Sinkronisasi Do’a

Semua manusia pasti ingin do’a ny terkabul, ingin setiap  harapnya terwujud, semua cita terlaksana. Semua do’a dan segala harap pasti baik, pasti memuliakan. Tak ada manusia yang hidup hati dan akalnya, berharap agar do’a do’a baiknya tidak terkabul. Setiap do’a dan harap pasti ingin terjawab dengan YA !

Namun kadang, lapisan do’a itu tidak kunjung terwujud. Walau telah habis segala jenis barisan doa, dan telah terkuras segala ikhitar usaha dan daya upaya.

Lalu, apa yang salah ?

Mungkin, ini karena kita tidak mengsingkronkan do’a dengan perbuatan kita, menyelaraskan doa dengan hati, jiwa dan raga kita

Maksudnya begini …

Suatu saat kita sedang resah gelisah, karena sebuah permasalahan. Misalnya kita sedang dilanda kesulitan keuangan, masalah pekerjaan, jodoh atau semacamnya. Maka, pasti do’a do’a kita adalah do’a agar memperoleh kelapangan rizki, agar bisa terlepas  diri kita dari beban hutang, agar ditunjukan jalan pekerjaan, agar di datangkan jodoh impian. Rangakaian do’a pun telah lengkap terucapkan, di sujud sujud kita, di waktu waktu mustajab dan sebagainya.

Namun setelah itu, laku kita, tidak mencerminkan do’a kita …

Do’a adalah wujud optimisme kita sebagai manusia, bahwa akan hadir pertolongan dari Nya. Do’a adalah secercah harap, bahwa segela resah akan berakhir, bahwa setelah gelisah akan ada cahaya …

Seharusnya setelah berdo’a itu kita tegap berdiri, yakin bahwa Allah akan mengabulkan do’a kita, Allah akan memberikan jalan jalan peluang rizki, Allah akan memberikan rizki pada saat yang tepat, dan dari arah yang tidak disangka sangka.

Namun sayangnya setelah berdo’a, seringkali kita masih membiarkan hati diliputi resah, fikiran kita masih penuh lara, melayang layang diliputi pesimisme, aura tubuh negatif, lemas, tidak bersemangat, tidak bergairah, down, gloomy, seakan akan do’a do’a itu jauh dari terkabul. Masih saja memelihara gundah gulana.

Walaupun kita berikhitar,  bekerja dengan sekeras kerasanya, tapi ikhitiar itu tidak “lepas”, fikiran kita masih di luputi ketakutan dan keresahan, bahkan muncul pertanyaan, apakah doa saya benar benar akan dikabulkan ?

Padahal, bila kita yakin kepada Pencipta kita – Allah Swt- Sang Pemilik Segalanya, Sang Pengabul Do’a. Maka setelah berdo’a maka hati kita akan tenang, fikiran kita akan jernih, api semangat di jiwa akan membara, wajah kita akan mencerah, tubuh kita akan tegap penuh dengan energi, aura diri positif, wajah bercahaya, karena kita yakin lembaran do’a kita yang telah tersampaikan, dikabulkan.

Mempercayakan Do’a Kita Kepada-Nya, Berbaik Sangka Pada-Nya

Memang tidak mudah, namun  bisa kita usahakan

Mengsinkronkan do’a, berarti meyelaraskan apa isi do’a kita dengan perbuatan kita, dengan laku sehari hari kita, dengan pola pikir kita, dengan cara berjalan kita, dengan cara berbicara kita, dengan lisan kita, dengan optimisme di hati kita.

Bukan hanya tentang mengimbangi nya dengan kerja dan ikhitiar atau semacamnya, tapi bagaimana menyelaraskan Do’a, dengan hati, fikiran dan raga kita.

***

Fn : Sebuah catatan dan nasihat buat diri sendiri, yang terkadang masih tidak “singkron” dalam berdoa. Semoga bermanfaat, Saling mendoakan yaaa...

Selamat Malam,

Salam hangat dari kota Bandung, yang lagi panas

Nuriska

 

 

 

Curhat Produktif

Karena seringkali kita yang butuhkan adalah nasihat yang  didengar dari orang lain. . Kenapa ? karena kita terkadang belum mampu untuk menasehati diri sendiri , kita butuh orang lain.

Seperti tadi sore …

Ketika saya dan sahabat saling mendengarkan tentang apa yang sedang di rasakan oleh masing masing, baik itu permasalahan, keresahan, juga harapan. Dari saling bercerita dan mendengarkan itu, tak terasa sebenarnya kita sedang saling menasehati, saling memberi semangat dan memberi energi.

Ada yang bilang ” Ga usah curhat ama orang, curhat ama Allah saja “ , hal ini tidak berarti kita tak boleh bercerita kepada orang lain, sesama manusia. Memang tempat pertama dan terbaik untuk mengadu adalah kepada-Nya, penggenggam semua hal yang ada. Namun bukan berarti kita tidak membutuhkan manusia, untuk bercerita.

Bercerita pada manusia, menandakan kita manusia yang hidup membutuhkan sesama. Karena ketika kita bercerita kepada dia orang yang tepat, kita akan mendapatkan “sesuatu”, entah itu solusi, cara pandang, atau jalan keluar. Mungkin dia -sahabat kita tempat kita bercerita- adalah jalan dari-Nya atas “curhat” kita yang selama ini langsung kita sampaikan kepada-Nya.

Maka, carilah ia orang yang tepat, untuk berbagi keluh mu, kesah mu, rasa gundah dan kebingunganmu. Orang yang sedikit banyak ia tau tentang dirimu, tau tentang duniamu, dan kau tau saat bercerita padanya, akan ada kebaikan setelahnya. Curhat Produkitf

Bercerita pada orang yang tidak tepat, atau hanya bercerita di media sosial, untuk agar sekedar kau bisa “melepaskan” rasamu memang tidak salah, namun untuk apa ? karena tidak semua orang perlu tau tentang segala rasamu bukan ?

Sembarang mengumbar cerita diri kita pada orang, juga menandakan kita orang yang kurang bisa “melindungi” kehormatan diri kita sendiri. Hargailah diri kita sendiri dengan tidak begitu gampang pada sembarang orang, mengutarakan segala perasaan.

Maka, carilah ia seseorang ketika bercerita padanya, kau mendapatkan kesadaran, penyegaran dan energi kebaikan. Curhat Produkif

Selamat Malam,

Salam Hangat Dari Kota Bandung 🙂

 

 

 

 

 

 

Haruskah Selalu Berfikir Positif ?

Saya terkadang sedikit tidak sefaham dengan orang orang yang selalu mengatakan “sudah lah, berfikir positif saja!”ketika terjadi sesuatu peristiwa atau fenomena. Walaupun peristiwa atau fenomena yang terjadi adalah sesuatu yang buruk atau salah.

IMHO sesuatu yang buruk, harus diterima sebagai hal yang buruk terlebih dahulu. Sesuatu yang tidak benar, harus kita akui sebagai sesuatu hal yang memang salah. Berfikir positif tidak berarti memperkenankan kita seketika menganggap baik apa yang sebenarnya buruk, membenarkan apa yang sebenarnya salah, menawarnya dengan kalimat “sudahlah, berfikir positif saja !”

Berfikir positif pun harus di tempatkan sesuai dengan porsinya. Tidak semua serta merta selesai dengan berfikir positif. Menempatkan berfikir positif atas sesuatu permasalahan, tanpa berusaha mencari apa akar masalah, dan bagaimana menyelesaikannya, saya rasa hal itu adalah hal yang tidak tepat, naif. 

Mengaggungkan berfikir positif misalnya, ketika kita mengalami kegagalan, tanpa mencari tahu kenapa kita gagal, apa penyebabnya, apa yang harus diperbaiki, adalah sesuatu kekeliruan.

Menanggapi kedzaliman yang terjadi di sekitar  kita, dengan berkata “sudahlah, berfikir positif saja!” Adalah sebuah kesalahan fatal. Karena akhirnya kita menjadi manusia yang tidak rasional, tidak mau berfikir logis, sesuai fakta.

Berfikir positif adalah sebuah hal yang baik, ketika bisa kita tempatkan sesuai dengan, waktu, peristiwa, fenomenanya. Berfikir positif adalah ketika kita bisa mengambil hikmah -atas hal yang buruk atau yang baik – atas sebuah peristiwa , mampu mengambil tindakan yang bijaksana, dan mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi.

Karena tidak semua peristiwa, tidak semua selesai dengan kalimat “sudahlah, berfikir positif saja !”
Semua ada tempatnya,

Semua ada waktunya,

Bijaksanalah ….

Langsung Diuji !!

Allah punya berbagai cara untuk “menguji” kesungguhan dan kemampuan kita.

Saat kita sedang mempelajari tentang ilmu tentang keikhlasan, maka tak menunggu lama Allah mendatangkan sebuah ujian yang meminta keikhlasan kita.

Saat kita banyak belajar membaca dan mendengarkan tentang makna kesabaran, maka tak lama kita tertimpa sebuah ujian yang memita kesabaran kita.

Saat kita ingin menjadi dewasa, Allah menjawabnya dengan ujian yang meminta kedewasaan kita.

Semacam itu …

Disanalah Allah menguji kita, atas apa yang kita baca atas apa yang kita dengar, apa yang ingin kita mengerti dan fahami. Allah menguji kesungguhan kita dan kemampuan kita untuk menjadi seseorang yang kita ingini.

Ingin menjadi orang yang ikhlas, maka Allah memberi kita ujian

Ingin menjadi orang yang sabar, maka Allah menjumpakan kita dengan musibah

Ingin menjadi orang yang dewasa, maka Allah temukan kita dengan masalah 

Kadang ujian itu tidak menunggu lama, langsung disedia di depan mata, setelah kita mulai mempelajarinya. Tak semata Allah biarkan kita mengalami berbagai uji, agar kita bisa menjadi manusia yang membukti, bukan faham hanya sebatas teori…

Tak semata Allah memberi langsung kita uji, karena ia ingin menaikkan level diri kita, mematangkan pemahaman kita, meningkatkan kualiatas diri kita, dan memberikan kita berbagai nikmat pahala, memberi hikmah mulia dalam diri kita …

Maka, berisaplah untuk diuji, karena manusia pasti diuji ….

 

Bandung, 18 Maret 2018

 

 

[ Cerita Jiwa 2 ] [ Tanaka – Haira Stories ]

Hai Haira, telah ku dengar ceritamu …

Haira …. hidup adalah perlaluan yang penuh kejutan.

Sebelum aku banyak bercerita, yang aku minta, bila kau merasa lelah, akuilah.., setelah itu beristirahatlah, tiada benar kau terus berjalan ketika jiwa mu lelah.

Duduklah…nikmati lelah mu, hargai jiwa mu, beristirahatlah …

Lelah itu bukti bahwa jiwa mu hidup, hati mu menyala, lelah itu adalah sebuah tanda kau sedang berjuang, berbahagialah bahwa kau memang telah berjuang, berterimakasih lah pada-Nya yang telah memberikan kesempatan dan kekuatan kepadamu untuk berjuang …

Haira… aku tau cita mu begitu menyala, seperti kau banyak bercerita padaku, ku tidak ingin hidup yang sia sia, kau selalu ingin berdaya untuk manusia dan semesta. Aku selalu terpana mendengar begitu banyak cerita mu, melihat binar cita di matamu, melihat mu begitu membara untuk bisa membagi banyak bahagia dengan mereka…

Aku selalu ingin menjadi bagian dari cita cita mu ….

Namun Haira, jangan biarkan cita cita mu itu justru jadi belenggu jiwa mu. Barakanlah sebesar apa itu cita di nalarmu, namun jangan lupakan apa kata hatimu. Lelahmu mungkin karena kau terlalu cepat berlari, kau terlalu ingin cepat sampai, kau tak mengukur se seimbang apa raga dan jiwa mu mengikuti besar nya cita mu.

Haira… bila kau ucap, begitu cepat keadaan berubah, penuh kejutan, kejutan yang kadang menyenangkan kadang sebaiknya, begitulah hidup. Yang perlu kau tau semua kejadian terjadi bukan tanpa tujuan, ada sebuah pengertian hidup yang Ia tengah ajarkan kepadamu, Ia ingin kau benar benar memahami tentang sebuah sari pati kehidupan. Bersabarlah …

Mungkin makna itu tidak akan seketika kau temu sekarang juga, namun pada saatnya -tak lama lagi – kau akan menemunya, dan setelah itu kau akan tersenyum karnanya. Tenanglah …

Haira … aku ingin menasihatimu sesuatu ….

Apa yang kau mampu laku, maka lakukanlah. Apa yang tak kuasa kau laku, maka lalukanlah, biarkanlah …

Karen Haira, aku tau kau akan berusaha…

Maka berusalah dengan bijaksana, semua ada jalannya, semua ada saatnya ….

 

~ Tanaka.

 

 

[ Cerita Jiwa ]-[ Tanaka – Haira Stories]

Hai Tanaka, malam ini boleh aku bercerita? tentang jiwa yang sedang merasa segala rasa…

 

 

Tanaka, Kamu Pernah merasa seperti ini … ?

Merasa lelah dengan naik turunnya keadaan, yang sebentar seperti ada secercah harapan, lalu tak lama kemudian ia menjadi sebuah kekosongan. Sebentar kau merasa melihat sebuah cahaya, namun tiba tiba cahaya itu meredup dan menjauh.

Pernahkah kau merasa begitu berenergi di pagi hari, namun menjelang siang kau peroleh kabar yang tak menyenangkan, hingga energi yang tengah meninggi itu seketika pergi. Pernahkah kau begitu lelah, hingga kau tak bisa terlelap dengan tenang

Pernahkah kau berjuang dengan segenap badan, waktu dan fikiran, namun jangankan hasil baik yang diinginkan, malah serupa masalah yang kau dapatkan. Seperti kau akan dihadiahkan sebuah kebahagian, namun yang kau dapatkan adalah sebuah kekecewaan. Kau seperti dipermainkan oleh kehidupan.

Tanaka, ku tau, aku lelah ….

Tanaka, bila kau sudah usai mendengar ceritaku, berkabarlah ...

 

Ruang Sendiri

Akan selalu ada masa dimana kita membutuhkan “Ruang” untuk menyendiri, ruang yang tidak ada sesiapa dan tidak perlu menjadi sesiapa. Ruang dimana kita bisa meluruhkan segala atribut dunia, melepaskan segala peran yang ada, meletakan rupa rupa topeng dunia, ruang dimana ini tentang diri kita saja.

Ruang dimana kita bisa apa adanya menyikapi duka dan bahagia, ruang dimana kita bisa mengaku sepedih pedihnya rasa, dan sebuncah syukur jiwa. Ruang dimana tidak ada sekat antara diri kita, tidak ada sejarak dusta.

Ruang dimana kita melepas segala lelah, memerdeka nafas panjang, mengaku segala rasa sepi, atau tentang melepas air mata yang sempat tertahan, atau mengenang sebuah tanda tanya sebuah kisah cinta. Ruang dimana kita bisa mengakui segala gundah gelisah, ruang dimana segala harap dan cita bebas tercurah.

Ruang dimana kau bisa jadi “diri sendiri” , utuh …

Ruang yang bisa berupa tempat atau waktu, mugkin ruang itu kau temu ketika kau sedang berkendara pulang di malam hari, atau kau temu ruang mu saat kau berlari di pagi hari, atau saat kau menikmati sesuara aliran sungai dan memandangi ujung lautan, atau disujud mu di sepertiga malam.

Ruang itu, ruang yang kau bebas berdialog dengan dirimu sendiri, berdiskusi. Kadang dalam ruang itu adalah ruang kau mengobati luka yang teralami, atau merayakan kemenangan atas hari yang telah bisa terlewati.

Ruang dimana kau bisa jadi “diri sendiri” , utuh …

Ahh.. selamat menemu ruang itu, karena kita selalu membutuh itu, sebuah ruang untuk kita bisa menghela nafas panjang, merenungkan, dan kemudian meghimpun kekuatan untuk perjalan kehidupan selanjutnya …

Ruang yang sebenarnya kau tak pernah benar benar sendiri, ada Ia –yang entah kau sadar atau tidak- yang akan selalu membersamai mu dalam segala ruang sendiri mu, mendengar segala kalimat yang tak terucap, mengetahui dengan baik segala rasa yang tak bisa kau ungkap …

Maka, “ajaklah” Ia dalam ruang sendiri mu, karena Bersama-Nya ruang sendiri mu jiwa-mu akan jauh lebih utuh …

Bandung, 27 Februari 2018

Di Ruang Sendiri

 

 

 

 

Bersabar.

A New Design (20)

Bersabar bukan berarti diam, bukan berarti lemah, bukan diartikan lemah dan menyerah. Bersabar tidak berarti diam membeku, tidak berarti tidur tak sadarkan diri dan kemudian bercita cita bahwa setelah bangun pagi maka keadaan seketika berubah. Bersabar bukan berarti mengandalkan bersedu sedan,  mengiba diri, kemudian memaklumi diri karena merasa sedang tertimpa nestapa.

Bersabar berarti menghadapi setiap luka jiwa, menjalani setiap inci tusukan duri, menjawab setiap tantangan dengan lantang, menerima segala ketentuan dengan kelapangan, menghimpun energi diri untuk meyakini bahwa semua tercipta karena sebuah tujuan.

Bersabar berarti mendamaikan antara keinginan dan harapan,  melihat dengan hati bijak bahwa begitu tersedia banyak kesempatan. Bersabar berarti mengerahkan segala daya upaya, fikir, tenaga untuk berusaha. Bersabar berarti menafaskan doa selamanya.

Bersabar berarti menguatkan kaki untuk lebih berani berlari, bersabar berarti mengepalkan tangan untuk lebih berdaya bergerak, bersabar berarti melengkapi hati untuk percaya akan diri, bersabar berarti menajamkan nalar diri untuk berfikir.

Bersabar berarti meyakini  bahwa kesabaran adalah sebuah kekuatan. Menyabari sabar adalah sebuah keta’atan. Menghimpun sabar adalah sebuah kesyukuran, bahwa kita adalah manusia yang masih pantas di uji, untuk menjadi layak dihadapan-Nya.

Mari, Bersabar.

Tanah Lembata [ Keping 1 ]

Ini adalah perjalanan beberapa tahun lalu sebenarnya, perjalanan yang masih terasa segar di ingatan saya, tentang sebuah pulau yang bernama Lembata. Pulau yang baru pertama kali saya mendengarnya saat itu, pulau yang sama sekali berada di luar dari pengetahuan saya, dan kemudian Allah mentakdirkan saya untuk bisa menjejakan kaki di tanahnya.

Begitu panjang rangkaian cerita di Pulau ini, saking berkesan dan berharga nya saya jadi bingung bagaimana memulainya. Karena kadang apabila sebuah kenangan terlampau indah, kita jadi kehabisan kata untuk melukiskannya, mendeskiripsikannya dalam kata kata.

Ah mari kita coba saja …

 

Tahun 2012 Pertama Kali Ke Tanah Lembata

 

Ya, berati sudah genap lima tahun, semenjak petama kali Allah mengantarkan saya ke tanah Lembata. Dalam sebuah perjalanan BHAKESRA (Bakti Kesra Nusantara), sebuah program yang diselenggarakan oleh kementrian Kesejahtraan Masyarakat pada saat itu.

Pulau Lembata adalah tanah kedua yang kami kunjungi saat itu, diutus sebagai relawan dari sebuah lembaga zakat, untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat disana. Saat itu saya dan patner saya yang diberikan tugas, belum mempunyai kontak siapa siapa agar bantuan bisa langsung diterima oleh masyarakat yang sesuai sasaran.

Singkat cerita Allah mempertemukan kami dengan seorang pasangan suami istri yang bisa membantu kami untuk menyalurkan bantuan. Dan ternyata mereka adalah orang yang tepat dan awal pertemuan itulah dengan suami istri, bernama Ustadz Mahmud inilah yang kemudian menjadi awal perjalanan panjang kami selanjutnya. Bahkan tak hanya kami, pertemuan ini menjadi jalan bagi kawan kawan yang lain untuk memasuki tanah lembata.

Ustadz Mahmud yang kami temui ternyata bukan orang biasa, ia adalah seorang anggota DPR dan juga seorang yang mempunyai pondok pesantren di pedalaman Lembata. Kami sangat bersyukur bertemu dengan beliau, karena kami bisa mendapatkan banyak informasi berharga dan menggali banyak hal. Sungguh Allah tidak begitu saja main main mempertemukan kita dengan seseorang, pasti ada tujuan yang termaksud di dalamnya. Tinggal kita saja yang harus pandai bagaimana menemukannya.

Setelah menunaikan tugas utama kami, kami pun diajak Ustadz untuk berkunjung ke pondok pesantren yang ia pimpin, karena waktu pun masih memungkinkan, kami dengan senang hati menyambutnya. Akhirnya kami pun berangkat ke pondok pesantren yang jarak nya kurang lebih empat jam dari kota Lewoleba.

Empat jam yang bukan hanya tentang waktu, namun empat jam dengan rute perjalan yang menakjubkan. Perjalanan dengan rute yang hampir setengahnya bergaya “off road”, sedikit jalan yang mulus, kemudian seperti menembus semak belukar, mirip jalan setapak yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil saja. Kemudian jalan raya yang tidak begitu panjang, dan masuk lagi kejalan setapak, dan pemukiman penduduk, dengan jalan yang sungguh berbatu.

Tersiksa ? Ah … tidak, karena semua terbayar dengan pemandangan yang indah dan berbeda sepanjang perjalanan. Melihat bentang alam yang sedemikian memanjakan mata, terkadang berkendara di pinggir kami lautan, bukit bukit kecoklatan yang menawan, pohon pohon kayu putih yang kecil dan menjulang, rereumputan khas tanah timur dengan warna kerbakar. Ah perjalan “off road” itu tak ada apa apanya, dengan hadiah pemandangan yang menakjubkan ini.




To Be Continued ….

 

 

Film Coco, Bikin Meleleh

Seperti biasa, genre film kesukaan saya saat merasa suntuk dan butuh hiburan, adalah film horor atau kartun. Jadi dua genre itulah biasanya yang bisa mencairkan susana hati dan fikiran yang sedang mix out, hhe

^^^^^

Coco-(2017)-1-News

Nah pengen sedikit bahas tentang “makna” yang saya dapatkan dari film kartun ini. Tapi sebelumnya pengen bahas film dari sisi lain dulu.  Dari segi visual, film ini enakkkkkk banget penyajian warnanya, warna warna na cerah, namun sangat nyaman di mata, dan rasana film ini berbeda dari film disney lain nya.

Selain itu, yang saya suka adalah aksen amerika latin. mexico tepatnya. Aksen nya kerasa banget, juga wajah wajah khas tanah latino yang sangat khas, begitu diangkat dalam film ini.

Karena ini film musikal, hal lain yang istimewa adalah nyanyiannya, yang khas dengan petikan gitarnya. Jadi inget Santana pas liat film ini (anak 80 an kayanya hafal deh ama Santana :D).

Coco_(2017_film)_poster

Nah mungkin dari segi cerita, kawan kawan bisa searching tentang apa film Coco ini. Secara singkat film ini mengangkat kisah seorang anak bernama Miguel, yang “dtakdirkan” menyebrang alam lain, sehingga bertemu dengan leluhurnya yang sudah meninggal. Miguel mempunyai misi untuk bertemu dengn kakek buyutnya yang mana ia merasa diturunkan bakat bermusiknya dari kakek buyutnya itu, dan kemudian di perjalanan ia mendapakan kisah yang tak terduga.

Saya rasa puncak film ini sebenarnya terjadi di akhir akhir film, film yang membuat saya tak terasa berlinang air mata, beberapa scene berurutan membuat saya terisak terus menerus, rasanya baru kali ini saya nonton film kartun yang bisa bikin menangis.

Padahal tidak ada adegan yang lebay, atau drama yang berlebihan. Adegan nya hanyalah adegan perpisahan, adegan seorang ayah dengan seorang anak, dan adegan dimana seseorang tengah mengenang orang yang sudah tiada. Tiga adegan berturut turut itu, berhasil menjebol air mata saya, dan mungkin banyak penonton bioskop yang lain juga, pesan yang di sampaikan cukup dalam.

Bagi saya seorang Muslim, kemudian mengambil makna seperti ini, bahwa jangan sampai kita lupa untuk mendoakan orang tua, kakek nenek, para pendahulu kita, orang orang yang menjadi jalan kita ada di dunia ini. Karena doa doa kita yang masih hidup, akan sangat bermakna bagi mereka, merek membutuhkan doa dari kita anak anak dan cucu cucunya.

coco

Habis film itu saya diam beberapa saat, langsung ingat kepada ayah, kakek nenek, Uwa, yang sudah mendahului, ahh betapa saya terkadang lupa mendoakan mereka semua. Dan hal lain adalah betapa pentingnya makna keluarga, dan bagaimana menanamkan cinta dan ikatan yang kuat antar keluarga, agar kelak entah siapa yang terlebih dahulu “pulang”, kita senantiasa teringat untuk mendoakan.

Satu hal lain, adalah semakin kuat keinginan untuk berkeluarga, mempunyai anak anak yang soleh/solehah. Bukan tentang agar nanti ada generasi keturunan kita saja, namun agar kelak ada yang mengingat kita dalam doa doa mereka saat kita sudah tiada, ada doa doa dari mereka, anak cucu kita, yang akan melapangkan dan menerangkan kubur kita.

coco lagi

Ahh… jadi meloww… hhee

Pokoknya film ini recomended untuk ditonton, untuk orangt tua bahkan

Happy Watching Ya