Keresahan Tentang Masa Depan

Siang ini ketika mengemudi mobil, Saya kembali bercakap cakap dengan diri -bermonlog- seperti biasa. pikiran saya mengembara akan banyak yang sedang dialami. Episode episode yang datang silih berganti. Terkadang terhampar kebahagian, ketenangan, keyakinan bahwa semuanya akan baik baik aja. Tidak lama kemudian berganti dengan resah gelisah, khawatir, was was, perasaan berat, dan semacamnya.

Lalu, kemudian hati dan fikiran kembali bercakap cakap, barangkali berdiskusi, mengapa ada resah akan sesuatu yang belum terjadi, mengapa diri ini begitu sibuk mereka mereka apa yang akan terjadi nanti, menerka nerka tentang kehilangan, menerka nerka tentang apa yang mungkin dimiliki dan apa yang mungkin tidak akan termiliki.

“Resah Akan Masa Depan …”

Barangkali saya sedang lupa, atau mungkin sebenarnya tahu ; tapi tidak benar benar mengerti, tidak benar benar meyakini hingga urat nadi. Tidak benar benar tertanam hingga saraf terdalam, tidak tersambung kuat dalam sinaps pikiran, bahwa ada DIA yang Maha mengatur segalanya, bahwa DIA yang memiliki serta mengatur segala, dari susunan atom terkecil hingga susunan alam semesta, dari semua yang bisa kita raba, hingga tak terjangkau oleh panca indra.

Barangkali saya sedang melupa, bahwa hidup ini tidak murni dalam genggaman tangan kita. Atas segala usaha ada ketentuannya yang sudah ia tetapkan untuk Kita hamba-Nya. Menjalankan kalimat “Tugas kita berusaha, Allah yang tentukan akhirnya…” memang tidak semudah pengucapannya. Memahami kalimat “Skenario hidup dari Allah lebih indah, daripada perencanaan & cita cita hidup kita” tidak segampang yang dikira.

Satu waktu kita menjadi lurus, tenang & bijaksana

Satu waktu kita menjadi bingung, resah & tak tentu arah

Barangkali disitulah tugas kita sebagai manusia, saat dalam tak tentu arah, kembali “meng-adjust” hati & pikiran, tentang keyakinan bahwa kepada Allah lah semata hidup ini kita titipkan, kepada Allah sematalah hidup ini kita pasrahkan.

Menghimpun Keping Keping Hati

Hari ini hanya ingin menulis berbagai rasa yang terhimpun di hati akhir-akhir ini. Hanya ingin menyimpan rapi episode kehidupan yang seringkali tidak terbaca arahnya, tidak tertebak ujiannya, tidak bisa terkira plot twist-nya.

Benar rupanya, kita tidak bisa memilih apa ujian yang datang, kita hanya bisa memprediksi barangkali, itupun bisa jadi meleset sama sekali.

Benar adanya, ujian perasaan seringkali datang dari orang-orang terdekat, orang-orang yang kita sayang, orang-orang yang kita cintai. Ia yang kita bayangkan bisa merangkai cita masa depan bersama, mereka yang padanya kita menaruh percaya.

Sepertinya sudah sunantullah, bahwa kita akan diuji oleh orang yang kita cintai, orang-orang yang dekat dalam jiwa juga selalu ada dalam doa-doa kita. Karena rasanya berat, sangat berat. Barangkali disanalah ujiannya.

Diuji oleh orang-orang terdekat pada akhirnya adalah ujian tentang siapakah yang lebih kita cintai, manusia atau pencipta kita, Allah Swt. Apakah berbagai tekad kebaikan yang kita lakukan hanya sebatas karena keinginan ambisi dalam diri, karena keseruan persahabatan, atau karena Allah Swt. Apakah kau akan bertahan, terus berjalan saat kau kehilangan.

“Takdir Allah terlalu baik untuk kita curigai” -tiba-tiba melintas perkataan seorang Ustadz di sebuah podcast saat saya menulis ini- ahh ini bukan sebuah kebetulan bukan…?

Sepertinya di balik patah hati, luka, dan kecewa. Allah sedang membuat “settingan hidup” yang lebih baik lagi, bagi diri yang tengah rapuh ini, juga bagi sesiapa yang ada, pernah ada, dan akan datang di dalam episode hidup kita.

Lalu kita memang butuh waktu untuk mencerna, menerima, menyikapi, mengikhlaskan & Ridha tentang apa yang terjadi. Tidak mudah memang, tapi mari kita memohon kepada Allah segala kekuatan untuk kemudian kembali berjalan.

Mari menutup mata, menerima segala rasa; luka, kecewa, bahkan cinta. Larutkan itu semua dalam sebuah doa yang dilangitkan oleh Nabi Ibrahim:

رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ

‘Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang salih.’ (QS. Ash-Shu’ara [26]: 83).

Kemenangan

Ah, benar saja, Allah tidak akan pernah membiarkan kita merasa sendiri. Saat kita mencari, IA akan menghampiri …

Dan, saat beberapa hari ini saya sedang merasa melayang layang, kebingungan, serasa tak berarah, gamang akan langkah, resah akan masa depan dan berbagai rasa lainnya, entah mengapa malam tadi, saat membuka Al Quran, Allah menghantarkan saya kepada surat ini, Al Fath

1. Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.

2. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus,

3. Dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).

4. Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana;

5. Agar Dia masukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan Dia akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu menurut Allah suatu keuntungan yang besar,

Tetiba saja hati saya menghangat, serasa ada yang memeluk erat, seraya berkata ” Tenang, semua akan baik baik saja ….”

Setiap ayat, bahkan setiap kata serupa jawaban bagi segala tanya yang tengah melingkar lingkar di pikiran saya

Setiap ayat, bahkan setiap kata serupa penggenap rasa, yang sedang menyelimuti jiwa saya

Setiap ayat, bahkan setiap kata serupa ruang yang tidak lagi hampa, berganti dengan ruang yang penuh dengan asa

Terimakasih ya Allah ….

Bismillah ….

Terimakasih Ramadhan

So, this is it … Berpisah kita disini rupanya. Banyak yang aku rasakan selama sebulan kebersamaan. Rasanya sangat banyak yang ingin kuungkapkan

Terimakasih untuk suasana syahdu yang kau persembahkan

Terimakasih telah membersamai dalam riuh dan diam

Terimakasih untuk membuatku mau tegak terjaga dalam malam malam, rela terlarut hanyut dalam ayat ayat suci Nya

Terimakasih telah membantuku lebih memaknai sabar dan kesyukuran

Terimaksih telah membantuku, berpikir dan menjiwa dalam dalam

Terimakasih telah membantuku lebih mengerti tentang penerimaan

Terimakasih telah membantuku yakin atas doa doa dan harapan

Terimaksih telah membantuku, meyakini kemana arah jalan kehidupan

Terimakasih telah membantuku, lebih dekat , mengenal, dan menginternalisasi akan Ke Maha Besaran-Nya. Bahwa pada-Nya lah kehidupan ini semua akan bermuara. Ini yang utama

Ya, DIA. Pencipta kau juga aku

Ramadhan,
Walau aku sadar, kau masih banyak ku sia siakan. Masih terperangkap dalam kemalasan dan kelalaian, melakukan banyak pembenaraan

Ramadhan,
Terimakasih yaa, sebulan ini adalah saat yang sangat berharga. Klise barangkali. Tapi kuharap, bisa berjumpa dengan mu di kemudian hari

Dan di hari perjumpaan itu, aku ingin kau melihatku menjadi manusia yang jauh lebih Taqwa di hadapan Pencipta Kita, ALLAH Azza Wa Zalla, dan siap kembali menerima “tempaan” mu di waktu selanjutnya

Ramadhan, sekali lagi terimakasih yaa… See you, when I see you

Life Is About Adjusment

Karena apa yang terjadi dalam hidup, terkadang -bahkan sering kali- tidak sesuai dengan yang kita harapkan, apa yang kita citakan. Juga apa yang berjalan kadang tidak seperti apa yang kita telah dengan baik kita rencanakan, serapih apapun itu, sematang apa pun itu.

Saat kita mempunyai sebuah cita dan niat baik, yang kemudian apa yang terjadi tidak sesuai harapan dan perencanaan, maka mungkin ini tentang tiga hal ; Pertama, tentang seberapa teguh kita mempunyai keinginan ; Kedua, mungkin ini tentang bagaimana kita bisa menyikapi dan beradaptasi atas kondisi yang ada ; Ketiga, mungkin ini tentang keduanya, tentang meneguhkan hati dan bisa beradaptasi menyesuaikan diri dengan kondisi nyata yang ada. Life Is About Adjusment

Cita yang baik dan tinggi, kadang nggak mudah begitu saja mudah teraih, dan terlaksana. Dalam perjalannya akan menemu hambatan, rintangan, percabangan, jalan jalan yang memudar, atau bahkan seakan jalan yang buntu. Mungkin disinilah titik uji, apakah itikad kita seteguh cita kita. Apakah segala sulit dan halangan akan membuat kita balik kanan, berpulang, dan membatalkan impian. Ini tentang yang Pertama

Kedua, ini tentang bagaimana kita bisa menyikapi atas hal yang tidak sesuai harapan. Satu waktu mungkin kita begitu teguh bahwa semua hal yang telah terencana, pasti akan nyata. Namun, ada kala kita peka bahwa ada sesuatu hal yang dirubah, kita perlu melakukan banyak penyesuaian, entah itu merubah cara, mencari alternatif usaha, atau bahkan memilih jalan yang berbeda. Karena kadang kita menutup mata akan realitas. Memilih berbelok arah, atau sejenak berhenti berjalan, belajar untuk menerima, bahwa kita harus beradaptasi dengan kondisi yang ada. Tidak memaksakan diri.

Kemudian, yang Ketiga, adalah perpaduan keduanya. Saat sesuatu tidak sesuai dengan keinginan, cita, harapan dan perencanaan. Kita tidak menghentikan impian kita, tak begitu saja menghapus cita kita, tak mudah begitu saja menghentikan langkah dan berbalik arah, melambai tangan dan kembali pulang.

Namun kita tetap teguh menggenggam segala cita kita, tetap memeluknya dalam jiwa kita, sembari tetap berlapang dada ketika segala sesuatu tidak selancar yang kita duga, tidak secepat yang kita harap. Berlapang dada berarti mau untuk berkawan dengan realitas, menerimanya dengan jiwa yang luas, fikiran yang ikhlas. Untuk kemudian mencari cara yang bijak, agar kita mampu menyikapi realitas adalah sebuah cara kita untuk belajar, belajar cerdas, belajar sabar, belajar bijak, belajar berteguh, belajar yakin atas cita, impian, dan niat baik kita.

Life Is About Adjusment, Be Wise

Fn : Salam hangat dari kota Bandung, yang tiba tiba dianugrahi hujan di waktu yang hampir tengah malam.

Kamis, 19 April 2018

11.34 Pm

 

 

 

 

[ Kita Tak Punya Banyak Waktu ]

Waktu itu bergerak
Waktu itu berdetak
Waktu itu berpendar

Dimanakah jiwa kita ketika waktu merangkak bergerak

Dimanakah akal kita ketika waktu tersentak berdetak

Dimanakah hati kita ketika waktu memudar berpendar

Telahkah kita jauh melangkah, atau kita hanya berputar putar saja.

Telahkah kita banyak berbuat, atau kita hanya jalan jalan di tempat saja.

Telahkah kita benar beramal, atau kah hanya sebatas prasangka belaka saja.

Telahkah kita benar mengguna waktu, saat beribu detak waktu telah berlalu.

Kita tak punya banyak waktu
Kita tak punya banyak waktu

Ya…
Kita tak punya banyak waktu

 

time

Pas Butuhnya Aja [ Bagian 1 ]

” Ah … dia mah datang pas butuhnya aja ”  mungkin kalimat itu pernah terucap dari bibir kita atau setidaknya pernah terlintas dalam hati kita, ketika ada seorang teman yang kita merasakan melupa kita, ketika dia suka, atau ketika ia telah berjaya.

Padahal ketika dia merana, dia selalu ingin bersama kita. Berwaktu waktu ia mengampiri kita, bercerita segala cemas, berupa gundah gulana, berbagai luka dan duka, dan kita selalu menyetia ada untuk nya.

Namun setelah badai yang ia rasakan telah berlalu, ia pun juga berlalu, melupa. Ia tak lagi menyapa kita, bahkan tak mau tau dengan hidup kita, diam, tak peduli dan menyibuk dengan dunia nya. Luka ia bagi dengan kita, namun ketika bahagia atau suka, ia rasa tak pantas untuk berbagi dengan kita, dia telah dengan dunianya …

****

Mungkin ini dirasakan oleh beberapa diantara kita, ketika seorang teman berlalu dengan mudah nya. Saat duka dia ingin kita ada, namun saat suka diapun entah kemana, sudah menemukan dunia barunya, lupa dengan siapa dia pernah melalui badai dalam hidupnya.

Saya pernah merasakannya. Ini yang dinamakan pamrih barangkali. Kita menghitung hitung “kebaikan” yang telah kita lakukan kepada orang lain, atau mungkin kita hanya merasa telah berbuat baik. Yang kemudian kita merasa berhak “menutut” ia membalas apa yang telah kita lakukan terhadapnya dengan sepadan.

Kemudian, saya coba melihat kedalam diri lebih dalam lagi, kenapa saya sampai merasa seperti itu, seharusnya ikhlas saja, terhadap apa yang telah kita usahakan untuknya, walaupun balasannya justru berbeda. Jangan jangan saya pun begitu, namun saya tidak menyadarinya.

Atau saya menjadi manusia yang penuh “pamrih”, membisakan diri menghitung hitung kebaikan dan jasa yang telah kita perbuat, sehingga ketika balasan adalah sebaliknya, maka hati kita menjadi sempit.

Padahal sejatinya kebaikan itu akan kembali kepada kita sendiri, dalam berbagai bentuk, entah ia membalas yang serupa atau tidak. Jangan jangan ketika menghitung, mengingat dan menuntut di balas dengan yang sepadan, justru  nilai kebaikan yang pernah kita lakukan menjadi lebur, tak berbekas apa apa untuk kita, dan kita merugi tak mendapat kebaikan dan nilai apa apa.

Manusiawi ? ya memang bisa dibilang sangat manusiwi, karena kita mempunyai berbagai emosi dan reaksi. Namun semoga kita bisa tak berhenti dan menggantungkan diri dari kata “manusiawi”.

Kita harus menguasahakan yang lebih dari itu, memberikan kebaikan kemudian melupakannya. Karena hidup yang sedang kita jalani sekarang ini, pasti ada peran kebaikan orang lain yang bisa jadi tak kita ingat atau kita tau tapi kita lupakan.

Dan yang terpenting yang harus kita garis bawahi, bahwa kebaikan yang mampu kita lakukan adalah atas izin-Nya,  Jadi kenapa kita harus merasa berbalas …

To Be Continued …

 

 

 

 

 

Mengukur Kehidupan Orang Lain

Dalam keseharian, tanpa disadari kita seringkali memberikan ukuran dan penilaian pada kehidupan orang lain menggunakan ukuran atau standart yang dibuat berdasarkan “ukuran” hidup kita.

Misalnya ada kawan, saudara, kerabat yang kita nilai salah satu bagian hidup nya ada di posisi di “bawah” kita. Dan karena merasa poisisi kita “diatas” dia, maka dengan mudahnya kita  memberikan penilaian, mengomentari, menyalah nyalahi akan kehidupannya saat ini.

Ke-superior-an, kesuksesan, keberhasilan kita saat ini, level hidup yang dirasa leboh baik, dijadikan alasan untuk pantas mengomentari, menilai, mengukur, menstandari tentang kehidupan orang lain di bawah kita.

 ” Harusnya dia beginilah, harusnya dia begitulah, salah dia sih begini, salah dia sih begitu,  ko dia ga belajar ya, ya dia sekarang kaya gini soalnya dia begitu, katanya pengen maju tapi kerjaannya begitu, dia ga maju maju karena begini begitu, dsb …”

Kemudian bersambung kita membandingkan dengan apa yang telah kita kerjakan dan apa yang telah kita capai

” Harusnya kaya saya nih, tuh kan lihat saya, udah punya ini, udah punya itu, bisa ini – bisa itu, kaya saya dong begini , dsb …”

Kata kata yang mungkin walau tidak terucapkan, tapi terbersit dalam hati kita ketika melihat, kawan, saudara, rekan kita yang kehidupannya sedang ada di “bawah” kita. Kita begitu pandai “menangkap” kondisi orang lain, dan kemudian membuat standar standar ukuran, berdasarkan standar hidup kita.

Salah ? Entahlah, tapi tidak bijak sepertinya. Karena setiap orang memiliki jalur sendiri akan hidupnya, jalan hidup setiap orang tidak ada yang sama, cerita tak akan da yang serupa. Setiap orang pada akhirnya akan menemukan titik balik, titik sukses, titik kehidupan dengan caranya masing masing.

Bila kita sudah dalam tahap baik, tahap keberhasilan, tahap kesuksesan, maka tidak elok rasanya mengomentari dan menertawai mereka yang sedang bergelut mencari titik berhasilnya, titik sukesnya, sedang berpayah payah menyusun hidupnya.

Lebih bijak rasanya, bila posisi berhasil kita saat ini adalah sebagai sumber kebaikan, sumber inspirasi, menjadi kawan setia bagi mereka yang masih berjuang, masih berusaha keras, masih berikhitar dalam kehidupannya. Karena kita tidak pernah tau sejauh mana, sekeras apa dia berjuang dalam hidupnya, karena yang kita lihat seringkali hanya permukaannya saja.

Ini bukan tentang pepatah “roda kehidupan berputar” atau “uruslah hidupmu saja”, tapi tentang bagaimana melembutkan hati, tentang berempati kepada kehidupan orang lain, tentang belajar pada kehidpan dan menyadari bahwa sukses, sejahtera, dan posisi kita saat ini, semata mata bukan hanya hasil kerja keras kita, tapi ada Izin-Nya di dalamnya.

Maka Lembutkanlah Hatimu …

 

 

 

Fn : Sebuah nasihat diri akan rasa jumawa yang kadang tak terasa

 

 

Mengapa Takut Menua

Pagi ini saya saya mandi dan siap siap bekerja, merapihkan diri di depan kaca, kemudian tanpa sengaja, pandangan saya tertuju pada ujung mata, pada garis garis halus yang kadang terlihat jelas kadang samar, hati saya berbisik   “ahh, mulai ada kerutan …” .

Tak henti disitu, jari jari ini  mencari cari lagi sudut lain lebih seksama, ahh rupanya ada beberapa titik hitam di wajah, tipis memang, namun bila dilihat lebih dekat itu ada.  “Ah bintik hitam, saya akan terlihat tua “ si hati tiba tiba berteriak dalam hati.

Kemudian terjadi dialog dalam hati : “ Duhh, cream anti aging yang bagus apa yaa …” tiba tiba hati ini merasa panik, hanya karena melihat garis halus dan titik titik hitam di wajah.

 


 

Otak saya kemudian sibuk mengingat ingat krim anti aging, yang kata iklan bisa membuat 5 -10 tahun  lebih muda, lebih segar, dan menjadi lebih percaya diri.

Saat fikiran  sibuk memilih mana krim anti aging yang paling baik, tetiba suara lain dalam hati dia “ Kenapa begitu takut menua, mengapa sebegitunya, mengapa begitu  resah dengan hal permukaan itu ” kata sang suara hati

Ya ini kan untuk perawatan, perempuan itu butuh perawatan, tak salah kan ingin terlihat lebih muda ” begitu kata suara hati yang lain

Entahlah, semacam kau terlalu berlebihan. Mengapa kau begitu takut terlihat tua ? ” lanjutnya lagi


 

Kemudian dialog dalam hati itu terus berlanjut dalam hati dan fikiran saya, ya kenapa kita begitu takut terlihat tua -mungkin banyak kaum hawa juga yang merasakannya – , padahal menua adalah sebuah proses alami, sebuah hukum Tuhan, sebuah siklus waktu yang setiap manusia jalani, mau tidak mau, suka tidak suka. Dengan segala konsukensi fisik dan psikisnya.

Menua raga, menua usia, kadang menjadi kekhawatiran, ketakutan, dan keadaan yang kita hindari atau ingin kita samarkan. Seakan muda adalah segalanya, seakan muda atau terlihat muda adalah sebuah keharusan, dan kesenangan tersendiri.

Menua kadang kita sikapi hanya dengan mencari penyamarannya, dengan berbagai cara, dengan berbagai usaha, dari yang wajar, dengan menyamarkan penampilan, menyamarkan garis dan kerutan, hingga ada yang melakukannya dengan cara yang berlebihan, oprasi, seolah menjadi terlihat tua adalah sebuah cela atau kesalahan.

Padahal mungkin garis dan kerutan itu adalah semacam peringatan, peringatan akan tahun tahun hidup yang telah kita habiskan, tentang waktu yang telah kita pergunakan, tentang apa yang telah kita lakukan, tentang apa yang belum kita lakukan, tentang kesempatan yang tersisa.

Ahh.. akhirnya saya terdiam sebentar, mencoba untuk menyelami lebih dalam, mencari tau apa yang saya inginkan sebenarnya, apa yang di niatkan sesungguhnya. Akhirnya saya belajar untuk berusaha “meluruskan”sebuah niat, bahwa apa yang dikenakan, apa yg di pakai, bukan tentang menentang sebuah proses alami, hukum Tuhan, bukan tentang ingin terlihat selalu muda, bukan hanya sekedar ingin terlihat oleh orang lain, namun semoga selalu di beri kekuatan dalam menyadari bahwa hal itu dilakukan sebagai bagian dari mensyukuri apa yang Ia titipkan kepada kita, anugrah jiwa dan raga.

Semoga ….

 

 

 

 

Kisah Si Rok Mini

Sore itu  saya berada di sebuah gedung perkantoran, dan sudah tiba waktunya untuk shalat Ashar. Saya pun mencari tempat Wudhu dan Mushola.

Saat akan berwudhu, saya berpapasan dengan seorang wanita pertengahan usia,yang memakai baju yang menurut saya cukup tidak pantas untuk usianya, dia memakai setelan warna merah, dengan rok diatas lutut. Kemudian hati saya spontan berkata ” Ih … ga tau malu, sudah tua masih memakai baju yang mini ”  dan saya pun sedikit membuang muka kepadanya.

Kemudian saya  melaksanakan shalat Ashar 4 Rakaat. Disamping saya sudah  ada seorang wanita yang telah duluan melaksanakan shalat.

Setelah shalat, perempuan itu tidak langsung pergi, ia kemudian membuka tas nya, dan mengambil sebuah buku kecil, sepintas saya lihat itu seperti buku doa, karena ada huruf arab dan terjemahannya. Dia begitu khusuk membaca doa doa yang di buku itu dengan pelan dan khusuk.

Setelah beberapa lama, ia kemudian membuka mukenanya, dan ternyata perempuan yang bersebelahan shalat dengan saya adalah perempuan tadi yang berpapasan ketika saya akan wudhu, si rok mini. Lalu saya bertanya padanya “ lagi baca apa bu ? ” dia menjawab ” ini mba, lg baca al mansturat, dzikir sore … saya sedang belajar rutin membacanya, biar hati tenang

Masya Allah … seketika hati saya langsung terasa jatuh, malu. Malu pada si rok mini, malu pada diri sendiri, malu kepada Nya. Begitu mudah hati ini menilai apa yang nampak pada mata, dan merasa kita lebih baik dari orang lain yang belum sama seperti kita.

Padahal kita tidak tau, dibalik kekurangan seseorang, kita tidak tau kebaikan apa yang ia sembunyikan, dan justru kebaikan itu yang Allah suka darinya.

Ini bukan tentang rok mini yang ia pakai, ini tentang hati yang suka merasa JUMAWA atas apa apa yang kita kenakan, apa yang telah kita kerjakan, apa yang kita tampakan.