Tanah Lembata [ Keping 1 ]

Ini adalah perjalanan beberapa tahun lalu sebenarnya, perjalanan yang masih terasa segar di ingatan saya, tentang sebuah pulau yang bernama Lembata. Pulau yang baru pertama kali saya mendengarnya saat itu, pulau yang sama sekali berada di luar dari pengetahuan saya, dan kemudian Allah mentakdirkan saya untuk bisa menjejakan kaki di tanahnya.

Begitu panjang rangkaian cerita di Pulau ini, saking berkesan dan berharga nya saya jadi bingung bagaimana memulainya. Karena kadang apabila sebuah kenangan terlampau indah, kita jadi kehabisan kata untuk melukiskannya, mendeskiripsikannya dalam kata kata.

Ah mari kita coba saja …

 

Tahun 2012 Pertama Kali Ke Tanah Lembata

 

Ya, berati sudah genap lima tahun, semenjak petama kali Allah mengantarkan saya ke tanah Lembata. Dalam sebuah perjalanan BHAKESRA (Bakti Kesra Nusantara), sebuah program yang diselenggarakan oleh kementrian Kesejahtraan Masyarakat pada saat itu.

Pulau Lembata adalah tanah kedua yang kami kunjungi saat itu, diutus sebagai relawan dari sebuah lembaga zakat, untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat disana. Saat itu saya dan patner saya yang diberikan tugas, belum mempunyai kontak siapa siapa agar bantuan bisa langsung diterima oleh masyarakat yang sesuai sasaran.

Singkat cerita Allah mempertemukan kami dengan seorang pasangan suami istri yang bisa membantu kami untuk menyalurkan bantuan. Dan ternyata mereka adalah orang yang tepat dan awal pertemuan itulah dengan suami istri, bernama Ustadz Mahmud inilah yang kemudian menjadi awal perjalanan panjang kami selanjutnya. Bahkan tak hanya kami, pertemuan ini menjadi jalan bagi kawan kawan yang lain untuk memasuki tanah lembata.

Ustadz Mahmud yang kami temui ternyata bukan orang biasa, ia adalah seorang anggota DPR dan juga seorang yang mempunyai pondok pesantren di pedalaman Lembata. Kami sangat bersyukur bertemu dengan beliau, karena kami bisa mendapatkan banyak informasi berharga dan menggali banyak hal. Sungguh Allah tidak begitu saja main main mempertemukan kita dengan seseorang, pasti ada tujuan yang termaksud di dalamnya. Tinggal kita saja yang harus pandai bagaimana menemukannya.

Setelah menunaikan tugas utama kami, kami pun diajak Ustadz untuk berkunjung ke pondok pesantren yang ia pimpin, karena waktu pun masih memungkinkan, kami dengan senang hati menyambutnya. Akhirnya kami pun berangkat ke pondok pesantren yang jarak nya kurang lebih empat jam dari kota Lewoleba.

Empat jam yang bukan hanya tentang waktu, namun empat jam dengan rute perjalan yang menakjubkan. Perjalanan dengan rute yang hampir setengahnya bergaya “off road”, sedikit jalan yang mulus, kemudian seperti menembus semak belukar, mirip jalan setapak yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil saja. Kemudian jalan raya yang tidak begitu panjang, dan masuk lagi kejalan setapak, dan pemukiman penduduk, dengan jalan yang sungguh berbatu.

Tersiksa ? Ah … tidak, karena semua terbayar dengan pemandangan yang indah dan berbeda sepanjang perjalanan. Melihat bentang alam yang sedemikian memanjakan mata, terkadang berkendara di pinggir kami lautan, bukit bukit kecoklatan yang menawan, pohon pohon kayu putih yang kecil dan menjulang, rereumputan khas tanah timur dengan warna kerbakar. Ah perjalan “off road” itu tak ada apa apanya, dengan hadiah pemandangan yang menakjubkan ini.




To Be Continued ….

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s