Habis Pulang Dari NTT

Jadi, beberapa hari yang lalu, saya dan kawan kawan dari Kebukit Indonesia, baru pulang dari NTT, dalam rangka program #BangunSekolahNTT, tepatnya di Pulau Pangabatang, Maumere Kabupaten Sikka, NTT.

Seminggu kemarin jadi hari hari yang padat untuk banyak hal, seperti untuk persiapan, keberangkatan, pelaksanaan kegiatan, pulang, dan istirahat. hhaa.. sok sibuk bangetttt 

Oleh oleh dari sana apa ?

Ah..banyak hal, nanti saya ceritakan satu satu. Yang jelas saya ga bawa oleh oleh kain tenun, karena ga sempet untuk hunting dan semacamnya. Heu..

Oleh oleh nya cerita aja yaa

Tapi besok aja ceritanya yaa…

Sudah larut

Esok sudah kembali beraktifitas

 

Salam, dari anak anak NTT yang super antusias … 🙂

4f60a356-f51c-4059-952c-42c03cb8b0b2

 

 

Stalking Less – Reading More { Selamat Hari Buku Sedunia }

Wahh… hari ini 23 April yaa … hari buku sedunia.

Lalu bagaimana saya memaknainya ?

Ahh lagi banyak intopeksi ama diri sendiri aja, bahwa kualitas membaca saya masih tidak ideal. Waktu yang sebenarnya bisa dipakai untuk membaca, masih banyak di gunakan untuk hal hal yang “kurang bermanfaat”,

Apalagi di zaman yang serba digital ini, seakan hidup kita berada di bawah kuasa layar persegi panjang, hidup kita tak bisa lepas dari sebentuk layar itu, apa apa menunduk, apa apa di scroll, beberapa detik sekali hidup kita pasti tertuju pada layaritu, seakan semua terpuaskan selama kita berdekat dekat dengan layar itu.

Hampir semua hal saat ini memang bisa kita dapat di layar itu, uruasan pekerjaan, urusan bisnis, membina hubungan, dsb. Namun tak jarang juga, kita tenggelam dalam layar itu untuk hal hal yang tidak penting. Mulai dari buka account account seleb, gosip, berita berita yang tidak ada hubungannya dengan kebaikan kita, masa depan kita, tanggung jawab kita.

Kadang kita berdalih ” ahh… ini kan hiburan aja, sesekali “, tapi sadarkah kita, bahwa sesekali itu, kadang mencuri banyak waktu dan kesempatan kita. ” ahh… 10 menit paling”, kemudian srcoll…scroll.. klik… klik… lihat komentar. Scroll lagi video yang keliatan menarik, lihat video, lihat koment, lihat lagi video yang lain, scroll…scroll…. dan BOOM ! ga kerasa itu sudah menghabiskan 30 menit kita.

Dan itu ga hanya sekali, berkali kali, bila kita mau jujur menghitung, berapa lama waktu yang kita habiskan waktu untuk scroll sesuatu yang unfaedah .  Berapa kali dalam sehari kita menghabisakan 30 menit untuk hal itu dalam sehari ?  Sekali ? Duakali  ? lima kali ? 30 X 5 waktu, berarti kita menghabiskan waktu 150 menit (2 jam lebih) untuk sesuatu hal yang kita pun tidak tau, apakah itu jadi “vitamin” buat jiwa dan nalar kita ? atau hanya jadi kumpulan sampah, tidak membawa kebaikan, malah menjadikan kita manusia yang terlena dan lalai …. duhhh….

Padahal 30 menit itu, bila kita pakai untuk membaca buku. Maka, 30 menit itu bisa menjadi sesuatu hal yang istimewa. 30 menit yang akan bisa menutrisi jiwa kita, menyehatkan nalar kita, menyuburkan taman ilmu diri kita, menggerakan cita dalam diri kita untuk berbuat lebih banyak, memantik kita menjadi manusia yang lebih berkualitas.

Between 30 minute you spend for stalking and 30 minute you spend for reading, its will make a lot of differences

Kalau dahulu layar “penjajah” manusia berupa kotak persegi empat yang ada di ruang tengah rumah. Bisa jadi “penjajah” manusia saat ini, adalah layar persegi yang selalu kita bawa kemana mana, tak bisa kita jauh jauh dari nya, galau sangat apa bila dia jauh, ketinggalan, atau hilang…

Ah,,, sebenarnya ini nasihat kepada diri saya sendiri, yang masih sering Alfa mengatur dan mengendaikan diri, untuk menjadi manusia yang

STALKING LEES

READING MORE

 

Selamat hari buku sedunia, semoga kita bisa memakna aksara yang ada di dunia


 

Life Is About Adjusment

Karena apa yang terjadi dalam hidup, terkadang -bahkan sering kali- tidak sesuai dengan yang kita harapkan, apa yang kita citakan. Juga apa yang berjalan kadang tidak seperti apa yang kita telah dengan baik kita rencanakan, serapih apapun itu, sematang apa pun itu.

Saat kita mempunyai sebuah cita dan niat baik, yang kemudian apa yang terjadi tidak sesuai harapan dan perencanaan, maka mungkin ini tentang tiga hal ; Pertama, tentang seberapa teguh kita mempunyai keinginan ; Kedua, mungkin ini tentang bagaimana kita bisa menyikapi dan beradaptasi atas kondisi yang ada ; Ketiga, mungkin ini tentang keduanya, tentang meneguhkan hati dan bisa beradaptasi menyesuaikan diri dengan kondisi nyata yang ada. Life Is About Adjusment

Cita yang baik dan tinggi, kadang nggak mudah begitu saja mudah teraih, dan terlaksana. Dalam perjalannya akan menemu hambatan, rintangan, percabangan, jalan jalan yang memudar, atau bahkan seakan jalan yang buntu. Mungkin disinilah titik uji, apakah itikad kita seteguh cita kita. Apakah segala sulit dan halangan akan membuat kita balik kanan, berpulang, dan membatalkan impian. Ini tentang yang Pertama

Kedua, ini tentang bagaimana kita bisa menyikapi atas hal yang tidak sesuai harapan. Satu waktu mungkin kita begitu teguh bahwa semua hal yang telah terencana, pasti akan nyata. Namun, ada kala kita peka bahwa ada sesuatu hal yang dirubah, kita perlu melakukan banyak penyesuaian, entah itu merubah cara, mencari alternatif usaha, atau bahkan memilih jalan yang berbeda. Karena kadang kita menutup mata akan realitas. Memilih berbelok arah, atau sejenak berhenti berjalan, belajar untuk menerima, bahwa kita harus beradaptasi dengan kondisi yang ada. Tidak memaksakan diri.

Kemudian, yang Ketiga, adalah perpaduan keduanya. Saat sesuatu tidak sesuai dengan keinginan, cita, harapan dan perencanaan. Kita tidak menghentikan impian kita, tak begitu saja menghapus cita kita, tak mudah begitu saja menghentikan langkah dan berbalik arah, melambai tangan dan kembali pulang.

Namun kita tetap teguh menggenggam segala cita kita, tetap memeluknya dalam jiwa kita, sembari tetap berlapang dada ketika segala sesuatu tidak selancar yang kita duga, tidak secepat yang kita harap. Berlapang dada berarti mau untuk berkawan dengan realitas, menerimanya dengan jiwa yang luas, fikiran yang ikhlas. Untuk kemudian mencari cara yang bijak, agar kita mampu menyikapi realitas adalah sebuah cara kita untuk belajar, belajar cerdas, belajar sabar, belajar bijak, belajar berteguh, belajar yakin atas cita, impian, dan niat baik kita.

Life Is About Adjusment, Be Wise

Fn : Salam hangat dari kota Bandung, yang tiba tiba dianugrahi hujan di waktu yang hampir tengah malam.

Kamis, 19 April 2018

11.34 Pm

 

 

 

 

Sinkronisasi Do’a

Semua manusia pasti ingin do’a ny terkabul, ingin setiap  harapnya terwujud, semua cita terlaksana. Semua do’a dan segala harap pasti baik, pasti memuliakan. Tak ada manusia yang hidup hati dan akalnya, berharap agar do’a do’a baiknya tidak terkabul. Setiap do’a dan harap pasti ingin terjawab dengan YA !

Namun kadang, lapisan do’a itu tidak kunjung terwujud. Walau telah habis segala jenis barisan doa, dan telah terkuras segala ikhitar usaha dan daya upaya.

Lalu, apa yang salah ?

Mungkin, ini karena kita tidak mengsingkronkan do’a dengan perbuatan kita, menyelaraskan doa dengan hati, jiwa dan raga kita

Maksudnya begini …

Suatu saat kita sedang resah gelisah, karena sebuah permasalahan. Misalnya kita sedang dilanda kesulitan keuangan, masalah pekerjaan, jodoh atau semacamnya. Maka, pasti do’a do’a kita adalah do’a agar memperoleh kelapangan rizki, agar bisa terlepas  diri kita dari beban hutang, agar ditunjukan jalan pekerjaan, agar di datangkan jodoh impian. Rangakaian do’a pun telah lengkap terucapkan, di sujud sujud kita, di waktu waktu mustajab dan sebagainya.

Namun setelah itu, laku kita, tidak mencerminkan do’a kita …

Do’a adalah wujud optimisme kita sebagai manusia, bahwa akan hadir pertolongan dari Nya. Do’a adalah secercah harap, bahwa segela resah akan berakhir, bahwa setelah gelisah akan ada cahaya …

Seharusnya setelah berdo’a itu kita tegap berdiri, yakin bahwa Allah akan mengabulkan do’a kita, Allah akan memberikan jalan jalan peluang rizki, Allah akan memberikan rizki pada saat yang tepat, dan dari arah yang tidak disangka sangka.

Namun sayangnya setelah berdo’a, seringkali kita masih membiarkan hati diliputi resah, fikiran kita masih penuh lara, melayang layang diliputi pesimisme, aura tubuh negatif, lemas, tidak bersemangat, tidak bergairah, down, gloomy, seakan akan do’a do’a itu jauh dari terkabul. Masih saja memelihara gundah gulana.

Walaupun kita berikhitar,  bekerja dengan sekeras kerasanya, tapi ikhitiar itu tidak “lepas”, fikiran kita masih di luputi ketakutan dan keresahan, bahkan muncul pertanyaan, apakah doa saya benar benar akan dikabulkan ?

Padahal, bila kita yakin kepada Pencipta kita – Allah Swt- Sang Pemilik Segalanya, Sang Pengabul Do’a. Maka setelah berdo’a maka hati kita akan tenang, fikiran kita akan jernih, api semangat di jiwa akan membara, wajah kita akan mencerah, tubuh kita akan tegap penuh dengan energi, aura diri positif, wajah bercahaya, karena kita yakin lembaran do’a kita yang telah tersampaikan, dikabulkan.

Mempercayakan Do’a Kita Kepada-Nya, Berbaik Sangka Pada-Nya

Memang tidak mudah, namun  bisa kita usahakan

Mengsinkronkan do’a, berarti meyelaraskan apa isi do’a kita dengan perbuatan kita, dengan laku sehari hari kita, dengan pola pikir kita, dengan cara berjalan kita, dengan cara berbicara kita, dengan lisan kita, dengan optimisme di hati kita.

Bukan hanya tentang mengimbangi nya dengan kerja dan ikhitiar atau semacamnya, tapi bagaimana menyelaraskan Do’a, dengan hati, fikiran dan raga kita.

***

Fn : Sebuah catatan dan nasihat buat diri sendiri, yang terkadang masih tidak “singkron” dalam berdoa. Semoga bermanfaat, Saling mendoakan yaaa...

Selamat Malam,

Salam hangat dari kota Bandung, yang lagi panas

Nuriska

 

 

 

Curhat Produktif

Karena seringkali kita yang butuhkan adalah nasihat yang  didengar dari orang lain. . Kenapa ? karena kita terkadang belum mampu untuk menasehati diri sendiri , kita butuh orang lain.

Seperti tadi sore …

Ketika saya dan sahabat saling mendengarkan tentang apa yang sedang di rasakan oleh masing masing, baik itu permasalahan, keresahan, juga harapan. Dari saling bercerita dan mendengarkan itu, tak terasa sebenarnya kita sedang saling menasehati, saling memberi semangat dan memberi energi.

Ada yang bilang ” Ga usah curhat ama orang, curhat ama Allah saja “ , hal ini tidak berarti kita tak boleh bercerita kepada orang lain, sesama manusia. Memang tempat pertama dan terbaik untuk mengadu adalah kepada-Nya, penggenggam semua hal yang ada. Namun bukan berarti kita tidak membutuhkan manusia, untuk bercerita.

Bercerita pada manusia, menandakan kita manusia yang hidup membutuhkan sesama. Karena ketika kita bercerita kepada dia orang yang tepat, kita akan mendapatkan “sesuatu”, entah itu solusi, cara pandang, atau jalan keluar. Mungkin dia -sahabat kita tempat kita bercerita- adalah jalan dari-Nya atas “curhat” kita yang selama ini langsung kita sampaikan kepada-Nya.

Maka, carilah ia orang yang tepat, untuk berbagi keluh mu, kesah mu, rasa gundah dan kebingunganmu. Orang yang sedikit banyak ia tau tentang dirimu, tau tentang duniamu, dan kau tau saat bercerita padanya, akan ada kebaikan setelahnya. Curhat Produkitf

Bercerita pada orang yang tidak tepat, atau hanya bercerita di media sosial, untuk agar sekedar kau bisa “melepaskan” rasamu memang tidak salah, namun untuk apa ? karena tidak semua orang perlu tau tentang segala rasamu bukan ?

Sembarang mengumbar cerita diri kita pada orang, juga menandakan kita orang yang kurang bisa “melindungi” kehormatan diri kita sendiri. Hargailah diri kita sendiri dengan tidak begitu gampang pada sembarang orang, mengutarakan segala perasaan.

Maka, carilah ia seseorang ketika bercerita padanya, kau mendapatkan kesadaran, penyegaran dan energi kebaikan. Curhat Produkif

Selamat Malam,

Salam Hangat Dari Kota Bandung 🙂

 

 

 

 

 

 

Haruskah Selalu Berfikir Positif ?

Saya terkadang sedikit tidak sefaham dengan orang orang yang selalu mengatakan “sudah lah, berfikir positif saja!”ketika terjadi sesuatu peristiwa atau fenomena. Walaupun peristiwa atau fenomena yang terjadi adalah sesuatu yang buruk atau salah.

IMHO sesuatu yang buruk, harus diterima sebagai hal yang buruk terlebih dahulu. Sesuatu yang tidak benar, harus kita akui sebagai sesuatu hal yang memang salah. Berfikir positif tidak berarti memperkenankan kita seketika menganggap baik apa yang sebenarnya buruk, membenarkan apa yang sebenarnya salah, menawarnya dengan kalimat “sudahlah, berfikir positif saja !”

Berfikir positif pun harus di tempatkan sesuai dengan porsinya. Tidak semua serta merta selesai dengan berfikir positif. Menempatkan berfikir positif atas sesuatu permasalahan, tanpa berusaha mencari apa akar masalah, dan bagaimana menyelesaikannya, saya rasa hal itu adalah hal yang tidak tepat, naif. 

Mengaggungkan berfikir positif misalnya, ketika kita mengalami kegagalan, tanpa mencari tahu kenapa kita gagal, apa penyebabnya, apa yang harus diperbaiki, adalah sesuatu kekeliruan.

Menanggapi kedzaliman yang terjadi di sekitar  kita, dengan berkata “sudahlah, berfikir positif saja!” Adalah sebuah kesalahan fatal. Karena akhirnya kita menjadi manusia yang tidak rasional, tidak mau berfikir logis, sesuai fakta.

Berfikir positif adalah sebuah hal yang baik, ketika bisa kita tempatkan sesuai dengan, waktu, peristiwa, fenomenanya. Berfikir positif adalah ketika kita bisa mengambil hikmah -atas hal yang buruk atau yang baik – atas sebuah peristiwa , mampu mengambil tindakan yang bijaksana, dan mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi.

Karena tidak semua peristiwa, tidak semua selesai dengan kalimat “sudahlah, berfikir positif saja !”
Semua ada tempatnya,

Semua ada waktunya,

Bijaksanalah ….

Langsung Diuji !!

Allah punya berbagai cara untuk “menguji” kesungguhan dan kemampuan kita.

Saat kita sedang mempelajari tentang ilmu tentang keikhlasan, maka tak menunggu lama Allah mendatangkan sebuah ujian yang meminta keikhlasan kita.

Saat kita banyak belajar membaca dan mendengarkan tentang makna kesabaran, maka tak lama kita tertimpa sebuah ujian yang memita kesabaran kita.

Saat kita ingin menjadi dewasa, Allah menjawabnya dengan ujian yang meminta kedewasaan kita.

Semacam itu …

Disanalah Allah menguji kita, atas apa yang kita baca atas apa yang kita dengar, apa yang ingin kita mengerti dan fahami. Allah menguji kesungguhan kita dan kemampuan kita untuk menjadi seseorang yang kita ingini.

Ingin menjadi orang yang ikhlas, maka Allah memberi kita ujian

Ingin menjadi orang yang sabar, maka Allah menjumpakan kita dengan musibah

Ingin menjadi orang yang dewasa, maka Allah temukan kita dengan masalah 

Kadang ujian itu tidak menunggu lama, langsung disedia di depan mata, setelah kita mulai mempelajarinya. Tak semata Allah biarkan kita mengalami berbagai uji, agar kita bisa menjadi manusia yang membukti, bukan faham hanya sebatas teori…

Tak semata Allah memberi langsung kita uji, karena ia ingin menaikkan level diri kita, mematangkan pemahaman kita, meningkatkan kualiatas diri kita, dan memberikan kita berbagai nikmat pahala, memberi hikmah mulia dalam diri kita …

Maka, berisaplah untuk diuji, karena manusia pasti diuji ….

 

Bandung, 18 Maret 2018

 

 

[ Cerita Jiwa 2 ] [ Tanaka – Haira Stories ]

Hai Haira, telah ku dengar ceritamu …

Haira …. hidup adalah perlaluan yang penuh kejutan.

Sebelum aku banyak bercerita, yang aku minta, bila kau merasa lelah, akuilah.., setelah itu beristirahatlah, tiada benar kau terus berjalan ketika jiwa mu lelah.

Duduklah…nikmati lelah mu, hargai jiwa mu, beristirahatlah …

Lelah itu bukti bahwa jiwa mu hidup, hati mu menyala, lelah itu adalah sebuah tanda kau sedang berjuang, berbahagialah bahwa kau memang telah berjuang, berterimakasih lah pada-Nya yang telah memberikan kesempatan dan kekuatan kepadamu untuk berjuang …

Haira… aku tau cita mu begitu menyala, seperti kau banyak bercerita padaku, ku tidak ingin hidup yang sia sia, kau selalu ingin berdaya untuk manusia dan semesta. Aku selalu terpana mendengar begitu banyak cerita mu, melihat binar cita di matamu, melihat mu begitu membara untuk bisa membagi banyak bahagia dengan mereka…

Aku selalu ingin menjadi bagian dari cita cita mu ….

Namun Haira, jangan biarkan cita cita mu itu justru jadi belenggu jiwa mu. Barakanlah sebesar apa itu cita di nalarmu, namun jangan lupakan apa kata hatimu. Lelahmu mungkin karena kau terlalu cepat berlari, kau terlalu ingin cepat sampai, kau tak mengukur se seimbang apa raga dan jiwa mu mengikuti besar nya cita mu.

Haira… bila kau ucap, begitu cepat keadaan berubah, penuh kejutan, kejutan yang kadang menyenangkan kadang sebaiknya, begitulah hidup. Yang perlu kau tau semua kejadian terjadi bukan tanpa tujuan, ada sebuah pengertian hidup yang Ia tengah ajarkan kepadamu, Ia ingin kau benar benar memahami tentang sebuah sari pati kehidupan. Bersabarlah …

Mungkin makna itu tidak akan seketika kau temu sekarang juga, namun pada saatnya -tak lama lagi – kau akan menemunya, dan setelah itu kau akan tersenyum karnanya. Tenanglah …

Haira … aku ingin menasihatimu sesuatu ….

Apa yang kau mampu laku, maka lakukanlah. Apa yang tak kuasa kau laku, maka lalukanlah, biarkanlah …

Karen Haira, aku tau kau akan berusaha…

Maka berusalah dengan bijaksana, semua ada jalannya, semua ada saatnya ….

 

~ Tanaka.

 

 

[ Cerita Jiwa ]-[ Tanaka – Haira Stories]

Hai Tanaka, malam ini boleh aku bercerita? tentang jiwa yang sedang merasa segala rasa…

 

 

Tanaka, Kamu Pernah merasa seperti ini … ?

Merasa lelah dengan naik turunnya keadaan, yang sebentar seperti ada secercah harapan, lalu tak lama kemudian ia menjadi sebuah kekosongan. Sebentar kau merasa melihat sebuah cahaya, namun tiba tiba cahaya itu meredup dan menjauh.

Pernahkah kau merasa begitu berenergi di pagi hari, namun menjelang siang kau peroleh kabar yang tak menyenangkan, hingga energi yang tengah meninggi itu seketika pergi. Pernahkah kau begitu lelah, hingga kau tak bisa terlelap dengan tenang

Pernahkah kau berjuang dengan segenap badan, waktu dan fikiran, namun jangankan hasil baik yang diinginkan, malah serupa masalah yang kau dapatkan. Seperti kau akan dihadiahkan sebuah kebahagian, namun yang kau dapatkan adalah sebuah kekecewaan. Kau seperti dipermainkan oleh kehidupan.

Tanaka, ku tau, aku lelah ….

Tanaka, bila kau sudah usai mendengar ceritaku, berkabarlah ...

 

Ruang Sendiri

Akan selalu ada masa dimana kita membutuhkan “Ruang” untuk menyendiri, ruang yang tidak ada sesiapa dan tidak perlu menjadi sesiapa. Ruang dimana kita bisa meluruhkan segala atribut dunia, melepaskan segala peran yang ada, meletakan rupa rupa topeng dunia, ruang dimana ini tentang diri kita saja.

Ruang dimana kita bisa apa adanya menyikapi duka dan bahagia, ruang dimana kita bisa mengaku sepedih pedihnya rasa, dan sebuncah syukur jiwa. Ruang dimana tidak ada sekat antara diri kita, tidak ada sejarak dusta.

Ruang dimana kita melepas segala lelah, memerdeka nafas panjang, mengaku segala rasa sepi, atau tentang melepas air mata yang sempat tertahan, atau mengenang sebuah tanda tanya sebuah kisah cinta. Ruang dimana kita bisa mengakui segala gundah gelisah, ruang dimana segala harap dan cita bebas tercurah.

Ruang dimana kau bisa jadi “diri sendiri” , utuh …

Ruang yang bisa berupa tempat atau waktu, mugkin ruang itu kau temu ketika kau sedang berkendara pulang di malam hari, atau kau temu ruang mu saat kau berlari di pagi hari, atau saat kau menikmati sesuara aliran sungai dan memandangi ujung lautan, atau disujud mu di sepertiga malam.

Ruang itu, ruang yang kau bebas berdialog dengan dirimu sendiri, berdiskusi. Kadang dalam ruang itu adalah ruang kau mengobati luka yang teralami, atau merayakan kemenangan atas hari yang telah bisa terlewati.

Ruang dimana kau bisa jadi “diri sendiri” , utuh …

Ahh.. selamat menemu ruang itu, karena kita selalu membutuh itu, sebuah ruang untuk kita bisa menghela nafas panjang, merenungkan, dan kemudian meghimpun kekuatan untuk perjalan kehidupan selanjutnya …

Ruang yang sebenarnya kau tak pernah benar benar sendiri, ada Ia –yang entah kau sadar atau tidak- yang akan selalu membersamai mu dalam segala ruang sendiri mu, mendengar segala kalimat yang tak terucap, mengetahui dengan baik segala rasa yang tak bisa kau ungkap …

Maka, “ajaklah” Ia dalam ruang sendiri mu, karena Bersama-Nya ruang sendiri mu jiwa-mu akan jauh lebih utuh …

Bandung, 27 Februari 2018

Di Ruang Sendiri