Bagaimana Agar Tidak Merasa Minder Dan Rendah Diri

” Bu… saya suka merasa ga punya kelebihan apa apa. Saya jadi suka minder kalau lagi bareng sama temen temen saya. gimana yaa …”

Seorang mahasiswa menghampiri saya setelah saya mengisi Workshop Talents Mapping di sebuah kampus di Bandung. Pertanyaan sang mahasiswa menjadi awal diskusi lebih dalam saya dengan beberapa dari mereka, yang tampaknya memiliki perasaan yang sama.

Sepertinya perasaan dan pikiran “Tidak punya kelebihan apa apa” dialami tidak sedikit padammereka yang berada di usia mahasiswa. Perasaan itu seringkali menjadi sumber utama seseorang menjadi punya perasaan minder, inferior, rendah diri, dsb. Akibat selanjutnya akibat perasaan ini adalah, kita menjadi enggan bergaul, enggan berkarya dan tidak berani untuk maju melangkah.

Diskusi kami pun berlanjut, saya bertanya kepada mereka ; “Apa yang membuat kamu bisa membuat kesimpulan, bahwa kamu tidak punya kelebihan apa apa …” .

Sambil sedikit malu dan ragu mereka salah satu mereka berkata … ” Karena kayanya kalau dibandingkan orang lain, mereka itu bisa lebih keren, berprestasi, banyak teman, mudah bergaul, bisa bemacam macam hal dll, Tapi saya rasanya tidak bisa seperti mereka ….”

Dari percakapan tersebut rupanya inilah penyebab mereka merasa minder, yang pertama adalah karena mereka belum tahu apa yang menjadi keunggulan yang dimilki, yang kedua adalah karena selalu membandingkan diri kita dengan orang lain

Bila kita mengakui Allah Maha Adil, kita akan faham bahwa pada dasarnya setiap manusia pasti mempunyai keunggulan yang membuat ia istimewa dari manusia lainnya.

Namun sayangnya banyak dari kita yang belum tahu apa keunggulan yang dimiliki, hingga seringkali hanya fokus melihat pada apa keistimewaan orang lain, dan tidak berusaha mencari tahu apa yang menjadi keunggulan diri sendiri.

Selain itu kita lebih mudah membandingkan bandingkan keistimewaan orang lain dengan diri kita. Dia punya apa – kita tidak, dia bisa apa – kita tidak. Padahal keunggulan dan keunikan setiap orang itu berbeda beda. Membuat perbandingan satu manusia dengan yang lainnya dengan asal asalan, adalah sesuatu yang tidak tepat.

Lalu, bagaimana cara mencari tahu keunggulan kita ?

Mencari tahu “Siapa Diri Kita” adalah langkah awal agar bisa lebih mengenal dan memaham diri sendiri. Tanpa pengenalan diri yang baik, maka seseorang akan lebih mudah galau, bingung, cemas, terombang ambing, cendrung ikut ikutan dan merasa minder dan rendah diri.

Maka agar tidak menjadi mudah minder dan rendah diri, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah mencari tahu ;

“Siapa sih diri kita ….?”

Apa sih keunikan, keunggulan dan keistimewan yang ada dalam diri kita …?”

Ada banyak cara untuk mencari tahu apa yang menjadi keunikan, keunggulan dan keistimewaan diri kita, diantaranya adalah dengan mengikuti test assesment ilmiah yang bisa membantu mengungkapkan apa yang menjadi keunggulan kita. Selain itu carilah mentor, trainer, atau seseorang yang bisa dipercaya untuk membantu pencarian diri.

Maka berikut adalah beberapa langkah agar tehindar dari merasa minder dan rendah diri :

  • Sadari bahwa “Perasaan tidak punya kelebihan apa apa” adalah sebuah persepsi yang salah. Setiap manusia di bekali Allah Swt dengan kelebihan dan kekuranganya masing masing
  • Tugas manusia selanjutnya adalah menemukan apa yang menjadi bakat, keunikan, keunggulan dan keistimewaannya. Ada berbagai macam test assesment untuk mengetahui bakat dan keunggulan diri kita
  • Milikilah keberanian dan tekad yang kuat untuk mengasah bakat dan keunggulan tersebut. Bertemu dengan banyak orang, bertemu banyak lingkungan, dan berbagai pengalaman
  • Membaca buku, literatur, media digital yang membantu mengasah keunggulan kita
  • Carilah mentor untuk mendampingi & menguatkan diri
  • Mencari lingkungan yang mendukung

Keep learn, explore and inspire !

See you …

Keterangan Foto : Workshop Talents Mapping di kampus STAIPI BANDUNG

Apa Yang Dibutuhkan Otak Kita … ?

Pernah ga sih kita bertanya, tantang apa sih yang dibutuhkan otak kita ?

Kita semua pasti tahu, bahwa otak adalah tempat masuknya informasi, sekaligus tempat dimana informasi tersebut di proses, yang kemudian hasil olahan informasi itu membuahkan pikiran dimana kita mengambil berbagai macam keputusan kehidupan  dari pikiran tersebut.

Nah, oleh karena itu kita perlu rasanya memperhatikan informasi apa yang masuk ke dalam otak. Setuju ?

 

” Yes indeed, We Need To Be Carefull To What See And Hear About….”

 

Bila kita begitu selektif memilih makanan yang masuk pada tubuh, maka seharusnya kita pun melakukan hal yang sama -bahkan lebih- saat memberi “makanan” kepada otak. Sayangnya kita masih abai dan cendrung tidak selektif akan apa yang masuk kepada otak kita. Bener gak ..?

Padahal bukankah otak itu adalah organ penting dalam hidup manusia, karena dari sanalah kita bisa berfikir, bernalar, berkomunikasi, mensikapi & memecahkan masalah, mengambil keputusan , membuat berbagai ide gagasan dan sebagainya. Karena apa yang masuk kepada otak kita bisa menjadi “Panduan” kita dalam menjalankan kehidupan.

Bila otak selalu kita “Suapi” dengan berbagai informasi informasi sampah, “Junk Information” maka itu akan membuat otak dan pikiran kita dangkal atau tidak bisa berfikir jernih dan mendalam, mudah goyah, tidak ajeg, dsb. Sama seperti tubuh, bila terus mengkonsumsi makanan sampah, maka kita pun akan mudah terserang penyakit, atau imun tubuh menjadi lemah.

Begitu pun otak, bila yang kita konsumsi kebanyakan hanya informasi informasi sampah, maka pikiran kita akan tumpul, nalar menjadi tidak tajam, mudah kebingungan, tidak ajeg, dan menjadi gampang terbawa arus, tidak punya prinsip, pendirian, dan tujuan. Ga mau kan …?

Pertanyaannya … bila hanya informasi informasi dangkal tersebut yang kita konsumsi, apakah kita bisa menjadi manusia matang yang bisa bijak dalam menentukan langkah, mengambil keputusan, membuat ide dan gagasan besar nan bermanfaat …?

Maka, yuks kita mulai belajar berhati hati  dalam memberikan makanan pada otak kita, karena apa yang kita masukan baik secara sengaja ataupun tidak sengaja, baik sadar ataupun tidak sadar pada otak kita, akan mengendap, dan akhirnya menjadi pola pikir juga buah pikir.

Bukankah pola pikir itu sangat penting dalam diri seseorang ?

Bila banyak yang kita  konsumsi hanya info info serampangan,  gosip gosip pasaran, peristiwa peristiwa acak, receh, asal viral, asal rame dan menyenangkan, informatif sih … tapi tidak bertujuan, lalu apakah itu sehat untuk otak  dan pikiran kita ? Apa  yang di harapkan dari informasi informasi tersebut ?

Kita abai untuk mulai belajar membaca informasi atau ilmu yang berkualitas, informasi yang memberi makanan sehat dan vitamin bagi otak dan pikiran. Kita tidak memberikan otak dengan ilmu yang mendasar dan mendalam, yang bisa memperteguh pikiran juga hati. Kita merasa tidak perlu membaca buku, mendengarkan para guru. Padahal dari hal inilah kita bisa membentuk pola berfikir yang baik.

Maka ada baiknya kita mulai menyaring apa yang akan masuk kepada otak, melalui pendengaran dan penglihatan. Jangan dianggap remeh, karena hal ini bisa mempengaruhi hidup kita.

Ingin hidup berkualitas, maka mulailah belajat memilah informasi  yang kita dengar apa yang kita baca. Belajar agar penglihatan dan pendengaran kita lebih banyak melihat dan mendengar hal yang akan jadi ilmu, pelajaran, dan hikmah yang baik.

Tidak semudah yang dikatakan memang, namun sangat layak mulai kita belajar untuk memulai dan menjalankan …. 🙂

Bukankah ada pula sebuah ayat Al Quran yang menyatakan bahwa

“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. al-Israa’ : 36)

Bandung, 04 Oktober 2019

Ah …lagi lagi ini nasihat buat diri saya sendiri, yang  masih sering lalai pada penglihatan, pendengaran dan juga hati ….

Perlukah Mengetahui Banyak Hal ?

Banyak yang beranggapan bahwa kita perlu mengetahui banyak hal. Namun yang saya sadari saaat ini bahwa terkadang terlalu banyak tahu, membuat kita menjadi kontra produktif.

Di zaman yang dimana akses informasi begitu deras tiada henti masuk kedalam diri kita, baik sadar ataupun tidak sadar, baik disengaja atau tidak disengaja. Mata dan telinga kita serasa di bombardir dengan berbagai informasi, berita, atau apapun itu. Sebagian barangkali kita butuhkan, namun seringkali informasi atau berita tersebut tidak sama sekali kita butuhkan.

Tapi anehnya apa yang tidak kita butuhkan itu, adalah apa yang kita “senang” untuk mencari berulang ulang, misalnya terlalu banyak mengetahui berita,  terlalu banyak scrolling feed medsos, terlalu banyak memantau status teman, konten konten gosip,  terlalu banyak mengetahui apa yang dilakukan orang lain, bagaimana hidup mereka, bagaimana pencapaian mereka, dsb …

Atau barangkali kita terlalu banyak percakapan dengan yang tidak ada tujuannya, hanya membahas perkara ini itu, peristiwa acak yang seringkali tidak ada hubunganya dengan karya karya kita. Percakapan yang tidak membawa banyak manfaat, bahkan sebenarnya membawa mudharat.

Ini bukan hanya tentang waktu yang terbuang, namun tentang bagaimana berbagai informasi tersebut banyak mengkonsumsi otak kita. Infomasi yang terlalu banyak, acak dan tak beraturan itu tanpa disadari banyak memapar, menyedot, mengambil porsi dan ruang kapasitas otak kita.

Otak kita mempunyai kapasitas untuk memikirkan sesuatu. Apabila otak kita dipenuhi  hanya dengan informasi dan pembahasan yang telalu banyak, acak, dan tak beraturan maka otak kita tidak mempunyai “tenaga” lagi untuk memikirkan fokus atas hal hal yang lebih dalam , lebih berkualitas dan lebih jangka panjang.

Terlalu banyak tahu ini pun tidak hanya tentang informasi yang ada di media sosial, kadang berupa pengetahuan yang “terlalu banyak” kita konsumsi. Hingga fokus kita kadang kepada mengumpulkan informasi, bukan menjalankan apa yang harus kita kerjakan.

Istilahnya ilmu bulan kemarin belum di praktekan, atau belum kita bagikan kembali, kita sudah menumpuk “otak” kita dengan ilmu lainnya. Hingga kita kadang bingung ; “Mana dulu nihh yang mau dikerjain …” hhee ada yang pernah ngalamin ?

Atau kabar tentang apa pencapaian saudara, teman atau lingkungan sekitar. Terlalu banyak tahu kabar tentang orang lain, kadang juga tidak sehat. Karena kemudian kita menjadi terlalu memikirkan hidup orang lain, atau kita menjadi tenggelam dalam membanding bandingkan hidup kita dengan mereka.

Dalam kadarnya “Mengetahui Banyak Hal” atau mempunyai pengetahuan yang luas, bisa jadi baik, bisa menjadi sumberi inspirasi dan  menjadi sumber kebermanfaatan. Namun apa bila sudah berlebihan atau malah yang  kita tahu  tersebut adalah hal yang sifatnya hanya “Sampah” maka itu bisa jadi bomerang bagi diri kita.

Alih alih mencari energi atau agar lebih termotivasi ketika mengetahui  banyak hal atau melihat pencapaian dan kehidupan orang lain, yang kita dapatkan adalah demotivasi dan akhirnya menjadi kontraprodukif.

Sekali lagi, kapasitas otak kita bisa “tidak terbatas” dalam menerima paparan informasi, namun otak kita mempunyai batasan dalam memikirkan sesuatu lebih dalam, lebih fokus, dan lebih bertujuan.

Informasi yang cukup, apabila kita mampu untuk mengelolanya, maka akan membawa efek yang baik untuk diri kita. Maka berhati hatilah atas  ilmu, pengetahuan, infromasi yang dikonsumsi, karena tidak semuanya bermanfaat  atau malah bisa jadi merugikan diri kita.

Berfokus untuk memperdalam ilmu yang kita butuhkan, pada tugas, kewajiban, peran dan panggilan hidup kita. Selektif adalah hal yang harus kita lakukan, salah satu nya tentang apa yang perlu diketahui dan apa yang tidak perlu diketahui. 

Beranilah untuk tegas pada diri kita untuk tegas berkata pada diri : NO atau STOP, ketika sesuatu yang tidak banyak membawa manfaat pada diri kita, atau bahkan membawa mudzarat kepada diri kita.

Tidak mudah memang, namun disitulah letak perjuangannya, agar kita mampu menjadi manusia yang produktif, berdaya dan bermanfaat

Yes its true :

Sometimes its better to KNOW LESS then we can DO MORE

 

#SebuahNasihatUntukDiriSendiri

 

Hidup, Untuk Menghidupi Hidup

Sebuah perjalanan pulang yang melelahkan malam itu membawa alam fikiran saya melayang jauh. Memikirkan apa sebenarnya yang sedang kita perjuangkan, tentang apa sebenarnya untuk apa kelelahan kelelahan ini sehingga mau kita jalani.

Fikiran ini saya biarkan mengalir bebas. Sambil menyetir perlahan, saya matikan AC dan membuka jendela, membiarkan udara malam yang menemani saja. Saat ini saya sedang “mengejar” sesuatu pencapaian dalam bisnis saya. Tak jarang saya harus pulang larut malam, tak jarang pula saya menunda atau mengabaikan hal lain, karena ingin fokus dalam pencapaian tersebut, bahkan tak jarang juga saya mengabaikan kesehatan saya.

Di lampu merah, pandangan saya terhenti pada seorang bapak, yang di pinggir trotoar yang tampaknya sedang berstirahat kelelahan, disampingnya barang dagangannya yang masih ia gelar. Juga ada beberapa pedagang asongan yang masih menjajakan barang dagangannya ke setiap jendela mobil.

Waktu telah hamir dari jam sepuluh, waktu yang dalam dimana banyak orang telah pulang bertemu keluarganya, beristirahat, mempersiapkan esok hari. Tapi mereka masih menjalankan kemungkinan bahwa akan ada orang yang masih membeli dagangannya walau malam telah cukup larut, dan orang orang juga sudah jarang dijalanan. Mungkin sebentar lagi mereka akan pulang, ujarku dalam hati. Dan esok akan kembali menjalani rutininas seperti ini lagi, pergi dini hari-pulang malam hari, mencari penghidupan.

Memori saya jadi melayang ke beberapa saat lalu, ketika mengujungi kota Jakarta, dan ketika akan pulang terjebak arus macetnya ibu kota. Katanya macet seperti ini mereka alami setiap hari. Mereka yang bekerja, pulang dan pergi, dengan sukarela menghadapi kemacetan, kejemuan di jalan raya, yang bisa berjam jam. Dan esok akan kembali menjalani rutininas seperti ini lagi, pergi dini hari-pulang malam hari, mencari penghidupan.

Lalu berkaca lagi kepada apa yang sedang saya jalani saat ini, pergi dini hari-pulang malam hari, mencari penghidupan

Hingga timbul pertanyaan, yang mungkin jawabannya ada dalam diri saya sendiri, jawabannya akan terjawab dengan cara menjalaninya, jawaban yang perlu kita cari sungguh sungguh : ” Apakah kita hidup, hanya untuk menghidupi hidup ? ”

—–

EPISODE HIDUP KITA ….

Tulisan diatas adalah tulisan saya sekitar dua tahun lalu yang saya tulis di blog lama saya. Ditulis waktu saya dalam episode hidup yang lumayan berbeda jauh dengan episode saat ini. Episode saat dimana dunia sehari hari saya adalah dunia yang penuh dengan target target dan pencapaian. Waktu rasanya tidak cukup, karena di otak saya hanya berputar putar tentang bagaimana untuk meraih angka angka dan target tersebut.

Dan saat ini episode yang saya jalankan berbeda dengan yang sebelumnya. Episode hidup kali ini, saya merasa lebih tenang dalam menjalankannya. Karena rupanya inilah dunia dimana saya merasa lebih hidup, lebih menapak, dan lebih menjadi diri sendiri. Episode hidup yang dijalankan bukan berdasarkan target dan pencapaian angka semata, namun karena ukuran kebermanfaatan.

Memang, masing masing episode hidup itu “menawarkan” kenikmatan yang berbeda beda. Episode sebelumnya lebih menawarkan peluang kenikmatan financial yang tak terbatas namun akan selalu diburu dengan target dan angka, dan episode saat ini memang tidak begitu menawarkan financial yang berlebihan -jauh berbeda dengan bidang saya sebelumnya- namun bidang ini menawarkan kenikmatan, ketenangan hati, fikiran dan kebermaknaan. Inilah dunia saya yang sebenarnya.

Namun saya bersyukur pernah ada di episode hidup sebelumnya, karena saya mendapatkan banyak pelajaran, pengalaman, penghidupan dan juga hikmah kehidupan, yang barangkali jadi modal saya ketika menjalani bidang baru ini, yang notabene secara bidang sangat jauh berbeda, terutama dalam hal financial.

Siapa sih yang tidak butuh uang ? Saya rasa setiap orang butuh uang, dan bayak kebaikan yang bisa dilakukan dengan uang. Tapi menjadikan uang sebagai tujuan utama bagi saya akhirnya menjadi sebuah kelelahan yang tidak berkesudahan …

Akhirnya….tidak ada yang sia sia dari cerita hidup yang telah kita lalui, yang juga barangkali merupakan skenario hidup yang Allah buat untuk kita …

Jadi jangan berhenti mencari, saat kau belum menemukan ….

Hidup akan penuh dengan pilihan, dan dalam pilihan tersebut tidak ada kondisi yang sempurna, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pilihlah dengan hati nurani, atas dasar niat suci. Mintalah petunjuk dari Sang Penggenggam Hati Dan Penggenggam Hidup kita, tentang kemana arah jalan hidup kita …

Tunjukan kami jalan yang lurus, jalan yang Engkau Ridhai …

—-

Bandung, 24 Oktober 2019

Sehatkah Mental Kita ?

Tepatnya beberapa bulan lalu saya mengkuti sebuah seminar dengan tema kesehatan mental dan saya pun mulai merasa ketertarikan tentang kesehatan jiwa.

Nah … kebetulan bulan ini adalah bulan kesehatan mental, saya jadi ingin sedikit membahas tentang kesehatan mental, dari kacamata juga berdasakan pengalaman saya sebagai orang awam, yang pernah mengalami hal ini

Semoga bermanfaat ya …. 🙂

” Kita begitu saat meraskan sesuatu hal yang tidak beres pada badan kita, kita begitu mudah merasakan ketika jasmani kurang sehat, namun kita tidak pandai -bahkan tidak terbiasa- untuk menditeksi saat mental kita kurang sehat, atau sedang mengalami gangguan “

Pernyataan ini menjadi pembuka training, yang disampaikan oleh seorang psikolog, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan berikutnya tentang apa itu gangguan kejiwaan, atau mental illness.

Betul nyatanya, saat ini kita banyak mengabaikan apa yang terjadi dalam jiwa kita, dengan kondisi mental kita. Misalnya saat kita sering meraskan cemas, resah yang berlarut larut, gelisah, tidak bisa tidur, selalu berdebar debar, menjadi gampang pemarah, gampang bersedih, selalu merasa kecewa dengan diri, dsb

Saat terjadi kondisi diatas, seringkali kita mengabaikannya, menganggap itu hal yang lumrah, atau hal itu akan berlalu seiiring waktu, dan menggap itu bukan sebuah kondisi “sakit” yang perlu diobati.

Hingga, saat kondisi itu tidak kita anggap sebagai gangguan, bahkan bertambah bertambah dan parah, makin bertumpuk, mengendap, dan di kemudian hari semua itu meledak dan fatal. Banyak kasus yang akhirnya berakhir fatal dan mengenaskan. Banyak cerita yang sudah kita dengar, tentang seseorang yang tiba tiba kita dengar melakukan bunuh diri. Na’udzubillahhi min dzalik …

Hal ini terjadi karena kita tidak peka dengan apa yang terjadi dengan jiwa kita, kita tidak menyadari ketika jiwa kita memang sedang tidak sehat, kita berusaha untuk mengaganggap bahwa kita baik baik saja. Tidak pernah membicarakan apa yang kita rasakan tersebut dengan orang lain, bisa jadi karena takut orang lain tidak mengerti, atau kekhawatiran menggap kita “gila”.

Coba jawab pertanyaan pertanyaan ini dalam hati ;

Pernah merasa gelisah berlebihan ?

Pernah merasa cemas tiba tiba ?

Pernah merasa bahwa kita tidak punya masa depan ?

Pernah merasa ketakutan berebihan atas hal yang tidak jelas ?

Pernah merasa kebingungan atas diri kita sendiri ?

Pernah mendapat bisikan bisikan yang tidak jelas di kepala ?

Pernah merasa terancam ?

Pernah merasa takut bertemu dengan orang ?

dll

Bila sedang merasakan hal diatas, mungkin ini saatnya kita mengecek kesehatan mental kita, saatnya kita mencari bantuan kepada orang yang tepat, temui psikolog, lakukan konseling, atau langkah awal, bicarakan apa yang dirasakan dengan orang yang bisa dipercaya.

Tidak usah merasa malu, gengsi, takut. Layaknya tubuh, jiwa pun bisa meraskan sakit. Jiwa atau mental yang sedang sakit, bukan berarti kita “gila”. Inilah yang menjadi keengganan dan ketabuan kita untuk membahas serta mengecek kondisi mental kita, kita masih mengidentikan kesehatan mental dengan gangguan jiwa yang lekat dengan “Gila”.

Kesehatan mental sama dengan kesehatan fisik, bedanya yang satu tampak yang lain tidak kelihatan secara fisik. Dalam kadar nya, mengalami stress, tekanan mental adalah hal yang sangat wajar, karena kita adalah manusia, kita orang yang hidup,mempunyai perasaan dan fikiran, manusia yang wajar mengalami up and down kehidupan, manusia yang wajar ketika mengalami tekanan jiwa, dsb …

Bagaimana kita menyadari dan mengatasinya adalah jawabannya. Jangan malu untuk “mengangkat tangan” dan mengakui bahwa jiwa kita butuh bantuan, bijaklah dengan diri kita, sayangilah jiwa kita …

Kawan, jangan tunda tunda ketika kamu merasakan butuh bantuan ….

Be Wise With Your Soul My Friend

Everything gonna be alright then …

*PelukJauh

—-

Fn : Tulisan ini dibuat karena saya pun pernah mendapatkan bantuan konsultasi psikolog beberapa tahun lalu dan sangat terbantu, dan saya akhirnya merasa hal ini penting untuk disampaikan, karena diluar sana masih banyak yang merasa ragu dan malu, saat mereka sebenarnya butuh bantuan dan pertolongan …

Sang Pensabotase Impian Sesungguhnya … !

20191015_230508_0000318216140.png

” Don’t let any one stole your dream…!”
.
“Don’t let any one says that you can’t ..!”
.
“Don’t let any one bring you down…!”
.

Kira kira kalimat kalimat itu yang sering kita dapatkan dari berbagai buku pengembangan diri, quotes yang bertebaran di media sosial, atau dari para motivator berbagai seminar pengembangan diri. Kalimat kalimat ini sering kita pakai untuk memotivasi diri, tak jarang kita pasang jadi status WA atau media sosial, yang kita jadikan jargon tentang nasihat jangan biarkan orang lain menghalangi atau mempengaruhi impian2 kita.

Tapi benarkah makna dari quotes diatas, bahwa orang lain diluar sana bisa mematahkan impian impian kita ?

Bila kita mau berfikir lebih dalam dan jujur tentang hal ini, tentang siapakah yang menjadi  penghambat, penghalang, pencuri, bahkan pensabotase impian dan cita cita kita sebenarnya, mungkin pada akhirnya kita akan menujuk pada diri sendiri, bukan kepada orang lain.

Karena apapun yang  orang lain katakan tentang impian impian kita, -semisal mereka memberikan pernyataan yang melemahkan diri kita, meragukan impian dan cita cita kita, atau semacamnya- perkataan dan pernyataan mereka yang melemahkan tersebut tidak akan terlalu banyak mempengaruhi diri kita, selama  kita memang telah memiliki “Inner Faith” yg kokoh.

Juga sebaliknya, sekuat apapun orang lain membantu, mendukung, mendorong kita untuk maju, tumbuh dan berkembang, namun diri kita tidak  mempunyai “Inner Faith” yg kokoh, maka kita tak akan mencapai apa apa, kita tidak akan sampai kemana mana, kita akan sulit mencapai impian dan cita cita kita tersebut.

Maka stop beranggapan, menyatakan dan menyalahkan orang lain yang akan mencuri, mematahkan, melemahkan diri kita. Bahkan mengambil pusing bila ada mereka yang diluar sana meragukan impian dan cita cita kita

Namun waspadalah pada diri kita sendiri. Karena diri sendiri ini lah  yang sering kali melemahkan dirinya sendiri, meragukan impiannya sendiri, tidak percaya dengan kekuatan dan keunggulan diri. Diri sendirilah yang seringkali melakukan penundaan berikut pembenaran, diri sendirilah yang sering membiarkan impian dan cita itu melayang layang tak karuan.

Maka waspadalah pada cara pikir dan cara pandang diri kita sendiri, waspadalah pada lintasan lintasan pikiran diri sendiri, pada perkataan dan perbuatan yang justru sering kali membuat kita terjatuh, pada perasaan perasaan tidak sehat yang kita biarkan begitu saja, mensabotase segala impian, harapan dan cita.

If there was someone who can to make us UP or DOWN, theres no one else, its OURSELVES

Jangan menyalahkan orang  lain atas ketidakberdayaan kita, atau selalu menjadikan orang lain sebagai kambing hitam kegagalan kegagalan kita, sekaan akan kita tidak punya daya atas diri kita sendiri.

Jadilah subjek jangan jadi objek.  Posisikan diri kita menjadi pelaksana, jangan bangga jadi penderita. Ambilah posisi bahwa kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri, dan karena memang kitalah yang bertanggungjawab pada diri kita sendiri, bukan orang lain…!

Bandung, 15 Oktober 2019

Sebuah catatan yang keras untuk diri sendiri

Sebuah Cerita Tentang Cita Cita Saya Yang Aneh

nuriska

Saya tidak tahu kapan tepatnya saya mulai punya pemikiran seperti ini …

Dulu, ketika saya ditanya, atau ada obrolan seputar cita cita “Apa cita cita kamu ….” dari dalam hati selalu muncul jawaban ini ;

“Cita cita saya adalah mewujudkan cita cita orang lain …”

Pemikiran itu selalu muncul dalam benak saya ketika membahas tentang  mengenai cita cita atau impian. Walaupun seringkali jawaban itu tidak saya sampaikan, hanya jawaban yang berputar putar dalam benak saya sendiri. Sebaris kalimat itu alamiah saja muncul dari dalam diri, bukan karena buku, seminar atau pengaruh dari motivator motivator diluar sana

Kenapa ? karena waktu itu saya merasa bahwa cita cita itu aneh. Saya sendiri belum bisa mendefinisikan apa makna sebaris kalimat yang sering muncul dalam diri tersebut. Hanya sekali lagi, kalimat itu erat melekat dalam benak dan hati saya …

Yang saya tahu, saya sangat senang ketika  bisa membantu orang lain maju, saya sangat senang memberi saran kepada teman yang datang, dan entah mengapa teman teman pun seperti sering berdatangan ketika mereka butuh pandangan, pendapat atau arahan.

Saya senang mendengarkan ketika ada orang menceritakan apa yang sedang ia pikirkan dan  rasakan, kemudian memberikan arahan kepada kawan yang sedang gundah atau kebingungan, dan memberikan semangat, optimisme dan kepercayaan diri bahwa mereka bisa melalui itu. Walaupun saya sendiri bukanlah seorang psikolog, konselor ataupun motivator

Saya senang mengexplorasi keistimewaan orang lain, sekaligus senang memberitahukan mereka tentang adanya keistimewaan dalam diri mereka tersebut. Terkadang saya lebih jeli melihat keunggulan orang lain dibandingkan melihat keunggulan diri sendiri, dan terkadang saya lebih mendahulukan orang lain dibanding diri sendiri.

Kebahagiaan bagi saya adalah ; ketika orang percaya kepada saya, dimintakan pendapat, pandangan dan  ketika orang lain berubah atau bertumbuh, dan saya menjadi jalannya

Biasanya ketika ada yang datang kepada saya, dan mereka meminta pendapat saya tentang kondisi, masalah, dan kegundahan mereka, biasanya saya lebih bisa clear dan sistematis memberitahukan mereka tentang apa langkah langkah yang akan mereka lakukan.

Akhirnya jawaban itu saya dapatkan di tahun 2019. Setelah  mengikuti sebuah program  bernama “TALENTS MAPPING” . Dari test itulah akhirnya saya tahu, bahwa kekuatan pertama yang  saya miliki  adalah “DEVELOPER”, yaitu suatu bakat dimana suka untuk membuat orang lain maju dan bertumbuh. Bagi orang DEVELOPER, kepuasan batin nya adalah ketika melihat orang yang ia bantu, ia dampingi maju, bertumbuh dan berubah lebih baik, dan misi hidup orang orang lain adalah  adalah membantu orang lain untuk maju dan bertumbuh

Akhirnya …. terjawab sudah ...

Dulu saya merasa cita cita saya   “Mewujudkan cita cita orang lain” yang berputar putar di benak inii adalah sebuah keanehan, atau kenaifan. Di zaman saat banyak orang berlomba lomba  untuk memunculkan prestasi, pencapaian diri, dan eksisitensi nya  masing masing, saya tidak begitu berambisi. Biasa biasa saja ….

Tapi ketika ada orang lain yang terbantu atas saran saya, berubah cara pandang hidupnya setelah bertukar fikriran dengan saya, disitulah letak kebahagian saya ….

Rupanya Allah memang menitipkan amanah bakat “DEVELOPER” itu kepada saya, sebagai keunggulan  sekaligus tanggung jawab …

Akhirnya saya menemukan panggilan hidup saya, saya menemukan dimana jalan yang mesti saya tempuh sebagai khafilah di muka bumi ini. Akhirnya saya menemukan modal bakat yang Allah telah sematkan dalam diri saya, sebagai bekal hidup, kehidupan, penghidupan sekaligus bekal kebermanfaatan.

Sekarang tugas saya selanjutnya adalah menggali lebih dalam bagaimana saya bisa menjalankan amanah  tersebut.

Perjalanan masih panjang…

Menemukan bakat diri adalah titik awal, untuk menempuh perjalanan yang panjang. Saya masih terus harus belajar, menggali diri, melihat sekitar,  mencari tahu sekaligus melakukan kebermanfaatan apa yang bisa saya lakukan, dimana saya berperan, siapa yang akan saya bersamai.

Dan saya bersyukur saya telah menemukan jalan itu, saya telah menemukan titik start dimana saya akan memulai.

Jalan yang penuh dengan harapan, kebahagian dan kesyukuran. Bismillah …

Bagaimana dengan teman teman, sudahkan menemukan  fitrah bakat nya ?

 

Nuriska, Bandung, 5 Oktober 2019 …

 

 

Talents Mapping Goes To Panti Asuhan

Akhir pekan kemarin, saya bersama dua orang kawan lainnya, mengunjungi sebuah panti asuhan di wilayah Cisarua – Lembang Bandung, dalam rangka mengadakan program Talents Mapping untuk anak anak tingkat SMP dan SMA yang ada di Panti ini.

Program “Talents Mapping Goes To Panti Asuhan” ini adalah program sosial pendidikan yang saya dan teman teman adakan untuk anak anak Panti yang selama ini masih jarang mendapatkan ilmu lain, selain yang didapatkan dari sekolah.

Di training  Talents Mapping ini kami membantu adik adik panti untuk menemukan apa yang menjadi kekuatan bakat sifat yang ada dalam dirinya, dengan menggunakan tools ST-30 (Strength Typolgy) dari Talents Mapping. 

Dengan test assesment ini, adik adik panti diharapkan mulai  jelas mengetahui apa keunggulan bakat sifat yang ada dalam dirinya, sekaligus dilain sisi mengetahui apa yang menjadi kelemahannya.

Dengan mengetehui apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan secara berimbang, dan kemudian fokus untuk mengasah dan melejitkan kekuatannya, maka mereka diharapkan lebih terarah dalam menentukan langkah langkah selanjutnya dalam pendidikan mereka.

Secara tekhnis training Talents Mapping ini bisa berguna dalam menentukan jenjang studi mereka selanjutnya. Untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), Test ini bisa membantu untuk menetukan apakah akan memilih jurusan IPA atau IPS. Dan untuk siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), test ini akan membantu mereka untuk menentukan jurusan kuliah apa yang sesuai dengan bakat kekuatan mereka.

Lebih jauh bisa mulai belajar memilih, menentukan dan menjalani kemana arah masa depan nya, dengan modal bakat kekuatan sifat bakat yang ada dalam diri mereka. 

Selain itu kami mengenalkan konsep tentang konsep minat dan konsep fitrah bakat yang sudah Allah anugrakan kepada setiap manusia. Bahwa manusia ketika diciptakan dan dilahiran kedunia ini, sudah Allah berikan benih potensi yang menjadi modal dalam menjalankan kehidupan di dunia ini.

Tugas manusia adalah mengetahui benih potensi yang ada dalam dirinya, kemudian menggunakan dan memaksimalkannya, selain sebagai modal ia dalam menjalankan hidupnya, juga sebagai rasa syukur kita kepada Allah Swt

Bahagia rasanya melihat binar binar antusiasme dari adik adik panti ini, ketika membahas masa depan dan juga kekuatan yang ada dalam diri diri mereka.

Tugas kami sebenarnya bukan hanya memberi tahu tentang apa bakat kekuatan yang ada dalam diri mereka.

Lebih jauh tugas kami adalah menyampaikan, bahwa setiap orang  mempuyai peluang dan berhak untuk sukses dan bahagia.

Karena Allah sudah memberikan kepada kita “benih” kekuatan dan kesempatan untuk setiap orang menjalankan peran dan kebermanfaatan dalam kehidupan

Semoga pertemuan singkat ini bisa menjadi meninggalkan tapak yang baik dan kuat untuk kalian, dan jadi salah satu panduan kalian untuk menentukan kemana arah kalian akan berjalan menempuh masa depan yang sukses dan penuh kebermanfaatan.

Kenali Diri – Lejitkan Potensi ..!

 

 

Berbagi Cara Mendekatkan Diri Dengan Al Quran

Ada banyak cara untuk kita terus dekat dengan Al Quran. Sebagian mungkin membacanya, menghafalnya dan sebagian menghafalnya. Saya ingin sedikit sharing tentang bagaimana cara yang saya gunakan, untuk membiasakan diri berinteraksi dengan Al Quran.

Semoga bisa bermanfaat …

Dalam satu hari, saya usahakan untuk berinteraksi dengan Al Quran minimal dua kali (Tidak mudah memang, sedang berusaha untuk terus istiqamah). Pertama adalah di waktu setelah shalat Subuh, dan kedua antara shalat Magrib dan shalat Isya.

Setelah subuh dan melakukan dzikir pagi, saya langsung tilawah Al Quran. Banyaknya ayat disesuaikan saja, jangan terlalu banyak atau terlalu sedikit, yang penting adalah rutin. Mengawali pagi dengan tilawah jadi kekuatan tersendiri, dan jadi pengisi hati dan fikiran untuk menjalankan hari tersebut.

Kedua adalah setelah Shalat Magrib atau setelah Shalat Isya. Bila saat Magrib sudah ada dirumah, maka antara waktu Magrib dan Isya adalah waktu yang tepat untuk berintreraksi dengan Al Quran. Nah… bedanya di waktu ini saya tidak tilawah seperti biasa, namun mendengarkan lantunan tilawah Al Quran sambil membaca artinya langsung dari Al Quran terjemahan.

Biasanya saya membuka muratal via youtube. Memutarkan surat, seraya membaca terjemahannya di Al Quran terjemah. Dengan cara ini saya jadi membaca arti ayat ayat Al Quran, yang diruntinkan dari mulai Al Fatihah, Al Baqarah, dst

Terus terang sebelum ini, yang msih dirutinkan adalah berurutan adalah membaca (tilawah) Al Quran nya saja, sedangkan membaca artinya, masih seringkali meloncat loncat belum berurutan dimulai dari surat Awal. Sehingga masih banyak sekali arti yang belum saya ketahui

Dengan cara ini, menambah banyak ilu buat saya. Diantaranya saya menjadi belajar sedikit demi sedikit arti ayat Al Quran, melalui metode membaca sekaligus mendengarkan. Kemudian saya menjadi tahu tema tema apa saja yang dibahas dalam sebuah surat. Misalnya surat An Nisa, beberapa ayat nya membahas tentang bagaimana sikap seorang muslim terhadap peperangan ; Surat Al Maidah yang beberapa ayatnya membahas tentang tata cara berwudhu, dsb.

Kemudian bila saat membaca terjemahan -sekaligus mendengarkan- ayat ayat tersebut, ada tema tertentu yang saya dapatkan, biasanya saya langsung membuat “mark” yang saya tulis tentang apa ayat tersebut dan kemudian di tempel.

Dengan dua cara ini, selain kita mempunyai “hanca” tilawah Al Quran, kita pun mempunyai “hanca” dalam membaca terjemahannya. Karena menurut saya, bukan hanya rutin nya kita membaca Al Quran, namun penting juga bagi kita untuk mengetahui arti, dan lebih jauh adalah memahaminya, kemudian mentadzaburinya.

Saya bukan termasuk orang yang mengejar kuantitas, misalnya harus mentargetkan membaca satu juz sehari, namun lebih senang untuk pelan pelan membaca, sambil memahami artinya. Dan karena bahasa arab bukan bahasa ibu kita, maka kita perlu cara, strategi untuk bagaimana kita sedikit demi sedikit faham bahasa Al Quran. Dan bagi saya cara yang saya lakukan di atas cukup membantu.

Nah … itu dia sedikit berbagi dari saya. Semoga ada manfaat yang bisa diambil walaupun sedikit. Berbagi saya ini, bukan berarti saya sudah rajin dan istiqamah baca Al Quran, karena godaan kemalasan dan “sok sibuk” itu selalu ada, hhee…

Namun dengan berbagi seperti ini, semoga jadi tambahan energi untuk saya, agar tetap istiqamah dalam mendekatkan diri dengan Al Quran. Aamiin Yaa Rabbal A’lamiin

Bandung, 27 September 2019

Minat Vs Bakat

Masih ada yang suka bingung atau tertukar tentang perbedaan MINAT & BAKAT. Sekilas hampir sama, namun sebenarnya ada hal esensi yang menjadikan dua kata itu beda makna. Kita bahas langsung aja yaaa ….

 

Berbincang Tentang Minat …

 

MINAT adalah kecendrungan, ketertarikan, kesukaan kita terhadap bidang tertentu. Ada yang membahasakan dengan istilah kekinian yaitu PASSION. Mari kita coba lebih benar dalam mendefiniskan makna passion ini.Dalam kamus bahasa PASSION artinya ” An intense desire or enthusiasm for something ” ; “Keinginan yang terus menerus atau antusiasme terhadap sesuatu”, kurang lebih artinya seperti itu.

Sayangnya masih ada yang suka buru buru menjadikan minat/passion ini adalah sesuatu yang bisa dijadikan “petunjuk” dalam menentukan arah hidup. Sehingga seringkali terburu buru dan memutuskan hal yang penting hanya karena passion.

Belum lagi passion suka salah diartikan makna nya sama dengan hobi. Seseoang misalnya yang suka dengan bermain bola, ia lalu memutuskan bahwa passion nya adalah menjadi pemain bola. Padahal yang ia rasakan sebenarnya adalah hobi semata. Menjadikan passion sebagai satu satunya penuntun aah hidup, bisa jadi kurang tepat dan kurang bijak.

Karena passion adalah sesuatu yang sangat bisa berubah ubah. Bisa jadi karena pengaruh lingkungan, teman teman, keadaan kekinian, perkembangan zaman, dll.Misalnya saya dulu pernah “merasa” passion saya di dunia fotografi, sehingga saya memutuskan untu berbisnis di bidang tersebut, dan berfikir ketika itu passion adalah modal utama untuk menjadi sukses.

Namun seiriing dengan perjalanan nya, passion saya mulai memudar, mulai ada rasa jenuh, tidak tahan dengan berbagai kendala, mulai ada pertanyaan : “Apakah benar jalan saya disini …” ; “Apakah saya akan rela mengerahkan segala daya kekuatan, waktu dan fikiran kita dibidang ini …?” dsb. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengakhiri bisnis tersebut.

Jangan salah mengartikan, ketika saya mengakhiri bisnis tersebut, bukan tentang ketidaktahan untuk berjuang, tidak adanya persistensi, motivasi, atau gampang menyerah.

Namun karena memang apa yang dikerjakan bukan murni dari keingian terdalam dari hati, namun lebih karena faktor luar, karena trend saat itu, karena peluang peluang sesaat, sehingga tidak bertahan lama. Apa yang saya lakukan lebih bersifat OUTSIDE IN ; pengaruh eksternal saya jadikan keyakinan atau persepsi dari dalam diri, yang ternyata tidak bertahan lama.

Bila saya flashback ke masa itu, ternyata benar ; keputusan saya untuk berbisnis dibidang fotografi, bukan murni karena dorongan internal dari dalam diri saya, lebih karena faktor eksternal. Saat itu memang sedang mulai booming bisnis kreatif, salah satu nya fotografi. Kondisi ini membuat saya tertarik untuk mempelajarinya, dan kemudian terlalu buru buru menyimpulkan ini adalah passion saya saat itu adalah jalan hidup saya. Pada kenyataannya :

“MINAT/PASSION saja TIDAK CUKUP untuk dijadikan ARAH untuk menentukan JALAN HIDUP kita”

—–

Berbincang Tentang Bakat ….

Lalu apa itu bakat ? Bakat adalah keunggulan sesungguhnya yang ada dalam diri kita. Bakat adalah bawaan yang sudah terisntal pada diri semenjak kita diciptakan, sebagai anugrah unik yang ada dalam diri kita, dimana satu manusia dengan masnusia lainnya dianurgrahkan bakat yang berbeda beda.Hal yang perlu digaris bawahi disini adalah, bakat disini bukan bakat yang umumnya di persepsikan ; misalnya bakat menyanyi, bakat memasak, bakat melukis dll, karena sebenarnya itu bukan bakat, namun aktifitas.

Bakat yang dimaksud disini adalah bakat sifat, personality, karakteristik unik yang ada dalam setipa mansia. Mari kita definisikan lebih lanjut tentang bakat ini :

Bakat adalah karakteristik unik yang positif, yang ada dalam diri seorang manusia sejak lahir.

Bakat tercerminkan dalam cara berpikir, merasa, dan berperilaku sehari hari, bersifat alami, mudah dikenali dan konsisten

Bakat adalah modal seseorang untuk menjalankan hidupnya, menjalankan perannya, dan memperoleh hasil dari padanya

Bakat sifatnya tetap, dan selalu ada di dalam diri seseorang, namun kadang belum disadari akan adanya, belum terdefinisi, belum digali, belum dikembangkan dan belum dijadikan modal dalam menentuan arah hidup.Kita beranjak ke contoh tentang pengertian bakat. A adalah anak yang dari kecil sangat suka tampil di depan umum, dia sangat menikmati ketika dirinya menjadi sorotan dan pusat perhatian, dia sangat menyukai ketika hasil karyanya diapresiasi. Ini dinamakan bakat SIGNIFICANT. Beberapa peran yang cocok untuk bakat ini diantranya menjadi seorang artis, ambasador, public figure, dll

Lain hanya dengan B. B adalah orang yang sangat senang membantu dan membimbing orang lain agar bertumbuh. Bila ada yang menanyakan sesuatu kepadanya, ia sangat antusias untuk membagikan ilmu yang ia punya, ia tidak sungkan sungkan memberikan arah dan petunjuk yang baik kepada orang lain, dan ia merasa bahagia apabila ada orang yang hidupnya lebih baik atas bantuannya. Ini dinamakan bakat DEVELOPER. Beberapa peran yang cocok untuk bakat ini diantaranya menjadi seorang konselor, personal coach, guru, mentor, dll

Sedangkan C adalah orang yang sangat menyukai hal hal yang logis, sistematis dan tertata. Bagi dia fakta dan bukti adalah alasan untuk melakukan dan memutuskan sesuatu hal. Pandangan nya tajam terhadap data dan angka. Dia pandai melihat fakta yang kadang tidak disadari oleh orang lain. Ia akan bertindak apabila sesuatu baginya hal tersebut logis, Ini dinamakan bakat ANALYCTICAL. Beberapa peran yang cocok untuk bakat ini diantaranya menjadi seorang peneliti, pembuat sistem, konsultan keuangan, sistem control dll

Bakat ini adalah hal natural yang keluar dari diri seseorang, cendrung mengalir begitu saja, dan jadi bawaan yang selalu ada, dimana pun ia berada.Masih banyak bakat bakat lainnya, yang ada dalam diri manusia. Berikut bakat yang ada dalam diri manusia menurut teori Gallup, yang kemudian dirumuskan oleh TALENTS MAPPING

 

TM

 

Ini adalah peta bakat yang ada dalam diri manusia, dari 34 sebaran peta bakat ini, kita akan bisa mengetahui apa kekuatan kita dan apa yang merupakan kelemahan kita. Hingga kita menjadi lebih bisa cerdas, bijak, yakin dan terarah untuk memilih dan menentukan dibidang apakah kita akan menjalankan kehidupan dan memperoleh kehidupan.

Karena kita sudah tahu, apa yang menjadi modal bakat kita.Ketika seseorang menjadikan BAKAT sebagai pedoman untuk menentukan arah hidupnya, maka ia akan lebih kuat, lebih yakin, lebih percaya diri, dalam menentukan jalan hidupnya. Karena bakat sifatnya tetap, tidak berubah, dan benar benar alami dari dalam diri kita.

INSIDE OUT Seseorang yang bisa mengetahui bakatnya, kemudian menentukan jalan hidupnya, dan fokus memasimalkan kekuatannya, akan menjadi manusia yang lebih stabil, lebih optimis, dan bergairah jangka panjang dalam menggapai kesuksesannya.

MINAT VS BAKAT

Jadi padukanlah antara bakat dan minat. Tidak ada yang salah dengan minat, namun sebaiknya minat dikonfrmasi dengan bakat. ” Apakah memang minat saya sudah sesauai dengan bakat saya ….”Kemudian carilah APA BAKAT KITA, cari tahu APA KEKUATAN KITA, agar kita bisa menentukan dimana kita akan bekerja, berbisnis, berkarya dan memberikan manfaat yang seluas luasnya untuk diri kita dan orang sekitar kita.

Semoga bermanfaat !

—–

Temukan fitrah bakat mu , Sila Klik : http://bit.ly/KonsultasiPotensiDiri