Ruang Rindu

Pada akhirnya waktu terus beranjak, satu demi satu bergerak menempuh garis hidup masing masing. Kita dipertemukan bukan karena kebetulan, namun karena satu alasan.

Suatu saat kita kembali berjumpa, dengan berbagi cerita. Bisa suka atau tak apa bila teselip juga luka, inilah hidup kita. Berganti ganti antara bahagia dan duka.

Kadang kita sejenak berhenti, kadang kita sejenak bersembunyi, kadang berhenti saling mencari, namun diam diam mendoakan dalam hati.

Suatu hari, mari berjumpa lagi dalam kehangatan yang sama, senyuman yang sama, dan harapan bersama.

Foto ini adalah foto saat kegiatan di Pulau Sukun, salah satu Pulau terluar yang ada di Pedalaman Flores, bersama Yayasan Kebukit Indonesia

We’re Born For The Reasons

We’re born for the reasons, deep and wide,
Not always clear, not easy to find.

But through the roads of joy and tears,
We do our deed & seek the meaning for life here.

With giving hands and hearts to care,
Our reason of existence rest right there.

Picture : With the children from Pangabatang Island, NTT (one of the remote islands in Flores, NTT), Kebukit Indonesia Foundation built a school for them to study in 2019.

Belajar Di Desa Tani Dompet Dhuafa

Alhamdulillah pekan lalu mendapatkan kesempatan belajar ilmu tentang program pemberdayaan dari MPZ ( Mitra Pengelola Zakat) Dompet Dhuafa, sebagai perwakilan dari Yayasan Kebukit Indonesia.

Selama dua hari, tidak hanya belajar melalui konsep, namun belajar bagaimana praktik pemberdayaan di DESA TANI binaan DOMPET DHUAFA (DD) yang terletak di Desa Ciboadas, Lembang, KBB Bandung.

Belajar tentang program pemberdayaan memang butuh konsep yang dipikirkan dengan matang, assessment yang tepat, dan juga mentor yang siap membimbing. Belajar dengan Dompet Dhuafa belajar & berdiskusi, tentang alur program pemberdayaan, kerangka berfikir, memetakan masalah juga mengideasi solusi.

Insya Allah jadi ilmu yang bermanfaat untuk kami semua yang sedang berproses dalam program pemberdayaan. Terimakasih MPZ ( Mitra Pengelola Zakat) Dompet Dhuafa, yang telah memberikan kami ilmu, inspirasi dan semangat untuk memualai program pemberdayaan masyarakat.

Pentingnya Menyamakan Frekuensi

Menyamakan frekuensi adalah hal yang penting dalam sebuah organisasi. Apalagi untuk organisasi yang bergerak dalam bidang sosial. Menyamakan frekuensi bahkan menjadi salah satu pondasi, nilai dan budaya yang mesti dimiliki oleh organisasi tersebut.

Itu pula yang kami lakukan pekan kemarin. Duduk bersama menyamakan frekuensi  dari organisasi sosial dalam bidang pendidikan yang saat ini kami jalankan bersama, yaitu Kebukit Indonesia.  

Pekan kemarin kami sengaja mengundang putra putra asli NTT, yang saat ini baru saja menyelesaikan studi sarjana dan pasca sarjana nya di kampus di Pulau Jawa.

Semenjak kami memutuskan untuk berkegiatan di NTT dari sekitar tahun 2013. Kami mulai banyak balajar, salah satunya adalah untuk memperbanyak porsi mendengarkan. Mendengarkan apa yang menjadi permasalahan yang sedang mereka hadapi, keinginan yang ingin mereka wujudkan, serta harapan masyarakat disana.

Menurut padangan saya, sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang sosial, program yang digulirkan jangan sampai hanya program yang berdasarkan asumsi organisasi semata. Jangan sampai program yang kita adakan adalah program yang kita rumuskan berkutat pada persepsi dan teori, pengamatan jarak jauh, tanpa mendengaran apa yang menjadi permasalahan yang benar benar terjadi disana.

Jadi sebagai pengurus organisasi yang sedang berkegiatan di Pulau NTT, namun domisili para pengurusnya banyak di Pulau Jawa, maka sangat penting bagi kami untuk mendengarkan dan berdiskusi dengan para putra putri asli NTT

 

fbca173d-5245-4366-826b-e191fa0f8913

Dan pekan kemarin, Kami bersyukur bisa duduk bareng bersama mereka. Putra putra asli tanah Timur. Mendengarkan apa yang menjadi fenomena selama ini di tanah lahir mereka. Mendengarkan apa saja kendala, permasalahan sekaligus potensi dan peluang  yang bisa ditumbuh kembangkan disana.

Mendengarkan adalah bagian dari menyamakan frekuensi

Kenapa kita perlu mendengarkan ? Karena dengan mendengarkan kita bisa melihat apa yang selama ini tidak kita lihat, menyadari apa yang selama ini kita belum sadari. Dengan mendengarkan kita bisa melihat berbagai sudut pandang yang berbeda sekaligus sudut pandang yang bisa mencerahkan cara berfikir kita

Manfaat lain dalam menyamakan frekuensi adalah, kita bisa membuat kesepemahaman tentang apa permasalahan yang perlu kita selesaikan, menyamakan pandangan tentang bagaimana menentukan prioritas, menentukan ide & gagasan bagaimana menyelesaikan permasalahan juga merancang cara, stretegi & tekhnis yang akan dilakukan.

Menyamakan frekuensi juga artinya membulatkan kembali akan maksud dan tujuan, juga cita cita besar, agar segala derap langkah aktifitas adalah memang untuk menuju maksud dan tujuan tersebut

Menurut pandangan saya kembali, dalam berorganisasi jangan sampai kita melulu menghabiskan segala daya, tenaga dan fikiran kita untuk hal yang bersifat tekhnis. karena apabila kita hanya tertuju dan terobsesi pada hal hal yang bersifat  tekhnis, kita akan mudah melupakan arah tujuan, cita cita kenapa sebuah organisasi atau lembaga diadakan dan didirikan.

Lalu kita terjebak dalam kegiatan kegiatan yang seolah olah hanya “yang penting ada kegiatan” menjadi hampa, tanpa ruh, tanpa energi, tanpa tujuan, tanpa misi, tanpa strategi …

Jadi, ayo kita duduk sebentar, samakan frekuensi antar tim, agar tujuan yang kita inginkan benar benar tercapai. Atau jangan jangan kita memang tidak punya tujuan ? yang penting jalan ….

Bandung, 16 Maret 2020

Sebuah catatan perjalan untuk disimpan, direkam dan dijadikan pelajaran

Setiap Orang Berhak Bercita & Bercerita

d55d0fc7-3ee3-45b8-8cfb-5de898ce5fb0

Akhir pekan kemarin kami sengaja “Escape” sebentar dari hingar bingar kota Bandung. Nyari tempat yang sedikit sunyi & tersembunyi untuk duduk sebentar, merileksan fikiran, untuk kemudian berdiskusi santai, menyamakan frekuensi, menggagas harapan dan cita bersama tim Kebukit Indonesia

Katanya sebuah yayasan/lembaga sosial itu, jiwanya ada di pendirinya. Maksud dan tujuannya pun harus sesuai dengan tujuan “Founding Father” nya. Anggota lain tinggal meneruskan perjuangan.

Namun bagi saya -sebagai founder sebuah yayasan sosial- sebuah yayasan atau pergerakan sosial, jiwa nya ada di setiap orang. Setiap orang berhak untuk menitipkan impian impian besar nya di sana. Setiap orang berhak mengemukakan ide dan gagasan nya disana. Setiap orang harus memilik tujuan disana

Founder adalah pemantik, penggagas awal dan pembuka jalan.

 

Karena perjuangan selanjutnya akan lebih panjang. Perjuangan tidak bisa dilakukan sang “Founder” sendirian. Sang “Founder” akan menggajak banyak orang untuk berjuang bersama meraih tujuan. Karena ia tahu, di depan sana akan membutuhkan banyak orang. Orang yang memiliki semangat dan cita cita yang sama untuk mencapai tujuan,

Karena ia tahu di depan sana, akan dibutuhkan berbagai macam kemampuan,  keunikan, kekuatan yang berbeda beda dari berbagai orang. Dibutuhkan banyak strategi untuk bersinergi dan berkolaborasi.

Oleh karena tujuan kebaikan itu sangat panjang. Maka, setelah membukakan jalan, bukan berati founder yang memilki jalan tersebut. Jalan tersebut adalah jalan yang dimiliki bersama sama, jalan yang akan ditempuh bersama sama.

Oleh karena itu, setiap orang berhak menuangkan gagasan, pikiran dan cita cita nya di sana.

 

 

Setiap Orang Berhak Berbicara

Setiap orang berhak untuk meruahkan ide, gagasan & cita citanya. Mereka diperkenankan melejitkan bakat dan potensi nya disana.

Dan kemarin, sebuah kesyukuran bisa mengajak generasi yang lebih muda dari saya ini untuk melanjutkan perjuangan atas gerakan kebaikan yang telah saya mulai. Dan ternyata ide, gagasan dan cita cita mereka luar biasa. Banyak hal yang diluar dari pemikiran saya yang ternyata mereka bisa pikirkan.

Semoga mereka kelak yang akan melanjutkan. Tidak hanya melanjutkan, tapi menguatkan &melejitkan perjalanan kebaikan ini.

Oleh karena itu saya memberikan ruang kepada mereka untuk menuliskan apa cita cita kebaikan yang ingin mereka lakukan. Menuliskan apa harapan harapan besar mereka, untuk kebermanfaatan bagi  banyak orang. Berperan maksimal di di zamannya.

eb853465-84e7-4720-b554-7c42663e5640

—–

Fn : Late post, dalam rangka menyusun diri untuk bisa rutin nulis lagi

 

Goes To NTT ( lagi )

Kayanya NTT bakalan jadi kampung kedua saya nih, hhe.. hampir setiap tahun di takdirkan Allah ke pulau yang dulunya saya tidak pernah bayangkan sama sekali akan sering di kunjungi.

Akhir April ini saya kembali ke Pulau nan eksotik ini. Dalam rangka peresmian sekolah yang sedang saya bangun dengan teman teman Kebukit Indonesia dalam program “Bangun Sekolah NTT”

Jadi program “Bangun Sekolah NTT” ini adalah program pendidikan, dimana kami ingin membantu masyarakat NTT untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik, lebih layak, lebih berkualitas. Baik dari insfrasuktur maupun dari pengembangan sumber daya manusia nya.

Alhamdulillah, walau dengan perjuangan yang tidak mudah, akhirnya terbangun satu sekolah, di senbuah pulau terpencil bernama Pulau Pangabatang.

Banyak cerita, banyak pelajaran, banyak hikmah yang saya (kami) dapatkan dalam perjalanan kali ini. Bismilllah. Semoga di Ramadhan ini bisa baik terceritakan …

Tunggu ceritanya yaa…

Naluri …

Nah, karena selama ini saya bergelut di bidang literasi, budaya membaca, buku, dsb. Maka refleks saja, saat menemukan sebuah situasi, moment, Saya selalu ingin membuat sebuah #ReadingCampign. Hhe..

Waktu sore ini seorang kawan dari Jakarta datang, ia ingin jalan jalan di daerah Braga-Asia Afrika, kemudian ngeliat anak anak costplay dengan rupa figure, dan ingin berfoto, maka pose yang saya ambil adalah seperti ini.

Si “hantu” kayanya agak aneh ketika saya minta dia berpose lagi baca. Karena biasanya kan dia pasang muka muka serem gitu. Pas saya bilang ” a.. kita difoto sambil baca buku, mau yaa… ” Dia pun agak sedikit mengerut kan kening.. “oh boleh tehh…”

Dan hasilnya seperti ini…hhaaa

Oh ya, kegiatan kegiatan seputar kegiatan sosial, pendidikan, dan literasi bisa dilihat di Kebukit Indonesia

Selamat malam jumat yaa, jangan lupa Al Kahfi … 🙂

Bandung, 13 Desember 2018