Book Insight | The Subtle Art Of Not Giving F*** (Mark Manson)

Ini buku yang lagi nge hits katanya…

Pas awal ketemu buku ini, ga tau bahwa buku ini lagi ngehits. Saya tertarik dengan buku ini pertama kali, karena melihat warna nya yang sangat “eye catching”  kemudian berlanjut kepada judulnya yang sungguh tidak biasa …

Iseng baca beberapa halaman awal, dan ga nyangka buku ini membuat saya ketawa ketawa sendiri, karena kalimat dalam buku ini yang kocak, satir, menampar, menusuk jleb,  tanpa basa basi. Dan kemudian dalam hati berkata : ” iya bener banget…!!”

Kemudian memutuskan untuk mendahulukan buku ini untuk dibaca


 

Buku ini memang beda. Beda dengan buku buku self help, motivasi, atau buku buku inspirasi lainnya. Bedanya apa ? Beda bahasa tuturnya, beda sudut pandang pemikirannya, beda alur penyampaiannya, beda dari ia membuat kita tersadar…

Kalau biasanya buku buku yang kebanyakan itu diumpakan menasehati dengan cara lembut, membelai, memberikan langsung tips tips berfikir positif dan optimisme, bisa ! bisa ! bisa !

Buku ini berbeda. Buku ini tidak membelai belai, tapi menyadarkan dengan cara menampar, menyadarkan kita bagai sedang tidur lalu di guyur air, kaget tapi langsung siuman

 

8a6f76d7-26b8-4de6-b4ca-e8e1b3eda24a

Nah setalah beres baca, bisanya saya akan “mengikat makna” atas beberapa insight yang saya pribadi dapatkan setelah membaca buku ini, dengan cara menuliskannya kembali dengan versi saya, penyerapan saya, bahasa saya. Mengikat Makna, adalah sebuah usaha agar apa yang telah dibaca, tidak berlalu begitu saja

Agar apa ? agar insight, pelajaran, nilai nilai yang saya dapatkan setelah membaca buku tersebut akan lebih terekam dan tercerna baik dalam ingatan kita, dan kita akan bisa lebih mudah -saat itu nilai nilai baik yang kita yakini – maka kita akan lebih mudah menerapkannya dalam hidup kita.

 


 

Apa Standar Kebahagian Dan Kesuksesan

Seringkali kita membuat standar dan kebahagian dan kesuksesan dengan barometer yang ditentukan atas kebahagian dan kesuksesan yang tampak pada orang lain. Kita menjadi cemas ketika melihat orang lain terlihat bahagia dan sukses. Apalagi dengan penggunaan media sosial, dimana setiap orang berusaha menunjukan sisi bahagia dan sukses nya, dan efeknya kita terobsesi untuk terlihat sukses pula.

Keinginan kita untuk menjadi sukses, kadang kala bukan untuk pemenuhan jiwa kita, atau keinginan murni kita. Karena kita berusaha untuk bersaing dengan orang lain, berusaha untuk menyamai orang lain, dan menampakannya kepada khalayak, seperti yang orang lain lakukan juga, jadi semacam virus yang menular. Apalagi dengan pengaruh media sosial, yang orang seakan akan berlomba lomba “memperlihatkan” kesuksesannya …

Dan kemudian apabila standar ini yang di gunakan -Standar sukses orang lain, standar sukses yang digencarkan media-, maka kita akan menjadi sangat terobsesi dan frustasi.

Karena selayaknya kita smempunyai standar dan definisi bahagia dan sukses kita masing masing, dengan nilai nilai yang kita yakini dan dengan kemampuan, potensi yang kita miliki

Haruskah Selalu Berfikir Positif ?

Nah ini yang menarik dalam buku ini, tentang berfikir positif. Saat ini gaung BERFIKIR POSITIF sangat di gencarkan dimana mana. Acara TV, buku buku motivasi, training training yang ada, hampir semua membahas mengenai bagaimana berfikir positif, bagaimana bertingkah positif, dan senantiasa mensikapi semua dengan postitif secara instan.

Pikiran, perasaan, pengalaman negatif seolah olah hal yang mutlak salah. Dan harus segera diganti dengan pikiran dan perasaan negatif. Jarang yang mengajari kita untuk  mengakui terlabih dahulu bahwa pikiran dan perasaan yang negatif itu nyata dan ada.

Padahal sebenarnya, pengalaman dan fikiran  yang negatif sangat sering juga kita alami. Namun seringkali kita dipaksa untuk menyangkalnya karena saat ini dimana mana kita seolah dicekoki untuk berfikir positif. Tanpa mengajarkan bagaimana menjadikan hal negatif menjadi sesuatu yang bisa menjadi jalan untuk kita untuk bertumbuh.

Rasa Sakit

Ada quote yang menarik dari buku ini tentang rasa sakit

“Rasa sakit merupakan sebuah tenunan yang mengagumkan yang membentuk kain kehidupan”

Rasa sakit seringkali kita hindari, diantarnya : ketakutan akan kegagalan, khawatir akan penolakan, lelahnya bersusah payah, jatuh bangun perjuangan,  bayangan ditertawakan, disepelekan, dsb.

Padahal rasa sakit adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Kita jadi hanya bergumul pada ketakutan ketakutan yang kita bayangkan, kita tidak siap dengan resikonya, resiko berjuang, resiko bercita cita, resiko menjalankan yang kita inginkan.

Terhadap rasa sakit, hadapilah …!!

Ketika Sesuatu Tidak Sesuai Keinginan

Tidak semua hal memang akan berjalan dengan sesuai dengan keinginan kita, ada yang sebaliknya malah, berbeda 180 derajat. Walau sedalam apapun kita telah berusaha dan berfikir positif, ketika itu memang mesti terjadi, maka terjadilah.

Akuilah bahwa itu adalah kenyataannya, bagian dari kehidupan. Ketika sudah bisa sadar menerimanya, tidak menjadikan hal tersebut seolah olah ketidakadilan, something personal, kemudian menyalahkan diri terlalu dalam, hingga berbuah keputusasaan. Ini adalah sebuah bagian dari kehidupan. Tidak semua akan terjadi sesuai dengan keinginan kita

Kebahagian Adalah Ketika Kita Berhasil Mengatasi Sebuah Masalah

Kebahagian bukan semacam pemberian yang instan, otomatis terjadi. Kebahagian adalah hal yang perlu diusahakan, seperti masalah yang harus dipecahkan. Kebahagian tidak datang tiba tiba, semacam hadiah dari langit, yang tiba ada di depan mata kita tiba tiba. Dengan macam cara, perlu ada kesungguhan  kita untuk mengusahakannya.

Dan seringkali kebahagian justru muncul ketika masalah muncul. Maksudnya ?

Ya, salah satu faktor yang membuat kita bahagia adalah, ketika kita telah berhasil mengatasi sebuah masalah. Bahagia datang ketika kita telah bersusah payah mengusahakan sesuatu. Bahagia tercipta ketika kita telah berhasil melewati badai masalah dalam kehidupan kita, mengatasi pergumulan batin dalam jiwa kita. Bukan begitu ?

Definisi Kesuksesan & Kebahagian

Pertanyaannya bukan tentang “Ingin Menjadi Apa” atau “Ingin Memiliki & Menikmati Apa”, namun pertanyaannya : “Rasa sakit apa yang mampu Kita hadapi”. Pertanyaan yang terakhir ini cukup jleb buat saya. Karena terkadang dalam mencita citakan sesuatu, kita menjadi terlena dengan hasil yang kira kira di dapat. Membayangkan kenyamanan, kelimpahan, ketenaran barangkali, dan hal hal yang nikmat nikmat saja …

Kita menjadi lupa, bahwa di jalan yang kita cita cita kan itu, kita akan bertemu dengan banyak penderitaan, kesusah payahan, penolakan, jatuh bangun, sakit hati, kegagalan, dsb. Kita kadang “menolak” membayangkan atau lebih tepatnya kita lupa mempersiapkan diri kita untuk hal ini.

Bila kita sudah siap bertemu  dengan hal hal yang “tidak enak” diatas  di jalur apapun yang kita pilih, mau menjalaninya, mau berkubang dengan nya, mau berlekat lekat dengannya, maka bisa jadi jalan yang memang jalan kesuksesan kita.

Maka, pilihlah bidang dan jalur hidup, yang kamu benar benar mau berjuang di dalamnya, menikmati setiap proses jatuh bangunnya, menikmati setiap proses jerih payahnya. Jalur hidup dimana kamu menikmati perjuangannya, bukan sekedar membayangkan kemenangannya.

Kepercayaan Diri Semu

Terlalu terlena dengan persepsi diri bahwa kita adalah orang yang istimewa, unik, dan berbeda, membuat kita terkadang merasa tidak perlu berjuang keras dengan cita cita kita. Terlena ini karena apa ? mungkin bisa jadi karena selama ini kita banyak mengikuti seminar seminar tentang bagaimana meraih mimpi dan semacamnya. Kita terus diberikan input bahwa kita adalah orang hebat, luar biasa, istimewa, kita bisa meraih apa saja yang kita inginkan, semacam buaian buaian impian …

Tidak salah sih..namun memang kebanyakan seminar seminar semacam itu kadang terasa hanya menunjukan kepada kita hasil hasil yang mungkin di dapatkan, seraya membanjir kita dengan rasa percaya diri yang tinggi bahwa kita bisa meraihnya. Namun proses perjuangan, susah payah, jatuh  bangun nya jarang sekali di bawa ke permukaan.

Karena mungkin hal tersebut dianggap negatif atau menakut nakuti. Padahal hal tersebut adalah sesuatu realitas yang bakal kita hadapi dijalur apapun kita memilih berjuang.

Hingga akibatnya, kita terbuai dalam rasa percaya diri yang semu, euforia kemampuan diri yang sementara, seiriing dengan berjalan nya waktu kita kembali lagi ke habitat semula, takut untuk berjuang …

Sedih yaa..

#JlebSekaliIni

Mengakui Kelemahan Diri

Berfikir postif bukan berarti kita harus selalu berada di posisi positif. Ketika kita mempunyai sifat negatif atau sedang dalam posisi yang tidak ideal, maka tak mengapa, akui terlebih dahulu, akan kelemahan dan sisi sisi negatif diri kita.

Karena, menyadari dan mengakui bahwa ada sisi negatif dan kurang baik dalam diri kita adalah awal untuk kita menjadi manusia yang lebih baik, manusia yang mau bertumbuh.

Anti- Istimewa

Obsesi untuk menjadi istimewa kadang menjadi salah arah, menjadi orang yang rata rata seakan menjadi sesuatu hal yang memalukan, kita seakan dituntut untuk menjadi paling unggul, paling istimewa. Apalagi saat kita “dicekoki” pernyataan pernyatan : “Anda adalah pribadi yang istimewa, Anda hebat, anda bisa meraih apapun yang Anda impikan”

Salah ? Tidak juga. Yang salah ketika kita menjadi terlena dengan pernyataannya, kita telan bulat bulat. Seakan akan merasa istimewa dan berfikir istimewa menjadikan kita otomatis istimewa. Namun seringkali rasa istimewa itu hanya ada di fikiran kita saja, tidak terbukti dalam kehidupan nyata. Kita hanya istimewa dalam fikiran kita saja.

Karena ternyata banyak orang yang sukses dan berhasil di bidangnya , bukan karena mereka merasa istimewa, tapi mereka adalah orang orang yang menyadari bahwa mereka manusia biasa biasa saja, dengan segala kekurangannya, namun mereka sangat sungguh sungguh dengan apa yang sedang di perjuangkannya, senantiasa belajar, senantiasa memperbaiki diri.

Ahh…jleb banget pas bahasan ini ….

Kepastian Adalah Musuh Pertumbuhan

Tidak ada yang pasti sebelum semuanya terjadi.  Ini berarti bukan berarti kita tidak punya keyakinan. Tapi ini adalah sebuah anjuran antisipasi, anjuran untuk senantiasa belajar, senantiasa memperbaiki diri, senantiasa berbenah, senantiasa menggali, senantisa bertanya.

Karena ketika kita sudah merasa pasti, kita kadang menjadi pasive, dan hanya diam terpaku, menjadi terlalu percaya diri, bahwa semuanya adalah benar, dan semuanya akan berjalan sesuai dengan yang kita inginkan.

Menyadari dan mengakui bahwa akan banyak ketidakpastian dan ketidaktahuan di dunia ini, akan mendorong kita untuk belajar, ketika belajar kita akan terus terbuka dan bertumbuh.Teruslah mencari, sampai kepastian yang kita nanti benar benar terjadi

Perbaikan Diri Untuk Siapa ?

Salah satu hal yang menjadi kita salah arah ketika memperbaiki diri, mengembangkan diri, adalah “Untuk siapa perbaikan diri itu dilakukan? “. Banyak dari kita yang melakukan hal diatas untuk memuaskan orang lain, untuk lebih disukai, untuk lebih di kagumi, dsb

Padahal perbaikan diri adalah untuk diri sendiri, untuk menjadi pribadi yang lebih berkualitas dengan ukuran kita sendiri, untuk pemenuhan jiwa kita pribadi, bukan untuk orang lain. Ketika kita melakukan nya untuk “dilihat” dunia, maka rasa akan takut gagal akan lebih besar. Hingga kita akan lebih berat untuk melangkah.

Wahhh panjang juga yaaaa…hhaa


 

Nah itu beberapa insight yang saya dapat dari buku ini, beberapa (banyak sebenarnya) hal yang jleb jleb bangetttt buat saya …. hhe

Jadi buku ini bukan ngajarin kita untuk ga peduli apa apa, bukan untuk menjadi pribadi yang bodo amat akan semua hal. Justu buku ini ngajak kita untuk memilah mana yang harus kita fikirkan, dan mana yang bodo amat ! Tak usah kita pikirkan.

Sebenarnya buku nya menurut saya lebih dalam dari sekedar tentang bodo amat sih …

Baca buku ini semacam dibangunkan dari alam impian, disadarkan dengan cara disiram air. Woiii…sadar woiii …. !! Mengagetkan, tapi otomatis membuat kita benar benar terbangun !

Baca deh bukunya, semoga nanti akan mendapatkan hal yang JlEB JLEB JLEB ! Tepat masuk ke jantung kita. Kita merasa tertampar, tersadar. Memang kadang kenyataan harus kita terima dengan cara yang tidak nyaman, tapi setelah itu kita tau bahwa ada yang tidak benar dengan persepsi kita, dan kita mencari tahu bagaimana memperbaikinya …

Alhamdulillah ….Terimakasih Ya Allah atas ilmu, atas penyadaran yang saya sudah dapat, yang jalannya melalui tulisan Mark Manson ini …

Ayo segera baca bukunya, dan rasakan bagaimana rasanya tertampar dan tersadar! hhee…

Happy Reading !!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s