Dalam Setiap Lembarnya

 

 

buku

 

 

Dalam setiap lembarnya tersimpan dunia, tersimpan cerita, tersusun makna hikayat masa lalu untuk masa kini dan masa yang akan datang. Dalam setiap lembarnya adalah pembeda akan baik dan buruk. Dalam setiap lembarnya kita meraba siapa kita, untuk apa kita ada, dan akan kemana kita. Dalam setiap lembarnya ada  ada cinta, ada angkasa, ada semesta. Dalam setiap lembarnya adalah cara kita untuk mengetahui Kuasa-Nya

Karena Kita Hanyalah Perantara [Sebuah Catatan Bencana Garut ]

Malam itu saya berencana untuk pergi ke Garut, bersama teman teman dari berbagai komunitas, untuk memberikan beberapa bantuan dan titipan dari teman teman. Lagi asik packing tiba tiba mamah bilang : “ teh, mamah pengen ikut ….”  karena mobil juga kosong, hanya saya dan adik, saya iyakan aja, lagian rencannya hanya sampaikan titipan donasi, kemudian pulang.

Kondisi garut memang sangat memprihatinkan, saya baru sempat ke sana setelah sekitar satu minggu bencana. Alhamdulillah bertemu dengan kawan kawan untuk #GerakBareng, yaitu gabungan dari beberapa komunitas yang mencintai dunia kerelawanan yang telah lebih dahulu ada disana.

Bencana Garut memang menyisakan PR yang sangat panjang, waktu saya kesana masih banyak rumah rumah yang menyisakan rumput yang masih sangat tebal, menempel di semua bagian rumah, merusak hampir semua barang barang, dari mulai pakaian, peabotan, barang elektronik, dsb. Tidak sedikit yang harus merelakan barang nya untuk di buang begitu saja.

Disana, kami tiba di sebuah masjid di desa Tarogong, Alhamdulillah masjid sudah bersih dan bisa ditempati dan dijadikan posko. Namun sekitarnya masih banyak rumah rumah yang belum bisa ditempati karena sisa lumpurnya masih sangat banyak.

Saya langsung ikut bergabung dengan kawan kawan relawan yang sudah turun duluan, tadinya sih pengen ikut ngangkat ngangkat sekop kaya anak mahasiswa yang sedang bersihin jalan, tapi kayanya bakal ribet karena berat dan agak gak cocok dengan saya yang saat itu pakai gamis.

Akhirnya saya ikutan gabung sama relawan yang sedang bersihin salah satu rumah warga, yang hampir 3/4 rumahnya sempat terendam banjir. Dengan peralatan penyemprot air, pel dan sikat kami bersama sama bersihin rumah warga. Satu rumah saja membutuhkan lebih 3 jam, itu pun hanya membersihkan rumahnya saja, belum perabotannya, Ya Allah… sungguh cobaan yang tidak mudah, bagi para warga.

 

****

Saya kira sewaktu kami membersihkan rumah, mamah hanya akan diam saja, menunggu atau menjaga barang bantuan. Tapi ternyata beliau tidak mau hanya diam saja, kesel juga barangkali ya kalo hanya diam saja. Akhirnya pun beliau turun ikut bergabung dengan para relawan yang masih berusia muda (seperti saya) #Batuk hhaa.. ikut membersihkan rumah warga dan perabotannya.

Mamah terlihat sangat semangat sekali, sesaat mungkin melupakan usianya dan tenaganya. Walaupun sebenarnya usia bukan ukuran juga sih, apakah seorang mau turun membantu atau tidak, kadang yang muda juga kalah dengan yang tua, ketika yang tua itu mempunyai semangat yang sangat membara. Merdekaaaa…….!!! halah …

Walau bajunya jadi kotor, dan juga tidak baju ganti, mamah bilang ” ga apa apa lah, kapan lagi bantu orang lain, kasian, nanti aja ganti baju nya di rumah” . 

Hari itu saya belajar dari beliau, bahwa tidak ada halangan untuk kita untuk tidak menjadi manusia bermanfaat, siapapun kita, berapapun usia kita, seperti apa pun kondisi kita. Kuncinya bukan karena mampu atau tidak mampu, tapi mau apa tidak mau

mams

 

****

Ah Garut, kota ini mendapatkan ujian yang tidak terduga, semoga bisa menjadi sesuatu bagi kita semua, bukan hanya mereka yang terdampak langsung, tapi untuk kita semua, bahwa ketika Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka terjadilah.

Absolutly Our Life In His Hand, No Doubt

Dan semoga ada rasa kepedulian yang mendalam, empati. Bahwa kita merasakan, apa yang mereka rasakan, dan dengan apa yang kita bisa, kita meringankan apa yang menjadi permasalahan mereka.

Bukan kita yang menjadi solusi atau berjasa atau semacamnya, kita hanyalah kepanjangan tangan-Nya, perantara, kita hanya jalan, bukan sumber, dan bersyukurlah, berbahagialah ketika Allah “memilih” kita untuk menjadi jalan Ke Maha Baikkan-Nya

 

Ketika Waktu Tidak Membersamainya [ Tanaka’s Stories ]

1236963_10151829334118260_1489734312_n

Kemudian, tiba saja dia sudah ada di sampingku, duduk di pepasir pantai yang tak pernah kita bosan kunjungi. Tak ada yang berubah dengan nya sejak terakhir kali kita bertemu, masih dengan kemeja flanel kotak kotak nya, juga rambut sebahu yang ia biarkan terurai. Naka, Tanaka ku.

Lama kita terdiam sambil melihat mereka yang sedang bergembira bermain di laut yang sedang sangat tenang.

****

Sudah mengambil keputusan ?” katamu tanpa basa basi

Sudah ….” ujarku tersenyum

Yakin ?”

“Aku harus meyakinkan diriku, harus.”

Apa perasaan mu saat ini ….” lurus kau menatap wajahku

Lama aku tertunduk, diam. Mencari cari jawaban akan pertanyaanmu. Jawaban yang juga menjadi pertanyaanku. Jawaban yang mungkin bisa menjelaskan ada yang sebenarnya aku rasakan. Tanaka mungkin coba membantu aku menemukannya.Kutarik nafas panjang, menatap laut biru muda di depan sana.

“Kamu pernah merasakan perasaan sebanyak ini dalam satu waktu ….”

Tanaka memberiku waktu jeda untuk berbicara, ia setia menunggu

“Ka… semuanya ada kali ini. sedih, kesal, kecewa, marah, juga rasa sayang, saat ini semuanya ada, memenuhi dada ini, bercampur..”

Tanaka ku masih diam, masih menungguku bercerita lebih banyak, ujung kakinya mengais ngais pasir, rambut sebahunya tertiup angin, wajahnya damai, rasanya aku ingin memeluknya, menangis saja.

***

“Lima tahun, lima tahun aku tak pernah berani untuk benar benar pergi dari hidupnya Ka, kamu tau. Selalu ada maaf untuknya, selalu ada ruang untuknya untuk kembali, selalu ada kesempatan, selalu ada alasan…

Kututup mataku, lamat lamat kudengar debur suara ombak, dan pepasir yang tertiup angin.

Dan kemarin, aku putuskan untuk mengakhiri semua. Setelah lama ku fikirkan keputusan ini, keputusan untuk berhenti. Untuk memakai titik di episode ini, bukan koma. Episode yang aku dan dia mungkin berpura pura semua ny akan baik baik saja. Episode yang kami biarkan mengalir layaknya air. Episode kami saling mensamarkan tentang perasaan masing masing. Episode kami sama sama mengganggap kami telah berbuat baik dan benar. Episode yang kami seolah olah telah dewasa dan bijaksana …”

“Lalu apa yang membuatmu sedih dan kecewa ..”

Pertanyaan ny membuat dadaku memberat, ku ambil waktu untuk siap manjawabnya

“Ka… kau pernah merasakan, ketika seseorang yang paling dekat dengan mu, yang menjadi sahabat hatimu, tiba tiba ia menjadi asing, tiba tiba kau rasa itu bukan dirinya, kau kehilangan, bukan  raganya tapi kau kehilangan sosoknya …”

“Mungkin kau terlalu berlebih menilainya..” Tukasmu pelan

“Mungkin, entah…”

“Kamu masih menyayangi nya …?”

Seperti ada yang jatuh di dasar ulu hatiku. Punggungku menegang, kepala ku menggeleng perlahan menatap Tanaka, namun sebentar saja, aku tak bisa tak jujur dihadapannya. Kudongkakan kepala ke atas langit, menarik napas dan melepaskannya.

Diam ….

Ombak laut masih bersahutan, angin sore di pantai ini masih merdu memainkan iramanya, burung burung pantai pun masih bercengkrama. Kau menepuk bahaku, memintaku melihat matamu.

” Rasa sayang itu banyak bentuknya, tidak melulu tentang puja memuja tidak pula harus selalu bersama. Terkadang kamu harus melakukan sebaliknya, melapaskannya, meninggalkannya, tidak membersamai langkah nya …”

Kau pun tersenyum, menganggukan kepala seperti sebuah persetujuan, berpamit, kemudian menghilang.

Aku pun sendiri, Tanaka menghilang seperti biasa, meninggalkan ku dengan sebuah jawaban.

Terimaksih Naka, semoga kita segera bertemu kembali, esok ….

 

 

 

 

[ Keping 3 ] Al-Buruj, Masjid Megah di Pulau Buru

IMG_1557

Al-Buruj, mesjid megah yang ada di tengah tengah pulau Buru ini, adalah kejutan yang lain yang kami dapatkan di pulau ini. Ditengah tengah pulau yang belum banyak di kenal orang, yang namanya terdengar sedikit menyeramkan, pulau yang dulu merupakan tempat pembuangan pemberontak PKI ini, ada sebuah masjid yang luar bisa besar dan megah, bahkan bila masjid ini ada di tengah tengah kota besar, masjid ini masih bisa dikatakan megah.

Mesjid ini menggoda kami untuk singgah, saat itu belum banyak aktifitas yang terlhat, hanya ada beberapa orang saja, sehingga kami leluasa untuk berkeliling dan mengambil foto

 

 

Alhamdulillah di dalam kami bisa bertemu dengan Bapak Amir, salah satu pengurus mesjid di Al-Buruj. Dari cerita beliau kami mendapatan informasi bahwa mesjid ini dibangun atas swadaya masyarakat, urunan. Waww.. kami kembali di buat tercengang, dengan betapa peduli nya masyarakat untuk membangun mesjid yang sekaligus Islamic Center di pulau ini, dan betapa kaya nya masyarakat disini, sehingga mau dan mampu untuk urunan masjid yang megah ini.

IMG_1578

Pembicaraan berlanjut mengenai kegiatan kegiatan di masjid ini.Pa Amir bercerita dana infaq/shadaqah di mesjid ini lumayan besar. Setiap kali jumatan dana kotak infaq yang terkumpul tidak pernah kurang dari 3 juta rupiah setiap minggunya, belum dana zakat/infaq/shadaqah yang lainnya. Kesejahtraan para pengurus masjid disini pun sangat diperhatikan, dan dana tersebut adalah dana yang terkumpul dari  masyarakat.

Pulau Buru, pulau penghasil emas yang masih tersembunyi, di luar dari plus minus akibat dari pertambangan emas yang mulai masiv di pulau ini, ada bagian dari masyarakat yang ingin tetap mengimbanginya dengan nilai nilai agama, salah satunya dengan membangun Al-Buruj ini, mesjid sekaligus Islamic Center masyarakat di pulau ini. Semoga bangunan megah ini bisa memberikan dampak baik bagi para warganya. Aamiin..

Bersambung ……

[ Sebuah Kisah ] Batik Pertamamu

batik-pria-lengan-panjang-hijau-cream-cb142-va-330x01

 

Sore itu kulihat kau dari kejauhan, tersenyum, rona ceria tersirat di wajahmu. Mungkin kau sedang bahagia saat itu, senyum yang sudah lama tak  kujumpai lagi. Mataku tertuju pada baju batik yang kau pakai. Ingatanku melayang ke beberapa masa yang lalu, saat ada masa kita pernah menghabiskan hari hari bersama.

Sore itu kau bercerita dengan antusisme yang coba kau redam, namun aku tau kau saat itu berbahagia

“Besok hari pertama ku bekerja, aku belum mempunyai pakaian yang pantas, besok antar aku cari baju, batik kurasa, aku ingin hari pertama ku aku terlihat pantas”.

Esok hari nya, kau mengajak ku berbegas menuju pasar, mencari baju batikmu. ah aku tak menyangka kau ternyata tipikal pria yang kurang simple memilih. Kukira biasanya pria akan lebih memilih pakaian, yang penting batik. Tapi tidak dengan mu. Kau tau kakiku hampir lelah mengikuti langkahmu yang sangat bersemangat hari itu.

Aku pun hampir lelah memberikan pendapat mana baju yang bagus menurutku. “Pilihlah sendiri, aku menunggu disini” kataku. Tapi kau bersikeras agar aku ikut memilihkan baju batik pertamamu, hingga akhirnya kita mendapatkannya satu.

Kulihat wajah mu berseri seri saat itu, lucu rasanya, seperti anak kecil yang mendapatkan baju lebarannya. Saat  perjalanan pulang kau berkata “Aku akan tampan besok dengan baju ini” dan aku pun tergelak.

Batik pertamamu beberapa tahun yang lalu, dan kau masih memakainya hari ini, saat aku dari tak sengaja melihatmu dari kejauhan.

Tidak, aku tidak sedang mengingat masa lalu atau semacamnya, aku hanya tetiba saja ingat suatu fragmen yang pernah kita lalui bersama.

Aku tau, kita berbahagia dalam posisi masing masing kita saat ini, kau dengan hidupmu, aku dengan hidupku.

Tidak ada yang lebih melegakan ketika kita mengingat masa lalu, dan kita tertawa lepas mengingatnya, seperti saat ini seperti saat aku mengingatmu, mencari batik pertamamu.

 

 

[ Keping 2 ] Namlea, Dimana Semua Berlabuh

 

img_1639Namlea, ada kesan tersendiri ketika mendengar nama dari pelabuhan pulau Buru ini. Namlea adalah pelabuhan yang menajadi pusat transportasi para warga yang akan masuk dan keluar pulau Buru, menuju Ambon atau Maluku.

Saat tiba di pelabuhan ini, kebetulan ada kapal yang baru saja merapat untuk kemudian menunggu penumpang yang hendak naik untuk keberangkatan selanjutnya, hingga Namlea saat itu riuh ramai.

Kami begitu menikmati suasana saat itu : pelabuhan, orang orang, dan semilir angin laut, suasana yang tidak bisa kami nikmati di kota kami, Bandung. Mengamati orang orang yang hilir mudik dengan berbagai urusannya barangkali, ada yang pergi dan pulang untuk pekerjaan, sekolah, urusan keluarga dan berdagang.

Sesekali kami mencoba tersenyum dengan mereka ketika berpapasan, dan membuka beberapa obrolan. Seperti dengan salah satu Ibu yang sedang berjualan minuman dan makanan ringan di pinggir jalanan pelabuhan, yang ternyata Beliau berasal dari pulau Jawa, dan telah lama merantau di pulau Buru ini.

Bercerita tentang kisah nya hidup di perantauan, dan bagaimana ia selalu saja merindukan kampung halamannya. Ahh… saya selalu kagum dengan mereka yang mempunyai jiwa jiwa perantau, yang mau melangkah jauh dengan keluarga, meninggalkan kenyamanan, menjelajah dunia baru, budaya baru yang berbeda dengan rumah mereka, yang berani melangkahkan kaki untuk esok hari, untuk masa depan.

Menikmati Namlea di sore hari, dengan harum semilir angin laut yang teduh, perjalanan yang menambah lapis lapis kesyukuran. Kebaikan-Nya mengantarkan ku jauh ke daratan ini, daratan yang beribu ribu mil jauhnya dari rumah. Karena Kehendak-Nya bertemu dengan mereka yang memilki keberanian ditengah keterbatasan.

Bersambung …..

Keping 1 DISINI

Bagaimanakah Akhir Kita ?

KEPERGIAN ORANG SHALIHAH

Kemarin, ada sebuah berita duka, dari seorang kawan yang meninggal dunia di usia yang relatif muda. Namanya Teh Nia, saya tidak begitu dekat dengan beliau, namun kenal baik, kenal baik dengan suaminya juga. Kami aktif di komunitas yang sama waktu dulu, dan pernah satu kantor, di rumah zakat waktu itu.

Kepergian Teh Nia, setelah sakit kurang lebih 9 hari di HCU rumah sakit, meninggalkan duka bagi banyak orang. Beliau orang yang dikenal sangat baik hati, sederhana, bersahaja, ramah, perhatian, peduli, suka mendengarkan, tempat curhat, punya jiwa sosial yang tinggi.

Begitu banyak orang yang datang untuk taziyah, begitu banyak orang yang kehilangan, menangis mendengar kepergiannya, begitu banyak orang yang bilang bahwa beliau adalah orang yang baik, begitu banyak doa terucap.

 

14344704_10210001380129375_2818730822268936579_n14449892_10205323000913049_5200320414937350586_n

LALU BAGAIMANA AKHIR KITA ?

Kepergian beliau selain meninggalkan duka, meninggalkan semacam renungan diri bagi saya – mungkin bagi banyak orang juga -, tentang bagimana nanti akhir kita. Apakah berakhir baik dan meninggalkan kebaikan, atau justru sebaliknya, ada atau tidak adanya kita tak menjadi hirauan bagi orang, bersedih sesaat kemudian berlalu begitu saja. Tidak ada doa yang melimpah, tidak ada kebaikan yang ditinggalkan, ah …

Apa kita hanya merasa sudah baik, padahal sebenarnya kita belum berbuat apa apa, hanya rasa kita saja. Apa kita hanya merasa sebagai orang yang telah beramanfaat, padahal itu hanya fatamorgana saja, pesona mata semata, ahh….

Semoga…semoga kebaikan dan amal shaleh yang kita lakukan, benar benar amalan yang di benar benar di Ridhai Allah, memberikan manfaat untuk diri kita sendiri dan untuk banyak orang. Amalan amalan yang bisa melampaui usia hidup kita di dunia. Amalan amalan yang ketika kita tiada, amalan yang terus mengalir menjadi cahaya kubur kita, dan menjadi bahan “pertimbangan” Allah memberikan Ridha nya  untuk memasukan kita ke Surga-Nya, berkumpul dengan orang yang kita cintai, untuk bisa menatap wajah-Nya.

P.s : Teriring doa untuk wanita shalehah : Semoga Allah mengampuni dosa dosa mu, mengasihimu, memuliakanmu, dan memberi cahaya pada kuburmu. Dan semoga kami yang masih menunggu giliran misteri menjadi manusia yang khusnul khatmah. Aamiin…