Ruang

RUANG …
.
Terimakasih, tlah KAU beri sebuah ruang, dimana hanya tentang aku dan KAU
di ruang yang sunyi
.
Ruang yang hanya aku yang bercerita dan KAU mendengar dengan seksama. Ruang dimana seakan kau berkata ” Apa yang kau rasa”
.
Ruang yang syahdu. Ruang dimana KAU bertanya “Apa yang kau minta” katakan saja…
.
Ruang dimana aku apa apa adanya
.
Ruang dimana aku luluh berairmata
.
Ruang dimana aku bebas bercerita apa saja
.
Ruang dimana segala khilaf Dan salah ku kemuka saja
.
Ruang dimana segala pinta adalah wajar saja
.
Ruang dimana serasa aku dan KAU berjarak sejengkal saja
.
Ruang di mana aku sangat bahagia menjadi seorang hamba, karena kau adalah Rabb nya
.
Tiada yang sekuat ENGKAU, tiada yang selembut ENGKAU
.
Tiada pencarian lain setelah ini. Kedamaian ada di sini, di sajadah ini, di saat aku merasa serendah rendahnya dan sepasrah pasrahnya
.
Tiada jarak, tiada jeda, ruang itu bernama Shalat
.
.

Terimakasih yaa Rabb
.
.

Advertisements

All We Are Just “Dust In The Wind”

I close my eyes, only for a moment, and the moment’s gone
All my dreams pass before my eyes, a curiosity
Dust in the wind
All they are is dust in the wind

Same old song, just a drop of water in an endless sea
All we do crumbles to the ground though we refuse to see
Dust in the wind
All we are is dust in the wind

Now, don’t hang on, nothing lasts forever but the earth and sky it slips away

And all your money won’t another minute buy
Dust in the wind
All we are is dust in the wind
All we are is dust in the wind
Dust in the wind
Everything is dust in the wind
Everything is dust in the wind
The wind

Dua hari ini playlist di laptop saya berulang ulang memutar lagu ini, “Dust In The Wind”  yang dinyanyikan oleh Kansas. Perlahan saya lamati artinya, dalem ternyata …

tentang bahwa kita sebenarnya bukan apa apa, bukan sesiapa, tentang kita hanya butiran debu yang di terbangkan angin …

Mungkin ada “Butiran Debu” yang lain yang di nyanyikan oleh salah satu penyanyi Indonesia  yang merasa hancur karena ditinggal sang kekasih. Namun maknanya serasa dangkal bila kita lajukan untuk sesama makhluk, sesama manusia …

Lagu “Dust In The Wind” ini semacam refleksi, bahwa manusia adalah makhluk tak berdaya, tentunya di hadapan-nya, di hadapan Allah Sang Penggenggam hidup kita…

 

“All my dreams pass before my eyes, a curiosity” Manusia selalu punya banyak keinginan, rencana dan impian. Namun pada akhirnya kepada-Nya lah segala ketentuan. Ia lah sebaik baiknya pembuat keputuasan

“just a drop of water in an endless sea”  diri kita hanya setetes air di lautan samudra, kita bukan apa apa. Tak pantas ada jumawa dalam diri kita.

And all your money won’t another minute buy”  Tak bisa kita membeli waktu, menukar satu menit jatah usia kita, walaupun dengan seluruh harta di dunia

.
All we are is dust in the wind
.
.

“All we do crumbles to the ground though we refuse to see” Suatu saat semua akan hancur, berterbangan, suatu kondisi yang kita tak sanggup melihatnya. Hari akhir. Alam raya ini akan hancur bagaikan debu berterbangan …

 

Bukan … lagu ini bukan tentang pesimisme, hingga kita tidak mau berbuat apa apa…

Namun bagi saya lagu ini adalah sebuah ekspresi kesadaran seorang manusia, bahwa dia adalah bukan siapa siapa, dia bagaikan butiran debu yang tertiup angin…

Lalu apakah kuasa sebutir debu yang sedang melayang layang tertiup angin ?

Karena ada DIA yang berkuasa atas jiwanya, ada  DIA yang berkuasa atas segala kejadian, ada DIA yang berkuasa atas segala urusan …

Maka, bila kita bukan apa apa, sadar sepenuhnya bahwa segala urusan kita ada dalam genggamannya, maka mendekatlah pada-Nya, bergantunglah kepada-Nya, percayakan hidup kita Kepada-Nya, yakin lah dengan segala Pengaturan-Nya …

Coz All we are is dust in the wind….

 https://www.youtube.com/watch?v=tH2w6Oxx0kQ
Bandung,
Ramadhan Ke 5

Semoga Hati Hati Kita Semakin Menyadari 

Tentang Seberapa Kuasa Ia

Akan Hidup Kita

Asikkkk…. Ga Ada Sinyal !

Nyambung ama postingin saya kemarin, tentang bagaimana menjadi manusia yang “Present Moment” sebelumnya – yang which is saya juga masih belajar -, beberapa hal yang saya sedang usahakan untuk dilakukan, untuk jadi manusia yang “Present Moment” .

Hal yang biasa saya lakukan, ketika ada sebuah moment yang benar benar saya butuh dan ingin “hadir seutuhnya” adalah dengan mensetting telefon genggam saya dengan off mobile data atau mengatifkan air plane mode.

Misalnya saya sedang berada di alam terbuka, menikmati sebuah bentang alam, atau sedang menikmati sebuah tempat yang baru saya kunjungi, yang suasana nya berbeda, dimana saya benar benar ingin menikmati suasana.

Biasanya saya matikan data atau setting air plane mode, karena saya butuh telefon genggam untuk mengambil beberapa foto atau merekam dengn video. Karena selain ingin benar benar menikmati suasana, karena kadang ada saja rasa tergoda untuk tergesa mengunggah apa yang sedang dinikmati di depan mata.

Atau kalau sedang berbicara dengan seseorang yang ada di hadapan mata, kalau sedang “sadar” tentang pentingnya “present moment” maka telfon genggam saya balikan layar nya, dan dibunyikan hanya untuk panggilan saja. Karena bila tak hanya mata kita yang teralih ketika si layar menyala tapi fikiran kita pun pasti teralihkan. Bener ga ? hhee

Oleh karena itu, konsekusinya beberapa orang suka protes, karena saya bales pesan chat nya lama katanya… hhaaa. Tak apalah, itu sebuah pilihan. Karena sebenarnya kita tahu tentang mana dan kapan pembicaraan yang perlu kita balas segera, atau pembicaraan yang sebenarnya bisa kita tunda. Hanya diri kita yang kadang ga “bijak” untuk mengambil sikap … tak kuasa melayani panggilan si layar persegi itu …

Bahkan, kalau saya sedang mengembara di sebuah daerah -tsahhh bahasanya mengembara- yang disitu tidak ada sinyal, saya senang. Dikala kawan kawan saya mengeluh “duh ga ada sinyal” saya justru bahagia…hhaaa, bisa utuh menikmati apa yang ada di depan mata, benar benar menikmati suasana, berbincang sempurna dengan sesiapun yang ada di hadapan kita, bisa berfikir jernih, bisa mendapatkan ide, bisa merefleksi diri, mendengarkan diri sendiri, tanpa interupsi notifikasi.

Saya bukan orang introvert, yang rada anti dunia maya, malah beberapa kegiatan saya sangat membutuhkan dunia maya, butuh publikasi, butuh berinteraksi dengan orang lain di dunia maya. Namun saya rasa, ada saat kita menjadi manusia yang tidak “dipengaruhi” dengan apa yang ada di alam maya sana, menjadi diri kita sendiri, menikmati detik dan ruang waktu dimana kita berdiri.

Ah udah segitu aja hari ini, besok bila udara masih bisa kita nikmati, kita sambung lagi,

Selamat Menikmati Ramadhan  Ya ,,,

 

 

Menjadi Manusia Yang “Present Moment”

Pernah merasa kondisi seperti ini ; ketika tubuhmu di suatu tempat, namun fikiran mu melayang layang ke ruang lainnya ? Sepertinya setiap kita pernah -atau bahkan sering- mengalaminya, ketik raga, jiwa, dan fikiran tidak bersama.

” Present Moment “ adalah sebuah istilah yang beberapa kali saya dengar akhir akhir ini. lalu saya mencari tentang maksud istilah ini. Kemudian saya tahu, bahwa “Present Moment” adalah sebuah kondisi dimana, raga, jiwa dan hati berada bersama dalam satu waktu, dalam masa sekarang, dalam detik ini dengan sadar. Mungkin mirip mirip dengan fokus, namun menurut saya “Present Moment” jauh dalam dari itu, ia jadi basic nya, sedangkan fokus adalah caranya.

Seperti yang saya bahas diawal, bahwa seringkali kita mengalami ketidaksinkronan, antara raga dan fikiran, entah di sengaja atau tidak, entah disadari atau tidak. Di sadari, maksudnya adalah, kita memang sadar bahwa saat itu jiwa dan raga kita tidak sedang bersama, baik sengaja atau tidak.

Tubuh kita ada di masa kini, tapi fikiran kita terbang melayang mengunjungi dan mengingat masa lalu, atau mencemaskan masa depan, hingga kita tidak menjadi manusia yang utuh. Kondisi ini kadang kita sadari, kemudian kita perbaiki, atau kadang kita biarkan menjadi kebiasaan dan menjadi kan hidup kita tidak mindfullness, utuh, jiwa raga ada bersama, kita tidak menjadi manusia yang benar benar hadir dan hidup di saat sekarang.

Kita tidak benar benar menikmati hidup yang ada di detik ini, sibuk dengan mencemaskan masa depan, atau mengingat ingat peristiwa di masa lalu, entah sekedar mengingatnya atau tengah menyesalinya.

Mungkin dalam keseharian dan fenomena kekinian juga banyak terjadi dalam hal hal yang kelihatannya ringan dan biasa, terjadi seperti ini ; Saat kita sedang bekerja,  namun fikiran kita ada di rumah atau membayangkan liburan ; saat kita sedang liburan,  fikiran kita memikirkan kerjaan ; kita sedang mengerjakan tugas, namun fikiran kita sedang membayangkan bersenang senang. Begitu terus, melingkar lingkar, hidup dalam ketidak utuhan.

Pagi hari kita fikirian kita  melayang jauh ke siang hari, siang hari kita cemas dengan malam hari, malam hari fikiran kita sudah berada di esok hari nya, begitu seterusnya, itu lah yang menyebabkan fikiran mudah lelah.

Apalagi saat ini di dunia yang serba di tekhnologi, kita semakin digiring untuk menjadi manusia yang tidak “utuh” . Raga kita sedang di sebuah ruang bersama manusia manusia di depan mata, namun kita asik tenggelam di layar kotak kaca di genggaman tangan. Niatnya bersama, namun sebenarnya tidak benar bersama. Karena sering kali kita tenggelam di layar itu, untuk hal hal yang tidak begitu penting : scrolling time line, lihat updatean status orang lain, dsb.

Atau misalnya, kita sedang menghadapi sebuah hidangan makanan, kita sibuk ingin mengupdate nya segera ke media sosial, kemudian setelah itu sibuk bulak balik melihat notifikasi berapa orang lain di luar sana, yang me-like, yang berkomentar, sedangkan sebenarnya moment di mana raga ia berada, dia tidak menikmatnya, ia tidak hadir di raga dimana  ia sedang berada saat itu.

Sedang liburan, memikmati  pemandangan alam, alih alih benar benar menikmati pemandangan alam, yang kita lakukan adalah megabadikannya, dan kemudian sesegera mungkin mengunduh nya ke media sosial. Lalu setelah itu mata kita sibuk mengecek lagi lagi berapa yang like, siapa yang komentar… are we really enjoy our beautifullness and joy of moment infront of our eyes ??

Ahhh…. sulit memang menjadi manusia yang “Present Moment” manusia yang sadar, yang hadir secara utuh, karena kadang kita memang sengaja menjadikan kita sendiri manusia yang tidak utuh.

Lalu apa ruginya menjadi manusia yang “tidak utuh” …. ?

Bersambung yaa… hhee

Karena saya juga sedang mencari tahu lebih dalam, dan sedang belajar menjadi manusia yang “Present Moment” , biar hidup dengan lebih sadar,  lebih utuh, lebih mindfullness. Ini tulisan refleksi diri …

Ada yang bisa kasih masukan atau tambahan …. ?

 

 

 

 

Habis Pulang Dari NTT

Jadi, beberapa hari yang lalu, saya dan kawan kawan dari Kebukit Indonesia, baru pulang dari NTT, dalam rangka program #BangunSekolahNTT, tepatnya di Pulau Pangabatang, Maumere Kabupaten Sikka, NTT.

Seminggu kemarin jadi hari hari yang padat untuk banyak hal, seperti untuk persiapan, keberangkatan, pelaksanaan kegiatan, pulang, dan istirahat. hhaa.. sok sibuk bangetttt 

Oleh oleh dari sana apa ?

Ah..banyak hal, nanti saya ceritakan satu satu. Yang jelas saya ga bawa oleh oleh kain tenun, karena ga sempet untuk hunting dan semacamnya. Heu..

Oleh oleh nya cerita aja yaa

Tapi besok aja ceritanya yaa…

Sudah larut

Esok sudah kembali beraktifitas

 

Salam, dari anak anak NTT yang super antusias … 🙂

4f60a356-f51c-4059-952c-42c03cb8b0b2

 

 

Stalking Less – Reading More { Selamat Hari Buku Sedunia }

Wahh… hari ini 23 April yaa … hari buku sedunia.

Lalu bagaimana saya memaknainya ?

Ahh lagi banyak intopeksi ama diri sendiri aja, bahwa kualitas membaca saya masih tidak ideal. Waktu yang sebenarnya bisa dipakai untuk membaca, masih banyak di gunakan untuk hal hal yang “kurang bermanfaat”,

Apalagi di zaman yang serba digital ini, seakan hidup kita berada di bawah kuasa layar persegi panjang, hidup kita tak bisa lepas dari sebentuk layar itu, apa apa menunduk, apa apa di scroll, beberapa detik sekali hidup kita pasti tertuju pada layaritu, seakan semua terpuaskan selama kita berdekat dekat dengan layar itu.

Hampir semua hal saat ini memang bisa kita dapat di layar itu, uruasan pekerjaan, urusan bisnis, membina hubungan, dsb. Namun tak jarang juga, kita tenggelam dalam layar itu untuk hal hal yang tidak penting. Mulai dari buka account account seleb, gosip, berita berita yang tidak ada hubungannya dengan kebaikan kita, masa depan kita, tanggung jawab kita.

Kadang kita berdalih ” ahh… ini kan hiburan aja, sesekali “, tapi sadarkah kita, bahwa sesekali itu, kadang mencuri banyak waktu dan kesempatan kita. ” ahh… 10 menit paling”, kemudian srcoll…scroll.. klik… klik… lihat komentar. Scroll lagi video yang keliatan menarik, lihat video, lihat koment, lihat lagi video yang lain, scroll…scroll…. dan BOOM ! ga kerasa itu sudah menghabiskan 30 menit kita.

Dan itu ga hanya sekali, berkali kali, bila kita mau jujur menghitung, berapa lama waktu yang kita habiskan waktu untuk scroll sesuatu yang unfaedah .  Berapa kali dalam sehari kita menghabisakan 30 menit untuk hal itu dalam sehari ?  Sekali ? Duakali  ? lima kali ? 30 X 5 waktu, berarti kita menghabiskan waktu 150 menit (2 jam lebih) untuk sesuatu hal yang kita pun tidak tau, apakah itu jadi “vitamin” buat jiwa dan nalar kita ? atau hanya jadi kumpulan sampah, tidak membawa kebaikan, malah menjadikan kita manusia yang terlena dan lalai …. duhhh….

Padahal 30 menit itu, bila kita pakai untuk membaca buku. Maka, 30 menit itu bisa menjadi sesuatu hal yang istimewa. 30 menit yang akan bisa menutrisi jiwa kita, menyehatkan nalar kita, menyuburkan taman ilmu diri kita, menggerakan cita dalam diri kita untuk berbuat lebih banyak, memantik kita menjadi manusia yang lebih berkualitas.

Between 30 minute you spend for stalking and 30 minute you spend for reading, its will make a lot of differences

Kalau dahulu layar “penjajah” manusia berupa kotak persegi empat yang ada di ruang tengah rumah. Bisa jadi “penjajah” manusia saat ini, adalah layar persegi yang selalu kita bawa kemana mana, tak bisa kita jauh jauh dari nya, galau sangat apa bila dia jauh, ketinggalan, atau hilang…

Ah,,, sebenarnya ini nasihat kepada diri saya sendiri, yang masih sering Alfa mengatur dan mengendaikan diri, untuk menjadi manusia yang

STALKING LEES

READING MORE

 

Selamat hari buku sedunia, semoga kita bisa memakna aksara yang ada di dunia


 

Life Is About Adjusment

Karena apa yang terjadi dalam hidup, terkadang -bahkan sering kali- tidak sesuai dengan yang kita harapkan, apa yang kita citakan. Juga apa yang berjalan kadang tidak seperti apa yang kita telah dengan baik kita rencanakan, serapih apapun itu, sematang apa pun itu.

Saat kita mempunyai sebuah cita dan niat baik, yang kemudian apa yang terjadi tidak sesuai harapan dan perencanaan, maka mungkin ini tentang tiga hal ; Pertama, tentang seberapa teguh kita mempunyai keinginan ; Kedua, mungkin ini tentang bagaimana kita bisa menyikapi dan beradaptasi atas kondisi yang ada ; Ketiga, mungkin ini tentang keduanya, tentang meneguhkan hati dan bisa beradaptasi menyesuaikan diri dengan kondisi nyata yang ada. Life Is About Adjusment

Cita yang baik dan tinggi, kadang nggak mudah begitu saja mudah teraih, dan terlaksana. Dalam perjalannya akan menemu hambatan, rintangan, percabangan, jalan jalan yang memudar, atau bahkan seakan jalan yang buntu. Mungkin disinilah titik uji, apakah itikad kita seteguh cita kita. Apakah segala sulit dan halangan akan membuat kita balik kanan, berpulang, dan membatalkan impian. Ini tentang yang Pertama

Kedua, ini tentang bagaimana kita bisa menyikapi atas hal yang tidak sesuai harapan. Satu waktu mungkin kita begitu teguh bahwa semua hal yang telah terencana, pasti akan nyata. Namun, ada kala kita peka bahwa ada sesuatu hal yang dirubah, kita perlu melakukan banyak penyesuaian, entah itu merubah cara, mencari alternatif usaha, atau bahkan memilih jalan yang berbeda. Karena kadang kita menutup mata akan realitas. Memilih berbelok arah, atau sejenak berhenti berjalan, belajar untuk menerima, bahwa kita harus beradaptasi dengan kondisi yang ada. Tidak memaksakan diri.

Kemudian, yang Ketiga, adalah perpaduan keduanya. Saat sesuatu tidak sesuai dengan keinginan, cita, harapan dan perencanaan. Kita tidak menghentikan impian kita, tak begitu saja menghapus cita kita, tak mudah begitu saja menghentikan langkah dan berbalik arah, melambai tangan dan kembali pulang.

Namun kita tetap teguh menggenggam segala cita kita, tetap memeluknya dalam jiwa kita, sembari tetap berlapang dada ketika segala sesuatu tidak selancar yang kita duga, tidak secepat yang kita harap. Berlapang dada berarti mau untuk berkawan dengan realitas, menerimanya dengan jiwa yang luas, fikiran yang ikhlas. Untuk kemudian mencari cara yang bijak, agar kita mampu menyikapi realitas adalah sebuah cara kita untuk belajar, belajar cerdas, belajar sabar, belajar bijak, belajar berteguh, belajar yakin atas cita, impian, dan niat baik kita.

Life Is About Adjusment, Be Wise

Fn : Salam hangat dari kota Bandung, yang tiba tiba dianugrahi hujan di waktu yang hampir tengah malam.

Kamis, 19 April 2018

11.34 Pm

 

 

 

 

Sinkronisasi Do’a

Semua manusia pasti ingin do’a ny terkabul, ingin setiap  harapnya terwujud, semua cita terlaksana. Semua do’a dan segala harap pasti baik, pasti memuliakan. Tak ada manusia yang hidup hati dan akalnya, berharap agar do’a do’a baiknya tidak terkabul. Setiap do’a dan harap pasti ingin terjawab dengan YA !

Namun kadang, lapisan do’a itu tidak kunjung terwujud. Walau telah habis segala jenis barisan doa, dan telah terkuras segala ikhitar usaha dan daya upaya.

Lalu, apa yang salah ?

Mungkin, ini karena kita tidak mengsingkronkan do’a dengan perbuatan kita, menyelaraskan doa dengan hati, jiwa dan raga kita

Maksudnya begini …

Suatu saat kita sedang resah gelisah, karena sebuah permasalahan. Misalnya kita sedang dilanda kesulitan keuangan, masalah pekerjaan, jodoh atau semacamnya. Maka, pasti do’a do’a kita adalah do’a agar memperoleh kelapangan rizki, agar bisa terlepas  diri kita dari beban hutang, agar ditunjukan jalan pekerjaan, agar di datangkan jodoh impian. Rangakaian do’a pun telah lengkap terucapkan, di sujud sujud kita, di waktu waktu mustajab dan sebagainya.

Namun setelah itu, laku kita, tidak mencerminkan do’a kita …

Do’a adalah wujud optimisme kita sebagai manusia, bahwa akan hadir pertolongan dari Nya. Do’a adalah secercah harap, bahwa segela resah akan berakhir, bahwa setelah gelisah akan ada cahaya …

Seharusnya setelah berdo’a itu kita tegap berdiri, yakin bahwa Allah akan mengabulkan do’a kita, Allah akan memberikan jalan jalan peluang rizki, Allah akan memberikan rizki pada saat yang tepat, dan dari arah yang tidak disangka sangka.

Namun sayangnya setelah berdo’a, seringkali kita masih membiarkan hati diliputi resah, fikiran kita masih penuh lara, melayang layang diliputi pesimisme, aura tubuh negatif, lemas, tidak bersemangat, tidak bergairah, down, gloomy, seakan akan do’a do’a itu jauh dari terkabul. Masih saja memelihara gundah gulana.

Walaupun kita berikhitar,  bekerja dengan sekeras kerasanya, tapi ikhitiar itu tidak “lepas”, fikiran kita masih di luputi ketakutan dan keresahan, bahkan muncul pertanyaan, apakah doa saya benar benar akan dikabulkan ?

Padahal, bila kita yakin kepada Pencipta kita – Allah Swt- Sang Pemilik Segalanya, Sang Pengabul Do’a. Maka setelah berdo’a maka hati kita akan tenang, fikiran kita akan jernih, api semangat di jiwa akan membara, wajah kita akan mencerah, tubuh kita akan tegap penuh dengan energi, aura diri positif, wajah bercahaya, karena kita yakin lembaran do’a kita yang telah tersampaikan, dikabulkan.

Mempercayakan Do’a Kita Kepada-Nya, Berbaik Sangka Pada-Nya

Memang tidak mudah, namun  bisa kita usahakan

Mengsinkronkan do’a, berarti meyelaraskan apa isi do’a kita dengan perbuatan kita, dengan laku sehari hari kita, dengan pola pikir kita, dengan cara berjalan kita, dengan cara berbicara kita, dengan lisan kita, dengan optimisme di hati kita.

Bukan hanya tentang mengimbangi nya dengan kerja dan ikhitiar atau semacamnya, tapi bagaimana menyelaraskan Do’a, dengan hati, fikiran dan raga kita.

***

Fn : Sebuah catatan dan nasihat buat diri sendiri, yang terkadang masih tidak “singkron” dalam berdoa. Semoga bermanfaat, Saling mendoakan yaaa...

Selamat Malam,

Salam hangat dari kota Bandung, yang lagi panas

Nuriska

 

 

 

Curhat Produktif

Karena seringkali kita yang butuhkan adalah nasihat yang  didengar dari orang lain. . Kenapa ? karena kita terkadang belum mampu untuk menasehati diri sendiri , kita butuh orang lain.

Seperti tadi sore …

Ketika saya dan sahabat saling mendengarkan tentang apa yang sedang di rasakan oleh masing masing, baik itu permasalahan, keresahan, juga harapan. Dari saling bercerita dan mendengarkan itu, tak terasa sebenarnya kita sedang saling menasehati, saling memberi semangat dan memberi energi.

Ada yang bilang ” Ga usah curhat ama orang, curhat ama Allah saja “ , hal ini tidak berarti kita tak boleh bercerita kepada orang lain, sesama manusia. Memang tempat pertama dan terbaik untuk mengadu adalah kepada-Nya, penggenggam semua hal yang ada. Namun bukan berarti kita tidak membutuhkan manusia, untuk bercerita.

Bercerita pada manusia, menandakan kita manusia yang hidup membutuhkan sesama. Karena ketika kita bercerita kepada dia orang yang tepat, kita akan mendapatkan “sesuatu”, entah itu solusi, cara pandang, atau jalan keluar. Mungkin dia -sahabat kita tempat kita bercerita- adalah jalan dari-Nya atas “curhat” kita yang selama ini langsung kita sampaikan kepada-Nya.

Maka, carilah ia orang yang tepat, untuk berbagi keluh mu, kesah mu, rasa gundah dan kebingunganmu. Orang yang sedikit banyak ia tau tentang dirimu, tau tentang duniamu, dan kau tau saat bercerita padanya, akan ada kebaikan setelahnya. Curhat Produkitf

Bercerita pada orang yang tidak tepat, atau hanya bercerita di media sosial, untuk agar sekedar kau bisa “melepaskan” rasamu memang tidak salah, namun untuk apa ? karena tidak semua orang perlu tau tentang segala rasamu bukan ?

Sembarang mengumbar cerita diri kita pada orang, juga menandakan kita orang yang kurang bisa “melindungi” kehormatan diri kita sendiri. Hargailah diri kita sendiri dengan tidak begitu gampang pada sembarang orang, mengutarakan segala perasaan.

Maka, carilah ia seseorang ketika bercerita padanya, kau mendapatkan kesadaran, penyegaran dan energi kebaikan. Curhat Produkif

Selamat Malam,

Salam Hangat Dari Kota Bandung 🙂

 

 

 

 

 

 

Haruskah Selalu Berfikir Positif ?

Saya terkadang sedikit tidak sefaham dengan orang orang yang selalu mengatakan “sudah lah, berfikir positif saja!”ketika terjadi sesuatu peristiwa atau fenomena. Walaupun peristiwa atau fenomena yang terjadi adalah sesuatu yang buruk atau salah.

IMHO sesuatu yang buruk, harus diterima sebagai hal yang buruk terlebih dahulu. Sesuatu yang tidak benar, harus kita akui sebagai sesuatu hal yang memang salah. Berfikir positif tidak berarti memperkenankan kita seketika menganggap baik apa yang sebenarnya buruk, membenarkan apa yang sebenarnya salah, menawarnya dengan kalimat “sudahlah, berfikir positif saja !”

Berfikir positif pun harus di tempatkan sesuai dengan porsinya. Tidak semua serta merta selesai dengan berfikir positif. Menempatkan berfikir positif atas sesuatu permasalahan, tanpa berusaha mencari apa akar masalah, dan bagaimana menyelesaikannya, saya rasa hal itu adalah hal yang tidak tepat, naif. 

Mengaggungkan berfikir positif misalnya, ketika kita mengalami kegagalan, tanpa mencari tahu kenapa kita gagal, apa penyebabnya, apa yang harus diperbaiki, adalah sesuatu kekeliruan.

Menanggapi kedzaliman yang terjadi di sekitar  kita, dengan berkata “sudahlah, berfikir positif saja!” Adalah sebuah kesalahan fatal. Karena akhirnya kita menjadi manusia yang tidak rasional, tidak mau berfikir logis, sesuai fakta.

Berfikir positif adalah sebuah hal yang baik, ketika bisa kita tempatkan sesuai dengan, waktu, peristiwa, fenomenanya. Berfikir positif adalah ketika kita bisa mengambil hikmah -atas hal yang buruk atau yang baik – atas sebuah peristiwa , mampu mengambil tindakan yang bijaksana, dan mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi.

Karena tidak semua peristiwa, tidak semua selesai dengan kalimat “sudahlah, berfikir positif saja !”
Semua ada tempatnya,

Semua ada waktunya,

Bijaksanalah ….