Coach Carter – The Power Of Vision [ Movie Review ]

leadershipmoviescoachcarter

Kesan pertama kali lihat gambar dari film ini adalah, tentang film film yang usung tema olahraga lainya. Tentang sebuah tim “underdog” yang berjuang untuk meraih kemenangan. Well ternyata, film ini lebih bagus dari yang saya kira, saya sedikit cerita yaa…

Oh ya film ini diangkat dari TRUE STORY yang pasti bakalan banyak nilai di dalamnya


 

Ken Carter adalah seorang pelatih basket yang diberikan kepercayaan untuk melatih sebuah tim basket di sebuah sekolah menengah atas (SMA), yang mana selama ini tim basket tersebut bukan termasuk tim unggulan di kota Callifornia.

Kota Richmond, California saat itu mempunyai tingkat kriminalitas yang terjadi tergolong tinggi, banyak kasus kejahatan, pembunuhan dan juga kasus narkoba yang terjadi di kota ini, terutama di lakukan oleh kalangan anak muda nya. Tingkat kelulusan dan kemauan untuk meneruskan pendidikan yang lebih tinggi pun rendah. Mereka yang keluar sekolah menengah dan tidak meneruskan berkuliah, sebagian besar terlibat dalam kasus kriminalitas.

Berbagai peraturan Coach Carter buat , peraturan peraturan yang sebagian banyak orang nilai aneh, ekstrim, dan tidak ada hubungannya dengan permainan basket. Salah satu nya adalah dengan mewajibkan tim basket nya memakai pakaian resmi (memakai jas dan dasi) saat jam pelajaran sekolah. Hal ini kontan saja ditentang oleh para anak latih nya, yang selama ini merek berpakaian dengan gaya khas mereka dan  sesuka seleranya.

webANXCoachCarter6

Hal lain yang unik adalah, mereka harus memanggil satu sama lain, dengan panggilan “Sir” , baik di dalam lapangan, maupun di luar lapangan. Dan lagi lagi peraturan ini tidak bisa di tawar tawar. Panggilan keakraban antar mereka yang biasanyaa memanggil satu sama lain dengan kata “Nigga” (Negro) harus dihapuskan.

Belum lagi peraturan tentang bagaimana bila mereka terlambat, walau itu hanya 5 menit dengan alasan apapun, mereka harus membayar nya dengan hukuman yang sangat menyiksa. tidak ada dispensasi. Tak jarang kesalahan atau bantahan yang dilakukan harus di bayar dengan 10.000 kali push up.

Hal yang paling tidak biasa adalah, peraturan berikut ini. Bahwa setiap mereka harus memenuhi peraturan, bahwa indeks prestasi harus di angka 2,3. Bila tidak mereka harus keluar dari tim basket tersebut.

Dan semua peraturan tersebut tertulis di atas kontrakk tertulis, yang di tandatangai juga oleh orang tua mereka. Peraturan yang dianggap sangat berlebihan oleh para orangtua bahkan pihak sekolah sekalipun. Terutama tentang bagaimana setiap anak yang dia latih harus mempunyai indeks prestasi 2,3. Apa hubungannya prestasi akademik dengan permainan basket ? itu salah satu peraturan yang ditantang keras oleh para orang tua, para guru, bahkan kepala sekolah.

Coach-Carter-2005

Namun, bagi Coach Carter, peraturan tetaplah peraturan,take it or leave it. tidak ada tawar menawar. Bila masih ingin gabung, maka taatilah peraturan.

Walau berat, namun anak anak ini tetap jalankan. Kemudian  prestasi demi prestasi perlahan lahan mereka dapatkan. Hingga ada sebuah moment, di mana Coach Carter memutuskan tidak mau melatih lagi tim basket nya, dan mensegel lapangan basket hingga tidak bisa dipakai untuk bermain atau pun latihan basket, dikarenakan oleh satu hal, indeks prestasi mereka masih dibawah 2,3.

Ia  mau kembali melatih basket lagi apabila anak anak bisa mencapai indeks 2,3. Bila tidak maka tidak ada permainan ….

Nah kita kira gimana ending nya ?

Tonton aja ….

Film ini highly recomended buat para pendidik, pelatih, guru, mentor, motivator dan inspirator …

 


 

NILAI DAN PELAJARAN

“Coach Carter” sebuah film yang diangkat dari sebuah kisah nyata, pada akhirnya membawa beberapa nilai bagi saya :

Visi 

Seorang coach – pelatih, atau dalam bentuk lain misalnya  seorang guru, pendidik, mentor, harus memiliki visi yang jauh dan dalam, saat membersamai anak didik nya. Melihat yang tidak terliht, melihat tidak hanya apa yang ada di depan mata, tapi jauh dari itu, melihat ke masa depan

Tujuan Besar

Saat dia melatih tim basket nya, tujuan utama dan satu satu nya  bukan hanya tentang menjadikan tim nya menjadi pemenang dari turnamen ke turnemen. Namun misi nya lebih jauh dari itu, ia ingin menujukan dan mengantarkan anak didiknya bahwa mereka bisa untuk  meraih masa depan yang lebih baik, melalui dua jalur secara bersamaan, beriringan, jalur akademisi untuk meraih prestasi dan jalur olah raga untuk melatih mental mereka.

Dalam cerita ini, Coach Carter ingin anak anak latih mereka, optimis akan masa depan mereka.

Respect

Menghargai diri sendiri, menghargai orang lain, diajarkan oleh Coach Carter, ketka i mewajibkan panggilan “Sir” antar mereka. Dimana panggilan ‘Sir” adalah sebuah penghormatan. Satu peringatan yang keras, dari Coach Carter bahwa mereka tidak boleh memanggil sesama mereka dengan panggilan “Nigga” (Negro), karena panggilan itu adalah warisan masa lalu, untuk merendahan ras kulit hitam. Coach Carter mengjarkan bagaimana penghargaan, dimulai dari menghargai diri sendiri.

Brave To Do Diffirent

Visi, misi. dan tujuan besar nya banyak orang yang tak faham. Cara yang ia lakukan dinilai banyak orang terlalu extreme dan mengada ngada. Tidak hanya halangan bahkan ancaman ia terima, tapi sangat jelas  dengan visi dan misi nya, ia tak akan berhenti dengan keyakinannya, sampai dia bisa melihat hasilnya. Mission Have To Be Accomplish !

Tegas & Disipin

Seorang Coach, harus bisa menerapkan disiplin, atas peraturan dan kesepakatan yang telah disepakati bersama. Dan setelah itu, maka tidak ada tawar menawar, kecuali untuk hal hal yang memang masuk akal untuk diberikan pengecualian

Sensitivity

Ketika ada seorang anak, yang lebih “pembangkang” dari yang lainnya, Coach Carter berusaha melihat hal yang lebih dalam dari anak itu, mencari tahu apa yang sedang ia alami, masalah apa yang ia hadapi, hingga dia menjadi seorang pembangkang. Coach Carter dalam ke “ekstrim” an nya tetap melihat apa yang tidak terlihat.

STRONG WHY

Coach Carter, adalah seseorang yang  mempunyai STRONG WHY, seseorang yang mempunyai ALASAN KUAT saat ia melakukan dan memutuskan sesuatu. Dedikasi nya untuk melatih para anak basket ini, adalah untuk membebaskan mereka dari stigma yang terjadi.

Peraturan peraturan yang dinilai ekstrim oleh banyak orang adalah, untuk menghasilkan manusia manusia yang tak hanya tangguh d lapangan, namun menjadi manusia yang mempunyai keinginan kuat untuk meraih prestasi tinggi, dan menjadi seseorang yang bisa melihat bahwa masa depan bisa diraih dengan kemauan dan disipin yang tinggi.

Tanpa STRONG WHY yang baik, maka seseorang akan sangat mudah untuk dipatahkan keinginannya, cita citanya, harapannya.

 

CHANGE

Last but not least, peraturan peraturan yang ia buat dari hal kecil seperti mewajibkan memakai dasi, duduk di bangku terdepan ketika belajar, memanggil kata “Sir”, hingga peraturan harus memiliki indeks prestasi 2,3 pada akhirnya merubah banyak hal.

Merubah persepsi bahwa anak basket hanya bisa berprestasi di lapangan, ia patahkan. Kondisi pesimisme akan masa depan, ia patahkan. Terbukti dengan sebagian besar anak didik basket nya yang semula enggan untuk melanjutkan kuliah, akhirnya mereka mempunyai prestasi akademik yang baik, dan kemudian berhasil melanjutkan berkuliah, bahkan sebagian besar mendapatkan jalur beasiswa prestasi.

Selain itu, perubahan perubahan yang di terapkan oleh Coach Carter, telah mampu membentuk menta anak didiknya, dari lemah menjadi kuat, dari kemurungan menjadi penuh energi, dari pesimis menjadi optimis,

main-qimg-d54946cf34d18424d6b0ac2949933ecc-c

 

Udah segitu aja, panjang yaaa… hhee

Semoga Bermanfaat … 🙂

 

 

 

 

 

Advertisements

Dengarkan … [ Tanaka’s Stories ]

Dan kemudian, perjalanan akhir pekan kita berakhir di tempat ini. Sungai yang selalu kamu ceritakan, sungai yang katamu seperti sahabatmu, sahabat yang mampu meramu rindu, sehingga kau ingin selalu bertemu.

Seminggu yang lalu aku mengeluh kepadamu, tentang aku yang sedang merasa tak tentu keinginan, yang sedang merasa tercampur aduk, bingung mendefiniskan apa sebetulnya kehendak dalam diri.

” Haira…, kamu tau kenapa aku selalu ingin selalu disini “ Katamu sesampai nya kita di tepian sungai ini

” Kedamaian bukan ? seperti yang setiap orang rasakan, ketika mendengarkan suara air mengalir…  ” sautku datar

” Ya, tapi bukan hanya tentang itu ….” Tanaka menatap jauh ke sebrang sungai

Lalu kau pun duduk di depan bibir sungai, mengajak ku untuk mengikuti duduk di sebelah mu

” Kamu tau Haira, kedamaian itu bukan tentang sebuah suasana … kedamaian itu hadirkan banyak hal. Kedamaian itu bukan hal yang statis., kedamian itu ruang dan kesempatan dan  jalan agar kamu bisa bercakap cakap dengan dirimu sendiri…”

” Kedamaian adalah ruang ketika hanya ada kamu dan dirimu. Kalian duduk berdua bersebelahan, saling bertukar lintasan pikiran dan perasaan. Saling jujur dan melepaskan, entah itu ketakutan atau harapan …”

Dan aku pun terdiam, menyelusuri setiap kalimat yang kau ucapkan, dibersamai oleh gemericik air sungai yang membelai belai pendengaran dan perasaan.

” Haira, coba pejamkan mata. Kau hitung berapa banyak suara yang bisa kau dengar dalam satu waktu, lepasakan fikiranmu dan belajarlah mendengarkan …” Tanaka mengambil nafas panjang dan menutup mata, seakan memberikan contoh.

Aku pejamkan mata mengikuti apa yang Tanaka lakukan, belajar menangkap suara suara di sekitar, selain suara aliran sungai. Belajar mendengarkan banyak suara dalam satu waktu, membedakannya dan menikmatinya.

Awalnya aku hanya bisa mendengar aliran sungai,  lalu aku belajar melepaskan segala hal yang ada dalam fikiranku, membebaskannya seakan terbang ke udara…

Hingga kemudian perlahan  yang kudengar adalah suara berdesir angin, angin yang menyentuh kepalaku, menyentuh wajahku, yang melewati telingaku …. suara daun yang bersentuhan, suara kicau burung yang samar bersautan, reranting pohon yang saling beradu, bahkan suara manusia yang ada di kejauhan…

Lama rupanya aku terlarut dalam ruang ini, ruang dimana aku tidak memikirkan apa apa, hanya belajar mendengar …

” Haira benar bukan ? semakin kau damaikan hatimu, semakin kau lepaskan fikiranmu, kau lapangkan jiwamu, maka akan semakin banyak suara indah yang terdengar. Semakin kau kosongkan analisamu, tuntutan logikamu dan lalu kau hidupkan hatimu, maka akan semakin banyak melodi  yang terdengar…” Suaramu memecahkan ruang indah ku

Maka, bila kau ingin tau apa isi hatimu yang terdalam, maka ciptalah kedamaian … ” 

Aku menatapnya, ku sumbangkan segaris senyuman untuknya ” Terimakasih …”

” Aku pergi, selamat menemu damaimu, selamat mendengarkan hatimu …”

Dan kemudian ia membiarkan ku sendiri, di tepian sungai ini. Menikmati sajian kedamaian yang sedang belajar aku temukan ….

See You Soon, Tanaka …

 

 

 

 

~Setelah Ramadhan

.e4f537ba-3a62-4346-b755-443851b932e8

Hei, sudah lebih dari sepekan Ramadhan berlalu… Apakah kau benar benar merasakan getar rindu ? Atau sebatas ucap semu
.
Sudah lebih dari sepekan ia berjauhan dengan mu. Adakah jejak yang ia tinggalkan pada jiwamu ? Atau ia bagimu, hanya waktu waktu yang begitu saja berlalu
.
Sudah lebih dari sepekan ia berpisah dengan mu. Adakah ia membekali mu sesuatu?
.
Adakah ia membekali mu nalar benderang, jiwa yang penuh, ketakwaan dan keikhlasan yang utuh
.
Masih kah ada shalat di malam malam mu? Masih adakah lantunan ayat suci terdengar di rumah mu ? Masihkah tangan mu terulur untuk mereka yang tak berdaya? Seperti saat ia masih membersamaimu
.
Semoga rasamu bukan hanya tentang rindu. Karena rindu saja tak cukup. Karena rindu berarti jarak, atau suasana yang berjauhan
.
Bawalah Ramadhan dalam jiwamu, fikirmu, lakumu. Karena ia sebenarnya tak kemana mana, ia ada dalam jiwa, selama kau mengsungguhinya dan menyimpan jejaknya agar menjadi Takwa
.
~SebuahMonolog

Masih Ditanya : ” Kapan Nikah ? “

Hey …Hello Apa Kabar ?

Sudah menghabiskan liburan dengan baik dan benar ? hhaa…

Katanya besok sudah masuk kerja lagi ya ? Kalau saya bebas, ga ada jam kantor, tapi kurang lebih merasakan juga aura sekitar yang sebagian masih merasa malas untuk kembali ke meja kerja, dan sebagian sudah kesal katanya diam di rumah saja …

Kamu gimana ? bersenang senangkah di liburan dan lebaran ini ? menikmati susana bersama sama keluarga dan udara desa. Atau banyak “bersembunyi” di balik meja karena harus berhadapan dengan pertanyaan klasik sepanjang masa ;

“Kapan Nikah?”

Tentunya pertanyaan ini berlaku bagi mereka yang menikah, – saya termasuk di dalam nya-. Pertanyaan yang banyak diresahi oleh banyak para single sepertinya. Sebenarnya resahnya  bukan karena apa jawaban atas pertanyaan itu, namun resah akan beribu rasa di balik pertanyaan itu. Benar ?

Karena pertanyaan itu bukan sekedar KAPAN, yang bisa kita jawab dengan ukuran waktu. Misalnya besok, lusa, bulan depan, tanggal sekian, dsb. Namun dibalik pertanyaan “Kapan Nikah” itu biasanya atau sebenarnya mengandung pertanyaan pertanyaan lain, yang si penanya tidak langsung bisa ungkapkan, seperti ” Kamu kok ga nikah nikah sih, sadar usia dong …..”” Nyari yang gimana sih …..”” ihh kamu ga nikah nikah, ga ada yang mau yaa…” dan lain sebagainya…

Kadang pertanyan KAPAN NIKAH adalah pertanyaan basa basi untuk membuka sebuah pembicaraan dengan seorang yang masih sendiri. Yang sepertinya semacam password yang asik untuk membuka pembicaraan (Asik bagi penanya, tak asik bagi yang di beri pertanyaan) …hhaaa

Well … sudah berulang lebaran saya mendapatkan pertanyaan pertanyaan ini. Ada masa di mana pertanyaan ini begitu deras bertubi tubi keluar dari banyak orang, dan ada masa saya begitu terluka mendengarnya, seringkali menghindar, dan begitu kesal kepada mereka yang bertanya …

Ada masa pertanyaan itu meninggalkan luka yang tidak sederhana, apalagi apabila apabila orang orang tertentu yang menanyakannya dengan nada tertentu, dengan ekspresi tertentu …

Namun, ada masa pula, dimana orang orang sudah tidak banyak bertanya tentang KAPAN NIKAH, lebih pada mendoakan dengan do’a yang mendalam. Mungkin mereka sudah mulai lebih bijak untuk tidak bertanya pertanyaan yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban. Karena bila saat nya sudah tiba, mereka akan tahu segera…

Atau mungkin, kita pula yang sudah lebih ikhlas menerima. Menerima bahwa kita belum ditakdirkan bertemu dengan dia, sang sahabat jiwa. Kita yang lebih bijak menghadapi nyata yang ada.

Selama kita tahu, ini bukan tanpa usaha, atau memilih untuk hidup menua bersendiri. Tapi ini semua hanya tentang waktu, waktu ketika DIA berkata : ” Ini waktunya, dan Dia Orangnya “

Jadi, semakin menerima kita atas diri kita. Semakin mudah kita menghadapi segala tanya…

 

Fn : Do’a kan semoga tak lama lagi, Allah mempertemukan saya dengan Dia, pasangan jiwa yang akan menjadi sahabat jiwa hingga syurga, Aamiin ….

R-A-Y-A

34096470_2144744118873711_7030285169135190016_n(1)

 

Selamat Meraya Kemenangan
Selamat Memulai Perubahan
Selamat Memupuk Keyakinan
Selamat Menggamit Harapan
Selamat Menempuh Perjuangan
.
Taqabalallahu Minna Wa Minkum, Siyamanaa Wa Siyamakum
.
Semoga jiwa jiwa kita kembali menemukan fitrah-nya
.
Mohon dimaafkan segala laku, sangka, ucap dan tingkah

 

#LatePost

Ramadhan Ke 11. (Sebuah Monolog Hati Dan Akal)

Ramadhan ke 11 .

Apa yang kau rasa ? Sudahkah kau puas beribadah. Puas menikmati waktu waktu yang begitu berharga, atau kau sia begitu saja…

 

Ramadhan ke 11.

Sudahkah hatimu penuh terisi ? dengan keyakinan yang utuh, dengan harapan yang penuh ….

Ramadhan ke 11.

Sudahkah kau bersungguh ? bersungguh mendekat pada-Nya, menghamba ampunan, menyatakan kesyukuran , mengungkapkan kehendak hati dan fikiran…

Ramadhan ke 11.

Sudahkah kau mencerna makna yang ada di tiap detiknya, atau kau masih biasa biasa saja, tak ada rasa yang istimewa …

Ramadhan ke 11.

Sudahkah kau menemu sebuah tujuan, tujuan kenapa kau bisa bernafas, kenapa kau mampu berjalan, tujuan kenapa kau diciptakan, tujuan kenapa kau dihendaki ada …

Ramadhan ke 11.

Sudahkah kau di sebuah titik temu, bahwa kau ditakdirkan terlahir, membawa sebuah tugas mulia, yang khusus, yang spesifik, sudahkah kau menemunya …

Ramadhan ke 11.

Sudahkah kau mengsungguhi dirimu untuk menjadi manusia yang dikehendaki-Nya, manusia yang mulia yang sesuai dengan standart-Nya….

 

Bandung,

Di 11 hari yang sudah terlalui.

Masih ada waktu,

Mari diri, kita terus mencari, menggali dan menyadari …

 

 

 

 

Ruang

RUANG …
.
Terimakasih, tlah KAU beri sebuah ruang, dimana hanya tentang aku dan KAU
di ruang yang sunyi
.
Ruang yang hanya aku yang bercerita dan KAU mendengar dengan seksama. Ruang dimana seakan kau berkata ” Apa yang kau rasa”
.
Ruang yang syahdu. Ruang dimana KAU bertanya “Apa yang kau minta” katakan saja…
.
Ruang dimana aku apa apa adanya
.
Ruang dimana aku luluh berairmata
.
Ruang dimana aku bebas bercerita apa saja
.
Ruang dimana segala khilaf Dan salah ku kemuka saja
.
Ruang dimana segala pinta adalah wajar saja
.
Ruang dimana serasa aku dan KAU berjarak sejengkal saja
.
Ruang di mana aku sangat bahagia menjadi seorang hamba, karena kau adalah Rabb nya
.
Tiada yang sekuat ENGKAU, tiada yang selembut ENGKAU
.
Tiada pencarian lain setelah ini. Kedamaian ada di sini, di sajadah ini, di saat aku merasa serendah rendahnya dan sepasrah pasrahnya
.
Tiada jarak, tiada jeda, ruang itu bernama Shalat
.
.

Terimakasih yaa Rabb
.
.

All We Are Just “Dust In The Wind”

I close my eyes, only for a moment, and the moment’s gone
All my dreams pass before my eyes, a curiosity
Dust in the wind
All they are is dust in the wind

Same old song, just a drop of water in an endless sea
All we do crumbles to the ground though we refuse to see
Dust in the wind
All we are is dust in the wind

Now, don’t hang on, nothing lasts forever but the earth and sky it slips away

And all your money won’t another minute buy
Dust in the wind
All we are is dust in the wind
All we are is dust in the wind
Dust in the wind
Everything is dust in the wind
Everything is dust in the wind
The wind

Dua hari ini playlist di laptop saya berulang ulang memutar lagu ini, “Dust In The Wind”  yang dinyanyikan oleh Kansas. Perlahan saya lamati artinya, dalem ternyata …

tentang bahwa kita sebenarnya bukan apa apa, bukan sesiapa, tentang kita hanya butiran debu yang di terbangkan angin …

Mungkin ada “Butiran Debu” yang lain yang di nyanyikan oleh salah satu penyanyi Indonesia  yang merasa hancur karena ditinggal sang kekasih. Namun maknanya serasa dangkal bila kita lajukan untuk sesama makhluk, sesama manusia …

Lagu “Dust In The Wind” ini semacam refleksi, bahwa manusia adalah makhluk tak berdaya, tentunya di hadapan-nya, di hadapan Allah Sang Penggenggam hidup kita…

 

“All my dreams pass before my eyes, a curiosity” Manusia selalu punya banyak keinginan, rencana dan impian. Namun pada akhirnya kepada-Nya lah segala ketentuan. Ia lah sebaik baiknya pembuat keputuasan

“just a drop of water in an endless sea”  diri kita hanya setetes air di lautan samudra, kita bukan apa apa. Tak pantas ada jumawa dalam diri kita.

And all your money won’t another minute buy”  Tak bisa kita membeli waktu, menukar satu menit jatah usia kita, walaupun dengan seluruh harta di dunia

.
All we are is dust in the wind
.
.

“All we do crumbles to the ground though we refuse to see” Suatu saat semua akan hancur, berterbangan, suatu kondisi yang kita tak sanggup melihatnya. Hari akhir. Alam raya ini akan hancur bagaikan debu berterbangan …

 

Bukan … lagu ini bukan tentang pesimisme, hingga kita tidak mau berbuat apa apa…

Namun bagi saya lagu ini adalah sebuah ekspresi kesadaran seorang manusia, bahwa dia adalah bukan siapa siapa, dia bagaikan butiran debu yang tertiup angin…

Lalu apakah kuasa sebutir debu yang sedang melayang layang tertiup angin ?

Karena ada DIA yang berkuasa atas jiwanya, ada  DIA yang berkuasa atas segala kejadian, ada DIA yang berkuasa atas segala urusan …

Maka, bila kita bukan apa apa, sadar sepenuhnya bahwa segala urusan kita ada dalam genggamannya, maka mendekatlah pada-Nya, bergantunglah kepada-Nya, percayakan hidup kita Kepada-Nya, yakin lah dengan segala Pengaturan-Nya …

Coz All we are is dust in the wind….

 https://www.youtube.com/watch?v=tH2w6Oxx0kQ
Bandung,
Ramadhan Ke 5

Semoga Hati Hati Kita Semakin Menyadari 

Tentang Seberapa Kuasa Ia

Akan Hidup Kita

Asikkkk…. Ga Ada Sinyal !

Nyambung ama postingin saya kemarin, tentang bagaimana menjadi manusia yang “Present Moment” sebelumnya – yang which is saya juga masih belajar -, beberapa hal yang saya sedang usahakan untuk dilakukan, untuk jadi manusia yang “Present Moment” .

Hal yang biasa saya lakukan, ketika ada sebuah moment yang benar benar saya butuh dan ingin “hadir seutuhnya” adalah dengan mensetting telefon genggam saya dengan off mobile data atau mengatifkan air plane mode.

Misalnya saya sedang berada di alam terbuka, menikmati sebuah bentang alam, atau sedang menikmati sebuah tempat yang baru saya kunjungi, yang suasana nya berbeda, dimana saya benar benar ingin menikmati suasana.

Biasanya saya matikan data atau setting air plane mode, karena saya butuh telefon genggam untuk mengambil beberapa foto atau merekam dengn video. Karena selain ingin benar benar menikmati suasana, karena kadang ada saja rasa tergoda untuk tergesa mengunggah apa yang sedang dinikmati di depan mata.

Atau kalau sedang berbicara dengan seseorang yang ada di hadapan mata, kalau sedang “sadar” tentang pentingnya “present moment” maka telfon genggam saya balikan layar nya, dan dibunyikan hanya untuk panggilan saja. Karena bila tak hanya mata kita yang teralih ketika si layar menyala tapi fikiran kita pun pasti teralihkan. Bener ga ? hhee

Oleh karena itu, konsekusinya beberapa orang suka protes, karena saya bales pesan chat nya lama katanya… hhaaa. Tak apalah, itu sebuah pilihan. Karena sebenarnya kita tahu tentang mana dan kapan pembicaraan yang perlu kita balas segera, atau pembicaraan yang sebenarnya bisa kita tunda. Hanya diri kita yang kadang ga “bijak” untuk mengambil sikap … tak kuasa melayani panggilan si layar persegi itu …

Bahkan, kalau saya sedang mengembara di sebuah daerah -tsahhh bahasanya mengembara- yang disitu tidak ada sinyal, saya senang. Dikala kawan kawan saya mengeluh “duh ga ada sinyal” saya justru bahagia…hhaaa, bisa utuh menikmati apa yang ada di depan mata, benar benar menikmati suasana, berbincang sempurna dengan sesiapun yang ada di hadapan kita, bisa berfikir jernih, bisa mendapatkan ide, bisa merefleksi diri, mendengarkan diri sendiri, tanpa interupsi notifikasi.

Saya bukan orang introvert, yang rada anti dunia maya, malah beberapa kegiatan saya sangat membutuhkan dunia maya, butuh publikasi, butuh berinteraksi dengan orang lain di dunia maya. Namun saya rasa, ada saat kita menjadi manusia yang tidak “dipengaruhi” dengan apa yang ada di alam maya sana, menjadi diri kita sendiri, menikmati detik dan ruang waktu dimana kita berdiri.

Ah udah segitu aja hari ini, besok bila udara masih bisa kita nikmati, kita sambung lagi,

Selamat Menikmati Ramadhan  Ya ,,,

 

 

Menjadi Manusia Yang “Present Moment”

Pernah merasa kondisi seperti ini ; ketika tubuhmu di suatu tempat, namun fikiran mu melayang layang ke ruang lainnya ? Sepertinya setiap kita pernah -atau bahkan sering- mengalaminya, ketik raga, jiwa, dan fikiran tidak bersama.

” Present Moment “ adalah sebuah istilah yang beberapa kali saya dengar akhir akhir ini. lalu saya mencari tentang maksud istilah ini. Kemudian saya tahu, bahwa “Present Moment” adalah sebuah kondisi dimana, raga, jiwa dan hati berada bersama dalam satu waktu, dalam masa sekarang, dalam detik ini dengan sadar. Mungkin mirip mirip dengan fokus, namun menurut saya “Present Moment” jauh dalam dari itu, ia jadi basic nya, sedangkan fokus adalah caranya.

Seperti yang saya bahas diawal, bahwa seringkali kita mengalami ketidaksinkronan, antara raga dan fikiran, entah di sengaja atau tidak, entah disadari atau tidak. Di sadari, maksudnya adalah, kita memang sadar bahwa saat itu jiwa dan raga kita tidak sedang bersama, baik sengaja atau tidak.

Tubuh kita ada di masa kini, tapi fikiran kita terbang melayang mengunjungi dan mengingat masa lalu, atau mencemaskan masa depan, hingga kita tidak menjadi manusia yang utuh. Kondisi ini kadang kita sadari, kemudian kita perbaiki, atau kadang kita biarkan menjadi kebiasaan dan menjadi kan hidup kita tidak mindfullness, utuh, jiwa raga ada bersama, kita tidak menjadi manusia yang benar benar hadir dan hidup di saat sekarang.

Kita tidak benar benar menikmati hidup yang ada di detik ini, sibuk dengan mencemaskan masa depan, atau mengingat ingat peristiwa di masa lalu, entah sekedar mengingatnya atau tengah menyesalinya.

Mungkin dalam keseharian dan fenomena kekinian juga banyak terjadi dalam hal hal yang kelihatannya ringan dan biasa, terjadi seperti ini ; Saat kita sedang bekerja,  namun fikiran kita ada di rumah atau membayangkan liburan ; saat kita sedang liburan,  fikiran kita memikirkan kerjaan ; kita sedang mengerjakan tugas, namun fikiran kita sedang membayangkan bersenang senang. Begitu terus, melingkar lingkar, hidup dalam ketidak utuhan.

Pagi hari kita fikirian kita  melayang jauh ke siang hari, siang hari kita cemas dengan malam hari, malam hari fikiran kita sudah berada di esok hari nya, begitu seterusnya, itu lah yang menyebabkan fikiran mudah lelah.

Apalagi saat ini di dunia yang serba di tekhnologi, kita semakin digiring untuk menjadi manusia yang tidak “utuh” . Raga kita sedang di sebuah ruang bersama manusia manusia di depan mata, namun kita asik tenggelam di layar kotak kaca di genggaman tangan. Niatnya bersama, namun sebenarnya tidak benar bersama. Karena sering kali kita tenggelam di layar itu, untuk hal hal yang tidak begitu penting : scrolling time line, lihat updatean status orang lain, dsb.

Atau misalnya, kita sedang menghadapi sebuah hidangan makanan, kita sibuk ingin mengupdate nya segera ke media sosial, kemudian setelah itu sibuk bulak balik melihat notifikasi berapa orang lain di luar sana, yang me-like, yang berkomentar, sedangkan sebenarnya moment di mana raga ia berada, dia tidak menikmatnya, ia tidak hadir di raga dimana  ia sedang berada saat itu.

Sedang liburan, memikmati  pemandangan alam, alih alih benar benar menikmati pemandangan alam, yang kita lakukan adalah megabadikannya, dan kemudian sesegera mungkin mengunduh nya ke media sosial. Lalu setelah itu mata kita sibuk mengecek lagi lagi berapa yang like, siapa yang komentar… are we really enjoy our beautifullness and joy of moment infront of our eyes ??

Ahhh…. sulit memang menjadi manusia yang “Present Moment” manusia yang sadar, yang hadir secara utuh, karena kadang kita memang sengaja menjadikan kita sendiri manusia yang tidak utuh.

Lalu apa ruginya menjadi manusia yang “tidak utuh” …. ?

Bersambung yaa… hhee

Karena saya juga sedang mencari tahu lebih dalam, dan sedang belajar menjadi manusia yang “Present Moment” , biar hidup dengan lebih sadar,  lebih utuh, lebih mindfullness. Ini tulisan refleksi diri …

Ada yang bisa kasih masukan atau tambahan …. ?