Walau Tak Kemana Mana

Hari minggu ini saya memutuskan tidak pergi kemana mana, ingin dirumah saja. Walau sebenarnya ada beberapa pekerjaan yang tadinya di niatkan di lakukan di hari minggu ini, tapi urung di lakukan. Sedang tidak ingin bepergian, ingin habiskan waktu di rumah saja.

Hari minggu di rumah, kadang identik dengan istirahat, atau semacam bermalas malasan, atau mungkin bongkar bongkar rumah, menyeslesaikan segunung cucian, dan sebagainya. Seperti hari ini, saya bangun agak siang, lalu menonton kartun legend kesayangan, Doraemon. Entah kenapa, walau sudah di umur segini, film kartun itu serasa masih begitu banyak membawa keceriaan buat saya.

Minggu pagi ini memang sengaja melambankan ritme, ingin sejenak benar benar beristirahat, menikmati gorengan dan secangkir teh hangat. Beres beres rumah pun siang hari baru dilakukan.

Tapi saya memang tak berniat untuk menghabiskan hari hanya berleha leha seharian. Sehabis dzuhur saya niatkan ingin tetap produktif, ingin meng-charge diri, ingin membekali diri, setidaknya melakukan sesuatu yang bisa menjadi bahan bakar sepekan kedepan.

Ada sebuah buku yang telah saya niatkan untuk dibaca. Buku yang tidak saya cari, namun dia seperti “diantarkan” kepada saya untuk dibaca. Buku yang awalnya saya sedikit underestimate, karena kayanya bakal membosankan. Tapi kemudian buku ini menarik jiwa saya semenjak bab pertama.

Siang itu saya habiskan hampir setengahnya, bahkan ada beberapa bab yang saya baca ulang, karena pembahasannya ternyata apa yang selama ini saya sedang cari. Nanti barangkali saya ceritakan tentang buku ini, saya ingin menyelesaikan nya lebih dahulu

Sore hari saya stop dulu membaca, karena ingin sedikit berolahraga, sambil mengendapkan kalimat kalimat yang baru saja saya terima. Mengendapkannya, menceranya, dan menghubungkan dengan apa yang sedang saya rasakan saat ini ..

Dan kemudian, tepat jam sepuluh setelah urusan rumah lainnya telah selesai, saya melanjutkan membacanya. Berdialog dengan deretan kalimat di atas kertas, mendengarkan apa yang dituliskan, menyampaikannya pada perasaan dan fikiran, menyimpannya dalam benak terdalam …

Hari minggu ini, saya dapatkan keduanya, menikmati asyiknya bermalas malasan dan mendapatkan banyak sekali pencerahan, walau tak kemana mana, dirumah saja ….

Bandung, 8 Des 2018

Advertisements

Story Of Sembalun

Masih di rangakaian cerita perjalanan di Lombok bulan kemarin (Opening cerita ada di postingan sebelumya)

Pertama tahu tentang SEMBALUN itu dari sebuah postingan di Instagram kalau ga salah. Postingan itu memperlihatkan landscaping sawah yang membentang dengan warna warna yang sangat menawan.

Lalu browsing lah, apa itu Sembalun, dan kemudian tahu lah bahwa Sembalun adalah sebuah daerah di Lombok, yang juga merupakan perkampungan yang ada di kaki gunung Rinjani.

Melihat keindahannya, dalam hati berkata : ” some day saya harus kesini ” tanpa menulis deadline target waktu kapan saya harus kesana. Cuma dicatat dalam hati saja. Hhe..

Qadarullah bulan kemarin, saya dapat ajakan untuk mengunjungi Lombok lagi, dan destinasi utama nya adalah Sembalun ! Masya Allah PRAY LIST saya terwujud, mengunjungi SEMBALUN.

Dan yang lebih Spesial nya lagi, Saya ke Sembalun bukan buat jalan jalan, traveling yang bertujuan hanya having fun, tapi ke Sembalun untuk mengasuh anak anak korban gempa, di acara kemah ceria.

Alhamdulillah, saya sebenernya telah lama menanamkan dalam dalam kepada hati dan fikiran. Ingin banyak menjelajah ke banyak tempat di Indonesia bahkan dunia, tapi bukan sekedar tujuan wisata. Saya ingin menjelajah banyak tempat dengan membawa misi, perjalanan yang bertujuan, petualangan yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri, juga bagi orang lain. Bukan perjalanan hampa, yang oleh oleh nya hanya cerita dan foto foto semata.

Ahh… Balik lagi, tentang Sembalun ! Pertama memandang langsung Sembalun, Saya merasa sedang berada di negri dongeng. Beneran … Mungkin ada yang bilang berlebihan. Tapi itu yang saya rasakan … Saya kemudian banyak diam dan terpana saja, menikmati sajian di depan mata, lupa mengabadikan nya dengan kamera. Ahh.. tak apa apa bisik hatiku. Yang penting adalah apa yang kita abadikan di memori ingatan kita, ketimbang apa yang kita simpan di memori kamera kita bukan ?Lagian saya akan ada disini sekitar tiga harian, akan banyak waktu untuk mengabaikan nya lewat kamera. Nanti.

Lalu saya benar benar menikmati alam Sembalun lewat mata saya, dinikmati sungguh sungguh dan dimasukan ke dalam memori kepala saya.

Subhanallah ….

Ini negri dongeng ….

Sawah yang membentang

Perbukitan kecoklatan yang mengelilingi desa, bagaikan benteng2 pertahanan kota bangsa bangsa kuno dulu ..

Udara yang dingin, embun embun yang turun, masyarakat yang riuh rendah bercengkrama, desa yang damai dan mendamaikan …

Rasanya betah berlama lama di desa ini, desa yang tepat ketika kau ingin menyendiri tanpa merasa sepi. Sembalun, negri dongeng bagiku..

Tentram …

Keterangan Foto :

Ini foto diambil oleh kamera dan effot seadanya, di atas atap rumah warga dimana kami tinggal. Beberapa foto masih tersimpan rapih di kamera, belum sempat dipindah. Biar saya nikmati sendiri dulu kenangannya.

Kita Bukan Butuh Motivasi, Tapi Butuh Ini …

” Mereka yang sedang terluka batin nya, tidak butuh motivasi, yang mereka butuh kan adalah ini …. “

Inilah kurang lebih kalimat pembuka awal dalam sebuah training yang saya ikuti beberapa hari kemarin. Kurang lebih lima jam saya mengikuti training ini. Sebenarnya kalau dirasa rasa lima jam itu sama sekali tidak terasa susana training yang penuh dengan kata kata motivasi, pembakar semangat agar lebih semangat bekerja, atau agar menjadi manusia yang berguna, atau semacamnya …

Lima jam tersebut tentang pelepasan rasa. Tentang bagaimana menjadi manusia. Manusia yang sepanjang usinya telah mengalami banyak cerita hidup, yang di dalamnya tertinggal beribu rasa, ada bahagia, ada juga luka.

Luka. Siapakah yang tak pernah terluka jiwa sepanjang hidupnya ? Setiap manusia sepertinya pernah merasakannya. Dari luka yang biasa saja, hingga luka yang sangat membekas dan mengendap di jiwa. Namun sayangnya kita jarang memperhatikan luka itu, luka yang kita kira sudah tiada, namun sebenarnya iya masih ada tertinggal dalam jiwa kita, dan kemudian tanpa kita sadari banyak hal terjadi atau pun tidak terjadi karena kita rupanya belum selesai dengan luka luka jiwa itu. Luka jiwa itu masih berpengaruh besar pada hidup kita.

Ya … di lima jam itu, saya menemukan hal ini. Saya menemukan luka batin yang ternyata masih ada di dalam ingatan jiwa saya, yang rupanya sangat mempengaruhi saya dalam memandang sesuatu, menyikapi sesuatu, dan memutuskan sesuatu.

Dan di training -yang saya lebih suka sebut dengan : moment pelepasan- saya bisa melakukan itu. Berbagai hal yang mengganjal dalam hati, pikiran dan batin saya akhirnya banyak terlepaskan. Rasa sedih, rasa bersalah, rasa kecewa yang telah lama terpendam tak terungkapkan, baik kepada kondisi atau pun seseorang akhirnya terlepaskan …

Perasaan lainnya pun akhirnya terdefiniskan, rasa merasa tidak berharga, rasa merasa di perlakukan tidak adil oleh situasi, rasa marah yang rupanya masih menganga, rasa kesal, rasa kecewa pada diri, pada orang lain, pada situasi akhirnya mampu terdefinisikan dan tertumpahkan …

Rasa yang selama ini banyak terpendam, ditahan tahan, disembunyikan, bahkan kita coba lupakan ternyata kenyataannya masih ada dan memenuhi batin kita, mengisi ruang ruang raga dan rasa kita, dan kadang memberatkan langkah kita, menahan rizki rizki kita, menghambat jalan kebahagiaan dan kegemilangan hidup kita

Di lima jam itu saya bisa melepaskan banyak luka  …

Di lima jam itu saya bisa sejujur jujurnya pada diri sendiri …

Di lima jam itu saya bisa menangis sejujur jujurnya …

Di lima jam itu saya bisa merelakan apa yang telah terjadi …

Jadi ini training macam apa ?

Ahh… ini bukan training sebenarnya menurutku, ini adalah moment pelepasan jiwa, pelepasan luka. Ini adalah moment untuk menjadi manusia yang seutuhnya, yang seringkali merasa lemah dan lelah. Moment dimana manusia butuh menangis, butuh mengakui lukanya, untuk kemudian ruang jiwa nya lapang kembali, ruang batin nya bersih kembali

Mengakui – Mengungkapkan – Melepaskan – Mengikhlaskan

Ini lima jam yang saya lakukan di training ini …

Lalu apa yang terasa setelah lima jam itu ?

Bukan, bukan tentang semangat yang membara bara, atau semangat yang menggelora, seperti yang bisa kita di training training biasa

Tapi ….

Saya merasakan kelegaaan hati, kelapangan fikiran, ketenangan jiwa …

Saya merasakan rasa lebih berhaga, lebih menghargai diri, lebih ingin luas melangkah, ingin lebih banyak tersenyum, ingin lebih banyak banyak bersyukur dan mensyukri hidup …

Bukankah ini lebih penting dari motivasi ? Karena benar adanya, sebelum kita dibakar dengan ribuan motivasi, kita perlu untuk memulihkan jiwa kita dahulu. Setuju ?

 

Ps : Terimakasih untuk coach Dedi Susanto, yang telah menjadi jalan dalam melapangkan kembali ruang ruang jiwa saya, melancarkan lagi aliran aliran nafas saya yang sempat tersendat, meringankan lagi langkah saya yang sempat terbebat

Ps : Buat kawan kawan yang butuh untuk dilapangkan kembali jiwanya, di ringankan lagi fikirannya, disembuhkan lagi batinnya, mungkin training ini cocok buat kawan kawan. Insya Allah tidak ada unsur magis, menyimpang atau semacamnya.Training ini adalah training untuk menjadi manusia yang seutuhnya, manusia yang punya rasa, punya jiwa

Saya pun tertarik karena lihat awal dari konten konten nya, sila lihat di channel youtube  nya : Kuliah Psikologi | IG : @DediSusantoPJ

Saya merekomendasikan karena telah merasakan …

Semoga Bermafaat 🙂

 

 

 

Jangan Sia Sia Kan Pagi Harimu …

Well, sebenernya ini semacam catatan, pengingat dan penguat untuk diri sendiri, tentang bagaimana sebaiknya kita menggunakan waktu pagi hari kita.

Katanya pagi hari adalah waktu yang menentukan apa yang akan terjadi seharian itu, kalau pagi hari nya baik, tertara, have a good mood, maka itulah yang akan terjadi seharian. Sebaliknya kalau pagi hari nya bad mood, atau kita males malesan, biasanya mood itu kebawa sampai seharian juga.

Jadi biar pagi hari have a good mood, ceria, dan waktu kita berkualitas seharian, produktif, gimana caranya ?

Setelah baca berbagai buku, nyimak konten youtube, nasihat orang orang yang memang sukses di bidangnya, akhirnya mendapatkan beberapa insight yang bagus tentang bagaimana sebaiknya kita mengisi pagi hari kita.

Salah satu nya adalah dengan TIDAK MEMBUKA SOSIAL MEDIA di pagi hari.. !!

Kenapa emang ?

Ternyata ini bukan tentang soal tentang buang waktu saja. Tapi okelah PERTAMA kita bahas tentang WAKTU dulu. Setuju kan, kalau sudah berhubungan dengan sosial media, chat media, atau yang berkoneksian dengan internet, kita menjadi susah terkendali. Sekali jari kita menyentuh layar, buka feed, timeline, grup chat, atau iseng iseng buka status WA orang lain, diri kita semacam ketarik ke layar kaca itu.

Facebook : Cek Notifikasi, Baca Komen, Bales Komen. “Oke udah ahhh…” gitu dalam hati. Eh tetiba gatel pengen lihat timeline. Isinya macem macem, dari mulai bahas topik terhangat, yang curhat, yang liburan, yang makan makan, yang bahas politik, dsb.

Instagram : Cek berapa yang like postingan kita terakhir, scrolling feed, love status teman teman atau selegram pujuaan. Eh gatel juga pengen buka explore, dari postingan tentang kucing, perpolitikan, video lucu anak anak kecil, sampai gosip perlambeaan.

WA : Ahh… update status ah, kata kata bijak. Itupun expore dulu dari pinterest atau dari google image : quotes. Dan kemudian jari kita menyentuh status, layar otomatis menampilkan status status orang lain, sebagian kita koment, sebagian kita lewatkan, tapi mata terus tenggelam melihat pergantian status setiap orang. Argghh…

Belum lagi kalau yang punya Line, baca LINE TODAY, tentang “5 Cara menurunkan berat badan dalam seminggu” berita tentang “Fakta terbaru perceraian artis X dengan istrinya Y”

Berapa waktu yang di habiskan ?

5 menit berlalu, scroll… “ah baru lima menit”, scroll lagi, like, tinggalkan komentar ….

15 menit beralu, ahh… ini menarik, lihat video, lucu … eh ada lagi yang lucu …… scroll

25 menit berlalu, ahh… ini juga menarik beritanya, scroll… klik, baca, tutup. Baca berita terkait … scrollscroll

40 menit berlalu, di layar ada notifikasi grup. Terus dibuka, dibaca, ahh…silent reader aja ahhh.. tapi penasaran sama percakapan tadi malem, pada bahas apa yaa di grup, scroll …

55 menit berlalu…. what .. ?! hampir sejam ga kerasa ternyata ! hanya untuk melihat hal hal yang kadang tidak membawa banyak manfaat, hanya kumpulan info info biasa, tidak membikin termotifasi, terinspirasi, atau signifikan terhadap hidup kita …

Tapi 55 menit itu berlalu begitu saja … menyesal kemudian, karena merasa udah membiarkan waktu tersia, namun esok nya terulang lagi, dan lagi, menjadi sebuah kebiasaan yang sulit dihentikan …

KEDUA, kenapa sebaiknya tidak membuka MEDSOS di pagi hari adalah, karena ketika kita membuka MEDSOS atau Chat Media, kita sedang memberikan perhatian kita kepada dunia luar, dunia di luar diri kita, dan apa efek nya pada diri kita.

Dunia luar itu seperti apa ? Contohnya : Melihat status orang lain, melihat apa yang di pikiran & di rasakan orang lain, melihat orang lain pergi kemana, makan apa, sudah melakukan apa, pergi kemana, belum lagi tentang prestasi dan pencapaian pencapaian yang telah mereka lakukan.

Belum lagi tentang orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan hidup kita ; artis A melahirkan, artis B liburan ke luar negri, selebgram A memakai lipstik warna marun benderang, atau selegram D bermasalah dengan selegram F, dsb. Diri kita menjadi tersedot untuk memperhatikan hidup orang lain, orang orang yang bahkan tidak kita kenal.

Kapastitas memori pikiran pagi hari kita hanya diiisi dengan info info sesaat, hal hal kecil, hal yang maaf terkadang “remeh temeh”, dan tidak banyak membantu kita dalam membangun kualitas hidup kita, atau membantu jalan kepada cita cita kita. Infomasi yang kebanyakan tidak penting, namun terlanjut memenuhi memori otak kita. Di pagi hari pula !!

PADAHAL …

Pagi hari adalah GOLDEN TIME, dimana waktu itu adalah salah satu waktu terbaik kita. Waktu yang seharusnya kita isi dengan lebih memperhatikan diri kita.  Meniliik kedaam tentang diri, menggali tentang apa yang dirasakan, diinginkan oleh diri. Atau memikirkan tujuan tujuan jangka pendek dan jangka panjang kita, sudahkah menuju yang sedang kita tuju …

Secara tekhnis pagi hari adalah waktu terbaik untuk kita merencanakan apa yang akan dilakukan seharian itu. Membuat list to do misalnya. Atau melihat lagi catatan impian dan cita cita kita, dan memikirkan apa kira kira yang akan dilakukan hari ini untuk mencapai cita cita tersebut…

Atau misalnya, membuat list orang orang yang perlu kita hubungi, sesiapa yang akan kita jalin silaturahmi. Atau mengevaluasi diri akan hal hal yang ingin kita perbaiki, kebiasaan kebiasan yang ingin kita hilangkan atau kemampuan kemampuan yang ingin kita asah dan hebatkan.

Lebih dalam, pagi hari adalah waktu yang paling baik untuk kita berkontemplasi, atau untuk mencari, menggali dan mengkaji diri. Mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Mentafakuri diri, berdzikir, membaca petunjuk petunjuknya, meraba diri apakah yang dijalani selama ini apakah sudah sesuai dengan kehendak-Nya, meraba dri apakah yang sudah kita lakukan akan mendatangkan Ridha-Nya, atau sebaliknya.

Ya … Di pagi hari. Sebuah waktu yang sebenarnya banyak hal esensial yang semestinya kita lakukan, untuk kebaikan hidup kita di dunia maupun kelak di akhirat. Namun kadang kita melewatkan waktu itu dengan kegiatan yang tidak membawa kita kemana mana, tidak menambah nilai dan manfaat apa apa,

Ahhh… maafkan ya Allah …


Gimana dengan diri saya sendiri ? Apa hal rill yang sedang diusahakan ?

Sekarang secara tekhnis, saya sedang belajar untuk “puasa” HP di pagi hari, dari mulai bangun sampai sekitar jam delapan an. Abis shalat, ngaji/baca terjemah, lalu baca beberapa lembar buku, nyusun kegiatan seharian itu, baca jurnal catatan, dan nyusun kegiatan untuk hari itu. Kadang denger radio atau dengr kajian sebuah topik di youtube tapi ga pakai HP, bisa paka laptop misalnya. HP di setting hanya terdengar untuk panggilan telfon saja (Biasanya kalau orang telfon berari ada hal penting).

Masih suka kegoda ga buat buka HP ?

Ya iyalah … hhee pasti. Malah masih sering  “batal” ada aja yang bikin kegoda. Namanya juga belajar, dan akan terus belajar. Yang menguatkan adalah inget ke tujuan kenapa kita “puasa HP di pagi hari”, agar bisa menjadi manusia yang berkualitas dan bertanggunjawab dari hari ke hari. Agar hidup tidak asal sia sia, agar hidup tidak mengalir begitu saja.

Bismillah …. Semoga istiqamah, menggunakan karunia waktu sebaik baiknya, dan dimulai dari bagaimana menghabiskan waktu di pagi hari …

 

Semoga Bermanfaat …. 🙂