Pit Stop ” Ramadhan “

Marhaban yaa Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, bulan saat ampunan di janjikan, bulan yang istimewa bagi mereka yang ada menyala takwa di hatinya, bulan di mana kitab terbaik petunjuk sepanjang masa diturunkan, bulan di mana sang pencipta berlipat lipat memberikan kasih sayangnya kepada umat manusia.

Bagi saya pribadi bulan ini adalah bulan “perhentian”, bulan dimana saya ingin “berhenti” sesaat untuk melihat langkah yang telah terjejak di belakang, untuk melihat posisi saat ini, dan untuk memantapkan arah perjalanan kedepan.

Bulan Ramadhan ini saya ingin untuk lebih banyak menyempatkan waktu “bersendiri” untuk  merenungkan apa yang telah terjalani selama ini, “bersendiri” untuk lebih mendengarkan, bukan hanya kata hati, tapi juga mendengarkan nasihat diri.

Bersendiri bukan berarti  mengasing dan tak mau berjumpa dengan orang lain. Namun bersendiri berarti meminimalisir diri dari kebisingan hari hari, beristirahat dari ambisi diri yang kadang tidak terkendali, mengukur diri dari kaki yang mungkin terlalu kencang berlari atau mungkin dari kaki yang teralalu lambat mengarungi hari.

Mengistirahatkan diri dari nafsu kita untuk terlalu mengetahui dan mengikuti apa yang ada di luar sana, hingga abai dengan kata hati. Karena katanya, apabila telinga kita terlalu banyak mendengar apa yang ada di dunia, kita jadi lalai mendengarkan kata hati diri sendiri, mendengarkan panggilan diri yang murni.

Ya, menurut saya bulan ini adalah bulan yang tepat untuk melihat rekam dan jejak diri, merenungkan apa yang sedang dan apa yang telah dilakukan, membayangkan apa yang akan ditinggalka. Kemudian berdialog dengan diri sendiri, dan “berdiskusi” dengan Nya, Sang pemilik alam semesta

Bila diibaratkan hidup adalah sebuah sirkuit arena, maka bulan ini bagi saya adalah sebuah “Pit Stop” sebuah tempat untuk kita beristirahat, mengisi daya, mengumpulkan energi, memperbaiki atau melepas yang telah usang, dan mengganti hal hal yang perlu diganti dengan “spare part” yang baru.

Karena apabila kita tak berhenti di “Pit Stop” kita tak akan pernah tau apa hal yang telah usang, apa yang telah rusak, apa yang sudah tidak bisa dipakai. Karena apabila tidak ada “Pit Stop” dalam diri kita, kita tak tau seberapa besar energi yang tersisa, kita tak akan tau seberapa daya yang kita butuhkan untuk perjalan selanjutnya.

Dan apabila kita terus kencang berlari tanpa berhenti, kita mungkin hanya peduli pada berlari dan mengemudi, tanpa kita mengingat lagi apakah telah benar jalur dan arah yang kita tempuh, atau jangan jangan kita hanya berlari dan lupa akan tujuan hakiki.

Karena perjalan panjang butuh peristirahatan, butuh perbaikan, butuh pengevaluasian, butuh energi yang selalu baru, agar perjalanan  panjang kita kemudian bisa lebih benar, lebih kencang, lebih terarah, lebih tertara, hingga kelak di depan kita bertemu dengan titik finish, ya titik finish kehidupan.

Dan Ramadhan ini adalah sebuah “Pit Stop” untuk mencari lagi tujuan diri, Bismillah ….

 

Pit-stop

Tak Usah Berfikir, Nikmati Saja Dunia

So, apalagi yang kau mau lakukukan. Dunia ini sudah menyedia apa saja, menyedia segala sesuatu, bahkan sesuatu yang tidak kau butuhkan.

Kau mau makan, carilah resto resto siap saji perkotaan. Atau ingin lebih sedikit terlihat elegan, mampirlah ke kafe kafe simbol pergaulan, disana kau akan peroleh banyak kenikmatan, suasana yang cozy dan juga iringan lagu kekinian. Habiskan waktu mu disana, bersama kekawan, bercanda, bercengkrama, bincangkan saja tema tema ringan dan menyenangkan. Nikmati saja …

Hmmm.. Atau kau ingin tampil menawan. Okee.. Disana ada berjajar jajar penjaja pakaian, dari selera lokal sampai mode ala victoria beckham. Dari warna jingga, hingga nila, segalanya ada. Berkacalah buat dirimu mempesona. Nikmati saja …

Atau kau ingin hiburan…, pergilah kesana ada sebuah layar besar dengan tempat duduk meremang. Bukan, itu bukan pagelaran wayang, tapi orang orang yang sedang memainkan peran. Nikmati saja layarnya, tak usah kau tau ada apa diluar sana. Nikmati saja …

Ingin sedikit kesenangan ? Baiklah. Kau beloklah ke kanan dan berhenti di sebuah persimpangan, disana ada berjajar ruang ruang yang bisa mendendangkan apa saja, suaramu akan terlepaskan disana, mungkin sedikit adrenalin, ketika kau belajar berani bernyanyi di depan teman teman. Nikmati saja …

Oh ya, apakah kau mau dikenal dunia. Bila ya, banyak banyak lah bergaul dalam sebuah layar kaca yg bisa mengkoneksi dunia. Kau habiskanlah waktu disana, berbagi apa yang kau rasa, kau sedang apa, atau kau mau apa. Atau bila perlu, semua gambar kehidupan mu, kau muatlah disana, biar dunia tau, segala sesuatu tentang mu, hebat bukan …?. Nikmati saja

Bagaimana kalau kau duduk manis saja di rumah mu, ada sajian tak putus, 24 jam, beranek ragam cerita dan berita akan ku dapat disana. Dari cerita cinta, anak durhaka, anak anak yang tertukar, atau cerit lur biasa tentang seseorang anak rang kaya  yang tertabrak, kemudian hilang ingatan.

Masih di layar kaca itu, nikmatiah musik musik ajaib semenjak pagi, tentang dendang cinta atu patah hati, hafalkan lah liriknya, ikutilah uramanya, tenggelam lah didalamnya, resapi sesolah olah kau adalah aktror utama dalam cerita itu, bila lagunya bersedih maka bersedilah, bila gembira maka bergembiralah.

Kau lakukan apa sajalah yang kau suka, apa saja. Bukankah dunia ini sudah menyediakan apa saja ?! Apa yang kau suka, apa yang kau minta, bakan yang tidak kau pinta pun, serta merta ada.

Nikmatilah apa yang ku saji bersama kawan dan keluarga, kau hany butuh duduk manis, mengeluarkan sedikit uang barangkali, dan tenaga untuk meraihnya, ah sederhana sebenarnya, sedikit usaha saja semua kesenangan akan mudah kau peroleh.

Tapi satu hal yang jangan kau lakukan, jangan pernah. Ya, jangan pernah BERFIKIR. Tak usah lah kau mencerna  tentang apa yang telah disajikan dengan mudah  kepadamu.

Tak usahlah kau fikir tentang masa depan dunia ini, masa depan bangsa ini, masa depan  tentang saudara saudara, tak usah.

Tak usahlah kau berfikir tentang perubahan, memerangi kejahatan, melindas para pembuat makar. Tak usahlah berfikir tentang masyarakat, toh mereka orang lain bagimu. Tak usah lah berfikir mengapa ini begini mengapa itu begitu, tak usahlah…

Tak usahlah kau fikirkan tentang dunia yang lebih baik, dunia yang lebih benar seharusnya, tak usahlah kau fikirkan tentang memperbaiki lingkungan, bahkan pendidikan anak anak bangsa.

Tak usahlah kau banyak berbuat, berkarya, dan bertindak

Tugas mu hanya bersenang senang, menikmati dunia. Maka dari itu aku akan menjauhkanmu dari membaca, menjauhkan mu dari berdiskusi, menjauhkan mu dari menulis tentang terumbu  fikirmu. Maka aku akan menjauhkan mu, dari pertanyaan pertanyaan kritis dalam benakmu

Tak usahlah… Karena bila kau membaca, bila kau berfikir, bila kau menulis dan berbicara, maka celakalah kami, berantakanlah rencana besar kami, misi mulia kami ….

Karena bila kau banyak membaca, kau akan dapat banyak limpahan ilmu dan sinaran cahaya. Karena dengan berdiskusi akan memperkaya alam fikirmu, mensinergikanmu dengan temanmu, memperkuatmu. Karena dengan menulis banyak orang akan tau mengenai apa yang ada dalam benakmu, karena dengan menulis akan banyak yang terpengaruh dengan fikiranmu.Berhentilah membaca, Berhentilah Berdiskusi, Berhentilah Menulis

Clubbing

(Foto From Google)

Maka demi itu, plis, plis, tak usah berfikir, nikmati saja dunia !!

Mengapa Terlalu Mengagumi Alam ?

Saat berkelana, kita seringkali terpesona dengan indah nya alam raya, dengan berupa rupa pemandangan yang terhampar. Terpesona dengan  kokohnya gunung tinggi yang megah, dengan betapa menenangkan nya hamparan biru lautan, akan pepasir pantai putih yang begitu menenangkan, akan indahnya makhluk makhluk di lautan, akan sejuknya semilir angin pegunungan, akan hal hal yang disajikan oleh alam kepada indera kita.

Begitu banyak ucapan kekaguman kita pada alam raya, begitu meluap keterpesonaan kita terhadap pemandangan indah di mata kita. Kerennnnnn , amazing , indah banget … beberapa kalimat yang sering keluar dari mulut kita ketika menyaksikan keindahan alam.

Namun kadang kita hanya terhenti pada pesona, pandangan kita hanya berhenti di mata saja, berhenti di kekaguman indera saja. Terkadang kekaguman kita tidak sampai kepada pencipta-Nya, malah kadang kita lupa pada siapa yang menciptakan-Nya, rasa kagum itu hanya berhenti pada mata saja.

Ahh… padahal alam raya itu tidak bisa menciptakan dirinya sendiri, tidak bisa mereka-reka dirinya sendiri, memperindah dirinya sendiri, mereka diciptakan, mereka ciptaan. Jadi mengapa kita menjadi terlalu kagum dengan alam, namun menjadi lupa dengan siapa yang menciptakannya ?

Sesempurna apapun alam raya, ia tak bernyawa

Ia tak bisa menciptakan diri nya sendiri

Ia sekedar ciptaan

Maka Pujilah Ia, Yang Mencipta

Karena hanya Ia lah yang pantas di puji

Penciptanya – bukan Ciptaan Nya

Semoga, dalam setiap langkah ketika kita menginjakan kaki belahan mana saja di bumi-Nya, yang utama kita ingat adalah bahwa setiap inci alam raya ini adalah ciptaan-Nya, bahwa kekaguman kita akan alam raya ini, haruslah berujung kepada kekaguman atas kuasa-Nya.

Bahwa setiap kekaguman kita kepada semesta ini, adalah sebagai penghantar takwa kita kepada-Nya. Aamiin ….

 

gamalama

Apa Yang Lebih Besar Dari Impian ??

 

impian

Begitu ramai kita membahas tentang impian, impian itu. Kita semua punya impian, saya, anda, mereka, kita semua. Banyak dari kita yang mempunyai impian mulia, impian  mempunyai rumah untuk para yatim dan dhuafa, impian untuk membangun masjid, untuk menghajikan orang tua, impian untuk membuat rumah sakit untuk para dhuafa, impian membuat sekolah, impian untuk membuka lapangan pekerjaan, dsb.

Impian mulia itu kadang membuat kita mengebu gebu, begitu bersemangat, begitu antusias, begitu berenergi, semuanya serasa di depan mata, semua begitu terbayang nyata, seluruh alam raya serasa merestui.

Namun, seiring waktu berjalan, impian itu menghadapi banyak cobaan, kesulitan, rintangan, maju-mundur, kemudian mentok, naik turun, menurun dan tersungkur, dan sekarang seolah olah dunia menentangmu, alam raya tidak merestuimu.

Lalu apakah lantas kita akan menyerah pada impian impian itu ??

Ya !!! Apabila impian impian itu hanya sekedar euforia belaka, impian itu hanya sekedar suka suka saja setelah kita ikutan training motivasi, apabila impian itu hanya sekadar ikut ikutan belaka, hanya trend sementara. Halang rintang yang dihadapi diatas akan membuat impian kita menjadi mudah patah begitu saja.

Lagian, kenapa bersusah payah mempunyai impian. Hidup biasa biasa saja tanpa impian juga gak apa apa kok, atau kalo si impian itu memang susah di capai, ya udah sih udahan aja, tinggal berbelok cari impian lain yang mugkin lebih realistis.

 

***

Lalu apa yang lebih kuat dari impian atas hal hal mulia diatas ??  mempunyai rumah untuk para yatim dan dhuafa, membangun masjid,  menghajikan orang tua, membuat rumah sakit untuk orang yang tak mampu, impian membuat sekolah gratis, impian untuk membuka lapangan pekerjaan, impian membantu banyak orang, dsb.

Apa yang lebih kuat dari IMPIAN ? apa yang membuat kita tak beranjak dari hal hal diatas ketika bertubi tubi kita di hantam oleh rintangan, halangan, penolakan, cibiran,  hingga kegagalan yang terus menerus.

KEWAJIBAN, ialah yang lebih kuat dari IMPIAN. Kewajiban yang bukan hubungannya terhadap diri sendiri, kewajiban yang bukan hubungannya dengan orang lain, namun KEWAJIBAN kita kepada Nya.

Hal hal diatas, berharta banyak, membantu orang lain, melayani banyak orang, menjadi jalan kebaikan , menjadi kanal keberkahan, menjadi sumber kebermanfaatan dalam kehidupan, jadikan sebuah KEWAJIBAN bukan sekedar IMPIAN. Kewajiban kita kepada-Nya, sebagai penghambaan kita kepada – Nya.

Karena saat itu kita jadikan sebagai sebuah kewajiban , ia akan mengikat erat dalam hati dan fikiran kita. tak hanya euforia dan artificial dunia saja, tidak hanya sekedar formalitas saja, tidak hanya sebagai eksistensi saja.

Karena saat itu kita jadikan sebagai sebuah kewajiban, kau tak akan mudah patah, lantas menyerah, karena melaksanakan sebuah kewajiban adalah penghambaan.

Bismillah….

 

 

 

 

 

Merasa Mulia

rumput

 

Suatu waktu manusia merasa mulia, karena jalan hidup yang ia pilih. Suatu masa manusia merasa mulia karena pilihan cara yang ia punya. Suatu waktu manusia mengernyitkan dahinya, berbisik di hatinya, mengomentari pilihan orang lain yang berbeda darinya, pilihan hidup yang ia anggap tidak semulia dirinya.

Ah.. padahal ia menjadi tidak mulia, karena merasa mulia. Ia tergelincir dalam jebakan lubang tak kentara, memang ia selama ini di jalan yang benar, tapi ia tidak awas, karena terlalu mendongkak keatas, bersibuk dengan kebanggan dirinya ia tidak melihat kebawah, ia tidak meilhat jalan yang ia pijak.

Ada jebakan jebakan mematikan di sana, ada lubang yang bisa menarik ia ke pusaran yang dalam, yang berujung di labirin panjang dan gelap. Hingga ia  tidak sadar, bahwa ia telah jauh dari jalan kebenaran, yang sebenarnya memang penuh dengan kemulian.

Ah merasa mulia bisa melenakan, membutakan, menjauhkan dari kemulian sebenarnya.

Jadi Wahai Kau Jiwa, Menjadi Mulialah Tanpa Harus Merasa Mulia

 

P.s : Sebuah catatan pengingat untuk diri sendiri

 

Apa Arti Perjalan Bagimu ?

blur

Blurring

Lalu apa makna perjalan bagimu ?

Apa hanya sebatas lalu lalang mu saja

Apa hanya sebatas senang senang saja

Sebatas prestasi penginjakan bumi disana dan disini

Sebatas pengabdian memori untuk berbangga diri

 

Lalu apa makna pengembaraan bagimu ?

Serupa perpindahan fisik mu sajakah

Apakah kau bawa juga jiwa mu besertanya

Apa hanya perjalanan mata semata

 

Lalu apa hasil perjalanan bagimu ?

Apa menambah penuh jiwamu

Apa menyentuh iman mu

Menyadarkanmu, bahwa kau hanya manusia

Membangunkamu, bahwa kau tak punya apa apa

Menyadarkanmu, bahwa kau hidup di Alam Ciptaan Nya

 

Lalu apa hasil petualangan mu ?

Sebatas memori gambar saja

Sebatas cerita belaka saja

Apakah perjalalan mu meninggalkan jejak manfaat

Manfaat pada mereka yang kau temui disana

Manfaat pada alam raya

Paling tidak makin mendekatkan mu pada-Nya

Apakah kau hanya lewati begitu saja

Ahh ……

 

#Sebuah catatan pengingat untuk diri sendiri

 

 

 

 

 

 

 

Sombong dengan “Kebaikan”

DSC_1995

Ini adalah sebuah pengingat diri sendiri, tentang bagaimana kadang kita menjadi merasa hebat dengan kebaikan, amal soleh, atau perubahan yang kita lakukan. Entah itu shalat kita, shaum kita, muamalah kita, amalan amalan sosial kita, dsb.

Kadang kala ada terselip rasa BANGGA dalam hati kita, baik di tampakan atau tidak. Sebuah rasa kita  lebih dari yang lain, sebuah rasa kita lebih hebat dan mulia dari yang lain, sebuah rasa kita lebih unggul dari yang lain, sebuah rasa kita lebih saleh dari yang lain.

Lebih dari itu, kita memandang sebelah mata orang orang yang kita anggap banyak berbuat salah, berpemahaman salah, masih kurang ibadahnya, masih minim pengetahuan agamanya. Mengecap salah secara berlebihan orang yang tidak sependapat dengan kita, dengan berani dan lantang mengatakan mereka pelaku maksiat, pelaku haram, jauh dari keberkahan dsb.

Alih alih mendoakan dan mengingatkan, namun yang ada hanyalah keinginan untuk memojokan, mengatangatai, membuli, mengkoarkan pada orang orang bahwa kita benar dan dia salah.

Padahal jelas perbedaannya, antara ingin menyampaikan kebenaran dan keinginan ingin menampakan “who we are”, kita kadang tau, namun tidak sadar apa sebenarnya yang ingin kita sampaikan. Karena cinta atau nafsu bangga diri.

Ahh.. semoga ada selalu semacam pengingat, ketika kita akan mengatakan dan melakukan sesuatu, apakah untuk mengingatkan, menyampaikan kebenaran, atau hanya sebatas keinginan untuk membanggakan diri dan mengecilkan orang lain.

Karena sebenarnya, kebaikan dan amal shaleh yang kita lakukan pun, semata karena Allah yang menggerakan, Allah yang mengizinkan. Maka apapun yang kita sampaikan maka kita niatkan untuk mendapat Ridha-Nya, itu saja.

Sejahtera Dulu Aja, Baru Mikirin Orang Lain

 

laut

 

Beberapa saat lalu saya terlibat obrolan dengan seorang kawan kerja. Kami membahas tentang impian kami untuk kebermanfaatan banyak orang. Dia bilang “Ka, saya pengen punya panti asuhan nanti” ujarnya “Tapi mungkin ga sekarang, sekarang nyari duit dulu yang banyak, sejahtrakan dulu, baru bisa nabung, biar nanti  bikin panti asuhan yang besar sekalian. Aku ga mau nanggung nanggung bikinnya, kagok kalo dari sekarang nyicil, ga berasa puas. Jadi nanti aku mau bikin panti asuhan pas uang sudah banyak” tegasnya panjang lebar.

Lain waktu saya terlibat pembicaraan yang lebih mendalam lagi dengan seorang yang lain, dengan teman yang sama sama bergerak di bidang sosial. Saya membuka pembicaraan “Kamu suka ngerasa ga sih, kalo kerjaan kita kaya gini kadang suka di pandang sebelah mata oleh sebagian orang”.

Gini contohnya : waktu itu saya keliling pulau selama kurang lebih satu bulan sebagai relawan. Kemudian ada seorang yang sudah Ibu yang bertanya tanya mengenai kegiatan saya. Ditengah pembicaraan dia bertanya “Terus sehari hari kamu ngapain” tanya nya. Mungkin maksudnya, saya kerja apa. Sebuah pertanyaan yang wajar saya, karena mungkin orang orang diluar sana banyak bertanya tanya, orang orang kaya saya ini, kerja nya apa, hidup dari mana, apa ngandelin dari bantuan orang lain juga jangan jangan, hidupnya dari uluran tangan orang lain.

******

Menjalani dua bagian hidup seperti ini – berbisnis & berabdi- seperti yang saya jalanin selama ini memang tidak mudah. Bagi saya keduanya bukan pilihan, tapi impian juga tanggung jawab. Bekerja atau berbisnis apa pun itu segala yang menghasilkan uang  selain kebutuhan bagi saya adalah tanggung jawab. Tanggung jawab kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, juga kepada Tuhan. Karena bagaimanapun kita harus mandiri diatas kaki sendiri, tidak menambah beban orang lain.  Lebih dari itu menjadi leluasa dalam keuangan  akan sangat banyak membantu dalam bergerak dan berbuat banyak manfaat.

Pengabdian kepada orang banyak, adalah passion saya. Impian saya. Nafas saya. Kegembiraan saya. Kebahagian Saya. Sesuatu hal yang ada dalam degub jantung saya. Ya cita cita saya adalah mewujudkan cita cita banyak orang. Kegiatan saya bersama teman teman di NUSANTARA MEMBACA dan BAKTI GURU NUSANTARA adalah sebuah “Bintang Terang” bagi kami, sebuah cita cita terbesara yang kelak akan kami bawa untuk di persembahkan pada hari “esok” kelak, di hadapan Allah Swt.

Sungguh, tidak mudah menjalani keduanya bersamaan. Dalam waktu singkat, kadang harus bergantri peran dengan cepat, menjalani bisnis  kemudian menjalani pengabdian.  Saya sungguh masih sangat banyak belajar, membagi waktu, fikiran, tenaga di antara dua dunia yang saya jalani berbarengan ini, sungguh, sungguh tidak mudah.

***********

Jadi,  apakah sejahtra dulu baru membantu orang lain ? atau menjalani kedua duanya berbarengan? ahh menurut saya ini bukan mengenai benar atau salah. Ini mengenai pilihan, prioritas dan yang paling penting ini mengenai panggilan hidup.

Hidup Untuk Menghidupi Hidup

Sebuah perjalanan pulang yang melelahkan malam itu membawa alam fikiran saya melayang jauh. Memikirkan apa sebenarnya yang sedang kita perjuangkan, tentang apa sebenarnya untuk apa kelelahan kelelahan ini sehingga mau kita jalani.

Fikiran ini saya biarkan mengalir bebas. Sambil menyetir perlahan, saya matikan AC dan membuka jendela, membiarkan udara malam yang menemani saja. Saat ini saya sedang “mengejar” sesuatu pencapaian dalam bisnis saya. Tak jarang saya harus pulang larut malam, tak jarang pula saya menunda atau mengabaikan hal lain, karena ingin fokus dalam pencapaian tersebut, bahkan tak jarang juga saya mengabaikan kesehatan saya.

Di lampu merah, pandangan saya terhenti pada seorang bapak, yang di pinggir trotoar yang tampaknya sedang berstirahat kelelahan, disampingnya barang dagangannya yang masih ia gelar. Juga ada beberapa pedagang asongan yang masih menjajakan barang dagangannya ke setiap jendela mobil.

Waktu telah hamir dari jam sepuluh, waktu yang dalam dimana banyak orang telah pulang bertemu keluarganya, beristirahat, mempersiapkan esok hari. Tapi mereka masih menjalankan kemungkinan bahwa akan ada orang yang masih membeli dagangannya walau malam telah cukup larut, dan orang orang juga sudah jarang dijalanan. Mungkin sebentar lagi mereka akan pulang, ujarku dalam hati. Dan esok akan kembali menjalani rutininas seperti ini lagi, pergi dini hari-pulang malam hari, mencari penghidupan.

Memori saya jadi melayang ke beberapa saat lalu, ketika mengujungi kota Jakarta, dan ketika akan pulang terjebak arus macetnya ibu kota. Katanya macet seperti ini mereka alami setiap hari. Mereka yang bekerja, pulang dan pergi, dengan sukarela menghadapi kemacetan, kejemuan di jalan raya, yang bisa berjam jam. Dan esok akan kembali menjalani rutininas seperti ini lagi, pergi dini hari-pulang malam hari, mencari penghidupan.

Lalu berkaca lagi kepada apa yang sedang saya jalani saat ini, pergi dini hari-pulang malam hari, mencari penghidupan

Hingga timbul pertanyaan, yang mungkin jawabannya ada dalam diri saya sendiri, jawabannya akan terjawab dengan cara menjalaninya, jawaban yang perlu kita cari sungguh sungguh : ” Apakah kita hidup, hanya untuk menghidupi hidup ?

Bandung, 10 April 2016

Originally Post From My Oldest Blog : http://www.angkasa13.wordpress.com