Janji Yang Tertunaikan Dalam Diam ….

Beberapa hari yang lalu adalah Hari Ibu. Meski saya bukan tipe yang merayakannya dengan ucapan atau selebrasi, momen itu tetap mengingatkan saya pada sosok yang selalu menjadi pusat hidup saya—Ummi.

Saya ingin berbagi kisah ini. Sebuah kisah tentang janji yang tercipta dalam diam, dan bagaimana akhirnya saya bisa menunaikannya. Janji untuk membahagiakan Ummi…

Sedikit latar belakang, saya adalah anak pertama dari dua bersaudara. Saya memiliki seorang adik laki-laki, diamana Bapak sudah meninggalkan kami lebih dari 20 tahun yang lalu. Saat itu saya masih duduk di bangku SMAdan adik berusia SD. Sejak saat itu, Ummi membesarkan kami seorang diri. Tanpa menikah lagi, hingga akhirnya kami tumbuh dewasa, mandiri, dan memiliki penghasilan sendiri.

Sebagai anak pertama, saya menjadi saksi langsung perjuangan Ummi. Saya melihat bagaimana beliau bekerja keras siang dan malam untuk memastikan kami bisa hidup dengan baik & berkesempatan memperoleh pendidikan yang terbaik. Saat itu pun, kondisi ekonomi kami tidak sebaik saudara-saudara lain. Dengan profesi Ummi sebagi guru ngaji dengan gaji yang tidak seberapa, Beliau terus berusaha yang terbaik untuk Kami.

Ada beberapa peristiwa yang hingga kini terus membekas di hati saya…

Salah satunya terjadi bertahun-tahun lalu -saat saya baru memasuki kuliah awal-. Suatu waktu kami mendapatkan undangan pernikahan dari seorang saudara jauh. Saya ikut menemani beliau datang ke tempat acara. Karena tidak ada kendaraan pribadi, kami pergi dengan angkot. Dari tempat angkot berhenti, kami harus harus berjalan cukup jauh menuju gedung pernikahan.

Di acara itu, kami bertemu dengan saudara-saudara, uwak, bibi, dan sepupu-sepupu. Setelah acara selesai, saat semua orang bersiap untuk pulang, seorang saudara yang membawa mobil mengajak beberapa anggota keluarga untuk ikut menumpang. Tapi, ajakan itu tidak termasuk kami.

Saya dan Ummi pun berjalan kembali berjalanke jalan besar untuk mencari angkot pulang. Di tengah perjalanan, mobil saudara itu lewat. Sopirnya hanya membunyikan klakson, dan rombongan di dalam mobil melambai sambil tersenyum. Kami hanya bisa tersenyum kecil, kemudian melanjutkan perjalanan dalam diam, ada rasa bercampur yang sulit digambarkan, salah satunya rasa seperti tidak dipedulikan.

Entah mengapa, kejadian itu meninggalkan memori yang sulit dilupakan….

Lain waktu, saat mudik Lebaran, kejadian serupa terulang. Ketika kami akan kembali ke kota masing-masing, saudara yang membawa mobil tidak menawarkan tumpangan kepada kami. Padahal, masih ada ruang kosong di mobil, dan kami menuju kota yang sama. Tidak sepatah katapun, walau hanya sekedar basa basi saja. Peristiwa yang meninggalkan berbagai rasa pada diri saya

Beberapa peristiwa tadi, tidak pernah mengungkapkan & membagikan perasaan tersebut kepada siapa pun. Tapi di dalam hati, saya berjanji dalam diam

“Ya Allah, izinkanlah suatu hari nanti aku bisa membeli mobil. Agar Ummi bisa pergi ke mana saja, kapan saja dengan nyaman, tanpa harus menunggu belas kasih orang lain…..”

Sejak saat itu, keinginan untuk memiliki kendaraan bukan hanya soal kenyamanan atau pencapaian. Bagi saya, ada dorongan yang cukup dalam, bahwa ini bukan untuk kepuasan diri pribadi tapi untuk membahagiakan Ummi…

Janji yang saya ucapkan dalam hati itu akhirnya tertunaikan. Allah memberikan rizki-Nya dan mengizinkan janji dalam diam itu terwujud. Kendaraan ini mungkin hanya hadiah kecil untuk perjuangan Ummi selama ini untuk kami

Ini bukan tentang kendaraan, atau materi lainnya. Ini tentang bagaimana keinginan seorang anak untuk memberikan kebahagiaan kecil kepada orang tua, dan saya pun sadar sepenuhnya, bahwa untuk memuliakan orang tua yang sebenarnya adalah menjadi anak yang Saleh dan Salehah, yang kelak akan menjadi pahala yang tidak terputus untuk mereka

Kisah sederhana ini semoga jadi jejak baik untuk saya, ataupun siapapun yang membaca tentang waktu bersama orang tua tidak akan selamanya ada. Selagi mereka masih di sisi kita, mari berusaha memberikan kebahagiaan dan kemuliaan kepada mereka. Tidak selalu harus berupa materi, karena seringkali perhatian, cinta, dan penghormatan adalah hal yang jauh lebih berarti.

Bagi yang orang tuanya sudah tiada, jangan pernah berhenti mengirimkan mereka do’a. Sebab, doa anak yang saleh adalah hadiah paling berharga yang akan terus menjadi penerang bagi mereka di alam sana.

Semoga kita semua diberi kekuatan untuk terus memuliakan orang tua kita, dalam setiap langkah, dalam setiap peristiwa, dalam setiap episode hidup yang sedang dijalani…

Nanti kita cerita cerita lagi ya…. 🙂

Saat kau memilih diam …

Suatu hari dalam momen lebaran, momen dimana kita saling mengunjungi antar keluarga. Lalu bertemulah saya dengan keluarga yang selama ini jarang bertemu. Sepupu jauh, sepupu dekat, keponakan, dan saudara saudara lainnya.

Dalam sebuah percakapan biasa, seorang istri dari sepupu – yang mungkin kita hanya satu kali atau dua kali pernah bertemu-, tiba tiba saja bertanya ;

“Kapan teh undangannya ….” Tanyanya sambil gendong anaknya

“Belum nih, doain aja ….” jawab saya singkat, sambil tersenyum

“Teh, pernikahan tidak semanakutkan itu kok, yaaa ada dukanya, tapi banyak juga sukanya. Ga usah takut, tidak semenakutkan itu ko!” sambungnya didepan saudara saudara lain, yang entah mereka dengar atau tidak.

Terkejut saya mendengar perkataanya. Ingin rasanya menjawab seperti ini ;

“Maksudnya apa? memang kamu tahu saya belum menikah karena ‘takut’, memang kamu tahu apa tentang diri saya …”. Dan jawabanpanjang lebar berikutnya yang mematahkan argumen dangkalnya. Tapi entah saya saat itu hanya ingin diam saja, tidak menjawab apa apa. Rasanya percuma.

Setelah beberapa saat, Saya merenung kenapa ya tekadang manusia mudah menarik kesimpulan tentang apa yang tidak benar benar difahaminya, tentang orang yang juga tidak benar benar ia mengenalnya. Seperti pernyataan ia diatas, seolah olah Saya belum menikah itu, karena saya takut akan pernikahan.

Lalu Apa yang saya rasa? Pastinya ada rasa sakit hati, kesal juga rasanya. Wajar sepertinya, karena Saya juga manusia biasa dengan punya rasa.

Tapi kenapa saya memilih diam? Ah sudahlah, pun tidak tepat untuk menjawab secara situasi dan waktu saat itu. Saya pun tidak mesti menjawab atau membenarkan persepsi dia atas diri saya. Tidak penting baik secara objek maupun secara konteks. Biarkan saja dia dengan persepsinya, tidak signifikan terhadap hidup saya.

Lalu apa hikmahnya ….

Dari peristiwa itu, saya mencoba belajar ; Semoga dengan terus bertambahnya usia, semakin bertambah pula kedewasaan diri kita. Belajar tentang bagaimana beraksi, tentang bagaimana berkomentar, tentang mana yang penting untuk ditanggapi mana yang hanya akan menguras energi.

Lalu saya pun belajar, agar tidak dengan mudah menilai hidup orang yang mungkin hanya sekali dua kali kita temui, orang yang bahkan kita tidak pernah bercakap cakap mendalam dengan yang bersangkutan, orang yang hanya kita lihat bisa nilai secara permukaan. Kita tidak melihat utuh kisahnya bahkan hidupnya.

Karena kita tidak tahu peristiwa apa saja yang sudah ia lampaui, perjuangan apa saja yang sudah ia jalani, duka dan air mata apa yang sudah ia jalani. Lalu ada perkataan diri kita yang rasanya biasa saja, atau tidak seberapa menurut diri kita, tapi ternyata menggoreskan luka di hatinya. Dan kita tidak menyadarinya.

Ah semoga saya bisa mengambil hikmah dan bisa semakin bijak …

Menikmati Perjalanan Menuju Tujuan

Setiap kita punya tujuan bukan? entah itu tujuan dalam pendidikan, karier & pekerjaan, keluarga, apapun itu. Tujuan tujuan kehidupan …

Pernah gak sih ngerasa bahwa berbagai perjalanan yang dilakukan terasa beraaaaat sekali, apa yang dituju masih terasa jauh, sulit digapai dan seringkali bertemu kegagalan….

Rasanya ingin berhenti atau bahkan menyerah. Kadang meragu apakah tujuan yang diinginkan veanr enar akan tergapai, atau ternyata terpaksa terhenti ditengah jalan…

Lalu kutemukan ini ..

Barangkali yang membuat kita merasakan itu semua, bisa jadi karena kita terlalu fokus pada tujuan akhir, tapi lupa menikmati perjalanan. Ya, menikmati perjalanan! Perjalanan yang penuh liku itu, perjalanan yang kadang ceritanya tidak sama.

Perjalanan yang terkadang menyenangkan, terkadang menyebalkan. Terkadang membuat bahagia, terkadang bertabur luka. Terkadang ceria, terkadang dibuat kecewa. Terkadang membuncah semangat penuh bara, terkadang lelah benar benar melanda. Perjalanan yang terkadang lepas tawa, terkadang berderai derai air mata. Terkadang banyak kawan berdatangan, terkadang tiada teman, kesepian….

Ah namun itulah perjalanan…

Semua itu adalah sunnatulah kehidupan, yang akan selalu kita alami bukan? tidak ada cerita hidup selalu bahagia, atau selamanya berbalut luka… semua dipergantikan oleh-Nya. Begitupun dalam perjalanan menuju segala cita dan tujuan, bersiaplah menerima semuanya. Belajar menikmati setiap kisahnya, setiap dinamikanya, setiap pergulirannya…

Ibarat kita sedang dalam perjalanan jauh menuju sebuah kota, jangan lupakan nikmatnya perjalanan, lihatlah sekelilingmu ; pemandangan, orang orang, udara, suasana yang berbeda, apapun itu..

Tiada salah kita fokus pada tujuan, tapi jangan lupakan indahnya perjalanan

Bisa jadi, saat kita benar benar menikmati perjalanan menuju tujuan dalam menjalani kehidupan ini, kita menemukan kekuatan, kemudahan dan kebijaksanaan yang mengantarkan kita lebih dekat dengan tujuan tujuan kita, sehingga perjalanan yang kita lakukan terasa lebih ringan. Ringan dalam langkah, dalam pikiran dan perasaan. Bismillah …

Hai kamu, selamat menikmati perjalanan !

“Tasmu Terlalu Berat” [Sebuah Cerita Pendek]

Pagi itu  matahari  mulai menghangatkan bumi, menghangatkan mereka yang bergegas mencari penghidupan dan pengetahuan, dan hari itu aku ingin menikmati sinar pagi  untuk kemudian bertemu denganmu.

Kau sudah sampai duluan dikedai kopi seperti biasa.  Menyeruput teh manis hangat dengan setangkup roti srikaya. Tidak sepertiku yang sangat suka kopi, kamu adalah manusia teh.

Baru saja duduk di hadapanmu, kau langsung bertanya : “Bawa apa sih, banyak banget kayanya bawaannya..?” Sambil menyeruput teh yang sepertinya beraroma jasmine dicampur mint.

“Ini ada laptop, beberapa buku bacaan, payung, peralatan lain, pokonya banyak deh …” jawabku sambil mencari menu.

“Kayanya tiap hari tasmu memang selalu berat ya..”

Sepertinya itu bukan sebuah pertanyaan yang perlu kujawab, aku hanya terbahak kecil. Kadang terlintas juga pertanyaan pada diriku sendiri ; Memangnya aku perlu yaa.. membawa semua barang ini setiap hari…

“Ada apa…?” Kamu langsung bertanya tanpa basi basi lagi. Aku mulai mengaduk  es kopi lemon yang sudah datang, sambil berfikir dari mana harus bercerita.

“Kenapa ya, rasanya fikiranku mudah lelah, aku merasa lelah bahkan saat semua belum dimulai…” kalimat itu jadi pembuka sesi berceritaku.

“Semacam ada banyak hal dalam pikiran, seperti banyak percakapan dalam pikiran tentang hal ini, hal itu, semuanya datang bergantian kadang bersamaan…” lanjutku

“Lintasan lintasan fikiran itu kadang membuat dadaku rasanya sesak, tubuhku lelah, fokusku berantakan…”

“Memangnya apa yang kau fikirkan ….” tanyamu singkat

” Ya banyak hal, semacam semua hal datang bersamaan, tumpang tindih, aku tidak tahu mana dulu yang perlu ku pikirkan atau ku selesaikan…”

“Memangnya semuanya harus kau pikirkan bersamaan ?” tanyamu singkat

Aku diam, tidak segera menjawab pertanyaanmu. Entah bingung, entah sebenarnya aku sudah tahu jawabannya…

“Begini…tidak semua hal perlu perlu kau bawa sekaligus dalam pikiran. Pilah pilahlah mana yang butuh kau pikirkan saat ini, dan mana yang bisa kau pikirkan nanti. Karena memang tidak perlu semuanya diselesaikan bersamaan bukan…” 

“Ringankanlah pikiranmu, tidak semua perlu dibawa sekaligus. Simpan yang perlu disimpan, bawa yang perlu dibawa, ringankan hidupmu …”

“Ibarat hendak bepergian, tidak perlu toh kamu membawa semua ada yang dimeja. Bawa hanya yang kau perlu, tinggalkan yang tidak perlu..”

“Terkadang kamu hanya merasa perlu membawanya, padahal tidak…”

Kalimatmu lama terhenti disitu, lalu kita berdua sama sama menikmati semilir angin pagi di taman depan kedai kopi. 

“Mungkin aku harus mulai meringakan pikiran yaa, dengan tidak membawa semua beban dan tanggung jawab sekaligus, bersamaan…” ku lepaskan nafas dari dada yang masih teras berat

“Yaa…belajarlah. Semua ada kapasitasnya, semua ada waktunya….” jawabmu

“Belajarlah dari mulai meringankan isi tasmu, tidak semua perlu dibawa bukan …?” kau tunjuk tasku yang tergeletak di ujung meja

“Baiklah…..!” jawabku, sambil tertawa ….

Pertemuan singkat seperti biasa. Setelah teh hangat mu habis, kau pamit – kembali menghilang, dan akan datang setiap kali aku membutuhkan. Sampai jumpa Tanaka.

 

Mengapa Manusia Mudah Ngejudge ?

Barangkali kita pernah mengalami dua posisi ; “ngejudge & dijudge”

Satu waktu barangkali kita pernah ada diposisi dijudge, dihakimi, dinilai, dipojokan atau semacamnya oleh orang lain. Rasanya ga enak pasti! Ada sedih, sakit hati, dsb. Rasanya ingin menjelaskan, meluruskan, bahwa yang terjadi tidak sesederhana yang terlihat.

Lain waktu bisa jadi kita yang ngejudge orang lain dengan mudahnya. Dengan penilaian sesaat, kita mudah menyimpulkan kemudian menghakimi orang lain. Entah karena ketidaksukaan kita sejak awal kepada ybs, entah cara memandang kita yang sempit, atau bisa jadi kita saja yang belum bisa berfikir & bersikap bijaksana.

Manusia, sepertinya pernah ada dua posisi itu ; menghakimi & dihakimi

Nah, terlintas dalam fikiran saya, apa yang membuat aku, kamu, kita, menjadi mudah menghakimi sesuatu atau seseorang ? Apakah ini ada hubungannya dengan kemampuan kita dalam berfikir ?

Jadi teringat konsep Taksonomi Bloom. Taksonomi Bloom adalah struktur hierarki yang mengidentifikasikan kemampuan kognitif mulai dari tingkat yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Secara singkat tingkatan berfikir dikelompokan menjadi dua : low order thinking & higher order thingking. Tingkatannya sebagai berikut :

  1. Remembering (Mengingat). Kemampuan dalam menyimpan dan mengingat kembali sebuah informasi.
  2. Understanding (Memahami). Kemampuan menangkap makna/maksud dari sebuah informasi, konsep atau gagasan.
  3. Applying (Menerapkan). Kemamampuan menerapkan pengetahuan kedalam sebuah konteks.
  4. Analyzing (menganalisis). Kemampuan untuk mengeskpolorasi keterhubungan, sebab akibat, dan koneksi atas satu hal dengan yang lainnya
  5. Evaluating (mengevaluasi). Kemampuan menilai sesuatu berdasarkan analisa
  6. Creating (Mengkreasi). Kemampuan membuat sebuah karya baru dari informasi, konsep, gagasan yang sudah ada

Lalu apa hubungnnya Taksonomi bloom dengan mudahnya orang saling hakim menghakimi, atau mudah menyimpulkan sesuatu?

Bisa jadi saat melihat sebuah fenomena, situasi, kondisi seseorang, kemudian kita langsung membuat simpulan & penghakiman terhadap kepada seseorang tersebut, mungkin pada saat itu hanya berfikir di level satu. hanya melihat pada informasi dia ketahui (remembering), tidak mempertimbangkan variable lain, yang bisa saja terjadi pada kondisi seseorang.

Kita berhenti di tahapan meningat dan menghafal, belum berada di level berfikir yang lebih atas : memahami. Di level memahami, memang butuh kemampuan berfikir yang lebih luas, lebih bijak, dan juga perlahan (tidak terburu buru), untuk melihat banyak variabel yang mempengaruhi kondisi seseorang.

Jadi ingat istilah munculnya “sumbu pendek”, karena kemampuan berfikir yang rendah. Hingga dengan mudahnya kita tersulut & meledak, karena informasi sekilas, yang belum tentu kebenarannya. Karena kemalasan dan tidak terbiasanya kita untuk berfikir di level yang lebih tinggi dan kompleks.

Sekian dulu, berbagi insight kali ini.. See Yaaa !

Belajar Design Thinking

Saya ingin diri saya lebih bermanfaat ! Oleh karena itu saya perlu ilmu, ilmu yang akan jadi bekal saya untuk bisa lebih bertumbuh, bisa lebih bermanfaat untuk diri sendiri juga orang lain. Saya perlu belajar terus !

Bertemulah saya dengan Design Thinking, sebuah ilmu yang sebenarnya sudah lama saya mendengarnya, namun akhirnya baru tahun ini berjodoh dalam rizki, waktu & kesempatan untuk mempelajarinya lebih dalam.

Alhamdulillah, di Kota saya ada lembaga & komunitas yang berfokus dalam penerapan metode Design Thinking untuk diterapkan dalam berbagai bidang. Dan belajar langsung para master yang berpengalaman dalam praktiknya.

Dua hari belajar Design Thinking For Professional, membuka kesadaran saja tentang pentingnya mempunyai cara berfikir yang tepat dalam berbagai sisi kehidupan. Materi disampaikan tidak hanya yang bersifat teori, namun dibahas kisah nyata, mengenai bagaimana perusahaan/organisasi/lembaga bahkan individu menerapkan metode design thinking ini.

Dan yang tidak kalah seru adalah bagaimana kita diajak untuk langsung praktik, bagaimana menerapkan design thinking dalam bidang yang sedang kita geluti. Selain itu para peserta diajak melihat beberapa lokal bisnis yang menggunakan penerapan design thinking, yang menjadi solusi dari berbagai permasalahan dan kebutuhan.

Alhamdulillah dua hari yang penuh gizi… sangat membuka pandora otak saya, untuk lebih tertib, tertara, terstukur dalam berfikir, sekaligus bebas dan kreatif.

Semoga ilmu yang didapat bisa benar benar dipakai, dipraktikan, dan digunakan untuk kebaikan, kebermanfaatan & keberkahan untuk diri dan banyak orang. Doakan ya !

Sebuah Rasa Jatuh

Sebuah rasa jatuh, dari jantung ke perut

Entah semacam apa percisnya, seperti dada yang menggembung hingga kerongkongan

Dan perut yang mengkerut, seperti ada yang jatuh

Saat ada sesuatu yang terasa berat dilakukan, namun harus dijalankan

Tentang menebak nebak bagaimana hasil akhirnya

Akankan akan patah, dan berhenti, dan memulai dari awal

Atau kemudian jalan akan terang jalan terbentang, dan tertemu jawaban

Tentang bersiap untuk segala rasa dan peristiwa

Tentang menerima yang nyata, kemudian menyusun kembali harapan dan doa

Kucoba berbisik bijak pada diri :“Baik…mari kita jalani saja, tak perlu menerka nerka, ikhlaskan saja…”

Walau ku tahu ikhlas tak semudah ramuan kata dan sabar adalah tentang menghadapi segala rasa

Seperti malam ini, seperti rasa yang jatuh di dasar perut

Temen Ga Asik!

“Cerita ama kamu mah ga asik …!”

“Kenapa ?”

“Kamu ga dukung aku …”

” Ga seru ama kamu mah, kan aku cerita doang, ini malah ngasih nasihat, aku ga butuh…”

Ada masanya dalam persahabatan itu, bukan hanya tentang kebersamaan, saling mendukung, saling mensuport, thats it!

In another level, persahabatan sebaiknya adalah lingkaran yang bisa saling mengingatkan dan menasihati dalam kebaikan, bukan hanya tentang “apa pun yang kamu mau aku dukung ko!”

Bila sahabat kita salah, maka kewajiban kita adalah untuk mengingatkan, begitu pun sebaliknya, Apabila ada salah dalam diri kita, maka berluas jiwalah untuk mendapatkan nasihat.

Tidak mengapa, bila akibatnya kita disebut temen ga asik!, karena memberikan masukan, menyampaikan nasihat kebenaran, dikala mungkin sang sahabat hanya menginginkan persetujuan dan dukungan dari kita dari apa yang kita lakukan.

Bila ia salah maka sampaikanlah sebagaimana adanya, tentunya dengan niat yang bersih, cara yang baik, dan kalimat yang tepat. Tak apa menjadi “teman ga asik” itu, karena dalam ketidakasikan itu, tertanam rasa sayang sejati terhadap sahabat kita.

Jangan sampai justru dukungan kita, atau diamnya kita, justru membuat ia terjerumus lebih dalam dalam kesalahan, karna ia merasa baik baik saja, tidak apa apa.

Lebih dalam dari itu, persahabatan pun kelak akan dimintakan pertanggung jawaban di akhirat. Jangan sampai didunia jadi sahabat yang saling mendukung dan membersamai, namun kelak di akirat jadi sahabat yang saling menuntut dan menghujat.

” Tuhan, memang benar saya berbuat kesalahan. Tapi sahabat saya tidak pernah mengingatkan saya bahwa saya salah, padahal ia tau saya salah Tuhan, tapi dia diam saja, hukum juga dia Tuhan …

Semoga kita dijauhkan dari hal semacam ini, hanya karena kita tidak berusaha saling mengingatkan

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

Maka, tak apa bila di dunia kita menjadi seperti temen ga asik!, karena menasihati, mengingatkan, yan berdasar kasih sayang karena Allah ta’ala

Dan sebaliknya, luaskan jiwa kita pula, saat menerima nasihat, kala mendapat masukan. Bisa jadi itu adalah cara Allah menyelamatkan kita dari kesalahan dan kemungkaran, melalui sahabat tercinta

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ – Dan Allah lebih tahu yang yang sebenarnya

Merangkai Niat Kala Menasihat

Ada kala kita ingin menasihati seseorang dalam lingkaran kita, teman, sahabat atau keluarga terdekat. Memberi nasihat adalah hal mulia, karena ada kebaikan yang ingin kita sampaikan, atau ada ketidakbenaran yang kita rasa dan perlu diluruskan

Dan kurasa yang terberat dalam menasihati adalah ; membersihkan niat

Mencari tahu dengan seksama apakah niat diri dalam menasihat adalah karena rasa peduli, bentuk kasih sayang, kewajiban sesama saudara seiman, ataukah ada bentuk lain yang tersamar ; entah benci, dengki, hasad, atau kesombongan yang sebenarnya terpendam

Karena saat jiwa tidak bersih, niat tidak lurus, terkotori dengan dengki diri dll, maka nasihat bukan lagi sebuah kewajiban atau ungkapan sayang, namun ambisi untuk mengalahkan, menjatuhkan bahkan mempermalukan

Apalagi kalau kita “memberikan” nasihat di depan khalayak. Sesaat mugkin ada rasa kemenangan saat kita “menjatuhkan” ia dalam balutan memberi nasihat. Namun pada akhirnya kualitas diri kitalah yang akhirnya akan nampak.

Maka ini semacam nasihat kepada diriku sendiri :

“Sebelum memberikan nasihat, menengoklah terlebih dahulu kepada niat ; jangan jangan ada yang tersembunyi disana, bukan karena Allah Ta’ala, namun karena nafsu diri yang mengembara”

Ruang Sunyi

Kita semua butuh ruang sunyi, ruang yang hanya ada diri kita

Berbicara hati ke hati, dengan penuh ketulusan

Berbincang dengan diri, menyimpan sementara segala tuntutan

Ruang sunyi yang hanya ada kejujuran

Antara aku dan aku

—-

Rasanya setiap manusia butuh “Ruang Sunyi” nya sendiri. Berlepas dari segala yang ada di sekelilingnya, dari kesehariannya, dari rutinitasnya, yang tiada henti. Apalagi di zaman tekhnoogi yang seperti ini, rasa rasanya kita tidak pernah berhenti dari berkomunikasi dengan orang lain, bertukar pesan, saling menimpal, saling berkomentar. Dari pagi, hingga menjelang malam, kita selalu “berbicara” dengan seseorang di luar kita.

Apakah hanya saya saja yang merasa, bahwa manusia butuh Ruang Sunyi untuk sejenak lepas dari berbagai hal ari luar, baik itu berita dan informasi yang tidak berhenti dikonsumsi, yang sampai kadang tak memberi batas mana yang perlu dan tidak perlu, mana yang bermanfaat mana yang tidak, mana yang menjadi sumber kebaikan, hingga mana yang hanya memubazirkan waktu dan fikiran.

Bagi saya, Ruang Sunyi adalah sebuah kebutuhan, yang hanya ada aku dan diriku, yang duduk berdampingan, kemudian saling bertanya tentang apa yang dirasakan, apa yang sedang difikirkan, apa yang benar benar diinginkan. Bercerita dengan kejujuran, dan hanya kejujuran

Banyak hal yang biasa saya lakukan untuk menciptakan Ruang Sunyi ini. Terkadang dengan berjalan kaki setelah subuh, sambil menghirup udara pagi dan menanti sapaan matahari. Atau kadang, menyetir sendiri di malam hari, mengelilingi kota yang sudah sunyi, atau sesederhana mematikan notifikasi, apapun itu.

Sebenarnya Allah sudah menyediakan kita Ruang Sunyi ini menurutku, yaitu sehabis shalat, saat kita selesai berzikir atau berdoa, rasanya walau sebentar ada waktu yang bisa kita manfaatkan untuk menikmati Ruang Sunyi ini. Apalagi apabila kita bangun di sepertiga malam, ada Ruang Sunyi yang begitu indah dan istimewa

Ruang Sunyi ini begitu spesial, karena kita, dimana tidak hanya berbincang dengan diri sendiri, kita pun bisa “berbincang” dengan Sang Pencipta dengan syahdu, privately. Dimana kita bisa mendengar suara hati kita, dengan lebih jelas, lebih terang, lebih jujur. Karena siang hari tak hanya raga, namun jiwa kita pun disibukkan dengan berbagai urusan, ambisi dan kepentingan. Hingga apa yang kita rasakan, inginkan dan butuhkan sebenarnya seringkali terbiaskan.

اِنَّ لَـكَ فِى النَّهَارِ سَبۡحًا طَوِيۡلًا

” Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang ” QS Al-Muzammil Ayat 7″

Allah ingin kita memasuki Ruang Sunyi yang lepas dari urusan urusan duniawi, urusan2 yang seringkali melelahkan pikiran dan perasaan, Allah ingin kita masuk ke Ruang Sunyi untuk mendapatkan ketentraman & kedamaian. Allah ingin kembali memurnikan kita di ruang sunyi itu.

Ruang Sunyi yang tidak hanya kita bisa berbincang dengan diri sendiri, namun kita bisa berlama lama berbincang dengan-Nya.

Ruang Sunyi dimana kita bisa mengutarakan apa yang kita rasa, baik mengutarakan syukur tentang bahagia ataupun gundah gulana. Meluapkan segala perasaan dengan penuh kejujuran, yang seringkali kita sembunyikan dikeramaian. Mengucapkan setulus tulus keinginan dan harapan. Hanya di Ruang Sunyi itulah kita bisa apa adanya, mengakui kesalahan, kelelahan, bahkan menerima kekalahan

Ajaibnya, Ruang Sunyi itu adalah sekaligus tempat dimana kita mendapatkan ketenangan, kekuatan juga harapan. Dimana seringkali kitapun mendapatkan jawaban dari segala pertanyaan pertanyaan atau kebingungan yang tidak berhenti melingkar. Bahkan kesadaran, kebajikan, dan perubahan diri, seringkali di dapatkan dari ruang ini.

Maka, saya pribadi sangat membutuhkan ruang ini, untuk mencari ketentraman dan ketenangan diri yang sesungguhnya. Ketentraman dan ketenangan yang sumbernya dari Dzat yang Maha Cahaya, Maha Pelindung, Maha Sayang kepaa kita Hamba-Nya….