Jangan Takut Menuliskan Cita Mu

Kita pasti punya banyak keinginan bukan? ingin ini, ingin itu, ingin melakukan banyak hal. Ingin pergi melanglang dunia, ingin mempunyai ini, ingin berkarya itu. Begitu banyak list keinginan dan cita dalam kehidupan kita.

Namun, keinginan dan cita itu kadang kita batasi dengan waktu, tenaga bahkan fikiran prip. Begitu banyak peran yang kita pegang dalam hidup ini, hingga terkadang kita menjadi bingung menjalani nya. Membuat prioritas atas keingian bahkan cita cita besar kita.

Itulah barangkali yang pernah saya rasakan. Begitu banyak keinginan dan cita cita untuk membuat banyak hal. Terkadang timbul dalam benak saya, apakah tenaga dan usia saya akan sanggup mewujudkan semua cita tersebut, terkadang hal tersebut menciutkan saya.

Hingga suatu saat, ada seseorang yang membisiki saya :

Jangan khawatir untuk berani menuliskan cita cita besar mu. Bila bukan kamu yang mewujudkan nya, akan ada generasi setelahmu yang akan mewujudkannya. Karena bisa saja cita cita mu saat ini adalah “titipan” dari para pendahulu kita. Allah akan menyimpan cita cita baik kita. Bila usia kita tak sampai kepadanya, akan ada mereka yang mewujudkannya

Saya coba melamati kalimat demi kalimatnya, dia bilang bahwa cita besar, tak datang begitu saja, itu diturunkan, jauh jauh sebelum kita, oleh para pendahulu kita, para Nabi, Rosul, Sahabat, Para Amiril Mukminin, hingga para pahlawan bangsa ini, hingaga kita para pemuda saat ini.

 

 

581580_10151143763968260_260295414_n

 

What A Life [ Tanaka’s Stories ]

Hai Ka …

Lama aku tak menulis kepadamu, ya.. bercerita kepadamu. It’s been so long, kita tak bercakap cakap seperti dulu. I miss ya, really …

Tidak, aku tidak pernah benar benar melupakanmu, tidak pernah. Namun kadang aku ada di sebuah espisode hidup yang menjadikan aku mengabaikan bahawa aku memilikimu.

Seperti malam ini, tetiba aku ingin betemu dan banyak bercerita dengan mu, tentang banyak hal. Bukan, bukan tentang cinta atau semacamnya, sudah lama aku tak begitu mempedulikan tentang hal itu.

Aku ingin menceritakan tentang hidup yang kadang mulai terasa lebih berat, lebih menanjak, lebih complicated. Tidak, aku tidak ingin mengeluh, atau apapun, aku hanya ingin bercerita kepadamu seperti sore yang biasa, seperti waktu waktu sebelumnya, hanya bercerita, itu saja.

Ka ….

Hidup kadang menyajikan kita masalah yang berbeda dalam satu waktu yang sama, kadang satu masalah yang membuat kita ingin berhenti melangkah, atau lama terhenti  melangkah. Membuat kita kacau, membuat kita resah, membuat fikiran kita melayang layang mereka reka apa yang akan terjadi selanjutnya.Disisi lain, ada peran lain yang mesti kita jalankan,  menuntut kita “berpura pura” baik baik saja, berjalan setegar mungkin, bernafas seringan mungkin. Life Goes On itu yang mereka bilang’

Aku tau – kamu tau, aku berusaha, untuk terus berjalan, menghadap kedepan, meyakini yang aku yakini, yang kamu yakini, bahwa seperti apa pun ujian, kesulitan bahkan kesalahan yang kita lakukan adalah pembelajaran, bawa ujian, kesulitan bahkan kesalahan itu adalah kehidupan itu sendiri.  What a Life …

Ka ….

Hidup itu indah ya …seperti kata mu. Apapun, apapun yang datang pada kita, jalani. Bahagia atau luka. Bahkan luka pun bisa jadi bahagia bila kemudian kau bersabar untuk melihat kenapa dibalik itu semua, dan bagaimana kita menyapa luka itu.Berbijaklah katamu, itu kuncinya. Dan bila kau takut,maka beranilah, karena itu obatnya. Bila kau mampu dan mau, maka di akhir cerita yang kau tau hanyalah bahagia

Ka ….

Aku rindu berjalan di padang rumput di senja hari, di kala cahaya matahari jatuh menguning menimpa rerumputan. Angin sore yang mengantarkan kita untuk pulang ke rumah, rumah taman tempat kita sering bertukar cerita, cerita tentang cahaya, tentang suara, tentang angkasa.

Ka ….

Aku rindu kau, aku rindu rumah, rumah hutan kita …

 

 

 

 

Jalan Jalan Di Pasar Kaget”Burung Tungku” Bandung

Hampir setiap hari minggu, kalau lagi nggak ada acara seharian, biasanya saya bareng mamah jalan pagi ke pasar kaget yang ada di dekat rumah. Saya seneng kalo udah bisa jalan pagi gini ke pasar, selain bisa sambil belanja sayur sayuran, bumbu dapur, dll yang relatif murah, kegiatan kaya gini juga buat sarana olahraga.

Perjalanan ke pasar kaget kurang lebih sekitar 15-20 menitan lah, lumayan kalo jalan pagi gini, dapet sinar matahari, bakar kalori dan belanja lumayan hemat. Lojasi nya ada di sekitar jalan Rajawali Bandung.

Banyak para pedagang yang bisa kita temuin di pasar kaya gini, dari sayur mayur, bumbu dapur, daging dan ikan, masakan jadi, baju baju murah meriah, aksesoris, sampai tukang anak ayam warna warni. Hhhe…

Selain itu sambil belanja, kita bisa sambil ngamatin proses tawar menawar antara yang jualan sama pembeli, para penjual yang dengan berbagai gaya menawarkan dagangannya, anak anak yang merengek minta jajan ke emaknya, dsb. Entahlah, saya selalu antusias kalo lagi ke pasar pasar tradisonal kaya gini, menyenangkan !!

 

Males Benget, Kalo Hidup Hanya Sekali

Waktu itu saya sempat berbincang dengan seorang teman yang bisa dikatakan “Tidak Percaya Akhirat” dikatakan ateis tidak juga, dia mengidentitaskan dirimya memeluk ssuatu agama, namun dia “memilih” untuk tidak percaya akan ajaran agamanya

Bagi dia hidup ya sekarang ini, tidak ada hidup di kemudian hari setelah kematian. Dia memilih tidak percaya akhirat, entah karena dia mengandalkan logikanya entah karena dia tidak  tau, dan tidak mau tau. Yang jelas bagi dia, hidup ya sekarang, tidak usah memikirkan kehidupan lain nanti yang baginya sangat absurd.So, menurut dia sekarang puas puasakan lah hidup dengan apa yang kita mau, yang pengen kita kejar, pengen kita jalankan, cita cita pun cita cita dunia aja, ga usah muluk buat akhirat nabti, Karena baginya hidup cuma sekali.

Kami berteman baik, walau di ranah ini kami sering sekali berdebat masalah ini, dia keukeuh, “jangan mikirin hidup nanti yang ga jelas lah, nikmatin aja yg sekarang, berbuat terbaik pun ya untuk sekarang, jangan muluk mikirin akhirat. Kerja yang bener buat keluarga, cari duit ya untuk keluarga, sekali sekali bersenang senang, berbuat yang terbaik ya untuk hari ini, untuk hidup di dunia ini, akhirat itu masih abu abu, belum ada yg pernah ke sana juga ko, buat gw ya hidup ini  cuma sekali, hidup yang terbaik ya sekarang, di dunia ini”

 

Terus saya jawab, kurang lebih gini “Ih rugi banget kalo hidup ini cuma sekali, cuma yang sekarang doang. Hidup yang sekarang ini kan harus kerja, harus berjuang, harus cape, harus cari uang, masalah demi masalah datang bergantian, harus berlelah lelah. Kalo hidup memang cuma hari ini doang, hanya sekali doang, rugi banget, what we are fighting for ? hidup yang cuma menjalani rutinitas, hanya untuk menjalani masa muda ke masa tua, dan melihat berulang siklus itu, ah tidak, rugi banget…. kalo hidup memang cuma sekali yang sekarang ini, meningan ga usah ngapa ngapain, ga ada masa depan yang lebih abadi, ahh malessss, ga ada semangat, hambar…….

Kalo udah ngobrol kaya gini kadang dia ngeles ngeles gimana gitu. Dari air mukanya sih kayanya dia juga mengiyakan apa yang saya katakan, cuma entah gengsi entah memang “memilih” untuk tidak menyetujui dan meyakini.

Ah memang tujuan saya juga tidak ingin mendebat, obrolan obrolan yang kami lakukan juga  sambil santai, dan kadang hanya ingin tau apa sih yang ada di benak mereka yang tidak percaya dengan kehidupan setelah kematian. Apa sekedar karena mengandalkan logika, atau memang ada sisi hati yang tertutup rapat erat, sehingga tidak ada celah cahaya kebenaran yang merembes masuk.

Karena kembali, hidayah adalah absolut hak nya Allah, ketika ada di sekitar saya yang berkeyakinan berbeda dengan apa yang saya yakini, tugas saya mungkin hanya memberi insight sesuai porsinya dan tetap membina hubungan baik. Karena yang Maha membolak balikan hati, benar benar hanya Ia.

DSC_1998

 

 

 

Jalan Pagi – Bikin Kaya

jalan-kaki-667x350

Sumber Foto + manfaat jalan kaki disini


Sudahkah anda jalan hari ini ? kata dian sastro kan minimal 10.000 langkah per hari biar tulang nya kuat … heee

 

Saya sedang membisakan lagi berjalan pagi di sekitar rumah, seminggu dua minimal tiga kali, dengan durasi 30-45 menit satu harinya. Ini asli jalan, ga pakai lari lari, jam yg enak  sekitar jam 6-8 pagi. Atau kalau ingin dapet sinar matahari yang agak panas bisa jam 8-9 an. Berhubung bukan orang kantoran, makanya jam jalan nya suka rubah rubah, sesuai dengan kerjaan.

Niat utama nya olahraga, karena jalan kaki yang dirutinkan ternyata bagus untuk kesehatan, kalau kita agak susah untuk menyempatkan olahraga ke gym, berenang atau jogging di track, jalan pagi itu udah bisa jadi pengganti, ga pakai biaya, dekat dan menyehatkan.

Katanya lagi jalan pagi itu baik untuk hati dan fikiran, bisa menjadikan kita bisa lebih berperasaan positif dan fikiran bisa lebih fokus, tajam,  konsentrasi meningkat,dan daya fikir melesat. Ini bener ! saya sering membuktikannya, ketika udah stuck atau lagi feeling gloomy ya dijalanin aja, maksudnya badan nya di ajak jalan, dan hasilnya fikiran bisa lebih jernih lagi dan berfikir lebih sistematis.

Tapi ada hal lain yang saya dapatkan saat jalan pagi, yang bikin saya ga bosen untuk melakukannya. Biasanya saya jalan dari jalan besar, ke jalan komplek, sampai gang gang yang kecil, dan saya melihat banyak hal dari jalan jalan yang saya lewati, rumah rumah yang saya lihat, dan orang orang yang saya temui.

Kalau pagi keluar jam 6 atau sebelum jam 6, saya banyak melihat orang orang yang bergegas pagi pagi untuk bekerja, atau bahkan sudah bekerja, seperti para pedagang makanan pagi yang sudah rapih siap untuk melayani para pembeli, para pedagang pasar dengan sayuran sayuran segar ny, ada yang tua dan muda, menyambut dan menjalani pagi dengan antusias.

Kemudian saya melihat para ibu ibu penjual yak*lt yang menawarkan produk mereka kerumah rumah dengan seragam khas mereka, ada yang memakai sepeda ada yang berjalan kaki saja, dengan barang dagangan di bahu mereka.

Ada lagi bapak pengumpul barang bekas, seperti bekas bekas minuman, kardus kardus bekas, yang dia cari dari sampah di depan rumah warga, atau di pinggir pinggir jalan, apa saja yang bisa ia jual kepada pengepul.

Ada tukang ojeg, tukang beca sampai pengemudi angkot yang menawarkan jasa mereka. Ada para guru yang bergegas berjalan untuk menuju tempat sekolah nya, ada para pelajar yang sudah ganteng dan cantik bergegas berjalan menuju sekolah.

Ibu ibu yang mengelilingi pedagang sayur, sambil tawar menawar dengan sang pedagang, dan sesekali bercengkrama dengan ibu ibu lainnya. Atau ibu ibu yang menggandeng anak kecil nya untuk diantarakan ke sekolah

Para pedagang keliling yang menanggung barang dagangannya di bahu, sambil berteriak menawarkan dagangannya, dari tukang buah buahan sampao kelentongan, berkeliling komplek sambil berharap ada satu rumah yang meminta nya berhenti, kemudian membeli dagangannya.

Sesekali ketemu orang yang tidak saya kenal, tapi kami saling melempar senyum, senyum sapaaan,senyum kebahagian, senyum kesyukuran. Ah senyum yang tulus itu membangkitkan energi yaa…

Entahlah, bagi saya jalan pagi itu tidak hanya tentang membuat badan menjadi sehat atau fikiran menjadi kuat. Tapi apa yang saya lihat ketika berjalan pagi, hal hal yangterlihat biasa dan sedehana itu, membuat hati saya menjadi lebih kaya, terdengar absurd ya, maksudnya kaya gimana ? hhe.. entahlah. Bagi saya melihat suasana pagi yang dijalano orang lain, membuat saya lebih optimis, lebih bersyukur dan lebih bersemangat. Itu sebuah kekayaan bukan ?

So, bagaimana dengan pagi mu ? jalan yuks …. ^_^

Ps : Ga ada foto, karena kalo lg jalan gitu males foto foto, trus nanti disangkain lagi cari pokemon lagi …. hhee

 

 

 

Silaturahmi Yang Sulit

Masih nyambung sama tulisan saya sebelumnya, tentang silaturahmi, Sebuah Pesan Saat Lebaran Mungkin akan lebih mudah dan tidak ada hambatan ketika kita bersilaturahmi dengan mereka yang tidak pernah ada masalah dengan kita, kalau pun ada masalah masalah kecil saja, tidak  meninggalkan bekas yang dalam pada hati kita.

Namun yang sulit adalah ketika bersilaturahmi dengan orang yang pernah menyakiti kita, deeply. Padahal awalnya hubungan nya sangat dekat dan baik. Saat membaca hadist tentang keutamaan menyambung silaturahmi, saya langsung teringat kepada seorang yang pernah menyakiti saya, mungkin Allah secara tersirat meminta saya untuk menjalin silaturahmi dengan orang tersebut.

Namun, entah mengapa begitu sangat berat yaa.. untuk memulai lagi silaturahmi dengan orang yang pernah bermaslah dalam dengan kita, apalagi kita di posisi orang yang merasa ter dzolimi oleh nya. Masih teringat kenangan kenangan buruk yang terjadi, berkelabatan, walau sudah termaafkan tapi tidak terlupakan, rasa sakit yang tertingal, dsb.

Ah mungkin karena sulit atau tidak mudah itu, maka Allah memberi ganjaran, barang siapa yang menyambung silaturahmi (memulai, mengawali, silaturahmi) maka baginya kasih sayang Allah yang tak terbatas.

Semoga, suatu hari nanti,ada kekuatan ada kelapangan hati, untuk memulai silaturahmi, membuka komunikasi, walau apa yang pernah terjadi di masa lalu. Butuh usaha yang lebih memang, butuh hati yang luas, jiwa yang bebas…

Semoga, suatu hari nanti …

 

 

Sebuah Pesan Saat Lebaran

Lebaran ini saya pulang kampung, lebih tepatnya pulang kampung dan road show mengunjungi saudara saudara. Sebenarnya rumah saya sudah lama di Bandung, tapi keluarga besar Bapak Almarhum ada di Garut, sedangkan keluarga besar Mamah ada di Pangandaran.

Lebaran kemarin memang sudah di niatkan untuk pulang bertemu saudara saudara besar yang jarang bertemu, akhirnya mudiklah kami bertiga (saya, ibu dan adik) ke Garut dan Pangandaran, juga mengunjungi saudara saudara di Tasik, Ciamis,  Banjar hingga Yogjakarata.

Mamah saya termasuk orang yang senang bersilaturahmi, dan selalu mengajak anak anak nya untuk mau bersilaturahmi berkeliling ke saudara saudara, walau kadang kita sebagai anak males malesan, “ya kalau bukan saudara deket deket amat ya ga usah pikir kami, hhee… ”

Tapi mamah tidak pernah bosan buat ngajak kami ketemu saudara disinilah, saudara disanalah, selain saudara kadang kadang mengajak untuk silaturahmi dengan kawan kawan lama nya juga.

Lebaran tahun ini saya mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga. Waktu itu saya sudah ada di kampung halaman, ada saudara sepupu yang sampai satu hari belum bertemu, karena rumah nya agak berjauhan. Mamah berinisiatif untuk mengunjungi rumah kakak sepupu saya itu, tapi saudara yang lain seakan melarang “ga usah, biar dia yang kesini, kita kan lebih tua, dia yang muda harusnya yang mengunjungi kesini” ujarnya.

Dalam hati saya bilang iya juga ya, harusnya yang muda dong yang mengunjungi yang tua, harus menghormati dan menghargai orang yang lebih tua. Tapi Mamah menjawab kurang lebih seperti ini “Silaturahmi itu ga ada aturannya harus yang muda dulu ke yang tua, atau sebaliknya, yang paling utama adalah orang yang menyambung silaturahmi, yang mau inisatif duluan untuk memulai silaturahmi”

Saya mencoba mencerna jawaban mamah, kemudian saya mencari dalam hadist tentang silaturahmi :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [Muttafaqun ‘alaihi].

“Keutamaan Silaturahmi, Silaturahmi itu Menambah Umur, Barangsiapa yang Menyambung Silaturahmi Allah akan Mencintainya, dan Seterusnya” – Hadits 52-62 – Kitab Adabul Mufrad

 

Ah benar rupanya, silaturahmi bukan tentang yang muda atau yang tua, memang akan lebih baik apabila yang muda mengunjungi yang tua. Namun jangan jadikan alasan untuk kita menyambung silaturahmi. Dan apabila kita ingin menjadi orang yang utama di sisi Allah dan Rasul-Nya maka jadilah orang yang pertama menyambung silaturahmi, jadilah orang yang pertama mengunjungi, menyapa, saudara saudara kita, sahabat sahabat kita.

Apabila ingin menjadi hamba yang dicintai Allah, maka sambungkanlah silaturahmi, jadilah orang yang mencintai silaturahmi, jadilah orang yang menyambungkan, mengikatkan dan mengokohkan tali silaturahmi. Semoga kita menjadi orang orang yang dimaksud itu, Aamiin…

Ps : Terimakasih mamah untuk sekali lagi pesan kehidupannya

 

13731578_10154220314203260_2707993067521175321_n

Sombong Sebelum “Waktunya”

Sombong sebelum waktunya … Emang sombong ada waktunya yaa..? hhee… entahlah tiba tiba judul ini yang terlintas dalam benak saya malam ini, setelah menghadiri sebuah event.Dalam sebuah temu kangen, reuni atau semacamnya, yang sudah lama ga ketemuan, pasti banyak kawan kawan lama yang datang dengan kisah baru.

Seperti waktu kemarin dalam sebuah pertemuan, saya melihat beberapa teman dengan berbagai macam pencapaian pencapaian yang sudah ia dapatkan, baik dalam bisnis atau karir. Dan biasanya nihh… ada aja dari mereka yang jadi berubah ….

Ada satu orang teman, yang bisa dibilang relatif sukses dengan bisnis nya, dengan pencapaian inilah, pencapaian itu lah, saya termasuk senang dengan lompatan bisnisnya, karena tau bagaimana dia dulu berjuang. Namun yang mengusik benak saya adalah tentang “sikap” nya saat itu saat bersama teman teman. Entahlah ada semacam “perubahan” ketika sedang bersama sama. Sikapnya tidak begitu ramah, tidak cair, tidak berbaur, seperti menjaga jarak dengan teman teman seperjuangannya dulu.

Perbandingan

Dia begitu sibuk dengan gadget nya, ketika teman teman nya bahagia bercengkrama mengenang masa bersama sama, tertawa, berkelakar, dia semacam menjaga image, seakaan ada bahasa tubuh yang menyiratkan “hei.. aku beda loh ama kalian, i’m better, i’m succes person, ga leve;” entahlah itu hal yang saya tangkap dari geasture, air muka, dsb. Semoga ini hanya su’udzan nya saya aja, semacam lintasan perasaan.

Dilain cerita, ada seorang lagi yang kalau dari pencapaian kesuksesan materi, bisnis dan karier bisa dikatakan jauh melampaui orang yang pertama saya ceritakan. Bahkan setiap orang mengakuinya. Namun justru sebaliknya, sikap nya sangat blended dengan siapapun yang ia temui, sikapnya sama seperti dulu. Candaan, kelakar, sikap ia tunjukan hangat kepada  kawan kawannya, sama seperti dulu ketika dia masih belum menjadi siapa siapa.

Ia melepaskan “atribut” kesuksesan nya ketika bersama kawan kawannya, karir, materi, dsb, sehingga ia terlihat sangat menikmati acara itu. Sedangkan yang satu lagi seakan membawa “atribut” kesuksesan nya, atau seperti ingin diakui dan menujukan bahwa dia telah menjadi orang yang sukses. Padahal bila diukur dari kualitas, orang kedua memiliki pencapaian yang jauh lebih baik.

Bercermin

Terlepas mungkin ini hanya perasaan saja, semoga bisa menjadi cermin saya pribadi, bahwa apapun pencapaian kita, jangan sampai membuat kita tinggi hati, jangan sampai membuat kita merasa lebih baik dari orang lain, jangan sampai kita “sombong sebelum waktunya” hhee…maksudanya sombong emang ada waktunya gitu ?

Maksudnya, jangan sampai kita belum menjadi apa apa, masih setengah mateng, masih menanjak, namun hati kita mendahuli prestasi kita, terlalu meninggi hati kita, hingga yang pada akhirnya, tidak baik untuk diri kita sendiri, dan juga silaturahmi kita dengan orang lain.

Karena katanya sukses yang sebenarnya, adalah sesuatu hal yang bisa membuat kepala kita lebih tertunduk bukan mendongkak, membuat tangan kita lebih banyak terulur, membuat telinga kita lebih banyak mendengar dan membuat hati kita lebih terbuka luas dan tulus.

angkuh

 

Semoga Bermanfaat,

 

Selamat Menikmati Ramadhan