Beberapa hari yang lalu adalah Hari Ibu. Meski saya bukan tipe yang merayakannya dengan ucapan atau selebrasi, momen itu tetap mengingatkan saya pada sosok yang selalu menjadi pusat hidup sayaโUmmi.
Saya ingin berbagi kisah ini. Sebuah kisah tentang janji yang tercipta dalam diam, dan bagaimana akhirnya saya bisa menunaikannya. Janji untuk membahagiakan Ummi…
Sedikit latar belakang, saya adalah anak pertama dari dua bersaudara. Saya memiliki seorang adik laki-laki, diamana Bapak sudah meninggalkan kami lebih dari 20 tahun yang lalu. Saat itu saya masih duduk di bangku SMAdan adik berusia SD. Sejak saat itu, Ummi membesarkan kami seorang diri. Tanpa menikah lagi, hingga akhirnya kami tumbuh dewasa, mandiri, dan memiliki penghasilan sendiri.
Sebagai anak pertama, saya menjadi saksi langsung perjuangan Ummi. Saya melihat bagaimana beliau bekerja keras siang dan malam untuk memastikan kami bisa hidup dengan baik & berkesempatan memperoleh pendidikan yang terbaik. Saat itu pun, kondisi ekonomi kami tidak sebaik saudara-saudara lain. Dengan profesi Ummi sebagi guru ngaji dengan gaji yang tidak seberapa, Beliau terus berusaha yang terbaik untuk Kami.
Ada beberapa peristiwa yang hingga kini terus membekas di hati saya…
Salah satunya terjadi bertahun-tahun lalu -saat saya baru memasuki kuliah awal-. Suatu waktu kami mendapatkan undangan pernikahan dari seorang saudara jauh. Saya ikut menemani beliau datang ke tempat acara. Karena tidak ada kendaraan pribadi, kami pergi dengan angkot. Dari tempat angkot berhenti, kami harus harus berjalan cukup jauh menuju gedung pernikahan.
Di acara itu, kami bertemu dengan saudara-saudara, uwak, bibi, dan sepupu-sepupu. Setelah acara selesai, saat semua orang bersiap untuk pulang, seorang saudara yang membawa mobil mengajak beberapa anggota keluarga untuk ikut menumpang. Tapi, ajakan itu tidak termasuk kami.
Saya dan Ummi pun berjalan kembali berjalanke jalan besar untuk mencari angkot pulang. Di tengah perjalanan, mobil saudara itu lewat. Sopirnya hanya membunyikan klakson, dan rombongan di dalam mobil melambai sambil tersenyum. Kami hanya bisa tersenyum kecil, kemudian melanjutkan perjalanan dalam diam, ada rasa bercampur yang sulit digambarkan, salah satunya rasa seperti tidak dipedulikan.
Entah mengapa, kejadian itu meninggalkan memori yang sulit dilupakan….
Lain waktu, saat mudik Lebaran, kejadian serupa terulang. Ketika kami akan kembali ke kota masing-masing, saudara yang membawa mobil tidak menawarkan tumpangan kepada kami. Padahal, masih ada ruang kosong di mobil, dan kami menuju kota yang sama. Tidak sepatah katapun, walau hanya sekedar basa basi saja. Peristiwa yang meninggalkan berbagai rasa pada diri saya
Beberapa peristiwa tadi, tidak pernah mengungkapkan & membagikan perasaan tersebut kepada siapa pun. Tapi di dalam hati, saya berjanji dalam diam
“Ya Allah, izinkanlah suatu hari nanti aku bisa membeli mobil. Agar Ummi bisa pergi ke mana saja, kapan saja dengan nyaman, tanpa harus menunggu belas kasih orang lain…..”
Sejak saat itu, keinginan untuk memiliki kendaraan bukan hanya soal kenyamanan atau pencapaian. Bagi saya, ada dorongan yang cukup dalam, bahwa ini bukan untuk kepuasan diri pribadi tapi untuk membahagiakan Ummi…
Janji yang saya ucapkan dalam hati itu akhirnya tertunaikan. Allah memberikan rizki-Nya dan mengizinkan janji dalam diam itu terwujud. Kendaraan ini mungkin hanya hadiah kecil untuk perjuangan Ummi selama ini untuk kami
Ini bukan tentang kendaraan, atau materi lainnya. Ini tentang bagaimana keinginan seorang anak untuk memberikan kebahagiaan kecil kepada orang tua, dan saya pun sadar sepenuhnya, bahwa untuk memuliakan orang tua yang sebenarnya adalah menjadi anak yang Saleh dan Salehah, yang kelak akan menjadi pahala yang tidak terputus untuk mereka
—
Kisah sederhana ini semoga jadi jejak baik untuk saya, ataupun siapapun yang membaca tentang waktu bersama orang tua tidak akan selamanya ada. Selagi mereka masih di sisi kita, mari berusaha memberikan kebahagiaan dan kemuliaan kepada mereka. Tidak selalu harus berupa materi, karena seringkali perhatian, cinta, dan penghormatan adalah hal yang jauh lebih berarti.
Bagi yang orang tuanya sudah tiada, jangan pernah berhenti mengirimkan mereka do’a. Sebab, doa anak yang saleh adalah hadiah paling berharga yang akan terus menjadi penerang bagi mereka di alam sana.
Semoga kita semua diberi kekuatan untuk terus memuliakan orang tua kita, dalam setiap langkah, dalam setiap peristiwa, dalam setiap episode hidup yang sedang dijalani…
Nanti kita cerita cerita lagi ya…. ๐







