Benarkah Kita Memuliakan Anak Yatim ? (Part 1)

Sudah lama pertanyaan ini menggelitik di fikiran saya, tak hanya menggelitik, namun jadi semacam keresahan dalam fikiran, tentang bagaimana kebanyakan dari kita -masyarakat Indonesia- “memperlakukan” anak yatim.

Contohnya seperti saat ini, moment Ramadhan, dimana orang orang berbondong bondong ingin berbuat kebaikan, karena ini adalah bulan yang mulia, dimana setiap amal perbuatan di lipat gandakan kebaikan dan pahalanya.

Hal yang paling sering kita saksikan adalah, buka bersama dengan anak yatim. Dimana anak anak yatim di undang ke suatu tempat, entah itu restoran, mall, perkantoran atau sebagainya. Acaranya biasaya ada hiburan, makan makan, kemudian bagi bagi santunan untuk anak anak, dimana mereka dibariskan satu satu untuk mendapatkan amplop kepada para donatur.

Atau misalnya, moment lain ketika seseorang merayakan ulang tahun nya, atau sedang tasyakur binimat karena sesuatu hal, maka biasanya mereka mengundang anak yatim, dengan pola yang sama, sedikit perayaan, makan makan dan kemudian pembagian bingkisan lalu mereka pulang.

Entahah, saya ada meresa ada sesuatu yg meresahkan fikrian saya dengan tujuan kita untuk “memuliakan dan membahagiakan anak yatim” dengan cara seperti ini.

Kenapa ? Karena saya dan adik pernah menjadi anak yatim, di usia kami yang relatif masih kecil. Waktu itu saya -terutama adik- sering mendapatkan undangan seperti ini dari orang orang, entah itu acara syukuran sebuah kantor, acara charity sebuah perusahaan, program lembaga zakat, atau acara acara ramadhan.

Ada semacam perasaan malu dan minder sebenarnya, ketika waktu itu kami dikumpulkan dalam sebuah acara, diundang ke sebuah tempat yang banyak orang, diseragamkan dan bahkan di bariskan saat akan dibagikan nasi box atau amplop sumbangan.

Saat itu rasanya punggung ini sulit untuk tegak dihadapan orang orang yang disebut dengan para donatur, apalagi apabila di acara itu ada anak anak sebaya kami yang bukan dari kalangan anak yatim, misalnya mereka anak para donatur. Ada perasaan rendah diri atau minder sebenarnya yang saya rasakan, apalagi ketika terlihat perbedaan antara kami anak yatim dan mereka sang donatur.

Mungkin memang tidak ada maksud dari para donatur, lembaga sosial, atau siapa pun itu untuk membuat kami merasa begitu. Lagi pula “ritual” seperti ini sudah dari dahulu dilakukan oleh masyarakat kita. Tujuan mereka mulia, ingin berbagi kesyukuran dan kebahagian dengan para anak yatim. Dan juga memori rasa “minder” itu kadang terbawa juga sampai besar, perasaan tidak berdaya, perasaan kurang beruntung, perasaan minder karena selalu di kasihani, dsb.

Bersambung ….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s