Komunitas PUNK HIJRAH [ Flash Back]

Akhir tahun ini, saya lagi banyak banyak melakukan FLASH BACK. Ga hanya kenangan atas moment dan peristiwa di tahun 2018 aja sih, tapi flash back ke beberapa tahun kebelakang, yang terjadi di akhir akhir tahun.

Seperti moment ini, ketika sekitar dua tahun lalu kira kira saya pertama kali bertemu dengan anak anak dari komunitas PUNK BANDUNG. Sebuah komunitas yang saat itu masih sangat asing bagi saya, bahkan membayangkan bisa kenal dengan mereka pun saya tidak pernah.

Namun, saat Allah mempunyai rencana, maka IA akan mengaturnya sedemikian rupa. Demikian juga saat malam itu, di acara yang diadakan oleh KEBUKIT INDONESIA dan GERAK BARENG dihadiri oleh BANG ZAKI pembina PUNK MUSLIM Jakarta , yang datang adalah kawan kawan dari komunitas PUNK BANDUNG.

Dan uniknya pertemuan ini, tidak sama sekali membahas mengenai musik PUNK atau semacamnya. Justru malam itu yang kemudian menjadi bahasan adalah tentang curahan hati dan fikiran mereka yang sudah ingin berubah arah hidupnya, ingin BERHIJRAH. Masya Allah …

Sungguh di luar dugaan. Akhirnya  bahasan kami lebih mendalam kepada makna HIJRAH. Bang Zaki sebagai pembina PUNK MUSLIM, banyak memberikan insight kepada mereka tentang kehidupan. Tidak menggurui, tidak menghakimi, kami sama sama berdiskusi, bercerita, bertukar fikiran.

Akhirnya, pembicaraan panjang malam itu, bertuju pada kepada keinginan mereka untuk berubah, untuk BERHIJRAH, dan mereka meminta saya dan kawan kawan untuk menjadi kawan yang membersamai mereka dalam proses HIJRAH mereka.

Ah.. malam itu sungguh saya yang jadinya dibuat haru. Semacam ada babak baru dalam hidup saya, semacam ada warna baru dalam hidup saya saat bertemu mereka. Di dalam hati, saya berkata : walaupun seolah olah mereka yang meminta semacam bimbingan dan pendampingan kepada kami, namun sebenarnya kami akan sama sama belajar, sama sama saling mengenal terlebih dahulu, belajar saling memahami, saling mengerti, dan saling belajar untuk memperbiki diri.

Dan malam itu menjadi awal perjalanan persaudaran kami selanjutnya. Tidak selalu sempurana memang, namun kami akan selalu saling menguatkan, saling mengingatkan, Insya Allah ….

Fn : Nanti saya update kegiatan kegiatan kami selama ini, oh y barangkali ada yang nanya, saya yang mana ? (barangali gituuuu….)

Itu yang pakai  kerudung merah …hhee

 

Selamat malam ya …

Bandung, 17 Desember 2018

 

 

 

 

Naluri …

Nah, karena selama ini saya bergelut di bidang literasi, budaya membaca, buku, dsb. Maka refleks saja, saat menemukan sebuah situasi, moment, Saya selalu ingin membuat sebuah #ReadingCampign. Hhe..

Waktu sore ini seorang kawan dari Jakarta datang, ia ingin jalan jalan di daerah Braga-Asia Afrika, kemudian ngeliat anak anak costplay dengan rupa figure, dan ingin berfoto, maka pose yang saya ambil adalah seperti ini.

Si “hantu” kayanya agak aneh ketika saya minta dia berpose lagi baca. Karena biasanya kan dia pasang muka muka serem gitu. Pas saya bilang ” a.. kita difoto sambil baca buku, mau yaa… ” Dia pun agak sedikit mengerut kan kening.. “oh boleh tehh…”

Dan hasilnya seperti ini…hhaaa

Oh ya, kegiatan kegiatan seputar kegiatan sosial, pendidikan, dan literasi bisa dilihat di Kebukit Indonesia

Selamat malam jumat yaa, jangan lupa Al Kahfi … 🙂

Bandung, 13 Desember 2018

Ketika Mereka Mengetuk Dari Pintu Ke Pintu

Door-Knocking-Real-Estate

Kemarin lusa pas lagi seharian di rumah, ada yang  mengetuk pintu dan mengucapkan salam, kemudian saya liat ada dua orang di teras yang terlihat masih muda, mungkin baru lulus SMA, berseragam hitam putih.

Satu laki laki, satu perempuan. Yang laki laki memakai tas gendong yang terlihat sudah lusuh, yang satu perempuan terlihat membawa semacam papan dada, dengan beberapa lembar kertas diatasnya, memegang pulpen, terkesan sedang mencatat sesuatu.

Ketika saya membukakan pintu, mereka memperkenalkan diri sebagai tim survey dari sebuah perusahaan gas, dan mereka bertugas untuk mengecek keamanan gas yang ada di rumah rumah warga.

Sebenarnya saya sudah tahu kurang lebih maksud mereka. Mereka pada akhirnya akan menawarkan sebuah produk yang berkaitan dengan kompor gas, entah itu regulator, selang, dsb. Dengan pembuka awal adalah mereka ditugaskan untuk mengecek kemanan kompor gas.

Saya tolak dengan halus, ” Maaf dek, yang punya kami masih bagus …” Kemdian dia bertanya ” Kapan terakhir di cek bu ? ” masih tetap berusaha “ Baru baru ini, maaf ya dek, kemarin juga ada yg ada seperti adek kesini ..” lanjutku. “Baik bu, boleh saya minta nama ibu saja…” . Lalu saya berikan saja, dan mereka pun berlalu, mengucapkan terimakasih. Saya tidak beli karena memang tidak butuh, dan biasanya harga mereka jauh lebih mahal dari pasaran

Mungkin teman teman juga pernah kedatangan yang seperti ini, sebenarnya mereka hendak menjual sebuah produk, dengan cara awal seolah olah mereka, adalah petugas resmi dari perusahaan gas.

Sebenarnya sih saya dengan orang orang rumah, pernah ada trauma dengan hal seperti ini. Dulu pernah ada yang seperti ini juga. Bedanya, kalau yang kemarin itu masih anak anak yang kayanya baru lulus SMA, yg sebelumnya yang datang adalah bapak bapak paruh baya, tidak tanggung tanggung, mereka datang tiga orang.

Dengan gaya pembukaan yang sama, namun lebih berani, kalau dibilang sih lebih ga sopan, mereka berani untuk langsung masuk ke dapur, dan melihat kondisi gas kita. Jadi kita semacam dibuat panik, yang satu mengajak kita ngobrol, yang satu entah bagaimana berani untuk masuk ke rumah kita, menuju dapur, dan langsung memegang megang kompor gas kita. Dan entah kenapa, gas kita yg asalnya baik baik saja, kemudian jadi kaya rusak gitu, kejadian pas di rumah saya, selang nya jadi semacam robek gitu, padahal awalnya baik baik saja.

Setelah sadar bahwa sebenarnya mereka yang sengaja merusak gas dan kelengkapannya, dengan tujuan nya agar kita mau tidak mau membeli produk mereka yang harganya bisa dua kali lipat dari harga normal. Dan ternyata mereka melakukan ini ke beberapa rumah yang mana waktu itu biasanya hanya ada ibu ibu saja. Ibu ibu kan gampang panik an, mereka manfaatkan kondisi psikologis itu. Ah … jahat sekali. Inilah yang membuat orang orang banyak trauma pada tenaga penjual yang datang ke rumah

Balik lagi ke anak anak itu. Sebenarnya mereka ga mungkin sejahat itu. Mereka sedang mencari nafkah, sedang memberanikan dirinya untuk mengetuk setiap pintu, mengenalkan diri kepada orang yang sama sekali tidak dikenal, yang bisa diperlakukan lembut atau kasar. Berani mengetuk dari pintu ke pintu, berjalan dari gang ke gang, dan itu sungguh tidak mudah.

Mereka, yang terlihat polos polos itu, sedang ditempa oleh kehidupan, dihadapkan pada banyak penolakan, disajikan bahwa perjuangan memang tidak mudah. Mungkin saat ini mereka terlihat bukan siapa siapa, tapi mungkin kelak mereka akan menjadi tenaga penjual yang hebat, marketing yang handal, bahkan mungkin pengusaha yang sukses. Karena mereka telah benar benar belajar dari kerasnya kehidupan.

Saya pun, seorang tenaga marketing. Pernah merasakan yang namanya kanvasing, di tempat yanga asing, memberanikan diri untuk sekedar membagi bagi brosur, dan membuka pembicaraan dengan orang asing. Dan itu tidak mudah. Tapi pengalaman itu jadi modal saya lebih kuat, lebih tahan banting, dan juga lebih berani untuk melangkah …

Sudah banyak ceritanya, mereka yang berhasil adalah orang yang berjuang dari bawah, dengan perjuangan yang tidak mudah …

Sukses Dek !

Bandung, 12 Des 2018

 

 

 

Walau Tak Kemana Mana

Hari minggu ini saya memutuskan tidak pergi kemana mana, ingin dirumah saja. Walau sebenarnya ada beberapa pekerjaan yang tadinya di niatkan di lakukan di hari minggu ini, tapi urung di lakukan. Sedang tidak ingin bepergian, ingin habiskan waktu di rumah saja.

Hari minggu di rumah, kadang identik dengan istirahat, atau semacam bermalas malasan, atau mungkin bongkar bongkar rumah, menyeslesaikan segunung cucian, dan sebagainya. Seperti hari ini, saya bangun agak siang, lalu menonton kartun legend kesayangan, Doraemon. Entah kenapa, walau sudah di umur segini, film kartun itu serasa masih begitu banyak membawa keceriaan buat saya.

Minggu pagi ini memang sengaja melambankan ritme, ingin sejenak benar benar beristirahat, menikmati gorengan dan secangkir teh hangat. Beres beres rumah pun siang hari baru dilakukan.

Tapi saya memang tak berniat untuk menghabiskan hari hanya berleha leha seharian. Sehabis dzuhur saya niatkan ingin tetap produktif, ingin meng-charge diri, ingin membekali diri, setidaknya melakukan sesuatu yang bisa menjadi bahan bakar sepekan kedepan.

Ada sebuah buku yang telah saya niatkan untuk dibaca. Buku yang tidak saya cari, namun dia seperti “diantarkan” kepada saya untuk dibaca. Buku yang awalnya saya sedikit underestimate, karena kayanya bakal membosankan. Tapi kemudian buku ini menarik jiwa saya semenjak bab pertama.

Siang itu saya habiskan hampir setengahnya, bahkan ada beberapa bab yang saya baca ulang, karena pembahasannya ternyata apa yang selama ini saya sedang cari. Nanti barangkali saya ceritakan tentang buku ini, saya ingin menyelesaikan nya lebih dahulu

Sore hari saya stop dulu membaca, karena ingin sedikit berolahraga, sambil mengendapkan kalimat kalimat yang baru saja saya terima. Mengendapkannya, menceranya, dan menghubungkan dengan apa yang sedang saya rasakan saat ini ..

Dan kemudian, tepat jam sepuluh setelah urusan rumah lainnya telah selesai, saya melanjutkan membacanya. Berdialog dengan deretan kalimat di atas kertas, mendengarkan apa yang dituliskan, menyampaikannya pada perasaan dan fikiran, menyimpannya dalam benak terdalam …

Hari minggu ini, saya dapatkan keduanya, menikmati asyiknya bermalas malasan dan mendapatkan banyak sekali pencerahan, walau tak kemana mana, dirumah saja ….

Bandung, 8 Des 2018

Not Easy Come – Not Easy To Let Go !

Beberapa hal yang saya makin sadari -dan bahkan saya alami- beberapa saat ini. Tentang sebuah kosa kata yang sudah sering kita dengar “Easy Come – Easy Go”.  Sesuatu yang gampang di dapat, katanya akan gampang juga untuk lepas, atau dilepaskan. Jadi kaya semacam ga “sayang” gitu,  karena mungkin proses atau perjuangan mendapatkannya juga ga butuh effort yang telalu gimana gitu. “Ya udahlah … ga apa apa …”

Mungkin benar adanya, tapi ga selalu begitu. Ada hal hal yang kita memang tidak terlalu sulit kita dapatkan, namun setelah kita dapatkan, kita bersungguh sungguh untuk menjaganya, memeliharanya, sebagai wujud rasa syukur.

Namun sebaliknya, saya rasa. Apabila kita sedang berusaha mendapatkan sesuatu hal yang dijalankan nya tidak mudah, prosesnya berliku, jatuh bangun nya sangat kerasa, pahit getir nya silih berganti, maka ketika kita sudah di tahapan mendapatkannya, kita tak akan sembarangan melepasnya. Kita akan sekuat tenaga menjaganya, memeliharanya, memastikannya ia tetap ada, seperti keinginan kita di mula.

Ini bisa dalam hal apa saja : Rizki, Jodoh,Keluarga, Situasi, Impaian, Cita Cita Dsb

Kerena biasanya saat kita ingat proses yang kita lalui ketika memperjuangkan apa yang kita mau, maka kita akan sangat berhati hati menjaganya. Kita menghargai rasa perih dan luka, kita menghargai waktu dan tenaga, kita menghargai segala daya upaya, kita menghargai diri kita.

Maka, pribahasa “Easy Come – Easy Go” mungkin tidak selalu seperti itu. Namun apa yang sudah kita benar benar perjuangkan, akan sayang untuk kita lepaskan : “Not Easy Come – Not Easy To Let Go ! “

Maka, apabila sesuatu yang saat ini sepertinya tidak mudah kita dapatkan, maka ini adalah sebuah cara Allah agar kelak -setelah kita dapatkan- kita akan sepenuh jiwa menjaganya, mempertahankannya …

Setuju ?

Nonton Bareng Film IQRA

Sebagai komunitas yang bergerak di bidang LITERASI, saya dan kawan kawan dari Kebukit Indonesia, ingin bisa membumikan makna LITERASI kepada masyarakat melalui berbagai cara. Karena makna LITERASI sebenarnya adalah keterbukaan informasi, yang tujuan nya meningkatkan kualitas hidup manusia.

Nah … Kali ini kami ingin mengajak masyarakat berliterasi melalui media visual, media film. Tentunya film yang mendidik, membuka cakrawala informasi, mengajak berfikir, dan yang tak kalah penting adalah film yang menginspirasi

Salah satunya adalah FILM karya anak negri yang berjudul IQRA. Film karya para seniman di SALMAN ACADEMY FILM (SAF) yang sangat keren. Film ini sebenarnya sudah pernah tayang di bioskop beberapa tahun yang lalu. Karena konten nya memang bagus untuk segala usia, maka Tim SAF mengadakan ROAD SHOW untuk nonton bareng film ini.

Persiapan kami untuk mengadakan NOBAR film ini sebenarnya sebentar sekali, sekitar tiga hari. Dan diluar dugaan pendaftaran peserta langsung membeludak di hari pertama kita naikan NOBAR ini di medsos dan broadcast. Dan kuota langsung terisi penuh, walaupun nonton nya hanya di aula gedung perpustakaan dan ala ala NOBAR, lesehan. Hhe

Overall acara berjalan lancar, beberapa peserta NOBAR setelah film berakhir matanya berkaca kaca, yang berarti film menyentuh, dan memberikan makna

Insya Allah karena antusisme yang bagus dari masyarakat, kami ingin mengadakan NOBAR berikutnya dengan kemasan, ruangan, perlatan yang lebih baik lagi.

Karena, semangat berliterasi tidak melulu tentang buku -walau buku tetap menjadi priotitas pertama- ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengajak masyarakat lebih terliterasi, terdidik, dan tercerahkan.

Salam Literasi 🙂

When Something Ruin Your Day …

Terkadang ada sebuah hal, kejadian, atau berita yang tiba tiba kita lihat, dan kemudian semacam mengacaukan hari kita. SEsuatu yang sebenarnya tidak ingin kita lihat atau tidak ingin kita ketahui, namun tetiba saja hal itu seperti nampak di depan mata kita atau sampai di telinga kita.

Seperti hari ini, saya mengalaminya. Sesuatu yang tidak ingin saya ketahui sebenarnya, namun Allah sepertinya mentakdirkan saya intuk tahu. Lalu tetiba pikiran saya jadi kacau, perasaan jadi ga karuan, raga sepertinya melayang layang.

Seperti nya setiap orang pernah mengalami, mengetahui sesuatu hal yang tidak ingin diketahui …

Beberapa saat saya hanya tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya saya banyak terdiam, tak banyak bicara, namun perasan semacam gelisah, bercengkrama saling bersahutan didalam, pikiran pun sama, ia terus melayang dan mengambang

Saya harus melakukan sesuatu. Awalnya saya kira semua pikiran dan perasaan akan reda segera, saat saya melakukan pekerjaan pekerjaan yang mengalihkan. Saya coba tidur mendengarkan musik musik penenang jiwa, namun tak begitu bertahan lama, ketika saya harus bangun, semua berita itu kembali menggelisahkan jiwa

Lalu, saya coba untuk menggerakan raga. Mengerjakan pekerjaan pekerjaan rumah, dan berolah raga, mencoba mengalihkan fokus. Alhamdulillah, apa yang terasa menyesakan di dada mulai terasa mereda, walau belum seutuhnya

Dan langkah kemudian yang saya lakukan adalah, membasuh muka, mensucikan raga dan menggelar selembar sajadah, Shalat dua rakaat. Mengambil nafas dalam dalam, dan menggerakan kedua tangan, mengucap Allahu Akbar. Fatihah pertama pun air mata saya sudah berderai derai, entah bagaimana rakaat selanjutnya, saya ikuti saja iramanya …

Di sujud akhir, saya berusaha lepaskan semua, dan setelah itu bercerita pada-Nya tentang apa yang saya rasa. Walau sebenarnya IA sudah tau ada apa. Ah tak apa apa … aku hanya ingin bercerita, dan menjadikan IA tempat pertama untuk bercerita, sebelum ke sesiapa

Setelah itu saya coba berkomunikasi dengan diri sendiri, tentang apa sebenarnya yang saya rasa. Sedihkah, marahkah, kecewakah, atau menyesalkah, atau mungkin perasaan perasaan yang masih undefinitif . Bertanya kepada diri, berusaha menduduk-kan rasa pada tempatnya, menjujuri diri, kemudian memberikan ia ruang untuk leluasa berbicara dan mengungkap segala. Agar setelah semua tercurahkan, kita bisa menyulam sambungnya dengan logika.

Karena ketika rasa memang perlu di difiniskinan, agar kita tahu setelah itu mana yang benar, mana yang hanya letupan semata. Agar setelah nya nalar dan logika bisa berjalan menjalankan fungsinya.

Tidak mudah memang, karena kita -saya- kadang tergoda untuk menjadikan perasaan sebagai tolak ukur segalanya. Padahal tidak seperti itu, tidak selalu seperti itu. Logika adalah garis pembatasnya. Logika adalah yang bisa menolong kita untuk lebih bijak melihat segala

Tidak mudah memang, saya pun  harus masih belajar …. 🙂

 

Bandung, Desember kedua, 2018

 

 

 

 

Segereget Apa Persahabatanmu ?

Ada sebuah film yang bener bener saya tungguin rilis nya. Ya ! Wrack Ralph 2 : Breaking The Internet. Film yang pertama nya bikin jatuh cinta sekali. Jatuh cinta karena alur ceritanya, karakter tokoh nya, juga dengan sajian visual nya. Ketika beberapa bulan lalu, ada kabar film ini akan rilis yang ke dua nya, saya bener bener excited, menantikan petualangan persahabatan Venellope Dan Ralph.

Dan malam ini saya nonton film nya, sendirian. Hhee… Kenapa sendirian ? Karena ga banyak kawan seusiaku yang masih suka film kartun ( emang usia nya berapa mba ? Hha..). Yang nonton kebanyakan memang orang tua dengan anak anak nya

Anyway film ini secara keseluruhan mencaritakan tentang persahabatan. Tentang bagaimana rasa sayang yang tulus dan dalam kita pada seseorang akan membuat kita berbuat apa saja, agar orang yang kita sayang itu aman. Apa saja diusahakan, apa pun diperjuangkan, tak peduli menjadi sebodoh apapun kita tampaknya.

Film ini pun menceritakan tentang rasa takut kehilangan, mungkin karena sudah terbiasa bersama, jadi ketika tidak adanya dia sahabat akan terasa hampa.

Suka sekali dengan pesan pesan yang saya tangkap dari film ini, film yang sebenarnya bukan hanya tentang visual warna atau alur cerita. Beberapa nilai saya rasakan di film ini. Tentang bagaimana perasaan dibutuhkan, dicintai, diinginkan sangat berarti untuk seseorang. Ketika ia mendapatkan perasaan itu, maka ia akan berusaha menjaga orang yang telah bisa membuat nya merasa berharga. Seperti ikatan persabatan antara Venellope Dan Ralph. Keduanya bersama karena pernah mengalami kondisi yang sama. Pernah merasa tidak diterima, tidak diinginkan, ditolak oleh sekitarnya ( cerita tentang ini ada di wrack it Ralph 1)

Di Wrack It Ralph 2 ini, banyak bercerita bagaimana begitu gereget nya Ralph berjuang untuk kebahagiaan Venellope di saat yang sama Ralph harus bisa merelakan Venellope untuk mengikuti panggilan jiwanya. Persahabatan yang tulus …

Sampai ada satu scene pas perpisahan yang berhasil membuat mata saya berkaca kaca ..! Ahh film kartun macam apa inihh … Mungkin saya nya aja yg lagi baper …hhaa. Oh yaaa ada lagu Payung Teduh nya di film ini, jd lagu di penutup di akhir, bikin tambah syahdu film nya….

Ya udah gitu aja. Nonton film ini ga akan sia sia. Hiburan nya dapet, nilai dan pesannya pun bagus, banget !

#HappyWatching

Program Turun Berat Badan, Yang Mengasyikan …

Jadi, satu bulan terakhir ini saya lagi program penurunan berat badan. Sudah merasa over berat badannya. Sebenarnya over nya berat badan saya ini dah lama terjadi, dan selama ini lebih ke cuek aja. Masih ngerasa ya udah lah ga apa apa, masih ngerasa nyaman nyaman aja

Dan sekarang sekarang, tepatnya sekitar dua bulan lalu, ada di satu titik, oke saya harus turunin berat badan saya. Di titik itu saya gali lebih dalam lagi, kenapa saya harus turunin berat badan saya. Saya pengen alasan yang lebih dari ‘pengen terlihat langsing’ atau ‘pengen punya berat badan ideal. Lalu saya menemukan “STRONG WHY” yang akhirnya menguatkan saya untuk berkomitment untuk menurunkan berat badan. Kalau tentang sehat, sebenarnya di berat badan yang ‘over’ itu saya sehat sehat saja, Alhamdulilah. Jadi “STRONG WHY” saya tidak hanya tentang kesehatan.

Nah.., setelah nemu apa alasan kuat saya untukk turun berat badan, terus saya mulai cari cari strategi yang PAS buat program saya ini. Beberapa hal yang saya NOTED dari awal adalah : yang pertama saya ga mau pakai obat obatan pelangsing instan, yang kedua saya ga mau melakukan diet yang ga bisa saya lakukan dalam jangka panjang, yang bisa adaptable di kesaharian. Hanya tahan satu atau dua bulan, namun akhirnya kita tidak bisa menjalankannya lagi. Ketiga, ingin melakukan program berat badan yang ada semacam kajian ilmiah nya, yang memang ada ilmunya, yang bisa dipertanggungjawakan, dan ada ahli nya.

Akhirnya saya banyak baca, banyak browsing, banyak cari ilmu berkaitan sama hal kesehatan badan, metabolisme, pola makan, pola olahraga, pola hidup yang berkaitan dengan kesehatan. Nah ….dari membaca itulah akhirnya banyak menghimpun ilmu da kemudian mencernanya, dan kemudian memilih metode apa yang baik, benar, cocok, nyaman dan bisa saya jalankan. Jadi yang saya benahi pertama kali adalah tentang Pola Pikir.

Alhamduillah, sudah dijalankan secara konsisten selama satu bulan setengah an. Terutama pada pola makan dan olahraga. Hasilnya sesuai dengan perkiraan, Alhamdulillah. Berat badan saya tidak turun dratis, tapi menunjukan progress yang baik (Karena dari awal sudah set target yang rasional, tidak drama… hhee). Satu bulan setengah turun sekitar tiga kilo saya sudah senang. Tanpa obat pelangsing, tanpa diet yang menyiksa, tanpa olahraga yang mahal.

Oh ya pola makan nya saya pakai metode FOOD COMBAINING dan olah raga nya saya pakai metode HIIT CARDIO. Memilih dua metode ini setelah banyak baca, banyak browsing, tanya tanya, dsb. Juga yang saya rasa saya nyaman dengan cara tersebut. ga mau menyiksa diri. hhee …

Pas jalanin metode itu mulus mulus aja ga ? hhii …engga juga. Kadang ada malas. Tapi kalau inget lagi ke “STRONG WHY” jadi semangat lagi. Dan sekarang kalau ga di jalanin kaya berasa ada yang kurang.

Oh ya, satu lagi … dari awal memulai program, yang saya tanamkan dalam fikiran saya adalah : saya ingin belajar tentang belajar disiplin,konsistensi, dan membangun habits dari program yang saya jalankan (terutama program olahraga nya). Karena konon katanya, untuk menjadikan sesuatu menjadi habits, butuh 21 hari tanpa berhenti, dan untuk menjadi gaya hidup, butuh 90 hari tanpa terputus.

Jadi, semoga program penurunan berat badan yang saya jalankan, result nya tidak hanya tentang berat badan yang sesuai keinginan, namun tentang bagaimana belajar menjalankan sebuah habits baik dalam kehidupan… #ciehhhh

Bismillah, doakan yahh semoga konsisten  …. 🙂

Ini pengalamanku, gimana pengalamanmu ?

 

 

 

[ Movie Review ] “FREEDOM WRITER” : Ketika Menulis Bisa Merubah Diri

Berbekal kata kunci Recommended Film di kolom google, akhirnya berlabuh kepada judul film yang satu ini “Freedom Writer”. Sebuah film yang dirilis tahun 2007, yang diangkat dari sebuah buku dan berdasarkan sebuah kisah nyata, yang terjadi di sebuah sekolah di kota California Amerika.

Bercerita tentang perjuangan seorang guru dalam menghadapi murid murid nya, di sebuah kota yang penuh dengan penuh kekerasaan, pemberontakan, peredaran narkoba bahkan pembunuhan antar ras. Hal ini sangat mempengaruhi suasana pendidikan di sekolah.

Anak anak menjadi sangat keras, tertutup, tak acuh, membangkang kepada guru, tidak peduli pendidikan, membangkang dan sangat suka pertengkaran dan tawuran. Tak jarang di usia mereka banyak yang terlibat dan berakhir di penjara atau berujung di kematian.

screenshot-509

Kemudian seorang guru baru dengan kecintaan yang tinggi kepada dunia pendidikan datang. Penolakan dari murid murid nya begitu ia rasakan. Namun ia tak patah asa mencari cara agar murid murid nya bisa lebih terbuka kepadanya, agar murid murid nya. Karena ia tahu, ada sesuatu yang terjadi kepada mereka, yang menyebabkan mereka berperilaku sekeras itu.

Sebuah cara unik kemudian ia lakukan ketika mengajar – yang cara ini belum pernah dilakukan oleh para guru sebelumnya – yaitu dengan cara MENULIS !!

Sang guru memberikan setiap murid sebuah JURNAL untuk MENULIS Boleh menulis tentang apa yang mereka rasa, keinginan, harapan, puisi atau cerita. APA SAJA ! Apa saja yang ingin mereka tulis, tanpa batas, tanpa aturan. Dan apa yang mereka tulis tidak akan mempengaruhi nilai mereka. Menulis lah untuk diri kalian sendiri, begitu katanya

Dan Sang Guru pun tak akan membaca jurnal mereka, kecuali mereka yang memberikan izin. Diluar dugaan hampir semua anak akhirnya mau menulis, dan diluar dugaan pula, hampir semua anak mengizinkan jurnal nya untuk dibaca.

05freedom600.1

Dari jurnal itulah sang guru tahu, cerita hidup mereka, berbagai pengalaman kelam yang telah mereka alami, berbagai luka batin dan trauma yang mereka rasakan. Dari situ ia tahu apa yang harus ia lakukan …

Singkat cerita (Biar ga terlalu spoiler…hhe), sang Guru berhasil merubah hidup mereka, melalui menulis. Mereka jadi terbiasa untuk menulis apa saja yang mereka rasakan, pikirkan. Dengan menulis mereka menjadi tahu apa yang mereka inginkan, rasakan, dan kemudian mereka tahu apa yang ingin mereka lakukan. Mereka menjadi lebih terbuka, lebih ceria, lebih berani untuk bercita cita untuk masa depan. Menulis telah banyak merubah hidup mereka

Dan akhirnya mereka membuat sebuah project yang disebut “FREEDOM WRITERS” yang merupakan kumpulan atas tulisan tulisan mereka, yang kemudian mendapatkan banyak apresiasi, dan banyak di contoh oleh sekolah sekolah lainnya.

maxresdefault


Film ini kereeen bangettt, sebuah penguat bahwa kegiatan literasi yang paling dasar, yaitu membaca dan menulis, bisa menjadi sebuah terapi yang hebat kepada para siswa, bahkan untuk para siswa yang dianggap paling “bebal” pun

fw

Karena menulis adalah sebuah penyampaian rasa, penyaluran asa. Menulis adalah sebuah cara untuk meringankan jiwa atas banyak peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Menulis adalah pendefinisian atas banyak rasa dalam benak kita. Dan ketika bisa mendefinsikan nya, kita pun akan bisa lebih jelas melihat diri kita dan apa yang terjadi pada diri kita. Dan dengan menulis bisa membantu kita untuk menata masa depan.

Menulis lah untuk diri sendiri ! Itu yang harus ditanamkan di awal. Menulis bukan tentang berambisi terlalu dini untuk menjadi penulis terkenal, cetakan best seller, dan hal hal lain yang bersifat popularitas. Namun menulislah untuk diri sendiri, menulis lah untuk menguatkan diri, menulislah untuk memahami diri.

Bila kemudian tulisan kita menginspirasi dan bisa menjadi sebuah kebaikan bagi orang lain, maka itu kemudian adalah sebuah amanah dan jalan peran kita. syukuruillah dan siramilah, hingga tumbuh dan merekah

writing

Selamat Menulis ..