Pengalaman Pahit Masa Kecil Dengan Kementrian Agama

Kementerian-Agama

Beberapa pemberitaan tentang peristiwa jual beli jabatan di kementrian agama akhir akhir ini, membawa memori saya ke belasan tahun yang lalu, ketika bapak saya meninggal.

Apa hubungannya kementrian agama dengan almarhum Bapak saya ? Jadi almarhum, adalah seorang guru di lembaga pendidikan yang ada di bawah kementrian agama. Bapak meninggal di tahun 2002, meningalkan istri dan anak yang masih di usia sekolah saat itu.

Saya  masih ingat saat itu, sepeninggalan bapak,  Ibu saya mengajak saya untuk mengurus samacam santunan duka ke kementrian agama kota (saat itu masih disebut dengan DEPAG – Departemen Agama)

Masih lekat peristiwa waktu itu, seorang pegawai lalu menyapa kami, menanyakan keperluan kami. Setelah dijelaskan beliau melihat kelengkapan dokumen yang sudah ibu saya siapkan. Kemudian di akhir pembicaraan, beliau berkata  kurang lebih seperti ini  “Buu… tong hilap weh kanggo abdi na, bisanana mah 10%  ” Kurang lebih artinya seperti ini “ Bu, jangan hilap buat saya ya, biasanya  10 %…” sambil tersenyum penuh makna

Kemudian saya lihat sesuatu di wajah  ibu saya, semacam gabungan ekspresi kaget, marah sekaligus sedih. Lalu ibu saya menjawab kurang lebih ” Pa, ini uang untuk anak yatim …” si bapak menjawab “Nu sanes ge sami da tos biasa, nya atos sabaraha wae lah bu ….” ; ”  yang lain juga sama, sudah biasa ko, ya udah berapa aja kalau begitu ….”

Saya melihat wajah ibu saya sedikit berkaca kaca, menahan tangis barangkali. Yang saya mengerti saat itu, si bapak petugas meminta “jatah” santunan uang duka yang menjadi hak kami. Uang yang akan menjadi bekal ibu saya membesarkan anak anak nya, uang yang sebenarnya tidak terlalu besar juga, namun oknum petugas ini masih meminta jatah yang sama sekali bukan haknya.

Padahal beliau pun sudah  dibayar  oleh pemerintah untuk melakukan tugas nya. Tega ! Barangkali itu yang mewakili perasaan kami saat itu. Ditengah suasana kami yang masih berduka, ditambah dengan peristiwa saat itu, seperti menggoreskan luka yang dalam.

Sepanjang perjalan pulang di angkot saat itu, saya melihat ekspresi kecewa, marah dan sedih di wajah ibu saya. Dan saya pun merasakan hal yang sama.


 

Peristiwa belasan tahun yang lalu itu sangat kuat melekat dalam ingatan saya, hingga saya dewasa. Apa saja yang berhubungan dengan Kementrian Agama (DEPAG) saat ini, ingatan saya kembali ke peristiwa itu. Saya semacam menyimpan memori yang dalam di alam bawah sadar saya tentang kementrian agama ini, hingga sekarang.

Hingga, pemberitaan kemarin tentang kasus jual beli jabatan di kementrian agama yang sedang ramai di media, ingatan saya kembali ke belasan tahun lalu. Dalam hati berkata ” Ya Allah, masih juga seperti ini …” 

Saya tahu, di kementrian agama pasti banyak juga orang orang yang masih lurus, masih menjaga keamanahan dan profesionalitas mereka, berjuang agar kementrian ini menjadi kementrian  bersih, jujur, yang bisa dipercaya, dan benar benar menjalankan fungsi nya untuk masyarakat.

Namun, tidak bisa dipungkiri, di masyarakat masih kuat melekat tentang bagaimana kementrian yang seharusnya menjadi lembaga pemerintah yang  paling amanah, karena mengusung nama AGAMA, tapi faktanya menjadi kementian yang paling banyak melakukan praktek  penyimpangan, yang dilakukan dari jabatan yang paling bawah, hingga jabatan paling tinggi.

Saya menjadi bertanya tanya, apakah ini  adalah budaya yang diwariskan turun temurun, nilai yang di turunkan dari generasi ke generasi, nilai yang dijaga dan dipelihara secara tersirat, sehingga di jadikan sebuah permakluman , ” ahh sudah biasa, yang lain juga begitu, yang sebelum sebelum saya juga begitu … “. Generasi tua mewariskan contoh  kepada yang muda, yang muda melihat, mendengar, dan menyaksikan dan kemudian “meneladani” cara caranya. Begitu terus lingkaannya. Astagfirullah ….


 

Mungkin cara yang terbaik adalah perombakan besar besaran untuk kementrian ini, dimulai dari pimpinan tinggi, stuktur, departemen2 di dalamnya, cara perekrutan, sistem, transparansi, budaya, bahkan mungkin merubah hal hal seperti visual, seperti suasana, warna, seragam, logo kementiran, ll menjadi sesuatu yang benar benar baru, fresh … !

Agar ada persepsi baru terhadap kementrian ini, baik persepsi internal, hingga siapapun yang ingin masuk ke depertemen ini, sudah membawa mind set “kejujuran” juga persepsi eksternal, agar persepsi di benak publik pun benar benar bisa berganti kepada kementrian ini. Dari yang saat ini sedikit banyak, maaf “Untrustable” menjadi “Trusable”


 

Akhirya -Bagi saya-  kenyataan hari ini, bukan berarti kenyataan mutlak di masa depan. Saya pribadi masih menyimpan harapan. Asalkan ada perubahan yang mendasar di kementrian ini. Ibarat rumah yang sudah bobrok, yang dibutuhan bukan saja merenovasi rumahnya, seperti memperbaiki tembok, lantai, atau atap nya saja.

Tapi mungkin yang dibutuhkan adalah merobohkan dulu bangunan lama, mengkokohkan dan mengatur ulang pondasi nya, mendesign ulang bangunannya, interior dan eksterior yang benar benar baru, dan terakhir menyeleksi  benar benar para penghuni yang layak tinggal di dalamnya

Harapan akan selalu ada, terutama kepada kementrian yang mengusung dan mengurus kepentingan masyarakat yang berhubungan dengan AGAMA. Tidak hanya untuk kita, tapi untuk kepentingan generasi kita yang akan datang. Kementrian ini sangat besar peran dan fungsi nya. Sebagai lembaga yang akan membantu masyarakat menagakan nilai nilai agama, nilai nilai moral, nilai nilai kebaikan yang sangat dibutuhan negri ini

Tentunya pemangku kekuasan mempunyai andil yang paling utama untuk bagaimana kementrian ini kedepannya. Apakah mau dibiarkan begitu saja, dengan budaya yang sepertinya sudah kuat mengakar, atau akan dijadikan prioritas yang akan diurus dalam program program nya.

Karena justru yang paling penting untuk membagun negara , selain membangun infrastuktur, adalah bagaimana membangun sumber daya manusia yang jujur, bersih, amanah dan profesional. Semegah apapun infrastuktur yang sebuah negara miliki, namun tanpa sumber daya manusia yang berkualitas -apalagi petugas pemerintahan- maka negri ini tidak akan kemana mana.


 

Ah, sudah sekian dulu …

Tidak ada niat apa apa, hanya sedikit berbagi sekelumit cerita, pengalaman, kenyatan dan harapan dari seorang anak negri yang mencintai negara nya. 

Semoga Bermanfaat,

Bandung, 22 Maret 2019

Nuriska

Advertisements

Mencari “Ruang Sendiri”

wp

Setelah merasa ada kondisi yang “stuck”, akhirnya saya memutuskan untuk sejenak “menghilang” sejenak dari keramaian, terutama dari keramaianan dunia maya.

Kurang lebih selama empat lima saya memutuskan untuk mengnonaktifkan segala hal yang berhubungan dengan dunia maya, juga mengurangi interaksi dengan keramaian yang ada di dunia nyata. Handphone hanya saya aktifkan untuk telfon dan sms saja, beberapa pertemuan dan janji saya tunda sementara. Saya butuh benar benar sendiri dan butuh ruang sunyi.

Sayangnya ruang sunyi atau sendiri itu ga bisa hanya diam dirumah, mengunci kamar, atau diam semedi di kamar mandi. Malah kalau hanya berdiam diri kita tidak mendapat “apa apa”, tidak mendapat jawaban atau pencerahan yang kita cari. Hanya diam dirumah, mengunci diri, biasanya hanya menghasilkan kejenuhan dan pikiran yang malah tak teratur merajalela.

Akhirnya kemarin saya memutuskan untuk menghampiri “Ruang Sendiri” dengan pergi ke luar kota, yang tak begitu jauh dari kota Bandung. Saya memilih kota yang bisa ditempuh dengan kereta. Karena perjalanan nya sendiri pun kadang kala adalah sebuah tempat untuk berfikir yang nyaman.

Pergi sendiri, melihat suasana baru, berjalan kaki di kota yang baru, berjumpa dengan orang orang baru, sesekali berbicara dengan mereka, membaca buku, membuat catatan catatan ketika ada lintasan pikiran, kesadaran atau pencerahan, dan sisanya adalah benar benar menikmati “Ruang Sendiri”. Tanpa gawai, tanpa banyak percakapan, tanpa banyak gangguan.

Di perjalanan itu saya lebih banyak untuk menilisik diri ( hhaa … bahasanya menelisik)^^, banyak mendengarkan diri, menyimak isi hati, mencari tau apa keinginan terdalam, menggali apa kesalahan diri, mencari tahu apa kesalahan pemikiran dan persepsi yang selama ini di imani.

Saya sangat menikmati saat saat seperti ini, ga sibuk tengok tengok gawai untuk cek notifikasi, ga juga bernafsu untuk mengupdate status saya sedang apa dan lagi dimana, atau memberitakan apa yang sedang saya rasa. Ingin menjadi manusia yang “Present Moment” saja.

Pernah ada yang nanya juga sih, seorang teman tentang kebiasaan saya seperti ini :

” Trus kerjaan kamu gimana , target kamu gimana, kan sayang beberapa hari ga ada kegiatan….?”

Saya rasa dunia ramai dan dunia sibuk itu tidak akan ada habisnya. Apalagi dengan dunia digital yang tak pernah tidur ini. Kita semacam digiring untuk selalu terbuka kepada dunia 24/7, diminta selalu mengikuti setiap informasi yang ada, beromba lomba untuk menampakan diri. Eksisitensi sebagai manusia di cirikan dengan tampak tidak nya dia di timeline. Berlomba lomba untuk menjadi yang pertama tahu, dan yang paling pertama menyebarkan nya pada dunia

Ga salah sih… memang ini zamannya, zaman yang banyak juga kebaikan didalamnya

Namun, saya rasa kita tetap butuh ruang untuk “kembali” kepada diri kita lagi, kembali untuk mengunjungi diri kita lagi, melakukan monolog dengan diri kita sendiri, mengecek kualitas diri kita, dan yang terpenting mengecek bagaimana kualitas diri kita dengan Sang Pencipta.

Dan rasanya itu akan agak berat, saat kita terus menerus dalam keramaian, dalam bertubi tubi nya notifikasi yang tak pernah berhenti, dalam keinginan scroling layar yang membuat ketagihan, dalam percakapan percakapan di keramaian.

Maka bagi saya “Ruang Sendiri” adalah sebuah kebutuhan, untuk sebagai ruang merenung, ruang berfikir, sekaligus ruang untuk memilih dan menyiapkan langkah langkah besar.


Itu dia ceritaku, bagaimana dengan kamu ?

Apakah kamu memiliki “Ruang Sendiri” juga kah … ?

Sharing dong …… 🙂

Salam Dari Kota Bandung,

Yang Sedang Menghangat Udaranya

Manusia “Setengah Setengah” Di Dunia Digital

Nah … ini dia salah satu dilema yang dialami oleh manusia “setengah setengah” – seperti saya – di dunia digital seperti sekarang. Manusia “setengah setengah” maksudnya gimana ? Ah ini istilah saya aja, untuk menggambarkan situasi saya saat ini. Bisa dikatakan saya seseorang yang setengah ekstrovert dan sebagian diri saya yang lain adalah introvert.

Bidang pekerjaan dan aktifitas saya adalah bidang yang benar benar berhubungan dengan banyak orang, butuh selalu “update” agar selalu terlihat dan eksis, terutama dalam dunia media sosial. Selain itu “dituntut” untuk bisa selalu fast response, ketika ada klient menghubungi. Jenis aktifitas yang menuntut saya selalu ONLINE.

Pekerjaaan pekerjaan extrovert dan interpersonal kalau bisa dibilang. Pekerjaan yang selalu membuat kita terlibat dengan orang lain, pekerjaan yang memang menuntut kita selalu “keep in touch” dan “easy to reach” . Saya menikmati sebenarnya, karena saya memang senang dengan aktifitas yang berhubungan dengan orang lain, bersosialisasi, berinteraksi, dan semacamnya.

Dilain pihak, saya pun orang yang introvert. Bukan berarti tertutup, tapi lebih kepada pemikir dan perenung. Saya seringkali membutuhkan waktu sendiri, yang benar benar sendiri di saat saat tertentu. Ketika saya butuh berfikir hal hal yang mendasar, atau butuh berdialog dengan diri sendiri, saya agak kesulitan ketika masih berada di “dunia ektrovert” saya.

Ketika sedang butuh dengan dunia yang “sunyi” agar bisa lebih jernih berfikir, lebih objektif melihat, lebih bijak mengambil langkah, agak sulit bagi saya, untuk di satu waktu berfikir dan tetap “on line” dengan dunia luar. Terlalu banyak distraksi, terlalu banyak pengalihan, kita tidak akan pernah selesai untuk “melayani” deras nya informasi dan permintaan dari luar. Benar … ?

Pernah saya, membuat jadwal waktu. Misalnya dari subuh sampai jam 07.00 saya tidak akan membuka hp, untuk chek aplikasi chat atau pun medsos. Dan jam 21.00 – sampai waktu tidur saya tidak membuka HP. Fokus pada diri sendiri dan apa yang benar benar ada di depan mata, keluarga dsb.

Tapi , pada kenyataannya dunia tidak semudah yang kita mau ternyata ….

” Kamu kemana aja sih, ko wa ku ga dibales beles …..”

” Ko, jarang komentar di grup ….”

” Ko, jarang jarang lagi update status ama ig stories, kemana aja ….”

Kalau ini mungkin saya masih bisa mengabaikannya. Tapi ketika berhubungan dengan pekerjan dan klient

” Mba, ko lama yaa dibales nya, saya butuh data nya segera….”

” Ko, slow response yaaa…, harusnya mudah dihubungi dong, kalau saya butuh apa apa”

Nah, dilema nya disitu, saat kita waktu untuk “ruang sendiri” kita, di sisi lain kita dituntut untuk selalu “ada”

Ada yang pernah merasakan hal yang sama ?

——————-

Bersambung …..

Ada Apa Dengan “Taman Dilan”

Beberapa hari yang lalu, media sosial lumayan ramai dengan berita “Taman Dilan” yang diresmikan oleh Bapak Gubenur Ridwan Kamil. Makin ramai ketika “urang Bandung” mulai membahas sekaligus mempertanyakan tentang, kenapa sih mesti ada yang namanya “Taman Dilan” ….. ?

Pertama saya tahu berita ini dari sebuah account IG. Dalam hati langsung bilang ” Duhhh ko ga penting bangettt yaaa “, memang Bandung sedang membangun iconic nya dengan taman, dengan berupa tema. Namun peresmian “Taman Dilan” ini sungguh jadi kontrovesi di masyarakat, terutama masyarakat Bandung

Saya penasaran juga dengan tanggapan netizen akan hal ini. Saya telusuri komen komen di postingan yang membahas hal ini, juga di account IG Bapak Gubernur, dan juga media elektronik yang mengangkat isu ini.

Diluar dugaan, tanggapan mereka kebanyakan – para kaum millennials – rupanya “tidak setuju” akan adanya taman ini. Nada protes di lontarkan oleh para anak anak millenals ini, baik di account IG berita, juga di account JABAR 1.

Padahal mungkin tujuannya agar taman ini bisa menarik perhatian kaum millennial

” Siapa sih dilan, sampai dibuatkan taman? “
” Emang apa jasa dilan buat Indonesia ? “
Ini taman ngajarin pacaran ala2 dilan gitu maksudnya … ?

Dan tanggapan tanggapan lainnya, sampai dihubung hubungkan dengan kondisi permasalahan masyarakat JABAR yang masih butuh prioritas lain, dibandingkan mengurus hal hal yang mereka anggap “receh” seperti ini. Sampai dihubungkan dengan kepentingan perolehan simpati suara untuk PEMILU APRIL 2019 nanti, dsb.

Namanya juga netizen, bebas buat berkomentar mungkin yaaa… hhe

Saya lebih tertarik pada tanggapan JABAR 1 dalam berita di sebuah media, ketika para wartawan menanyakan tanggapan beliau, tentang kontroversi “Taman Dilan” ini. Jawaban beliau kemudian adalah bahwa taman ini punya tujuan meningkatkan literasi. Karena film dilan itu diangkat dari sebuah novel yang sukses best seller, di film kan, dan kemudian masuk jajaran film terlaris di Indonesia

Karena saya bergerak di bidang literasi, saya lebih tergelitik untuk bertanya, literasi apa yang di dimaksud ? Rasanya agak masih belum bisa mengambil irisan antara dan keterkaitan antara novel dilan, film dilan, dan dibangunnya sebuah taman …

Apakah dengan ada “Taman Dilan” ( atau katanya itu sebuah sudut saja ) itu akan membuat orang tergugah membaca, berliterasi ? atau setidaknya disitu akan dibangun perpustakaan kecil atau quote quote penggugah, agar orang orang diajak untuk membaca, sebagai gerbang awal berliterasi

Padahal berliterasi tidak hanya perkara baca buku, lalu selesai. Tanpa memperhatikan konten dalam buku tersebut. Dalam literasi itu ada proses berfikir tentang baik – buruk, benar – salah, bermanfaat atau tidak.

Kalau berliterasi cukup dengan membaca novel, kemudian apa2 di dalam nya ditiru tanpa ada proses berfikir, maka itu bukan berliterasi. Apalagi apabila sampai membawa manfaat yang buruk.

Saya tidak antipati dengan film atau novel dilan. Saya pun pernah membaca bukunya, dan film pertama saya sempat nonton juga. Namun apabila Fenomena Dilan ini semacam ditasbihkan dan kemudian di benarkan dengan dibuat monumen, taman atau yang semacamnya, menurut saya pribadi hal ini berlebihan.

Tak hanya berlebihan, tapi “Taman Dilan” ini bisa jadi semacam pembenaran dan dukungan akan apa yang dilakukan oleh seorang Dilan yang sebenarnya hanya tokoh fiksi saja. Tidak ada nilai yang sangat terasa dari tokoh utama ini, untuk dijadikan panutan generasi muda. Untuk sebatas hiburan, boleh lah ….

Masih wondering aja sampai sekarang, ko bisa pa JABAR satu meresmikan “Taman Dilan” itu, yang sekarang jadi kontraproduktif di masyarakat. Kalau hanya untuk membantu gimmick2 film biar fantastis, popularitas, atau membuat viral, rasanya sangat mubazir. Lebih dari itu, masyarakat saat ini -juga generasi muda- sudah lebih cerdas untuk menilai sesuatu apakah itu perlu atau tidak, urgen atau tidak, bermanfaat atau tidak

Sekian ….

Kamis, 28 Februari 2018

Curhatan mojang Bandung, yang suka film, suka taman, cinta Bandung

Every Body Need Idol

Setiap orang butuh idola.  Beberapa fenomana yang saya amati, interaksi dengan berbagai komunitas, percapakapan mendalam dengan beberapa kawan, Akhirnya saya ada di titik keseimpulan itu.

Seorang manusia di usia berapapun dia butuh orang yang bisa dia lihat, dia jadikan figure, yang akan menjadi tolak ukur, panutan dalam melakukan sesuatu. Bahkan figure ini akan menjadi “kiblat”  untuk dia dalam pola pandang dan pola berfikir nya.

Dalam sebuah percakapan dengan kawan kawan dari komunitas punk hijrah , mereka bercerita, tentang bagaimana pengaruh grup band favorit mereka yang tidak hanya mempengaruhi gaya bermusik mereka, namun juga mempengaruhi pola pandang mereka.

Saat sang idola mengatakan sesuatu hal, atau menyatakan suatu pandangan tentang kehidupan misalnya, maka hal itu akan menjadi semacam “petuah” bagi mereka. Apa yang diyakini oleh idolanya, seringkali akan menjadi keyakinan pengikutnya juga. Terlepas benar atau tidak apa yang diucapkan sang idola. Karena yang dilihat bukan tentang isi, tapi karena siapa yang menyampaikannya. Idola nya

Balik lagi, tentang butuhnya manusia akan idola atau figure. Waktu kecil orang tua atau lingkaran keluarga terdalam akan jadi idola kita. Beranjak ke usia sekolah, kita mulai mencari idola diluar dari lingkaran keluarga, misalnya guru kita

Beranjak dewasa ketika kita mulai melihat banyak hal, idola kita mulai berubah, seiring dengan kecendrungan dan passion kita, bidang profesi kita, atau hobi kita. Walau kadang kita tidak sadar bahwa kita mengalami masa pencarian idola tersebut.

Yang suka musik, maka naluri nya akan mencari musisi siapa yang “pantas” jadi ia jadikan idola, yang suka dengan dunia pendidikan maka ia akan mencari tokoh yang pemikiran atau tindakannya membuatnya kagum, yang dunia bisnis ia akan mencari siapa tokoh yang ia anggap sukses dalam bisnisnya.  Yang suka dengan dunia perpolitikan, ia akan mencari tokoh yang pemikirannya membuat ia terpesona. Tanpa disadari setiap kita pasti mencari sebuah figur, tokoh, panutan, idola.

Kenapa sih manusia butuh idola ? Akhirnya saya berfikir seperti itu. Mulai deh baca baca, salah satu hal yang menyebabkan hal ini adalah karena manusia membutuhan penguatan identitas dirinya, siapa sih dia, mau jadi apa dia, apa nilai nilai yang akan diyakininya, maka salah satu cara untuk menguatkan identitas nya, ia akan mencari manusia yang telah ada terlebih dahulu sebagai contoh, panutan atau pegangan.

Naluri nya akan mencari ….

Pertanyaannya adalah, akankah kita sudah “bertemu” dengan idola yang tepat. Atau malah seseorang yang kita “idolakan” selama ini adalah seseorang yang bisa menghantarkan kita ke arah kebaikan atau sebaliknya.

Apalagi, kalau dikaitkan dengan generasi muda sekarang, dengan begitu banyak figure yang bermunculan, apakah mereka sudah benar dalam memililih idola ? apa efek yang akan ditimbulkan ketika mereka salah memilih idola ? lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka “memilih” idola yang tepat ?

Nah … pertanyaan itu sedang bermunculan dalam kebun pikiran saya

Mungkin akan saya bahas di tulisa berikutnya, setelah saya mulai bisa menguraikan jawaban nya …. ^^

 

Kebun Pikiran

Bandung, 7 Februari 2019

 

Bijak Itu Tidak Tiba Tiba

Seperti pendewasaan, sikap bijak pun tidak datang tiba tiba. Kalau kita lihat dan mungkin kagum dengan orang yang kita nilai bijak, mungkin di balik itu semua ia telah mengalami banyak hal. Entah itu mungkin ujian, musibah atau bahkan penderitaan. Dibalik bijak nya sikap seseorang mungkin, telah bertubi tubi hal datang pada dirinya. Tak hanya sekali, dua kali , bahkan mungkin berkali kali.

Telah banyak barangkali kita saksikan cerita atau disekitar kita, bahwa orang yang bijak adalah mereka yang hadir dari penderitaan, matang karena ujian, lahir dari sebuah tempaan. Ia tumbuh dari jalan hidup yang tidak mudah.

Barangkali ada, orang yang jalan hidupnya lurus lurus saja, tapi ia mampu bersikap bijak. Ia juga istimewa, karena ia senang belajar, senang mengambil hikmah, rendah hatinya, hatinya terbuka dan gemar ia mendengar.

Yang jelas, bijak itu tidak tiba tiba. Ia akibat dari sebuah proses. Sebuah proses panjang yang awalnya mungkin ia pun tidak bisa bijak menyikapi atas apa yang hadir dalam jalan hidupnya -cobaan, ujian, penderitaan-. Awalnya pun ia tidak rela, ia memilih tidak menerima. Kemudian yang ia tidak suka itu, justru malah terus menerus hadir dalam hidupnya, seakan tiada yang tahu kapan akan berlalu.

Namun dimasa masa itu, ia pun akhirnya dipaksa untuk belajar. Belajar menghadapi segala sesuatu yang ada diluar kuasanya dan belajar untuk memahami dirinya. Ia memproses dirinya, ia belajar faham, ia belajar memperbaiki, dan mau mengakui apa yang lemah dalam diri. Ia belajar untuk bisa berdiri, sesakit apapun jalan hidup yang ia alami.

Sehingga jalan panjang hidupnya, melahirkan saripati kebajikan dan kebijaksanaan. Bahwa hidup memang adalah soal soal yang mesti kita temukan jawabannya. Bahwa hidup adalah berupa kepingan gambar yang mesti kita susun hingga jelas terlihat gambaran besarnya. Bahwa hidup tidak tentang bagaimana kencang berjalan, tapi tentang bagaimana jernih melihat arah tujuan.

Maka, bila kau lihat ada orang yang kau anggap bijak. Maka ia adalah hasil dari tempaan usia atau temaan peristiwa. Tidak mungkin ia tiba tiba ada.

Tentang Rasa Syukur Dengan Produktifitas

bersyukur

Adakah korelasi nya antara rasa syukur kita dengan produktifitas ?

Ternyata ada rasa syukur kita bisa berkelindan dengan produktifitas kita, apapun yang sedang kita kerjaan. Baik produktifitas kerja, produktitas menajemen diri, produktifitas kita berkarya, dsb. Saya pun baru ngeuh dengan hal ini.

Walau belum benar benar rutin setiap hari melakukannya, saya mempunyai kebiasaan untuk menuliskan rasa syukur, dalam sebuah buku khusus, yang dinamakan “Jurnal Syukur”. Jadi ini adalah buku khusus, berupa catatan harian, yang berisi tentang hal hal yang kita syukuri setiap hari. Ini tulisan saya di blog sebelumnya tentang jurnal syukur.

Dan hari ini saya menemukan manfaat lain dari menulis jurnal syukur ini, yaitu PRODUKTIFITAS.

Hari ini sebenarnya adalah pagi yang kurang ceria bagi saya, sedikit gloomy. Ada rasa malas untuk memulai beberapa dead line pekerjaan. Lalu saya memutuskan untuk mengambil jurnal syukur saya. Saya ingat ingat lagi beberapa hal di hari kemarin, dan mulai menulis.

Saya menulis tentang rasa terimakasih saya kepada Allah Swt atas beberapa kemudahan dan kelancaran aktifitas hari kemarin, saya tulis tentang rasa terimakasih saya diberikan kesehatan, diberikan keselamatan selama perjalanan. Saya tulisakan juga rasa terimakasih saya tentang beberapa konsep, ide, gagasan yang kemarin DIA berikan kepada benak saya, saya lanjutkan juga tentang rasa terimakasih atas beberapa masalah yang kemudian bisa saya hadapi.

Tak lupa, saya tuliskan juga tentang terimakasih untuk rasa nyaman, rasa tenang, perasaan optimis yang masih ia izinkan bersemat dalam hati saya. Saya juga tuliskan tentang rasa terimakasih atas masih diizinkan untuk masih bernafas dengan leluasa sehingga masih bisa berkarya.

Masya Allah, sebenarnya bila kita hitung satu satu, tak cukup rasanya satu halaman buku, untuk menuliskan betapa banyak kebaikan yang Allah berikan untuk kita …

Dan setelah menuliskan beberapa rasa syukur dan rasa terimakasih yang saya rasakan di hari sebelumnya, tangki semangat saya seperti diisi ulang lagi, seperti tanaman yang sedang layu, kemudian diberikan siraman air di pagi hari, segar …..

Saya tak mau menyia nyiakan begitu banyak nya kebaikan, anugrah, nikmat yang Allah berikan kepada saya. Saya tidak mau Allah kecewa, sehingga mencabut kebaikan kebaikan itu, saya tidak mau menyiakan kepercayaan-Nya kepada saya.

Produktifitas saya kembali lagi. Saya langsung bergerak, melanjutkan lagi apa yang telah saya mulai. Menjalankan lagi peran peran yang Allah percayakan kepada saya. Mensyukuri atas kepercayaan yang ia beri untuk saya, untuk tetap menjadi manusia bermanfaat.

Hari ini saya merasakan, bahwa rasa syukur, rasa terimakasih kita kepada-Nya adalah sebuah kekuatan yang akan kembali lagi untuk kita.

Hari ini saya meraskan bahwa salah satu kebaikan dari rasa syukur adalah meningkatkan produktifitas.

Terimakasih Ya Allah ….

Bandung,

21 Januari 2019

Sebuah Jawaban Atas Pertanyaan

Manusia memang bukan manusia yang bisa stabil sepenuhnya. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa kita akan terus on the track selamanya. Kadang kita sudah tau ilmunya, tapi saat harus menjalankannya, ternyata tidak mudah begitu saja. Kadang juga kita lupa, lupa atas nasihat nasihat itu semua.

Kadang kita gamang dalam menghadapi gejolak pikiran dan perasaan. Kita sibuk mencari pegangan, pandangan atau bahkan pembenaran. Seperti akhir akhir ini, ketika saya merasa butuh sebuah jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang terus bersahutan dalam pikiran. Saat saya harus menghadapi turun naiknya gelisah perasaan yang seperti tidak berkesudahan.

Manusia adalah makhluk persepsi. Ia kadang terkadang tenggelam dalam persepsi nya sendiri, atau bahkan termakan persepsi yang datang dari kanan-kiri-depan-belakang. Dan sungguh persepsi itu kadang seperti lingkaran yang ingin kita urai, namun kita sendiri kebingungan dari mana mengurai nya.

Lalu hari ini, Allah membimbing saya pada Ayat-Ayat Nya ..

Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (An-Nahl 77)

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (An-Nahl 78)

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman. (An-Nahl 79)

Masya Allah, tiga ayat yang berturut turut ini, seperti mengingatkan kepada saya bahwa banyak hal hal yang memang tidak atau belum saya mengerti tentang hakikatnya, tentang tujuannya. Hal yang bagi saya begitu misteri, begitu tersembunyi, hal yang saya tidak mengerti mengapa terjadi atau mengapa belum terjadi.

Kemudian ayat kedua, seakan akan Allah berkata kepada saya, For Not To Worry. Dulu pun waktu pertama dilahirkan, kita benar benar tidak tahu apa apa tentang dunia, tapi Allah bekali kita dengan indera, dengan kemampuan untuk bisa melihat, membaca, mendengar dan memahami, hingga sudah sejauh ini saya bisa memapahi kehidupan.

Bisa saja Allah tidak membekali itu semua, bisa saja, karena ia Maha Berkehendak. Allah seakan akan membimbing saya untuk mensyukuri apa yang telah dijalani, dinikmati, dan dipunyai hingga saat ini.

Ayat selanjutnya mungkin Allah sedang mengingatkan lagi, bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Seperti Allah menjadikan burung burung bisa terbang bebas, tanpa campur tangan manusia. Sedangkan manusia, membutuhkan tekhnologi yang sangat rumit untuk bisa berada diudara. Bagi-Nya mudah saja.

Tiga ayat bertutut turut ini, seperti jawaban atas pertanyaan pertanyaan saya yang terus berputar dalam fikiran dan perasaan. Sampai dibeberapa ayat selanjutnya, yang berbunyi :

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (An-Nahl 96)

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(An-Nahl 97)

Allah ngingetin saya lagi, untuk lebih faham bahwa apa yang kita punya, baik itu yang tangible atau yang intangble akan lenyap. Materi, keluarga, harta, fisik, kemampuan, kepintaran, rasa, waktu, keinginan, peluang, masalah, apapun itu, yang bersifat duniaw,i akan lenyap, hilang saat Allah menghendakinya.

Terakhir Allah ingatkan saya (lagi) untuk bersabar. Sabar dalam arti yang benar. sabar yang berupa kombinasi ikhtiar dan ketawakalan. Sabar dalam mentaati kehendaknya. Karena IA pun berjanji setiap apa yang kita kerjakan dalam kebenaran, Allah sudah siapkan balasan-Nya. Balasan yang lebih baik dari apa yang telah kita kerjaan, lebih baik dari apa yang kita usahakan, lebih baik dari apa yang kita perjuangkan. Dan Allah tidak akan menyalahi janji.

Yakin lah selalu bahwa Allah lebih mengetahui yang terbaik bagi kita, bersyukurlah atas apa apa yang telah ia beri kepada kita, tak usah khawatir, karena Allah maha berkehendak, mudah bagi IA yang sedang mengatur semuanya.

Bersabar adalah jawabannya, bersabar untuk selalu melakukan kebaikan, kebenaran dalam pengabdian kepada-Nya. Karena ia telah menjanjikan hal yang jauh lebih baik bagi kita


Ah ..tulisan ini sesungguhnya adalah nasihat untuk diri saya sendiri, karena saat saya menulisakannya kembali seperti ini, saya mendapat lebih banyak lagi penyadaran. Apabila ada teman teman yang turut membaca, semoga ada manfaat yang bisa di dapat. 🙂

Bandung, 19 Januar 2019

Do’a Do’a Rahasia

doa doa rahasia 2

 

Pernahkah kau berbisik pada-Nya tentang berbait do’a do’a rahasia

Do’a yang bukan tentang mu, bukan tentang inginmu, bukan tentang harapmu, atau tentang deretan sedu sedanmu

Pernahkah kau berpanjat pada-Nya sederet do’a do’a rahasia

Do’a istimewa untuk dia, untuk mereka

Do’a untuk dia sedang berikhtiar bertemu dengan sahabat sejiwa

Do’a untuk dia sedang berusaha sekuat tenaga, mencari rizki untuk membayar hutang dan memenuhi kebutuhan keluarga

Do’a untuk dia yang sedang berjuang jiwa raganya, melawan sakit , yang berjuang agar bisa sehat seperti sediaka kala

Do’a untuk dia yang sedang berupaya menyembuhkan luka di batinnya, yang sedang ingin kembali menyala jiwanya

Do’a untuk dia yang sedang memperjuangkan adanya buah hati penyejuk jiwa

Do’a untuk dia yang sedang gundah gulana hatinya, sedang dirundung duka yang tak berkesudahan rasanya

Do’a untuk dia yang sedang berjuang menafkahi keluarganya, menjaga kehormatan dirinya

Do’a untuk dia  yang berjuang mempertahankan rumah tangganya, agar tak berguncang Arsy diatas sana, agar tak benci Allah kepadanya

Do’a  untuk dia yang sedang berjuang melawan kehendak buruk dalam dirinya, berjuang agar tak terjerembab, berjuang agar tetap menjadi manusia mulia

Do’a untuk dia yang sedang menempuh jalan kebaikan, yang menempuh jalan kebermanfaatan, yang memilih hidup dalam pengabdian

Do’a untuk dia yang berjuang mempertahankan keyakinannya, memeluk keyakinannya, kepada yang Maha Pencipta

Do’a untuk dia yang sedang mencari kebenaran sejati, mencari kebenaran yang bermuara kepada Tuhan Yang Esa

——-

Do’a kan dia yang tiba tiba terlintas di ingatanmu

Do’a kan dia yang berjasa dalam jalan hidupmu

Do’a kan dia yang pernah menggores warna dalam hatimu

Do’a kan dia yang pernah lekat dalam ingatanmu

Do’a kan dia yang pernah membuatmu  bahagia

Do’a kan dia yang pernah membuatmu kecewa, bahkan terluka

Do’a kan dia yang pernah atau masih kau cinta

Do’a kan dia yang pernah bersama mu berkarya

——-

Do’a kan dia yang bahkan kau tak pernah tau namanya

Do’a kan dia yang kau lihat sedang menjajakan dagangannya

Do’a kan dia yang sedang menunggu panggilan penumpang online nya

Do’a kan dia yang sedang menyapu jalanan, yang sedang mengatur di perempatan, dan pintu perlintasann

Do’a kan mereka suami istri yang sedang bergandengan tangan di sebuah taman

Do’a kan mereka para pencari ilmu yang sedang berjuang untuk masa depannya

Do’a kan ia yang berpapasan jalan dengan mu,

Do’a kan ia yang bahkan tak pernah kau tau namanya

——-

Do’akan mereka, agar lancar urusannya, agar sehat raganya, agar  tentram jiwannya,  agar bahagia hatinya, agar tenang pikirannya, agar berkah rizkinya, agar terang jalan hidupnya, agar terkabul segala doa doa mulianya, agar dicinta ia oleh Pencipta-Nya

——-

Do’a kan mereka diam diam

Do’a kan mereka  dalam dalam

Do’a kan mereka ketika hujan atau dalam larutnya sepertiga malam

Do’a kan mereka dalam dalam 

Do’a kan mereka dalam diam

——-

Biarkan ini menjadi Do’a Do’a Rahasia 

Antara kita dan DIA

Sang pengabul Do’a Do’a Rahasia

 

Bandung, 16 Januari 2019

Nuriska Fahmiany

 

 

 

Dosen Ala Ala

Jangan sembarang lontarkan keinginan, bisa jadi ia terwujud tiba tiba tanpa kau sangka

Kata orang “be careful for you wish for, you might get it” . Berhati hatilah apa yang kita lontarkan entah dengan niat atau asal terucap, bisa jadi deretan kalimat itu terekam oleh semesta, dan kemudian tersampaikan ke langit, dan sampai di ” Telinga-Nya”, dan kemudian deretan kalimat itu DIA iya-kan, dan apa yang kau ucapkan jadi kanyataan.

Kata kata adalah Do’a,

Ungkapan ini benar adanya, saya mengalaminya (kembali). Kali ini tentang keinginan untuk menjadi Dosen. dan Guru. Terinspirasi dari banyak film pendidikan yang saya tonton, dari cerita teman teman yang jadi dosen dan guru, juga dari buku buku yang saya baca tentang bagaimana perjuangan para guru diluar sana.

Dulu saya kalau cerita cerita sama temen, suka tiba tiba nyelutuk ” Duh pengen dehh jadi dosen, berbagi inspirasi dengan anak anak muda ” namun waktu itu jadi dosen adalah sesuatu hal yang agak mustahil buat saya. Pertama jenjang pendidikan saya yang sampai S-1 dan bukan background pendidikan juga. Di fikiran saya kalau mau jadi dosen, ya berarti harus lanjut sekolah S-2 dulu, baru bisa jadi dosen. Dan proses itu bakal panjang lagi menurutku, Jadi keinginan untuk mengajar di kampus adalah hal yang semacam angan angan saja.

Walau sebenarnya, mengajar bukanlah hal baru bagi saya. Beberapa kali saya juga mengisi berbagai workshop, seminar, dan semacamnya. Namun di kelas kelas informal, bukan resmi di dunia akademisi.

Dan kemudian, sekitar seminggu yang lalu, saya dikenalkan kawan kepada seorang pengurus di sebuah sekolah tinggi di bidang kesehatan di Bandung. Setelah ngobrol ngobrol, beliau menawarkan saya untuk mengisi mata kuliah di kampus tersebut. Masya Allah, saat itu saya langsung flash back ke moment di mana beberapa kali saya berkata ” Duh, pengen deh jadi dosen “

Kata Kata Adalah Do’a

Walau hanya dosen tamu, saya sangat bahagia, dan bersyukur tiada tara. Allah seperti memberi kejutan kejutan yang manis kepada saya. Atas harapan harapan yang ada, walau itu hanya lintasan lintasan keinginan, saya belum PD membawa nya dalam do’a yang lebih serius.

Jadi benar, hati hati lah dengan kita ucapkan. Jangan sembarangan. Tetaplah jaga pikiran, perasaan, dan lisan kita agar terus dalam kebaikan. Karena kita tidak pernah tau, perkataan dan lintasan apa yang kemudian terekam, terbawa ke langit, dan sampai kepada “Telinga-Nya”, dan kemudian ia mengabulkan apa yang ada dalam ucapan, pikiran dan perasaan kita.

Alhamdulillah, terimakasih ya Allah …