A Day With A Mentor

Alhamdulillah, hari ini diizinkan oleh Allah bertemu dengan pa Erie Sudewo, salah satu orang yang ingin saya temui sejak lama. Orang yang pertama saya tau melalui buku nya tentang karakter, dan setelah saya cari ternyata beliau adalah Founder Dompet Dhuafa.

Kemudian saya mengikuti dan berteman dengan beliau di facebook, mengikuti status status beliau mengenai dunia sosial kemasyarakatan. Walau belum pernah bertemu langsung beliau, saya merasa beliau orang yang cerdas sekaligus bijak.

Jejak hidup beliau dalam mendirikan organisasi, mengembangkanya, menghebatkannya juga saripati beliau dalam mengurus kemaslahatan ummat menjadikan beliau cerdas, visioner  dan bijak. Allah kasih jalan saya bertemu beliau dalam sebuah forum, kemudian berlanjut mendapatkan kesemaptan untuk mendapatkan coach dari beliau, dengan beberapa teman lainnya.

Layaknya orang yang sudah merasakan saripati pengalaman dan kehidupan. Beliau masih bisa membuat kami “anak anak” didiknya merasa nyama untuk berkonsultasi, untuk bercerita tentang cita cita, keinginan, harapan kami di dunia sosial.

Walau awalnya ada rasa gugup, karena bertemu seseorang yang sangat senior, akhirnya perbincangan bisa mengalir dengan baik. Banyak insight yang didapatkan, banyak kebingungan yang akhirnya menemukan jawabannya, ada ide yang di dapatkan, ada hal yang tersadarkan, itu yang terpenting.

Pertemuan dengan beliau, menyedarkan saya banyak hal penting sekaligus membukakan fikiran saya. Bahwa ada hal yang terlewatkan, ada hal yang terlupakan, ada hal yang tidak diperhatikan.

Ahh, kemudian saya berkaca, betapa saya belum ada apa apanya, entah masih kurang serius, masih kurang fokus, masih kurang merapihkan langkah, masih kurang tegap menentukan arah.

Ahh,, terimaksih Pa Eri, telah bersedia menyediakan waktu dan fikrian, untuk kami yang masih terberai, tak rapih langkah. Semoga Allah menyehatkan Bapak selalu. Dan kami bisa mengikuti jejak bapak menjadi manusia yang bermanfaat seluas luasnya.  Aamiin …

 

Pa Eri

 

 

 

A B A H

Sederhana, kupanggil dia dengan nama Abah, walaupun tak pernah tepat ku tau nama lengkapnya, seorang pria berusia 50 tahun-an, yang sudah ku kenal lebih kurang dari tiga tahun, tempatku berlari, tempat ku bersembunyi dari hari hari.

Seperti hari itu, aku ingat, rabu malam pukul tujuh malam, saat kota kecil ku diguyur segemericik hujan yang turun berkepanjangan.  Berbasah basah aku mengendarai motor metik putih, melawan gemericik hujan, tanpa selembar jas hujan, hanya sebuah jaket abu agak tebal, syal merah, dan sepotong kegundahan yang bergumul di dada.

Orang orang sudah mulai beranjak pulang, jalanan lumayan lenggang, aku berjalan ke siliwangi, dan berbelok ke cisitu atas, dingin sungguh, sarung tanganku pun sudah tak banyak menghalang dingin, karena basah tertitik hujan.

Hatiku basah, dingin, kepalaku berkecamuk dengan bertubi tubi pertanyaan, kegundahaan, kekecewaan, dan lain lain. Aku mentok tepatnya, aku tak bisa bercerita apa adanya pada mereka, hanya pada Abah, aku apa adanya.

Kubuka pagar kayu sebuah rumah yang sederhana, ada abah di teras, sedang melukis.

“Assalamualaikum bah”, kucium tangannya, “Waalaikum salam.., “ seraut wajahnya saja, telah mampu mendamaikan hatiku.  Selanjutnya aku tertunduk, menghindari tatapan mata abah, yang sepertinya mencari cari apa yang sedang terjadi denganku.

Hujan masih menggerimis, basah

Abah meneruskan lukisan nya, tangannya yang tua dan kekar menggaris pasti mengikuti bisikan hati, rambutnya panjang diatas bahu, masih hitam digerai dibiarkan tak karuan.  Aku duduk berpindah tepat di samping abah, menyandar tembok, memperhatikannya, dan dia pun asik tenggelam di dalam dunianya.

Hujan semakin tipis, namun tidak mata ini, bulir demi bulir mengalir per  7 detik, kemudian menjadi per 5 detik, menjadi per 3 detik, Dan kemudian genaplah menjadi lebih dari per satu satuan detik …

Aku terisak pelan-perlahan, namun terus meninggi, air mata ini benar tak terhenti, tak mau berhenti, aku hanya menangis, kuhapus dengan punggung tangan, namun selalu mengalir, lagi dan lagi.

Aku begitu koyak, perih, kecewa, terluka, semua bergumul di hati dan kepala, semua peristiwa berkelebatan di kepala. Abah hanya sesekali melirik ku, namun tangannya masih tetap menari nari di atas kanvas, merah, biru, kuning

Aku menangis dan dia melukis

Kami seperti dalam dua dunia yang berbeda. Namun tidak, dia yang memicu bulir bulir ini, dan aku tau dalam setiap gerakan koas nya, dia ada untuk-ku

Cukup itu saja-cukup seperti ini saja

“ …Bah, kenapa ya begitu banyak hal yang tidak kita mengerti, banyak hal yang tak berujung dengan jawaban, dan kenapa aku begitu meresa sendirian, kesepian, aku rapuh rupanya, aku tak sekuat yang ku kira…” Kalimat panjang itu yang hanya keluar dari mulutku,  diikuti isak kecil ku yang tak bisa ku tahan

sesudah itu kami sunyi kembali, lama …

Selanjutnya yang hanya ada bunyi kuas di atas kanvas, setipis sendu hujan, dan sisa sisa tangisku yang melemah. Kali ini hanya isak tangis, air mata yang semakin sabar mengalir,  beritme sepuluh detik sekali.

Sunyi ……

Pukul sebelas malam, aku  harus pulang, aku harus beristirahat.

Aku berdiri, dengan kepala yang masih tertunduk, “Bah….. saya pamit” , Abah melatakan kuas nya, dan ikut berdiri, memandang mataku, perlahan mengusap kepalaku

“ … Serahkan pada Allah, semua hal hal yang sampai sekarang tak kau mengerti, semua hal diluar jangkauan kamu, apa yang kamu yakini atau bahkan kamu ragu, karena semua terjadi karena sebuah alasan, sebuah tujuan, di ujung nanti kamu pasti mengerti akan semua ini, sok neng, Abah mah yakin  kamu kuat, lahaullla wala quwatta illla billhah, semua akan berlalu, minta ke Allah untuk beresin semua urusan kamu…sekarang istirahat ”

Aku kembali terisak, mencium tangannya.

“Assalamualaikum” aku pamit, “Waalaikumsalam” dia mengusap punggung tanganku, melepas ku dari teras.

Aku pulang, masih ditemani segemericik hujan,  masih dengan mata yang sembab, air mata yang masih mengalir, namun saat ini dengan hati yang kembali menghangat.

 

Hatur Nuhun Abah …

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ordinary Woman [ Tanaka’s Stories ]

Aku ingat ketika suatu hari aku bertanya padamu tentang lelaki seperti apa yang sebaiknya aku cari.

Lalu kau menjawab dengan mata mu memandang ombak di depan sana  :

Temukanlah seorang lelaki yang melihat mu sebagai wanita biasa – ordinary woman- bukan karena kemampuanmu, pekerjaaanmu, karirmu, dan kebisaanmu.

Temukanlah seorang lelaki yang mengerti bahwa dalam fitrahnya, kau adalah seorang wanita biasa. need to be loved, to be protect, to guard you. A man who cherished you, take care of you, tend u. Terlepas kamu adalah seorang wanita yang kuat, mandiri, dan bisa malakukan banyak hal sendiri.

Karena kau tau jauh dalam hati mu, kamu butuh seseorang yang seperti itu. Seseorang yang bisa membuatmu merasa aman dan nyaman disampingnya. Sesederhana itu

Temukanlah seorang yang melihatmu sebagai wanita, dan nantinya, melihat mu sebagai seorang istri, seorang ibu dari anak anak nya. Dan selebihnya, karirmu, pekerjaan mu, kemampuan mu adalah bonus saja.

Dan dia tak mesti sosok yang sempurna. Sekali lagi dia yang bisa membuatmu aman dan nyaman disampingnya, dia yang memahami bahwa kamu adalah seorang wanita. Seseorang yang butuh disayangi dan dilindungi. Menjagamu. Karena  its your basic need my dear .

Happy Finding … Ujarmu sambil tersenyum menatapku

Dan aku pun malamati kalimat demi kalimat yang ia ucapkan, dan kemudian aku pun melamati kalimat kalimat nya yang hati ku benarkan ….

Mengukur Kehidupan Orang Lain

Dalam keseharian, tanpa disadari kita seringkali memberikan ukuran dan penilaian pada kehidupan orang lain menggunakan ukuran atau standart yang dibuat berdasarkan “ukuran” hidup kita.

Misalnya ada kawan, saudara, kerabat yang kita nilai salah satu bagian hidup nya ada di posisi di “bawah” kita. Dan karena merasa poisisi kita “diatas” dia, maka dengan mudahnya kita  memberikan penilaian, mengomentari, menyalah nyalahi akan kehidupannya saat ini.

Ke-superior-an, kesuksesan, keberhasilan kita saat ini, level hidup yang dirasa leboh baik, dijadikan alasan untuk pantas mengomentari, menilai, mengukur, menstandari tentang kehidupan orang lain di bawah kita.

 ” Harusnya dia beginilah, harusnya dia begitulah, salah dia sih begini, salah dia sih begitu,  ko dia ga belajar ya, ya dia sekarang kaya gini soalnya dia begitu, katanya pengen maju tapi kerjaannya begitu, dia ga maju maju karena begini begitu, dsb …”

Kemudian bersambung kita membandingkan dengan apa yang telah kita kerjakan dan apa yang telah kita capai

” Harusnya kaya saya nih, tuh kan lihat saya, udah punya ini, udah punya itu, bisa ini – bisa itu, kaya saya dong begini , dsb …”

Kata kata yang mungkin walau tidak terucapkan, tapi terbersit dalam hati kita ketika melihat, kawan, saudara, rekan kita yang kehidupannya sedang ada di “bawah” kita. Kita begitu pandai “menangkap” kondisi orang lain, dan kemudian membuat standar standar ukuran, berdasarkan standar hidup kita.

Salah ? Entahlah, tapi tidak bijak sepertinya. Karena setiap orang memiliki jalur sendiri akan hidupnya, jalan hidup setiap orang tidak ada yang sama, cerita tak akan da yang serupa. Setiap orang pada akhirnya akan menemukan titik balik, titik sukses, titik kehidupan dengan caranya masing masing.

Bila kita sudah dalam tahap baik, tahap keberhasilan, tahap kesuksesan, maka tidak elok rasanya mengomentari dan menertawai mereka yang sedang bergelut mencari titik berhasilnya, titik sukesnya, sedang berpayah payah menyusun hidupnya.

Lebih bijak rasanya, bila posisi berhasil kita saat ini adalah sebagai sumber kebaikan, sumber inspirasi, menjadi kawan setia bagi mereka yang masih berjuang, masih berusaha keras, masih berikhitar dalam kehidupannya. Karena kita tidak pernah tau sejauh mana, sekeras apa dia berjuang dalam hidupnya, karena yang kita lihat seringkali hanya permukaannya saja.

Ini bukan tentang pepatah “roda kehidupan berputar” atau “uruslah hidupmu saja”, tapi tentang bagaimana melembutkan hati, tentang berempati kepada kehidupan orang lain, tentang belajar pada kehidpan dan menyadari bahwa sukses, sejahtera, dan posisi kita saat ini, semata mata bukan hanya hasil kerja keras kita, tapi ada Izin-Nya di dalamnya.

Maka Lembutkanlah Hatimu …

 

 

 

Fn : Sebuah nasihat diri akan rasa jumawa yang kadang tak terasa

 

 

Jatuh Cinta Itu Sederhana [ Tanaka’s Stories ]

Hai Ka…, aku tau sore ini kau tak bisa hadir di taman kita. Padahal kota ini sedang cantik cantiknya, sesiangan tadi disini hujan semenjak siang hingga menyentuh sore, dan kemudian wangi tanah tersentuh hujan dimana mana, petrichor katanya wangi tanah seperti ini.

Orang orang melalu lalang, hendak berpulang kepada rumah tercintanya, sedangkan aku terlalu jatuh cinta pada pertichor ini, aku menjadi tak hendak berburu buru pulang, rasannya tak ingin melewatkan aroma hujan dan tanah ini begitu saja.

Bus yang biasa aku naiki untuk pulang, ku abaikan begitu saja. Biar saja. Tak hendak ku menukar udara sesegar ini dengan udara yang melingkar lingkar di ruangan itu. Dan karena aku tau, senja seperti ini senja yang kau suka.

Hari ini aku ingin bercerita padamu tentang dia, yang ada jauh disana

Naka… aku jatuh cinta … 

Itu yang ingin ku ceritakan kepadamu, tentang dia yang sederhana saja menyentuh sebuah titik hatiku. Sebelumnya aku kira jatuh cinta itu akan selalu pada hal hal yang istimewa. Tapi ternyata, kali ini aku jatuh cinta pada hal yang sederhana, sesederhana ketika ia bisa membuatku tertawa.

Naka..aku jatuh cinta …

Apa ini hanya euforia rasa ? ini yang ingin kutanyakan padamu, karena di titik saat bersama dengannya, rasa semacam hal yang mudah saja. Padanya aku tak terlalu banyak bersyarat, semuanya serasa mengalir dan mencair.

Naka… apakah aku jatuh cinta …

Ketika bersamanya semacam ada kedamaian, harapan dan kebahagian . Walau entah apa nanti, apakah akan berupa rasa yang sama. Kekhawatiran akan cerita yang lalu seringkali bisa ku subsitusi dengan harapan dan doa. Apakah berarti aku tidak berlogika

Naka.. bilakah ini  cinta …

Katamu cinta bukanlah euforia rasa, yang kau rasa hanya karena sejenak susana atau cuaca, dan ketika rasa itu memudar atau menyamar, kau pergi begitu saja. Cinta haruslah menyetia, ia kuat, ia tegap, ia kokoh pada pijakan yang benar. Katamu cinta adalah persahabatan, persahabatan yang hendak kau jalin dalam puluhan juta detak jarum jam.

Naka.. bila ini cinta …

Aku selalu ingat kata katamu, bahwa cinta bukanlah tujuan akhir dalam kehidupan kita, bahwa cinta adalah gelombang perantara menuju tujuan besar dalam hidup kita, bahwa cinta adalah energi untuk mencapai tujuan besar itu. Karena sebenarnya cinta bukan lah segalanya, ada yang jauh lebih dari itu. Cinta bukan hanya tentang kau dan dia, cinta adalah pengabdian. Pengabdian kepada Ia Sang Maha Cinta.

Naka.. aku jatuh cinta kepada dia, dengan cara yang sederhana …


 

 

Ah … Cyg sore ini aku hanya bisa berdiskusi dengan diri ku sendiri saja, tanpa kamu. Hanya kata katamu saja yang dulu kau titipkan pada ingatanku. Aku kembali mengulang pesanmu dalam ingatanku, bahwa …

Cinta bukan hanya tentang kau dan dia, cinta adalah pengabdian. Pengabdian kepada Ia Sang Maha Cinta

 

 

Tak Usah Berfikir, Nikmati Saja Dunia

So, apalagi yang kau mau lakukukan. Dunia ini sudah menyedia apa saja, menyedia segala sesuatu, bahkan sesuatu yang tidak kau butuhkan.

Kau mau makan, carilah resto resto siap saji perkotaan. Atau ingin lebih sedikit terlihat elegan, mampirlah ke kafe kafe simbol pergaulan, disana kau akan peroleh banyak kenikmatan, suasana yang cozy dan juga iringan lagu kekinian. Habiskan waktu mu disana, bersama kekawan, bercanda, bercengkrama, bincangkan saja tema tema ringan dan menyenangkan. Nikmati saja …

Hmmm.. Atau kau ingin tampil menawan. Okee.. Disana ada berjajar jajar penjaja pakaian, dari selera lokal sampai mode ala victoria beckham. Dari warna jingga, hingga nila, segalanya ada. Berkacalah buat dirimu mempesona. Nikmati saja …

Atau kau ingin hiburan…, pergilah kesana ada sebuah layar besar dengan tempat duduk meremang. Bukan, itu bukan pagelaran wayang, tapi orang orang yang sedang memainkan peran. Nikmati saja layarnya, tak usah kau tau ada apa diluar sana. Nikmati saja …

Ingin sedikit kesenangan ? Baiklah. Kau beloklah ke kanan dan berhenti di sebuah persimpangan, disana ada berjajar ruang ruang yang bisa mendendangkan apa saja, suaramu akan terlepaskan disana, mungkin sedikit adrenalin, ketika kau belajar berani bernyanyi di depan teman teman. Nikmati saja …

Oh ya, apakah kau mau dikenal dunia. Bila ya, banyak banyak lah bergaul dalam sebuah layar kaca yg bisa mengkoneksi dunia. Kau habiskanlah waktu disana, berbagi apa yang kau rasa, kau sedang apa, atau kau mau apa. Atau bila perlu, semua gambar kehidupan mu, kau muatlah disana, biar dunia tau, segala sesuatu tentang mu, hebat bukan …?. Nikmati saja

Bagaimana kalau kau duduk manis saja di rumah mu, ada sajian tak putus, 24 jam, beranek ragam cerita dan berita akan ku dapat disana. Dari cerita cinta, anak durhaka, anak anak yang tertukar, atau cerit lur biasa tentang seseorang anak rang kaya  yang tertabrak, kemudian hilang ingatan.

Masih di layar kaca itu, nikmatiah musik musik ajaib semenjak pagi, tentang dendang cinta atu patah hati, hafalkan lah liriknya, ikutilah uramanya, tenggelam lah didalamnya, resapi sesolah olah kau adalah aktror utama dalam cerita itu, bila lagunya bersedih maka bersedilah, bila gembira maka bergembiralah.

Kau lakukan apa sajalah yang kau suka, apa saja. Bukankah dunia ini sudah menyediakan apa saja ?! Apa yang kau suka, apa yang kau minta, bakan yang tidak kau pinta pun, serta merta ada.

Nikmatilah apa yang ku saji bersama kawan dan keluarga, kau hany butuh duduk manis, mengeluarkan sedikit uang barangkali, dan tenaga untuk meraihnya, ah sederhana sebenarnya, sedikit usaha saja semua kesenangan akan mudah kau peroleh.

Tapi satu hal yang jangan kau lakukan, jangan pernah. Ya, jangan pernah BERFIKIR. Tak usah lah kau mencerna  tentang apa yang telah disajikan dengan mudah  kepadamu.

Tak usahlah kau fikir tentang masa depan dunia ini, masa depan bangsa ini, masa depan  tentang saudara saudara, tak usah.

Tak usahlah kau berfikir tentang perubahan, memerangi kejahatan, melindas para pembuat makar. Tak usahlah berfikir tentang masyarakat, toh mereka orang lain bagimu. Tak usah lah berfikir mengapa ini begini mengapa itu begitu, tak usahlah…

Tak usahlah kau fikirkan tentang dunia yang lebih baik, dunia yang lebih benar seharusnya, tak usahlah kau fikirkan tentang memperbaiki lingkungan, bahkan pendidikan anak anak bangsa.

Tak usahlah kau banyak berbuat, berkarya, dan bertindak

Tugas mu hanya bersenang senang, menikmati dunia. Maka dari itu aku akan menjauhkanmu dari membaca, menjauhkan mu dari berdiskusi, menjauhkan mu dari menulis tentang terumbu  fikirmu. Maka aku akan menjauhkan mu, dari pertanyaan pertanyaan kritis dalam benakmu

Tak usahlah… Karena bila kau membaca, bila kau berfikir, bila kau menulis dan berbicara, maka celakalah kami, berantakanlah rencana besar kami, misi mulia kami ….

Karena bila kau banyak membaca, kau akan dapat banyak limpahan ilmu dan sinaran cahaya. Karena dengan berdiskusi akan memperkaya alam fikirmu, mensinergikanmu dengan temanmu, memperkuatmu. Karena dengan menulis banyak orang akan tau mengenai apa yang ada dalam benakmu, karena dengan menulis akan banyak yang terpengaruh dengan fikiranmu.Berhentilah membaca, Berhentilah Berdiskusi, Berhentilah Menulis

Clubbing

(Foto From Google)

Maka demi itu, plis, plis, tak usah berfikir, nikmati saja dunia !!

Karena Kau Perlu Tau, Kapan Kau Harus Berlari [ Tanaka’s Stories ]

Sore itu kita bertemu di lapangan olahraga kota, kau setia duduk dan menungguku di tepi lapangan yang masih rimbun dengan pepohoan. Sementara aku menyelesaikan target jogging-ku, empat puluh lima menit berlari berkeliling lapangan.

Nafasku masih terengah engah ketika menghampiri dan duduk  di samping mu, keringat masih mengucur di pelipis kanan ku, air mineral langsung saja ku teguk hampir habis setengahnya.

” Sudah … ? ” tanyamu

Done, empat puluh lima menit tanpa jeda ” ujarku dengan bangga

Seperti biasa kau hanya tergelak kecil, sambil menatapku setengah meledek ” Program penurunan berat badan ? ”

” Engga, pengen sehat aja …”

Kau kembali tergelak, aku tak menghiraukannya. Ahh kau memang begitu. Kemudian kita memandang kedepan, memperhatikan mereka yang masih berlari di lapangan, ada yang berlari sendiri, berdua, ada juga yang bergelombol berlari sambil bercanda bersama kawannya.

Kombinasi matahari sore dan warna coklat lapangan, membuat sore ini terasa begitu terasa jingga. Di lapangan ada orang yang hanya berjalan, sebagian berlari kecil konstan, sebagian berlari kencang.

Ada yang hanya berjalan saja, mungkin ia sedang menikmati sore yang jingga ini saja. Ada  yang berlari cepat dengan jarak jarak pendek. Ada yang berlari kecil tapi tak berhenti. Ada yang awalnya berjalan, kemudian berlari kecil, dan lalu berlari sangat cepat.

Lima menit itu kita nikmati dengan melihat pemandangan itu, lalu kau membuka pembicaraan.

” Kamu tau apa yang membedakan gaya lari mereka ”

” Hmm entah, mungkin kebiasaan mereka saja ” pertanyaan mu membuatku jadi  sedikit berfikir

” Kebiasaan saja ? atau ada yang lain ? tujuan misalnya ”

” Tujuan …. ? ”

” Ya tujuan. Kamu lihat laki laki yang memakai jaket biru itu” ujarmu sambil menujuk seorang pria yang tak jauh jarak nya dari kami.

” Sebelum lari laki laki itu selalu melihat jam, ia seprti menghitung waktu yang tepat untuk memulai, kemudian ia berlari cepat dengan jarak satu atau dua putaran kemudian berhenti ”

” Kemudian kamu lihat, mereka yang berlari bersama sama itu. Mereka berlari dengan kecepatan konstan, aku hitung meraka telah berlari enam atau tujuh putaran, tanpa berhenti dan selalu bersama ”

” Satu lagi, lihat disana, laki laki kecil yang memakai jaket hitam. Awalnya ia hanya berjalan saja, kemudian berlari kecil, hingga berlari kencang ”

” Menurut mu apa yang membuat mereka berbeda gaya …? ”

Ah cyg lagi lagi kau selalu “memaksa” ku untuk berfikir lebih dalam tentang hal hal yang menurutku biasa saja.

” Apa ya …. mungkin lebih ke kesukaan atau kebiasaan ”

” Analisamu dangkal sekali … ”

” Lalu apa menurutmu … ”

Agak lama kau terdiam, mungkin memberikan ku kesempatan untuk berfikir lebih dalam lagi

” Tujuan …  ”

” Mereka berbeda tujuan. Ada tujuan nya kecepatan, ada yang tujuan nya jarak tempuh. Kau lihat, dua laki laki yang berlari nya kencang itu, mereka berdua berlari cepat, namun jarak tempuhnya pendek pendek saja, ia lari kemudian berhenti,. Ia Berlari kencang kemudian berhenti ”

Gemerisik angin sore itu menjeda kalimatmu

” Dan kau lihat, mereka yang berlari lari kecil disana. Memang mereka tidak cepat, namun mereka berlari pasti.  Jarak tempuh mereka lebih panjang. Mereka konstan hingga titik henti. Titik henti yang sepertinya telah mereka tentukan. Entah titik henti oleh  jarak atau oleh batas waktu. Yang jelas mereka berlari lebih jauh ”

” Lalu mana yang lebih baik …? ” tanyaku

” Tidak ada yang lebih baik. Semua tentang pilihan. Tentang apa yang ingin kau tuju. Tentang seberapa cepat engkau berlari ataukah sejauh jarak yang ingin kau tempuhi. Bahkan adakalanya kau perlu  melakukan keduanya ”

” Namun, yang perlu kau tahu adalah kau tau kapan saatnya kamu berlari pelan, kapan saatnya kau berlari kecil namun pasti, berlari kecil konstan menatap tujuan yang ada di depan mu atau saatnya kau berlari kencang  … ”

” Karena dalam kehidupan tak selamanya kau perlu berlari. Karenaaku tidak mau, kau kehabisan tenaga di tengah perjalanan, disaat tujuan itu masih sangat jauh. Karena aku tak ingin energi mu melemah di saat kau masih setengah jalan. Karena aku tak mau kau kehabisan daya disaat kau masih perlu banyak berkarya ”

” Bijaksanalah …. ”

Penutup kalimatmu menundukan fikiranku, menembus rasa ku. Lalu kita pun tenggelam dalam diam menikmati jingganya sore ini.  Angin semilir sore itu seakan mengantar kita untuk  berdiskusi dengan diri kita sendiri.

Kututup mataku menikmati gemersik angin yang berbunyi di sela dedaunan, menikmati matahari sore yang menembus hangat pada raga kita. Melamati setiap kata kata yang tadi kau ucapkan.

Dan ketika ku buka mata, seperti biasa kau pun menghilang ….

See You Soon Naka …..

Dan aku pun beranjak menuju lapangan lagi, meneruskan lima belas menit yang ingin ku habiskan untuk memaknai kata kata terakhirmu : Bijaksanalah ….lari

Membuang Kenangan

 

Beberapa hari yang lalu, tetiba saya ingin membongakar bongkar kamar, ingin membereskan dan mmbuang barang barang yang sebenarnya sudah tidak terpakai, namun masih di simpan entah karena alasan apa. Alasan yang kadang make sanse kadang juga engga.

Sebenarnya hal ini terinspirasi dengan obralan beberapa minggu sebelumnya dengan seorang sahabat, yang cerita sekilas tentang seni merapihkan pakaian yang sedang banyak di pakai di Jepang, yaitu KonMari Methode :   Keep things that you love, the things that bring you joy, everything else goes.

Well sebenarnya obrolan saya dengan sahabat saya itu, jadi lebih mendalam. Kita membahas tentang betapa banyak barang barang yang kita simpan di rumah, yang sebenarnya barang barang yang sudah tidak di butuhkan, barang barang yang sudah tidak ada fungsinya, we just keep it for no subtantial reason, contohnya barang barang dari masa lalu, barang barang yang sedikit menyimpan kenangan, atau barang barang yang kita bilang : “well someday maybe we need it”, tapi kadang -in fact- 1 tahun, 5 tahun, bahkan 10 tahun kemudian kita tak pernah memakainya kembali.

Obrolan kita berlanjut tentang bagaimana menyimpan barang barang yang tidak dipakai, atau merapihkan ruangan dari barang barang yang tidak berfungsi, bisa diibaratkan “membersihkan dan merapihkan” fikiran kita dari hal hal yang memang sebenarnya tidak perlu di fikirkan, seperti benda benda dari masa lalu, catatan catatan masa lalu, atau barang barang yang membawa kita atas kejadian atau moment tertentu.

Intinya, adalah memikirkan apa yang perlu kita fikirkan saja, memilah milah mana yang perlu kita simpan atau tidak, menyimpan apa yang memang membawa kebaikan dan kebahagian –joyness– untuk kita, membawa semangat, membawa harapan dan tuntunan, menghemat fikiran kita dengan hal hal yang berguna saja, Simply Life !!

 

Akhirnya akhir pekan kemarin, saya membongkar bebarapa sudut di kamar, melihat barang barang yang sudah tidak perlu di simpan, tidak ada kenangan yang subtansial. Akhirnya banyak sekali barang barang yang sudah tidak perlu di simpan, dari barang yang sudah lama di simpan, sampai yang baru baru saja.

Bahkan saya akhirnya memberanikan diri untuk membuang 3 buah buku diary saya, diary dari zaman SMP, SMA dan Kuliah -Masa masa itu, adalah masa ketika masih rajin menulis buku harian- padahal buku harian bisa disebut dengan memorabilia hidup kita. Tapi ahh… saat itu saya memilih membuang nya, membuang pahit manis yang pernah terjadi, kalaupun sesutu patut di kenang, pasti kita mengenang nya baik baik dan selalu ada dalam fikiran kita.

Akhirnya saya berhasil mengupulkan dua plastik besar benda benda, satu plastik mostly adalah kertas kertas, sisanya adalah barang barang lainnya. Dari mulai HP yang sudah lama sekali rusak, dan tak mungkin dipakai lagi, hingga kacamata yang pernah ada ikatan emosional di dalamnya.

Dan yang asiknya, setelah membuang benda benda yang ga perlu lagi, dan benda benda yang mengandung kenangan itu, hati dan fikiran jauh lebih tenang, fikiran seperti mempunyai ruang ruang baru yang lebih lapang.

Wahh ternyata membereskan ruangan bisa juga “membereskan”  hati dan fikiran

Bhy … Kenangann …. !!! Hhhaa

 

Allah Tidak Pernah Membiarkan Kita “Benar Benar” Kekurangan

Seberapa sering kita merasa begitu kekurangan, seberapa sering kita mengeluhkan kesusahan yang kita alami, kekurangan harta, cemas dengan kebutuhan masa depan. Ketika rasa itu menyelisip, kadang kita tak sadar kita telah tidak mempercayai atas pengaturan-Nya.

Padahal bila kita mau dan mampu melihat lebih dalam, kenikmatan yang Allah berikan lebih banyak dari usaha yang kita lakukan. Tak terhitung, kenikmatan kenikmatan dalam keseharian kita, yang  bukan dari usaha kita sebagai manusia, tapi semata mata karena kasih sayang nya, Ar-Rahman.

Kesibukan kita dengan keinginan keinginan material kita, atau dengan ambisi ambisi masa depan, dengan kenyataan, dengan kemampuan kita saat ini. Kita menjadi “meyakini” bahwa hanya usaha yang kita lakukan adalah yang akan menjadikan kita mampu mengejar kekurangan kekurangan itu.

Ini bukan tentang meniscayakan sebuah proses usaha – karena usaha, sebagai sunatullah nya manusia adalah hal yang tetap wajib di lakukan – , namun ini mengenai kepada apa kita menggantungkan hidup kita, apa pada usaha kita, apa pada pemilik alam semesta.

Saya bercermin pada hari hari yang saya jalani, kadang masih terbersit, bagaimana dan jika, bagaimana bisa besok saya tidak bisa memperoleh rizki, bagaimana apabila besok saya tidak bisa membayar ini, membayar itu.

In fact -yang saya rasakan- Allah tidak pernah membiarkan kita benar benar kekurangan, selalu saja dicukupkan, bahkan seringkali dilebihkan, walaupun usaha kita seringkali di luar dari standart.

I mean, apabila standar manusia, apabila ingin angka 10, dan kita mempunyai angka 2, maka 2 itu harus dikalikan 5. Tapi tidak dengan hitung hitungan-Nya, kadang angka 10 di dapatkan saat kita punya 2, dan perlu di kali 5, cukup di kali 3, tapi Allah kasih 10 bukan 6.

Selalu saja Allah memberi lebih, lebih dari yang kita usahakan. Kita nya saja yang kadang terlalu menggantungkan rizki kita, hidup kita, pada usaha usaha kita. Padahal usaha hanyalah sebuah perantara, keputusan dan ketentuan mutlak di tangan Nya.

 

Kita Berjumpa Karena Makna

Ahh… siapa sangka kita akan berjumpa. Sekilas dunia kita berbeda, kita di frekuensi yang tidak sama, hingga Allah mentakdirkan kita berjumpa. Kemudian kita tau, perjumpaan itu bukan tanpa rencana, bukan hanya basa basi semata, karena Ia tidak akan sebercanda itu. Ia meminta kita mencari makna.

Hingga kemudian Allah lah yang mengantarkan kita untuk bersama, pelan pelan hingga aku merasa kita bersaudara, pelan pelan Allah titipkan rasa kasih diantara kita, rasa peduli, rasa saling memiliki dan ingin selalu berbagi. Kemudian kita semakin tau, kita  sama, sama sama dalam pencarian menuju  Ridha-Nya.

Semoga persaudaran ini tak hanya di detik ini saja, semooga alunan persahabatan ini mengalun lama, jauh, hingga kelak kita beranak cucu. Dan semoga persaudaran ini adalah persaudaran hingga masa depan. Bukan hanya masa depan dunia saja, namun semoga hingga  kelak kita  bertemu dan berkumpul di syurga-Nya. Aamiin ……

 

 

Fn : Kegiatan kawan kawan di Rumah Hijrah, Punk Muslim Bandung di reading and leadership training “Reader Now Leader Tomorrow” yang diadakan oleh KEBUKIT (Kelola Buku Kita) dan Nusantara Membaca