“Mensyukuri Usia – Merindu Kematian “

Hari rabu kemarin, saya mengunjungi, sebuah desa perbatasan antara Lembang dan Subang untuk membantu seorang klient membagikan bantuan untuk warga disana.

Setelah acara pembagian bantuan sembako disana selesai, seperti biasa, radar explorer saya masih cukup tinggi ternyata. Sambil nunggu waktu turun gunung, saya coba berjalan ke desa yang di dindingi oleh gunung yang indah.

Saat lagi menikmati pemandangan desa yang indah, saya bertemu dengan seorang kakek tua yang memperkenalkan dirinya sebagai Abah Ining. Abah Ining baru pulang berkebun saat itu, dan menyempatkan untuk menyapa kami, dan berbincang bincang banyak hal

Waktu ditanya usia sambil berseloroh berkata “Abah mah, ayeuna yuswa 100 kirang 4 taun, masih anom neng” Abah sekarang usia 100 kurang 4 tahun, masih muda neng. Diusianya yang 96 tahun, Abah Ining masih sangat sehat, setiap pagi sampai siang masih pergi ke ladang untuk mengurus kebunnya.

Subhanallah, di usianya yang 96 tahun, beliau tidak menempakan sama sekali kepikunan, bahkan indra pendengaran beliau masih sangat  baik, kemampuan bercakap cakap baik, dan fisik nya pun masih sangat sehat.

Beliau bercerita bahwa, dia sudah hidup di masa pemerintahan Jepang, dan sampai saat ini masih bisa berhitung dan mengingat bahasa Jepang, di tengah pembicaraan beliau menyebutkan hitungan angka dalam bahasa jepang, kereenn. Saya aja ga tau heee…

Diantara pembicaraan kami tentang  beberapa nasihat hidup, Abah Ining berkata yang kurang lebih begini Abah tos kolot, mun jalema biasamah sieun paeh, abah mah tos hoyong istirahat, hoyong ngahadep Anjeuna, matakna ayeuna mah hirup teh Ibadah weh jeung ibadah, tur nitah anak incu ameh bisa ngaji, ngarti agama”

kurang lebih artinya begini ” Abah udah tua, kalau orang lain mungkin takut mati, kalau abah sebaliknya, abah ingin istirahat, ingin segera menghadap-Nya. Makanya sekarang hidup itu hanya untuk ibadah, juga menyuruh anak dan cucu agar rajin mengaji, dan mengerti ilmu agama”

Pernyataan terakhir beliau, jadi membuat saya berfikir, mungkin ada saatnya diusia seseorang, di titik tertentu, justru merindukan kematian, lebih tepatnya mungkin, merindukan kehidupan abadi, kehidupan yang sesungguhnya, disana.

Ah, makasih Abah untuk satu pelajaran hidupnya. Bahwa selama usia ada kita harus mengisinya dengan semangat dan manfaat. Dan bahwa ada kehidupan lain yang menjanjikan kehidupan yang lebih membahagiakan, kehidupan yang lebih nyata, kehidupan abadi, kehidupan yang kita rindukan, kelak, setelah kita melalui kematian, ketiadaan dalam hidup yang sementara ini.

Kalau ada orang yang bilang ingin hidup abadi di dunia ini, ingin hidup 1000 tahun lagi, mungkin bisa ditanya, yakinn?? ahh sungguh sangat sayang sekali, pasti membosankan dan melelahkan hidup selamanya di dunia ini.

Karena sungguh hidup abadi itu ada disana, kelak…

See you there soon or letter

Advertisements

One thought on ““Mensyukuri Usia – Merindu Kematian “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s