belum lagi, saat melihat orang lain dengan segala pencapaian dan prestasinya, membuat saya merasa kerdil dan tidak berarti apabila tidak melakukan hal yang sama.

It feels very tiring… I felt truly exhausted...”

Sampai pada suatu titik, saya mulai mempertanyakan semuanya. Proses ini dimulai dari monolog dalam diri yang tiba-tiba mengalir begitu saja:

“Ada apa dengan diriku?”
“Kenapa aku jadi begini?”
“Apa yang sebenarnya kucari?”

Pertanyaan-pertanyaan ini terus tumbuh, semakin menebal, hingga akhirnya mendesak butuh sebuah jawaban.

Pertemuan dengan Konsep “Misi vs Obsesi”

Di masa pencarian itu, saya dipertemukan dengan buku Fitrah Based Life karya almarhum Ustadz Harry Santosa. Saya membacanya secara acak, dan tanpa sengaja menemukan satu bab berjudul “Misi vs Obsesi”.

Deg! Seketika judul ini serasa menghantam saya dengan keras. Menuntun saya membaca lebih lanjut tentang materi ini. Mungkinkan ini jawaban yang saya butuhkan?

Mengapa Kita Gelisah?

Apa yang membuat seseorang terus merasa gelisah, cemas, dan terus menerus khawatir dalam hidupnya?

Dari luar mungkin terlihat sibuk, sukses, bahkan bermanfaat bagi orang lain. Tapi jauh di dalam dirinya—dan hanya dia yang tahu—ia merasa tersiksa, tidak menikmati hari harinya, tak kunjung merasakan ketenangan. Karena mungkin—bisa jadi— dia bekerja dan berkarya karena obsesi, bukan karena misi.

Perbedaan Misi & Obsesi

“Misi itu berangkat dari hati, niat yang lurus. Ia melahirkan ketenangan, kecintaan, dan kebahagiaan dalam berkreasi serta menemukan jalan untuk mewujudkannya.
Sedangkan obsesi melahirkan kegelisahan, kepanikan, kebuntuan berpikir, ketamakan, atau keputusasaan.”

Harry Santosa, Fitrah Based Life

Misi lahir dari panggilan jiwa. Murni, tulus. Bukan sekadar mengejar prestasi atau kepuasan pribadi. Bukan pula keinginan untuk tampil atau membuktikan eksistensi diri. Bukan pula di dorong karena keinginan untuk seperti orang lain.

Sebaliknya, obsesi terasa melelahkan. Ia sering membuat kita menampilkan diri yang bukan kita sebenarnya. Obsesi lahir dari dorongan untuk dilihat, diakui, dan dibanggakan. Pada kadar tertentu, motivasi seperti itu memang bisa menggerakkan. Tapi bila dibalut hawa nafsu, ia berubah menjadi obsesi yang menggerogoti diri.

Misi tumbuh dari terdalam, dari panggilan hati. Lebih dalam misi tumbuh dari keimanan dan kesadaran tentang keinginan berkarya & beribadah untuk Allah Swt. Sedangkan obsesi datang dari keinginan yang berlebihan untuk dilihat, diakui dan kebanggan eksistensi diri.

Refleksi Diri

Saya mulai belajar berbincang dengan diri. Menggali keresahan yang saya rasakan setiap menghadapi hari esok. Mengapa begitu terburu-buru? Mengapa begitu berambisi?

Belum lagi saat menjadikan orang lain sebagai barometer kesukesan diri.
“Kalau dia bisa, masa aku tidak?”
kalimat yang sekilas seperti sebuah kalimat pembakar motivasi, tapi kemudian saya sadari itu adalah tentang diri yang penuh obsesi.

Belajar Memperbaiki Orientasi

Maka benar, kesadaran diri adalah titik pertama perubahan. Setelah sadar, saya terus mencari & memperdalam tentang apa itu MISI diri, dari mana ia bisa didapatkan & sekaligus ditumbuhkan, agar menjadi sesuatu karya & kebermanfaatan. Dimana yang murni tumbuh dari dalam diri, ia bermanfaat bagi banyak orang dan ia juga sebahai sarana ibadah kita kepada sang Pencipta. Perjalanan yang panjang & mengasikan …

Yuk, Temukan Misi Hidupmu!

Bisa jadi saat ini kamu merasakan hal yang sama pernah saya alami waktu itu. Bisa jadi ini saatnya kamu juga mencari tahu apa : Apa misi hidupmu?.

Salah satu caranya adalah dengan mengenal bakat dan potensi terdalam dalam dirimu—yang mungkin selama ini belum kamu sadari atau maksimalkan.

Yuk, ngobrol, berbagi imu juga pengalaman, dan mulai memetakan kekuatan dan keunikan diri kamu di sini:

Test Talents Mapping : https://bit.ly/TestTMNuriska
Konsulatsi Talents Mapping (Termasuk Test) : https://bit.ly/KonsultasiNuriska