Mengenalkan ABU BAKAR kepada Anak PUNK itu Membahagiakan

Salah satu yang bisa membuat hati penuh terisi adalah ketika kita bisa menularkan kebaikan kepada orang lain. Ketika orang lain merasakan kebaikan yang juga pernah kita rasakan.

Seperti hari ini ketika salah satu kawan PUNKERS yang sedang belajar mengaji, belajar mendalami ilmu agama, dan sedang bercita cita untuk HIJRAH ke arah yang lebih baik, nge WA saya mengenai begitu terkesan nya dia dengan buku yang saya pinjamkan kepada nya beberapa hari yang lalu.

Ceritanya di RUMAH HIJRAH yang merupakan yang awalnya tempat kumpul anak anak PUNK, saat ini di rubah menjadi PERPUSTAKAAN dan tempat berkumpul untuk kegiatan bermanfaat. Salah satu “LEADER” disana saya pinjamkan sebuah buku tentang salah satu Sahabat Tercina nabi, bukunya berjudul ” Abu Bakar Assidiq Sang Khafillah Pertama “.

Awalnya ia agak segan dengan buku yang saya pinjamkan, mungkin anggapannya bukunya agak “Berat”, namun akhirnya dia mau baca, dan mau untuk nanti menceritakan apa yang ia baca.

Hari ini, dalam percapakaan WA, dia bilang “Teh.. Subhanallah ya Abu Bakar itu “ dilajutkan dengan kalimat “Teh, memang agama itu melebihi apa pun ya …” . Dua kalimat itu cukup membuat hati saya tergetar, dan mata seakan akan menjadi berat karena rasa haru.

Ah.. malam ini Allah cukupkan saya dengan perasaan bahagia, perasaan yang penuh, persahaan yang puas, kenikmatan hati, ketika bisa berbagi mengenai  sebuah kebaikan. ketika bisa mengenalkan mengenai orang orang yang dicintai Allah dan Rosulnya, mengenalkan para pahlwan Islam, mengenai orang orang yang telah di jamin surga atas mereka.

Ah …semoga kebaikan seperti ini terus bisa dilakukan setiap saat, berbagi, mengajak, saudara saurdara se iman untuk lebih mengenal Islam, untuk lebih dekat dan taat kepada agama. Saling mengingatkan dalam takwa. Dan semoga amal kecil ini menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak, dan  yang terpenting semoga Engkau Ridha ya Allah, itu saja. Lebih dari dunia dan se isinya.

 

P.s : Barakallah Abang Ilham yang sudah “berkenalan” lebih jauh dengan sahabat tercinta “Abu Bakar Assidiq”

 

Punk Hijrah #Pertemuan Pertama

Allah mempertemukan seseorang dengan seseorang bukan tanpa rencana, pun tidak ada sebuah pertemuan yang kebetulan. Ada rencana Allah dibalik itu, ada skenarionya, ada maksud dan tujuan akan sebuah pertemuan, apakah kita mampu menangkap maksud Allah itu, apa kita mampu membaca apa yang menjadi kehendaknya.

Seperti malam itu, di sebuah pertemuan tentang diskusi kerelawanan, kami komunitas KEBUKIT dan AYO GERAK BARENG, mengadakan diskusi tentang kerelawanan, bincang bincang mengenai kebaikan dan kemanusian.

Kemudian ada beberapa orang pemuda dengan pakaian hitam hitam, dengan usia beragam antara 15 -25 tahunan, gaya mereka memang sedikit “berbeda”, ternyata benar mereka adalah anak anak PUNK. Waww.. saya sedikit kaget dengan kehadiran mereka.

Akhirnya  kami memulai obrolan santai nya, anak anak PUNK ini kemudian bercerita tentang kegiatan mereka, apa yang menjadi keinginan mereka, apa yang membuat mereka tertarik mengikuti bincang bincang ini.

Pembicaraan kami berlanjut tentang kebaikan apa yang akan kita lakukan bersama sama, akhirnya kami memutuskan untuk membuat sebuah perpustakaan, dimana perpustakaan itu selanjutnya akan dibuat untuk kegiatan kegiatan positif.

 

 

 

Ahh… petemuan petama ini begitu berkesan, tak hanya berkesan, tapi saya rasa pertemuan ini adalah pertemuan yang akan mendatangkan kebaikan kebaikan lainnya. Kedatangan mereka sebenarnya semacam memberikan semacam energi lain kepada saya, mungkin kepada teman teman lainnya.

Bahawa akan ada peluang untuk bertemu dengan orang orang baik, atau orang orang yang sedang mencari jalan kebaikan. Allah akan mendekatkan kita dengan orang orang yang berniat sama dengan kita. Ada energi yang saling menarik, saling memanggil, saling mencari.

Semoga pertemuan ini adalah kehendak Allah untuk kita bersama sama melakukan banyak kebaikan dan melakukan hal hal yang benar sesuai dengan ketentuannya. Karena benar, kita tidak dipertemukan dan dipersatukan bukan tanpa rencana, semoga kita selalu dalam lingkaran Ridhanya. ahh malam saat itu adalah malam yang membuat hati ini kembali penuh terisi.

Kemudian do’a ini berisi : ” Ya Allah berikan kami ke istiqomahan ” . Aamiin

Meledaklah. Seperti SUPERNOVA

supernova

Sumber Gambar Disini

 

Supernova adalah cara bintang mengakhiri hidupnya, karena setiap bintang mempunyai siklus hidup tertentu, usia tertentu.

Sebuah bintang yang sedang mengalami SUPERNOVA akan sangat cemerlang, terang, bahkan kecemerlangannya bisa ratusan kali cahaya biasanya.Beberapa waktu sebelum meledak sang bintang bisa melepaskan energi setara dengan jumlah cahaya yang ia lepaskan seumur hidupnya.

Splendid …..

Seperti itu lah sebuah bintang memberikan sesuatu yang terbaik di akhir hidupnya, melipat gandakan energi nya hampir setara dengan seluruh waktu hidupnya, dan memberikan kecemerlangan yang mengagumkan, kemudian meledak dan tiada.

Saya coba analogikan dengan kehidupan seorang manusia, yang telah ditetapkan sebagai Rahmatan Lil Alamin. Rasanya kita bisa mencontoh dari sebuah bintang, yang memberikan energi yang terbaik dalam hidupnya.

Memberikan manfaat yang terbaik bagi dirinya, keluarganya, sekitarnya, bagi dunia, bagi alam raya. Memberikan great ending dalam episode hidupnya -tidak sekedar happy ending- menjadi khusnul khatimah, hidup dengan akhir yang baik.

Namun ….

Tak berhenti disitu, kehebatan sebuah bintang ketika ber-supernova, di akhir hidupnya. ledakan tubuhnya melontarkan unsur unsur tertentu ke ruang angkasa, dan bahkan unsur unsur tersebut bisa bergabung menghasilkan sebuah bintang atau planet baru, dan “membuat” kehidupan baru ….

 

Lagi, belajar dari sebuah bintang, ketika dia berakhir dia tidak hanya meninggalkan sebuah “nama”, namun meninggalkan unsur-unsur bermanfaat bagi ruang angkasa. Menjadi manusia yang meninggalkan kebaikan yang berlanjut, peninggalan yang berharga, bermanfaat untuk sekitarnnya, kebaikan yang bisa dilanjutkan oleh generasi berikutnya, kebermanfaatan yang berkelanjutan, hingga akhir masa.

Semoga ….

Kita bisa menjadi manusia-manusia yang meledak seperti SUPERNOVA, memberikan yang terbaik di akhir hidup kita dan meninggalkan sebuah warisan kebaikan untuk semesta. Di lain sisi kita tak akan pernah tau kapan akhir hidup kita.

Maka, asumsikan lah bahwa masa ini adalah masa akhir hidup kita, hingga kita bisa “meledakan” kebaikan, kebermanfaatan, kemaslahatan jangka panjang, tak hanya kita, tak hanya keluarga kita, namun pada orang orang yang ada di sekitar kita.

Amin Ya Mujibassailin ….

P.s : Sebuah doa dan perenungan untuk diri sendiri

 

 

Bersyukur Tanpa Membandingkan

Ini tentang bersyukur. Tentang menerima dan berterimakasih atas apa yang telah kita miliki atau kita dapatkan. Tentang menerima dengan suka cita apa yang telah datang kepada hidup kita, baik diminta atau tidak diminta.

Kemudian apakah bersyukur itu perlu pembanding, perlu komparasi ? Seperti kalimat umum : ” Bersyukurlah kita masih bisa makan hari ini, coba lihat di luar sana, banyak orang orang yang masih kelaparan ” atau tidak asingkah perkatan seperti ini “Bersyukurlah engkau masih punya orang tua, lihat mereka yang orang tua nya udah tidak lengkap”

Salahkah perkataan itu ? ahh tidak…

Namun, haruskah bersyukur itu menyertakan pembandingan, haruskan menyertakan sesiapa pun itu yang tidak diberikan “kenikmatan” seperti kita ? seolah olah mereka tidak beruntung dan kita yang lebih beruntung? bukankah setiap orang diberikan anugrah dalam porsi masing masing.

Ketika kita tidak/belum memperoleh “kenikmatan” dalam satu bagian kehidupan, bukan berarti kita tidak beruntung, isnt ? begitu pula sebaliknya. Setiap orang diberikan porsi nya masing masing. Kesyukuran berarti keberuntungan, kesyukuran tidak mesti pembandingkan, kesyukuran itu bukti penerimaan, keberterimakasihan, dan pemanfaatan untuk kebaikan bukan ?

ahh.. ini hanya tulisan keresahan saya saja, yang juga pernah bersyukur dengan syarat, dengan syarat “melihat” keluar, padahal bersukur cukup dengan “melihat” kedalam. Dan kemudian sedang melatih diri bersyukur tanpa syarat, tanpa pembandingan, cukup BERSYUKUR saja

Mencintaimu Hingga Ke Syurga

Aku ingin mencintaimu hingga ke syurga,

Tidak berjangka hingga dunia

Tak berbatas usia dalam hitungan angka

Aku ingin mencintaimu hingga ke syurga

Yang kelak tak akan ada jeda di antara kita

Saat kita bertemu dengan Nya

Aku ingin mencintaimu hingga ke syurga

Maka kini, ku sujudkan saja apa yang aku rasa

Ia yang lebih mengerti segalanya

Aku ingin mencintaimu hingga ke syurga

Padanya kita meminta semacam pertanda

Untuk kita, karena

Aku ingin mencintaimu hingga ke syurga

 

 

 

Selat Sagawin

sagawin

 

 

Sore itu, kapal KRI 592 kami, akan segera memasuki perairan Raja Ampat, Sorong. Tidak seperti biasa, sore itu tidak banyak peserta Ekspedisi yang mengejar matahari tenggelam di anjungan. Karena mungkin faktor kelelahan setelah belasan hari berkeliling pulau pulau sebelumnya.

Speaker di anjungan menginfokan bahwa kapal memasuki wilayah Selat Sagawin,selat kecil yang menjadi salah satu jalan memasuki perairan Sorong. Sore itu saya berinisiatif sendiri menaiki anjungan luar, untuk melihat pemandangan selat. Diatas ternyata hanya ada dua orang teman yang sudah siap dengan kameranya. Suasana pun tidak terlalu riuh.

Kami bertiga bercakap cakap ringan sembari menikmati selat yang sangat senyap, sepi, dan menawan. Terdengar suara kapal membelah selat, laut sangat tenang, samping kiri kanan kami pulau yang hampir tidak berpenghuni terhampar, sesekali hanya ada burung burung laut yang berkicau dari kejauhan. Menikmati selat sempit, menuju lautan lepas di depan, ditemani angin laut yang membelai wajah wajah kami, adalah sebuah kemewahan. Akhirnya kami tak banyak bicara, hanya menikmati saja apa yang di sajikan Tuhan dihadapan.

 

Satu kata saja : Syahdu. Maha Besar Allah dengan segala ciptaan-Nya

Aku datang pada Mu ya Allah

al-quran-1

 
Aku datang pada Mu ya Allah, bersama ribuan ayat suci Mu diatas lembaran sajadah panjang ini, lidah hamba terbata bata, tapi mata dan langkah ini terus menuju Mu. Jangan palingkan wajah Mu, jangan palingkan wajah Mu dariku yaa Rabb …

Engkaulah arahku satu satu nya saat ini, wahai Sang Penguasa hari akhir..Allahu Akbar..

Wahai Rabb, jangan lah berjarak dariku. Engkau yang tak Terhingga, Kuasa Mu membuatku berputus asa, kecuali Engkau yang membimbingku melalui huruf demi huruf Firman Mu ..

Tabir tujuh lembar langit tak kan mampu kutembus, kecuali doa doa penuh harap yang diterbangkan Malaikat MalaikatMu, sampaikah doa doa ku pada Mu ….

Seandainya ada yang puncak yang lebih tinggi dari sujud ini, tentu hamba naiki. Tapi Engkau telah menetapkan sujud ini sebagai puncak penghambaanku, maka jangan Engkau minta lebih dari ku untuk menghamba…

Tak berani kutanyakan, menangkah hamba, kalahkah hamba. Hamba yang terus mencariMu, mencari Ridha Mu dalam gelapnya harapan …

Kutinggalkan dunia yang menjadi karuniaMu, kutinggalkan kekhalifahan yang Engkau amanahkan, kulupakan nama nama dunia yang menjadi bebanku selama ini, kuingat hanya nama Mu, nama Rasul Mu, dan nama Ibu ku, mana kaki Mu ….

Laailaahaillalah Muhammadarrasulallahllah …
Laailaahaillalah Muhammadarrasulallahllah …
Laailaahaillalah Muhammadarrasulallahllah …

 

 

P.s : Puisi ini diambil dari doa di film para pencari Tuhan,di bacakan oleh bang jack, di episode terakhirnya. Mata ini tak kuat melawan isyarat hati, gerimis. Sebuah puncak kepasahan seorang hamba pada Tuhan Nya.

Konversi Cinta Dalam Doa

Pernah kah kau mengkonversikan cinta dalam doa ? saat kau teringatnya kau mendoakannya, saat kau tetiba merindunya kau sampaikan dalam simpul simpul doa, tak usah memberitahunya, cukup berdoa saja

Dan dalam semalam ini lah aku bisa berbicara pada Mu, kepada sesatunya yang mengerti sungguh dalam rasa hatiku. Kau yang menggengamnya dan Kau yang melepaskannya.

Ku tau KAU tau, kali ini aku ingin mencintanya dengan cara yang berbeda, dalam gelombang yang tak sama.

Bila ini cinta, aku ingin menghargainya. Bila ini cinta, aku akan memaknainya. Bila ini rasa aku akan meragainya. Bila ini rasa yang tak mampu lagi terucap, aku akan mengkonversinya dalam doa. Bila ini rindu aku akan mengakuinya kemudian melepaskannya. Bila ini ketentuan aku akan menerimanya.

Ku tau KAU tau, kali ini aku ingin mencintanya dengan cara yang KAU suka. Itu saja

Taken From My Older Blog : https://angkasa13.wordpress.com

Apa Yang Lebih Besar Dari Impian ??

 

impian

Begitu ramai kita membahas tentang impian, impian itu. Kita semua punya impian, saya, anda, mereka, kita semua. Banyak dari kita yang mempunyai impian mulia, impian  mempunyai rumah untuk para yatim dan dhuafa, impian untuk membangun masjid, untuk menghajikan orang tua, impian untuk membuat rumah sakit untuk para dhuafa, impian membuat sekolah, impian untuk membuka lapangan pekerjaan, dsb.

Impian mulia itu kadang membuat kita mengebu gebu, begitu bersemangat, begitu antusias, begitu berenergi, semuanya serasa di depan mata, semua begitu terbayang nyata, seluruh alam raya serasa merestui.

Namun, seiring waktu berjalan, impian itu menghadapi banyak cobaan, kesulitan, rintangan, maju-mundur, kemudian mentok, naik turun, menurun dan tersungkur, dan sekarang seolah olah dunia menentangmu, alam raya tidak merestuimu.

Lalu apakah lantas kita akan menyerah pada impian impian itu ??

Ya !!! Apabila impian impian itu hanya sekedar euforia belaka, impian itu hanya sekedar suka suka saja setelah kita ikutan training motivasi, apabila impian itu hanya sekadar ikut ikutan belaka, hanya trend sementara. Halang rintang yang dihadapi diatas akan membuat impian kita menjadi mudah patah begitu saja.

Lagian, kenapa bersusah payah mempunyai impian. Hidup biasa biasa saja tanpa impian juga gak apa apa kok, atau kalo si impian itu memang susah di capai, ya udah sih udahan aja, tinggal berbelok cari impian lain yang mugkin lebih realistis.

 

***

Lalu apa yang lebih kuat dari impian atas hal hal mulia diatas ??  mempunyai rumah untuk para yatim dan dhuafa, membangun masjid,  menghajikan orang tua, membuat rumah sakit untuk orang yang tak mampu, impian membuat sekolah gratis, impian untuk membuka lapangan pekerjaan, impian membantu banyak orang, dsb.

Apa yang lebih kuat dari IMPIAN ? apa yang membuat kita tak beranjak dari hal hal diatas ketika bertubi tubi kita di hantam oleh rintangan, halangan, penolakan, cibiran,  hingga kegagalan yang terus menerus.

KEWAJIBAN, ialah yang lebih kuat dari IMPIAN. Kewajiban yang bukan hubungannya terhadap diri sendiri, kewajiban yang bukan hubungannya dengan orang lain, namun KEWAJIBAN kita kepada Nya.

Hal hal diatas, berharta banyak, membantu orang lain, melayani banyak orang, menjadi jalan kebaikan , menjadi kanal keberkahan, menjadi sumber kebermanfaatan dalam kehidupan, jadikan sebuah KEWAJIBAN bukan sekedar IMPIAN. Kewajiban kita kepada-Nya, sebagai penghambaan kita kepada – Nya.

Karena saat itu kita jadikan sebagai sebuah kewajiban , ia akan mengikat erat dalam hati dan fikiran kita. tak hanya euforia dan artificial dunia saja, tidak hanya sekedar formalitas saja, tidak hanya sebagai eksistensi saja.

Karena saat itu kita jadikan sebagai sebuah kewajiban, kau tak akan mudah patah, lantas menyerah, karena melaksanakan sebuah kewajiban adalah penghambaan.

Bismillah….

 

 

 

 

 

Akan Kuceritakan Kelak Pada Mereka

Akan kuceritakan kelak, pada anak, cucu, pada generasi masa depan bangsa ini, bangsa Indonesia. Bahwa ada satu masa, ibu kota negara Indonesia di datangi oleh berjuta manusia dari seluruh arah mata angin negri ini.

Meraka datang untuk berdoa, berdoa bersama dalam ikatan, karena ketika doa dilakukan bersama akan mengkalikan kekuatannnya, mereka datang karena cinta kepada pedoman hidup mereka, Al Quran.

Kelak, akan kuceritakan bagaimana mereka berduyun duyun datang mengerahkan apa saja yang mereka punya, mengorbankan harta, mengorbankan waktu, mengobarkan tenaga, mengorbankan raga, untuk sesuatu hal yang mereka cinta, Agama.

Mereka yang teratur dalam barisan, setia dalam barisan, duduk, khusyuk mendengarkan para pemimpin mereka, khusyuk berdoa.Hujan gerimis adalah kesejukan bagi mereka, bahkan hingga hujan deras pun, tidak seorang pun dari mereka yang berebut mencari tempat berteduh, mereka setia, setia dalam barisan, setia dalam ikatan, setia dalam keimanan.

Disana, ada sebuah suasana yang sulit dijelaskan, suasana yang mungkin baru kali ini juga di temukan, suasana yang sampai saat ini belum bisa ditemukan padanan kata yang tepat. Disana mereka saling menyapa, saling bertemu dengan dengan wajah berseri seri, meraka yang padanya akan kau dapatkan rasa damai.

Suasana saat itu adalah suasana yang sangat mahal, tak bisa di konversikan dalam nilai mata uang, atau hal hal duniawi semacamnya. Suasana yang akan sangat dalam tertinggal dalam jiwa dan akal setiap orang, suasana yang aku ingin selalu mengingatnnya, bhkan pada mereka yang tidak ada di tempat itu.

Dan dalam barisan mereka, aku lah salah satunya, dan perasaan yang ada bukanlah sekedar rasa bangga, lebih dari sekedar bahagia, entah apa, hanya ada perasaan yang penuh …

Adalah 02 Desember 2016, adalah salah satu masa yang terbaik dalam hidup, terimakasih ya Allah untuk kau izinkan aku menjadi bagian dari nya

***