Cara Sukses Vs Jalan Sukses

kemana Selama ini kita banyak sekali mendapat masukan, arahan, motivasi tentang bagaimana caranya meraih sukses. Banyak sekali buku, seminar, nasihat baik dari orangtua kita, kawan kita, para motivator, dan para orang orang yang sudah dinilai sukses. Saya termasuk orang yang senang belajar, senang mendengarkan, senang membaca. Apalagi tentang orang orang yang sudah sukses di bidang nya masing masing. Mendengarkan tentang bagaiamana perjalanan hidup mereka, bagaimana cara mereka meraih sukses, dsb.
Bagaimana cara meraih sukses !
Ini adalah mungkin adalah salah satu kalimat yang sangat banyak di cari, banyak ditanyakan, banyak didiskusikan, banyak dirumuskan, banyak diformulakan … Berlomba orang mencari jawaban atas pertanyaan ini. Bagaimanakah CARA nya, menjadi sukses … Namun benarkah untuk menjadi SUKSES, yang perlu kita cari tahu adalah hanya tentang CARA nya ?Hingga kita terlupa tentang unsur penting lainnya tentang kesuksesan, yaitu tentang :
Bagaimana Memilih Jalan Sukses
Ah ini dia !! Saya sangat tertohok dengan sebuah pertanyaan seorang teman : ” Kenapa kita selalu fokus dengan cara cara meraih sukses. Pertanyaan yang sebenarnya perlu kita cari jawabannya adalah : apakah benar ini jalan sukses kita ? “ Atau pertanyaan lainnya adalah : ” Sudah benarkah jalan ini yang akan ku tempuh untuk meraih kesuksesan ….” ” Di jalan yang manakah aku akan memperoleh kesuksesan …. “ ” Bagaimanakah aku yakin, bahwa ini adalah jalan aku memperoleh kesuksesan …” Barangkali pertanyaan pertanyaan ini yang masih jarang kita dialogkan dengan diri kita sendiri. Kita begitu terlarut dengan cara cara yang kadang terlalu “tekhnis” dalam mencapai kesuksesan. Kita terlarut dalam CARA. Kemudian melupakan hal lain yang lebih utama, yaitu mengetahui DIMANAKAH JALAN KESUKESAN kita …

Bersambung ….

kemana Test & Konsultasi Potensi, Bakat & Keunikan Diri : Test Talents Mapping : https://bit.ly/TMNURISKA Test Talents Mapping + Konsultasi : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

Goes To NTT ( lagi )

Kayanya NTT bakalan jadi kampung kedua saya nih, hhe.. hampir setiap tahun di takdirkan Allah ke pulau yang dulunya saya tidak pernah bayangkan sama sekali akan sering di kunjungi.

Akhir April ini saya kembali ke Pulau nan eksotik ini. Dalam rangka peresmian sekolah yang sedang saya bangun dengan teman teman Kebukit Indonesia dalam program “Bangun Sekolah NTT”

Jadi program “Bangun Sekolah NTT” ini adalah program pendidikan, dimana kami ingin membantu masyarakat NTT untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik, lebih layak, lebih berkualitas. Baik dari insfrasuktur maupun dari pengembangan sumber daya manusia nya.

Alhamdulillah, walau dengan perjuangan yang tidak mudah, akhirnya terbangun satu sekolah, di senbuah pulau terpencil bernama Pulau Pangabatang.

Banyak cerita, banyak pelajaran, banyak hikmah yang saya (kami) dapatkan dalam perjalanan kali ini. Bismilllah. Semoga di Ramadhan ini bisa baik terceritakan …

Tunggu ceritanya yaa…

Belajar Tentang Kehidupan Di Kampus

Pekan ini jadwal saya masuk kampus lagi. Dapat tugas untuk mengajar tentang materi “Active Learning” di mata kuliah Pengembangan Kepribadian. Sebenarnya, materi  materi berupa slide show, sudah diberikan dari pihak kampus, namun saya pribadi lebih senang mengajar dengan cara dua arah, engan cara diskusi atau praktek.

Karena, selain agar perkuliahan tidak membosankan, saat ini bukan saatnya lagi materi perkuliahan itu satu arah, terpaku pada teori. Di tingkatan mahasiswa, yang mereka butuhkan selain knowladge, adalah bagaimana mereka punya karakter dan personal skill bisa menerapkan ilmu mereka dalam kehidupan nyata.

Maka, kuliah pekan ini saya isi dengan menonton film “Facing The Giant”. sebuah film yang sangat inspiratif. Tentunya film yang diputar hanya part yang dibutuhkan nya saja. Sekitar tujuh menit para mahasiswa diberikan kesempatan untuk menonton film tersebut, selanjutnya secara berkelompok, mereka diminta untuk menganalisis film tersebut, mengexplore masing masing karater, dan mencari tahu hikmah atau pelajaran yang mereka dapatkan dari film tersebut

img_20190425_1111341295293534.jpg

Proses belajar mengajar dengan seperti ini, bagi saya pribadi sangat menyenangkan. Kelas menjadi hidup, para mahasiswa diasah kemampuan berfikir kritis nya, kemampuan analisisnya, kemampuan berkomunikasinya, sekaligus kreatifitasnya.

Ketika menonton, mereka dilatih untuk menyimak film dengan seksama, mengaktifkan penglihatan dan pendengaran mereka. kemudian masing masing mengambil nilai, pelajaran,  kesimpulan yang mereka dapatkan. Setelah itu mereka belajar untuk berkomunikasi dalam forum diskusi. Menyampaikan pemikiran, gagasan, secara verbal dan tulisan.

Sehingga proses belajar, baik itu melihat, mendengar, menyampaikan secara lisan dan tulisan, semua bisa terjadi. Watching, Listening, Speaking And Writing.

Selain itu kita memberikan insight bahwa mereka bisa belajar dari apa saja, salah satu nya dari sebuah film. Belajar bisa melalui hal yang mengasikan. Kuncinya adalah memilih source yang tepat. Seperti saat mereka belajar dari sebuah film, sebenarnya kita sedang mengajarkan tentang nilai nilai kehidupan yang sebenarnya mereka butuhkan.

Sayangnya saat ini, lembaga lembaga pendidikan bahkan setaraf sekolah tinggi atau universitas, masih mengutamakan hal hal kognitif saja. Urusan moral, nilai kehidupan, kemampuan problem solving, daya juang, life skill, seolah olah bukan “urusan” kami, para mahasiswa dinilai sudah bisa mencari cari sendiri, padahal sehari hari mereka banyak menghabiskan waktu di dunia kampus, dunia perkuliahan.

Padahal bila kampus ingin menghasilkan manusia manusia berkualitas baik secara soft skill, pengembangan diri, penajaman karater, kemampuan problem solving, dan nilai nilai kehidupan seperti ini seharusnya menjadi “ranah” tanggung jawab  mereka. Tidak melulu berkutat di area area nilai akademis

Seperti di SMA dulu, kita ada  mata pelajaran bimbingan konseling, maka sebenarnya di kampus pun mata kuliah seperti ini masih sangat dibutuhkan. Kerena mahasiswa butuh hal yang lain diluar dari mata kuliah kognitif. Sayangnya tidak semua kampus menyadari hal ini, perkuliahan jadi sangat kering dengan niali nilai moral dan penanaman nilai nila kehidupan.

Maka, saya bersyukur bisa hadir dan menjadi bagian di salah satu sekolah tinggi di Kota Bandung ini, yang progam studi nya menghadirkan satu mata kuliah khusus, yaitu mata kuliah “Pengembangan Kepribadian”, untuk membantu para mahasiswa nya belajar tentang life skill, juga nilai nilai kehidupan, yang kelak akan mereka butuhkan saat ini dan juga kelak di kehidupan nyata.

Memastikan Jati Diri

TM2

FotoBy : Dandi Birdy

Pekan lalu, dua hari berturut turut, saya mengikuti sebuah training  bertema “Talent Mapping”, sebuah training tentang bagaimana kita mencari tahu, apa sebenarnya yang menjadi bakat kita, berdasarkan sifat alami kita, berdasarkan fitrah kita. Kalau teman teman yang bergerak di bidang pengembangan diri, human resource, pastinya sudah banyak tahu mengenai metode talent mapping ini,  dengan founder  bernama Abah Rama. Bagi saya training ini sangat banyak membantu saya, dalam “mendefinisikan” diri saya, tentang karakter, sifat, pembawaan yang selama ini memang sudah ada dalam diri saya, namun masih belum mengerti, belum saya sadari bahwa itu adalah potensi diri, dan bahwa sebenarnya sifat sifat khas yang sudah ada itu adalah modal utama dalam kehidupan saya. Training ini juga makin menyadarkan saya, tentang bagaimana menentukan bidang apa yang memang sesuai dengan sifat khas yang sudah ada dalam diri saya. Karena kadang kita salah jalan dalam kehidupan ini, salah dalam memilih bidang yang sebenarnya “bertentangan” dengan pembawaan kita. Karena sejatinya, manusia sudah mempunyai “benih” yang sudah Allah sertakan dalam kelahiran kita. Namun sayangnya, masih banyak dari kita -mungkin termasuk saya didalamnya- salah atau kurang tepat dalam memilih tanah untuk menanam benih itu. Sehingga benih yang seharusnya menjadi pohon besar yang mempunyai akar yang kuat, batang yang kokoh, ranting yang baik, buah yang lebat, dedaunan yang meneduhkan sesiapa yang ada di bawahnya, namun  ia  tumbuh dengan seadanya, tidak maksimal, tidak sesuai dengan planning Penciptanya. Akarnya tidak kuat, batangnya lemah, ranting nya rapuh, jarang berbuah, dan tidak meneduhkan. Karena kita sebagai “tukang kebun” tidak pandai atau salah memilih dimana benih yang sudah kita punya seharusnya ditanam, kita telah salah memperlakukan benih kita. Maka mencari tahu apa jenis “benih” atau dalam bahasa lain “potensi bakat sifat” yang kita miliki sangat penting, hingga kita tidak salah memilih di mana kita akan memilih jalan kehidupan, bidang apa yang kita pilih, peran apa yang kita akan jalankan dalam hidup ini. Ada sebuah Quote yang sangat mengena bagi saya, yaitu :
Kita  sangat sering diajarkan tentang bagaimana CARA meraih kesuksesan, tapi kita jarang membahas bagaimana memilih JALAN yang tepat untuk memilih kesuksesan
Ah sebenarnya masih banyak yang ingin dibahas, semoga ditulisan selanjutnya yaa…. ^^ Yuks Cari Tahu Bakat, Keunggulan & Keunikan Dirimu : Test Talents Mapping : https://bit.ly/TMNURISKA Test Talents Mapping + Konsultasi : https://bit.ly/KonsultasiNuriska

” Mobile Lagend ” Untuk Kemajuan Anak Bangsa … ?

games online

Anak-anak bermain game online di sebuah warnet. – Ilustrasi/indigos.com

 

Sebenarnya saya cukup menahan nahan untuk tidak membahas ini -di masa tenang- dalam pemilu ini. Tapi sebenarnya ini bukan hanya tentang keberpihakan saya kepada seorang kandidit presiden, tentang di kubu mana saya berada, namun ini tentang seorang pemimpin yang bernarasi tentang masa depan bangsanya.

Rasanya saya tidak perlu lagi membahas tentang bahanya games online bagi manusia, terutama anak anak. Sudah banyak pihak, yang memaparkan bahannya kecanduan games online ini. Baik dari sisi pendidikan, kesehatan, emosi, bahkan perkembangan jiwa. http://Kecanduan Games Online Meyebabkan Kerusakan Fungsi Otak

Tak sedikit orang tua yang curhat, mengeluh, resah ketika melihat anak nya kecanduan games online. Tak sedikit mereka kemudian menyesal saat tahu anak nya sudah dalam tahapan kecanduan parah games online, yang kenyataannya banyak merusak banyak sisi kehidupan mereka.

Sedih sekali, ketika seorang kandidat presiden yang juga seorang pemimpin negara, membawa isu ini ke ranah pembahasan program kebangsaan. Alih alih membahas tentang bagaimana menjaga rakyatnya, anak bangsa nya, dari kerusakan yang ditimbulkkan dari games online, malah seakan akan games online atau di “keren” kan dengan istilah e-sport sebagai sebuah program yang prioritas.

Salah kah membuat games online sebagai program besar pemerintah … ?

Dengan kondisi negara kita yang seperti ini, rasanya sangat tidak elok menjadikan games online, sebagai hal yang harus diprioritaskan. Masih banyak sektor lain yang esensial, mendasar, substantif, dibangun di negri ini : pertanian, perikanan, jiwa jiwa kemandiran, wirausaha, pendikan, kesehatan dsb.

Bukan hanya tidak substantif, bila kita menggali lebih dalam kecanduan games online ini bisa membawa mudharat yang sangat banyak, bukan hanya perkara menyia nyiakan waktu, membuat tidak berinteraksi denga lingkungannya, namun lebih jauh ini merusak fungsi otak, merusak fungsi otak depan (pre-frontal cortex), yaitu fungsi otak yang membedakan manusia dengan hewan. Fungsi otak dimana manusia berfikir, dan menjalankan fungsi nya sebagai manusia. Bila fungsi otak itu rusak, apakah jadinya manusia tersebut ?

Maka, berbagai dalih yang mengatakan bahwa potensi income dari games online ini luar biasa, sehingga harus didukung dan dikembangkan. Maka pertanyaan nya adalah, seberapa sanggup kita menanggung jutaan, bahkan puluhan juta, rusaknya  fungsi otak anak bangsa kita, anak anak kita, adik adik kita, para penerus bangsa.

Dimana tanggung jawab kita, dimana kita membiarkan anak anak kita, adik adik kita, yang masa depan nya masih panjang, kemudian kamampun berfikir, kemampuan bernalar tak berfungsi. Apakah pemerintah mau bertanggung jawab ketika hal ini terjadi ?

Maka apabila ada pemimpin Bangsa yang justru mendukung bahkan ingin menjadikan games online ini sebagai sesuatu yang besar, di akses masal generasi muda, bukan nya mencegah, memberi pengertian yang baik tentang akibatnya, membuat regulasi yang baik dan benar menghadapi serbuan games online yang makin banyak.

Akan jadi apakah generasi muda kita ini ?

Ah entahlahh ….

Saya mengerti sekarang, bila dulu ada pribahasa, “Bila ingin merusak sebuah bangsa, maka bakarlah bukunya, jangan biarkan mereka membaca” Sekarang mungkin akan ada tambahan pribahasa : “Bila ingin merusak sebuah Bangsa, maka biarkan anak muda nya kecanduan games online, dan biakan mereka terelana, dirusak secara terencana, tanpa mereka menyadarinya “

Semoga Allah melindungi anak anak kita, adik adik kita, dari program pembodohan yang terencana …

Bandung, 15 April 2019

Pertanyaan Seorang Awam : “Benarkah Pertahanan Negara Kita Lemah…?”

19765170_1948393952095716_7524042254525136896_n

Seberapa kuatkah ketahanan dan ketahanan negara kita ?

Well, saya bukan orang yang ada di kapasitas ini untuk menjawabnya. Debat presiden beberapa waktu lalu yang membahas tentang seberapa kuat ketahanan militer negara kita, membawa ingatan saya akan percakapan beberapa tahun lalu dengan seorang komandan kapal TNI AL sewaktu saya dalam program berkeliling Nusantara, menggunakan amada KRI untuk program sosial dan pendidikan.

Dalam perjalanan saya berkesempatan berbincang bincang dengan seorang Komandan  KRI , kami bincang bincang sederhana, tentang lautan Indonesia. Beliau adalah seorang anggota TNI AL, yang sudah belasan tahun bertugas menjaga lautan Indonesia. Ia bercerita tentang betapa luasnya lautan kita, ribuan pulau, dengan jutaan kekayaan dan pesona baik di permukaan, pantai, juga di dalam lautan itu sendiri.

Begitu luasnya perairan  Indonesia,  berbatasan dengan lebih dari satu perairan negara lain, bahkan benua. Beliau bercerita, kondisi seperti ini adalah dua sisi mata uang, bisa jadi sebuah anugrah, bisa juga menjadi ancaman.

Anugrah yang besar ketika kita mampu untuk menjaganya, saat kita mampu memaksimalkan potensi nya untuk kemakmuran dan kesejahtraan masyarakatnya, dan menjadi ancaman ketika kita tidak benar benar menjaga perairan Indonesia, yang nyatanya banyak negra lain  “menginginkan” kekayaan negara kita.

Beliau bercerita lebih dalam, bahwa jumlah angkatan laut saat ini, tidak sebanding dengan  perairan yang mesti di jaga, terutama di daerah perbatasaan. Perairan Indonesia sangat luas, butuh angkatan laut yang kuat baik kualitas dan kuantitas. Masalah kecintaan para TNI, tidak usahlah diceritakan lagi, namun fasilitas yang menjadi “senjata” kita menjaga masihlah sangat kurang

Dengan mata yang menerawang keatas, beliau berujar panjang lebar “Dek Riska, bayangkan luas nya laut kita, barat, timur, utara, selatan, namun pangkalan laut yang besar hanya ada di Jakarta dan Surabaya, segala alat kelengkapan ada disana, padahal perairan mana yang perlu dijaga? ada di Timur Indonesia, Selatan Indonesia, Utara Indonesia, yang jaraknya jauh dari Surabaya, jauh dari Jakarta. Bayangkan ketika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan di wilayah Timur misalnya, kita harus lama menunggu bantuan yang datang dari Jakarta atau Surabaya”

Mendengar penuturan beliau, seakan membukakan mata saya lebar lebar, tentang kenyataan yang ada. Empat tahun terakhir ini saya mengunjungi bebarapa pulau di Indonesia, dari perairan Mentawai, NTT, Papua, hingga ke perbatasaan Indonesia-Filipina, benar adanya, bahwa di pulau pulau tersebut.

Menurut penilaian saya -orang awam- pangkalan angkatan laut nya sangat terbatas, hanya berupa kantor perwakilan saja. Adapun penjagaan dari para TNI AL yang bertugas hanya beberapa kapal saja, tidak bisa “mengcover” wilayah Indonesia yang sangat sangat luas.

Beliau kemudian menceritakan lagi tentang sesuatu yang barangkali menjadi keresahannya ” Banyak negara lain menawarkan untuk melakukan penelitian terhadap kekayaan perairan bawah laut kita, dengan tawaran bahwa apabila penelitian ini berhasil, maka akan membawa kesejahtraan banyak untuk negara kita

Beliau terdiam sejenak, kemudian melanjutkan ” Namun kita tak pernah tau, apakah mereka benar benar ingin memberi bantuan pada negara kita, atau dibalik itu ternyata mereka memang mencari informasi kekayaan kita, atau peta kekuatan bangsa kita” 

“Negara kita negara yang sangat kaya, banyak yang mengingingkannya” kalimat terakhirnya begitu dalam, matanya berkaca kaca, seperti tak sanggup melanjutkan.

Dia menutup percakapn kami dengan curahatan hati nya ” Kalau memikirkan hal ini, saya kadang sangat sedih, sungguh dek riska. Tapi ada daya, saya hanya prajurit, tak bisa berbuat banyak” dan akhirnya pun kami hanya diam seraya mendengarkan ombak malam yang menghempas buritan kapal.

Percakapan malam itu, meninggalkan banyak pertanyaan dalam diri saya. Masih banyak PR untuk menjaga Bangsa kita ini.


 

 

 

Waspada adalah sebuah keharusan, urusan Bangsa rasanya tidak elok bila kita terus berasumsi semuanya akan baik baik saja. Membuka mata akan realita, bersikap waspada, disalahkan artikan sebagai sikap pesimisme. Dimanakah nalar ditempatkan ? Membuka mata akan realita bukan berarti kita pesimis akan cita cita. Justru sebaliknya, realita yang ada, adalah pijakan kita untuk bagaimana meraih cita cita.

Termasuk cita cita berbangsa. Rasanya sangat naif menilai bahwa 20 tahun kedepan tak akan terjadi invasi apa apa, tak akan ada negara lain yang ingin “masuk” ke dalam negara kita. Mengurus negara tidak cukup hanya dengan merasa semua akan baik baik saja, karena itu akan membuat kita terlena.

Mengakui realita bukan sebuah kesalahan, jusrtu tidak mengakui realita yang ada adalah kebodohan, dan kemauan untuk terus dibodohi. Jangan terlena dengan prestasi semu yang justru melemahkan diri kita, membuat kita seolah olah diatas nirwana, padahal ancaman ada di depan mata, kita saja yang pura pura tidak mengetahuinya, atau mungkin memang dibuat tidak mengerti


Update Tulisan 06 Jan 2020 :

Dan sekarang saat mencuat kasus perairan Natuna, hati ini kembali bersedih. Teringat pembicaraan diatas dengan seorang Kapten Kapal NKRI. Ah semoga yang ditakutkan tidak terjadi.

Semoga masih ada pemimpin Bangsa sebenar benarnya, yang melindungi kedaulatan tanah air nya, yang menjaga harga diri bangsanya, yang menjaga kehormatan dan kemerdekaan negaranya

Jayalah Selalu Indonesiaku …..

Semoga pemimpin berikutnya, adalah ia yang benar benar mencintai Nusantara ini …

Pengalaman Pahit Masa Kecil Dengan Kementrian Agama

Kementerian-Agama

Beberapa pemberitaan tentang peristiwa jual beli jabatan di kementrian agama akhir akhir ini, membawa memori saya ke belasan tahun yang lalu, ketika bapak saya meninggal.

Apa hubungannya kementrian agama dengan almarhum Bapak saya ? Jadi almarhum, adalah seorang guru di lembaga pendidikan yang ada di bawah kementrian agama. Bapak meninggal di tahun 2002, meningalkan istri dan anak yang masih di usia sekolah saat itu.

Saya  masih ingat saat itu, sepeninggalan bapak,  Ibu saya mengajak saya untuk mengurus samacam santunan duka ke kementrian agama kota (saat itu masih disebut dengan DEPAG – Departemen Agama)

Masih lekat peristiwa waktu itu, seorang pegawai lalu menyapa kami, menanyakan keperluan kami. Setelah dijelaskan beliau melihat kelengkapan dokumen yang sudah ibu saya siapkan. Kemudian di akhir pembicaraan, beliau berkata  kurang lebih seperti ini  “Buu… tong hilap weh kanggo abdi na, bisanana mah 10%  ” Kurang lebih artinya seperti ini “ Bu, jangan hilap buat saya ya, biasanya  10 %…” sambil tersenyum penuh makna

Kemudian saya lihat sesuatu di wajah  ibu saya, semacam gabungan ekspresi kaget, marah sekaligus sedih. Lalu ibu saya menjawab kurang lebih ” Pa, ini uang untuk anak yatim …” si bapak menjawab “Nu sanes ge sami da tos biasa, nya atos sabaraha wae lah bu ….” ; ”  yang lain juga sama, sudah biasa ko, ya udah berapa aja kalau begitu ….”

Saya melihat wajah ibu saya sedikit berkaca kaca, menahan tangis barangkali. Yang saya mengerti saat itu, si bapak petugas meminta “jatah” santunan uang duka yang menjadi hak kami. Uang yang akan menjadi bekal ibu saya membesarkan anak anak nya, uang yang sebenarnya tidak terlalu besar juga, namun oknum petugas ini masih meminta jatah yang sama sekali bukan haknya.

Padahal beliau pun sudah  dibayar  oleh pemerintah untuk melakukan tugas nya. Tega ! Barangkali itu yang mewakili perasaan kami saat itu. Ditengah suasana kami yang masih berduka, ditambah dengan peristiwa saat itu, seperti menggoreskan luka yang dalam.

Sepanjang perjalan pulang di angkot saat itu, saya melihat ekspresi kecewa, marah dan sedih di wajah ibu saya. Dan saya pun merasakan hal yang sama.


 

Peristiwa belasan tahun yang lalu itu sangat kuat melekat dalam ingatan saya, hingga saya dewasa. Apa saja yang berhubungan dengan Kementrian Agama (DEPAG) saat ini, ingatan saya kembali ke peristiwa itu. Saya semacam menyimpan memori yang dalam di alam bawah sadar saya tentang kementrian agama ini, hingga sekarang.

Hingga, pemberitaan kemarin tentang kasus jual beli jabatan di kementrian agama yang sedang ramai di media, ingatan saya kembali ke belasan tahun lalu. Dalam hati berkata ” Ya Allah, masih juga seperti ini …” 

Saya tahu, di kementrian agama pasti banyak juga orang orang yang masih lurus, masih menjaga keamanahan dan profesionalitas mereka, berjuang agar kementrian ini menjadi kementrian  bersih, jujur, yang bisa dipercaya, dan benar benar menjalankan fungsi nya untuk masyarakat.

Namun, tidak bisa dipungkiri, di masyarakat masih kuat melekat tentang bagaimana kementrian yang seharusnya menjadi lembaga pemerintah yang  paling amanah, karena mengusung nama AGAMA, tapi faktanya menjadi kementian yang paling banyak melakukan praktek  penyimpangan, yang dilakukan dari jabatan yang paling bawah, hingga jabatan paling tinggi.

Saya menjadi bertanya tanya, apakah ini  adalah budaya yang diwariskan turun temurun, nilai yang di turunkan dari generasi ke generasi, nilai yang dijaga dan dipelihara secara tersirat, sehingga di jadikan sebuah permakluman , ” ahh sudah biasa, yang lain juga begitu, yang sebelum sebelum saya juga begitu … “. Generasi tua mewariskan contoh  kepada yang muda, yang muda melihat, mendengar, dan menyaksikan dan kemudian “meneladani” cara caranya. Begitu terus lingkaannya. Astagfirullah ….


 

Mungkin cara yang terbaik adalah perombakan besar besaran untuk kementrian ini, dimulai dari pimpinan tinggi, stuktur, departemen2 di dalamnya, cara perekrutan, sistem, transparansi, budaya, bahkan mungkin merubah hal hal seperti visual, seperti suasana, warna, seragam, logo kementiran, ll menjadi sesuatu yang benar benar baru, fresh … !

Agar ada persepsi baru terhadap kementrian ini, baik persepsi internal, hingga siapapun yang ingin masuk ke depertemen ini, sudah membawa mind set “kejujuran” juga persepsi eksternal, agar persepsi di benak publik pun benar benar bisa berganti kepada kementrian ini. Dari yang saat ini sedikit banyak, maaf “Untrustable” menjadi “Trusable”


 

Akhirya -Bagi saya-  kenyataan hari ini, bukan berarti kenyataan mutlak di masa depan. Saya pribadi masih menyimpan harapan. Asalkan ada perubahan yang mendasar di kementrian ini. Ibarat rumah yang sudah bobrok, yang dibutuhan bukan saja merenovasi rumahnya, seperti memperbaiki tembok, lantai, atau atap nya saja.

Tapi mungkin yang dibutuhkan adalah merobohkan dulu bangunan lama, mengkokohkan dan mengatur ulang pondasi nya, mendesign ulang bangunannya, interior dan eksterior yang benar benar baru, dan terakhir menyeleksi  benar benar para penghuni yang layak tinggal di dalamnya

Harapan akan selalu ada, terutama kepada kementrian yang mengusung dan mengurus kepentingan masyarakat yang berhubungan dengan AGAMA. Tidak hanya untuk kita, tapi untuk kepentingan generasi kita yang akan datang. Kementrian ini sangat besar peran dan fungsi nya. Sebagai lembaga yang akan membantu masyarakat menagakan nilai nilai agama, nilai nilai moral, nilai nilai kebaikan yang sangat dibutuhan negri ini

Tentunya pemangku kekuasan mempunyai andil yang paling utama untuk bagaimana kementrian ini kedepannya. Apakah mau dibiarkan begitu saja, dengan budaya yang sepertinya sudah kuat mengakar, atau akan dijadikan prioritas yang akan diurus dalam program program nya.

Karena justru yang paling penting untuk membagun negara , selain membangun infrastuktur, adalah bagaimana membangun sumber daya manusia yang jujur, bersih, amanah dan profesional. Semegah apapun infrastuktur yang sebuah negara miliki, namun tanpa sumber daya manusia yang berkualitas -apalagi petugas pemerintahan- maka negri ini tidak akan kemana mana.


 

Ah, sudah sekian dulu …

Tidak ada niat apa apa, hanya sedikit berbagi sekelumit cerita, pengalaman, kenyatan dan harapan dari seorang anak negri yang mencintai negara nya. 

Semoga Bermanfaat,

Bandung, 22 Maret 2019

Nuriska

Mencari “Ruang Sendiri”

wp

Setelah merasa ada kondisi yang “stuck”, akhirnya saya memutuskan untuk sejenak “menghilang” sejenak dari keramaian, terutama dari keramaianan dunia maya.

Kurang lebih selama empat lima saya memutuskan untuk mengnonaktifkan segala hal yang berhubungan dengan dunia maya, juga mengurangi interaksi dengan keramaian yang ada di dunia nyata. Handphone hanya saya aktifkan untuk telfon dan sms saja, beberapa pertemuan dan janji saya tunda sementara. Saya butuh benar benar sendiri dan butuh ruang sunyi.

Sayangnya ruang sunyi atau sendiri itu ga bisa hanya diam dirumah, mengunci kamar, atau diam semedi di kamar mandi. Malah kalau hanya berdiam diri kita tidak mendapat “apa apa”, tidak mendapat jawaban atau pencerahan yang kita cari. Hanya diam dirumah, mengunci diri, biasanya hanya menghasilkan kejenuhan dan pikiran yang malah tak teratur merajalela.

Akhirnya kemarin saya memutuskan untuk menghampiri “Ruang Sendiri” dengan pergi ke luar kota, yang tak begitu jauh dari kota Bandung. Saya memilih kota yang bisa ditempuh dengan kereta. Karena perjalanan nya sendiri pun kadang kala adalah sebuah tempat untuk berfikir yang nyaman.

Pergi sendiri, melihat suasana baru, berjalan kaki di kota yang baru, berjumpa dengan orang orang baru, sesekali berbicara dengan mereka, membaca buku, membuat catatan catatan ketika ada lintasan pikiran, kesadaran atau pencerahan, dan sisanya adalah benar benar menikmati “Ruang Sendiri”. Tanpa gawai, tanpa banyak percakapan, tanpa banyak gangguan.

Di perjalanan itu saya lebih banyak untuk menilisik diri ( hhaa … bahasanya menelisik)^^, banyak mendengarkan diri, menyimak isi hati, mencari tau apa keinginan terdalam, menggali apa kesalahan diri, mencari tahu apa kesalahan pemikiran dan persepsi yang selama ini di imani.

Saya sangat menikmati saat saat seperti ini, ga sibuk tengok tengok gawai untuk cek notifikasi, ga juga bernafsu untuk mengupdate status saya sedang apa dan lagi dimana, atau memberitakan apa yang sedang saya rasa. Ingin menjadi manusia yang “Present Moment” saja.

Pernah ada yang nanya juga sih, seorang teman tentang kebiasaan saya seperti ini :

” Trus kerjaan kamu gimana , target kamu gimana, kan sayang beberapa hari ga ada kegiatan….?”

Saya rasa dunia ramai dan dunia sibuk itu tidak akan ada habisnya. Apalagi dengan dunia digital yang tak pernah tidur ini. Kita semacam digiring untuk selalu terbuka kepada dunia 24/7, diminta selalu mengikuti setiap informasi yang ada, beromba lomba untuk menampakan diri. Eksisitensi sebagai manusia di cirikan dengan tampak tidak nya dia di timeline. Berlomba lomba untuk menjadi yang pertama tahu, dan yang paling pertama menyebarkan nya pada dunia

Ga salah sih… memang ini zamannya, zaman yang banyak juga kebaikan didalamnya

Namun, saya rasa kita tetap butuh ruang untuk “kembali” kepada diri kita lagi, kembali untuk mengunjungi diri kita lagi, melakukan monolog dengan diri kita sendiri, mengecek kualitas diri kita, dan yang terpenting mengecek bagaimana kualitas diri kita dengan Sang Pencipta.

Dan rasanya itu akan agak berat, saat kita terus menerus dalam keramaian, dalam bertubi tubi nya notifikasi yang tak pernah berhenti, dalam keinginan scroling layar yang membuat ketagihan, dalam percakapan percakapan di keramaian.

Maka bagi saya “Ruang Sendiri” adalah sebuah kebutuhan, untuk sebagai ruang merenung, ruang berfikir, sekaligus ruang untuk memilih dan menyiapkan langkah langkah besar.


Itu dia ceritaku, bagaimana dengan kamu ?

Apakah kamu memiliki “Ruang Sendiri” juga kah … ?

Sharing dong …… 🙂

Salam Dari Kota Bandung,

Yang Sedang Menghangat Udaranya

Manusia “Setengah Setengah” Di Dunia Digital

Nah … ini dia salah satu dilema yang dialami oleh manusia “setengah setengah” – seperti saya – di dunia digital seperti sekarang. Manusia “setengah setengah” maksudnya gimana ? Ah ini istilah saya aja, untuk menggambarkan situasi saya saat ini. Bisa dikatakan saya seseorang yang setengah ekstrovert dan sebagian diri saya yang lain adalah introvert.

Bidang pekerjaan dan aktifitas saya adalah bidang yang benar benar berhubungan dengan banyak orang, butuh selalu “update” agar selalu terlihat dan eksis, terutama dalam dunia media sosial. Selain itu “dituntut” untuk bisa selalu fast response, ketika ada klient menghubungi. Jenis aktifitas yang menuntut saya selalu ONLINE.

Pekerjaaan pekerjaan extrovert dan interpersonal kalau bisa dibilang. Pekerjaan yang selalu membuat kita terlibat dengan orang lain, pekerjaan yang memang menuntut kita selalu “keep in touch” dan “easy to reach” . Saya menikmati sebenarnya, karena saya memang senang dengan aktifitas yang berhubungan dengan orang lain, bersosialisasi, berinteraksi, dan semacamnya.

Dilain pihak, saya pun orang yang introvert. Bukan berarti tertutup, tapi lebih kepada pemikir dan perenung. Saya seringkali membutuhkan waktu sendiri, yang benar benar sendiri di saat saat tertentu. Ketika saya butuh berfikir hal hal yang mendasar, atau butuh berdialog dengan diri sendiri, saya agak kesulitan ketika masih berada di “dunia ektrovert” saya.

Ketika sedang butuh dengan dunia yang “sunyi” agar bisa lebih jernih berfikir, lebih objektif melihat, lebih bijak mengambil langkah, agak sulit bagi saya, untuk di satu waktu berfikir dan tetap “on line” dengan dunia luar. Terlalu banyak distraksi, terlalu banyak pengalihan, kita tidak akan pernah selesai untuk “melayani” deras nya informasi dan permintaan dari luar. Benar … ?

Pernah saya, membuat jadwal waktu. Misalnya dari subuh sampai jam 07.00 saya tidak akan membuka hp, untuk chek aplikasi chat atau pun medsos. Dan jam 21.00 – sampai waktu tidur saya tidak membuka HP. Fokus pada diri sendiri dan apa yang benar benar ada di depan mata, keluarga dsb.

Tapi , pada kenyataannya dunia tidak semudah yang kita mau ternyata ….

” Kamu kemana aja sih, ko wa ku ga dibales beles …..”

” Ko, jarang komentar di grup ….”

” Ko, jarang jarang lagi update status ama ig stories, kemana aja ….”

Kalau ini mungkin saya masih bisa mengabaikannya. Tapi ketika berhubungan dengan pekerjan dan klient

” Mba, ko lama yaa dibales nya, saya butuh data nya segera….”

” Ko, slow response yaaa…, harusnya mudah dihubungi dong, kalau saya butuh apa apa”

Nah, dilema nya disitu, saat kita waktu untuk “ruang sendiri” kita, di sisi lain kita dituntut untuk selalu “ada”

Ada yang pernah merasakan hal yang sama ?

——————-

Bersambung …..