My Silence Time

lonceng

Di zaman tekhnologi 4.0 – yang konon katanya tak lama lagi akan menuju zaman 5.0, waduhh apalagi nihh…  – kita tidak bisa lepas yang dari namanya gadget atau gawai. Rasa rasanya hal yang kini paling dekat dengan kita adalah gawai tersebut. Keseharian kita tak bisa lepas dari gawai, baik itu yang berkaitan dengan urusan pekerjaan, kehidupan sosial ataupun yang bersifat hiburan.

Gak diperlu dibahas lagi sebenarnya tentang bagaimana orang orang -termasuk saya- menjadi begitu ketergantungan kepada benda yang satu ini.  Dengan level yang berbeda beda tentunya. Ada yang sudah bisa bijak dalam menggunakannya, ada yang tanpa kendali dalam penggunaanya.

Saya ingin sedikit berbagi saja tentang “Self Regulation” yang saya belajar terapkan agar tidak ketergantungan, tetap produkif, dan tetap bijak dalam menggunakan gawai dan teknologi internet ini

Silence Time 

Jadi saya membuat moment yang saya sebut dengan “Silence Time” dimana saat itu saya meng-nonaktifkan gawai saya, terutama dari koneksi internet. Untuk telfon dan sms masih bisa diakses, untuk mengantisipasi apabila ada hal atau kondisi penting, sehingga orang perlu menghubungi kita atau sebaliknya.

Ada dua waktu dalam sehari biasanya saya atur untuk “Silence Time” saya, yaitu di pagi hari dan sore hari. Pagi hari dari bangun tidur sampai sekitar jam 6 pagi dan sore hari dari magrib hingga menjelang Isya. 

Misalnya kalau kita bangun sekitar jam 3-4 subuh, saya usahakan benar benar tidak menyentuh gawai sedikitpun hingga menjelang jam 6 pagi.

Begitu pun dengan sore menjelang magrib. Bila posisinya sedang ada dirumah, maka saya off kan koneksi internet di gawai saya, hingga menjelang Isya. Setelah Isya baru biasanya saya aktikan lagi koneksi internet nya

Kenapa saya off kan data nya, karena kadang kita masih tergoda untuk membuka gawai ketika kita mendengar ada notifikasi yang masuk. Jadi aman nya di off kan saja.

Ada saat atau kondisi tertentu memang saya tetap harus tetap aktif dengan kondisi internet, terutama di sore/magrib atau sedang di luar. Namun untuk waktu dini/pagi hari, saya betul betul mengusahakan dan menkondisikan diri saya dalam keadaan “Silence Time”

 

Kenapa Sih Mesti Ada “Silence Time”

Tentu setiap orang punya alasan dan kebutuhan yang berbeda beda. Bagi saya, saya sangat membutuhkan “Silence Time” ini. Untuk apa ? untuk saya berkomunikasi dengan diri saya sendiri, lebih saya “mengisi” hati, jiwa dan pikiran saya sendiri, lebih jauh “Silence Time” ini saya gunakan untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta.

Bagi saya yang mudah teralihkan, mudah ter “distrace” , mudah tergoda, masih gampang terlena, yang masih suka asyik asyik scroll kemudian lupa waktu. yang kadang bias antara niat menggunakan gawai untuk urusan yang produktif, tapi jadinya “khilaf” mengakses hal hal receh, info tidak penting, dan jadi tidak produktif, maka saya akhirnya membutuhkan dan menerapkan “Self Regulation” seperti ini.

Karena dengan penggunaan gawai yang tanpa kendali, kita akan menjadi manusia yang “Outside In”menghabiskan waktu dan fikiran kita untuk hal yang datang dari luar, menjadi sangat responsif, seakan akan “wajib” rasanya menjawab segera semua chat yang datang dari luar, wajib rasanya membaca status status terbaru kontak kita, wajib rasanya bersegera mengecek dan menjawab notifikasi yang ada di medsos kita, dsb.

Belum lagi godaan godaan lainnya, dari satu medsos ke medsos lain, dari satu chat ke chat lain, dari satu notifikasi ke notifikasi lain, tanpa henti ….

Pernah ada yang ngerasain hal yang sama ?

Ngapain Aja Silence Time Itu ?

Nyambung sama bahasan diatas, saya sedang belajar untuk tidak menjadi manusia yang terus menerus “Outside In” tapi menjadi manusia yang “Inside Out” meluangkan diri untuk lebih berfikir mendalam,  banyak bercakap cakap dengan diri sendiri, membuat perencanaan perencanaan jangka panjang, mengevaluasi diri, membaca buku, merenungi ayat ayat suci, dan hal hal mendalam lainnya.

Atau memperuntukan  “Silence Time”  itu untuk berbicara mendalam, meluangkan waktu, pikiran dan hati untuk keluarga kita, orang orang yang benar benar di depan mata kita, tanpa gangguan notifikasi, chat grup, atau semacamnya yang tidak akan pernah ada habisnya. Benar benar ada untuk mereka, orang orang terdekat kita.

Bahkan, bisanya saya meluangan beberapa hari (Minimal satu hari penuh) untuk melakukan “Puasa Internet” going outside, jalan jalan keliling kota, berbicara dengan orang orang baru, melihat hal hal lebih dalam yang selama ini luput dari pandangan kita

 

Sudah Disiplin Dengan “Silence Time” nya ?

Nah itu dia sedikit berbagi tentang “Silence Time” yang saya lakukan. Masih suka tergoda ? Tentunya, godaan selalu ada, dan masih kadang melakukan “cheating” hhaa… Tidak mudah mendisiplinkan diri di tengah derasnya arus informasi dan eksistensi diri, apalagi bila tanpa me-regulasi diri.

Namun, sekali lagi. Dalam hal ini, setiap orang sebaiknya punya “Self Regulation” yang sesuai dan dibutuhkan oleh masing masing individu, yang tentunya berbeda satu dan yang lainnya

Yang jelas, bijak bermedos sangat sangat dibutuhkan -dengan cara masing masing- jangan sampai menjadi manusia yang “Outside In” lupa untuk berusaha menjadi manusia yang “Inside Out” dan menjadi manusia yang menjadi korban informasi, tidak mampu berpikir mendalam, menjadi tidak produktif, habis masa sia sia tanpa karya dan amalan berguna.

How About You ? Do You Have Your Silence Time ?

Sharing dong … 🙂

Bandung, 18 Juni 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s