Terimakasih Ramadhan

So, this is it … Berpisah kita disini rupanya. Banyak yang aku rasakan selama sebulan kebersamaan. Rasanya sangat banyak yang ingin kuungkapkan

Terimakasih untuk suasana syahdu yang kau persembahkan

Terimakasih telah membersamai dalam riuh dan diam

Terimakasih untuk membuatku mau tegak terjaga dalam malam malam, rela terlarut hanyut dalam ayat ayat suci Nya

Terimakasih telah membantuku lebih memaknai sabar dan kesyukuran

Terimaksih telah membantuku, berpikir dan menjiwa dalam dalam

Terimakasih telah membantuku lebih mengerti tentang penerimaan

Terimakasih telah membantuku yakin atas doa doa dan harapan

Terimaksih telah membantuku, meyakini kemana arah jalan kehidupan

Terimakasih telah membantuku, lebih dekat , mengenal, dan menginternalisasi akan Ke Maha Besaran-Nya. Bahwa pada-Nya lah kehidupan ini semua akan bermuara. Ini yang utama

Ya, DIA. Pencipta kau juga aku

Ramadhan,
Walau aku sadar, kau masih banyak ku sia siakan. Masih terperangkap dalam kemalasan dan kelalaian, melakukan banyak pembenaraan

Ramadhan,
Terimakasih yaa, sebulan ini adalah saat yang sangat berharga. Klise barangkali. Tapi kuharap, bisa berjumpa dengan mu di kemudian hari

Dan di hari perjumpaan itu, aku ingin kau melihatku menjadi manusia yang jauh lebih Taqwa di hadapan Pencipta Kita, ALLAH Azza Wa Zalla, dan siap kembali menerima “tempaan” mu di waktu selanjutnya

Ramadhan, sekali lagi terimakasih yaa… See you, when I see you

Kenapa Sih Mesti Jauh Jauh Ke NTT ?

Masih banyak orang yang bertanya atau mungkin berkomentar “Kenapa sih, jauh jauh ke NTT buat bangunin sekolah? disini juga masih banyak yang mesti dibantu !”

Jadi memang selama beberapa tahun terakhir, saya banyak melakukan berbagai kegiatan sosial pendidikan di wilayah NTT, tepatnya dari tahun 2013. Tentunya bukan saya sendirian, saya bersama tergabung dalam tim Kebukit Indonesia memang lebih sering berkegiatan disana. FYI saya dan rata rata teman Kebukit Indonesia tinggal di Bandung, Jawa Barat

Ketika mendapat komentar seperti diatas biasanya saya jawab kurang lebih seperti ini : ” Apakah kita harus menunggu Jawa Barat beres permaslahannya, baru kita perhatikan saudara saudara kita yang ada di Timur sana”

Tentunya kami memutuskan untuk berfokus untuk berkegiatan disana bukan tanpa alasan. Awal 2012 kami kesana, banyak hal yang akhirnya kami “capture” disana, dan kami memutuskan untuk mulai berkegiatan sosial pendidikan disana, hingga sekarang.

Lalu bila ada yg bertanya atau berkomentar seperti ini : “ Kan harus bantu yang terdekat dulu ! “, Saya hanya bisa tersenyum dan menjawab seperti ini : “Kenapa, Anda tidak mulai membantu saudara2 kita yang dekat?” hhe… agak keras memang jawabannya, namun ini tidak se pragmatis yang dikira

Benar adanya kita perlu membantu yang dekat, tapi bukan berarti kita mengabaikan yang jauh. Ketika yang jarak nya jauh dari kita itu, memang lebih prioritas, urgent, untuk segera di bantu. Rasa rasanya tidak bijak juga ketika kita menunggu -misalnya-Pulau Jawa beres dulu permasalahannya, baru kita bantu saudara saudara kita yang jauh di sana.

Jadi, bukan tentang jauh dan dekatnya. Ini tentang visi, tentang misi, tentang keterpanggilan, tentang “STRONG WHY” dimana dan dengan siapa kita mengukir karya Peradaban. Pada akhirnya, memang kita butuh banyak orang yang mau peduli, peduli atas keaddan negri ini, yang tidak hanya berhenti dalam fase prihatin, berkomentar, namun kemudian berlalu begitu saja.

Karena kepedulian dan kebaikan yang kita lakukan sekecil apapun kita merasa, Insya Alah akan sangat bermanfaat untuk saudara saudara kita yang membutuhkan. Jadi mulai lah kita sama sama berkarya dengan mata, telinga, hati dan nalar yang terus terbuka. Melihat apa yang bisa kita lakukan untuk saudara saudra kita, mengajak orang lain untuk berbuat yang sama, agar Indonesia lebih berdaya.

Ini dokumentasi waktu akan meresmikan sekolah di Pulau Pangabatang, ceritanya nanti saya sambung yaa … 😃

Oh ya, tentang sekolah apa yang sedang kami bangun, ada di sini : Bangun Sekolah NTT

Do You Listening ?

Saat ngajar saya tidak terlalu suka mengajar dengan teori di awal, namun lebih suka mengajak para mahasiswa untuk melihat realita, mensimulasikannya, untuk kemudian menyimpulkannya dalam sebuah definisi teori

Seperti pekan ini, tema nya adalah tentang “Active Listening” saya mengajak mereka untuk langsung praktek bagaimana mendengarkan yang baik, benar dan produktif. Secara berpasangan mereka saling bergantian untuk mendengarkan cerita kawan bicaranya dengan seksama

Skill mendengarkan jarang diajarkan memang, kita lebih banyak mengutamakan skill berbicara. Training, motivasi, workshop pun kebanyakan membahas tentang public speaking, rasa rasanya belum pernah saya temukan tentang public listening.

Tak heran banyak orang yang lebih ingin didengar daripada mendengar. Tak heran kita sering kali tergoda untuk memotong , menyela, mengintrupsi pembicaraan. Padahal lawan bicara belum selesai menyampaikan maksudnya. Kita ingin buru buru menyampaikan apa yang ada dalam fikiran, dan menggap apa yang akan dikatakan oleh lawan bicara adalah suatu hal yang tidak penting.

Padahal skill mendengarkan ini adalah modal untuk kita dalam berhubungan baik, solid, dan produktif dengan orang lain. Kita akan malas bila berhadapan dengan orang yang tidak mau mendengarkan, tidak mau menyimak, mengabaikan kita.

Oh ya ada hal lain yang tak kalah penting dalam hal “mendengarkan”, yaitu menangkap makna yang ada dibalik rangkaian kata. Menangkap apa pikiran, perasaan, emosi, harapan yang tidak terungkapkan langsung oleh lawan bicara kita.

Karena seringakali pikiran dan perasaan yang sesungguhnya oleh lawan bicara kita tidak terungkap secara langsung. Hanya tersirat. Menjadi pendengar yang baik adalah, bisa peka terhadap akan pikiran, perasaan, dan emosi yang tersembunyi itu.

Dalam prakteknya dengan para Mahasiswa. Setelah mereka saling bergantian mendengarkan, saya meminta beberapa anak untuk maju kedepan, untuk menceritakan ulang apa yang telah mereka dengar, kemudian menangkap pikiran, perasaan, emosi yang tersirat yang, dalam proses mendengarkan tersebut

Less talk – Listen more adalah sebuah proses untuk mengasah rasa empati kita terhadap orang lain. Less talk-listen more membuat diri kita lebih peka, lebih peduli, lebih menghargai, lebih bisa bijak dalam menghadapi sesuatu.

So, Do You Listening ?

Mengenal Diri & Memahami Orang Lain

Foto Edited In Canva

Salah satu manfaat dari TM (Talent Mapping) yang saya rasakan secara pribadi adalah ; saya bisa lebih mengenali diri sendiri, sekaligus lebih bisa belajar bijak dalam memahami orang lain. Sebelumnya saya masih sedikit sukar ketika memahami diri sendiri, dan juga memahami orang lain
Kenapa ya saya begini, kenapa ya saya begitu… Kenapa saya begitu menikmati melakukan sebuah hal, namun tersiksa untuk melakukan hal lainnya … Kenapa di sebuah hal saya begitu mudah dan mengalir, di lain hal saya begitu berat untuk menjalankannya … Kenapa dia begini, kenapa dia begitu … Saya aja bisa, kenapa dia ga bisa seperti saya … Harusnya dia bisa seperti saya …
Awalnya saya kira ini tentang kemampuan atau ketidakmampuan semata. Kemauan atau ketidakmauan semata. Namun ketika saya belajar ilmunya, saya kini lebih mengerti bahwa memang manusia itu berbeda beda. Berbeda beda dalam hal potensi keunggulannya. Itu sebabnya ada orang yang sangat unggul dalam suatu bidang, dan lemah dibidang lainnya. Itu sebabnya ada yang bisa kita lakukan, dan orang lain tidak bisa, begitu juga sebaliknya. Jadi ini bukan perkara bisa – tidak bisa, mampu – tidak mampu, mau – tidak mau. Pandangan dan pemahaman kita harus lebih bisa diluaskan dari sekedar menilai hal yang permukaan saja Kadang kita “menuntut” diri kita agar serba bisa. Agar kita mampu bisa melakukan banyak hal. Atau kita pun menuntut orang lain agar bisa sama dengan kita, dengan pembawaan kita, dengan karakter kita, dengan kemampuan kita. Bila kita mampu dalam suatu bidang, maka kita pun menuntut orang untuk sama dengan kita. Pun sebaliknya, ketika orang lain mampu, kita pun menuntut kita bisa sama Padahal bukankah tersurat dalam Al Quran pun bahwa pembawaan manusia berbeda beda, fitrah potensi setiap orang berbeda pula :

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا

Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya ” (QS Al-Isra 84) SYAKILAH di ayat diatas di beberapa pembahasan tafsir, dimaknai sebagai pembawaan, potensi, keunggulan. Dan pada setiap manusia, Allah berikan pembawaan nya masing masing, berbeda satu antar satu yang lainnya. Unik, Spesifik. Saya lalu berifikir … kenapa ya Allah menciptakan manusia berbeda beda ? Lalu saya teringat, sebuah ayat Al Quran tentang manusia yang diciptakan berbeda beda :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13)

Perbedaan ini juga barangkali bukan tentang perbedaan fisik, perbedaan tempat, suku, warna kulit, dsb. Namun tentang perbedaan sifat, karakter, pembawaan, potensi dan keunggulan. Perbedaan ini pun tentang perbedaaan peran yang nantinya akan diambil oleh setiap orang. Balik lagi ke pertanyaan saya tadi, kenapa ya Allah menciptkan manusia berbeda beda ? Barangkali salah satu alasan nya adalah agar manusia bisa saling melengkapi, saling bersinergi, saling menggenapkan, satu dengan lainnya. Agar manusia bisa hidup dalam hidup bersosial, berjamaah. Tidak ada manusia yang bisa melakukan segala hal, pintar dalam segala hal. Seseorang yang mahir dalam suatu bidang ia lemah dalam hal lainnya. Karena bila manusia menjadi serba bisa, menjadi “SUPERMAN” mungkin kita tidak bisa berjamaah dalam kehidupan ini, karena setiap orang merasa mampu melakukan segalanya sendirian. ____ Nah ketika saya mulai belajar untuk memahami tentang ini lebih dalam, saya  memahami bahwa ada hal yang saya mampu lakukan dan mana yang tidak mampu saya lakukan. Balajar untuk tahu apa sifat keunggulan saya, dan apa sisi kelemahan saya, untuk kemudian  menggali dan memaksimalkan keunggulan saya, dan mensiasati kelemahan saya. Pun dengan ketika bergaul dalam orang lain, baik dalam lingkaran keluarga, organisasi, dsb. Saya semakin mengerti bahwa, kita tidak bisa dengan mudah menilai, men-judge, seseorang karena kita membuat penilaian kepada orang lain sesuai dengan standar diri kita. Padahal tidak segampang itu. Dunia tidak bisa kita nilai sesuai dengan persepsi atau standar kita semata. Kita harus lebih bijak. Bijak untuk mau belajar, bijak untuk mau memahami diri kita. Apa yang jadi keunggulan kita, apa yang menjadi kelemahan kita. Kemudian bijak mengakui keunggulan orang lain, dan menerima apa kelemahannya. Memilih untuk justru fokus kepada keunggulan diri kita, bukan berlelah lelah berusaha menghebatkan kelemahan kita. Seperti elang, yang fokus pada belajar terbang, ketimbang belajar berenang.
Memaksimakan Zona Keunggulan Kita, Mensiasati Zona Kelemahan Kita
Dalam konteks hidup berjamaah, kelemahan kita akan diisi oleh keunggulan orang lain. begitu pun sebaliknya, keunggulan kita adalah pelengkap untuk pengisi kelemahan orang lain. Saling menguatkan, saling menggenapkan, saling bersinergi untuk kebaikan, untuk produktifitas, untuk kebermanfaatan yang lebih besar dan luas. Dan kemudian, PR selanjutnya adalah bagaimana cara kita menganali diri dan memahami orang lain …

Bersambung …

Yuks Cari Tahu Bakat, Keunggulan & Keunikan Dirimu : Test Talents Mapping : https://bit.ly/TMNURISKA Test Talents Mapping + Konsultasi : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

Bangun Sekolah NTT

Bangun sekolah NTT adalah sebuah program pendidikan yang saya dan teman teman Kebukit Indonesia.  Program yang bertujuan untuk membantu memajukan pendidikan di Indonesia Timur, khususnya di NTT.

Program ini diawali dengan pendirian sebuah sekolah di Pulau terpencil di Kepulauan Flores, bernama Pulau Pangabatang. Disini sudah ada Sekolah Dasar dengan kurang lebih berisi 40 siswa.

Namun, bangunan yang mereka punyai masih sangat dari kata layak. Bangunan sekolah yang hanya berupa dua ruangan sempit, beralasakan pasir, berdinding bambu, beratap seng. Bangku bangku pun sangat apa adanya. Jangan ditanya apakah mereka mempunyai buku pelajaran yang layak, alat tulis yang memadai, dsb. Sebuah fasilitas pendidikan yang jauh dari kata ideal.

Namun, kami melihat perjuangan mereka untuk pendidikan sangatlah besar. Contohnya, karena ruang kelas yang terbatas, siswa kelas 5 dan kelas 6, mereka harus menyebrang lautan untuk bisa bersekolah di Pulau sebelah. Atau pilihan lainnya adalah, diusia sekecil itu, mereka harus “indekost” atau menumpang tinggal di rumah warga di Pulau sebrang.

Bayangkan, anak sekolah dasar yang masih kecil, harus rela berjauh jauhan dengan orang tua nya, agar mereka bisa menuntut ilmu. Hal ini lah yang membuat kami tergerak untuk membantu mereka, untuk mempunyai bangunan sekolah yang lebih layak. Agar mereka tidak perlu lagi kepanasan, kehujuan saat sekolah. Agar mereka tidak perlu berdesak desakan lagi di dalam kelas. Agar mereka tidak perlu lagi menyebrang lautan di usia sekecil agar bisa bersekolah.

 

 

Semangat mereka lah, kesungguhan mereka lah yang menjadi energi bagi kami tim Kebukit Indonesia untuk membantu mereka, ikut menjadi bagian dari perjuangan mereka.

Bismillahirrahmanirrahiim …

Ini adalah modal kami, modal utama kami untuk bergerak, memberitahukan, mengajak, menghimpun berbagai support dan bantuan dari banyak orang. Karena kami tidak mampu bila mengerjakan ini sendirian …

 

 

Cara Sukses Vs Jalan Sukses

kemana Selama ini kita banyak sekali mendapat masukan, arahan, motivasi tentang bagaimana caranya meraih sukses. Banyak sekali buku, seminar, nasihat baik dari orangtua kita, kawan kita, para motivator, dan para orang orang yang sudah dinilai sukses. Saya termasuk orang yang senang belajar, senang mendengarkan, senang membaca. Apalagi tentang orang orang yang sudah sukses di bidang nya masing masing. Mendengarkan tentang bagaiamana perjalanan hidup mereka, bagaimana cara mereka meraih sukses, dsb.
Bagaimana cara meraih sukses !
Ini adalah mungkin adalah salah satu kalimat yang sangat banyak di cari, banyak ditanyakan, banyak didiskusikan, banyak dirumuskan, banyak diformulakan … Berlomba orang mencari jawaban atas pertanyaan ini. Bagaimanakah CARA nya, menjadi sukses … Namun benarkah untuk menjadi SUKSES, yang perlu kita cari tahu adalah hanya tentang CARA nya ?Hingga kita terlupa tentang unsur penting lainnya tentang kesuksesan, yaitu tentang :
Bagaimana Memilih Jalan Sukses
Ah ini dia !! Saya sangat tertohok dengan sebuah pertanyaan seorang teman : ” Kenapa kita selalu fokus dengan cara cara meraih sukses. Pertanyaan yang sebenarnya perlu kita cari jawabannya adalah : apakah benar ini jalan sukses kita ? “ Atau pertanyaan lainnya adalah : ” Sudah benarkah jalan ini yang akan ku tempuh untuk meraih kesuksesan ….” ” Di jalan yang manakah aku akan memperoleh kesuksesan …. “ ” Bagaimanakah aku yakin, bahwa ini adalah jalan aku memperoleh kesuksesan …” Barangkali pertanyaan pertanyaan ini yang masih jarang kita dialogkan dengan diri kita sendiri. Kita begitu terlarut dengan cara cara yang kadang terlalu “tekhnis” dalam mencapai kesuksesan. Kita terlarut dalam CARA. Kemudian melupakan hal lain yang lebih utama, yaitu mengetahui DIMANAKAH JALAN KESUKESAN kita …

Bersambung ….

kemana Test & Konsultasi Potensi, Bakat & Keunikan Diri : Test Talents Mapping : https://bit.ly/TMNURISKA Test Talents Mapping + Konsultasi : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

Goes To NTT ( lagi )

Kayanya NTT bakalan jadi kampung kedua saya nih, hhe.. hampir setiap tahun di takdirkan Allah ke pulau yang dulunya saya tidak pernah bayangkan sama sekali akan sering di kunjungi.

Akhir April ini saya kembali ke Pulau nan eksotik ini. Dalam rangka peresmian sekolah yang sedang saya bangun dengan teman teman Kebukit Indonesia dalam program “Bangun Sekolah NTT”

Jadi program “Bangun Sekolah NTT” ini adalah program pendidikan, dimana kami ingin membantu masyarakat NTT untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik, lebih layak, lebih berkualitas. Baik dari insfrasuktur maupun dari pengembangan sumber daya manusia nya.

Alhamdulillah, walau dengan perjuangan yang tidak mudah, akhirnya terbangun satu sekolah, di senbuah pulau terpencil bernama Pulau Pangabatang.

Banyak cerita, banyak pelajaran, banyak hikmah yang saya (kami) dapatkan dalam perjalanan kali ini. Bismilllah. Semoga di Ramadhan ini bisa baik terceritakan …

Tunggu ceritanya yaa…

Belajar Tentang Kehidupan Di Kampus

Pekan ini jadwal saya masuk kampus lagi. Dapat tugas untuk mengajar tentang materi “Active Learning” di mata kuliah Pengembangan Kepribadian. Sebenarnya, materi  materi berupa slide show, sudah diberikan dari pihak kampus, namun saya pribadi lebih senang mengajar dengan cara dua arah, engan cara diskusi atau praktek.

Karena, selain agar perkuliahan tidak membosankan, saat ini bukan saatnya lagi materi perkuliahan itu satu arah, terpaku pada teori. Di tingkatan mahasiswa, yang mereka butuhkan selain knowladge, adalah bagaimana mereka punya karakter dan personal skill bisa menerapkan ilmu mereka dalam kehidupan nyata.

Maka, kuliah pekan ini saya isi dengan menonton film “Facing The Giant”. sebuah film yang sangat inspiratif. Tentunya film yang diputar hanya part yang dibutuhkan nya saja. Sekitar tujuh menit para mahasiswa diberikan kesempatan untuk menonton film tersebut, selanjutnya secara berkelompok, mereka diminta untuk menganalisis film tersebut, mengexplore masing masing karater, dan mencari tahu hikmah atau pelajaran yang mereka dapatkan dari film tersebut

img_20190425_1111341295293534.jpg

Proses belajar mengajar dengan seperti ini, bagi saya pribadi sangat menyenangkan. Kelas menjadi hidup, para mahasiswa diasah kemampuan berfikir kritis nya, kemampuan analisisnya, kemampuan berkomunikasinya, sekaligus kreatifitasnya.

Ketika menonton, mereka dilatih untuk menyimak film dengan seksama, mengaktifkan penglihatan dan pendengaran mereka. kemudian masing masing mengambil nilai, pelajaran,  kesimpulan yang mereka dapatkan. Setelah itu mereka belajar untuk berkomunikasi dalam forum diskusi. Menyampaikan pemikiran, gagasan, secara verbal dan tulisan.

Sehingga proses belajar, baik itu melihat, mendengar, menyampaikan secara lisan dan tulisan, semua bisa terjadi. Watching, Listening, Speaking And Writing.

Selain itu kita memberikan insight bahwa mereka bisa belajar dari apa saja, salah satu nya dari sebuah film. Belajar bisa melalui hal yang mengasikan. Kuncinya adalah memilih source yang tepat. Seperti saat mereka belajar dari sebuah film, sebenarnya kita sedang mengajarkan tentang nilai nilai kehidupan yang sebenarnya mereka butuhkan.

Sayangnya saat ini, lembaga lembaga pendidikan bahkan setaraf sekolah tinggi atau universitas, masih mengutamakan hal hal kognitif saja. Urusan moral, nilai kehidupan, kemampuan problem solving, daya juang, life skill, seolah olah bukan “urusan” kami, para mahasiswa dinilai sudah bisa mencari cari sendiri, padahal sehari hari mereka banyak menghabiskan waktu di dunia kampus, dunia perkuliahan.

Padahal bila kampus ingin menghasilkan manusia manusia berkualitas baik secara soft skill, pengembangan diri, penajaman karater, kemampuan problem solving, dan nilai nilai kehidupan seperti ini seharusnya menjadi “ranah” tanggung jawab  mereka. Tidak melulu berkutat di area area nilai akademis

Seperti di SMA dulu, kita ada  mata pelajaran bimbingan konseling, maka sebenarnya di kampus pun mata kuliah seperti ini masih sangat dibutuhkan. Kerena mahasiswa butuh hal yang lain diluar dari mata kuliah kognitif. Sayangnya tidak semua kampus menyadari hal ini, perkuliahan jadi sangat kering dengan niali nilai moral dan penanaman nilai nila kehidupan.

Maka, saya bersyukur bisa hadir dan menjadi bagian di salah satu sekolah tinggi di Kota Bandung ini, yang progam studi nya menghadirkan satu mata kuliah khusus, yaitu mata kuliah “Pengembangan Kepribadian”, untuk membantu para mahasiswa nya belajar tentang life skill, juga nilai nilai kehidupan, yang kelak akan mereka butuhkan saat ini dan juga kelak di kehidupan nyata.

Memastikan Jati Diri

TM2

FotoBy : Dandi Birdy

Pekan lalu, dua hari berturut turut, saya mengikuti sebuah training  bertema “Talent Mapping”, sebuah training tentang bagaimana kita mencari tahu, apa sebenarnya yang menjadi bakat kita, berdasarkan sifat alami kita, berdasarkan fitrah kita. Kalau teman teman yang bergerak di bidang pengembangan diri, human resource, pastinya sudah banyak tahu mengenai metode talent mapping ini,  dengan founder  bernama Abah Rama. Bagi saya training ini sangat banyak membantu saya, dalam “mendefinisikan” diri saya, tentang karakter, sifat, pembawaan yang selama ini memang sudah ada dalam diri saya, namun masih belum mengerti, belum saya sadari bahwa itu adalah potensi diri, dan bahwa sebenarnya sifat sifat khas yang sudah ada itu adalah modal utama dalam kehidupan saya. Training ini juga makin menyadarkan saya, tentang bagaimana menentukan bidang apa yang memang sesuai dengan sifat khas yang sudah ada dalam diri saya. Karena kadang kita salah jalan dalam kehidupan ini, salah dalam memilih bidang yang sebenarnya “bertentangan” dengan pembawaan kita. Karena sejatinya, manusia sudah mempunyai “benih” yang sudah Allah sertakan dalam kelahiran kita. Namun sayangnya, masih banyak dari kita -mungkin termasuk saya didalamnya- salah atau kurang tepat dalam memilih tanah untuk menanam benih itu. Sehingga benih yang seharusnya menjadi pohon besar yang mempunyai akar yang kuat, batang yang kokoh, ranting yang baik, buah yang lebat, dedaunan yang meneduhkan sesiapa yang ada di bawahnya, namun  ia  tumbuh dengan seadanya, tidak maksimal, tidak sesuai dengan planning Penciptanya. Akarnya tidak kuat, batangnya lemah, ranting nya rapuh, jarang berbuah, dan tidak meneduhkan. Karena kita sebagai “tukang kebun” tidak pandai atau salah memilih dimana benih yang sudah kita punya seharusnya ditanam, kita telah salah memperlakukan benih kita. Maka mencari tahu apa jenis “benih” atau dalam bahasa lain “potensi bakat sifat” yang kita miliki sangat penting, hingga kita tidak salah memilih di mana kita akan memilih jalan kehidupan, bidang apa yang kita pilih, peran apa yang kita akan jalankan dalam hidup ini. Ada sebuah Quote yang sangat mengena bagi saya, yaitu :
Kita  sangat sering diajarkan tentang bagaimana CARA meraih kesuksesan, tapi kita jarang membahas bagaimana memilih JALAN yang tepat untuk memilih kesuksesan
Ah sebenarnya masih banyak yang ingin dibahas, semoga ditulisan selanjutnya yaa…. ^^ Yuks Cari Tahu Bakat, Keunggulan & Keunikan Dirimu : Test Talents Mapping : https://bit.ly/TMNURISKA Test Talents Mapping + Konsultasi : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

” Mobile Lagend ” Untuk Kemajuan Anak Bangsa … ?

games online

Anak-anak bermain game online di sebuah warnet. – Ilustrasi/indigos.com

 

Sebenarnya saya cukup menahan nahan untuk tidak membahas ini -di masa tenang- dalam pemilu ini. Tapi sebenarnya ini bukan hanya tentang keberpihakan saya kepada seorang kandidit presiden, tentang di kubu mana saya berada, namun ini tentang seorang pemimpin yang bernarasi tentang masa depan bangsanya.

Rasanya saya tidak perlu lagi membahas tentang bahanya games online bagi manusia, terutama anak anak. Sudah banyak pihak, yang memaparkan bahannya kecanduan games online ini. Baik dari sisi pendidikan, kesehatan, emosi, bahkan perkembangan jiwa. http://Kecanduan Games Online Meyebabkan Kerusakan Fungsi Otak

Tak sedikit orang tua yang curhat, mengeluh, resah ketika melihat anak nya kecanduan games online. Tak sedikit mereka kemudian menyesal saat tahu anak nya sudah dalam tahapan kecanduan parah games online, yang kenyataannya banyak merusak banyak sisi kehidupan mereka.

Sedih sekali, ketika seorang kandidat presiden yang juga seorang pemimpin negara, membawa isu ini ke ranah pembahasan program kebangsaan. Alih alih membahas tentang bagaimana menjaga rakyatnya, anak bangsa nya, dari kerusakan yang ditimbulkkan dari games online, malah seakan akan games online atau di “keren” kan dengan istilah e-sport sebagai sebuah program yang prioritas.

Salah kah membuat games online sebagai program besar pemerintah … ?

Dengan kondisi negara kita yang seperti ini, rasanya sangat tidak elok menjadikan games online, sebagai hal yang harus diprioritaskan. Masih banyak sektor lain yang esensial, mendasar, substantif, dibangun di negri ini : pertanian, perikanan, jiwa jiwa kemandiran, wirausaha, pendikan, kesehatan dsb.

Bukan hanya tidak substantif, bila kita menggali lebih dalam kecanduan games online ini bisa membawa mudharat yang sangat banyak, bukan hanya perkara menyia nyiakan waktu, membuat tidak berinteraksi denga lingkungannya, namun lebih jauh ini merusak fungsi otak, merusak fungsi otak depan (pre-frontal cortex), yaitu fungsi otak yang membedakan manusia dengan hewan. Fungsi otak dimana manusia berfikir, dan menjalankan fungsi nya sebagai manusia. Bila fungsi otak itu rusak, apakah jadinya manusia tersebut ?

Maka, berbagai dalih yang mengatakan bahwa potensi income dari games online ini luar biasa, sehingga harus didukung dan dikembangkan. Maka pertanyaan nya adalah, seberapa sanggup kita menanggung jutaan, bahkan puluhan juta, rusaknya  fungsi otak anak bangsa kita, anak anak kita, adik adik kita, para penerus bangsa.

Dimana tanggung jawab kita, dimana kita membiarkan anak anak kita, adik adik kita, yang masa depan nya masih panjang, kemudian kamampun berfikir, kemampuan bernalar tak berfungsi. Apakah pemerintah mau bertanggung jawab ketika hal ini terjadi ?

Maka apabila ada pemimpin Bangsa yang justru mendukung bahkan ingin menjadikan games online ini sebagai sesuatu yang besar, di akses masal generasi muda, bukan nya mencegah, memberi pengertian yang baik tentang akibatnya, membuat regulasi yang baik dan benar menghadapi serbuan games online yang makin banyak.

Akan jadi apakah generasi muda kita ini ?

Ah entahlahh ….

Saya mengerti sekarang, bila dulu ada pribahasa, “Bila ingin merusak sebuah bangsa, maka bakarlah bukunya, jangan biarkan mereka membaca” Sekarang mungkin akan ada tambahan pribahasa : “Bila ingin merusak sebuah Bangsa, maka biarkan anak muda nya kecanduan games online, dan biakan mereka terelana, dirusak secara terencana, tanpa mereka menyadarinya “

Semoga Allah melindungi anak anak kita, adik adik kita, dari program pembodohan yang terencana …

Bandung, 15 April 2019