Masih Ditanya : ” Kapan Nikah ? “

Hey …Hello Apa Kabar ?

Sudah menghabiskan liburan dengan baik dan benar ? hhaa…

Katanya besok sudah masuk kerja lagi ya ? Kalau saya bebas, ga ada jam kantor, tapi kurang lebih merasakan juga aura sekitar yang sebagian masih merasa malas untuk kembali ke meja kerja, dan sebagian sudah kesal katanya diam di rumah saja …

Kamu gimana ? bersenang senangkah di liburan dan lebaran ini ? menikmati susana bersama sama keluarga dan udara desa. Atau banyak “bersembunyi” di balik meja karena harus berhadapan dengan pertanyaan klasik sepanjang masa ;

“Kapan Nikah?”

Tentunya pertanyaan ini berlaku bagi mereka yang menikah, – saya termasuk di dalam nya-. Pertanyaan yang banyak diresahi oleh banyak para single sepertinya. Sebenarnya resahnya  bukan karena apa jawaban atas pertanyaan itu, namun resah akan beribu rasa di balik pertanyaan itu. Benar ?

Karena pertanyaan itu bukan sekedar KAPAN, yang bisa kita jawab dengan ukuran waktu. Misalnya besok, lusa, bulan depan, tanggal sekian, dsb. Namun dibalik pertanyaan “Kapan Nikah” itu biasanya atau sebenarnya mengandung pertanyaan pertanyaan lain, yang si penanya tidak langsung bisa ungkapkan, seperti ” Kamu kok ga nikah nikah sih, sadar usia dong …..”” Nyari yang gimana sih …..”” ihh kamu ga nikah nikah, ga ada yang mau yaa…” dan lain sebagainya…

Kadang pertanyan KAPAN NIKAH adalah pertanyaan basa basi untuk membuka sebuah pembicaraan dengan seorang yang masih sendiri. Yang sepertinya semacam password yang asik untuk membuka pembicaraan (Asik bagi penanya, tak asik bagi yang di beri pertanyaan) …hhaaa

Well … sudah berulang lebaran saya mendapatkan pertanyaan pertanyaan ini. Ada masa di mana pertanyaan ini begitu deras bertubi tubi keluar dari banyak orang, dan ada masa saya begitu terluka mendengarnya, seringkali menghindar, dan begitu kesal kepada mereka yang bertanya …

Ada masa pertanyaan itu meninggalkan luka yang tidak sederhana, apalagi apabila apabila orang orang tertentu yang menanyakannya dengan nada tertentu, dengan ekspresi tertentu …

Namun, ada masa pula, dimana orang orang sudah tidak banyak bertanya tentang KAPAN NIKAH, lebih pada mendoakan dengan do’a yang mendalam. Mungkin mereka sudah mulai lebih bijak untuk tidak bertanya pertanyaan yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban. Karena bila saat nya sudah tiba, mereka akan tahu segera…

Atau mungkin, kita pula yang sudah lebih ikhlas menerima. Menerima bahwa kita belum ditakdirkan bertemu dengan dia, sang sahabat jiwa. Kita yang lebih bijak menghadapi nyata yang ada.

Selama kita tahu, ini bukan tanpa usaha, atau memilih untuk hidup menua bersendiri. Tapi ini semua hanya tentang waktu, waktu ketika DIA berkata : ” Ini waktunya, dan Dia Orangnya “

Jadi, semakin menerima kita atas diri kita. Semakin mudah kita menghadapi segala tanya…

 

Fn : Do’a kan semoga tak lama lagi, Allah mempertemukan saya dengan Dia, pasangan jiwa yang akan menjadi sahabat jiwa hingga syurga, Aamiin ….

R-A-Y-A

34096470_2144744118873711_7030285169135190016_n(1)

 

Selamat Meraya Kemenangan
Selamat Memulai Perubahan
Selamat Memupuk Keyakinan
Selamat Menggamit Harapan
Selamat Menempuh Perjuangan
.
Taqabalallahu Minna Wa Minkum, Siyamanaa Wa Siyamakum
.
Semoga jiwa jiwa kita kembali menemukan fitrah-nya
.
Mohon dimaafkan segala laku, sangka, ucap dan tingkah

 

#LatePost

Ramadhan Ke 11. (Sebuah Monolog Hati Dan Akal)

Ramadhan ke 11 .

Apa yang kau rasa ? Sudahkah kau puas beribadah. Puas menikmati waktu waktu yang begitu berharga, atau kau sia begitu saja…

 

Ramadhan ke 11.

Sudahkah hatimu penuh terisi ? dengan keyakinan yang utuh, dengan harapan yang penuh ….

Ramadhan ke 11.

Sudahkah kau bersungguh ? bersungguh mendekat pada-Nya, menghamba ampunan, menyatakan kesyukuran , mengungkapkan kehendak hati dan fikiran…

Ramadhan ke 11.

Sudahkah kau mencerna makna yang ada di tiap detiknya, atau kau masih biasa biasa saja, tak ada rasa yang istimewa …

Ramadhan ke 11.

Sudahkah kau menemu sebuah tujuan, tujuan kenapa kau bisa bernafas, kenapa kau mampu berjalan, tujuan kenapa kau diciptakan, tujuan kenapa kau dihendaki ada …

Ramadhan ke 11.

Sudahkah kau di sebuah titik temu, bahwa kau ditakdirkan terlahir, membawa sebuah tugas mulia, yang khusus, yang spesifik, sudahkah kau menemunya …

Ramadhan ke 11.

Sudahkah kau mengsungguhi dirimu untuk menjadi manusia yang dikehendaki-Nya, manusia yang mulia yang sesuai dengan standart-Nya….

 

Bandung,

Di 11 hari yang sudah terlalui.

Masih ada waktu,

Mari diri, kita terus mencari, menggali dan menyadari …

 

 

 

 

Ruang

RUANG …
.
Terimakasih, tlah KAU beri sebuah ruang, dimana hanya tentang aku dan KAU
di ruang yang sunyi
.
Ruang yang hanya aku yang bercerita dan KAU mendengar dengan seksama. Ruang dimana seakan kau berkata ” Apa yang kau rasa”
.
Ruang yang syahdu. Ruang dimana KAU bertanya “Apa yang kau minta” katakan saja…
.
Ruang dimana aku apa apa adanya
.
Ruang dimana aku luluh berairmata
.
Ruang dimana aku bebas bercerita apa saja
.
Ruang dimana segala khilaf Dan salah ku kemuka saja
.
Ruang dimana segala pinta adalah wajar saja
.
Ruang dimana serasa aku dan KAU berjarak sejengkal saja
.
Ruang di mana aku sangat bahagia menjadi seorang hamba, karena kau adalah Rabb nya
.
Tiada yang sekuat ENGKAU, tiada yang selembut ENGKAU
.
Tiada pencarian lain setelah ini. Kedamaian ada di sini, di sajadah ini, di saat aku merasa serendah rendahnya dan sepasrah pasrahnya
.
Tiada jarak, tiada jeda, ruang itu bernama Shalat
.
.

Terimakasih yaa Rabb
.
.

All We Are Just “Dust In The Wind”

I close my eyes, only for a moment, and the moment’s gone
All my dreams pass before my eyes, a curiosity
Dust in the wind
All they are is dust in the wind

Same old song, just a drop of water in an endless sea
All we do crumbles to the ground though we refuse to see
Dust in the wind
All we are is dust in the wind

Now, don’t hang on, nothing lasts forever but the earth and sky it slips away

And all your money won’t another minute buy
Dust in the wind
All we are is dust in the wind
All we are is dust in the wind
Dust in the wind
Everything is dust in the wind
Everything is dust in the wind
The wind

Dua hari ini playlist di laptop saya berulang ulang memutar lagu ini, “Dust In The Wind”  yang dinyanyikan oleh Kansas. Perlahan saya lamati artinya, dalem ternyata …

tentang bahwa kita sebenarnya bukan apa apa, bukan sesiapa, tentang kita hanya butiran debu yang di terbangkan angin …

Mungkin ada “Butiran Debu” yang lain yang di nyanyikan oleh salah satu penyanyi Indonesia  yang merasa hancur karena ditinggal sang kekasih. Namun maknanya serasa dangkal bila kita lajukan untuk sesama makhluk, sesama manusia …

Lagu “Dust In The Wind” ini semacam refleksi, bahwa manusia adalah makhluk tak berdaya, tentunya di hadapan-nya, di hadapan Allah Sang Penggenggam hidup kita…

 

“All my dreams pass before my eyes, a curiosity” Manusia selalu punya banyak keinginan, rencana dan impian. Namun pada akhirnya kepada-Nya lah segala ketentuan. Ia lah sebaik baiknya pembuat keputuasan

“just a drop of water in an endless sea”  diri kita hanya setetes air di lautan samudra, kita bukan apa apa. Tak pantas ada jumawa dalam diri kita.

And all your money won’t another minute buy”  Tak bisa kita membeli waktu, menukar satu menit jatah usia kita, walaupun dengan seluruh harta di dunia

.
All we are is dust in the wind
.
.

“All we do crumbles to the ground though we refuse to see” Suatu saat semua akan hancur, berterbangan, suatu kondisi yang kita tak sanggup melihatnya. Hari akhir. Alam raya ini akan hancur bagaikan debu berterbangan …

 

Bukan … lagu ini bukan tentang pesimisme, hingga kita tidak mau berbuat apa apa…

Namun bagi saya lagu ini adalah sebuah ekspresi kesadaran seorang manusia, bahwa dia adalah bukan siapa siapa, dia bagaikan butiran debu yang tertiup angin…

Lalu apakah kuasa sebutir debu yang sedang melayang layang tertiup angin ?

Karena ada DIA yang berkuasa atas jiwanya, ada  DIA yang berkuasa atas segala kejadian, ada DIA yang berkuasa atas segala urusan …

Maka, bila kita bukan apa apa, sadar sepenuhnya bahwa segala urusan kita ada dalam genggamannya, maka mendekatlah pada-Nya, bergantunglah kepada-Nya, percayakan hidup kita Kepada-Nya, yakin lah dengan segala Pengaturan-Nya …

Coz All we are is dust in the wind….

 https://www.youtube.com/watch?v=tH2w6Oxx0kQ
Bandung,
Ramadhan Ke 5

Semoga Hati Hati Kita Semakin Menyadari 

Tentang Seberapa Kuasa Ia

Akan Hidup Kita

Asikkkk…. Ga Ada Sinyal !

Nyambung ama postingin saya kemarin, tentang bagaimana menjadi manusia yang “Present Moment” sebelumnya – yang which is saya juga masih belajar -, beberapa hal yang saya sedang usahakan untuk dilakukan, untuk jadi manusia yang “Present Moment” .

Hal yang biasa saya lakukan, ketika ada sebuah moment yang benar benar saya butuh dan ingin “hadir seutuhnya” adalah dengan mensetting telefon genggam saya dengan off mobile data atau mengatifkan air plane mode.

Misalnya saya sedang berada di alam terbuka, menikmati sebuah bentang alam, atau sedang menikmati sebuah tempat yang baru saya kunjungi, yang suasana nya berbeda, dimana saya benar benar ingin menikmati suasana.

Biasanya saya matikan data atau setting air plane mode, karena saya butuh telefon genggam untuk mengambil beberapa foto atau merekam dengn video. Karena selain ingin benar benar menikmati suasana, karena kadang ada saja rasa tergoda untuk tergesa mengunggah apa yang sedang dinikmati di depan mata.

Atau kalau sedang berbicara dengan seseorang yang ada di hadapan mata, kalau sedang “sadar” tentang pentingnya “present moment” maka telfon genggam saya balikan layar nya, dan dibunyikan hanya untuk panggilan saja. Karena bila tak hanya mata kita yang teralih ketika si layar menyala tapi fikiran kita pun pasti teralihkan. Bener ga ? hhee

Oleh karena itu, konsekusinya beberapa orang suka protes, karena saya bales pesan chat nya lama katanya… hhaaa. Tak apalah, itu sebuah pilihan. Karena sebenarnya kita tahu tentang mana dan kapan pembicaraan yang perlu kita balas segera, atau pembicaraan yang sebenarnya bisa kita tunda. Hanya diri kita yang kadang ga “bijak” untuk mengambil sikap … tak kuasa melayani panggilan si layar persegi itu …

Bahkan, kalau saya sedang mengembara di sebuah daerah -tsahhh bahasanya mengembara- yang disitu tidak ada sinyal, saya senang. Dikala kawan kawan saya mengeluh “duh ga ada sinyal” saya justru bahagia…hhaaa, bisa utuh menikmati apa yang ada di depan mata, benar benar menikmati suasana, berbincang sempurna dengan sesiapun yang ada di hadapan kita, bisa berfikir jernih, bisa mendapatkan ide, bisa merefleksi diri, mendengarkan diri sendiri, tanpa interupsi notifikasi.

Saya bukan orang introvert, yang rada anti dunia maya, malah beberapa kegiatan saya sangat membutuhkan dunia maya, butuh publikasi, butuh berinteraksi dengan orang lain di dunia maya. Namun saya rasa, ada saat kita menjadi manusia yang tidak “dipengaruhi” dengan apa yang ada di alam maya sana, menjadi diri kita sendiri, menikmati detik dan ruang waktu dimana kita berdiri.

Ah udah segitu aja hari ini, besok bila udara masih bisa kita nikmati, kita sambung lagi,

Selamat Menikmati Ramadhan  Ya ,,,

 

 

Menjadi Manusia Yang “Present Moment”

Pernah merasa kondisi seperti ini ; ketika tubuhmu di suatu tempat, namun fikiran mu melayang layang ke ruang lainnya ? Sepertinya setiap kita pernah -atau bahkan sering- mengalaminya, ketik raga, jiwa, dan fikiran tidak bersama.

” Present Moment “ adalah sebuah istilah yang beberapa kali saya dengar akhir akhir ini. lalu saya mencari tentang maksud istilah ini. Kemudian saya tahu, bahwa “Present Moment” adalah sebuah kondisi dimana, raga, jiwa dan hati berada bersama dalam satu waktu, dalam masa sekarang, dalam detik ini dengan sadar. Mungkin mirip mirip dengan fokus, namun menurut saya “Present Moment” jauh dalam dari itu, ia jadi basic nya, sedangkan fokus adalah caranya.

Seperti yang saya bahas diawal, bahwa seringkali kita mengalami ketidaksinkronan, antara raga dan fikiran, entah di sengaja atau tidak, entah disadari atau tidak. Di sadari, maksudnya adalah, kita memang sadar bahwa saat itu jiwa dan raga kita tidak sedang bersama, baik sengaja atau tidak.

Tubuh kita ada di masa kini, tapi fikiran kita terbang melayang mengunjungi dan mengingat masa lalu, atau mencemaskan masa depan, hingga kita tidak menjadi manusia yang utuh. Kondisi ini kadang kita sadari, kemudian kita perbaiki, atau kadang kita biarkan menjadi kebiasaan dan menjadi kan hidup kita tidak mindfullness, utuh, jiwa raga ada bersama, kita tidak menjadi manusia yang benar benar hadir dan hidup di saat sekarang.

Kita tidak benar benar menikmati hidup yang ada di detik ini, sibuk dengan mencemaskan masa depan, atau mengingat ingat peristiwa di masa lalu, entah sekedar mengingatnya atau tengah menyesalinya.

Mungkin dalam keseharian dan fenomena kekinian juga banyak terjadi dalam hal hal yang kelihatannya ringan dan biasa, terjadi seperti ini ; Saat kita sedang bekerja,  namun fikiran kita ada di rumah atau membayangkan liburan ; saat kita sedang liburan,  fikiran kita memikirkan kerjaan ; kita sedang mengerjakan tugas, namun fikiran kita sedang membayangkan bersenang senang. Begitu terus, melingkar lingkar, hidup dalam ketidak utuhan.

Pagi hari kita fikirian kita  melayang jauh ke siang hari, siang hari kita cemas dengan malam hari, malam hari fikiran kita sudah berada di esok hari nya, begitu seterusnya, itu lah yang menyebabkan fikiran mudah lelah.

Apalagi saat ini di dunia yang serba di tekhnologi, kita semakin digiring untuk menjadi manusia yang tidak “utuh” . Raga kita sedang di sebuah ruang bersama manusia manusia di depan mata, namun kita asik tenggelam di layar kotak kaca di genggaman tangan. Niatnya bersama, namun sebenarnya tidak benar bersama. Karena sering kali kita tenggelam di layar itu, untuk hal hal yang tidak begitu penting : scrolling time line, lihat updatean status orang lain, dsb.

Atau misalnya, kita sedang menghadapi sebuah hidangan makanan, kita sibuk ingin mengupdate nya segera ke media sosial, kemudian setelah itu sibuk bulak balik melihat notifikasi berapa orang lain di luar sana, yang me-like, yang berkomentar, sedangkan sebenarnya moment di mana raga ia berada, dia tidak menikmatnya, ia tidak hadir di raga dimana  ia sedang berada saat itu.

Sedang liburan, memikmati  pemandangan alam, alih alih benar benar menikmati pemandangan alam, yang kita lakukan adalah megabadikannya, dan kemudian sesegera mungkin mengunduh nya ke media sosial. Lalu setelah itu mata kita sibuk mengecek lagi lagi berapa yang like, siapa yang komentar… are we really enjoy our beautifullness and joy of moment infront of our eyes ??

Ahhh…. sulit memang menjadi manusia yang “Present Moment” manusia yang sadar, yang hadir secara utuh, karena kadang kita memang sengaja menjadikan kita sendiri manusia yang tidak utuh.

Lalu apa ruginya menjadi manusia yang “tidak utuh” …. ?

Bersambung yaa… hhee

Karena saya juga sedang mencari tahu lebih dalam, dan sedang belajar menjadi manusia yang “Present Moment” , biar hidup dengan lebih sadar,  lebih utuh, lebih mindfullness. Ini tulisan refleksi diri …

Ada yang bisa kasih masukan atau tambahan …. ?

 

 

 

 

Habis Pulang Dari NTT

Jadi, beberapa hari yang lalu, saya dan kawan kawan dari Kebukit Indonesia, baru pulang dari NTT, dalam rangka program #BangunSekolahNTT, tepatnya di Pulau Pangabatang, Maumere Kabupaten Sikka, NTT.

Seminggu kemarin jadi hari hari yang padat untuk banyak hal, seperti untuk persiapan, keberangkatan, pelaksanaan kegiatan, pulang, dan istirahat. hhaa.. sok sibuk bangetttt 

Oleh oleh dari sana apa ?

Ah..banyak hal, nanti saya ceritakan satu satu. Yang jelas saya ga bawa oleh oleh kain tenun, karena ga sempet untuk hunting dan semacamnya. Heu..

Oleh oleh nya cerita aja yaa

Tapi besok aja ceritanya yaa…

Sudah larut

Esok sudah kembali beraktifitas

 

Salam, dari anak anak NTT yang super antusias … 🙂

4f60a356-f51c-4059-952c-42c03cb8b0b2

 

 

Stalking Less – Reading More { Selamat Hari Buku Sedunia }

Wahh… hari ini 23 April yaa … hari buku sedunia.

Lalu bagaimana saya memaknainya ?

Ahh lagi banyak intopeksi ama diri sendiri aja, bahwa kualitas membaca saya masih tidak ideal. Waktu yang sebenarnya bisa dipakai untuk membaca, masih banyak di gunakan untuk hal hal yang “kurang bermanfaat”,

Apalagi di zaman yang serba digital ini, seakan hidup kita berada di bawah kuasa layar persegi panjang, hidup kita tak bisa lepas dari sebentuk layar itu, apa apa menunduk, apa apa di scroll, beberapa detik sekali hidup kita pasti tertuju pada layaritu, seakan semua terpuaskan selama kita berdekat dekat dengan layar itu.

Hampir semua hal saat ini memang bisa kita dapat di layar itu, uruasan pekerjaan, urusan bisnis, membina hubungan, dsb. Namun tak jarang juga, kita tenggelam dalam layar itu untuk hal hal yang tidak penting. Mulai dari buka account account seleb, gosip, berita berita yang tidak ada hubungannya dengan kebaikan kita, masa depan kita, tanggung jawab kita.

Kadang kita berdalih ” ahh… ini kan hiburan aja, sesekali “, tapi sadarkah kita, bahwa sesekali itu, kadang mencuri banyak waktu dan kesempatan kita. ” ahh… 10 menit paling”, kemudian srcoll…scroll.. klik… klik… lihat komentar. Scroll lagi video yang keliatan menarik, lihat video, lihat koment, lihat lagi video yang lain, scroll…scroll…. dan BOOM ! ga kerasa itu sudah menghabiskan 30 menit kita.

Dan itu ga hanya sekali, berkali kali, bila kita mau jujur menghitung, berapa lama waktu yang kita habiskan waktu untuk scroll sesuatu yang unfaedah .  Berapa kali dalam sehari kita menghabisakan 30 menit untuk hal itu dalam sehari ?  Sekali ? Duakali  ? lima kali ? 30 X 5 waktu, berarti kita menghabiskan waktu 150 menit (2 jam lebih) untuk sesuatu hal yang kita pun tidak tau, apakah itu jadi “vitamin” buat jiwa dan nalar kita ? atau hanya jadi kumpulan sampah, tidak membawa kebaikan, malah menjadikan kita manusia yang terlena dan lalai …. duhhh….

Padahal 30 menit itu, bila kita pakai untuk membaca buku. Maka, 30 menit itu bisa menjadi sesuatu hal yang istimewa. 30 menit yang akan bisa menutrisi jiwa kita, menyehatkan nalar kita, menyuburkan taman ilmu diri kita, menggerakan cita dalam diri kita untuk berbuat lebih banyak, memantik kita menjadi manusia yang lebih berkualitas.

Between 30 minute you spend for stalking and 30 minute you spend for reading, its will make a lot of differences

Kalau dahulu layar “penjajah” manusia berupa kotak persegi empat yang ada di ruang tengah rumah. Bisa jadi “penjajah” manusia saat ini, adalah layar persegi yang selalu kita bawa kemana mana, tak bisa kita jauh jauh dari nya, galau sangat apa bila dia jauh, ketinggalan, atau hilang…

Ah,,, sebenarnya ini nasihat kepada diri saya sendiri, yang masih sering Alfa mengatur dan mengendaikan diri, untuk menjadi manusia yang

STALKING LEES

READING MORE

 

Selamat hari buku sedunia, semoga kita bisa memakna aksara yang ada di dunia


 

Life Is About Adjusment

Karena apa yang terjadi dalam hidup, terkadang -bahkan sering kali- tidak sesuai dengan yang kita harapkan, apa yang kita citakan. Juga apa yang berjalan kadang tidak seperti apa yang kita telah dengan baik kita rencanakan, serapih apapun itu, sematang apa pun itu.

Saat kita mempunyai sebuah cita dan niat baik, yang kemudian apa yang terjadi tidak sesuai harapan dan perencanaan, maka mungkin ini tentang tiga hal ; Pertama, tentang seberapa teguh kita mempunyai keinginan ; Kedua, mungkin ini tentang bagaimana kita bisa menyikapi dan beradaptasi atas kondisi yang ada ; Ketiga, mungkin ini tentang keduanya, tentang meneguhkan hati dan bisa beradaptasi menyesuaikan diri dengan kondisi nyata yang ada. Life Is About Adjusment

Cita yang baik dan tinggi, kadang nggak mudah begitu saja mudah teraih, dan terlaksana. Dalam perjalannya akan menemu hambatan, rintangan, percabangan, jalan jalan yang memudar, atau bahkan seakan jalan yang buntu. Mungkin disinilah titik uji, apakah itikad kita seteguh cita kita. Apakah segala sulit dan halangan akan membuat kita balik kanan, berpulang, dan membatalkan impian. Ini tentang yang Pertama

Kedua, ini tentang bagaimana kita bisa menyikapi atas hal yang tidak sesuai harapan. Satu waktu mungkin kita begitu teguh bahwa semua hal yang telah terencana, pasti akan nyata. Namun, ada kala kita peka bahwa ada sesuatu hal yang dirubah, kita perlu melakukan banyak penyesuaian, entah itu merubah cara, mencari alternatif usaha, atau bahkan memilih jalan yang berbeda. Karena kadang kita menutup mata akan realitas. Memilih berbelok arah, atau sejenak berhenti berjalan, belajar untuk menerima, bahwa kita harus beradaptasi dengan kondisi yang ada. Tidak memaksakan diri.

Kemudian, yang Ketiga, adalah perpaduan keduanya. Saat sesuatu tidak sesuai dengan keinginan, cita, harapan dan perencanaan. Kita tidak menghentikan impian kita, tak begitu saja menghapus cita kita, tak mudah begitu saja menghentikan langkah dan berbalik arah, melambai tangan dan kembali pulang.

Namun kita tetap teguh menggenggam segala cita kita, tetap memeluknya dalam jiwa kita, sembari tetap berlapang dada ketika segala sesuatu tidak selancar yang kita duga, tidak secepat yang kita harap. Berlapang dada berarti mau untuk berkawan dengan realitas, menerimanya dengan jiwa yang luas, fikiran yang ikhlas. Untuk kemudian mencari cara yang bijak, agar kita mampu menyikapi realitas adalah sebuah cara kita untuk belajar, belajar cerdas, belajar sabar, belajar bijak, belajar berteguh, belajar yakin atas cita, impian, dan niat baik kita.

Life Is About Adjusment, Be Wise

Fn : Salam hangat dari kota Bandung, yang tiba tiba dianugrahi hujan di waktu yang hampir tengah malam.

Kamis, 19 April 2018

11.34 Pm