[ Kita Tak Punya Banyak Waktu ]

Waktu itu bergerak
Waktu itu berdetak
Waktu itu berpendar

Dimanakah jiwa kita ketika waktu merangkak bergerak

Dimanakah akal kita ketika waktu tersentak berdetak

Dimanakah hati kita ketika waktu memudar berpendar

Telahkah kita jauh melangkah, atau kita hanya berputar putar saja.

Telahkah kita banyak berbuat, atau kita hanya jalan jalan di tempat saja.

Telahkah kita benar beramal, atau kah hanya sebatas prasangka belaka saja.

Telahkah kita benar mengguna waktu, saat beribu detak waktu telah berlalu.

Kita tak punya banyak waktu
Kita tak punya banyak waktu

Ya…
Kita tak punya banyak waktu

 

time

Pintar Karena Susu Formula ?

Suka merasa sedikit kesal dengan beberapa tayangan pariwara yang ada di televisi. Mungkin banyak orang juga yang sudah merasakan hal yang sama. Salah satu nya adalah pariwara tentang susu anak, atau hal hal yang berhubungan dengan makanan dan minuman anak.

Beberapa pariwara iklan susu misalnya, yang terlalu berlebihan tentang manfaat ketika seorang anak mengkonsumsi suatu merek susu. Anak yang bisa lebih pintar , anak yang bisa lebih peka dan peduli, anak yang lebih berprestasi dibandingkan anak lain yang tidak mengkonsumsi susu tersebut, dan hal hal lainnya.

Apabila mengkonsumsi susu dihubungkan dengan kesehatan dan daya tahan seorang anak, masih bisa diterima oleh nalar. Namun apabila mengkonsumsi susu di hubungkan dengan kepedulian anak dan kepekaan anak, atau menjadikan anak mempunyai empati yang baik dibandingkan teman temannya, rasanya terlalu berlebihan.

Saya bukan nya tidak setuju dengan manfaat susu, dengan apapun kandungan manfaat di dalamnya, karena pasti ada manfaatnya, untuk tumbuh kembang seorang anak. Namun apabila disajikan terlalu berlebihan bisa jadi  berakibat beberapa hal, misalnya, miss persepsi orang orang yang sangat “awam”, apabila mau anak anak jadi pintar, berprestasi, peka, peduli ya cukup dengan kasih susu saja.

Tentunya ini adalah hal yang menyesatkan. Apalagi apabila ada orang orang yang “termakan” iklan tersebut, hingga beranggapan bahwa posisi ASI bisa tergantikan dengan susu formula.

Hal lain adalah bisa jadi, kalangan yang sudah tereduaksi dengan baik tentang bagimana membentuk kecerdasan anak baik intelektual, emosional dan lainnya, menjadi tidak simpati dengan produk susu yang terlalu berlebihan, karena mereka faham, bahwa membentuk kecerdasan, kepekaan, empati anak butuh lebih dari sekedar asupan susu, – terlepas dari banyaknya kontrofersi mengenai susu formula -.

Perusahan susu bisa saja, “membela” diri nya karena pendekatan yang mereka buat adalah dari sisi nutrisi atau gizi yang terkandung di dalamnya. Namun tetap saja, menurut saya iklan itu harus bisa “bicara” dengan cara yang wajar, kalau masih belum bisa ke dalam tahapan mendidik. Apalagi yang berhubungan dengan tumbuh kembang anak, jangan jadikan sumber komersialisasi dan industrialisasi saja.

Padahal ada juga iklan susu yang mengiklakan susu nya dengan wajar, bahwa rasa susu nya disukai anak anak, selain itu mengandung zat, nutisi, dll yang baik untuk kesehatan anak, dan bisa membantu menutrisi otak nya. Cukup sampai disitu, tidak berlebihan.

Ah harusnya lembaga yang bertanggungjawab terhadap pariwara yang beredar di media media cetak dan elektronik, harus lebih kritis dalam memberikan izin tayang, bukan hanya tentang aman dari hal hal negatif, tapi juga dari hal hal yang bisa menggiring persepsi masyarakat ke persepsi yang salah.

susu

Sumber Gambar : Google

Jangan Jangan Kita Tidak Bersyukur

Setiap kita diberikan bakat, potensi, kemampuan, keungulan yang berbeda. Tuhan tidak semata mata menciptakan makhluknya yang paling sempurna tanpa ada tujuannya. Saya percaya bahwa dalam setiap penciptaan Tuhan “titipkan” sebuah potensi unggulan, agar ia bisa bermanfaat bagi sesamanya. Bukankah Nabi Muhammad berkata :

“Sebaik baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya”

Ketika ada kata bermanfaat, berarti setiap manusia mempunyai potensi kebaikan, yang bisa menjadikan dia manusia bermanfaat. Tidak mungkin Allah ciptakan kita “kosong” begitu saja, Allah sudah berikan “modal” bagi kita untuk menjadi manusia bermanfaat.

Sayangnya kita tidak peka membaca apa “modal” yang telah diberikan oleh Allah untuk kita, padahal “modal” itu telah ada dalam diri kita, ada dalam pertanda pertanda yang telah lama Ia tampakan. Kita saja yang tidak peka mencernanya.

Kita sibuk kesana kesini mencari tau, mau jadi apa kita, mau berbuat apa kita, ingin seperti apa kita. Kita sibuk mencari tau, apa potensi terbaik kita. Padahal disisi lain kita sudah merasa dan diberikan pertanda tentang apa potensi alami kita, apa potensi unggulan kita, tapi kita abai melihatnya, kita samar mendengarnya, kita melihatnya seklias lalu mengabaikannya, atau hanya sesaat sesaat saja memperdulikannya.

Kita sibuk ingin menjadi orang lain atau ingin menjadi seperti orang lain, yang mungkin mengagumkan di mata kita. Atau barangkali kita ingin seperti orang lain di bidangnya yang terlihat sangat sukses, dan kita pun mendamba damba ingin sepertinya.

Kita lupa, Allah sebenarnya sudah menitipkan keunggulan yang khas pada diri kita, yang bisa jadi ketika kita peka melihatnya, peka mendengarkannya, kita bisa menjadi pribadi yang bermanfaat untuk diri kita, orang sekelililng kita, dan banyak orang di luar sana.

Kita sibuk mencari cari, padahal yang dicari sudah ada di dalam diri …

Jangan jangan kita sedang tidak bersyukur atas potensi, hadiah dan titipan yang Allah telah sertakan semenjak kita diciptakan. Kita merasa bakat, potensi itu hanya hal yang biasa biasa saja, tidak akan menjadi hal yang istimewa. Padahal tak ada yang tidak istimewa ketika kita adalah manusia ciptaan-Nya

Kita sibuk mencari cari, padahal yang dicari sudah ada di dalam diri, ah jangan jangan kita tidak bersyukur …

 

 

 

 

EUFORIA Perayaan Kemerdekaan ?

Sebuah Cacatan Renungan Kemerdekaan

Tulisan ini semoga bukan semacam tulisan “nyinyir” atau menyindir. Ini adalah tulisan seorang anak Bangsa yang sedang berdialog dengan fikiran nya tentang bagaimana sebagian besar masyarakat ini merayakan kemerdekaannya.

Ga Ada Kemajuan, Itu Itu Saja

Seperti yang kita tau, kebanyakan perayaan kemerdekaan di rayakan dengan cara yang sama dari tahun ke tahun, dari semenjak saya kecil hingga sekarang yang kurang lebih dua puluh tahun telah berlalu, lomba lomba seperti balap kelereng, lomba balap makan kerupuk, lomba balap karung, lomba tarik tambang, dan lain sebagianya, masih tetap sama.

Kemudian malamnya di tutup dengan panggung perayaan, yang rata rata adalah panggung dangdutan, yang digelar dari pagi hingga malam larut terkadang. Tak jarang penyanyi nya berpakaian terbuka dengan joget-an yang seringkali risih untuk dilihat, apalagi tidak bisa dihindari, yang menonton banyak anak anak, yang tidak baik ketika diberikan tontonan seperti itu.

Sesaat saya sempat sedikit nyinyir ketika membaca karton pengumuman yang ditempel di tembok tentang perlombaan perlombaan di lingkungan rumah saya, “ahh gitu gitu aja, ga ada kemajuan, bikin yang lebih mendidik kek” gitu kata hati saya.

Namun kemudian saya coba berfikir lebih dalam lagi, tidak bijak ketika hanya menilai, menghakimi dan tidak bisa memberikan alternatif, ide atau solusi. Satu sisi memang mungkin ini adalah wujud kegembiraan masyarakat dalam memeriahkan ulang tahun kemerdekaan, perasaan kesyukuran dan merasa memiliki. Selain itu perayaan dan perlombaan ini adalah ajang silaturahmi para warga.

 

 

Sudahkah Para Terdidik “Membumi”

Saya kemudian mengajak “diri saya” untuk berfikir ? kenapa perlombaan nya seperti ini ini saja. tidak ada nilai edukasi atau nilai yang bisa menanamkan rasa cinta yang lebih pada negri ini dan bisa menggerakan masyarakat untuk berkarya lebih.

Mungkin salah satunya adalah karena orang orang yang “terdidik” atau yang cukup berilmu pengetahuan di lingkungan setempat, enggan untuk turun dan membumi dengan masyarakat lingkungan terdekatnya, sehingga tidak ada input lain, tidak ada ide, gagasan baru, yang biasannya  dimiliki dan muncul -seharusnya- dari para orang orang terdidik ini yang mempunyai wawasan yang lebih luas.

Lagi lagi mungkin karena sebagian kaum “terdidik” ini tidak merasa penting untuk ikut bercampur di masyarakat, mengurusi hal hal yang terliahat kecil dan tidak juga membawa banyak keuntungan baik secara moril, prestise, atau financial . Atau memang kadang memang lingkungan rumah, seringakali “terlewat” oleh para kaum terdidik, aktivis, peggiat sosial, ilmuan, dsb, karena telah di sibukkan dengan urusan di luar lingkungan luar rumah yang terlihat lebih penting.

Padahal bila kita mau untuk menyadari, bahwa setiap kita mempunyai peran yang penting di lingkungan terdekat kita, lingkungan rumah. Lingkungan dimana kita tinggal di dalamnya, bersama sama dengan orang orang nya, menikmati udara dan tanahnya, namun sayangnya kita jarang ber peran di sana. Ahh… ini adalah sebuah refleksi diri saya sendiri ….

 

Alternatif Alternatif Kegiatan Agustusan

Ah bila mencoba flash back pada 72 tahun yang lalu, pada saat proklamasi ini di lantangan, pastilah suasana disana sangat sakral, sangat khidmat, perjuangan yang luar biasa dari para bapak  bangsa yang mewakafkan jiwa, raga, fikir, hati nya untuk kemerdekaan negri ini. Dan apakah kita merayakannya tanpa makna … ?

Kemudian terlintas ide ide dalam benak saya, yang mungkin bisa saya usulkan tahun depan di lingkungan rumah saya, seperti

  • Lomba Menebak atau merangkai wajah pahlawan Indonesia
  • Lomba orasi kemerdekaan (Mis : Lomba menirukan orasi Soekarno atau Bung Tomo)
  • Nonton film dokumenter kemerdekaan, dengan intreaktif. Kemudian ditanya apa yang dirasakan dan ingin dilakukan setelah menonton film tsb
  • Lomba story telling tentang kisah perjuangan kepahlawanan
  • Lomba menceritakan cita cita masa depan untuk Indonesia
  • Lomba pidato bahasa daerah masing masing
  • Dsb

Ah mungkin akan ada ide ide kreatif lainnya dari pada anak muda Bangsa ini ketika mau menyadari bagaimana seharusnya memaknai kemerdekaan dan bagaimana agar 17 Agustus adalah sebuah moment untuk benar benar mencintai negri ini, moment yang menggerakan untuk lebih berdaya, lebih dari sekedar kata kata.

 

Selamat Ulang Tahun Untuk Kita

19765170_1948393952095716_7524042254525136896_n

Hei kamu, kamu yang aku, aku yang kamu. Kita …

Selamat tanggal ke tiga belas bulan ke delapan untuk kesekian kalinya. Orang bilang itu adalah ulang tahun, tapi rasanya itu bukan kata kata yang tepat ya. mengulang tahun, rasanya tidak ada tahun yang terulang, tahun yang dimaksud  adalah tahun tahun yang sudah berlalu, dan  hari ini adalah tahun yang baru, di tanggal yang sama ketika kita dilahirkan.

Tanggal tiga belas bulan kedelapan itu, adalah semacam alarm pengingat tentang bahwa kita hidup dalam sebuah ukuran waktu, kenapa harus berukuran waktu ? ya barangkali karena detik per detik itulah yang akan terukur kelak, tentang bagaimana skor akhir hidup kita. Kenapa? Memang hidup itu berukur ya ?  ya .. iyalahh .. lantas, buat apa kita hidup, belajar, bekerja, beramal apabila tidak ada ukuran yang jelas pada hidup kita, bila tak ada ukurang waktu semuanya melayang layang.

Kita sama sama mengerti bukan, waktu ulang tahun bukan waktu terijabah nya doa, maka tak perlu lah meminta doa khusus kepada banyak orang. Tapi kalau ada orang yang mendoakan berarti itu sebuah kebahagiaan, ada doa orang orang yang terucap untuk kita tulus tanpa diminta, yang kebetulan teringatkan dengan tanggal kelahiran kita. Alhamduliilah, karena kita tak pernah tau doa yang mana yang terwujud untuk kita. Waktu seperti ini adalah momentum saja.

Ahh… rupanya kita sudah melewati banyak hal, gembira-kecewa, bersuka-berduka, melemah-meninggi, merapuh-mengenergi, rerupa rasa telah terlampaui. Banyak episode hidup yang kita jalani, ada yang dengan baik telah kita tempuhi, sebagian memang belum berhasil kita raih, di sisi lain banyak kebahagian dan kejutan yang tak terduga kita dapatkan. Hidup memang selalu ada dua sisi ya … 🙂

Lalu, bagaimana dengan hal hal yang belum bisa kita wujudkan, setelah berupa usaha yang kita sama sama telah lakukan, setelah beribu doa yang kita panjatkan ? Hmm.. biarkan lah itu menjadi rahasia nya, tentang kapan terkabulnya doa doa kita, yang harus di pastikan adalah bagaimana kita meneguhkan keyakinan kita, nahwa Ia tak mungkin tak mendengar doa kita, dan ia pasti mengabulkannya, ini hanya tentang waktu saja, tentang cara saja. Semoga jawaban ini bukan jawabaan penghiburan saja ya… hhaaa, ketika kita menunggu dia.

Pasangan sejiwa, adalah dia yang padanya kita merasakan “rumah” yang nyaman, tempat dimana kita ingin selalu berpulang, yang saat bersamanya ada ketenangan rasa, yang padanya kita merasa baik terjaga, yang padanya ada rasa cinta yang nyata, yang padanya kita bebas bercerita apa saja, dari mulai menceritakan sepakbola, buku buku bermakna, dan bagaimana bertumbuh bersama dalam mencari cinta-Nya.

Kemudian kita pun pernah merasakan bagaimana orang memandang kita. Some people understand us, some people don’t, some people support us, some peole judge us. Well, we cant avoid thats, well just go with it. Kita tak perlu menjelaskan kepada setiap orang tentang bagaimana berbagai episode kisah yang pernah kita lalui.

Kita pun sama bukan, terkadang kita bertanya tanya. Kapan waktunya? atau siapa dia ? dia kah yang selama ini berkali kerap kita temui, atau diakah yang mungkin sama sekali belum pernah kita temui, atau bahkan dia yang sempat kita temui sekali saat pagi hari. Dan setalah apa yang telah kita rasa selama ini, pada akhirnya kita belajar untuk tidak bersandar sepenuhnya pada logika, dan tidak juga pada rasa. Ikhlaskan …

Lalu kita pun telah bersepaham, bahwa langkah jiwa  kita tak akan terhenti, saat satu episode hidup belum terpenuhi. Jiwa kita akan tetap bersenyawa, untuk berkarya, ber-asa untuk diri kita, keluarga, semesta. Apapun untuk bermanfaat, untuk menjadi manusia yang menjalankan tugas nya, memenuhi peran nya, mendayakan akal, hati, raga dan jiwa yang telah ia titipkan pada kita, semenjak kita ada di dunia

Kita pun telah bersepakat untuk memenuhi our “true calling” untuk menjadi siapa, dan untuk  berbuat apa. Walau sampai kini kita masih harus berjibaku memenuhi kebutuhan kebutuhan kehidupan dan penghidupan. Tapi berjanjilah bahwa kita akan bersama sama menuruti panggilan jiwa kita, karena barangkali itulah alasan Tuhan menciptakan kita ke dunia. We know it wont be easy, but its worthed, really worthed to fight …

Kita sama sama pernah berairmata, berairmata di sudut sudut cahaya,  kita pernah membuncah bahagia, kita pernah merasa bebas berudara, kita pernah bergelombang, kita pernah merasakan riak yang tenang. Kita pernah meluruh -melepuh, kemudian tertatih bangkit berjalan kembali, bernergi dan menularkan energi.

Ah, di tanggal tiga belas bulan kedepelapan yang telah kesekian kali, yang saat ini, kita tau sebenarnya adalah sebuah misteri, misteri tentang batas usia, yang telah Ia tetapkan, di angka berapa hidup menghadapi penghabisannya.

Hai kamu, kamu yang aku, kamu yang aku. Kita. Mari berdoa …

” Tuhan, tentang usia yang telah berlalu, terimakasih sekali lagi. Bahwa kau izinkan aku ada di jalan-Mu, di dalam agama-Mu, dalam agama satu satu nya yang Kau Ridhai, tak ada yang lebih berharga dari itu.

dan tentang angka usia tersisa, yang entah kau genapkan atau kau ganjilkan, berilah aku akhir yang baik, akhir yang engkau Ridhai, akhir yang penuh kedamaian, akhir yang penuh kebermanfaatan., akhir yang meninggalkan kebaikan.

Kemudian di sisa usia itu berilah aku kelembutan jiwa, ketajaman akal. kebijakan untuk memilih dan menentukan, energi untuk memahami setiap pertanda dan untuk setia melaksanakan tugas yang kau percayakan.

Maafkan atas segala lalai dan khilap, yang sering kusengaja. Segala perintah yang sering abai terlaksana, atas daya diri yang tak tersyukuri, atas waktu yang tak termanfaatkan dengan semestinya. Maafkan atas rasa syukur yang seringkali terlupa, padahal nikmatmu sungguh luar biasa

Dan bila waktu tak banyak tersiasa, lindungi mereka orang orang yang kucinta dan mencintai ku, orang orang yang pernah hadir dalam hidupku, saudara saudara seiman, beri kami akhir yang baik, hingga kelak bisa bersama sama memandang wajah-Mu di sana, dengan bahagia”

 

And now, lets be happy, mari kembali ber energi, karena hidup tidak hanya sekali, kita bersama sama berbekal untuk hidup nanti yang lebih abadi ….

Karena kita tau kita kuat, sekuat macan … !!! hhaaa … #KorbanIklanBiskuat

 

 

Stasiun Kereta [ Tanaka’s Stories ]

Aku sudah duduk disini dalam dua kali enam puluh menit, hanya duduk saja, sambil sesekali membaca buku yang tak kunjung usai ku baca. Sebenarnya buku ini hanya pengalihan saja, agar aku tak terlihat sebegitu terpaku yang di tempat ini.

Sore ini sore yang begitu teduh, angin berhembus membelai pepohonan, hingga pepohonan seperti saling berbisik. Aku pun sama, menikmati laluan angin sore yang bergantian menyentuh wajah ini.

Aku pejamkan mata sedetik itu, detik dimana angin sore seperti ingin menyampaikan bahwa ia ada.  Seakan akan ia pun ikut menikmati sore yang teduh ini.

Lebih dari dua kali enam puluh menit, aku masih di bangku ini, bangku yang menghadap lempengan lempengan besi abu abu yang tak pernah kita tau dimana ujung nya. Gerbong gerbong berjajaran menunggu giliran kepergian. Orang orang berdatang dan bepergi saling berganti.

Wajah lelah, wajah bahagia, wajah rindu.

” Hei sudah lama “ Suaramu membuyarkan lamunku

” Lumayan …”  

” Kamu mau pergi ? “

Engga, aku hanya ingin menikmati sore ini di sini ” aku perlihatkan buku yang sudah dari tadi ada dalam genggamanku

Kali ini, buku mu hanya kamuflase saja ” jawabmu terkekeh

Aku tak menjawab, hanya sedikit tergelak, tanda mengiyakan

Ada yang sedang kamu fikirkan ? ” tanyamu

Tidak ada yang terlalu serius sih …, hanya ingin menikmati suasana disini saja, aku suka. Stasiun kereta menyimpan romantisme yang berbeda

Satu rangkaian kereta melintas di depan kita, kereta dari Surabaya. Tak lama orang orang berganti menuruni gerbongnya, dengan berbagai barang bawaannya. Ya … ada wajah lelah, ada wajah bahagia, ada wajah rindu ….

Mereka akan segera bertemu keluarga tercinta, sahabat lama atau mungkin ada yang sedang menjuangkan cinta ” tiba tiba saja aku berkata seperti itu

” Kamu rindu dia … ??  ” Tanyamu, tak lama setelah kalimatku usai

Entah, yang aku tau, setiap aku melihat kesana, aku berharap dia yang turun dari gerbong itu...”

Naka apakah itu rindu  ….. “ kalimatku terhenti hanya sampai disitu. Dan kemudian aku pun terdiam lagi menikmati sapaan angin sore yang semakin mendingin.

Kau pun merapatkan jaket mu,

Rindu mu akan segera terjawab. ya .. waktu yang akan menjawabnya. Atau mungkin kau yang akan menjawab nya sendiri, kau yang harus mencari tau, bagaimana ujung rindumu ...”

Bila ia takdirmu, dia yang akan menemuimu, tanpa harus kau menunggu … ” ujarmu sambil tersenyum

” Aku pulang, sudah semakin sore, dingin disini, bila kau masih mau disini tak apa, kau tau bagaimana menghadapinya, sabarlah dan bijaksanalah  …”

Terimakasih ….” senyumku melepas kepergianmu

 

 

 

 

Benarkah Kita Memuliakan Anak Yatim ? (Part 1)

Sudah lama pertanyaan ini menggelitik di fikiran saya, tak hanya menggelitik, namun jadi semacam keresahan dalam fikiran, tentang bagaimana kebanyakan dari kita -masyarakat Indonesia- “memperlakukan” anak yatim.

Contohnya seperti saat ini, moment Ramadhan, dimana orang orang berbondong bondong ingin berbuat kebaikan, karena ini adalah bulan yang mulia, dimana setiap amal perbuatan di lipat gandakan kebaikan dan pahalanya.

Hal yang paling sering kita saksikan adalah, buka bersama dengan anak yatim. Dimana anak anak yatim di undang ke suatu tempat, entah itu restoran, mall, perkantoran atau sebagainya. Acaranya biasaya ada hiburan, makan makan, kemudian bagi bagi santunan untuk anak anak, dimana mereka dibariskan satu satu untuk mendapatkan amplop kepada para donatur.

Atau misalnya, moment lain ketika seseorang merayakan ulang tahun nya, atau sedang tasyakur binimat karena sesuatu hal, maka biasanya mereka mengundang anak yatim, dengan pola yang sama, sedikit perayaan, makan makan dan kemudian pembagian bingkisan lalu mereka pulang.

Entahah, saya ada meresa ada sesuatu yg meresahkan fikrian saya dengan tujuan kita untuk “memuliakan dan membahagiakan anak yatim” dengan cara seperti ini.

Kenapa ? Karena saya dan adik pernah menjadi anak yatim, di usia kami yang relatif masih kecil. Waktu itu saya -terutama adik- sering mendapatkan undangan seperti ini dari orang orang, entah itu acara syukuran sebuah kantor, acara charity sebuah perusahaan, program lembaga zakat, atau acara acara ramadhan.

Ada semacam perasaan malu dan minder sebenarnya, ketika waktu itu kami dikumpulkan dalam sebuah acara, diundang ke sebuah tempat yang banyak orang, diseragamkan dan bahkan di bariskan saat akan dibagikan nasi box atau amplop sumbangan.

Saat itu rasanya punggung ini sulit untuk tegak dihadapan orang orang yang disebut dengan para donatur, apalagi apabila di acara itu ada anak anak sebaya kami yang bukan dari kalangan anak yatim, misalnya mereka anak para donatur. Ada perasaan rendah diri atau minder sebenarnya yang saya rasakan, apalagi ketika terlihat perbedaan antara kami anak yatim dan mereka sang donatur.

Mungkin memang tidak ada maksud dari para donatur, lembaga sosial, atau siapa pun itu untuk membuat kami merasa begitu. Lagi pula “ritual” seperti ini sudah dari dahulu dilakukan oleh masyarakat kita. Tujuan mereka mulia, ingin berbagi kesyukuran dan kebahagian dengan para anak yatim. Dan juga memori rasa “minder” itu kadang terbawa juga sampai besar, perasaan tidak berdaya, perasaan kurang beruntung, perasaan minder karena selalu di kasihani, dsb.

Bersambung ….

Pertanyaannya, Apakah Kamu Peduli ?

 

do-you-care-logo-200x217

Kemarin saya menghabiskan sore hari di Mesjid Salman ITB, karena mendapatkan info bahwa di sana setiap sore ada kajian kajian menarik hingga jelang magrib. Sebelumnya saya cek info di IG, ternyata sore itu ada sesi sharing dari pasangan suami istri muda, Dalu Nuzlul Kirom, S.T & Nafizah, S.T.

Saya baru mendengar nama pasangan muda ini, namun di digital flyer yang dicantumkan, bahwa mereka adalah penggagas kawasan edukasi Dolly, hal ini yang membuat saya tertarik untuk datang


Mas Dalu adalah penggiat wirausaha dan eduksi di wilayah bekas lokalisasi prostitusi dolly, sedangkan istrinya, Mba Nafizah adalah penggiat pendidikan anak di wilayah madura. Mereka berkolaborasi untuk melakukan hal hal bermanfaat yang berjangka panjang kepada masyarakat.

Secara keseluruhan sesi sering atau talkshow sangat menginspirasi, menyaksikan pasangan suami istri yang berkomitment untuk berjuang bersama sama memberikan manfaat pada masyarakat dengan apa yang mereka benar benar butuhkan.

Ada satu hal yang menjadi AHA saya saat itu, saat sang moderator bertanya kepada Mas Dalu, perihal kenapa ia memilih untuk menjadi seorang sosial entrepreneur, padahal ada kesempatan lain yang mungkin lebih bagus buat beliau untuk bekerja dan menghasilkan materi yang tidak sedikit dengan bekerja di perusahaan perusahan besar, dengan modal pendidikan yang ia miliki.

Jawabannya diluar dari perkiraan saya. Biasanya jawaban standar yang saya dengar dari orang orang yang menggelari dirinya dengan pengusaha adalah, ” Agar lebih bisa cepat kaya, agar bisa membuka lapangan kerja untuk orang lain, agar lebih leluasa waktu, agar bisa mengatur diri sendiri, dsb ”

Namun jawaban beliau, menjadi BIG NOTED untuk saya, jawaban beliau kurang lebih seperti ini

” Saya tidak pernah mendikotomikan pengusaha, pebisnis, atau karyawan. Karena setiap profesi mempunyai peran nya masing masing. Sebenarnya semua sama saja, ini tentang pilihan dan panggilan, bukan mana yang lebih baik dari yang lainnya. Ini semua balik lagi ke niat nya, apabila ternyata seseorang yang memilih bekerja di sebuah perusahan dan ternyata ia bisa memberikan manfaat kepada banyak orang atas profesinya itu, atau dia bisa membatu banyak orang dengan materi yang ia miliki” 

” Dibandingkan misalnya pengusaha yang niatnya hanya gaya gayaan aja menjadi pengusaha, padahal dia tidak ada rasa peduli terhadap orang lain, atau mungkin sebaliknya. Saya rasa semua sama saja, mau dia pekerja, pengusaha atau pebisnis. Catatannya adalah apakah ia peduli dengan kondisi masyarakat sekitarnya atau tidak “

Ah jawabannya menyejukan. Ya, pada akhirnya bukan tentang apa status, posisi dan jabatan kita, namun apakah kita mempunyai peran dan kepedulian kepada orang sekitar kita. Karena siapapun bisa mempunyai peran yang sama, peran kebermanfaatan, tak peduli ia pengusaha, karyawan, mahasiswa, ibu rumah tangga, kita semua.

Pertanyaannya :

Apakah aku peduli ? Apakah kamu peduli ? Apakah kita peduli ?

Fn : Terimakasih Mas Dalu dan Mba Nafizah, untuk inspirasi juga pengingat hati.

 

 

 

Pas Butuhnya Aja [ Bagian 1 ]

” Ah … dia mah datang pas butuhnya aja ”  mungkin kalimat itu pernah terucap dari bibir kita atau setidaknya pernah terlintas dalam hati kita, ketika ada seorang teman yang kita merasakan melupa kita, ketika dia suka, atau ketika ia telah berjaya.

Padahal ketika dia merana, dia selalu ingin bersama kita. Berwaktu waktu ia mengampiri kita, bercerita segala cemas, berupa gundah gulana, berbagai luka dan duka, dan kita selalu menyetia ada untuk nya.

Namun setelah badai yang ia rasakan telah berlalu, ia pun juga berlalu, melupa. Ia tak lagi menyapa kita, bahkan tak mau tau dengan hidup kita, diam, tak peduli dan menyibuk dengan dunia nya. Luka ia bagi dengan kita, namun ketika bahagia atau suka, ia rasa tak pantas untuk berbagi dengan kita, dia telah dengan dunianya …

****

Mungkin ini dirasakan oleh beberapa diantara kita, ketika seorang teman berlalu dengan mudah nya. Saat duka dia ingin kita ada, namun saat suka diapun entah kemana, sudah menemukan dunia barunya, lupa dengan siapa dia pernah melalui badai dalam hidupnya.

Saya pernah merasakannya. Ini yang dinamakan pamrih barangkali. Kita menghitung hitung “kebaikan” yang telah kita lakukan kepada orang lain, atau mungkin kita hanya merasa telah berbuat baik. Yang kemudian kita merasa berhak “menutut” ia membalas apa yang telah kita lakukan terhadapnya dengan sepadan.

Kemudian, saya coba melihat kedalam diri lebih dalam lagi, kenapa saya sampai merasa seperti itu, seharusnya ikhlas saja, terhadap apa yang telah kita usahakan untuknya, walaupun balasannya justru berbeda. Jangan jangan saya pun begitu, namun saya tidak menyadarinya.

Atau saya menjadi manusia yang penuh “pamrih”, membisakan diri menghitung hitung kebaikan dan jasa yang telah kita perbuat, sehingga ketika balasan adalah sebaliknya, maka hati kita menjadi sempit.

Padahal sejatinya kebaikan itu akan kembali kepada kita sendiri, dalam berbagai bentuk, entah ia membalas yang serupa atau tidak. Jangan jangan ketika menghitung, mengingat dan menuntut di balas dengan yang sepadan, justru  nilai kebaikan yang pernah kita lakukan menjadi lebur, tak berbekas apa apa untuk kita, dan kita merugi tak mendapat kebaikan dan nilai apa apa.

Manusiawi ? ya memang bisa dibilang sangat manusiwi, karena kita mempunyai berbagai emosi dan reaksi. Namun semoga kita bisa tak berhenti dan menggantungkan diri dari kata “manusiawi”.

Kita harus menguasahakan yang lebih dari itu, memberikan kebaikan kemudian melupakannya. Karena hidup yang sedang kita jalani sekarang ini, pasti ada peran kebaikan orang lain yang bisa jadi tak kita ingat atau kita tau tapi kita lupakan.

Dan yang terpenting yang harus kita garis bawahi, bahwa kebaikan yang mampu kita lakukan adalah atas izin-Nya,  Jadi kenapa kita harus merasa berbalas …

To Be Continued …

 

 

 

 

 

Pit Stop ” Ramadhan “

Marhaban yaa Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, bulan saat ampunan di janjikan, bulan yang istimewa bagi mereka yang ada menyala takwa di hatinya, bulan di mana kitab terbaik petunjuk sepanjang masa diturunkan, bulan di mana sang pencipta berlipat lipat memberikan kasih sayangnya kepada umat manusia.

Bagi saya pribadi bulan ini adalah bulan “perhentian”, bulan dimana saya ingin “berhenti” sesaat untuk melihat langkah yang telah terjejak di belakang, untuk melihat posisi saat ini, dan untuk memantapkan arah perjalanan kedepan.

Bulan Ramadhan ini saya ingin untuk lebih banyak menyempatkan waktu “bersendiri” untuk  merenungkan apa yang telah terjalani selama ini, “bersendiri” untuk lebih mendengarkan, bukan hanya kata hati, tapi juga mendengarkan nasihat diri.

Bersendiri bukan berarti  mengasing dan tak mau berjumpa dengan orang lain. Namun bersendiri berarti meminimalisir diri dari kebisingan hari hari, beristirahat dari ambisi diri yang kadang tidak terkendali, mengukur diri dari kaki yang mungkin terlalu kencang berlari atau mungkin dari kaki yang teralalu lambat mengarungi hari.

Mengistirahatkan diri dari nafsu kita untuk terlalu mengetahui dan mengikuti apa yang ada di luar sana, hingga abai dengan kata hati. Karena katanya, apabila telinga kita terlalu banyak mendengar apa yang ada di dunia, kita jadi lalai mendengarkan kata hati diri sendiri, mendengarkan panggilan diri yang murni.

Ya, menurut saya bulan ini adalah bulan yang tepat untuk melihat rekam dan jejak diri, merenungkan apa yang sedang dan apa yang telah dilakukan, membayangkan apa yang akan ditinggalka. Kemudian berdialog dengan diri sendiri, dan “berdiskusi” dengan Nya, Sang pemilik alam semesta

Bila diibaratkan hidup adalah sebuah sirkuit arena, maka bulan ini bagi saya adalah sebuah “Pit Stop” sebuah tempat untuk kita beristirahat, mengisi daya, mengumpulkan energi, memperbaiki atau melepas yang telah usang, dan mengganti hal hal yang perlu diganti dengan “spare part” yang baru.

Karena apabila kita tak berhenti di “Pit Stop” kita tak akan pernah tau apa hal yang telah usang, apa yang telah rusak, apa yang sudah tidak bisa dipakai. Karena apabila tidak ada “Pit Stop” dalam diri kita, kita tak tau seberapa besar energi yang tersisa, kita tak akan tau seberapa daya yang kita butuhkan untuk perjalan selanjutnya.

Dan apabila kita terus kencang berlari tanpa berhenti, kita mungkin hanya peduli pada berlari dan mengemudi, tanpa kita mengingat lagi apakah telah benar jalur dan arah yang kita tempuh, atau jangan jangan kita hanya berlari dan lupa akan tujuan hakiki.

Karena perjalan panjang butuh peristirahatan, butuh perbaikan, butuh pengevaluasian, butuh energi yang selalu baru, agar perjalanan  panjang kita kemudian bisa lebih benar, lebih kencang, lebih terarah, lebih tertara, hingga kelak di depan kita bertemu dengan titik finish, ya titik finish kehidupan.

Dan Ramadhan ini adalah sebuah “Pit Stop” untuk mencari lagi tujuan diri, Bismillah ….

 

Pit-stop