Mengenal Diri & Memahami Orang Lain

Foto Edited In Canva

Salah satu manfaat dari TM (Talent Mapping) yang saya rasakan secara pribadi adalah ; saya bisa lebih mengenali diri sendiri, sekaligus lebih bisa belajar bijak dalam memahami orang lain. Sebelumnya saya masih sedikit sukar ketika memahami diri sendiri, dan juga memahami orang lain

Kenapa ya saya begini, kenapa ya saya begitu…

Kenapa saya begitu menikmati melakukan sebuah hal, namun tersiksa untuk melakukan hal lainnya …

Kenapa di sebuah hal saya begitu mudah dan mengalir, di lain hal saya begitu berat untuk menjalankannya …

Kenapa dia begini, kenapa dia begitu …

Saya aja bisa, kenapa dia ga bisa seperti saya …

Harusnya dia bisa seperti saya …

Awalnya saya kira ini tentang kemampuan atau ketidakmampuan semata. Kemauan atau ketidakmauan semata. Namun ketika saya belajar ilmunya, saya kini lebih mengerti bahwa memang manusia itu berbeda beda. Berbeda beda dalam hal potensi keunggulannya.

Itu sebabnya ada orang yang sangat unggul dalam suatu bidang, dan lemah dibidang lainnya. Itu sebabnya ada yang bisa kita lakukan, dan orang lain tidak bisa, begitu juga sebaliknya. Jadi ini bukan perkara bisa – tidak bisa, mampu – tidak mampu, mau – tidak mau. Pandangan dan pemahaman kita harus lebih bisa diluaskan dari sekedar menilai hal yang permukaan saja

Kadang kita “menuntut” diri kita agar serba bisa. Agar kita mampu bisa melakukan banyak hal. Atau kita pun menuntut orang lain agar bisa sama dengan kita, dengan pembawaan kita, dengan karakter kita, dengan kemampuan kita. Bila kita mampu dalam suatu bidang, maka kita pun menuntut orang untuk sama dengan kita. Pun sebaliknya, ketika orang lain mampu, kita pun menuntut kita bisa sama

Padahal bukankah tersurat dalam Al Quran pun bahwa pembawaan manusia berbeda beda, fitrah potensi setiap orang berbeda pula :

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا

Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya ” (QS Al-Isra 84)

SYAKILAH di ayat diatas di beberapa pembahasan tafsir, dimaknai sebagai pembawaan, potensi, keunggulan. Dan pada setiap manusia, Allah berikan pembawaan nya masing masing, berbeda satu antar satu yang lainnya. Unik, Spesifik.

Saya lalu berifikir … kenapa ya Allah menciptakan manusia berbeda beda ?

Lalu saya teringat, sebuah ayat Al Quran tentang manusia yang diciptakan berbeda beda :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13)

Perbedaan ini juga barangkali bukan tentang perbedaan fisik, perbedaan tempat, suku, warna kulit, dsb. Namun tentang perbedaan sifat, karakter, pembawaan, potensi dan keunggulan. Perbedaan ini pun tentang perbedaaan peran yang nantinya akan diambil oleh setiap orang.

Balik lagi ke pertanyaan saya tadi, kenapa ya Allah menciptkan manusia berbeda beda ? Barangkali salah satu alasan nya adalah agar manusia bisa saling melengkapi, saling bersinergi, saling menggenapkan, satu dengan lainnya. Agar manusia bisa hidup dalam hidup bersosial, berjamaah.

Tidak ada manusia yang bisa melakukan segala hal, pintar dalam segala hal. Seseorang yang mahir dalam suatu bidang ia lemah dalam hal lainnya. Karena bila manusia menjadi serba bisa, menjadi “SUPERMAN” mungkin kita tidak bisa berjamaah dalam kehidupan ini, karena setiap orang merasa mampu melakukan segalanya sendirian.

____

Nah ketika saya mulai belajar untuk memahami tentang ini lebih dalam, saya  memahami bahwa ada hal yang saya mampu lakukan dan mana yang tidak mampu saya lakukan. Balajar untuk tahu apa sifat keunggulan saya, dan apa sisi kelemahan saya, untuk kemudian  menggali dan memaksimalkan keunggulan saya, dan mensiasati kelemahan saya.

Pun dengan ketika bergaul dalam orang lain, baik dalam lingkaran keluarga, organisasi, dsb. Saya semakin mengerti bahwa, kita tidak bisa dengan mudah menilai, men-judge, seseorang karena kita membuat penilaian kepada orang lain sesuai dengan standar diri kita. Padahal tidak segampang itu. Dunia tidak bisa kita nilai sesuai dengan persepsi atau standar kita semata.

Kita harus lebih bijak. Bijak untuk mau belajar, bijak untuk mau memahami diri kita. Apa yang jadi keunggulan kita, apa yang menjadi kelemahan kita. Kemudian bijak mengakui keunggulan orang lain, dan menerima apa kelemahannya.

Memilih untuk justru fokus kepada keunggulan diri kita, bukan berlelah lelah berusaha menghebatkan kelemahan kita. Seperti elang, yang fokus pada belajar terbang, ketimbang belajar berenang.

Memaksimakan Zona Keunggulan Kita, Mensiasati Zona Kelemahan Kita

Dalam konteks hidup berjamaah, kelemahan kita akan diisi oleh keunggulan orang lain. begitu pun sebaliknya, keunggulan kita adalah pelengkap untuk pengisi kelemahan orang lain. Saling menguatkan, saling menggenapkan, saling bersinergi untuk kebaikan, untuk produktifitas, untuk kebermanfaatan yang lebih besar dan luas.

Dan kemudian, PR selanjutnya adalah bagaimana cara kita menganali diri dan memahami orang lain …

Bersambung …

Advertisements

Bangun Sekolah NTT

Bangun sekolah NTT adalah sebuah program pendidikan yang saya dan teman teman Kebukit Indonesia.  Program yang bertujuan untuk membantu memajukan pendidikan di Indonesia Timur, khususnya di NTT.

Program ini diawali dengan pendirian sebuah sekolah di Pulau terpencil di Kepulauan Flores, bernama Pulau Pangabatang. Disini sudah ada Sekolah Dasar dengan kurang lebih berisi 40 siswa.

Namun, bangunan yang mereka punyai masih sangat dari kata layak. Bangunan sekolah yang hanya berupa dua ruangan sempit, beralasakan pasir, berdinding bambu, beratap seng. Bangku bangku pun sangat apa adanya. Jangan ditanya apakah mereka mempunyai buku pelajaran yang layak, alat tulis yang memadai, dsb. Sebuah fasilitas pendidikan yang jauh dari kata ideal.

Namun, kami melihat perjuangan mereka untuk pendidikan sangatlah besar. Contohnya, karena ruang kelas yang terbatas, siswa kelas 5 dan kelas 6, mereka harus menyebrang lautan untuk bisa bersekolah di Pulau sebelah. Atau pilihan lainnya adalah, diusia sekecil itu, mereka harus “indekost” atau menumpang tinggal di rumah warga di Pulau sebrang.

Bayangkan, anak sekolah dasar yang masih kecil, harus rela berjauh jauhan dengan orang tua nya, agar mereka bisa menuntut ilmu. Hal ini lah yang membuat kami tergerak untuk membantu mereka, untuk mempunyai bangunan sekolah yang lebih layak. Agar mereka tidak perlu lagi kepanasan, kehujuan saat sekolah. Agar mereka tidak perlu berdesak desakan lagi di dalam kelas. Agar mereka tidak perlu lagi menyebrang lautan di usia sekecil agar bisa bersekolah.

 

 

Semangat mereka lah, kesungguhan mereka lah yang menjadi energi bagi kami tim Kebukit Indonesia untuk membantu mereka, ikut menjadi bagian dari perjuangan mereka.

Bismillahirrahmanirrahiim …

Ini adalah modal kami, modal utama kami untuk bergerak, memberitahukan, mengajak, menghimpun berbagai support dan bantuan dari banyak orang. Karena kami tidak mampu bila mengerjakan ini sendirian …

 

 

Cara Sukses Vs Jalan Sukses

kemana

 

Selama ini kita banyak sekali mendapat masukan, arahan, motivasi tentang bagaimana caranya meraih sukses. Banyak sekali buku, seminar, nasihat baik dari orangtua kita, kawan kita, para motivator, dan para orang orang yang sudah dinilai sukses.

Saya termasuk orang yang senang belajar, senang mendengarkan, senang membaca. Apalagi tentang orang orang yang sudah sukses di bidang nya masing masing. Mendengarkan tentang bagaiamana perjalanan hidup mereka, bagaimana cara mereka meraih sukses, dsb.

Bagaimana cara meraih sukses !

Ini adalah mungkin adalah salah satu kalimat yang sangat banyak di cari, banyak ditanyakan, banyak didiskusikan, banyak dirumuskan, banyak diformulakan …

Berlomba orang mencari jawaban atas pertanyaan ini. Bagaimanakah CARA nya, menjadi sukses …

Namun benarkah untuk menjadi SUKSES, yang perlu kita cari tahu adalah hanya tentang CARA nya ?Hingga kita terlupa tentang unsur penting lainnya tentang kesuksesan, yaitu tentang :

Bagaimana Memilih Jalan Sukses

Ah ini dia !!

Saya sangat tertohok dengan sebuah pertanyaan seorang teman : ” Kenapa kita selalu fokus dengan cara cara meraih sukses. Pertanyaan yang sebenarnya perlu kita cari jawabannya adalah : apakah benar ini jalan sukses kita ? “

Atau pertanyaan lainnya adalah :

” Sudah benarkah jalan ini yang akan ku tempuh untuk meraih kesuksesan ….”

” Di jalan yang manakah aku akan memperoleh kesuksesan …. “

” Bagaimanakah aku yakin, bahwa ini adalah jalan aku memperoleh kesuksesan …”

Barangkali pertanyaan pertanyaan ini yang masih jarang kita dialogkan dengan diri kita sendiri. Kita begitu terlarut dengan cara cara yang kadang terlalu “tekhnis” dalam mencapai kesuksesan. Kita terlarut dalam CARA.

Kemudian melupakan hal lain yang lebih utama, yaitu mengetahui DIMANAKAH JALAN KESUKESAN kita …

Bersambung ….

kemana

 

Goes To NTT ( lagi )

Kayanya NTT bakalan jadi kampung kedua saya nih, hhe.. hampir setiap tahun di takdirkan Allah ke pulau yang dulunya saya tidak pernah bayangkan sama sekali akan sering di kunjungi.

Akhir April ini saya kembali ke Pulau nan eksotik ini. Dalam rangka peresmian sekolah yang sedang saya bangun dengan teman teman Kebukit Indonesia dalam program “Bangun Sekolah NTT”

Jadi program “Bangun Sekolah NTT” ini adalah program pendidikan, dimana kami ingin membantu masyarakat NTT untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik, lebih layak, lebih berkualitas. Baik dari insfrasuktur maupun dari pengembangan sumber daya manusia nya.

Alhamdulillah, walau dengan perjuangan yang tidak mudah, akhirnya terbangun satu sekolah, di senbuah pulau terpencil bernama Pulau Pangabatang.

Banyak cerita, banyak pelajaran, banyak hikmah yang saya (kami) dapatkan dalam perjalanan kali ini. Bismilllah. Semoga di Ramadhan ini bisa baik terceritakan …

Tunggu ceritanya yaa…

Belajar Tentang Kehidupan Di Kampus

Pekan ini jadwal saya masuk kampus lagi. Dapat tugas untuk mengajar tentang materi “Active Learning” di mata kuliah Pengembangan Kepribadian. Sebenarnya, materi  materi berupa slide show, sudah diberikan dari pihak kampus, namun saya pribadi lebih senang mengajar dengan cara dua arah, engan cara diskusi atau praktek.

Karena, selain agar perkuliahan tidak membosankan, saat ini bukan saatnya lagi materi perkuliahan itu satu arah, terpaku pada teori. Di tingkatan mahasiswa, yang mereka butuhkan selain knowladge, adalah bagaimana mereka punya karakter dan personal skill bisa menerapkan ilmu mereka dalam kehidupan nyata.

Maka, kuliah pekan ini saya isi dengan menonton film “Facing The Giant”. sebuah film yang sangat inspiratif. Tentunya film yang diputar hanya part yang dibutuhkan nya saja. Sekitar tujuh menit para mahasiswa diberikan kesempatan untuk menonton film tersebut, selanjutnya secara berkelompok, mereka diminta untuk menganalisis film tersebut, mengexplore masing masing karater, dan mencari tahu hikmah atau pelajaran yang mereka dapatkan dari film tersebut

img_20190425_1111341295293534.jpg

Proses belajar mengajar dengan seperti ini, bagi saya pribadi sangat menyenangkan. Kelas menjadi hidup, para mahasiswa diasah kemampuan berfikir kritis nya, kemampuan analisisnya, kemampuan berkomunikasinya, sekaligus kreatifitasnya.

Ketika menonton, mereka dilatih untuk menyimak film dengan seksama, mengaktifkan penglihatan dan pendengaran mereka. kemudian masing masing mengambil nilai, pelajaran,  kesimpulan yang mereka dapatkan. Setelah itu mereka belajar untuk berkomunikasi dalam forum diskusi. Menyampaikan pemikiran, gagasan, secara verbal dan tulisan.

Sehingga proses belajar, baik itu melihat, mendengar, menyampaikan secara lisan dan tulisan, semua bisa terjadi. Watching, Listening, Speaking And Writing.

Selain itu kita memberikan insight bahwa mereka bisa belajar dari apa saja, salah satu nya dari sebuah film. Belajar bisa melalui hal yang mengasikan. Kuncinya adalah memilih source yang tepat. Seperti saat mereka belajar dari sebuah film, sebenarnya kita sedang mengajarkan tentang nilai nilai kehidupan yang sebenarnya mereka butuhkan.

Sayangnya saat ini, lembaga lembaga pendidikan bahkan setaraf sekolah tinggi atau universitas, masih mengutamakan hal hal kognitif saja. Urusan moral, nilai kehidupan, kemampuan problem solving, daya juang, life skill, seolah olah bukan “urusan” kami, para mahasiswa dinilai sudah bisa mencari cari sendiri, padahal sehari hari mereka banyak menghabiskan waktu di dunia kampus, dunia perkuliahan.

Padahal bila kampus ingin menghasilkan manusia manusia berkualitas baik secara soft skill, pengembangan diri, penajaman karater, kemampuan problem solving, dan nilai nilai kehidupan seperti ini seharusnya menjadi “ranah” tanggung jawab  mereka. Tidak melulu berkutat di area area nilai akademis

Seperti di SMA dulu, kita ada  mata pelajaran bimbingan konseling, maka sebenarnya di kampus pun mata kuliah seperti ini masih sangat dibutuhkan. Kerena mahasiswa butuh hal yang lain diluar dari mata kuliah kognitif. Sayangnya tidak semua kampus menyadari hal ini, perkuliahan jadi sangat kering dengan niali nilai moral dan penanaman nilai nila kehidupan.

Maka, saya bersyukur bisa hadir dan menjadi bagian di salah satu sekolah tinggi di Kota Bandung ini, yang progam studi nya menghadirkan satu mata kuliah khusus, yaitu mata kuliah “Pengembangan Kepribadian”, untuk membantu para mahasiswa nya belajar tentang life skill, juga nilai nilai kehidupan, yang kelak akan mereka butuhkan saat ini dan juga kelak di kehidupan nyata.

Memastikan Jati Diri

 

TM2

FotoBy : Dandi Birdy

Pekan lalu, dua hari berturut turut, saya mengikuti sebuah training  bertema “Talent Mapping”, sebuah training tentang bagaimana kita mencari tahu, apa sebenarnya yang menjadi bakat kita, berdasarkan sifat alami kita, berdasarkan fitrah kita. Kalau teman teman yang bergerak di bidang pengembangan diri, human resource, pastinya sudah banyak tahu mengenai metode talent mapping ini,  dengan founder  bernama Abah Rama.

Bagi saya training ini sangat banyak membantu saya, dalam “mendefinisikan” diri saya, tentang karakter, sifat, pembawaan yang selama ini memang sudah ada dalam diri saya, namun masih belum mengerti, belum saya sadari bahwa itu adalah potensi diri, dan bahwa sebenarnya sifat sifat khas yang sudah ada itu adalah modal utama dalam kehidupan saya.

Training ini juga makin menyadarkan saya, tentang bagaimana menentukan bidang apa yang memang sesuai dengan sifat khas yang sudah ada dalam diri saya. Karena kadang kita salah jalan dalam kehidupan ini, salah dalam memilih bidang yang sebenarnya “bertentangan” dengan pembawaan kita.

Karena sejatinya, manusia sudah mempunyai “benih” yang sudah Allah sertakan dalam kelahiran kita. Namun sayangnya, masih banyak dari kita -mungkin termasuk saya didalamnya- salah atau kurang tepat dalam memilih tanah untuk menanam benih itu.

Sehingga benih yang seharusnya menjadi pohon besar yang mempunyai akar yang kuat, batang yang kokoh, ranting yang baik, buah yang lebat, dedaunan yang meneduhkan sesiapa yang ada di bawahnya, namun  ia  tumbuh dengan seadanya, tidak maksimal, tidak sesuai dengan planning Penciptanya. Akarnya tidak kuat, batangnya lemah, ranting nya rapuh, jarang berbuah, dan tidak meneduhkan.

Karena kita sebagai “tukang kebun” tidak pandai atau salah memilih dimana benih yang sudah kita punya seharusnya ditanam, kita telah salah memperlakukan benih kita. Maka mencari tahu apa jenis “benih” atau dalam bahasa lain “potensi bakat sifat” yang kita miliki sangat penting, hingga kita tidak salah memilih di mana kita akan memilih jalan kehidupan, bidang apa yang kita pilih, peran apa yang kita akan jalankan dalam hidup ini.

Ada sebuah Quote yang sangat mengena bagi saya, yaitu :

Kita  sangat sering diajarkan tentang bagaimana CARA meraih kesuksesan, tapi kita jarang membahas bagaimana memilih JALAN yang tepat untuk memilih kesuksesan

Ah sebenarnya masih banyak yang ingin dibahas, semoga ditulisan selanjutnya yaa…. ^^

 

 

” Mobile Lagend ” Untuk Kemajuan Anak Bangsa … ?

games online

Anak-anak bermain game online di sebuah warnet. – Ilustrasi/indigos.com

 

Sebenarnya saya cukup menahan nahan untuk tidak membahas ini -di masa tenang- dalam pemilu ini. Tapi sebenarnya ini bukan hanya tentang keberpihakan saya kepada seorang kandidit presiden, tentang di kubu mana saya berada, namun ini tentang seorang pemimpin yang bernarasi tentang masa depan bangsanya.

Rasanya saya tidak perlu lagi membahas tentang bahanya games online bagi manusia, terutama anak anak. Sudah banyak pihak, yang memaparkan bahannya kecanduan games online ini. Baik dari sisi pendidikan, kesehatan, emosi, bahkan perkembangan jiwa. http://Kecanduan Games Online Meyebabkan Kerusakan Fungsi Otak

Tak sedikit orang tua yang curhat, mengeluh, resah ketika melihat anak nya kecanduan games online. Tak sedikit mereka kemudian menyesal saat tahu anak nya sudah dalam tahapan kecanduan parah games online, yang kenyataannya banyak merusak banyak sisi kehidupan mereka.

Sedih sekali, ketika seorang kandidat presiden yang juga seorang pemimpin negara, membawa isu ini ke ranah pembahasan program kebangsaan. Alih alih membahas tentang bagaimana menjaga rakyatnya, anak bangsa nya, dari kerusakan yang ditimbulkkan dari games online, malah seakan akan games online atau di “keren” kan dengan istilah e-sport sebagai sebuah program yang prioritas.

Salah kah membuat games online sebagai program besar pemerintah … ?

Dengan kondisi negara kita yang seperti ini, rasanya sangat tidak elok menjadikan games online, sebagai hal yang harus diprioritaskan. Masih banyak sektor lain yang esensial, mendasar, substantif, dibangun di negri ini : pertanian, perikanan, jiwa jiwa kemandiran, wirausaha, pendikan, kesehatan dsb.

Bukan hanya tidak substantif, bila kita menggali lebih dalam kecanduan games online ini bisa membawa mudharat yang sangat banyak, bukan hanya perkara menyia nyiakan waktu, membuat tidak berinteraksi denga lingkungannya, namun lebih jauh ini merusak fungsi otak, merusak fungsi otak depan (pre-frontal cortex), yaitu fungsi otak yang membedakan manusia dengan hewan. Fungsi otak dimana manusia berfikir, dan menjalankan fungsi nya sebagai manusia. Bila fungsi otak itu rusak, apakah jadinya manusia tersebut ?

Maka, berbagai dalih yang mengatakan bahwa potensi income dari games online ini luar biasa, sehingga harus didukung dan dikembangkan. Maka pertanyaan nya adalah, seberapa sanggup kita menanggung jutaan, bahkan puluhan juta, rusaknya  fungsi otak anak bangsa kita, anak anak kita, adik adik kita, para penerus bangsa.

Dimana tanggung jawab kita, dimana kita membiarkan anak anak kita, adik adik kita, yang masa depan nya masih panjang, kemudian kamampun berfikir, kemampuan bernalar tak berfungsi. Apakah pemerintah mau bertanggung jawab ketika hal ini terjadi ?

Maka apabila ada pemimpin Bangsa yang justru mendukung bahkan ingin menjadikan games online ini sebagai sesuatu yang besar, di akses masal generasi muda, bukan nya mencegah, memberi pengertian yang baik tentang akibatnya, membuat regulasi yang baik dan benar menghadapi serbuan games online yang makin banyak.

Akan jadi apakah generasi muda kita ini ?

Ah entahlahh ….

Saya mengerti sekarang, bila dulu ada pribahasa, “Bila ingin merusak sebuah bangsa, maka bakarlah bukunya, jangan biarkan mereka membaca” Sekarang mungkin akan ada tambahan pribahasa : “Bila ingin merusak sebuah Bangsa, maka biarkan anak muda nya kecanduan games online, dan biakan mereka terelana, dirusak secara terencana, tanpa mereka menyadarinya “

Semoga Allah melindungi anak anak kita, adik adik kita, dari program pembodohan yang terencana …

Bandung, 15 April 2019

Pertanyaan Seorang Awam : “Benarkah Pertahanan Negara Kita Lemah…?”

19765170_1948393952095716_7524042254525136896_n

Seberapa kuatkah ketahanan dan ketahanan negara kita ?

Well, saya bukan orang yang ada di kapasitas ini untuk menjawabnya. Debat presiden beberapa waktu lalu yang membahas tentang seberapa kuat ketahanan militer negara kita, membawa ingatan saya akan percakapan beberapa tahun lalu dengan seorang komandan kapal TNI AL sewaktu saya dalam program berkeliling Nusantara, menggunakan amada KRI untuk program sosial dan pendidikan.

Dalam perjalanan saya berkesempatan berbincang bincang dengan seorang Komandan  KRI , kami bincang bincang sederhana, tentang lautan Indonesia. Beliau adalah seorang anggota TNI AL, yang sudah belasan tahun bertugas menjaga lautan Indonesia. Ia bercerita tentang betapa luasnya lautan kita, ribuan pulau, dengan jutaan kekayaan dan pesona baik di permukaan, pantai, juga di dalam lautan itu sendiri.

Begitu luasnya perairan  Indonesia,  berbatasan dengan lebih dari satu perairan negara lain, bahkan benua. Beliau bercerita, kondisi seperti ini adalah dua sisi mata uang, bisa jadi sebuah anugrah, bisa juga menjadi ancaman.

Anugrah yang besar ketika kita mampu untuk menjaganya, saat kita mampu memaksimalkan potensi nya untuk kemakmuran dan kesejahtraan masyarakatnya, dan menjadi ancaman ketika kita tidak benar benar menjaga perairan Indonesia, yang nyatanya banyak negra lain  “menginginkan” kekayaan negara kita.

Beliau bercerita lebih dalam, bahwa jumlah angkatan laut saat ini, tidak sebanding dengan  perairan yang mesti di jaga, terutama di daerah perbatasaan. Perairan Indonesia sangat luas, butuh angkatan laut yang kuat baik kualitas dan kuantitas. Masalah kecintaan para TNI, tidak usahlah diceritakan lagi, namun fasilitas yang menjadi “senjata” kita menjaga masihlah sangat kurang

Dengan mata yang menerawang keatas, beliau berujar panjang lebar “Dek Riska, bayangkan luas nya laut kita, barat, timur, utara, selatan, namun pangkalan laut yang besar hanya ada di Jakarta dan Surabaya, segala alat kelengkapan ada disana, padahal perairan mana yang perlu dijaga? ada di Timur Indonesia, Selatan Indonesia, Utara Indonesia, yang jaraknya jauh dari Surabaya, jauh dari Jakarta. Bayangkan ketika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan di wilayah Timur misalnya, kita harus lama menunggu bantuan yang datang dari Jakarta atau Surabaya”

Mendengar penuturan beliau, seakan membukakan mata saya lebar lebar, tentang kenyataan yang ada. Empat tahun terakhir ini saya mengunjungi bebarapa pulau di Indonesia, dari perairan Mentawai, NTT, Papua, hingga ke perbatasaan Indonesia-Filipina, benar adanya, bahwa di pulau pulau tersebut.

Menurut penilaian saya -orang awam- pangkalan angkatan laut nya sangat terbatas, hanya berupa kantor perwakilan saja. Adapun penjagaan dari para TNI AL yang bertugas hanya beberapa kapal saja, tidak bisa “mengcover” wilayah Indonesia yang sangat sangat luas.

Beliau kemudian menceritakan lagi tentang sesuatu yang barangkali menjadi keresahannya ” Banyak negara lain menawarkan untuk melakukan penelitian terhadap kekayaan perairan bawah laut kita, dengan tawaran bahwa apabila penelitian ini berhasil, maka akan membawa kesejahtraan banyak untuk negara kita

Beliau terdiam sejenak, kemudian melanjutkan ” Namun kita tak pernah tau, apakah mereka benar benar ingin memberi bantuan pada negara kita, atau dibalik itu ternyata mereka memang mencari informasi kekayaan kita, atau peta kekuatan bangsa kita” 

“Negara kita negara yang sangat kaya, banyak yang mengingingkannya” kalimat terakhirnya begitu dalam, matanya berkaca kaca, seperti tak sanggup melanjutkan.

Dia menutup percakapn kami dengan curahatan hati nya ” Kalau memikirkan hal ini, saya kadang sangat sedih, sungguh dek riska. Tapi ada daya, saya hanya prajurit, tak bisa berbuat banyak” dan akhirnya pun kami hanya diam seraya mendengarkan ombak malam yang menghempas buritan kapal.

Percakapan malam itu, meninggalkan banyak pertanyaan dalam diri saya. Masih banyak PR untuk menjaga Bangsa kita ini.


 

 

 

Waspada adalah sebuah keharusan, urusan Bangsa rasanya tidak elok bila kita terus berasumsi semuanya akan baik baik saja. Membuka mata akan realita, bersikap waspada, disalahkan artikan sebagai sikap pesimisme. Dimanakah nalar ditempatkan ? Membuka mata akan realita bukan berarti kita pesimis akan cita cita. Justru sebaliknya, realita yang ada, adalah pijakan kita untuk bagaimana meraih cita cita.

Termasuk cita cita berbangsa. Rasanya sangat naif menilai bahwa 20 tahun kedepan tak akan terjadi invasi apa apa, tak akan ada negara lain yang ingin “masuk” ke dalam negara kita. Mengurus negara tidak cukup hanya dengan merasa semua akan baik baik saja, karena itu akan membuat kita terlena.

Mengakui realita bukan sebuah kesalahan, jusrtu tidak mengakui realita yang ada adalah kebodohan, dan kemauan untuk terus dibodohi. Jangan terlena dengan prestasi semu yang justru melemahkan diri kita, membuat kita seolah olah diatas nirwana, padahal ancaman ada di depan mata, kita saja yang pura pura tidak mengetahuinya, atau mungkin memang dibuat tidak mengerti


Debat presiden kemarin, membuat saya lebih mengerti, siapa  yang benar benar mencintai dan ingin menjaga NKRI ini, siapa yang lebih waspada terhadap keutuhan NKRI ini, ketimbang ia berkata semua baik baik saja, padahal tidak.

Jayalah Selalu Indonesiaku …..

Semoga pemimpin berikutnya, adalah ia yang benar benar mencintai Nusantara ini …

Pengalaman Pahit Masa Kecil Dengan Kementrian Agama

Kementerian-Agama

Beberapa pemberitaan tentang peristiwa jual beli jabatan di kementrian agama akhir akhir ini, membawa memori saya ke belasan tahun yang lalu, ketika bapak saya meninggal.

Apa hubungannya kementrian agama dengan almarhum Bapak saya ? Jadi almarhum, adalah seorang guru di lembaga pendidikan yang ada di bawah kementrian agama. Bapak meninggal di tahun 2002, meningalkan istri dan anak yang masih di usia sekolah saat itu.

Saya  masih ingat saat itu, sepeninggalan bapak,  Ibu saya mengajak saya untuk mengurus samacam santunan duka ke kementrian agama kota (saat itu masih disebut dengan DEPAG – Departemen Agama)

Masih lekat peristiwa waktu itu, seorang pegawai lalu menyapa kami, menanyakan keperluan kami. Setelah dijelaskan beliau melihat kelengkapan dokumen yang sudah ibu saya siapkan. Kemudian di akhir pembicaraan, beliau berkata  kurang lebih seperti ini  “Buu… tong hilap weh kanggo abdi na, bisanana mah 10%  ” Kurang lebih artinya seperti ini “ Bu, jangan hilap buat saya ya, biasanya  10 %…” sambil tersenyum penuh makna

Kemudian saya lihat sesuatu di wajah  ibu saya, semacam gabungan ekspresi kaget, marah sekaligus sedih. Lalu ibu saya menjawab kurang lebih ” Pa, ini uang untuk anak yatim …” si bapak menjawab “Nu sanes ge sami da tos biasa, nya atos sabaraha wae lah bu ….” ; ”  yang lain juga sama, sudah biasa ko, ya udah berapa aja kalau begitu ….”

Saya melihat wajah ibu saya sedikit berkaca kaca, menahan tangis barangkali. Yang saya mengerti saat itu, si bapak petugas meminta “jatah” santunan uang duka yang menjadi hak kami. Uang yang akan menjadi bekal ibu saya membesarkan anak anak nya, uang yang sebenarnya tidak terlalu besar juga, namun oknum petugas ini masih meminta jatah yang sama sekali bukan haknya.

Padahal beliau pun sudah  dibayar  oleh pemerintah untuk melakukan tugas nya. Tega ! Barangkali itu yang mewakili perasaan kami saat itu. Ditengah suasana kami yang masih berduka, ditambah dengan peristiwa saat itu, seperti menggoreskan luka yang dalam.

Sepanjang perjalan pulang di angkot saat itu, saya melihat ekspresi kecewa, marah dan sedih di wajah ibu saya. Dan saya pun merasakan hal yang sama.


 

Peristiwa belasan tahun yang lalu itu sangat kuat melekat dalam ingatan saya, hingga saya dewasa. Apa saja yang berhubungan dengan Kementrian Agama (DEPAG) saat ini, ingatan saya kembali ke peristiwa itu. Saya semacam menyimpan memori yang dalam di alam bawah sadar saya tentang kementrian agama ini, hingga sekarang.

Hingga, pemberitaan kemarin tentang kasus jual beli jabatan di kementrian agama yang sedang ramai di media, ingatan saya kembali ke belasan tahun lalu. Dalam hati berkata ” Ya Allah, masih juga seperti ini …” 

Saya tahu, di kementrian agama pasti banyak juga orang orang yang masih lurus, masih menjaga keamanahan dan profesionalitas mereka, berjuang agar kementrian ini menjadi kementrian  bersih, jujur, yang bisa dipercaya, dan benar benar menjalankan fungsi nya untuk masyarakat.

Namun, tidak bisa dipungkiri, di masyarakat masih kuat melekat tentang bagaimana kementrian yang seharusnya menjadi lembaga pemerintah yang  paling amanah, karena mengusung nama AGAMA, tapi faktanya menjadi kementian yang paling banyak melakukan praktek  penyimpangan, yang dilakukan dari jabatan yang paling bawah, hingga jabatan paling tinggi.

Saya menjadi bertanya tanya, apakah ini  adalah budaya yang diwariskan turun temurun, nilai yang di turunkan dari generasi ke generasi, nilai yang dijaga dan dipelihara secara tersirat, sehingga di jadikan sebuah permakluman , ” ahh sudah biasa, yang lain juga begitu, yang sebelum sebelum saya juga begitu … “. Generasi tua mewariskan contoh  kepada yang muda, yang muda melihat, mendengar, dan menyaksikan dan kemudian “meneladani” cara caranya. Begitu terus lingkaannya. Astagfirullah ….


 

Mungkin cara yang terbaik adalah perombakan besar besaran untuk kementrian ini, dimulai dari pimpinan tinggi, stuktur, departemen2 di dalamnya, cara perekrutan, sistem, transparansi, budaya, bahkan mungkin merubah hal hal seperti visual, seperti suasana, warna, seragam, logo kementiran, ll menjadi sesuatu yang benar benar baru, fresh … !

Agar ada persepsi baru terhadap kementrian ini, baik persepsi internal, hingga siapapun yang ingin masuk ke depertemen ini, sudah membawa mind set “kejujuran” juga persepsi eksternal, agar persepsi di benak publik pun benar benar bisa berganti kepada kementrian ini. Dari yang saat ini sedikit banyak, maaf “Untrustable” menjadi “Trusable”


 

Akhirya -Bagi saya-  kenyataan hari ini, bukan berarti kenyataan mutlak di masa depan. Saya pribadi masih menyimpan harapan. Asalkan ada perubahan yang mendasar di kementrian ini. Ibarat rumah yang sudah bobrok, yang dibutuhan bukan saja merenovasi rumahnya, seperti memperbaiki tembok, lantai, atau atap nya saja.

Tapi mungkin yang dibutuhkan adalah merobohkan dulu bangunan lama, mengkokohkan dan mengatur ulang pondasi nya, mendesign ulang bangunannya, interior dan eksterior yang benar benar baru, dan terakhir menyeleksi  benar benar para penghuni yang layak tinggal di dalamnya

Harapan akan selalu ada, terutama kepada kementrian yang mengusung dan mengurus kepentingan masyarakat yang berhubungan dengan AGAMA. Tidak hanya untuk kita, tapi untuk kepentingan generasi kita yang akan datang. Kementrian ini sangat besar peran dan fungsi nya. Sebagai lembaga yang akan membantu masyarakat menagakan nilai nilai agama, nilai nilai moral, nilai nilai kebaikan yang sangat dibutuhan negri ini

Tentunya pemangku kekuasan mempunyai andil yang paling utama untuk bagaimana kementrian ini kedepannya. Apakah mau dibiarkan begitu saja, dengan budaya yang sepertinya sudah kuat mengakar, atau akan dijadikan prioritas yang akan diurus dalam program program nya.

Karena justru yang paling penting untuk membagun negara , selain membangun infrastuktur, adalah bagaimana membangun sumber daya manusia yang jujur, bersih, amanah dan profesional. Semegah apapun infrastuktur yang sebuah negara miliki, namun tanpa sumber daya manusia yang berkualitas -apalagi petugas pemerintahan- maka negri ini tidak akan kemana mana.


 

Ah, sudah sekian dulu …

Tidak ada niat apa apa, hanya sedikit berbagi sekelumit cerita, pengalaman, kenyatan dan harapan dari seorang anak negri yang mencintai negara nya. 

Semoga Bermanfaat,

Bandung, 22 Maret 2019

Nuriska