Konversi Cinta Dalam Doa

Pernah kah kau mengkonversikan cinta dalam doa ? saat kau teringatnya kau mendoakannya, saat kau tetiba merindunya kau sampaikan dalam simpul simpul doa, tak usah memberitahunya, cukup berdoa saja

Dan dalam semalam ini lah aku bisa berbicara pada Mu, kepada sesatunya yang mengerti sungguh dalam rasa hatiku. Kau yang menggengamnya dan Kau yang melepaskannya.

Ku tau KAU tau, kali ini aku ingin mencintanya dengan cara yang berbeda, dalam gelombang yang tak sama.

Bila ini cinta, aku ingin menghargainya. Bila ini cinta, aku akan memaknainya. Bila ini rasa aku akan meragainya. Bila ini rasa yang tak mampu lagi terucap, aku akan mengkonversinya dalam doa. Bila ini rindu aku akan mengakuinya kemudian melepaskannya. Bila ini ketentuan aku akan menerimanya.

Ku tau KAU tau, kali ini aku ingin mencintanya dengan cara yang KAU suka. Itu saja

Taken From My Older Blog : https://angkasa13.wordpress.com

Apa Yang Lebih Besar Dari Impian ??

 

impian

Begitu ramai kita membahas tentang impian, impian itu. Kita semua punya impian, saya, anda, mereka, kita semua. Banyak dari kita yang mempunyai impian mulia, impian  mempunyai rumah untuk para yatim dan dhuafa, impian untuk membangun masjid, untuk menghajikan orang tua, impian untuk membuat rumah sakit untuk para dhuafa, impian membuat sekolah, impian untuk membuka lapangan pekerjaan, dsb.

Impian mulia itu kadang membuat kita mengebu gebu, begitu bersemangat, begitu antusias, begitu berenergi, semuanya serasa di depan mata, semua begitu terbayang nyata, seluruh alam raya serasa merestui.

Namun, seiring waktu berjalan, impian itu menghadapi banyak cobaan, kesulitan, rintangan, maju-mundur, kemudian mentok, naik turun, menurun dan tersungkur, dan sekarang seolah olah dunia menentangmu, alam raya tidak merestuimu.

Lalu apakah lantas kita akan menyerah pada impian impian itu ??

Ya !!! Apabila impian impian itu hanya sekedar euforia belaka, impian itu hanya sekedar suka suka saja setelah kita ikutan training motivasi, apabila impian itu hanya sekadar ikut ikutan belaka, hanya trend sementara. Halang rintang yang dihadapi diatas akan membuat impian kita menjadi mudah patah begitu saja.

Lagian, kenapa bersusah payah mempunyai impian. Hidup biasa biasa saja tanpa impian juga gak apa apa kok, atau kalo si impian itu memang susah di capai, ya udah sih udahan aja, tinggal berbelok cari impian lain yang mugkin lebih realistis.

 

***

Lalu apa yang lebih kuat dari impian atas hal hal mulia diatas ??  mempunyai rumah untuk para yatim dan dhuafa, membangun masjid,  menghajikan orang tua, membuat rumah sakit untuk orang yang tak mampu, impian membuat sekolah gratis, impian untuk membuka lapangan pekerjaan, impian membantu banyak orang, dsb.

Apa yang lebih kuat dari IMPIAN ? apa yang membuat kita tak beranjak dari hal hal diatas ketika bertubi tubi kita di hantam oleh rintangan, halangan, penolakan, cibiran,  hingga kegagalan yang terus menerus.

KEWAJIBAN, ialah yang lebih kuat dari IMPIAN. Kewajiban yang bukan hubungannya terhadap diri sendiri, kewajiban yang bukan hubungannya dengan orang lain, namun KEWAJIBAN kita kepada Nya.

Hal hal diatas, berharta banyak, membantu orang lain, melayani banyak orang, menjadi jalan kebaikan , menjadi kanal keberkahan, menjadi sumber kebermanfaatan dalam kehidupan, jadikan sebuah KEWAJIBAN bukan sekedar IMPIAN. Kewajiban kita kepada-Nya, sebagai penghambaan kita kepada – Nya.

Karena saat itu kita jadikan sebagai sebuah kewajiban , ia akan mengikat erat dalam hati dan fikiran kita. tak hanya euforia dan artificial dunia saja, tidak hanya sekedar formalitas saja, tidak hanya sebagai eksistensi saja.

Karena saat itu kita jadikan sebagai sebuah kewajiban, kau tak akan mudah patah, lantas menyerah, karena melaksanakan sebuah kewajiban adalah penghambaan.

Bismillah….

 

 

 

 

 

Akan Kuceritakan Kelak Pada Mereka

Akan kuceritakan kelak, pada anak, cucu, pada generasi masa depan bangsa ini, bangsa Indonesia. Bahwa ada satu masa, ibu kota negara Indonesia di datangi oleh berjuta manusia dari seluruh arah mata angin negri ini.

Meraka datang untuk berdoa, berdoa bersama dalam ikatan, karena ketika doa dilakukan bersama akan mengkalikan kekuatannnya, mereka datang karena cinta kepada pedoman hidup mereka, Al Quran.

Kelak, akan kuceritakan bagaimana mereka berduyun duyun datang mengerahkan apa saja yang mereka punya, mengorbankan harta, mengorbankan waktu, mengobarkan tenaga, mengorbankan raga, untuk sesuatu hal yang mereka cinta, Agama.

Mereka yang teratur dalam barisan, setia dalam barisan, duduk, khusyuk mendengarkan para pemimpin mereka, khusyuk berdoa.Hujan gerimis adalah kesejukan bagi mereka, bahkan hingga hujan deras pun, tidak seorang pun dari mereka yang berebut mencari tempat berteduh, mereka setia, setia dalam barisan, setia dalam ikatan, setia dalam keimanan.

Disana, ada sebuah suasana yang sulit dijelaskan, suasana yang mungkin baru kali ini juga di temukan, suasana yang sampai saat ini belum bisa ditemukan padanan kata yang tepat. Disana mereka saling menyapa, saling bertemu dengan dengan wajah berseri seri, meraka yang padanya akan kau dapatkan rasa damai.

Suasana saat itu adalah suasana yang sangat mahal, tak bisa di konversikan dalam nilai mata uang, atau hal hal duniawi semacamnya. Suasana yang akan sangat dalam tertinggal dalam jiwa dan akal setiap orang, suasana yang aku ingin selalu mengingatnnya, bhkan pada mereka yang tidak ada di tempat itu.

Dan dalam barisan mereka, aku lah salah satunya, dan perasaan yang ada bukanlah sekedar rasa bangga, lebih dari sekedar bahagia, entah apa, hanya ada perasaan yang penuh …

Adalah 02 Desember 2016, adalah salah satu masa yang terbaik dalam hidup, terimakasih ya Allah untuk kau izinkan aku menjadi bagian dari nya

***

 

Merasa Mulia

rumput

 

Suatu waktu manusia merasa mulia, karena jalan hidup yang ia pilih. Suatu masa manusia merasa mulia karena pilihan cara yang ia punya. Suatu waktu manusia mengernyitkan dahinya, berbisik di hatinya, mengomentari pilihan orang lain yang berbeda darinya, pilihan hidup yang ia anggap tidak semulia dirinya.

Ah.. padahal ia menjadi tidak mulia, karena merasa mulia. Ia tergelincir dalam jebakan lubang tak kentara, memang ia selama ini di jalan yang benar, tapi ia tidak awas, karena terlalu mendongkak keatas, bersibuk dengan kebanggan dirinya ia tidak melihat kebawah, ia tidak meilhat jalan yang ia pijak.

Ada jebakan jebakan mematikan di sana, ada lubang yang bisa menarik ia ke pusaran yang dalam, yang berujung di labirin panjang dan gelap. Hingga ia  tidak sadar, bahwa ia telah jauh dari jalan kebenaran, yang sebenarnya memang penuh dengan kemulian.

Ah merasa mulia bisa melenakan, membutakan, menjauhkan dari kemulian sebenarnya.

Jadi Wahai Kau Jiwa, Menjadi Mulialah Tanpa Harus Merasa Mulia

 

P.s : Sebuah catatan pengingat untuk diri sendiri

 

Bagaimana Menentukan Pilihan

Sampai kapan pun, hidup ini akan selalu berhadapan dengan pilihan pilihan. Dari memilih hal hal biasa hal hal keseharian, hingga memilih hal hal besar dalam hidup. Nah yang ini yang lumayan berat, menentukan hal hal besar dalam hidup.

Ketika pilihan itu tidak sederhana, tidak semudah memilih baju yang biru atau yang hijau, tidak sesederhana memilih makan nasi goreng atau nasi uduk, tidak semudah memilih mau  mandi atau tidak.

Berat dan memang tidak mudah untuk diputuskan, kadang butuh berfikir panjang dan berfikir dalam, berhenti sejenak, bertanya, banyak membaca, membaca diri, flash back ke masa lalu, meneropong masa depan.

Bertanya kepada mereka yang lebih mengerti, meminta pendapat pada mereka yang kenal kita lebih dalam, mereka yang menyayangi kita, mereka yang peduli. Dan yang terpenting adalah meminta petunjuk kepada-Nya, kepada Zat yang menciptakan kita, yang tau A To Z hidup kita, sang pemilik hajat.

Meminta padanya, agar di berikan petunjuk, diberikan isyarat hati,  mana yang harus ditempuh, jalan yang mana yang sebaiknya dilewati, cara seperti apa yang harus di lakukan, dan meyakinkan apa yang menjadi pilihan.

Saya sedang belajar, saya sedang mengalaminya, saya sedang mencari tau, saya sedang meminta kepada Allah, agar dibimbing memilih pilihan yang tepat, yang bermanfaat, dan yang terpenting adalah pilihan yang ada dalam Ridha-Nya.

 

Kisah Si Rok Mini

Sore itu  saya berada di sebuah gedung perkantoran, dan sudah tiba waktunya untuk shalat Ashar. Saya pun mencari tempat Wudhu dan Mushola.

Saat akan berwudhu, saya berpapasan dengan seorang wanita pertengahan usia,yang memakai baju yang menurut saya cukup tidak pantas untuk usianya, dia memakai setelan warna merah, dengan rok diatas lutut. Kemudian hati saya spontan berkata ” Ih … ga tau malu, sudah tua masih memakai baju yang mini ”  dan saya pun sedikit membuang muka kepadanya.

Kemudian saya  melaksanakan shalat Ashar 4 Rakaat. Disamping saya sudah  ada seorang wanita yang telah duluan melaksanakan shalat.

Setelah shalat, perempuan itu tidak langsung pergi, ia kemudian membuka tas nya, dan mengambil sebuah buku kecil, sepintas saya lihat itu seperti buku doa, karena ada huruf arab dan terjemahannya. Dia begitu khusuk membaca doa doa yang di buku itu dengan pelan dan khusuk.

Setelah beberapa lama, ia kemudian membuka mukenanya, dan ternyata perempuan yang bersebelahan shalat dengan saya adalah perempuan tadi yang berpapasan ketika saya akan wudhu, si rok mini. Lalu saya bertanya padanya “ lagi baca apa bu ? ” dia menjawab ” ini mba, lg baca al mansturat, dzikir sore … saya sedang belajar rutin membacanya, biar hati tenang

Masya Allah … seketika hati saya langsung terasa jatuh, malu. Malu pada si rok mini, malu pada diri sendiri, malu kepada Nya. Begitu mudah hati ini menilai apa yang nampak pada mata, dan merasa kita lebih baik dari orang lain yang belum sama seperti kita.

Padahal kita tidak tau, dibalik kekurangan seseorang, kita tidak tau kebaikan apa yang ia sembunyikan, dan justru kebaikan itu yang Allah suka darinya.

Ini bukan tentang rok mini yang ia pakai, ini tentang hati yang suka merasa JUMAWA atas apa apa yang kita kenakan, apa yang telah kita kerjakan, apa yang kita tampakan.

 

 

 

 

 

Cari Muka !!! Kisah Tragis HASADA di Negri ARUKA

sycophant

Sumber Gambar

 

 

Suatu hari ada seorang rakyat jelata, dari negara AZURA bernama HASADA. Suatu hari negri AZURA sedang di berkonflik dengan tetangganya bernama negri ARUKA.

Ada yang tidak biasa dengan HASADA, ketika teman teman sebangsanya membela mati matian negeri nya, HASADA malah terang terangan membela negri ARUKA, katanya negeri ARUKA adalah negeri yang maju tak usah lah melawan, katanya negeri ARUKA mempunyai pemimpin yang tegas, bijaksana, dan bisa membawa perubahan yang baik bagi negara AZURA, ini bukan penjajahan ujarnya, ini adalah perubahan untuk kemajuan.

HASADA sangat senang berada di tengah tengah para pemimpin negara ARUKA, bahkan tak segan segan mendukung apa yang mereka lakukan, bahkan lebih dari itu HASADA mencaci maki saudara nya sendiri yang sedang berjuang melawan penjajahan negeri ARUKA, mengata ngatai bahwa mereka bodoh, tak berfikiran maju, tidak berfikir modern, dsb.

Karena perbuatannya, HASADA banyak mendapat simpati dari para pemimpin negeri ARUKA, “Beginilah seharusnya seorang warga negara yang baik, mau berfikiran modern, terbuka, dan sangat TOLERAN”. Dikatai seperti itu bahagialah HASADA, ia makin lengket dengan para pemimpin dari negeri ARUKA. Dia terkenal di negri ARUKA, sebagai warga negara yang berfikiran, terbuka dan toleran….

Ah.. betapa bahagianya HASADA karena ia mendapatkan “hati” para pemimpin negara ARUKA, dia makin terang terangan menghina, memaki, mencaci saudara sudara sebangsa nya yang sedang memperjuangkan kebenaran.

Namun taukah HASADA di balik itu ………

Tanpa sepengetahuan HASADA, para pemuka NEGARA ARUKA sedang bercakap cakap di balik punggung HASADA “Haa..hhaa… Betapa bodohnya HASADA, dia mengkhianati bangsa nya sendiri, demi kita yang nanti akan mengkhianati dia ” Ujar salah satu pemimpin dari mereka.

Ha..Ha..Ha.. benar sekali, biar kan lah saat ini dia menikmati saat saat ini, saat dia merasa kita istimewakan, saat dia kita puja puja, saat dia melambung tinggi dekat dengan kita, namun ada saat nya dia akan kita singkirkan, dia yang mengkhinati bangsa nya, justru giliran dia yang akan kita khianati berikutnya”

Merka tertawa terbahak bahak, mentertawakan HASADA yang mngkhianati bangsa nya untuk sesuatu yang sebenarnya membenci dia, ah.. tragis sekali HASADA, kau tak menyadarinya…

 

****

 

 

 

 

 

 

Dia Yang Selalu Setia

[ People In My Life ]

Orang datang dan pergi dalam kehidupan kita, sebagian besar berlalu begitu saja, sebagian singgah sebentar, sebagian kecil meninggalkan kesan, dan cerita yang mendalam

People in my life adalah beberapa orang yang menjejakan jejak yang dalam di hati saya, dalam kehidupan saya, yang meninggalkan tidak hanya kesan, namun cerita yang mendalam.

****

Namanya teh Isma, usianga lumayan jauh di atas saya. Sebenarnya awal pertama kenal sudah lama sekali, namun saat itu hanya sepintas saja, dan kini -kurang lebih- tiga atau empat tahun terakhir kami intens bertemu dan berinteaksi, karena sama sama berkegiatan dalam gerakan Nusantara Membaca dan Bakti Guru Nusantara.

Beliau adalah salah satu orang unik yang pernah saya temui, saya rasa di zaman kekinian seperti ini sudah jarang orang seperti beliau. Beberapa hal unik misalnya, beliau adalah orang yang senang berjalan kaki, apabila masih wajar bisa di tempuh dengan berjalan kaki, mengapa repot repot untuk pesan ojeg menurutnya, biar sehat ujarnya.. di zaman yang orang orang ingin serba cepat dan instan seperti ini, ia masih setia dengan hobi nya berjalan.

Lainya adalah beliau adalah orang yang sangat memperhatikan kesehatan, pola makan, pola minum, pola istahat, dan sering mengingatkan kami juga terutama mengenai makanan, beliau sangat perhatian sekali, sampai tak jarang membawa makanan dan cemilan di kantongnya untuk kami, tentunya makanan sehat.

Beliau adalah orang yang pintar dalam membuat hand craft, dari merajut, membuat kerajinan tangan dari manik manik, dan sebagianya, sangat teliti, tekun dan penyebar menurutku. Di tengah tengah zaman yang berprinsip kalo bisa beli – ya beli aja. Namun dia berbeda, dan itu yang saya suka. Kadang saat ia membuat sesuatu, saya hanya melihatnya dan kagum betapa sabar dan tekun ia membuatnya.

Hal yang sangat mendalam dari nya adalah, beliau adalah orang yang “SETIA” kira kira begitulah mungkin saya mendefinisikannya, setia terhadap kami sahabat sahabatnya, salah satu nya adalah setia dalam hal memenuhi janji nya, ketika ia menyanggupi untuk melakukan sesuatu, atau datang ke sebuah tempat, ia akan berusaha sekuat tenaga memenuhi janjinya, selama itu bisa ditempuh, ia akan datang. Padahal saya sendiri kadang masih kalah hanya dengan hujan gerimis sederhana, hingga membatalkan pergi atau memenuhi janji.

Satu hal lagi adalah, dia adalah orang yang sangat setia ketika temannya membutuhkan bantuan dan butuh seorang teman, beberapa kali ketika saya membutuhkan seorang teman, saat yang lain memang tidak bisa, beliau selalu ada. Ia menemani dengan sederhana, tapi ada.

Tidak hanya kepada saya saja rupanya, saya menyaksikan bagaimana ia begitu setia mengurusi keperluan sahabatnya saat sakit hingga meninggal, ia yang kesana kemari mengurus segala macam hal nya tanpa imbalan apa apa, hanya wujud kesetian seorang sahabat untuk sahabatnya …..

Ia Sangat Setia …..

Ahh… saya banyak belajar dari beliau, belajar menjadi pribadi sederhana, belajar untuk  tidak terlalu pusing mengikuti arus perubahan dunia, belajar untuk bagaimana berkarya tanpa ingin di pandang dunia, belajar menjadi diri sendiri, balajar sederhana, belajar setia…

Terimaksih teh Is, sudah mengajarkan ku banyak hal, bahkan mungkin kau tidak mennyadarinya bahwa kau mengajarkan ku banyak hal. Terimakasih untuk telah setia dan selalu ada, maafkan adik mu ini yang kadang kurang mengerti, kurang memahami, dan kekurangan kekurangan lainnya… semoga persahabatan ini akan berlangsung tak hanya di dunia, tapi kelak di Surga-Nya… Aamiin

Nyata

Pelajaran yang saya bisa ambil atas kejadian penistaan Al-Quran oleh pejabat negara saat ini salah satu nya adalah : bahwa pada akhirnya akan nyata mana pembela kebenaran dana mana pembela hawa nafsu. 

Walau katanya mereka benar dengan definis nya masing masing. Ah tapi tidak menurutku, karena pada dasarnya hati kecil kita tau, mana yang benar dan mana yang salah. hawa nafsu saja yang membuat hati kecil itu tidak terdengar oleh kita.

Entah itu harta, entah itu jabatan, entah itu pesona, entah itu pengakuan, dsb, hal hal sementara yang sebenarnya tidak akan membuat kita bahagia, bahagia yang sebenarnya.

Sebelumnya saya masih memandan, bahwa tidak ada orang yang benar benar salah, namun dengan kejadian ini saya faham perkataan seorang ustadz : bahwa manusia bisa lebih jahat dari syaiton, dan bisa lebih baik dari malaikat. Ya, i got it, ada banyak manusia -yang mengaku seorang muslim- yang menggadaikan keimanannny, enggan membela agamanya, atau mengambil posisi tidak jelas, agar kehidupan dunianya aman.

Ah… saya juga masih banyak intropeksi, ketika agama saya di hina, kitab suci saya dilecehkan, apa yang mampu saya lakukan? apa hanya sebatas prihatin, hanya sebatas bersedih, seperti saat ini. Could’t doing more, jauh lah dengan para pejuang di Palestina sana, yang telah berjuang jiwa, raga dan harta. Sedangkan saya disini mungkin masih mikir mikir, ketika diminta lebih, mikirin itulah, mikirin inilah, hal hal yang sifatnya duniawi … ahhhh

 

Resah

Akhir akhir ini saya banyak merasa resah, resah dengan kondisi negara ini. Dari mulai penistaan ayat suci Al-Quran, penghinaan pada Ulama, banyak nya orang orang yang menistakan kebenaran, mengolok olokan kebenaran.

Jadi teringat perkataan Ustadzah saya jumat yang lalu, bahwa fitnah adalah segala sesuatu hal yang membuat ketidaktenangan, ketidaknyamanan, ketidaktentraman sehingga menimbulkan ketidakbahagian.

Entahlah sedikit banyak saya menjadi resah dengan keadaan ini, entah resah ini baik atau buruk. Resah, khawatir, sedih, prihatin dsb. Ingin berbuat yang lebih, namun hanya ini mungkin yang saya bisa, agar Allah memberikan perlindungannya, pertolongan nya kepada hambanya yang masih berusaha teguh menjalankan agamanya dengan lurus.  Semoga Allah melindungi negri ini dari mereka yang dzalim kepada rakyat, semoga Allah melindungi rakyar Indonesia dari pemimpin pemimpin yang dzalim yang tiran. Aamiin….