Mengapa Terlalu Mengagumi Alam ?

Saat berkelana, kita seringkali terpesona dengan indah nya alam raya, dengan berupa rupa pemandangan yang terhampar. Terpesona dengan  kokohnya gunung tinggi yang megah, dengan betapa menenangkan nya hamparan biru lautan, akan pepasir pantai putih yang begitu menenangkan, akan indahnya makhluk makhluk di lautan, akan sejuknya semilir angin pegunungan, akan hal hal yang disajikan oleh alam kepada indera kita.

Begitu banyak ucapan kekaguman kita pada alam raya, begitu meluap keterpesonaan kita terhadap pemandangan indah di mata kita. Kerennnnnn , amazing , indah banget … beberapa kalimat yang sering keluar dari mulut kita ketika menyaksikan keindahan alam.

Namun kadang kita hanya terhenti pada pesona, pandangan kita hanya berhenti di mata saja, berhenti di kekaguman indera saja. Terkadang kekaguman kita tidak sampai kepada pencipta-Nya, malah kadang kita lupa pada siapa yang menciptakan-Nya, rasa kagum itu hanya berhenti pada mata saja.

Ahh… padahal alam raya itu tidak bisa menciptakan dirinya sendiri, tidak bisa mereka-reka dirinya sendiri, memperindah dirinya sendiri, mereka diciptakan, mereka ciptaan. Jadi mengapa kita menjadi terlalu kagum dengan alam, namun menjadi lupa dengan siapa yang menciptakannya ?

Sesempurna apapun alam raya, ia tak bernyawa

Ia tak bisa menciptakan diri nya sendiri

Ia sekedar ciptaan

Maka Pujilah Ia, Yang Mencipta

Karena hanya Ia lah yang pantas di puji

Penciptanya – bukan Ciptaan Nya

Semoga, dalam setiap langkah ketika kita menginjakan kaki belahan mana saja di bumi-Nya, yang utama kita ingat adalah bahwa setiap inci alam raya ini adalah ciptaan-Nya, bahwa kekaguman kita akan alam raya ini, haruslah berujung kepada kekaguman atas kuasa-Nya.

Bahwa setiap kekaguman kita kepada semesta ini, adalah sebagai penghantar takwa kita kepada-Nya. Aamiin ….

 

gamalama

Mengapa Takut Menua

Pagi ini saya saya mandi dan siap siap bekerja, merapihkan diri di depan kaca, kemudian tanpa sengaja, pandangan saya tertuju pada ujung mata, pada garis garis halus yang kadang terlihat jelas kadang samar, hati saya berbisik   “ahh, mulai ada kerutan …” .

Tak henti disitu, jari jari ini  mencari cari lagi sudut lain lebih seksama, ahh rupanya ada beberapa titik hitam di wajah, tipis memang, namun bila dilihat lebih dekat itu ada.  “Ah bintik hitam, saya akan terlihat tua “ si hati tiba tiba berteriak dalam hati.

Kemudian terjadi dialog dalam hati : “ Duhh, cream anti aging yang bagus apa yaa …” tiba tiba hati ini merasa panik, hanya karena melihat garis halus dan titik titik hitam di wajah.

 


 

Otak saya kemudian sibuk mengingat ingat krim anti aging, yang kata iklan bisa membuat 5 -10 tahun  lebih muda, lebih segar, dan menjadi lebih percaya diri.

Saat fikiran  sibuk memilih mana krim anti aging yang paling baik, tetiba suara lain dalam hati dia “ Kenapa begitu takut menua, mengapa sebegitunya, mengapa begitu  resah dengan hal permukaan itu ” kata sang suara hati

Ya ini kan untuk perawatan, perempuan itu butuh perawatan, tak salah kan ingin terlihat lebih muda ” begitu kata suara hati yang lain

Entahlah, semacam kau terlalu berlebihan. Mengapa kau begitu takut terlihat tua ? ” lanjutnya lagi


 

Kemudian dialog dalam hati itu terus berlanjut dalam hati dan fikiran saya, ya kenapa kita begitu takut terlihat tua -mungkin banyak kaum hawa juga yang merasakannya – , padahal menua adalah sebuah proses alami, sebuah hukum Tuhan, sebuah siklus waktu yang setiap manusia jalani, mau tidak mau, suka tidak suka. Dengan segala konsukensi fisik dan psikisnya.

Menua raga, menua usia, kadang menjadi kekhawatiran, ketakutan, dan keadaan yang kita hindari atau ingin kita samarkan. Seakan muda adalah segalanya, seakan muda atau terlihat muda adalah sebuah keharusan, dan kesenangan tersendiri.

Menua kadang kita sikapi hanya dengan mencari penyamarannya, dengan berbagai cara, dengan berbagai usaha, dari yang wajar, dengan menyamarkan penampilan, menyamarkan garis dan kerutan, hingga ada yang melakukannya dengan cara yang berlebihan, oprasi, seolah menjadi terlihat tua adalah sebuah cela atau kesalahan.

Padahal mungkin garis dan kerutan itu adalah semacam peringatan, peringatan akan tahun tahun hidup yang telah kita habiskan, tentang waktu yang telah kita pergunakan, tentang apa yang telah kita lakukan, tentang apa yang belum kita lakukan, tentang kesempatan yang tersisa.

Ahh.. akhirnya saya terdiam sebentar, mencoba untuk menyelami lebih dalam, mencari tau apa yang saya inginkan sebenarnya, apa yang di niatkan sesungguhnya. Akhirnya saya belajar untuk berusaha “meluruskan”sebuah niat, bahwa apa yang dikenakan, apa yg di pakai, bukan tentang menentang sebuah proses alami, hukum Tuhan, bukan tentang ingin terlihat selalu muda, bukan hanya sekedar ingin terlihat oleh orang lain, namun semoga selalu di beri kekuatan dalam menyadari bahwa hal itu dilakukan sebagai bagian dari mensyukuri apa yang Ia titipkan kepada kita, anugrah jiwa dan raga.

Semoga ….

 

 

 

 

Pasar Ikan Kota Maumere

Sebenarnya ini foto lama, tak sengaja terbuka lagi, saat sedang merapihkan file file di laptop dan hard disk.

Ini adalah saat saya dan kawan kawan dari NUSANTARA MEMBACA mengunjungi kota Maumere, untuk membuat perpustakaan anak anak panti asuhan disana. Abah -pendiri pondok dan panti- suatu pagi mengajak saya ke pasar pelelangan ikan. Katanya biar bisa memilih ikan ikan segar.

Ahh… saya senang sekali, bisa ke pasar ikan yang langsung diambil di laut dan dijual saat itu juga. Bukan hanya itu, suasana pasar seperti ini sangat menyenangkan, orang orang yang bercakap cakap saling tawar menawar, aroma ikan yang masing sangat segar, wangi laut pagi yang menawan, laut dan langit yang kompak berwarna biru, semilir angin lautan, orang orang orang yang ramah menyapa, ahhh… saya jatuh cinta dengan suasana ini.

Kemudian file file foto ini, membuat saya melow, ingin lagi kesana, ingin lagi menikmati suasana serupa, ingin berjumpa lagi dengan mereka, dengan Abah, dengan Ummi, dengan Pa Ihsan, dengan anak anak panti …. ahhhhhh…kangennnnn

Semoga semoga, ada rizki ada kesempatan, untuk kembali ada di tengah tengah mereka. para saudara saudara ku yang ku kenal dengan penuh cinta

Aamiin ….

 

 

Mengenalkan ABU BAKAR kepada Anak PUNK itu Membahagiakan

Salah satu yang bisa membuat hati penuh terisi adalah ketika kita bisa menularkan kebaikan kepada orang lain. Ketika orang lain merasakan kebaikan yang juga pernah kita rasakan.

Seperti hari ini ketika salah satu kawan PUNKERS yang sedang belajar mengaji, belajar mendalami ilmu agama, dan sedang bercita cita untuk HIJRAH ke arah yang lebih baik, nge WA saya mengenai begitu terkesan nya dia dengan buku yang saya pinjamkan kepada nya beberapa hari yang lalu.

Ceritanya di RUMAH HIJRAH yang merupakan yang awalnya tempat kumpul anak anak PUNK, saat ini di rubah menjadi PERPUSTAKAAN dan tempat berkumpul untuk kegiatan bermanfaat. Salah satu “LEADER” disana saya pinjamkan sebuah buku tentang salah satu Sahabat Tercina nabi, bukunya berjudul ” Abu Bakar Assidiq Sang Khafillah Pertama “.

Awalnya ia agak segan dengan buku yang saya pinjamkan, mungkin anggapannya bukunya agak “Berat”, namun akhirnya dia mau baca, dan mau untuk nanti menceritakan apa yang ia baca.

Hari ini, dalam percapakaan WA, dia bilang “Teh.. Subhanallah ya Abu Bakar itu “ dilajutkan dengan kalimat “Teh, memang agama itu melebihi apa pun ya …” . Dua kalimat itu cukup membuat hati saya tergetar, dan mata seakan akan menjadi berat karena rasa haru.

Ah.. malam ini Allah cukupkan saya dengan perasaan bahagia, perasaan yang penuh, persahaan yang puas, kenikmatan hati, ketika bisa berbagi mengenai  sebuah kebaikan. ketika bisa mengenalkan mengenai orang orang yang dicintai Allah dan Rosulnya, mengenalkan para pahlwan Islam, mengenai orang orang yang telah di jamin surga atas mereka.

Ah …semoga kebaikan seperti ini terus bisa dilakukan setiap saat, berbagi, mengajak, saudara saurdara se iman untuk lebih mengenal Islam, untuk lebih dekat dan taat kepada agama. Saling mengingatkan dalam takwa. Dan semoga amal kecil ini menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak, dan  yang terpenting semoga Engkau Ridha ya Allah, itu saja. Lebih dari dunia dan se isinya.

 

P.s : Barakallah Abang Ilham yang sudah “berkenalan” lebih jauh dengan sahabat tercinta “Abu Bakar Assidiq”

 

Punk Hijrah #Pertemuan Pertama

Allah mempertemukan seseorang dengan seseorang bukan tanpa rencana, pun tidak ada sebuah pertemuan yang kebetulan. Ada rencana Allah dibalik itu, ada skenarionya, ada maksud dan tujuan akan sebuah pertemuan, apakah kita mampu menangkap maksud Allah itu, apa kita mampu membaca apa yang menjadi kehendaknya.

Seperti malam itu, di sebuah pertemuan tentang diskusi kerelawanan, kami komunitas KEBUKIT dan AYO GERAK BARENG, mengadakan diskusi tentang kerelawanan, bincang bincang mengenai kebaikan dan kemanusian.

Kemudian ada beberapa orang pemuda dengan pakaian hitam hitam, dengan usia beragam antara 15 -25 tahunan, gaya mereka memang sedikit “berbeda”, ternyata benar mereka adalah anak anak PUNK. Waww.. saya sedikit kaget dengan kehadiran mereka.

Akhirnya  kami memulai obrolan santai nya, anak anak PUNK ini kemudian bercerita tentang kegiatan mereka, apa yang menjadi keinginan mereka, apa yang membuat mereka tertarik mengikuti bincang bincang ini.

Pembicaraan kami berlanjut tentang kebaikan apa yang akan kita lakukan bersama sama, akhirnya kami memutuskan untuk membuat sebuah perpustakaan, dimana perpustakaan itu selanjutnya akan dibuat untuk kegiatan kegiatan positif.

 

 

 

Ahh… petemuan petama ini begitu berkesan, tak hanya berkesan, tapi saya rasa pertemuan ini adalah pertemuan yang akan mendatangkan kebaikan kebaikan lainnya. Kedatangan mereka sebenarnya semacam memberikan semacam energi lain kepada saya, mungkin kepada teman teman lainnya.

Bahawa akan ada peluang untuk bertemu dengan orang orang baik, atau orang orang yang sedang mencari jalan kebaikan. Allah akan mendekatkan kita dengan orang orang yang berniat sama dengan kita. Ada energi yang saling menarik, saling memanggil, saling mencari.

Semoga pertemuan ini adalah kehendak Allah untuk kita bersama sama melakukan banyak kebaikan dan melakukan hal hal yang benar sesuai dengan ketentuannya. Karena benar, kita tidak dipertemukan dan dipersatukan bukan tanpa rencana, semoga kita selalu dalam lingkaran Ridhanya. ahh malam saat itu adalah malam yang membuat hati ini kembali penuh terisi.

Kemudian do’a ini berisi : ” Ya Allah berikan kami ke istiqomahan ” . Aamiin

Meledaklah. Seperti SUPERNOVA

supernova

Sumber Gambar Disini

 

Supernova adalah cara bintang mengakhiri hidupnya, karena setiap bintang mempunyai siklus hidup tertentu, usia tertentu.

Sebuah bintang yang sedang mengalami SUPERNOVA akan sangat cemerlang, terang, bahkan kecemerlangannya bisa ratusan kali cahaya biasanya.Beberapa waktu sebelum meledak sang bintang bisa melepaskan energi setara dengan jumlah cahaya yang ia lepaskan seumur hidupnya.

Splendid …..

Seperti itu lah sebuah bintang memberikan sesuatu yang terbaik di akhir hidupnya, melipat gandakan energi nya hampir setara dengan seluruh waktu hidupnya, dan memberikan kecemerlangan yang mengagumkan, kemudian meledak dan tiada.

Saya coba analogikan dengan kehidupan seorang manusia, yang telah ditetapkan sebagai Rahmatan Lil Alamin. Rasanya kita bisa mencontoh dari sebuah bintang, yang memberikan energi yang terbaik dalam hidupnya.

Memberikan manfaat yang terbaik bagi dirinya, keluarganya, sekitarnya, bagi dunia, bagi alam raya. Memberikan great ending dalam episode hidupnya -tidak sekedar happy ending- menjadi khusnul khatimah, hidup dengan akhir yang baik.

Namun ….

Tak berhenti disitu, kehebatan sebuah bintang ketika ber-supernova, di akhir hidupnya. ledakan tubuhnya melontarkan unsur unsur tertentu ke ruang angkasa, dan bahkan unsur unsur tersebut bisa bergabung menghasilkan sebuah bintang atau planet baru, dan “membuat” kehidupan baru ….

 

Lagi, belajar dari sebuah bintang, ketika dia berakhir dia tidak hanya meninggalkan sebuah “nama”, namun meninggalkan unsur-unsur bermanfaat bagi ruang angkasa. Menjadi manusia yang meninggalkan kebaikan yang berlanjut, peninggalan yang berharga, bermanfaat untuk sekitarnnya, kebaikan yang bisa dilanjutkan oleh generasi berikutnya, kebermanfaatan yang berkelanjutan, hingga akhir masa.

Semoga ….

Kita bisa menjadi manusia-manusia yang meledak seperti SUPERNOVA, memberikan yang terbaik di akhir hidup kita dan meninggalkan sebuah warisan kebaikan untuk semesta. Di lain sisi kita tak akan pernah tau kapan akhir hidup kita.

Maka, asumsikan lah bahwa masa ini adalah masa akhir hidup kita, hingga kita bisa “meledakan” kebaikan, kebermanfaatan, kemaslahatan jangka panjang, tak hanya kita, tak hanya keluarga kita, namun pada orang orang yang ada di sekitar kita.

Amin Ya Mujibassailin ….

P.s : Sebuah doa dan perenungan untuk diri sendiri

 

 

Bersyukur Tanpa Membandingkan

Ini tentang bersyukur. Tentang menerima dan berterimakasih atas apa yang telah kita miliki atau kita dapatkan. Tentang menerima dengan suka cita apa yang telah datang kepada hidup kita, baik diminta atau tidak diminta.

Kemudian apakah bersyukur itu perlu pembanding, perlu komparasi ? Seperti kalimat umum : ” Bersyukurlah kita masih bisa makan hari ini, coba lihat di luar sana, banyak orang orang yang masih kelaparan ” atau tidak asingkah perkatan seperti ini “Bersyukurlah engkau masih punya orang tua, lihat mereka yang orang tua nya udah tidak lengkap”

Salahkah perkataan itu ? ahh tidak…

Namun, haruskah bersyukur itu menyertakan pembandingan, haruskan menyertakan sesiapa pun itu yang tidak diberikan “kenikmatan” seperti kita ? seolah olah mereka tidak beruntung dan kita yang lebih beruntung? bukankah setiap orang diberikan anugrah dalam porsi masing masing.

Ketika kita tidak/belum memperoleh “kenikmatan” dalam satu bagian kehidupan, bukan berarti kita tidak beruntung, isnt ? begitu pula sebaliknya. Setiap orang diberikan porsi nya masing masing. Kesyukuran berarti keberuntungan, kesyukuran tidak mesti pembandingkan, kesyukuran itu bukti penerimaan, keberterimakasihan, dan pemanfaatan untuk kebaikan bukan ?

ahh.. ini hanya tulisan keresahan saya saja, yang juga pernah bersyukur dengan syarat, dengan syarat “melihat” keluar, padahal bersukur cukup dengan “melihat” kedalam. Dan kemudian sedang melatih diri bersyukur tanpa syarat, tanpa pembandingan, cukup BERSYUKUR saja

Mencintaimu Hingga Ke Syurga

Aku ingin mencintaimu hingga ke syurga,

Tidak berjangka hingga dunia

Tak berbatas usia dalam hitungan angka

Aku ingin mencintaimu hingga ke syurga

Yang kelak tak akan ada jeda di antara kita

Saat kita bertemu dengan Nya

Aku ingin mencintaimu hingga ke syurga

Maka kini, ku sujudkan saja apa yang aku rasa

Ia yang lebih mengerti segalanya

Aku ingin mencintaimu hingga ke syurga

Padanya kita meminta semacam pertanda

Untuk kita, karena

Aku ingin mencintaimu hingga ke syurga

 

 

 

Selat Sagawin

sagawin

 

 

Sore itu, kapal KRI 592 kami, akan segera memasuki perairan Raja Ampat, Sorong. Tidak seperti biasa, sore itu tidak banyak peserta Ekspedisi yang mengejar matahari tenggelam di anjungan. Karena mungkin faktor kelelahan setelah belasan hari berkeliling pulau pulau sebelumnya.

Speaker di anjungan menginfokan bahwa kapal memasuki wilayah Selat Sagawin,selat kecil yang menjadi salah satu jalan memasuki perairan Sorong. Sore itu saya berinisiatif sendiri menaiki anjungan luar, untuk melihat pemandangan selat. Diatas ternyata hanya ada dua orang teman yang sudah siap dengan kameranya. Suasana pun tidak terlalu riuh.

Kami bertiga bercakap cakap ringan sembari menikmati selat yang sangat senyap, sepi, dan menawan. Terdengar suara kapal membelah selat, laut sangat tenang, samping kiri kanan kami pulau yang hampir tidak berpenghuni terhampar, sesekali hanya ada burung burung laut yang berkicau dari kejauhan. Menikmati selat sempit, menuju lautan lepas di depan, ditemani angin laut yang membelai wajah wajah kami, adalah sebuah kemewahan. Akhirnya kami tak banyak bicara, hanya menikmati saja apa yang di sajikan Tuhan dihadapan.

 

Satu kata saja : Syahdu. Maha Besar Allah dengan segala ciptaan-Nya

Aku datang pada Mu ya Allah

al-quran-1

 
Aku datang pada Mu ya Allah, bersama ribuan ayat suci Mu diatas lembaran sajadah panjang ini, lidah hamba terbata bata, tapi mata dan langkah ini terus menuju Mu. Jangan palingkan wajah Mu, jangan palingkan wajah Mu dariku yaa Rabb …

Engkaulah arahku satu satu nya saat ini, wahai Sang Penguasa hari akhir..Allahu Akbar..

Wahai Rabb, jangan lah berjarak dariku. Engkau yang tak Terhingga, Kuasa Mu membuatku berputus asa, kecuali Engkau yang membimbingku melalui huruf demi huruf Firman Mu ..

Tabir tujuh lembar langit tak kan mampu kutembus, kecuali doa doa penuh harap yang diterbangkan Malaikat MalaikatMu, sampaikah doa doa ku pada Mu ….

Seandainya ada yang puncak yang lebih tinggi dari sujud ini, tentu hamba naiki. Tapi Engkau telah menetapkan sujud ini sebagai puncak penghambaanku, maka jangan Engkau minta lebih dari ku untuk menghamba…

Tak berani kutanyakan, menangkah hamba, kalahkah hamba. Hamba yang terus mencariMu, mencari Ridha Mu dalam gelapnya harapan …

Kutinggalkan dunia yang menjadi karuniaMu, kutinggalkan kekhalifahan yang Engkau amanahkan, kulupakan nama nama dunia yang menjadi bebanku selama ini, kuingat hanya nama Mu, nama Rasul Mu, dan nama Ibu ku, mana kaki Mu ….

Laailaahaillalah Muhammadarrasulallahllah …
Laailaahaillalah Muhammadarrasulallahllah …
Laailaahaillalah Muhammadarrasulallahllah …

 

 

P.s : Puisi ini diambil dari doa di film para pencari Tuhan,di bacakan oleh bang jack, di episode terakhirnya. Mata ini tak kuat melawan isyarat hati, gerimis. Sebuah puncak kepasahan seorang hamba pada Tuhan Nya.