Sepenggal Pusaka, KHALID BIN WALID

Baginya menjadi prajurit ataupun menjadi panglima adalah sama saja …

Khalidibnal

 

Itulah salah satu pusaka yang saya dapatkan, ketika membaca kisah mengenai Khalid Bin Walid, Sang Pedang Allah. Beliau adalah seorang sahabat rosul sekaligus panglima besar yang telah menaklukan banyak perang. Dulu ia adalah salah satu orang yang paling keras ingin menentang Islam, namun saat cahaya Allah menghampiri hatinya, ia pun menjadi yang paling keras membela islam.

Ia adalah seorang pasukan yang banyak dipercayai memimpin banyak perang, dan banyak pula perang yang dimenangkannya. Nama Khalid Bin Walid seperti magnet bagi pasukan islam, semacam nama yang dapat membakar energi pasukan pasukan yang bahkan sedang mengalami kelelahan mental atau ketidakyakinan atas kemenangan.

Panglima perang yang keras hatinya, namun luas hatinya …

Dalam sebuah peperangan, saat kesekian kalinya mendapatkan kepercayaan untuk memimpin pasukan, ia membuat sebuah peraturan, bahwa perang itu akan dipimpin secara bergantian. Tak hanya dia yang memimpin, tapi setiap orang yang mampu berhak untuk memimpin.

“ Hari ini adalah hari hari Allah, tak pantas kita menyombongkan diri dan bertindak melampaui batas. Mari kita bergantian menjadi panglima pasukan “

Apa yang ia lakukan adalah agar tidak ada rasa iri, dengki, hasad, diantara sahabat seperjuangannya. Selain itu apa yang ia lakukan adalah agar setiap orang merasa memiliki, sehingga menjadi kekuatan kebersamaan.

Dia tidak ingin mendominasi, ia ingin sesama mukmin saling memiliki,. ia membuat setiap orang merasa punya andil, setiap orang merasa berperan, setiap orang merasa dibutuhkan, setiap orang dianggap ada. Dibalik ke kerasan wataknya, ia adalah seseorang yang luas hatinya, lembut pemikirannya.

Baginya sama saja, ketika ia ditempatkan, diberikan amanah, diberikan kepercayaan dan tanggung jawab, tidak ada salah satu nya yang bisa membuat nya lebih jumawa atau terhina. Baik ketika menjadi atasan atau saat menjadi pasukan yang menerima perintah.

Semua adalah tentang pengabdiaan kepada Allah Swt dan Rosul tercinta.
Karena bukan kedudukan yang ia cari, bukan terhadap tahta ia mengabdi, bukan terhadap pesona dunia atau pengakuan sesama.

Sebuah nilai cermin diri untuk kita, apakah kita berbuat terbaik hanya ketika itu dilihat, mengerahkan segala energi diri karena sedang di pandang, karena kita sedang muncul di permukaan.
Ah menjadi cermin diri, apakah kita mampu berbuat yang terbaik , ketika tidak ada seorang pun yang tau, ketika hanya kita dan Ia. Ketika tidak ada yang menyaksi, ketika luput dari pandangan siapapun, bahkan udara pun tak tau apa yang kita lakukan.

Seperti Khalid Bin Walid, Di matanya hanya ada pandangan Allah saja yang ia rasa, maka baginya menjadi prajurit atau pun menjadi panglima, sama aja …
Allah tujuan nya …

Setelah berulang ulang membaca kisah beliau, kisah Khalid Bin Walid

Rasanya saya jatuh cinta …

Pada sosoknya

Panglima besar, Khalid Bin Walid

The Sword Of Allah – Sang Pedang Allah

.

.

.

.

khalid 2

Advertisements

Apa Pengaruhnya Membaca Pada Anak ?

Tadi pagi saya melihat sebuah gambar di time line kawan saya, gambar yang memperlihatkan anak sedang membaca. Dengan quote ” The Child Who Read, Will Be A Think Adult”.

Saya jadi teringat kepada seorang selebgram anak, bernama Kirana, yang cukup terkenal di kalangan para pengguna instagram. Seorang anak  yang tidak hanya cantik, lucu tapi juga cerdas namu tetap menyenangkan, dan natural layaknya anak anak.

Setiap orang yang mengikuti instagram Kirana, pasti mempunyai pandangan yang sama tentang kirana, tentang perkembangan nya bisa dikatakan diatas rata rata anak anak lain di usianya.

Diantaranya adalah dengan banyak nya perbendaharaan kata kata yang ia punya,  ia mempunyai kata kata yang sudah ia bisa mengerti, dan ia bisa ucapkan mewakili peraasaan yang ia rasakan .

Selain itu kemampuan Kirana untuk menggunkan berbagai bahasa,  baik bahasa ibu atau bahasa asing, dan bagaimana ia menggunakannya dengan tepat, sesuai dengan tempat dan dengan siapa yang sedang berbicara.

Begitu juga dengan berekspresi, kirana lebih dengan mudah mengekspresikan apa yang ia rasakan, baik suka, sedih, bingung, penasaran, kesal, rasa sayang, empati, simpati, peduli dsb, dengan kata kata yang ia punya. Sementara di usia ini banyak anak anak yang masih belum bisa secera tepat menggambarkan dan mengungkapkan rasa perasaan, emosi dan fikiran yang ia maksudkan.

Menurut saya. Kirana yang masih berusia kurang lebh tiga tahun, mempunyai kecerdasan emotional, intelektual yang hebat, tentunya tidak terlepas dari peran seorang ibu, yang sangat intens mendidik dan membina anaknya.

Di lihat di video nya, sang Ibu -Retno Hening- sejak dari dini, sudah mengenalkan kepada anaknya tentang membaca, tentang kosa kata, tentang buku, tentunya dengan cara cara yang menyenangkan, tidak dengan men-drilling kirana, tapi dengan membawa buku dan membaca sebagai sesuatu hal yang menyenangkan. Sehingga Kirana menganggap buku adalah teman bermainnya.

Kosakata yang banyak menjadikan anak lebih mudah memahami diri, memahami orang lain, memahami situsasi, dan kemudian mudah untuk menyampaikannya kepada orang lain.

kebutuhan perkembangan otak lebih tercukupi dengan lebih cepat, ketika anak lebih dini tau dengan banyak dikenalkan dengan membaca sejak dini, dikenalkan bukan dipaksa untuk bisa membaca sejak dini.

Hingga ketika sejak dini, sudah banyak kosakata yang anak anak tangkap baik secara verbal atau yang di dengar, maka tahapan selanjutnya akan lebih cepat ia jalani, karena tahap awal sudah ia lewati.

Hingga ketika anak anak lain, baru belajar mengumpulkan kosakata yang bisa mewakili dirinya, fikiran dan perasaanya, situasi, dan juga sekitarnya, maka anak anak yang sudah banyak diajarkan banyak kosa kata sejak dini, sudah jauh ke tahap selanjutnya  tahap pada mulai berfikir, mencerna  dan menganalisis.

 

4ce93e22-b2c7-4bd0-96a8-86687f5790d3

Maka, sedari dini mengenalkan membaca pada anak adalah sebuah investasi besar untuk masa depannya. Lebih dini anak belajar tentang aksara, tentang kosakata, yang akan membantu ia untuk mengetahui, mengingat, berfikir, berkonsentrasi dan menganalisis.

Tentunya bukan dengan cara cara yang memaksa, namun dengan cara cara yang menyenangkan. Seperti yang dilakukan oleh bunda Retno Hening, yang menjadikan belajar membaca adalah salah satu cara bermain yang menyengkan dan di tunggu tunggu oleh anak.

Dan kelak, anak yang sudah di dekatkan dengan buku dan membaca sejak dini, ia akan menjadi anak yang mempunyai minat yang besar terhadap buku, kepada mencari ilmu, lebih cepat berfikir, menganalisa, mengambil keputusan dan juga bercita cita besar.

 

If Tomorrow Never Come

Barusan Saja –Pas sedang nulis copywriting sebuah produk– Di radio, ada lagu lama nya Ronan Keeting – If Tomorrow Never Comes. Lagu ini memang dalem sekali maknanya, tentang perasaan seseorang terhadap mereka yang ia cintai dalam hidupnya.

Pernah suatu saat saya menangis karena lagu ini, mungkin moment nya sedang pas aja, lagu ini membua emosi tercercah keluar, mengingat mereka yang begitu kita cintai dalam hidup ini, keluarga.

Ya … pernahkan membayangka bahwa esok tidak akan pernah datang, dan sudah tidak ada lagi kesempatan. Kesempatan tentang mengutarakan perasaan kita kepada seseorang, kepada mereka yang ada dalam keseharian dalam hidup kita.

Tentang esok yang apabila tak akan pernah datang, apakah mereka tau betapa kita begitu mencintai mereka, betapa mereka berharga dalam hidup kita, dan bagaimana mereka saat tidak ada kita.

Sebenarnya ini adalah gabungan antara rasa kekhawatiran dan rasa cinta seseorang, kepada meraka yang di cintainya, baik itu orang tua, anak, adik, kakak, atau pasangan hidup. Memang selalu ada moment ketika kita berfikir, bagaimana seandainya kita yang “pergi” terlebih dahulu.

Lagu ini memberi pesan sebenarnya, tentang tidak untuk menunda. Menunda untuk menyampaikan rasa sayang yang ada dalam diri kita, Tidak menunda untuk menunjukan rasa kasih kita kepada mereka yang kita sayangi. Tidak menunda untuk mengungkapkan cinta kepada mereka yang kita cintai.

Karena kita tidak pernah tau, apakah besok akan ada. Besok  adalah waktu yang kita nantikan untuk melakukan. Padahal besok itu masih bias, apakah akan sampai atau tidak.

Maka, selagi sekarang masih bisa, hentikan penundaan, dengan berasumsi bahwa masih akan banyak kesempatan, bahwa masih akan ada usia untuk kita menunjukan segala rasa sayang kita kepada mereka yang kita cintai.

Maka, selagi bisa, selagi ada, ungkapkanlah dan tunjukanlah rasa kasih sayang itu. Karena kita tidak tau, apakah besok akan ada, apakah besok masih tersedia, apakah besok usia masih ada, baik untuk kita atau mereka.

If Tomorrow Never Comes ….

 

 

 

R I N D U – K E P I N G S A T U

“ Aku ingin bertemu pagi ini “ kataku, lewat pesan singkat kepada mu

“ Pagi ini ? ada apa ? “ Jawab mu

Sepertinya aku butuh bercerita “

Dan pagi itu, kau telah datang lebih awal. Menyiapkan dua buah cangkir, teh dan kopi. Kau pun menyodorkan teh yang masih hangat “ Minum ini …..“ katamu. karena kau tau aku biasa tersugesti dengan wangi dan hangatnya aroma teh di pagi hari. Menenangkan.

“ Kenapa…? ” kau menyeruput kopi mu, menatap lurus ke arah ku

“Entahlah …” aku pun hanya memainkan tepian cangkir teh sambil menggigit gigit bibir, dan menggerakan kaki dalam ritme yang cepat. Beberapa kali aku menarik nafas yang dalam, yang dihembuskan dengan tergesa gesa. Sesekali aku menggigit gigit ujung jari, dengan kaki yang terus bergerak tak henti.

“ Kamu sedang  resah, ada apa ? “ Pertanyaan dan pertanyaan yang kau ucapkan berbarengan . Aku tak bisa menjawab nya seketika, aku mencoba menenangkan ritme nafasku, agar aku telihat baik baik saja di hadapmu. Dan di saat yang sama mataku mulai berkaca, dan aku berusaha agar tak ada yang pecah di sana.

Lama hingga aku akhirnya berani berkata …

“ Kamu tau, susah sekali rasanya bagiku mendefinisikan perasaan ini, perasaan yang bercampur baur, perasaaan bersalah, perasaan rindu, perasaan takut kehilangan, segala perasaan …”

“Apa penyebabnya ..? “

“ Dia menghilang, entah … atau aku yang menghilang, entahlah. Kamu tau, komunikasi yang salah, barangkali itu, atau mungkin bukan itu “ deru nafas ku makin tidak beraturan, seperti ada badai dalam dada, yang meminta segera diturunkan…

Dan kemudian aku pun bercerita kepadamu tentang segala gemuruh yang ada di dada, tentang dia, bercerita tentang segala resah yang ada di fikiran, tentang rasa bersalah, tentang bagaimana aku telah jauh berjuang, tentang apa yang sebenarnya, tentang betapa aku telah berusaha semampu yang aku bisa, tentang momentum yang terasa salah, tentang segala …

“ Mungkin benar kata mu, aku resah, aku gelisah, aku takut kehilangan, aku cemburu, aku rindu …”

Kamu pun mengangguk, kau tuangkan lagi teh ke gelas ku yang sudah mulai habis.          “ Minumlah dan tenanglah … atau bila kau ingin menangis, menangislah, its ok some time, to know about your own feel  …. “

“ Saat ini , aku merasa aku tak boleh menangis, aku tak boleh lemah, aku tak boleh kalah dengan perasaan, bukan kah katamu aku harus kuat, aku harus stabil, aku harus bisa melalui segala rasa rasa yang ada, aku harus kuat, bukankah itu yang kamu selalu katakan kepadaku…..

“ Bukankah katamu tugas kita masih banyak ? kita tak boleh tenggelam dalam rasa rasa yang seperti ini, bukan kah katamu banyak hal penting yang perlu kita urusi, yang tidak boleh kalah dengan urusan perasaan …”  Serasa ada yang tersangkut di kerongkonganku, aku ingin menangis saja

Lama kau tak menjawab apa yang menjadi pernyataan dan pertanyaan ku, kau biarkan rasaku tersampaikan, kau biarkan fikiran di kepala teruraikan, kau biarkan semuanya tersampaikan.

Kau biarkan deru nafasku naik dan turun tak beraturan, dan kau biarkan bulir hangat air mata itu hadir apa adanya. membiarkan naluri hati ini  tak lagi terpenjara …

“ I miss him so much, so much …..” kalimat itu yang akhirnya mewakili segala rasa yang tertahan, tangisku membuncah walau ku benamkan wajah dalam dalam di atas meja, lama …

“ Kalau dia di sini apa yang ingin kamu bilang pada nya “ katamu dengan perlahan

Entahlah, hatinya sedang mendingin saat ini

Tangis ku makin menderas, walau pun telah ku tengadahkan kepala ke atas, agar tidak lagi terlalu banyak naluri hati  yang mengalir.

Andaikan dia di sini apa yang ingin kamu bilang pada nya, bicaralah… “ Kamu ulangi lagi pertanyaan mu

Aku tidak tau kata kata yang tepat untuk mewakili kondisi kita saat ini, aku rindu kamu yang dahulu, kita yang dahulu, maafkan, aku tak pernah berniat mengabaikanmu atau melewatkanmu. Aku hanya butuh waktu, ya aku hanya butuh waktu saat itu, untuk memikirkan tentang kita, aku hanya butuh waktu, karena aku tau aku merasakan rasa yang kuat kepadamu, jangan pergi ……. “

Dan setelah itu semuanya mengalir begitu saja

Taukah kau, aku menanggung rindu yang terlalu banyak padanya, setiap malam aku berbicara pada diri ku sendiri, kapan aku menjumpa ia lagi, setiap hari yang ku tunggu adalah kabar baik dari nya, bahwa ia telah tiba …. “

Rindu ini semakin hari semakin menebal, kadang aku ingin melupakan rindu ini, resah rindu ini menjadi khayalan saja, resah rindu ini tidak pernah terbayarkan, aku takut rindu ini tidak pernah terhapuskan, aku resah  ia tak pernah datanag,  aku ingin dia datang, aku ingin perjumpaan, aku ingin menyelesaikan rindu ini …

Dan kini rindu ini menjadi dua, rindu untuk berjumpa dengan nya, dan rindu untuk kembali baik dengan nya,  …. “

Itu saja ….

 

 

 

 

 

 

 

 

Memperjuangkan C I N T A

Suatu waktu

Pernahkah kau mau untuk memperjuangkan cinta

Memperjuangkannya lebih jauh dari sekedar ranah rasa

Memperjuangkannya lebih dalam dari sekedar ranah suka

Memperjuangkannya lebih tinggi dari sekedar rasa cinta

 

Suatu Waktu

Pernahkah kau memperjuangkan lebih dari tentang mu

Memperjuangkannya lebih dari tentang dia

Memperjuangkannya diantara gelombang rasa yang

Kadang sehasta, kadang sedepa

 

Suatu Waktu

Pernahkah kah kamu meminta pada-Nya untuk mengutuhkan rasa

Memperjuangkannya Sekaligus Memasrahkannya

Menundukannya kepada Ia Sang Maha Cinta

 

Suatu Waktu

Kemudian, kau ingin pejamkan saja matamu

Memperjuangkannya diantara doa doa mu

Lalu

Menundukannya kepada Ia Sang Maha Tau

 

Suatu Waktu

Hingga mungkin usia tak mewakilinya

Aku hanya ingin kau tau

Ada kau di lubuk terdalamku

 

 

 

 

 

 

 

Mengakui Kelemahan Diri, Sudahkah ?

Berubah menjadi seseorang yang lebih baik, adalah keinginan setiap orang. Siapa sih yang tidak mau menjadi seseorang yang jauh lebih baik dalam hidup-nya. Berubah itu diinginkan, namun tidak begitu saja mudah dilakukan. Apalagi kita tidak tahu kenapa kita harus berubah atau apa yang perlu kita rubah.

Perubahan hampir sulit kita lakukan, disaat kita tidak tahu apa yang harus kita rubah. Disaat kita merasa diri kita baik baik saja, disaat kita tidak merasa ada yang salah dalam diri kita, maka menjadi manusia yang move up menjadi pribadi yang lebih baik adalah sebuah kemustahilan.

Salah satu hal yang sering terlupa ketika kita ingin berubah menjadi pribadi yang lebih berdaya, adalah menyadari kesalahan diri, mengakui kealfaan diri, dan juga menerima kelemahan diri.

 

MENGAKUI KELEMAHAN …

Lalu, hal lainnya yang sering kita lupakan adalah mengakui kelemahan. Manusia, Allah ciptakan dengan kelebihan juga kelemahan yang unik antar masing masing individu. Allah menciptakan kita dengan adil dan proporsional. Namun kita kadang yang samar mengetahui dan mengakui kelemahan diri atau keterbatasan diri.

Ada kalanya kita tidak mengakui bahwa ada daya yang terbatas dalam diri kita. Kita merasa mampu melaksana segala, serba bisa. Padahal apa yang kita laksana adalah kelemahan diri kita. Kita tidak melaksana apa yang menjadi daya utama kita. Kita terlalu memaksa diri, berlebihan.

Tidak mudah memang mengakui kelemahan diri, apalagi jika kita adalah tipe orang yang berenergi, antusias terhadap sesuatu, percaya diri. Kelemahan diri kita pun akan sulit diakui ketika kita terlalu fokus keluar, terlalu bingar, terlalu larut dalam keramaian.Kita menjadi lalai melihat diri, mendiagnosa diri, mencari sisi kita yang tumpul, menyadari bagian diri yang memang lemah.

Ibarat sedang  berlari jauh, kita tidak dahulu memperhatikan kondisi kesehatan kita, bagaimana kaki kita, bagaimana tubuh kita, bagaimana pernafasan kita, kita hanya peduli terhadap berlari.

MAKA ….

Maka, ketika ingin berubah, -selain mengetahui STRONG WHY kenapa kita harus berubah- hal lain yang juga penting, adalah mengetahui,  mampu untuk mengukur apa sisi lemah kita.

Mengakui kelemahan diri membutuhkan keberanian jiwa, tidak mudah memang, kadangkala kita perlu berdiam terlebih dahulu, mengheningkan diri. Untuk bisa membaca diri, menelisik diri, mengevaluasi diri, yang sulit kita lakukan saat kita dalam bingar dan hingar.

Atau bila dirasa perlu, kita bertanya pada mereka yang sering membersamai kita, yang tau lama diri kita, mereka yang kita rasa bisa menilai diri kita apa adanya, mereka yang tulus mencintai kita.

Sehingga kita tau apa yang harus diperbaiki, apa yang harus kita batasi, apa yang baik kita lejitkan, apa yang mampu kita ledakan dari diri kita. Tidak hanya keunggulan diri yang melulu selalu kita cari, namun apa yang menjadi kesalahan dan kelemahan diri pun harus kita sadari.

Sehingga kita menjadi manusia yang seimbang, menjadi manusia yang adil pada diri sendiri, faham potensi diri. Ketika tau tentang kekurangan dan kelemahan diri pun, kita menjadi manusia yang tau apa yang perlu kita rubah dan perbaiki.

Maka untuk berubah di perlukan tidak hanya tentang mencari potensi diri namun sadari tentang kelemahan diri. Menyeimbang.

Maka…

Sudakah Kita Mengakui Kelemahan Diri ?

Tepatnya ….

Sudahkah Saya Mengakui Kelemahan Diri ?

 

 

[ Kita Tak Punya Banyak Waktu ]

Waktu itu bergerak
Waktu itu berdetak
Waktu itu berpendar

Dimanakah jiwa kita ketika waktu merangkak bergerak

Dimanakah akal kita ketika waktu tersentak berdetak

Dimanakah hati kita ketika waktu memudar berpendar

Telahkah kita jauh melangkah, atau kita hanya berputar putar saja.

Telahkah kita banyak berbuat, atau kita hanya jalan jalan di tempat saja.

Telahkah kita benar beramal, atau kah hanya sebatas prasangka belaka saja.

Telahkah kita benar mengguna waktu, saat beribu detak waktu telah berlalu.

Kita tak punya banyak waktu
Kita tak punya banyak waktu

Ya…
Kita tak punya banyak waktu

 

time

Pintar Karena Susu Formula ?

Suka merasa sedikit kesal dengan beberapa tayangan pariwara yang ada di televisi. Mungkin banyak orang juga yang sudah merasakan hal yang sama. Salah satu nya adalah pariwara tentang susu anak, atau hal hal yang berhubungan dengan makanan dan minuman anak.

Beberapa pariwara iklan susu misalnya, yang terlalu berlebihan tentang manfaat ketika seorang anak mengkonsumsi suatu merek susu. Anak yang bisa lebih pintar , anak yang bisa lebih peka dan peduli, anak yang lebih berprestasi dibandingkan anak lain yang tidak mengkonsumsi susu tersebut, dan hal hal lainnya.

Apabila mengkonsumsi susu dihubungkan dengan kesehatan dan daya tahan seorang anak, masih bisa diterima oleh nalar. Namun apabila mengkonsumsi susu di hubungkan dengan kepedulian anak dan kepekaan anak, atau menjadikan anak mempunyai empati yang baik dibandingkan teman temannya, rasanya terlalu berlebihan.

Saya bukan nya tidak setuju dengan manfaat susu, dengan apapun kandungan manfaat di dalamnya, karena pasti ada manfaatnya, untuk tumbuh kembang seorang anak. Namun apabila disajikan terlalu berlebihan bisa jadi  berakibat beberapa hal, misalnya, miss persepsi orang orang yang sangat “awam”, apabila mau anak anak jadi pintar, berprestasi, peka, peduli ya cukup dengan kasih susu saja.

Tentunya ini adalah hal yang menyesatkan. Apalagi apabila ada orang orang yang “termakan” iklan tersebut, hingga beranggapan bahwa posisi ASI bisa tergantikan dengan susu formula.

Hal lain adalah bisa jadi, kalangan yang sudah tereduaksi dengan baik tentang bagimana membentuk kecerdasan anak baik intelektual, emosional dan lainnya, menjadi tidak simpati dengan produk susu yang terlalu berlebihan, karena mereka faham, bahwa membentuk kecerdasan, kepekaan, empati anak butuh lebih dari sekedar asupan susu, – terlepas dari banyaknya kontrofersi mengenai susu formula -.

Perusahan susu bisa saja, “membela” diri nya karena pendekatan yang mereka buat adalah dari sisi nutrisi atau gizi yang terkandung di dalamnya. Namun tetap saja, menurut saya iklan itu harus bisa “bicara” dengan cara yang wajar, kalau masih belum bisa ke dalam tahapan mendidik. Apalagi yang berhubungan dengan tumbuh kembang anak, jangan jadikan sumber komersialisasi dan industrialisasi saja.

Padahal ada juga iklan susu yang mengiklakan susu nya dengan wajar, bahwa rasa susu nya disukai anak anak, selain itu mengandung zat, nutisi, dll yang baik untuk kesehatan anak, dan bisa membantu menutrisi otak nya. Cukup sampai disitu, tidak berlebihan.

Ah harusnya lembaga yang bertanggungjawab terhadap pariwara yang beredar di media media cetak dan elektronik, harus lebih kritis dalam memberikan izin tayang, bukan hanya tentang aman dari hal hal negatif, tapi juga dari hal hal yang bisa menggiring persepsi masyarakat ke persepsi yang salah.

susu

Sumber Gambar : Google

Jangan Jangan Kita Tidak Bersyukur

Setiap kita diberikan bakat, potensi, kemampuan, keungulan yang berbeda. Tuhan tidak semata mata menciptakan makhluknya yang paling sempurna tanpa ada tujuannya. Saya percaya bahwa dalam setiap penciptaan Tuhan “titipkan” sebuah potensi unggulan, agar ia bisa bermanfaat bagi sesamanya. Bukankah Nabi Muhammad berkata :

“Sebaik baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya”

Ketika ada kata bermanfaat, berarti setiap manusia mempunyai potensi kebaikan, yang bisa menjadikan dia manusia bermanfaat. Tidak mungkin Allah ciptakan kita “kosong” begitu saja, Allah sudah berikan “modal” bagi kita untuk menjadi manusia bermanfaat.

Sayangnya kita tidak peka membaca apa “modal” yang telah diberikan oleh Allah untuk kita, padahal “modal” itu telah ada dalam diri kita, ada dalam pertanda pertanda yang telah lama Ia tampakan. Kita saja yang tidak peka mencernanya.

Kita sibuk kesana kesini mencari tau, mau jadi apa kita, mau berbuat apa kita, ingin seperti apa kita. Kita sibuk mencari tau, apa potensi terbaik kita. Padahal disisi lain kita sudah merasa dan diberikan pertanda tentang apa potensi alami kita, apa potensi unggulan kita, tapi kita abai melihatnya, kita samar mendengarnya, kita melihatnya seklias lalu mengabaikannya, atau hanya sesaat sesaat saja memperdulikannya.

Kita sibuk ingin menjadi orang lain atau ingin menjadi seperti orang lain, yang mungkin mengagumkan di mata kita. Atau barangkali kita ingin seperti orang lain di bidangnya yang terlihat sangat sukses, dan kita pun mendamba damba ingin sepertinya.

Kita lupa, Allah sebenarnya sudah menitipkan keunggulan yang khas pada diri kita, yang bisa jadi ketika kita peka melihatnya, peka mendengarkannya, kita bisa menjadi pribadi yang bermanfaat untuk diri kita, orang sekelililng kita, dan banyak orang di luar sana.

Kita sibuk mencari cari, padahal yang dicari sudah ada di dalam diri …

Jangan jangan kita sedang tidak bersyukur atas potensi, hadiah dan titipan yang Allah telah sertakan semenjak kita diciptakan. Kita merasa bakat, potensi itu hanya hal yang biasa biasa saja, tidak akan menjadi hal yang istimewa. Padahal tak ada yang tidak istimewa ketika kita adalah manusia ciptaan-Nya

Kita sibuk mencari cari, padahal yang dicari sudah ada di dalam diri, ah jangan jangan kita tidak bersyukur …