Apa Arti Perjalan Bagimu ?

blur

Blurring

Lalu apa makna perjalan bagimu ?

Apa hanya sebatas lalu lalang mu saja

Apa hanya sebatas senang senang saja

Sebatas prestasi penginjakan bumi disana dan disini

Sebatas pengabdian memori untuk berbangga diri

 

Lalu apa makna pengembaraan bagimu ?

Serupa perpindahan fisik mu sajakah

Apakah kau bawa juga jiwa mu besertanya

Apa hanya perjalanan mata semata

 

Lalu apa hasil perjalanan bagimu ?

Apa menambah penuh jiwamu

Apa menyentuh iman mu

Menyadarkanmu, bahwa kau hanya manusia

Membangunkamu, bahwa kau tak punya apa apa

Menyadarkanmu, bahwa kau hidup di Alam Ciptaan Nya

 

Lalu apa hasil petualangan mu ?

Sebatas memori gambar saja

Sebatas cerita belaka saja

Apakah perjalalan mu meninggalkan jejak manfaat

Manfaat pada mereka yang kau temui disana

Manfaat pada alam raya

Paling tidak makin mendekatkan mu pada-Nya

Apakah kau hanya lewati begitu saja

Ahh ……

 

#Sebuah catatan pengingat untuk diri sendiri

 

 

 

 

 

 

 

Shalat & Al-Quran Sarana Komunikasi Kita Dengan Nya

Ini adalah catatan saya ketika mengikuti sebuah kajian tafsir Quran dan Hadist. Semoga dengan mencatatkannya kembali menjadi sara pengingat untuk saya, dan juga bermanfaat bagi yang membaca.

************************

SHALAT

Shalat adalah sarana kita “BERBICARA” dengan Allah. Media seorang hamba ketika ingin berbincang dengan Tuhan-nya. Maka dari itu bahasa yang digunakan adalah bahasa “kita”. Contohnya dalam Al-Fatihah : اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ [ Tunjukan kami jalan yang lurus ].

Kemudian do’a duduk diantara dua sujud : اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْفَعْنِي وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَارْزُقْنِيْ [“Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, lindungilah aku, angkatlah derajatku, berilah aku petunjuk, jadikanlah aku sehat, dan berilah aku rezki (yang halal)” ]

Shalat adalah sarana kita memohon ampun padanya, meminta petunjuk kepadanya, meminta arahan hidup, meminta perlindungan dsb. Shalat adalah ketika kita berbincang kepadanya, dan Ia mendengarkan.

Seperti seorang anak yang mengadu kepada ibunya, atau seperti murid yang bertanya kepada gurunya, seperti bawahan yang memohon arahan pimpinannya. Kita bercerita, kita meminta dan Ia “mendengarkan” segala apa yang kita mohonkan. Kita yang “mengajak” Allah berdialog.

Membaca Al-Quran

Sedangkan membaca Al Quran adalah sarana Allah yang “berbicara” kepada kita. Maka bahasa yang dipakai nya pun adalah bahasa Tuhan yang berbicara pada hambanya. Sarana Allah untuk memberitahui kita bagaimana menjalani hidup yang sesuai dengan aturan-Nya.

Contohnya di surat Al-Mudatsir 1-10 :

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (١) قُمْ فَأَنْذِرْ (٢) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (٣) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (٤) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (٥) وَلا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (٦)

لِرَبِّكَ فَاصْبِرْ (٧)فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ (٨) فَذَلِكَ يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيرٌ (٩) عَلَى الْكَافِرِينَ غَيْرُ يَسِيرٍ (١٠)

1. Wahai orang yang berselimut 2. bangunlah, lalu berilah peringatan. 3. dan agungkanlah Tuhanmu 4. dan bersihkanlah pakaianmu 5. dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji 6. dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak  7. Dan karena Tuhanmu, bersabarlah 8. Maka apabila sangkakala ditiup 9. maka itulah hari yang serba sulit, 10. bagi orang-orang kafir tidak mudah

Ini adalah ayat dimana Allah berbicara kepada kita untuk melaksanakan Shalat di 1/3 malam. Bahasanya adalah bahasa Tuhan yang berbicara kepada hambanya. Ayat Al-Quran yang lain nya tentang peringatan, tentang aturan aturan hidup, tentang tata cara, tentang sejarah, dsb. Allah yang bercerita kepada kita. Allah yang mengajak kita berdialog.

 

Oleh karena itu apabila kita ingin di dengar Allah maka Shalatlah, dan apabila kita ingin mendengar Allah berbicara maka bacalah Al-Quran

***********************

Subhanallah, Allah menyediakan lengkap sarana komunikasi-Nya untuk kita. Hanya seringkali kita abai -terutama saya- hanya menjadikan shalat sebatas ritual semata, hanya sebatas kebisaan, sebatas kewajiban semata. Padahal Allah membuka diri-Nya kapan saja, dimana saja, sesuai dengan yang kita butuhkan.Malah kita mencari sarana sarana lain yang tidak sesuai untuk menjawab segala permasalahan dan kebutuhan dalam hidup kita.

 

Ps : Ah… semoga kita makin “terbuka” kepada Allah, seperti Ia begitu “terbuka” kepada kita, kapan saja, dimana saja, untuk hal apa saja.

 

 

Jangan Takut Menuliskan Cita Mu

Kita pasti punya banyak keinginan bukan? ingin ini, ingin itu, ingin melakukan banyak hal. Ingin pergi melanglang dunia, ingin mempunyai ini, ingin berkarya itu. Begitu banyak list keinginan dan cita dalam kehidupan kita.

Namun, keinginan dan cita itu kadang kita batasi dengan waktu, tenaga bahkan fikiran prip. Begitu banyak peran yang kita pegang dalam hidup ini, hingga terkadang kita menjadi bingung menjalani nya. Membuat prioritas atas keingian bahkan cita cita besar kita.

Itulah barangkali yang pernah saya rasakan. Begitu banyak keinginan dan cita cita untuk membuat banyak hal. Terkadang timbul dalam benak saya, apakah tenaga dan usia saya akan sanggup mewujudkan semua cita tersebut, terkadang hal tersebut menciutkan saya.

Hingga suatu saat, ada seseorang yang membisiki saya :

Jangan khawatir untuk berani menuliskan cita cita besar mu. Bila bukan kamu yang mewujudkan nya, akan ada generasi setelahmu yang akan mewujudkannya. Karena bisa saja cita cita mu saat ini adalah “titipan” dari para pendahulu kita. Allah akan menyimpan cita cita baik kita. Bila usia kita tak sampai kepadanya, akan ada mereka yang mewujudkannya

Saya coba melamati kalimat demi kalimatnya, dia bilang bahwa cita besar, tak datang begitu saja, itu diturunkan, jauh jauh sebelum kita, oleh para pendahulu kita, para Nabi, Rosul, Sahabat, Para Amiril Mukminin, hingga para pahlawan bangsa ini, hingaga kita para pemuda saat ini.

 

 

581580_10151143763968260_260295414_n

 

What A Life [ Tanaka’s Stories ]

Hai Ka …

Lama aku tak menulis kepadamu, ya.. bercerita kepadamu. It’s been so long, kita tak bercakap cakap seperti dulu. I miss ya, really …

Tidak, aku tidak pernah benar benar melupakanmu, tidak pernah. Namun kadang aku ada di sebuah espisode hidup yang menjadikan aku mengabaikan bahawa aku memilikimu.

Seperti malam ini, tetiba aku ingin betemu dan banyak bercerita dengan mu, tentang banyak hal. Bukan, bukan tentang cinta atau semacamnya, sudah lama aku tak begitu mempedulikan tentang hal itu.

Aku ingin menceritakan tentang hidup yang kadang mulai terasa lebih berat, lebih menanjak, lebih complicated. Tidak, aku tidak ingin mengeluh, atau apapun, aku hanya ingin bercerita kepadamu seperti sore yang biasa, seperti waktu waktu sebelumnya, hanya bercerita, itu saja.

Ka ….

Hidup kadang menyajikan kita masalah yang berbeda dalam satu waktu yang sama, kadang satu masalah yang membuat kita ingin berhenti melangkah, atau lama terhenti  melangkah. Membuat kita kacau, membuat kita resah, membuat fikiran kita melayang layang mereka reka apa yang akan terjadi selanjutnya.Disisi lain, ada peran lain yang mesti kita jalankan,  menuntut kita “berpura pura” baik baik saja, berjalan setegar mungkin, bernafas seringan mungkin. Life Goes On itu yang mereka bilang’

Aku tau – kamu tau, aku berusaha, untuk terus berjalan, menghadap kedepan, meyakini yang aku yakini, yang kamu yakini, bahwa seperti apa pun ujian, kesulitan bahkan kesalahan yang kita lakukan adalah pembelajaran, bawa ujian, kesulitan bahkan kesalahan itu adalah kehidupan itu sendiri.  What a Life …

Ka ….

Hidup itu indah ya …seperti kata mu. Apapun, apapun yang datang pada kita, jalani. Bahagia atau luka. Bahkan luka pun bisa jadi bahagia bila kemudian kau bersabar untuk melihat kenapa dibalik itu semua, dan bagaimana kita menyapa luka itu.Berbijaklah katamu, itu kuncinya. Dan bila kau takut,maka beranilah, karena itu obatnya. Bila kau mampu dan mau, maka di akhir cerita yang kau tau hanyalah bahagia

Ka ….

Aku rindu berjalan di padang rumput di senja hari, di kala cahaya matahari jatuh menguning menimpa rerumputan. Angin sore yang mengantarkan kita untuk pulang ke rumah, rumah taman tempat kita sering bertukar cerita, cerita tentang cahaya, tentang suara, tentang angkasa.

Ka ….

Aku rindu kau, aku rindu rumah, rumah hutan kita …

 

 

 

 

Jalan Jalan Di Pasar Kaget”Burung Tungku” Bandung

Hampir setiap hari minggu, kalau lagi nggak ada acara seharian, biasanya saya bareng mamah jalan pagi ke pasar kaget yang ada di dekat rumah. Saya seneng kalo udah bisa jalan pagi gini ke pasar, selain bisa sambil belanja sayur sayuran, bumbu dapur, dll yang relatif murah, kegiatan kaya gini juga buat sarana olahraga.

Perjalanan ke pasar kaget kurang lebih sekitar 15-20 menitan lah, lumayan kalo jalan pagi gini, dapet sinar matahari, bakar kalori dan belanja lumayan hemat. Lojasi nya ada di sekitar jalan Rajawali Bandung.

Banyak para pedagang yang bisa kita temuin di pasar kaya gini, dari sayur mayur, bumbu dapur, daging dan ikan, masakan jadi, baju baju murah meriah, aksesoris, sampai tukang anak ayam warna warni. Hhhe…

Selain itu sambil belanja, kita bisa sambil ngamatin proses tawar menawar antara yang jualan sama pembeli, para penjual yang dengan berbagai gaya menawarkan dagangannya, anak anak yang merengek minta jajan ke emaknya, dsb. Entahlah, saya selalu antusias kalo lagi ke pasar pasar tradisonal kaya gini, menyenangkan !!

 

Sombong dengan “Kebaikan”

DSC_1995

Ini adalah sebuah pengingat diri sendiri, tentang bagaimana kadang kita menjadi merasa hebat dengan kebaikan, amal soleh, atau perubahan yang kita lakukan. Entah itu shalat kita, shaum kita, muamalah kita, amalan amalan sosial kita, dsb.

Kadang kala ada terselip rasa BANGGA dalam hati kita, baik di tampakan atau tidak. Sebuah rasa kita  lebih dari yang lain, sebuah rasa kita lebih hebat dan mulia dari yang lain, sebuah rasa kita lebih unggul dari yang lain, sebuah rasa kita lebih saleh dari yang lain.

Lebih dari itu, kita memandang sebelah mata orang orang yang kita anggap banyak berbuat salah, berpemahaman salah, masih kurang ibadahnya, masih minim pengetahuan agamanya. Mengecap salah secara berlebihan orang yang tidak sependapat dengan kita, dengan berani dan lantang mengatakan mereka pelaku maksiat, pelaku haram, jauh dari keberkahan dsb.

Alih alih mendoakan dan mengingatkan, namun yang ada hanyalah keinginan untuk memojokan, mengatangatai, membuli, mengkoarkan pada orang orang bahwa kita benar dan dia salah.

Padahal jelas perbedaannya, antara ingin menyampaikan kebenaran dan keinginan ingin menampakan “who we are”, kita kadang tau, namun tidak sadar apa sebenarnya yang ingin kita sampaikan. Karena cinta atau nafsu bangga diri.

Ahh.. semoga ada selalu semacam pengingat, ketika kita akan mengatakan dan melakukan sesuatu, apakah untuk mengingatkan, menyampaikan kebenaran, atau hanya sebatas keinginan untuk membanggakan diri dan mengecilkan orang lain.

Karena sebenarnya, kebaikan dan amal shaleh yang kita lakukan pun, semata karena Allah yang menggerakan, Allah yang mengizinkan. Maka apapun yang kita sampaikan maka kita niatkan untuk mendapat Ridha-Nya, itu saja.

Sejahtera Dulu Aja, Baru Mikirin Orang Lain

 

laut

 

Beberapa saat lalu saya terlibat obrolan dengan seorang kawan kerja. Kami membahas tentang impian kami untuk kebermanfaatan banyak orang. Dia bilang “Ka, saya pengen punya panti asuhan nanti” ujarnya “Tapi mungkin ga sekarang, sekarang nyari duit dulu yang banyak, sejahtrakan dulu, baru bisa nabung, biar nanti  bikin panti asuhan yang besar sekalian. Aku ga mau nanggung nanggung bikinnya, kagok kalo dari sekarang nyicil, ga berasa puas. Jadi nanti aku mau bikin panti asuhan pas uang sudah banyak” tegasnya panjang lebar.

Lain waktu saya terlibat pembicaraan yang lebih mendalam lagi dengan seorang yang lain, dengan teman yang sama sama bergerak di bidang sosial. Saya membuka pembicaraan “Kamu suka ngerasa ga sih, kalo kerjaan kita kaya gini kadang suka di pandang sebelah mata oleh sebagian orang”.

Gini contohnya : waktu itu saya keliling pulau selama kurang lebih satu bulan sebagai relawan. Kemudian ada seorang yang sudah Ibu yang bertanya tanya mengenai kegiatan saya. Ditengah pembicaraan dia bertanya “Terus sehari hari kamu ngapain” tanya nya. Mungkin maksudnya, saya kerja apa. Sebuah pertanyaan yang wajar saya, karena mungkin orang orang diluar sana banyak bertanya tanya, orang orang kaya saya ini, kerja nya apa, hidup dari mana, apa ngandelin dari bantuan orang lain juga jangan jangan, hidupnya dari uluran tangan orang lain.

******

Menjalani dua bagian hidup seperti ini – berbisnis & berabdi- seperti yang saya jalanin selama ini memang tidak mudah. Bagi saya keduanya bukan pilihan, tapi impian juga tanggung jawab. Bekerja atau berbisnis apa pun itu segala yang menghasilkan uang  selain kebutuhan bagi saya adalah tanggung jawab. Tanggung jawab kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, juga kepada Tuhan. Karena bagaimanapun kita harus mandiri diatas kaki sendiri, tidak menambah beban orang lain.  Lebih dari itu menjadi leluasa dalam keuangan  akan sangat banyak membantu dalam bergerak dan berbuat banyak manfaat.

Pengabdian kepada orang banyak, adalah passion saya. Impian saya. Nafas saya. Kegembiraan saya. Kebahagian Saya. Sesuatu hal yang ada dalam degub jantung saya. Ya cita cita saya adalah mewujudkan cita cita banyak orang. Kegiatan saya bersama teman teman di NUSANTARA MEMBACA dan BAKTI GURU NUSANTARA adalah sebuah “Bintang Terang” bagi kami, sebuah cita cita terbesara yang kelak akan kami bawa untuk di persembahkan pada hari “esok” kelak, di hadapan Allah Swt.

Sungguh, tidak mudah menjalani keduanya bersamaan. Dalam waktu singkat, kadang harus bergantri peran dengan cepat, menjalani bisnis  kemudian menjalani pengabdian.  Saya sungguh masih sangat banyak belajar, membagi waktu, fikiran, tenaga di antara dua dunia yang saya jalani berbarengan ini, sungguh, sungguh tidak mudah.

***********

Jadi,  apakah sejahtra dulu baru membantu orang lain ? atau menjalani kedua duanya berbarengan? ahh menurut saya ini bukan mengenai benar atau salah. Ini mengenai pilihan, prioritas dan yang paling penting ini mengenai panggilan hidup.

How Deep Is Your Dream

teaser 1

Mungkin saat ini bukan hanya seberapa besar impian kita, seberapa besar kita ingin mendapatkannya, namun juga seberapa dalam impian kita tertanam, mengakar, tersulur dalam aliran aliran darah, bersatu dalam sumsum tulang, berdegup bersama alunan jantung. Impian itu bisa saja sederhana bagi mereka, tapi istimewa bagi kita. 

Seberapa dalam impian kita, aku bertanya pada diri sendiri, antara kau dan aku, kita. apakah impian mu hanya sekedara untuk dunia semata, untuk riuhan tepuk tangan untuk sebuah eksistensi, atau untuk sebuah pengakuan.

Aku bertanya pada mu diriku, seberapa dalam kah impian mu, hingga kau mampu menebus nya dengan waktu, kesenangan dan kenyamanan. Seberapa dalam ? Seberapa dalam ?

 

******

 

Males Benget, Kalo Hidup Hanya Sekali

Waktu itu saya sempat berbincang dengan seorang teman yang bisa dikatakan “Tidak Percaya Akhirat” dikatakan ateis tidak juga, dia mengidentitaskan dirimya memeluk ssuatu agama, namun dia “memilih” untuk tidak percaya akan ajaran agamanya

Bagi dia hidup ya sekarang ini, tidak ada hidup di kemudian hari setelah kematian. Dia memilih tidak percaya akhirat, entah karena dia mengandalkan logikanya entah karena dia tidak  tau, dan tidak mau tau. Yang jelas bagi dia, hidup ya sekarang, tidak usah memikirkan kehidupan lain nanti yang baginya sangat absurd.So, menurut dia sekarang puas puasakan lah hidup dengan apa yang kita mau, yang pengen kita kejar, pengen kita jalankan, cita cita pun cita cita dunia aja, ga usah muluk buat akhirat nabti, Karena baginya hidup cuma sekali.

Kami berteman baik, walau di ranah ini kami sering sekali berdebat masalah ini, dia keukeuh, “jangan mikirin hidup nanti yang ga jelas lah, nikmatin aja yg sekarang, berbuat terbaik pun ya untuk sekarang, jangan muluk mikirin akhirat. Kerja yang bener buat keluarga, cari duit ya untuk keluarga, sekali sekali bersenang senang, berbuat yang terbaik ya untuk hari ini, untuk hidup di dunia ini, akhirat itu masih abu abu, belum ada yg pernah ke sana juga ko, buat gw ya hidup ini  cuma sekali, hidup yang terbaik ya sekarang, di dunia ini”

 

Terus saya jawab, kurang lebih gini “Ih rugi banget kalo hidup ini cuma sekali, cuma yang sekarang doang. Hidup yang sekarang ini kan harus kerja, harus berjuang, harus cape, harus cari uang, masalah demi masalah datang bergantian, harus berlelah lelah. Kalo hidup memang cuma hari ini doang, hanya sekali doang, rugi banget, what we are fighting for ? hidup yang cuma menjalani rutinitas, hanya untuk menjalani masa muda ke masa tua, dan melihat berulang siklus itu, ah tidak, rugi banget…. kalo hidup memang cuma sekali yang sekarang ini, meningan ga usah ngapa ngapain, ga ada masa depan yang lebih abadi, ahh malessss, ga ada semangat, hambar…….

Kalo udah ngobrol kaya gini kadang dia ngeles ngeles gimana gitu. Dari air mukanya sih kayanya dia juga mengiyakan apa yang saya katakan, cuma entah gengsi entah memang “memilih” untuk tidak menyetujui dan meyakini.

Ah memang tujuan saya juga tidak ingin mendebat, obrolan obrolan yang kami lakukan juga  sambil santai, dan kadang hanya ingin tau apa sih yang ada di benak mereka yang tidak percaya dengan kehidupan setelah kematian. Apa sekedar karena mengandalkan logika, atau memang ada sisi hati yang tertutup rapat erat, sehingga tidak ada celah cahaya kebenaran yang merembes masuk.

Karena kembali, hidayah adalah absolut hak nya Allah, ketika ada di sekitar saya yang berkeyakinan berbeda dengan apa yang saya yakini, tugas saya mungkin hanya memberi insight sesuai porsinya dan tetap membina hubungan baik. Karena yang Maha membolak balikan hati, benar benar hanya Ia.

DSC_1998