Apakah Kita Sudah Benar Benar Merdeka … ?

Merdeka adalah ketika setiap anak Bangsa ini mendapatkan pendidikan layak yang mereka butuhkan ….

Kemarin saya dikirim foto anak anak di Pulau Pangabatang NTT yang ikut merayakan ulang tahun kemerdekaan RI. Oh ya di Pulau yang cukup terpencil ini, saya dan teman teman Kebukit Indonesia sedang membangun sekolah tingkat dasar, informasi tentang sekolah nya ada DISINI

Perayaan sederhana di Pulau yang jauh dari keramaian, jauh dari hingar bingar parade, pawai, umbul umbul dan panggung hiburan khas perayaan Agustusan. Dengan apa yang mereka punya, mereka tetap ingin ikut meyakan kemerdekaan Tanah Air nya.

S

aya jadi bertanya tanya, – karena Indonesia adalah negara dengan ribuan kepulauan di dalamnya- apakah setiap Pulau terpencil yang ada di Negara ini ikut pula merayakan upacara kemerdekaan Indonesia, atau jangan jangan diluar sana masih banyak warga Negara Indonesia yang tidak ikut merayakan, atau bahkan tidak tahu tentang ulang tahun kemerdekaan Negara nya.

Lebih jauh dari itu, pertanyaan ini yang ada di benak saya adalah :

Apakah setiap jiwa di negri ini sudah benar benar merasakan kenikmatan kemerdekaan … ?

Tujuh puluh empat tahun kemerdekaan Indonesia. Rasanya waktu yang sangat cukup untuk setiap anak Bangsa di Negri ini mendapatkan dan menikmati pendidikan yang layak. Namun kenyataannya pendidikan yang layak masih jauh dari kata layak dan merata.

Masih banyak anak Negri ini yang tidak punya kesempatan untuk bersekolah, entah karena biaya, akses pendidikan, atau bahkan mereka masih asing dengan apa itu pendidikan. Sekolah, buku, belajar adalah hal yang asing bagi mereka. Pendidikan adalah hal yang mewah sehingga menjadi hal yang “untouchable”.

Dari pengalaman saya beberapa tahun yang lalu, berkeliling ke Pulau terpencil dan Pedalaman di Indonesia, masalah pendidikan di Indonesia yang terutama adalah masalah akses. Akeses lembaga pendidikan, akses ilmu pengetahuan dan akses terhadap kesempatan bersekolah itu sendiri

Belum lagi bicara tentang pemerataan dan kualitas. Misalnya saja di salah satu daerah di NTT, saya menemukan buku pengayaan pendidikan terbitan tahun 1974 di sebuah perpustakaan sekolah, itu pun hanya beberapa eksemplar saja, sudah koyak disana sini, isi ny pun sudah sangat tidak relevan dengan keadaan saat ini, lagipula sepertinya buku buku itu hanya formalitas pembagian semata, entah dibaca atau tidak.

Ini hanya sebuah contoh saja. Buku yang seharusnya manjadi jantung pendidikan, tidak disediakan dengan kuantitas dan kualitas seharusnya. Belum lagi kualitas guru yang masih jauh dari kata ideal, atau bahkan standar guru yang seharusnya.

Ah entahlah, bicara tentang pendidikan Negri ini adalah sesuatu hal yang sangat kompleks. Akhirnya -dalam kondisi ini- kita lah sebagai anak Bangsa yang ikut berkewajiban ikut membangun Bangsa ini, dengan apa yang kita mampu, dengan apa yang kita bisa.

Walau cakupan nya masih bersifat mikro, tidak masalah, apapun yang sesuai dengan kapasitas kita. Karena bila hanya mengandalkan, menuntut dan menyalahkan pemerintah, rasanya hal yang akan cukup menguras energi , dan sesuatu yang tidak akan ada habisnya

Apa yang kita bisa lakukan saat ini, maka lakukan saja. Langkah langkah kecil untuk membantu anak anak Bangsa ini lebih terdidik, lebih terpelajar dan lebih berdaya maka kita lakukan saja.

Karena sebenarnya bila diamati lebih lanjut, Bangsa ini besar dan bertumbuh adalah karena kepedulian saudara sebangsanya. Kepedulian kita bersama.

So, setelah tujuh puluh empat tahun ini, apakah Bangsa ini sudah benar benar merdeka dan merasakan kenimatan kemerdekaan ?

Yuks bantu anak anak NTT mempunyai sekolah layak :

https://sharinghappiness.org/sekolahrafi

Bandung, 22 Agustus 2019

Apakah Uang Itu Benar Benar Berharga ?

Di suatu sore yang cerah, ketika usai berbelanja dan mengelurkan sejumlah uang tiba tiba terfikir hal ini. Tentang uang ….

Dan sepanjang perjalanan pulang saya terus berfikir tentang hal ini

 

Kalau difikir fikir, uang itu – baik uang fisik atau uang digital – akan selalu datang dan pergi. Pagi bisa dapat transferan, sore atau malam bisa tinggal sisaan. Puluhan lembar ratusan ribu yang susah payah kita usahakan, bisa habis dalam hitungan minggu, hari atau jam …

Berapa pun uang yang kita punya, pada akhirnya akan habis, kepada apapun uang itu diperuntukan. Baik untuk kebutuhan pribadi, keluarga, bayar hutang, membayar cicilan, zakat-infaq-sedakah, memenuhi kebutuhan, di tabung-di investasikan atau hanya sekedar memuaskan keinginan.

Ia bagaikan air di arus sungai, ia akan datang untuk pergi ….

Bila uang hanya dihabiskan pada hal hal jangka pendek, seperti makanan atauu pakaian, atau semacamnya, maka uang yang telah susah payah kita cari itu seakan tidak ada artinya. Setidaknya hal ini yang sedang terlintas pada diri saya akhir akhir ini

Kenapa ? karena semahal apapun pakaian maka ujung ujungnya biasanya berakhir menjadi lap di lantai. Semahal atau se enak enak  nya makanan, semahal mahal  nya tempat tongkrongan dimana kita makan, maka ujungnya – maaf – akan berakhir menjadi kotoran. Bukan, ini bukan tentang ” nyinyir ” kepada siapa pun juga. Ini sedang merenungi diri, tentang bagaimana sikap kita – terutama saya – terhadap uang.

Bila uang yang susah payah kita usahakan dan kumpulkan tersebut, habis pada hal hal kebendaan yang juga akan hilang atau kemudian tidak berarti lagi, maka apa arti dari kesusah payahan kita mengumpulkannya ?

Pergi pagi – pulang malam … kurang tidur, kurang istirahat. Badan remuk redam, badan sakit sakitan, keluarga banyak kita tinggalkan …

Lalu berbagai “penderitaan” itu yang kita dapatkan hanya semata kepuasan akan makanan, pakaian dan kesenangan sesaat . Ahh… tidakkkk …. rasanya diri kita pantas mendapatkan lebih dari itu …

—-

Bila uang – baik sedikit atau banyak – itu pasti habis, maka tugas kita lah yang menentukan apakah uang tersebut akan habis untuk hal hal konsumtif, sesaat, keinginan belaka, penampilan, gengsi dan rasa kenyang semata.

Atau uang itu –sekali lagi, baik sedikit atau banyak– kita gunakan untuk sesuatu yang menambah nilai pada diri kita, membuat kita lebih produktif, membuat kita lebih cerdas, membuat kita bertambah catatan amal baiknya, membuat kita menjadi lebih berkualitas, dan membuat kita lebih bersyukur …

Sesederhana pilihan berikut ini :

Ketika kamu mempunyai uang 100 ribu. Kemanakah uang tersebut kamu habisakan ? 

– Nonton film terbaru dan jajan makan, atau membeli buku terbaru yang penuh dengan ilmu …

– Membeli lipstik keluaran terbaru atau ikut seminar pengembangan diri …

– Membeli segelas kopi dan nongkrong di kedai kopi terkenal atau untuk ongkos kita bersilaturahmi dengan sanak saudara kita …

Kadang dan seringkali kita dihadapkan pada pilihan pilihan saat menggunakan uang. Betulll ….. ?

—-

Maka, kalau begitu bukan uang yang berharga, tapi kepada apa uang tersebut di “belanjakan” lah keberhargaan yang sebenarnya

Kesimpulan itu yang akhirnya saya dapatkan sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Pada diri kita lah bagaimana uang tersebut akan berakhir, apakah akan habis begitu saja, tidak menyisakan hal berharga pada diri kita. Atau uang tersebut adalah “alat” yang akan menambah “nilai” pada diri kita sebagai seorang manusia …

 

Juni Pertama, di 2019

Salam Hangat Dari Kota Bandung ^^

 

 

 

Walau Tak Kemana Mana

Hari minggu ini saya memutuskan tidak pergi kemana mana, ingin dirumah saja. Walau sebenarnya ada beberapa pekerjaan yang tadinya di niatkan di lakukan di hari minggu ini, tapi urung di lakukan. Sedang tidak ingin bepergian, ingin habiskan waktu di rumah saja.

Hari minggu di rumah, kadang identik dengan istirahat, atau semacam bermalas malasan, atau mungkin bongkar bongkar rumah, menyeslesaikan segunung cucian, dan sebagainya. Seperti hari ini, saya bangun agak siang, lalu menonton kartun legend kesayangan, Doraemon. Entah kenapa, walau sudah di umur segini, film kartun itu serasa masih begitu banyak membawa keceriaan buat saya.

Minggu pagi ini memang sengaja melambankan ritme, ingin sejenak benar benar beristirahat, menikmati gorengan dan secangkir teh hangat. Beres beres rumah pun siang hari baru dilakukan.

Tapi saya memang tak berniat untuk menghabiskan hari hanya berleha leha seharian. Sehabis dzuhur saya niatkan ingin tetap produktif, ingin meng-charge diri, ingin membekali diri, setidaknya melakukan sesuatu yang bisa menjadi bahan bakar sepekan kedepan.

Ada sebuah buku yang telah saya niatkan untuk dibaca. Buku yang tidak saya cari, namun dia seperti “diantarkan” kepada saya untuk dibaca. Buku yang awalnya saya sedikit underestimate, karena kayanya bakal membosankan. Tapi kemudian buku ini menarik jiwa saya semenjak bab pertama.

Siang itu saya habiskan hampir setengahnya, bahkan ada beberapa bab yang saya baca ulang, karena pembahasannya ternyata apa yang selama ini saya sedang cari. Nanti barangkali saya ceritakan tentang buku ini, saya ingin menyelesaikan nya lebih dahulu

Sore hari saya stop dulu membaca, karena ingin sedikit berolahraga, sambil mengendapkan kalimat kalimat yang baru saja saya terima. Mengendapkannya, menceranya, dan menghubungkan dengan apa yang sedang saya rasakan saat ini ..

Dan kemudian, tepat jam sepuluh setelah urusan rumah lainnya telah selesai, saya melanjutkan membacanya. Berdialog dengan deretan kalimat di atas kertas, mendengarkan apa yang dituliskan, menyampaikannya pada perasaan dan fikiran, menyimpannya dalam benak terdalam …

Hari minggu ini, saya dapatkan keduanya, menikmati asyiknya bermalas malasan dan mendapatkan banyak sekali pencerahan, walau tak kemana mana, dirumah saja ….

Bandung, 8 Des 2018

Story Of Sembalun

Masih di rangakaian cerita perjalanan di Lombok bulan kemarin (Opening cerita ada di postingan sebelumya)

Pertama tahu tentang SEMBALUN itu dari sebuah postingan di Instagram kalau ga salah. Postingan itu memperlihatkan landscaping sawah yang membentang dengan warna warna yang sangat menawan.

Lalu browsing lah, apa itu Sembalun, dan kemudian tahu lah bahwa Sembalun adalah sebuah daerah di Lombok, yang juga merupakan perkampungan yang ada di kaki gunung Rinjani.

Melihat keindahannya, dalam hati berkata : ” some day saya harus kesini ” tanpa menulis deadline target waktu kapan saya harus kesana. Cuma dicatat dalam hati saja. Hhe..

Qadarullah bulan kemarin, saya dapat ajakan untuk mengunjungi Lombok lagi, dan destinasi utama nya adalah Sembalun ! Masya Allah PRAY LIST saya terwujud, mengunjungi SEMBALUN.

Dan yang lebih Spesial nya lagi, Saya ke Sembalun bukan buat jalan jalan, traveling yang bertujuan hanya having fun, tapi ke Sembalun untuk mengasuh anak anak korban gempa, di acara kemah ceria.

Alhamdulillah, saya sebenernya telah lama menanamkan dalam dalam kepada hati dan fikiran. Ingin banyak menjelajah ke banyak tempat di Indonesia bahkan dunia, tapi bukan sekedar tujuan wisata. Saya ingin menjelajah banyak tempat dengan membawa misi, perjalanan yang bertujuan, petualangan yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri, juga bagi orang lain. Bukan perjalanan hampa, yang oleh oleh nya hanya cerita dan foto foto semata.

Ahh… Balik lagi, tentang Sembalun ! Pertama memandang langsung Sembalun, Saya merasa sedang berada di negri dongeng. Beneran … Mungkin ada yang bilang berlebihan. Tapi itu yang saya rasakan … Saya kemudian banyak diam dan terpana saja, menikmati sajian di depan mata, lupa mengabadikan nya dengan kamera. Ahh.. tak apa apa bisik hatiku. Yang penting adalah apa yang kita abadikan di memori ingatan kita, ketimbang apa yang kita simpan di memori kamera kita bukan ?Lagian saya akan ada disini sekitar tiga harian, akan banyak waktu untuk mengabaikan nya lewat kamera. Nanti.

Lalu saya benar benar menikmati alam Sembalun lewat mata saya, dinikmati sungguh sungguh dan dimasukan ke dalam memori kepala saya.

Subhanallah ….

Ini negri dongeng ….

Sawah yang membentang

Perbukitan kecoklatan yang mengelilingi desa, bagaikan benteng2 pertahanan kota bangsa bangsa kuno dulu ..

Udara yang dingin, embun embun yang turun, masyarakat yang riuh rendah bercengkrama, desa yang damai dan mendamaikan …

Rasanya betah berlama lama di desa ini, desa yang tepat ketika kau ingin menyendiri tanpa merasa sepi. Sembalun, negri dongeng bagiku..

Tentram …

Keterangan Foto :

Ini foto diambil oleh kamera dan effot seadanya, di atas atap rumah warga dimana kami tinggal. Beberapa foto masih tersimpan rapih di kamera, belum sempat dipindah. Biar saya nikmati sendiri dulu kenangannya.

Kita Bukan Butuh Motivasi, Tapi Butuh Ini …

” Mereka yang sedang terluka batin nya, tidak butuh motivasi, yang mereka butuh kan adalah ini …. “

Inilah kurang lebih kalimat pembuka awal dalam sebuah training yang saya ikuti beberapa hari kemarin. Kurang lebih lima jam saya mengikuti training ini. Sebenarnya kalau dirasa rasa lima jam itu sama sekali tidak terasa susana training yang penuh dengan kata kata motivasi, pembakar semangat agar lebih semangat bekerja, atau agar menjadi manusia yang berguna, atau semacamnya …

Lima jam tersebut tentang pelepasan rasa. Tentang bagaimana menjadi manusia. Manusia yang sepanjang usinya telah mengalami banyak cerita hidup, yang di dalamnya tertinggal beribu rasa, ada bahagia, ada juga luka.

Luka. Siapakah yang tak pernah terluka jiwa sepanjang hidupnya ? Setiap manusia sepertinya pernah merasakannya. Dari luka yang biasa saja, hingga luka yang sangat membekas dan mengendap di jiwa. Namun sayangnya kita jarang memperhatikan luka itu, luka yang kita kira sudah tiada, namun sebenarnya iya masih ada tertinggal dalam jiwa kita, dan kemudian tanpa kita sadari banyak hal terjadi atau pun tidak terjadi karena kita rupanya belum selesai dengan luka luka jiwa itu. Luka jiwa itu masih berpengaruh besar pada hidup kita.

Ya … di lima jam itu, saya menemukan hal ini. Saya menemukan luka batin yang ternyata masih ada di dalam ingatan jiwa saya, yang rupanya sangat mempengaruhi saya dalam memandang sesuatu, menyikapi sesuatu, dan memutuskan sesuatu.

Dan di training -yang saya lebih suka sebut dengan : moment pelepasan- saya bisa melakukan itu. Berbagai hal yang mengganjal dalam hati, pikiran dan batin saya akhirnya banyak terlepaskan. Rasa sedih, rasa bersalah, rasa kecewa yang telah lama terpendam tak terungkapkan, baik kepada kondisi atau pun seseorang akhirnya terlepaskan …

Perasaan lainnya pun akhirnya terdefiniskan, rasa merasa tidak berharga, rasa merasa di perlakukan tidak adil oleh situasi, rasa marah yang rupanya masih menganga, rasa kesal, rasa kecewa pada diri, pada orang lain, pada situasi akhirnya mampu terdefinisikan dan tertumpahkan …

Rasa yang selama ini banyak terpendam, ditahan tahan, disembunyikan, bahkan kita coba lupakan ternyata kenyataannya masih ada dan memenuhi batin kita, mengisi ruang ruang raga dan rasa kita, dan kadang memberatkan langkah kita, menahan rizki rizki kita, menghambat jalan kebahagiaan dan kegemilangan hidup kita

Di lima jam itu saya bisa melepaskan banyak luka  …

Di lima jam itu saya bisa sejujur jujurnya pada diri sendiri …

Di lima jam itu saya bisa menangis sejujur jujurnya …

Di lima jam itu saya bisa merelakan apa yang telah terjadi …

Jadi ini training macam apa ?

Ahh… ini bukan training sebenarnya menurutku, ini adalah moment pelepasan jiwa, pelepasan luka. Ini adalah moment untuk menjadi manusia yang seutuhnya, yang seringkali merasa lemah dan lelah. Moment dimana manusia butuh menangis, butuh mengakui lukanya, untuk kemudian ruang jiwa nya lapang kembali, ruang batin nya bersih kembali

Mengakui – Mengungkapkan – Melepaskan – Mengikhlaskan

Ini lima jam yang saya lakukan di training ini …

Lalu apa yang terasa setelah lima jam itu ?

Bukan, bukan tentang semangat yang membara bara, atau semangat yang menggelora, seperti yang bisa kita di training training biasa

Tapi ….

Saya merasakan kelegaaan hati, kelapangan fikiran, ketenangan jiwa …

Saya merasakan rasa lebih berhaga, lebih menghargai diri, lebih ingin luas melangkah, ingin lebih banyak tersenyum, ingin lebih banyak banyak bersyukur dan mensyukri hidup …

Bukankah ini lebih penting dari motivasi ? Karena benar adanya, sebelum kita dibakar dengan ribuan motivasi, kita perlu untuk memulihkan jiwa kita dahulu. Setuju ?

 

Ps : Terimakasih untuk coach Dedi Susanto, yang telah menjadi jalan dalam melapangkan kembali ruang ruang jiwa saya, melancarkan lagi aliran aliran nafas saya yang sempat tersendat, meringankan lagi langkah saya yang sempat terbebat

Ps : Buat kawan kawan yang butuh untuk dilapangkan kembali jiwanya, di ringankan lagi fikirannya, disembuhkan lagi batinnya, mungkin training ini cocok buat kawan kawan. Insya Allah tidak ada unsur magis, menyimpang atau semacamnya.Training ini adalah training untuk menjadi manusia yang seutuhnya, manusia yang punya rasa, punya jiwa

Saya pun tertarik karena lihat awal dari konten konten nya, sila lihat di channel youtube  nya : Kuliah Psikologi | IG : @DediSusantoPJ

Saya merekomendasikan karena telah merasakan …

Semoga Bermafaat 🙂

 

 

 

Jangan Sia Sia Kan Pagi Harimu …

Well, sebenernya ini semacam catatan, pengingat dan penguat untuk diri sendiri, tentang bagaimana sebaiknya kita menggunakan waktu pagi hari kita.

Katanya pagi hari adalah waktu yang menentukan apa yang akan terjadi seharian itu, kalau pagi hari nya baik, tertara, have a good mood, maka itulah yang akan terjadi seharian. Sebaliknya kalau pagi hari nya bad mood, atau kita males malesan, biasanya mood itu kebawa sampai seharian juga.

Jadi biar pagi hari have a good mood, ceria, dan waktu kita berkualitas seharian, produktif, gimana caranya ?

Setelah baca berbagai buku, nyimak konten youtube, nasihat orang orang yang memang sukses di bidangnya, akhirnya mendapatkan beberapa insight yang bagus tentang bagaimana sebaiknya kita mengisi pagi hari kita.

Salah satu nya adalah dengan TIDAK MEMBUKA SOSIAL MEDIA di pagi hari.. !!

Kenapa emang ?

Ternyata ini bukan tentang soal tentang buang waktu saja. Tapi okelah PERTAMA kita bahas tentang WAKTU dulu. Setuju kan, kalau sudah berhubungan dengan sosial media, chat media, atau yang berkoneksian dengan internet, kita menjadi susah terkendali. Sekali jari kita menyentuh layar, buka feed, timeline, grup chat, atau iseng iseng buka status WA orang lain, diri kita semacam ketarik ke layar kaca itu.

Facebook : Cek Notifikasi, Baca Komen, Bales Komen. “Oke udah ahhh…” gitu dalam hati. Eh tetiba gatel pengen lihat timeline. Isinya macem macem, dari mulai bahas topik terhangat, yang curhat, yang liburan, yang makan makan, yang bahas politik, dsb.

Instagram : Cek berapa yang like postingan kita terakhir, scrolling feed, love status teman teman atau selegram pujuaan. Eh gatel juga pengen buka explore, dari postingan tentang kucing, perpolitikan, video lucu anak anak kecil, sampai gosip perlambeaan.

WA : Ahh… update status ah, kata kata bijak. Itupun expore dulu dari pinterest atau dari google image : quotes. Dan kemudian jari kita menyentuh status, layar otomatis menampilkan status status orang lain, sebagian kita koment, sebagian kita lewatkan, tapi mata terus tenggelam melihat pergantian status setiap orang. Argghh…

Belum lagi kalau yang punya Line, baca LINE TODAY, tentang “5 Cara menurunkan berat badan dalam seminggu” berita tentang “Fakta terbaru perceraian artis X dengan istrinya Y”

Berapa waktu yang di habiskan ?

5 menit berlalu, scroll… “ah baru lima menit”, scroll lagi, like, tinggalkan komentar ….

15 menit beralu, ahh… ini menarik, lihat video, lucu … eh ada lagi yang lucu …… scroll

25 menit berlalu, ahh… ini juga menarik beritanya, scroll… klik, baca, tutup. Baca berita terkait … scrollscroll

40 menit berlalu, di layar ada notifikasi grup. Terus dibuka, dibaca, ahh…silent reader aja ahhh.. tapi penasaran sama percakapan tadi malem, pada bahas apa yaa di grup, scroll …

55 menit berlalu…. what .. ?! hampir sejam ga kerasa ternyata ! hanya untuk melihat hal hal yang kadang tidak membawa banyak manfaat, hanya kumpulan info info biasa, tidak membikin termotifasi, terinspirasi, atau signifikan terhadap hidup kita …

Tapi 55 menit itu berlalu begitu saja … menyesal kemudian, karena merasa udah membiarkan waktu tersia, namun esok nya terulang lagi, dan lagi, menjadi sebuah kebiasaan yang sulit dihentikan …

KEDUA, kenapa sebaiknya tidak membuka MEDSOS di pagi hari adalah, karena ketika kita membuka MEDSOS atau Chat Media, kita sedang memberikan perhatian kita kepada dunia luar, dunia di luar diri kita, dan apa efek nya pada diri kita.

Dunia luar itu seperti apa ? Contohnya : Melihat status orang lain, melihat apa yang di pikiran & di rasakan orang lain, melihat orang lain pergi kemana, makan apa, sudah melakukan apa, pergi kemana, belum lagi tentang prestasi dan pencapaian pencapaian yang telah mereka lakukan.

Belum lagi tentang orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan hidup kita ; artis A melahirkan, artis B liburan ke luar negri, selebgram A memakai lipstik warna marun benderang, atau selegram D bermasalah dengan selegram F, dsb. Diri kita menjadi tersedot untuk memperhatikan hidup orang lain, orang orang yang bahkan tidak kita kenal.

Kapastitas memori pikiran pagi hari kita hanya diiisi dengan info info sesaat, hal hal kecil, hal yang maaf terkadang “remeh temeh”, dan tidak banyak membantu kita dalam membangun kualitas hidup kita, atau membantu jalan kepada cita cita kita. Infomasi yang kebanyakan tidak penting, namun terlanjut memenuhi memori otak kita. Di pagi hari pula !!

PADAHAL …

Pagi hari adalah GOLDEN TIME, dimana waktu itu adalah salah satu waktu terbaik kita. Waktu yang seharusnya kita isi dengan lebih memperhatikan diri kita.  Meniliik kedaam tentang diri, menggali tentang apa yang dirasakan, diinginkan oleh diri. Atau memikirkan tujuan tujuan jangka pendek dan jangka panjang kita, sudahkah menuju yang sedang kita tuju …

Secara tekhnis pagi hari adalah waktu terbaik untuk kita merencanakan apa yang akan dilakukan seharian itu. Membuat list to do misalnya. Atau melihat lagi catatan impian dan cita cita kita, dan memikirkan apa kira kira yang akan dilakukan hari ini untuk mencapai cita cita tersebut…

Atau misalnya, membuat list orang orang yang perlu kita hubungi, sesiapa yang akan kita jalin silaturahmi. Atau mengevaluasi diri akan hal hal yang ingin kita perbaiki, kebiasaan kebiasan yang ingin kita hilangkan atau kemampuan kemampuan yang ingin kita asah dan hebatkan.

Lebih dalam, pagi hari adalah waktu yang paling baik untuk kita berkontemplasi, atau untuk mencari, menggali dan mengkaji diri. Mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Mentafakuri diri, berdzikir, membaca petunjuk petunjuknya, meraba diri apakah yang dijalani selama ini apakah sudah sesuai dengan kehendak-Nya, meraba dri apakah yang sudah kita lakukan akan mendatangkan Ridha-Nya, atau sebaliknya.

Ya … Di pagi hari. Sebuah waktu yang sebenarnya banyak hal esensial yang semestinya kita lakukan, untuk kebaikan hidup kita di dunia maupun kelak di akhirat. Namun kadang kita melewatkan waktu itu dengan kegiatan yang tidak membawa kita kemana mana, tidak menambah nilai dan manfaat apa apa,

Ahhh… maafkan ya Allah …


Gimana dengan diri saya sendiri ? Apa hal rill yang sedang diusahakan ?

Sekarang secara tekhnis, saya sedang belajar untuk “puasa” HP di pagi hari, dari mulai bangun sampai sekitar jam delapan an. Abis shalat, ngaji/baca terjemah, lalu baca beberapa lembar buku, nyusun kegiatan seharian itu, baca jurnal catatan, dan nyusun kegiatan untuk hari itu. Kadang denger radio atau dengr kajian sebuah topik di youtube tapi ga pakai HP, bisa paka laptop misalnya. HP di setting hanya terdengar untuk panggilan telfon saja (Biasanya kalau orang telfon berari ada hal penting).

Masih suka kegoda ga buat buka HP ?

Ya iyalah … hhee pasti. Malah masih sering  “batal” ada aja yang bikin kegoda. Namanya juga belajar, dan akan terus belajar. Yang menguatkan adalah inget ke tujuan kenapa kita “puasa HP di pagi hari”, agar bisa menjadi manusia yang berkualitas dan bertanggunjawab dari hari ke hari. Agar hidup tidak asal sia sia, agar hidup tidak mengalir begitu saja.

Bismillah …. Semoga istiqamah, menggunakan karunia waktu sebaik baiknya, dan dimulai dari bagaimana menghabiskan waktu di pagi hari …

 

Semoga Bermanfaat …. 🙂